Senin, 02 Desember 2013

UN 2014 SMA lebih Awal, UN SMP Menyusul, dan Terakhir Ujian Sekolah SD/MI

UN 2014 akan berlangsung berurutan. UN SMA lebih awal, kemudian disusul dengan UN SMP/MTs. Untuk SD tidak ada UN. Untuk SD diberlakukan Ujian Sekolah. UN SD lebih banyak proporsi soal dari sekolah hingga berubah nama menjadi Ujian Sekolah/Madrasah (USM).

"Perkembangan putusan terakhir, ujian sekolah untuk SD dan setingkatnya akan bernama US/M , ujian sekolah/madrasah," kata Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Dadang Sudiarto saat menjawab pertanyaan mengenai nasib UN SD. Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers Rakor Persiapan Implementasi Kurikulum 2013 di Tahun 2014 dan UN 2014 di Hotel Grand Sahid, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (1/12/2013).

Hadir pula dalam jumpa pers itu Sekjen Kemendikbud Ainun Naim dan Kepala Pusat Kurikulum dan Pembukuan Balitbang Kemdikbud, Ramon Mohandas.

"Kalau yang lalu, ada ujian sekolah dan nasional. Sekarang hanya ujian sekolah. Ada 3 mata pelajaran, dan kita akan beri standardisasi, 25 persen soal dari pemerintah, 75 persen dari satuan pendidikan di provinsi/kabupaten," imbuh Dadang. Ketiga mata pelajaran itu adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Untuk SD luar biasa (SDLB), IPA diganti IPS dan pendidikan kewarganegaraan."US/M ini tetap diadakan serentak," kata Dadang.
Berikut jadwal pelaksanaan ujian akhir itu:

US/M SD: 19-21 Mei 2014
UN SMP: 5-8 Mei 2014
UN SMA: 14-16 April 2014 (sumber: detik.com)

Kamis, 21 November 2013

UN SMA 2014 Jatuh pada 14--16 April

Perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) akan berimbas pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2014. Meski dikabarkan mundur, UN SMA, SMK, dan MA akan dilangsungkan pada 14-16 April 2014.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, esensi pelaksanaan UN harus memenuhi dua persyaratan utama.

"Pertama, seluruh proses pembelajaran sudah selesai. Jangan sampai UN dilaksanakan saat pembelajaran belum selesai," ujar M Nuh, di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (21/11/2013).

Poin kedua, katanya, pelaksanaan UN harus mempertimbangkan jadwal penerimaan mahasiswa baru. Sehingga para siswa bisa mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Harus mempertimbangkan waktu untuk masuk ke jenjang lebih tinggi masih memungkinkan. Disesuaikan dengan jadwal penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi. Kami sudah tanya dengan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) kapan hasil ujian penerimaan mahasiswa baru selesai sehingga bisa kami sesuaikan," paparnya.

M Nuh menegaskan, penetapan waktu pelaksanaan UN dilakukan dengan melihat berbagai pertimbangan. Tidak hanya melihat even nasional seperti Pemilu tapi juga mempertimbangkan hari besar agama, yakni wafat Yesus Kristus.

"Tetap pertimbangkan jadwal UN dengan kegiatan nasional lainnya. Semua pertimbangan kita masukkan, yaitu pileg dan hari besar agama. Biasanya hari pertama UN satu pelajaran, sehingga selesainya Kamis padahal Jumatnya Jumat Agung. Maka, setiap hari dua mata pelajaran sehingga bisa selesai Rabu," ungkap M Nuh. (Sumber: Okezone.com/ade)

Anak Era Global Itu Lebih Lamban dan Fisik Lemah

Ini informasi yang layak diketahui oleh guru dalam menangani siswa di sekolah. Ketika siswa berada dalam kondisi lambat, guru jangan menoleransi atas kelambatan itu. Guru harus mengajari siswa untuk bergerak cepat dan kuat fisiknya. Jika guru mengikuti keadaan siswa, dapat dipastikan siswa akan tambah lebih lambat.

Tempo.co melaporkan bahwa bocah-bocah zaman sekarang makin lemah dibanding generasi bocah pada era 1970-an. Sebuah penelitian yang mempelajari jutaan anak di seluruh dunia mengungkapkan, anak zaman sekarang makin lamban dalam berlari. Jika dibandingkan bocah 30 tahun lalu, bocah sekarang rata-rata lebih lambat 90 detik jika berlari menempuh jarak 1 mil (1,6 kilometer).

Penelitian itu juga mengungkapkan anak-anak berusia 9-17 tahun kebugaran jantungnya turun 5 persen tiap dekade. "Wajar, anak-anak sekarang makin kurang aktif," kata Dr Stephen Daniels, juru bicara American Heart Association dan juga dokter anak dari Universitas Colorado, Rabu, 20 November 2013.

Penelitian yang dipimpin Grant Tomkinson, ahli fisiologi olahraga dari University of South Australia, itu menganalisis 50 studi tentang kebugaran, yang melibatkan 25 juta anak usia 9 hingga 17 di 28 negara selama 1964-2010. Studi-studi itu mengkaji kesehatan jantung dan daya tahan fisik.

Penelitian Tomkinson mengukur seberapa jauh anak-anak bisa berjalan dalam lima sampai 15 menit dan seberapa cepat mereka berlari jarak tertentu, mulai dari 0,5 mil ke 2 mil ( 3,2 kilometer). Hasilnya, bocah sekarang kurang bugar 15 persen dibanding bocah zaman dulu. Penurunan kebugaran ini terjadi pada bocah di Eropa, Australia, dan Selandia Baru. Gejala serupa merambat ke Amerika Utara, Jepang, dan Cina.

Di Cina, studi menunjukkan anak-anak mereka makin gemuk dan lambat. Para ahli di sana menyalahkan tes sekolah akademik yang makin kompetitif, yang membuat anak banyak berada dalam ruangan. Kambing hitam lainnya adalah permainan game dan komputer web yang digandrungi para bocah. Di Jepang, kebugaran pemuda turun sejak era 1980-an. Pemerintah mendesak pihak sekolah dan pemerintah kota untuk mempromosikan aktivitas kebugaran fisik.

Tomkinson dan Daniels mengatakan obesitas mungkin juga jadi sebab. Karena membuat lebih sulit melakukan latihan aerobik. "Terlalu banyak nonton televisi, main video game, dan lingkungan yang tidak aman juga mungkin menjadi sebab," kata mereka.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menghitung 80 persen anak-remaja global saat ini kurang aktivitas fisik. Para ahli kesehatan menganjurkan anak-anak umur 6 tahun ke atas setidaknya satu jam tiap hari beraktivitas fisik.(sumber: Tempo.co)

Dari Kepala SD ke Penguatan Pendidikan Karakter

Andai semua kepala SD benar-benar menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pemimpin, pengelola, penggerak, penyelaras, dan pemegang prinsip pendidikan, tentu, tanpa harus ada program bantuan sosial pengembangan pendidikan karakter pun, mereka akan menunjukkan hasil pendidikan yang membanggakan. Hanya saja, kepala sekolah yang demikian itu malah sedikit jumlahnya. Itu pun, kepala sekolah yang ditunjuk untuk itu karena berkaitan dengan projek yang akan dijalaninya. Betapa kesadaran mendidik tidak muncul serta merta dari tugas hakiki seorang kepala sekolah.

Andai juga kepala SD di Indonesia seperti 40 kepala SD yang sedang mengikuti Grand Final The Best Practice, tentu akan terlihat pola-pola penerapan pendidikan karakter yang dapat diandalkan sebagai dasar bagi pendidikan selanjutnya. Hanya saja, tidak semua kepala SD dapat menjalankan program seperti ke-40 kepala SD itu. Betapa ada kesenjangan yang jauh antara yang mampu dengan yang tidak mampu meskipun sama-sama menjabat sebagai kepala SD.

Film dokumenter sekolah diputar oleh salah satu kepala sekolah. Terlihat dari film itu pembiasaan siswa saat datang ke sekolah, baris sebelum masuk kelas, berdoa, energizer sebelum memulai pelajaran, kebersihan, dan pembiasaan yang lainnya. Dia adalah kepala sekolah di SDN 132 Galung, Bone. Lalu, ada poster keberhasilan pendidikan karakter di sekolah yang ditempelkan para kepala SD. Poster itu menggambarkan aktivitas siswa dan guru. Di saat presentasi, kepala SD menunjukkan keberhasilan melalui gambar dan animasi. Betapa kepala SD itu benar-benar menunjukkan keadaan apa adanya di sekolahnya.

Pendidikan karakter merupakan hal yang esensial dalam membentuk generasi Indonesia ke depan. Meskipun, Kurikulum 2013 menghendaki keintegrasian pendidikan karakter dengan pembelajaran mata pelajaran, pendidikan karakter harus menjadi pijakan utama. Para kepala SD sangat paham tentang pengintegrasian itu. hanya saja, bagaimana dengan kepala SD yang lainnya, yang tidak pernah tersentuh dengan program semacam ini?



Senin, 18 November 2013

Gudep Berpangkalan di SD Mulai Berbenah Berkat Keseriusan Kemendikbud dan Kwarnas

Kemendikbud sangat konsisten atas pernyataan ekstrakurikuler kepramukaan yang bersifat wajib dan diutamakan. Kemendikbud melalui direktorat Pembinaan SD melangkah dengan penuh harapan untuk memberikan suntikan model gugusdepan yang berpangkalan di SD. Untuk tahun 2013 ini, kemendikbud yang bekerjasama dengan Kwarnas melalui Pusdiklatnas mengawali model gugusdepan percontohan di 12 kwarda/provinsi. Tiap kwarda diberi jatah 10 kwarcab. Lalu, tiap kwarcab dikembangkan 2 SD sebagai lokasi pengembangan gugusdepan percontohan itu. Keduabelas kwarda itu adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Tengah, Jambi, Sumatera Utara, dan Lampung.

Dua sekolah di tiap kwarcab diberikan pembinaan tentang gugusdepan yang ideal. Mereka diharuskan mengembangkan hasil pembinaan dalam bentuk aksi nyata. Kemudian, sebagai bukti mereka mengembangkan, tim nasional memvisitasi aktivitasnya. Dengan instrumen yang ada, kondisi nyata pascapembinaan dipantau. Hasilnya, banyak gugusdepan yang menunjukkan hasilnya. Itulah wujud kepedulian kemendibud dalam mencanangkan kepramukaan sebagai salah satu basis pendidikan karakter.

Kemudian, sekolah yang benar-benar telah melaksanakan pola gugusdepan yang berpangkalan di sekolah akan mendapatkan bantuan sosial. Bantuan itu bertujuan untuk semakin memperkuat gugusdepan yang berpangkalan di sekolah sebagai gudep yang mampu mengimbas ke sekolah di sekitarnya. "Baru kali ini, kami mengetahui gugusdepan yang sebenarnya. Tadinya, kami hanya berlatih saja tanpa administrasi lainnya," ujar salah satu kepala SD  yang mendapatkan pembinaan itu. Tampaknya, pernyataan itu senada dengan gugusdepan yang berpangkalan di SD lainnya.

Saat divisitasi, rata-rata SD sudah menyiapkan sanggar pramuka, administrasi lengkap, papan nama, media berlatih, tenda, bendera, dan perlengkapan lainnya. Mereka terlihat serius dalam menindaklanjuti tugas dari pembinaan yang dilakukan. Meskipun, perubahan itu hanya sedikit tetapi ada peluang untuk terus berkembang menjadi gugusdepan percontohan.

Kemendikbud dengan kwarnas melalui pudiklatnas bahu-membahu untuk menyukseskan program itu. Tahun 2014, menurut rencana, semua kwarda akan dikenai program tersebut. Jadi, 21 kwarda lagi, akan dibantu untuk melaksanakan pembinaan gugusdepan di SD. 



Kenangan Kunjungan SM3T di Sumba Timur: Tidak ada Sepatu, Sandal pun Jadi



Tidak ada rotan akar pun jadi. Tidak ada sepatu, sandal jepit pun jadi. Peribahasa itulah yang sangat pas untuk siswa di Sekolah Satu Atap (Satap) di Petamawai, Kecamatan Mahu, Kabupaten Sumba Timur, termasuk di sekolah lain, di tempat lain, di pelosok Sumba Timur. Satap di Mahu terletak di lembah yang diapit oleh dua bukit. Jalan menuju ke sekolah itu hanya cukup untuk satu mobil dengan perseneling gigi satu dengan jalan yang naik dan turun bertikungan tajam. Jika bersalipan dengan mobil lain, salah satu mobil harus mundur untuk mencari tempat yang agak lebar. Karena jalan yang dilalui naik turun, berkerikil, dan setapak, anak-anak sangat akrab dengan sandal jepit daripada akrab dengan sepatu. Dari SD sampai SMP, semua memakai sandal jepit untuk alas kaki mereka.
Dengan sandal jepit itu, anak-anak melintasi bukit dan menyibak rerimbunan rumput untuk pergi dan pulang dari sekolah. Kadang anak-anak menaiki bukit dengan kemiringan tinggi, kadang pula mereka menuruni bukit yang curam dan berbatu. Perjalanan yang mereka tempuh dari rumah ke sekolah sekitar dua jam atau sejauh 5 km. Demi ilmu, jalan panjang itu dilalui dengan ikhlas oleh anak-anak.
Mengapa tidak memakai sepatu? Rata-rata anak menjawab dengan serempak. “Kami tidak punya sepatu, Bapak.” Sepatu sesekali mereka gunakan jika tidak hujan atau acara khusus yang diadakan oleh sekolah, seperti upacara hari nasional. Itupun tidak semua anak mampu memakai sepatu. “Sepatu saya hanya satu, rusak lagi. Jadi, lebih baik pakai sandal saja, biar sepatu aku tidak cepat rusak,” ujar si Kuddu, siswa perempuan dari SMP. Mereka beranggapan bahwa sepatu nomor dua, yang nomor satu adalah sekolah.
Sandal jepit merupakan kelengkapan utama untuk berjalan mereka. Sandal jepit yang tipis-tipis itu mampu melapisi kulit dari sentuhan kerikil tajam, duri, dan bongkahan batu. Kemudian, ketika masuk kelas, sendil jepit itu tetap dipakai. Rasanya, anak-anak sangat nikmat dengan sandal jepit itu.
Sandal jepit yang mereka pakai pun kadang ada yang terlalu besar. Mungkin saja, itu sandal milik orang tuanya. “Sandal saya entah ke mana. Ini sandal milik bapak saya,” ujar Nobet, salah satu siswa SMP di Satap itu. Terlihat pula, mereka sangat lihai memakai sandal. Ketika berlari, berhenti tiba-tiba, meloncat, dan menendang, sandal mereka tidak terlepas. Seolah-olah, mereka sangat ahli menggunakan sandal jepit itu.
Guru SM3T di Sumba Timur yang bertugas di sekolah itu menyadari akan penggunaan sandal jepit itu. Memang, ketika pertama datang, para guru SM3T yang lama mengenyam dunia sepatu di perkotaan itu, sempat risih melihat anak-anak bersandal jepit. Namun, ketika mengetahui kondisi yang sebenarnya, mereka maklum juga. Kondisi geografis yang berat, ekonomi keluarga yang serbakurang, dan kebiasaan jalan jauh, memberikan alasan tersendiri untuk bersandal jepit. Bahkan, sekolah sangat maklum dengan kondisi itu. Siapa tahu, dari sandal jepit, mereka menjadi orang elit di kemudian hari.

Selasa, 29 Oktober 2013

Siswa SMP Surabaya Dilatih Kepemimpinan

Sebanyak 510 siswa SMP/Mts se-Surabaya dilatih kepemimpinan di bumi Komando Latihan Komando Armada Timur (Kolat Koarmatim) TNI AL Surabaya, pada 28 Oktober hingga 1 November 2013. Acara  yang dikemas ke dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) 2013 dibuka oleh  Dr. Ikhsan, S.Psi, M.M. Pelatihan kepemimpinan itu berkat kerja sama  Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya dengan Kolatkoarmatim di Surabaya
"Kegiatan ini bertujuan sebagai pembentukan mental dan karakter anak bangsa yang siap menghadapi tantangan di masa depan," ujar Ikhsan saat memberikan sambutan. Selain itu, para siswa dapat menimba ilmu, mempelajari banyak hal, dan memperat rasa persatuan antarpelajar Surabaya. "Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para siswa," tambahnya.
Komandan Kolatkoarmatim Kol. (P). Budiyanto menjelaskan bahwa kegiatan LDKS 2013akan mendapatkan materi PBB, pembinaan fisik, anti anarkis, narkoba, bela negara, pengetahuan tentang bahaya AIDS, sejarah perjaungan bangsa, materi jungle survivor, serta kunjungan ke kapal perang. (syt)
   

Kesibukan Orang Tua Picu Anak Berkebutuhan Khusus

Hati-hati, orang tua dapat menjadi pemicu anaknya mempunyai kelainan khusus. Kesibukan orang tua merupakan faktor dominan tumbuh kembangnya anak ke arah berkebutuhan khusus. Dua faktor lain yang turut mempengaruhi ialah polusi makanan yang dikonsumsi sebelum terbentuk janin, serta hereditas (keturunan).

“Tapi fator utamanya terletak pada pola asuh orang tua,” kata Sri Sedyaningsih, Ketua Yayasan sekaligus pendiri Sekolah Inklusi Galuh Handayani di Surabaya kepada Tempo, Sabtu, 21 September 2013. Didirikan pada 1995, Galuh Handayani merupakan sekolah buat anak berkebutuhan khusus pertama di Indonesia.

Menurut Sri, faktor pertama menunjukkan kecenderungan yang makin banyak belakangan ini. Karena sibuk bekerja, orang tua sering tidak tanggap terhadap kekurangan yang dialami anaknya. Indikasinya, sekolah yang ia kelola sampai kuwalahan menerima murid baru. “Banyak orang tua yang pasrah ke kami, padahal kapasitas kelas terbatas,” kata dia.

Umumnya, kata Sri, orang tua baru menyadari anaknya berkebutuhan khusus setelah dia merasa tak nyaman berada di sekolah umum. Setelah anaknya mogok tak mau sekolah barulah dipindahkan ke sekolah inklusi. “Padahal, sejak dini anak tersebut memerlukan terapi khusus,” kata Sri.

Kendati telah diserahkan ke sekolah inklusi, kata Sri, bukan berarti tanggung jawab orang tua otomatis berkurang. Sebab sekolah tetap membutuhkan kolaborasi dengan orang tua anak dalam melakukan terapi, baik oleh terapis khusus, psikolog, guru, maupun dokter. “Jika kolaborasinya kurang baik, hasilnya bisa kurang efektif,” kata dia.

Anak yang gagal ditangani, kata Sri, bisa berakibat terjerumus ke tindakan kriminal, khususnya kasus narkoba. Dengan kekurangan yang disandang, anak tuna grahita rawan dimanfaatkan pengedar narkoba saat dia menginjak dewasa. “Rawan dimanfaatkan sebagai kurir, karena dia tidak paham dengan apa yang diperbuat. Kami pernah punya pengalaman soal itu,” imbuh Sri.

Menurut Sri, jenis anak berkebutuhan khusus ada 16 tingkatan, dari yang paling ringan disleksia (learning disabilities) hingga yang berat autis. Masing-masing jenis memerlukan penanganan khusus serta ketelatenan. “Semua masih bisa diarahkan, apalagi kalau anak tersebut dasarnya memang cerdas,” kata Sri. (Sumber: Tempo.co; KUKUH S. WIBOWO)

Wanita 99 tahun Berhasil Lulus SMA

TEMPO.CO, Iowa – Seorang wanita berusia 99 tahun asal Iowa, AS, berhasil lulus SMA. Audrey Crabtree, dari Iowa, AS, tersenyum sumringah pada Senin, 23 September 2013, saat menerima ijazah kehormatan di Waterloo East High School.

“Aku merasa jauh lebih pintar,” ujar Audrey, seperti dilaporkan AP, Rabu, 25 September 2013. Meski sudah putus sekolah sejak 80 tahun lalu, ia bersikukuh untuk melanjutkan studinya. Pasalnya, ia hanya membutuhkan satu kredit saja untuk menuntaskan sekolahnya itu.

Audrey meninggalkan sekolah tinggi pada 1932 karena kecelakaan saat menyelam yang mengakibatkannya harus absen dari sekolah. Selain itu, ia juga harus merawat neneknya yang sakit.

Pada 1957, ia menikah dan memulai bisnis toko bunga. Ia juga semakin sibuk setelah kedua anaknya mulai sekolah. Namun, dua bulan sesudah memulai toko bunganya, suaminya meninggal akibat serangan jantung. Setelah itu, ia menikah lagi hingga dua kali.

Kehidupannya yang begitu sibuk membuat pendidikannya terabaikan. Ia seringkali menyesalkannya. Tapi kemudian cucu Audrey memutuskan untuk menghubungi sekolah tempat neneknya dulu menuntut ilmu untuk memberikannya ijazah dan mengatur acara wisuda.

Pihak sekolah menyetujui. Nenek itu pun diberi salinan rapor terakhir dan memorabilia. Ia juga menerima lebih dari 100 kartu ucapan selamat. Pihak sekolah berharap, Audrey bisa memotivasi siswa muda lainnya. Audrey menunjukkan, usia bukanlah penghalang untuk meraih gelar SMA.(AP | ANINGTIAS JATMIKA)

Matthew Lieberman: Guru Jangan hanya Memahamkan Pelajaran tetapi juga Memaknai Kehidupan dari Pelajaran itu



Matthew Lieberman, profesor psikologi dan psikiatri dari Universitas California Los Angeles menyebutkan bahwa sebagai makhluk sosial, manusia sangat tidak bisa lepas dari kehidupan sosialnya. Dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga, bermasyarakat, hingga pendidikan, kebersosialan manusia sangatlah penting. Kehidupan perlu dipandu dengan prinsip-prinsip sosial. 

Namun, kesempatan bagi anak-anak untuk bermain secara bebas telah menurun. Penurunan ini terus berlanjut dengan konsekuensi negatif yang serius bagi fisik, mental, dan sosial anak-anak. Penurunan bermain bebas dan bersosialisasi di negara maju dapat menimbulkan depresi, bunuh diri, perasaan tidak berdaya, dan narsisme pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda.

Guru tidak pernah menanyakan apakah Napoleon Bonaparte berpikir dan bagaimana ia bisa mencatatkan namanya dalam sejarah. Guru lebih senang menjelaskan batas-batas teritorial dan bersifat hapalan, serta menyingkirkan sesuatu yang nonsosial sejauh mungkin. Segala sesuatu yang bersifat sosial dapat mengembangkan motivasi anak, tidak hanya dalam memahami pelajaran, tapi juga dalam memaknai kehidupan. Oleh sebab itu, sosial tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kehidupan manusia dalam aspek apa pun, termasuk pendidikan. udahkah Anda mengutamakan jiwa sosial anak? (sumber: Tempo.co)

Guru Kreatif Bentuk Pribadi Siswa Unggul

Cobalah bertanya kepada salah satu orang di sekitarmu tentang pengalaman yang paling berkesan saat sekolah dahulu. Mereka rata-rata akan menjawab kesan saat bersama guru. Namun, tidak semua guru yang disimpan dalam otak mereka. Yang disimpan hanyalah guru kreatif sehingga mampu melejitkan pribadi siswa menjadi unggul. Guru jahat memang diingat sampai mati tetapi ingatatn itu hanya bersifat negasi. Kalau guru kreatif, dia selalu diingat karena memberikan inspirasi dalam hidup.
Guru kreatif senantiasa menyadari bahwa siswa sangat jenuh berada di kelas. Menurut guru kreatif, siswa memerlukan variasi belajar, keteladanan yang menarik, dan gaya layanan guru yang pas bagi siswa. Guru kreatif selalu berubah gaya saat berada di dalam kelas. Perubahan itu disesuaikan dengan suasana yang melingkupi siswa.
Bagamiana untuk menjadi kreatif? Inilah resepnya. (1) menjadi komunikator yang baik; (2) menganggap siswa senantiasa berubah; (3) mencari bahan untuk bumbu kreatif; (4) menganggap siswa sebagai generasi ke depan; (5) mengubah gaya mengajar setiap masuk; (6) jangan takut untuk berkreasi; (7) laksanakan kreativitas bukan hanya mengangan-angankannya; (8) menganggap siswa sebagai kawan.

Artis Panas itu Kehilangan Harta Karun Peduli Diri Sendiri

Banyak artis porno dengan bangga menunjukkan videonya atau fotonya ke orang lain. Mereka seolah mampu menembus zaman. Mereka seolah mempunyai keberanian melakukan sesuatu yang ditabukan. Tidak ada batasan bagi dirinya kecuali kesenangan nafsu dan uang. Kepribadian utuhnya kalah dengan pengaruh hedonis dan kegemerlapan nafsu.

Peduli diri sendiri itu adalah harta karun yang tidak terhingga. Pendidikan keutamaan terletak pada kepedulian pada diri sendiri. Peduli diri sendiri bukan masalah egoisitas tetapi masalah tanggung jawab akan eksistensi diri dalam menjalani hidup. Dapat pula diartikan bahwa peduli pada diri sendiri itu wujud dari dimensi kemanusiawian bukan hewani. Oleh karena itu, peduli pada diri sendiri adalah kekuatan yang utama dalam pendidikan.

Berangkat dari peduli pada diri sendiri, seseorang dapat meraih cita-citanya. Mereka akan menggunakan rambu kemanusiawian untuk memperkuat diri sendiri. Untuk itu, jangan sekali-kali menympang dalam mendidik diri sendiri. Salah satu penyimpangan itu adalah menjadi artis porno.


Guru SMA Swasta Se-Surabaya Berlatih Menulis Jurnal Ilmiah

Surabaya memang tidak ingin guru-gurunya hanya mengajar di depan kelas. Guru harus dapat menuliskan pengalaman mengajarkannya ke dalam jurnal ilmiah dan di wapikweb.org. Itulah yang menjadi harapan selama ini. Harapan itu dibuktikan dalam pelatihan menulis jurnal ilmiah serentak di semua wilayah.
Guru SMA swasta di wilayah timur lebih dahulu berlatih menulis. Mereka diajari menulis jurnal ilmiah secara langsung. Garduguru mengajak mereka untuk langsung menulis tanpa diberi teori menulis terlebih dahulu. Model praktik langsung melalui Lembar Kerja Peserta (LKP) sangat ampuh. Selang seminggu, mereka langsung mengirimkan artikel ilmiah. Beberapa hasilnya dapat dilihat di jurnal online laman dinas pendidikan Surabaya.
Kemudian, guru SMA Swasta wilayah selatan di Surabaya juga mengikuti pelatihan jurnal ilmiah. Sehari mereka dilatih menulis jurnal. Lalu, seminggu berikutnya, pelatihan diadakan di wilayah barat. Mereka sangat asyik mengikuti pelatihan. Dr. Suyatno, M.Pd. sangat tabah mendampingi peserta untuk menulis.

Kamis, 24 Oktober 2013

Siswa yang Berolahraga Teratur, Nilai Studinya akan Meningkat

Olahraga teratur bagi siswa bisa meningkatkan nilai anak di sekolah. Guna meningkatkan prestasi anak di sekolah, banyak orang tua yang berusaha memberi anaknya berbagai macam les. Padahal, olahraga teratur juga bisa meningkatkan prestasi anak, lho.

Adalah penelitian di Inggris yang menemukan bahwa olahraga teratur bisa meningkatkan nilai anak di sekolah. Temuan studi yang dipublikasikan di British Journal of Sports Medicine itu mengatakan bahwa semakin aktif fisik anak-anak, maka performa mereka di sekolah juga makin baik.

Aktivitas fisik sudah lama diklaim bisa meningkatkan kekuatan otak, tapi hanya sedikit bukti ilmiah yang mendukung hal itu. Pada studi ini, peneliti dari Inggris, Skotlandia, dan Amerika Serikat mengukur tingkat aktivitas fisik 5.000 anak usia 11 tahun dengan memakai alat pengukur gerak, accelerometer, selama seminggu.

Prestasi akademik mereka di mata pelajaran Bahasa Inggris, matematika, dan science dinilai pada usia 11, 13, dan 16. Anak-anak yang sudah aktif pada usia 11 tahun memiliki nilai yang lebih baik di tiga mata pelajaran tersebut, dibandingkan dengan anak yang aktif di usia 13 dan 16 tahun.

Latihan 17 menit per hari, bisa meningkatkan kemampuan anak laki-laki berumur 11 tahun. Sedangkan, pada anak perempuan, olahraga 12 menit per hari bisa berpengaruh sampai ia berusia 16 tahun.

"Namun yang mengkhawatirkan, rata-rata anak laki-laki melakukan olahraga rutin selama 29 menit dan perempuan sekitar 18 menit. Itu jauh lebih rendah dari waktu yang disarankan yaitu 60 menit," kata salah satu peneliti dalam sebuah pernyataan, demikian dilansir The News, Kamis (24/10/2013).

Temuan ini mendorong peneliti untuk merekomendasikan sekolah-sekolah menerapkan olahraga rutin selama 60 menit guna membantu meningkatkan prestasi murid-muridnya. Meski begitu, peneliti juga menyesuaikan hasil studi dengan faktor lain misanya berat lahir anak, apakah ibunya merokok saat hamil, berat badan, dan latar belakang ekonominya. (Sumber\; detik.com/up/vit)

Rabu, 23 Oktober 2013

Di Jerman, Guru Dilarang Berkomunikasi Melalui Facebook dengan Muridnya

TEMPO.CO, Berlin – Sebuah negara bagian Jerman melarang kontak antara murid dan guru lewat facebook. Negara bagian Rhineland-Palatinate juga khawatir jarak profesional antara guru dan murid akan rusak jika mereka berkomunikasi secara online, atau saling bertukar akses atas foto dan informasi pribadi.

“Kian lama, di sekolah tertentu, ada guru dan murid yang mendiskusikan masalah sekolah di Facebook, dan kami tidak inginkan hal itu,” kata juru bicara Kementerian Pendidikan negara bagian itu, Wolf-Juergen Karle, Selasa, 22 Oktober 2013. Percakapan semacam itu seharusnya dilakukan di platform pendidikan yang aman, tambah Karle.

Kementerian juga mengatakan model bisnis Facebook dalam mengumpulkan data personal untuk kepentingan bisnis juga tidak sesuai dengan misi pendidikan sekolah.Beberapa negara di Jerman lainnya telah menerapkan atau tengah mempertimbangkan pembatasan kontak antara guru dan murid di jejaring media sosial. Pada musim panas ini, negara bagian Saxony mengumumkan rencana tersebut. Baden-W├╝rttemberg juga membatasi penggunaan jejaring media sosial di sekolah.

Sedangkan di Schleswig-Holstein, para guru telah dilarang merencanakan perjalanan sekolah atau memberi nilai di jejaring media sosial, ungkap kantor berita pemerintah Jerman, DPA. Namun, baru Rhineland-Palatinate yang mengeluarkan larangan resmi, tidak saja antara guru dan murid, tetapi juga sekaligus di antara para staf pendidikan.

Tahun 2011, negara bagian Missouri, Amerika Serikat mengesahkan undang-undang yang melarang guru berhubungan dengan siswanya lewat Facebook. Meski demikian, undang-undang itu tidak pernah berlaku dan akhirnya dicabut setelah serikat guru mengajukannya ke pengadilan. (sumber: tempo.co)

Media Pembelajaran Kreatif Dikembangkan Dosen UTM

"Saya termotivasi untuk menjadi dosen yang inovatif," ujar dosen Ekonomi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) saat memberikan refleksi di akhir pelatihan pengembangan media perkuliahan inovatif yang difasilitatori Dr. Suyatno, M.Pd., pengelola blog ini, Rabu, 23 Oktober 2013 di Kantor Pusat UTM itu. Dosen lainnya juga menyatakan hal yang hampir sama. Mereka menginginkan perkuliahan harus inovatif agar tujuan dapat tercapai. "Saya berharap mahasiswa dapat menyerap materi perkuliahan 100%," ujar Wachid, dosen MKU UTM.

Suyatno, dengan lincahnya menyampaikan materi media perkuliahan inovatif. Aneka contoh media inovatif itu ditunjukkan secara langsung. Amplop drama, kartu tokoh, kartu konsep, kalung tokoh, batu kata, topi raja, dan seterusnya dipraktikkan di depan peserta yang berjumlah 30 dosen muda itu. Sulaiman, selaku panitia menyatakan puas. "Kegiatan seperti ini harus ditindaklanjuti dengan produksi langsung," ujarnya. Dengan begitu, dosen mempunyai media inovatif lebih banyak lagi.

Peserta berjanji akan mengembangkan media inovatif itu. "Ternyata banyak ragam metode perkuliahan dari masa konservatif sampai liberalistik," tambah salah satu peserta. Untuk itu, perlu upaya serius untuk mengembangkannya. Mahasiswa saat ini dengan kultur yang berbeda dengan yang lalu, harus dihadapi dengan media yang inovatif.

Jakarta Latih Siswa untuk Menjadi Informan HIV dan AIDS

Salah satu target Millenium Development Goals (MDGs) adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman HIV dan AIDS di masyarakat. Untuk itu, DKI Jakarta akan melatih ratusan remaja dan guru sekolah sebagai penyebar informasi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) menggelar pelatihan tentang HIV dan AIDS dengan nama Training of Fasilitator Participatory Action Reserch (ToF PAR). Pelatihan ini rencananya akan dibagi menjadi 3 angkatan.

Angkatan pertama dilaksanakan tanggal 23-25 Oktober 2013, melibatkan 45 orang perwakilan dari 6 agama, 20 orang dari remaja karang taruna, dan 20 orang remaja pendidikan informal. Para peserta ToF PAR angkatan pertama mewakili masyarakat umum.

Angkatan kedua terdiri dari para pelajar dari 40 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), masing-masing diwakili 2 orang, berpasangan laki-laki dan perempuan. Angkatan ketiga adalah para guru dari 40 sekolah, masing-masing diwakili oleh 2 orang.

Para peserta pelatihan akan dilepas oleh Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok di Balaikota, Rabu (23/10/2013). Sekretaris KPAP DKI Jakarta, Dra Hj Rohana Manggala, MSi berharap, pelatihan ini bisa meningkatkan pemahaman remaja usia 15-24 tahun tentang HIV dan AIDS.

"Semua tidak akan tercapai tanpa partisipasi masyarakat dan lembaga-lembaga. Untuk itu informasi HIV dan AIDS perlu dipahami secara benar," kata Rohana dalam rilisnya yang diterima detikHealth, Selasa (22/10/2013).

Rohana berharap peserta pelatihan ini dapat lebih mengetahui dan memahami informasi yang komprehensif tentang HIV dan AIDS dan menyebarkannya ke masyarakat. Diharapkan pula materi tersebut bisa masuk dalam kurikulum sekolah dan dibahas juga di masyarakat. (sumber: detik.com)

Selasa, 13 Agustus 2013

Renungan Ulang Janji Pramuka 14 Agustus 2013



Renungan Ulang Janji 
Hari Pramuka 14 Agustus 2013


Saudaraku,
Baru saja kita merasakan,
Siang hari berganti malam,
Itu semua tidak sekadar sebuah pergantian,
Namun sebuah tanggung jawab perputaran,
Antara matahari dan rembulan
Dalam menjalankan tugas dan kewajiban

Lihatlah matahari,
dia menuangkan sinar tanpa pilih kasih,
Di ceruk lembah, di pantai, di laut, dan di pegunungan
Dibaginya cahaya tanpa pamrih
Tanpa memilih si kaya atau si miskin,
si sehat atau si sakit
Si kecil atau si besar,
si pangkat atau si melarat
Tanpa terkecuali,
Mereka menikmati terang setiap hari

Malam pun tiba membawa gelap
Kita diantar agar terlelap
Dalam tidur, dalam mimpi, untuk istirahat,
Kelak esok hari, semua dapat segar kembali
Itulah tugas sang malam

Tidaklah merugi bertanggung jawab sepertinya
karena dialah cermin yang telah berkata
darinya sampai kepadanya
di batas yang tiada selesai
dari-Nya

Tidaklah merugi bertanggung jawab sepertinya
karena segumpal saran dilesatkan
baginya sampai hatinya
di semua badan yang tiada mengira
dari-Nya


Tuhan memberikan tanggung jawab kepada kita
dan kita bertanggung jawab kepada Tuhan
seperti benda-benda alam lainnya
seirama makhluk dan tumbuhan lainnya


Sebuah tanggung jawab sebagai manusia
inilah sebuah harga bagi kita
setangkai janji yang akan dikata
agar mewangi demi generasi bangsa

inilah sebuah harga bagi kita
kepercayaan setia dalam Gerakan Pramuka
diucap kata sampai ujung dunia

Mari berkata,
Aku akan bersumpah setia
Berucap Trisatya
Sampai menerapkan isinya

Trisatya akan dikata oleh semua
Meski, entah apa yang kami bisa
entah kapan yang kami tata
tiada percuma selamanya
membalas harga diri pramuka

kalung merah putih di leher ini
bukan penghias harga diri
bukan melingkar tanpa isi
bukan tanda pemanis janji

kalung merah putih di leher ini
tanda pelecut bakti kami
dari kapan sampai kini
hingga di tapal batas nanti

Semoga Tuhan merelakan ridho-Nya
Menangkup tingkah dan ucap kita
Mengawasi gerak dan jelajah kita
Dalam semua perbuatan kita
senantiasa untuk Tuhan yang Mahaesa

Tuhan bersama kita.
Amin

Senin, 15 Juli 2013

Jika Guru Kehilangan Vitamin Mengajar, Prestasi Terjun Bebas

Waspadalah. Prestasi siswa menurun bisa jadi bukan karena kemampuan anak yang tidak tinggi. Bisa jadi, hal itu disebabkan guru yang kekurangan vitamin mengajar. Guru itu akan lemas dan tidak berdaya akan kemampuan dirinya dalam mendongkrak prestasi siswanya. Guru itu cenderung apatis, apa adanya, jalan di tempat, dan tidak yakin kalau dirinya mempunyai kemampuan. Dia menganggap orang lain lebih mampu mengajar daripada dirinya.

Jika ada guru seperti itu, orang tua perlu menghindari. Segera anaknya dipindahkan ke sekolah lain. Kalau diteruskan, anak akan menjadi korban kekurangan vitamin guru. Guru itu hanya mau menerima bayaran saja tetapi tidak mau mengubah cara mengajarnya. Dia menuntut tunjangan tetapi tidak mau dituntut untuk berubah. Seribu alasan akan disampaikannya untuk membela diri. 

Gejala yang perlu dikenali adalah a) jarang masuk, b) tidak disiplin mengajar (sering terlambat, tidak mempunyai buku, dan tidak ada aura mengajar), c) hanya duduk saja saat mengajar, d) sering memberi tugas tanpa guru masuk kelas, e) menyalahkan kepala sekolah atau guru lain padahal kesalahan diri sendiri, f) tidak pernah ikut rapat, diskusi, atau seminar, g) bekerja di lain tempat lebih disukainya.

Jika menjumpai guru seperti itu, disarankan orangtua a) segera pindahkan anaknya ke sekolah lain, b) usulkan dengan tegas guru tersebut dicopot jadi guru, c) segera guru tersebut ditanyai tanggung jawabnya atau disidang oleh para orangtua atas perilakunya, d) pindahkan guru itu dari sekolah tersebut, f) pantau tiap hari guru itu, dan g) suruh guru itu duduk di belakang saat guru hebat mengajar.

Zaman telah berubah. Guru harus benar-benar mengikuti zaman dengan keseriusan yang tinggi. Sudah tidak zamannya jika guru kekurangan vitamin mengajar. Namun, mengapa masih saja terjadi kondisi tersebut?

Minggu, 14 Juli 2013

Ada Enam Inti Perubahan Kurikulum Lama dengan Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 mulai diterapkan secara bertahap mulai Senin (15/7/2013) besok. Ada 6 perbedaan Kurikulum 2013 dibanding kurikulum lama. Apa saja?

"Sedikitnya, ada enam perubahan yang dapat dilakukan bersamaan dengan penerapan Kurikulum 2013," demikian rilis Kemendikbud yang disampaikan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemendikbud, Ibnu Hamad, Minggu (14/7/2013).

Pertama, terkait dengan penataan sistem perbukuan.

Lazim berlaku selama ini, buku ditentukan oleh penerbit, baik menyangkut isi maupun harga, sehingga beban berat dipikul peserta didik dan orang tua. Menyangkut isi, karena keterbatasan wawasan dan kepekaan para penulis, kegaduhan terhadap isi buku pun sering terjadi. Kejadian terakhir di Kabupaten Bogor pada buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 6 SD (Cerita porno, red).

Penataan sistem perbukuan dalam implementasi Kurikulum 2013 dikelola oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan dan substansinya diarahkan oleh tim pengarah dan pengembang kurikulum. Tujuannya agar isi dapat dikendalikan dan kualitas lebih baik. Selain itu, harga bisa ditekan lebih wajar (public awareness).

Kedua, penataan Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) di dalam penyiapan dan pengadaan guru.

Ketiga, penataan terhadap pola pelatihan guru.

Pengalaman pada pelaksanaan pelatihan instruktur nasional, guru inti, dan guru sasaran untuk implementasi Kurikulum 2013, misalnya, banyak pendekatan pelatihan yang harus disesuaikan, baik menyangkut materi pelatihan maupun model dan pola pelatihan.

Momentum Kurikulum 2013 adalah hal yang tepat untuk melakukan penataan terhadap pola pelatihan guru termasuk penjenjangan terhadap karir guru dan kepangkatannya.

Ke depan, sedang disiapkan konsep yang terintegrasi antara jenjang karier dan kepangkatan dengan penilaian profesi guru. Selama ini keduanya terpisah.

Keempat, memperkuat budaya sekolah melalui pengintegrasian kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler, serta penguatan peran guru bimbingan dan konseling (BK).

Kelima, terkait dengan memperkuat NKRI. Melalui kegiatan ekstrakurikuler kepramukaanlah, peserta didik diharapkan mendapat porsi tambahan pendidikan karakter, baik menyangkut nilai-nilai kebangsaan, keagamaan, toleransi dan lainnya.

Keenam, ini juga masih terkait dengan hal kelima, memperkuat integrasi pengetahuan-bahasa-budaya.

Pada Kurikulum 2013, peran bahasa Indonesia menjadi dominan, yaitu sebagai saluran mengantarkan kandungan materi dari semua sumber kompetensi kepada peserta didik, sehingga bahasa berkedudukan sebagai penghela mata pelajaran-mata pelajaran lain.

Kandungan materi mata pelajaran lain dijadikan sebagai konteks dalam penggunaan jenis teks yang sesuai dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui cara ini, maka pembelajaran bahasa Indonesia termasuk kebudayaan, dapat dibuat menjadi kontekstual. Sesuatu yang hilang pada model pembelajaran bahasa Indonesia saat ini.

"Dari efek domino itulah maka Kurikulum 2013 adalah bagian tidak terpisahkan untuk menata berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara melalui sektor pendidikan. Karena itu, Kurikulum 2013 sesungguhnya bukan kurikulum program kementerian, tetapi kurikulum yang menjadi program pemerintah," demikian rilis Kemendikbud. (Sumber: detik.com/14 Juli 2013)

Rabu, 10 Juli 2013

Guru Agen Kreativitas Siswa Berprestasi

Banyak karya-karya inovatif diciptakan para pelajar dan kemudian mereka meraih penghargaan di tingkat internasional. Ada siswa yang meneliti tentang manfaat kulit kacang, membuat alat pemisah sampah yang terdapat di sungai, menciptakan bra penampung ASI, dan sebagainya. Para guru dinilai punya andil besar dalam mengembangkan daya kreativitas siswa melalui proses pembelajaran.

Praktisi pendidikan Arief Rachman menilai, kreativitas dikembangkan dari proses pembelajaran yang tepat. "Kreativitas bukan dari materi-materi kurikulum, tapi bagaimana guru menciptakan proses pembelajaran di dalam kelas agar anak senang bertanya, suka meneliti, dan senang menciptakan," kata Arief saat ditemui Tempo, Kamis, 4 Juli 2013, di ruang kerjanya di Gedung C Depdiknas, Jakarta.

Menurut Arief, kurikulum di sekolah formal hanya memenuhi empat hal. Pertama, mempersiapkan siswa masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Kedua, mempersiapkan siswa agar mempuyai gagasan-gagasan sesuai minat mereka. "Dengan kata lain, kurikulum harus relevan dengan minat mereka di masa yang akan datang," kata dia.

Ketiga, kurikulum harus menjamin tuntutan-tuntutan masa depan di masa kerja atau di kehidupan. Serta keempat, kurikulum harus mendekatkan mereka pada Tuhan. "Kalau dilihat dari empat ini, itu bisa menampung anak-anak yang kreatif," kata dia.

Namun, seumpama kurikulum formal yang dirancang sekolah tidak mendukung minat siswa, kata Arief, sekolah tentu bisa mengakomodasi melalui kegiatan ekstrakulikuler. "Tentu bukan tugas dari kurikulum formal. Kurikulum formal hanya membantu siswa berpikir kreatif, inovatif, imajinatif, analitik, dan sintetis."

Siswa-siswa kreatif yang meraih penghargaan di ajang-ajang internasional, memang umumnya berasal dari sekolah-sekolah yang menekankan pentingnya kegiatan penelitian. Contohnya adalah SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan. Tak heran jika Nisrina Nuramalia Fathina, siswi kelas XII sekolah itu, memenangi medali perak untuk penelitiannya tentang kulit kacang di ajang olimpiade internasional di New York, Amerika. "Sekolah ini memang sangat mendorong siswanya untuk melakukan science project," kata Nisrina pada Tempo, Jumat, 5 Juli 2013, di sekolahnya.

Demikian juga yang terjadi pada SMAN 6 Kota Yogyakarta. Dua karya para pelajar sekolah itu meraih penghargaan di Internasional Exhibition for Youth Inventor (IEYI) 2013 di Malaysia. Kedua karya itu adalah bra penampung ASI, dan Turbin Undershoot Penyaring Sampah.

Siswa Sering Meneliti Cenderung Sukses saat Dewasa

Di tengah padatnya pelajaran sekolah yang kadang membosankan, pelajar-pelajar Indonesia tetap menunjukan daya kreativitasnya yang tinggi. Saat melihat ada persoalan di sekeliling, mereka menciptakan karya yang bermanfaat dan bahkan meraih penghargaan di ajang-ajang internasional. Kebiasaan melatih kreativitas ini dinilai akan membantu siswa ketika mereka dewasa kelak.

"Kami apresiasi kreativitas anak-anak itu. Dan itu penting, karena sistem pendidikan kita tidak mengajarkan hal-hal seperti ini. Sistem pendidikan kita membosankan," kata Kepala Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono saat ditemui Tempo, Jumat, 24 Mei 2013, di ruang kerjanya.

Pada pertengahan Mei lalu, LIPI mengirim sejumlah siswa ke ajang International Exhibition of Young Inventors (IEYI) di Malaysia. Di ajang itu, sejumlah siswa Indonesia berhasil memboyong tiga medali emas dan dua perak. Karya-karya cemerlang itu, diantaranya bra penampung ASI, mesin pemisah sampah, sepatu antikekerasan, dan detektor telur besuk. Di tahun sebelumnya, para siswa Indonesia juga menunjukan prestasi yang membanggakan dengan merebut sejumlah medali.

Bukan cuma di ajang IEYI, pelajar Indonesia juga berprestasi di ajang-ajang internasional lainnya, seperti International Environment Project Olympiade (INEPO) pada 17-20 Mei 2013, di Istanbul, Turki; dan International High School Environment Project Olympiad di Oswego, New York, Amerika Serikat, pada 16-20 Juni 2013.

Menurut Bogie, kreativitas para siswa itu mencerminkan orisinalitas dan cara mereka memecahkan masalah di lingkungan mereka. "Mereka mengatasi permasalahan yang ada dengan sumber daya yang ada dalam jangkauan mereka. Jadi, mereka melakukannya bukan karena disuruh. Beda dengan PR sekolah. Orisinalitas inilah yang kita hargai dan kita terus harapkan berkembang di anak-anak sekolah," kata Bogie.

Mengolah dan memupuk daya kreativitas sejak dini dinilai penting oleh Bogie. Sebab, sejarah menunjukan, kunci utama orang-orang yang berhasil adalah jam terbang alias pengalaman. Mereka yang punya jam terbang lebih banyak cenderung punya peluang berhasil yang lebih tinggi. "Nah, kalau siswa dari SD, SMP, jam terbangnya sebagai inovator sudah terbangun, mungkin ketika lulus SMA atau kuliah bisa langsung jadi entrepreneur. Beda dengan orang yang ketika lulus SMA baru mikir," 'Saya mau ngapain ya?' It's too late," kata Bogie.

Bogie mengatakan, bisa jadi para siswa belum terlalu merasakan hasil kreativitas mereka saat ini. "Tapi pada saatnya nanti mereka harus menghadapi tantangan hidup yang sebenarnya, apa yang sudah mereka lakukan sekarang akan sangat bermanfaat," ujar dia. (Sumber: Tempo.co/10 Juli 2013)