Selasa, 29 Oktober 2013

Kesibukan Orang Tua Picu Anak Berkebutuhan Khusus

Hati-hati, orang tua dapat menjadi pemicu anaknya mempunyai kelainan khusus. Kesibukan orang tua merupakan faktor dominan tumbuh kembangnya anak ke arah berkebutuhan khusus. Dua faktor lain yang turut mempengaruhi ialah polusi makanan yang dikonsumsi sebelum terbentuk janin, serta hereditas (keturunan).

“Tapi fator utamanya terletak pada pola asuh orang tua,” kata Sri Sedyaningsih, Ketua Yayasan sekaligus pendiri Sekolah Inklusi Galuh Handayani di Surabaya kepada Tempo, Sabtu, 21 September 2013. Didirikan pada 1995, Galuh Handayani merupakan sekolah buat anak berkebutuhan khusus pertama di Indonesia.

Menurut Sri, faktor pertama menunjukkan kecenderungan yang makin banyak belakangan ini. Karena sibuk bekerja, orang tua sering tidak tanggap terhadap kekurangan yang dialami anaknya. Indikasinya, sekolah yang ia kelola sampai kuwalahan menerima murid baru. “Banyak orang tua yang pasrah ke kami, padahal kapasitas kelas terbatas,” kata dia.

Umumnya, kata Sri, orang tua baru menyadari anaknya berkebutuhan khusus setelah dia merasa tak nyaman berada di sekolah umum. Setelah anaknya mogok tak mau sekolah barulah dipindahkan ke sekolah inklusi. “Padahal, sejak dini anak tersebut memerlukan terapi khusus,” kata Sri.

Kendati telah diserahkan ke sekolah inklusi, kata Sri, bukan berarti tanggung jawab orang tua otomatis berkurang. Sebab sekolah tetap membutuhkan kolaborasi dengan orang tua anak dalam melakukan terapi, baik oleh terapis khusus, psikolog, guru, maupun dokter. “Jika kolaborasinya kurang baik, hasilnya bisa kurang efektif,” kata dia.

Anak yang gagal ditangani, kata Sri, bisa berakibat terjerumus ke tindakan kriminal, khususnya kasus narkoba. Dengan kekurangan yang disandang, anak tuna grahita rawan dimanfaatkan pengedar narkoba saat dia menginjak dewasa. “Rawan dimanfaatkan sebagai kurir, karena dia tidak paham dengan apa yang diperbuat. Kami pernah punya pengalaman soal itu,” imbuh Sri.

Menurut Sri, jenis anak berkebutuhan khusus ada 16 tingkatan, dari yang paling ringan disleksia (learning disabilities) hingga yang berat autis. Masing-masing jenis memerlukan penanganan khusus serta ketelatenan. “Semua masih bisa diarahkan, apalagi kalau anak tersebut dasarnya memang cerdas,” kata Sri. (Sumber: Tempo.co; KUKUH S. WIBOWO)

Tidak ada komentar: