Selasa, 28 April 2015

Bisakah Karyawan Kaya?

Hary Eko Prajuwito
Oleh Hary Eko Prajuwito

Di sela-sela kesibukan saya memberikan training di berbagai perusahaan, Sabtu dan Ahad kemarin saya sempatkan memberikan seminar untuk masyarakat umum. Sabtu di Universitas Widya Mandala, Surabaya, Ahad saya berbagi di PT. HM Sampoerna, Surabaya.

Selain menjalankan hobi saya yaitu memberikan training, saya juga ingin menguji dan mengasah kualitas ilmu yang saya dalami. Apakah ilmu itu hanya compatible di perusahaan atau bisa diserap masyarakat luas. Alhamdulillah, 1.000 peserta lebih di masing-masing tempat menikmati materi yang saya sajikan.

Dari diskusi dengan para peserta, saya menemukan bahwa sebagian besar peserta ternyata ingin menjadi pengusaha. Alasannya sederhana, menjadi karyawan susah kaya. Benarkah menjadi karyawan susah kaya? Jawaban saya, TIDAK. Menjadi karyawan bisa kaya dengan cara yang benar asal tahu ilmunya.

Sebelumnya perlu saya sampaikan, khususnya bagi Anda yang sangat silau dengan pengusaha. Ketahuilah, boleh jadi penghasilan para pengusaha tinggi tetapi penghasilan itu habis untuk operasional perusahaan dan membayar hutang. Sebagian diantara mereka sebenarnya tidak kaya.
Mereka mungkin mempunyai perusahaan dimana-mana, tetapi juga hutangnya berjibun dan tersebar ke segala penjuru mata angin. Boleh jadi hutangnya lebih banyak dibandingkan total kekayaanya. Sebagian diantara mereka sebenarnya tidak kaya. Tidur pun tidak nyenyak karena mimpinya pun dikejar-kejar debt collector.

Kaya, tidaklah identik dengan tingginya penghasilan dan banyaknya perusahaan yang dimiliki. Kaya ditentukan sejauh mana Anda memiliki aset-aset produktif yang jauh melebihi total hutang Anda. Selain itu, saat Anda memerlukan sesuatu, Anda memiliki dana yang cukup untuk memenuhinya.
Jadi, menjadi pengusaha tidak menjadi jaminan bahwa Anda bisa kaya. Karyawan pun bisa kaya dengan cara-cara yang tidak melanggar etika dan agama. Apabila Anda karyawan dan ingin kaya, bersegeralah menjadi seorang expert di pekerjaan yang Anda tekuni. Keahlian Anda diasah melebihi keahlian yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Percayalah, menjadi expert di pekerjaan Anda, menjadikan Anda mendapat bayaran yang menggiurkan.

Jangan lupa, gaji yang Anda peroleh gunakanlah untuk membeli aset-aset produktif yang bisa menghasilkan. Sahabat saya di Bank BNI, karena rajin menyisihkan gajinya untuk membeli kos-kosan, menjelang usia pensiunnya sudah memiliki 147 pintu yang bisa dikontrakkan. Dengan rata-rata 2 juta rupiah per pintu, ia bisa menghasilkan 300 juta rupiah setiap bulan. Belum lagi harga tanah yang selalu naik setiap tahunnya. Berlebih untuk bekal pensiun.

Saya memiliki banyak sahabat yang masih menjadi karyawan. Mereka banyak yang lebih kaya dibandingkan beberapa sahabat saya yang menjadi pengusaha. Menjadi karyawan bisa menjadi kaya walau mungkin tidak sampai menjadi kelompok yang kaya raya. Bila passion Anda sebagai karyawan maka nikmatilah pekerjaan Anda, tanpa harus merasa iri dengan para pengusaha. Karyawan pun bisa kaya, percayalah…

Bermartabatlah Selagi Sempat



Oleh Suyatno

Sesungguhnya, modal yang teramat indah untuk menjadi bermartabat adalah diwisuda. Diwisuda berarti diberikan kepercayaan legal untuk menjalankan kemampuan diri secara bermartabat di tengah masyarakat. Jika kelak di masyarakat ternyata sang sosok yang telah diwisuda berbuat cela dan ingkar dari komitmennya, dia akan menemukan identitas negatif yang berlawanan dari predikat bermartabat. Sebaliknya, sosok yang pernah diwisuda akan memperoleh cap bermartabat apabila melaksanakan perbuatan yang diterima oleh masyarakat karena berpikir positif, empati, berprestasi, dan memberikan arti bagi kehidupan. Identitas positif dan negatif adalah pilihan dari sang sosok yang telah diwisuda. Karena identitas diri di masyarakat adalah sebuah pilihan, tentu, wisudawan Unesa akan memilih identitas positif dalam kondisi dan keadaan apapun. 

Wisuda adalah petanda dari sebuah babak dalam perjalanan hidup sang sosok yang kelak akan beridentitas positif sehingga berpredikat bermartabat. Petanda tersebut dibalut dalam sebuah momen Wisuda Unesa yang diatur secara apik, prosedural, dan khidmat agar sang sosok menitikkesankan pada petanda sehingga kelak akan melahirkan momentum bermanfaat. Untuk itu, wisudawan kali ini, perlu mengabadikan momen ini dengan penuh kegembiraan, kekhidmatan, dan keyakinan.
Kegembiraan merupakan dasar bagi keberlangsungan perjalanan sang sosok dalam menapaki babak baru di masyarakat. Dengan kegembiraan, inspirasi, kreasi, dan inovasi akan muncul dengan sempurna tanpa kegalauan meski dalam kondisi serba susah sekalipun. Wisudawan Unesa, pasti, mampu menempatkan kegembiraan sebagai dasar berkiprah dalam dunia sehingga menjadi sosok yang bermartabat.

Kekhidmatan merupakan perwujudan dari proses berkonsentrasi yang terfokus, ikhlas, dan bertanggung jawab. Dengan kehidmatan, sang sosok akan mampu melahirkan karya dan kinerja dengan jernih, berbobot, dan disukai oleh masyarakat. Meskipun berada dalam kegembiraan namun tidak khidmat, hasil yang diperoleh akan tidak maksimal, kacau, dan terbagi-bagi sehingga menutup tingkat keterfokusan diri. Modal bermartabat adalah kekhidmatan dalam setiap kesempatan sekecil apapun. 

Keyakinan merupakan perwujudan berpikir positif atas karya dan kinerja yang telah, saat, dan akan dilaksanakan dalam diri sang sosok dalam menghadapi kiprah diri di masyarakat. Keyakinan biasanya didasari oleh mimpi, cita-cita, dan kehendak yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan diri. Wisudawan Unesa akan dapat bermartabat jika mempunyai keyakinan yang teramat kuat atas kesuksesan diri dalam menjangkau sosok yang bermartabat di masyarakat.

Senin, 06 Oktober 2014

Makna Sebuah Wisuda, Menyambut Wisuda ke-81 Unesa



Wisuda bukan hanya prosesi dengan memakai toga lalu bersalaman dengan rektor dan diabadikan dalam foto kenangan semata. Wisuda bukan senantiasa hanya itu saja. Ada makna yang terurai panjang dari sebuah wisuda. Lantas, orang yang dapat memaknai prosesi wisuda dengan tepat akan dapat menemukan jalan hidup kelak. Sebaliknya, siapa saja yang tertutup pembatas sehingga tidak mampu melihat dengan jernih makna wisuda yang sesungguhnya, tentu akan terseok-seok dalam menapaki kehidupannya.
Wisuda itu sebuah momen yang dapat memunculkan momentum. Momentum tidak selalu ada dalam sebuah momen. Jadi, meski Anda diwusida, belum tentu momentum dapat ditemukan. Yang dapat menemukan momentum adalah mereka yang mampu menggunakan wisuda sebagai energi pengungkit perjalanan hidupnya. Energi pengungkit itu akan muncul jika terdapat refleksi diri, penguatan jiwa, dan pemaksimalan potensi.
Wisudawan itu sosok yang berisi dan berpotensi. Namun, isi dan potensi itu akan menjadi tidak berguna manakala hanya tersimpan di lemari badan, terselip di untaian kata sebuah ijasah, dan hanya tertandai oleh toga yang dipasangkan di kepala saat wisuda. Sebaliknya, isi dan potensi akan bersatu membentuk energi baru yang dapat memberi arti hidup seorang wisudawan jika terus menerus dipoles dan diasah. Banyak orang yang mengeluh ketika selesai diwisuda. Namun, banyak orang yang juga semakin melejit dalam hidupnya setelah menemukan momentum dari sebuah prosesi wisuda.
Mengeluh dan melejit merupakan pilihan bagi wisudawan. Orang yang mampu memaknai wisuda secara mendalam tentu akan melejit. Sebaliknya, mereka yang hanya permukaan saja memaknai wisuda, tentu, dia akan mendapatkan kata mengeluh sepanjang masa. Tentu, alumni Unesa akan memilih kata melejit. Untuk itu, pemaknaan perlu terus dilakukan sampai suatu saat menemukan jalan yang lempang bagi hidupnya.
Dengan modal pemaknaan wisuda sebagai momentum loncatan diri untuk menggapai kesuksesan, Unesa menentukan tema Wisuda ke-81 Unesa Siap Mengembangkan Pendidikan Berbasis Revolusi Mental demi  Kejayaan Indonesia. Tema itu sungguh memerlukan usaha yang kuat dengan memadukan isi dan potensi diri setiap wisudawan. Dengan momen itu, momentum diri harus berada pada sebuah revolusi mental. Melejitkan diri tidak sekadar selesai di ucapan saja. Melejitkan diri harus sampai tarap memunculkan kejayaan bangsa. Bangsa yang jaya ditandai oleh kebergairahan para tokoh-tokohnya dalam membangun masyarakat dalam bingkai budaya. Siapa tokoh itu? Tak lain dan tak bukan adalah para wisudawan Unesa. Selamat diwisuda.

Senin, 15 September 2014

Memainkan Bola Media di Kursus Pelatih Pembina Pramuka Kwarda Aceh

Bagi orang dewasa, menghapalkan sembilan metode kepramukaan dengan konsep sekaligus tentu sangat sulit. Namun, kesulitan itu dapat diatasi dengan penggunaan metode dan media yang mampu membantu peserta menghapal nama metode sekaligus maknanya. Metode itu bernama lempar bola satu ucap dengan media bola plastik seukuran bola sepak.

Saat itu, pukul 10.00, saya ajak peserta ke halaman aula Balai Diklat Pertanian, Saree, Aceh Barat. Mereka, sejumlah 48 orang, saya minta membuat lingkaran kecil. Saya mengawali dengan menyebutkan satu per satu pilar metode kepramukaan dengan rincin konsepnya. Kemudian, sengaja satu pilar belum saya sebutkan. Peserta menyebut ulang nama metode pilar demi pilar. Sekiranya, mereka dapat mengulangi nama tersebut, satu metode yang masih belum disebut itu, saya tambahkan. Berkali-kali, peserta selalu kurang ketika menyebutkan secara lisan.

Kemudian, saya mengambil satu bola lalu kulemparkan ke salah satu peserta sambil saya meneriakkan nama metode kepramukaan. Lalu, yang menerima bola akan meneruskan sambil mengucapkan nama metode berikutnya ke salah satu temannya. Putaran pertama banyak yang tidak hafal. Ada peserta yang mencatatkan nama metode itu ke telapak tangan. Dia membaca dari telapak tangan kemudian melemparkan bola ke temannya. Saya biarkan saja cara seperti itu karena itu juga cara untuk menghafal.

Kemudian, lemparan bola saya tambah menjadi dua. Saling-silang lempar dilakukan peserta dengan suara lantang. Bola kemudian saya tambah sampai tujuh untuk dilemparkan ke peserta. Ternyata, peserta tambah bingung dengan nama metode karena kecepatan lemparan dari bola-bola yang lain ke dirinya. Peserta sangat senang dan mulai hafal dengan nama metode secara cepat.

Permainan saya lanjutkan ke tiap kelompok dengan lingkaran kecil, masing-masing berjumlah 5--8 orang. Ada tujuh kelompok yang bermain. Tiap kelompok diberi bola satu. mereka melemparkan bola sambil meneriakkan nama metode dan konsepnya. Ada kelompok yang cepat melempar dan cepat menyebutkan nama metode kepramukaan. Jarak 10 menit, semua peserta mampu menghafalkan nama metode tersebut.

Permainan ditambah lagi dengan cara menyepak bola. Peserta harus berada di lapangan rumbut yang laus. mereka menyepak bola sambil meneriakkan nama metode yang berjumlah sembilan itu. Hasilnya, peserta dapat serta merta hafal nama metode dan konsepnya.

Kemudian, peserta saya ajak ke ruangan lagi untuk bermain tujuh penjuru angin. Mereka memberikan umpan sepuluh pernyataan ke teman lain dengan topik yang berbeda dari sebelumnya. Sealan-akan mereka lupa dengan permainan bola.

Ternyata, ketika sore hari, beberapa peserta saya tanya ulang nama metode yang dimainkan pagi hari dapat menyebutkan dengan runtut. Padahal, mereka sudah menghadapi topik lain lagi sehari itu. Kemudian, dua hari berikutnya, secara acak peserta saya tanyai, mereka dapat menyebutkan dengan runtut nama-nama metode kepramukaan yang jumlahnya sembilan itu.

Jadi, belajar sambil bermain dapat meningkatkan daya hafal peserta. bahkan, peserta mampu meingidentifikasi konsep dan prosedur metode itu dengan tepat. Padahal, orang dewasa itu adalah warga belajar yang susah mengingat. Pendekatan yang tepat bagi mereka adalah andragogi. Pendekatan itulah yang senantiasa saya pakai dengan model yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya.

KPL (Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Lanjut) 2014 yang dilaksanakan oleh Pusdiklatda Kwarda Aceh terbilang sukses. Dari tanggal 7--13 September 2014 peserta sangat menikmati. Mereka seolah tidak merasakan waktu lama. "Terasa sejenak saja KPL ini," kata peserta. Itu semua karena kemasan metode dan teknik yang direncanakan dengan apik. Selamat buat Kwarda Gerakan Pramuka ACEH.

Pembelajaran Berkesan

Saat ini, ketika dunia sudah di abad canggih, pembelajaran dengan cara guru berkuasa sudah tidak dipentingkan lagi. Guru yang jahat, berteriak, memarahi, siswa sebagai objek yang dianggap masih bodoh, dan bahkan menyakiti fisik anak sudah tidak musim. Pembelajaran yang seperti itu hanya terjadi ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda dahulu lalu diikuti oleh guru yang pernah dididik pada era penjajah itu.
Memang, pembelajaran zaman Belanda dahulu berkesan. Namun, kesan yang dimunculkan hanya kesan saat disakiti semata. Materi pembelajaran malah lepas dari rekaman otak. Tak jarang orang bercerita tentang kesan disakiti itu. Misalnya saja, ada yang mengatakan, "Saya dulu dijewer guru gara-gara tidak membawa buku PR." Ada pula yang mengatakan seperti ini. "Aku dulu dijemur di lapangan gara-gara terlambat." Begitulah kesan yang muncul dari mereka yang pernah mengalami perlakuan guru yang sok jagoan mengajar.
Era guru penjajah itu tentu sudah lewat. Saat ini pembelajaran harus menyenangkan bagi siswanya. Siswa yang senang suasana batinnya akan mampu menyimpan materi pelajaran yang diperoleh dalam alam bawah sadarnya. Buatlah pembelajaran itu berkesan dengan cara menyenangkan, bermedia kreatif, komunikatif, dan dekat dengan anak. Pembelajaran yang demikian itu merupakan perwujudan pembelajaran yang ramah anak.
Banyak contoh guru yang saat ini sudah melakukan pembelajaran ramah anak. Mereka menggunakan aneka model pembelajaran sesuai dengan konteksnya. Kasyu, ranting, botol bekas, kertas, daun, atau apa saja dapat dipakai sebagai media pembelajaran. Selamat mencoba.

Kamis, 12 Juni 2014

Guru Berprestasi bukan untuk Gengsi

Memang, predikat berprestasi akan menguatkan percaya diri bagi seseorang yang meraih predikat itu. Namun, percaya diri tersebut bukan untuk memperkukuh gengsi sehingga berlabelkan kesombongan dan kearoganan diri. Percaya diri akibat prdikat berprestasi justru lebih memperkuat sikap rendah hati, empati, dan berkarya lebih lanjut demi perkembangan masyarakat.

Salah satu peserta seleksi guru berprestasi dan berdedikasi tingkat Jawa Timur yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, 9--11 Juni di Hotel Purnama, Kota Batu, mengatakan bahwa dirinya bukan untuk meraih gengsi tetapi untuk menguatkan diri dalam menyebarluaskan pengalaman ke masyarakat sekolah dan secara umum. Pernyataan itu sangat menyentuh kalbu. Pernyataan itulah yang diinginkan oleh khalayak agar terjadi perubahan pendidikan ke arah kualitas.

Secara serentak, seleksi dilaksanakan dengan sistem portofolio, tes, wawancara, dan presentase dengan juri berbeda-beda sehingga validitas dan akuntabilitas dapat dipercaya. Guru, pengawas, kepala sekolah dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK mengikuti seleksi sesuai dengan jenjangnya. Kemudian, pemenang I berdasarkan hasil seleksi akan mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional. Wakil itu adalah sosok yang telah teruji dalam aspek pengalaman, pengetahuan, sikap, dan perilaku.

Peserta seleksi yang ikut di tingkat provinsi adalah pemenang di tingkat kabupaten/kota. Mereka berpredikat berprestasi di wilayahnya dengan seleksi tersendiri yang diadakan oleh dinas pendidikan setempat. Hasil seleksi itu dibawa ke tingkat provinsi untuk diadu lagi sehingga diperoleh prestasi yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Gengsi bukanlah cara yang tepat untuk membawakan diri di tengah masyarakat karena akan menghambat pola komunikasi antara biasa dan berpredikat. Memang seseorang memerlukan gensi bagi dirinya untuk menempatkan diri. Tetapi, gengsi itu bukan untuk dipertunjukkan ke orang lain. Gengsi yang ditunjukkan ke orang lain hanyalah sebuah wujud kesombongan.

Wisuda dan Modal Menjadi Sosok yang Bermartabat


Oleh Suyatno
Sesungguhnya, modal yang teramat indah untuk menjadi bermartabat adalah diwisuda. Diwisuda berarti diberikan kepercayaan legal untuk menjalankan kemampuan diri secara bermartabat di tengah masyarakat. Jika kelak di masyarakat ternyata sang sosok yang telah diwisuda berbuat cela dan ingkar dari komitmennya, dia akan menemukan identitas negatif yang berlawanan dari predikat bermartabat. Sebaliknya, sosok yang pernah diwisuda akan memperoleh cap bermartabat apabila melaksanakan perbuatan yang diterima oleh masyarakat karena berpikir positif, empati, berprestasi, dan memberikan arti bagi kehidupan. Identitas positif dan negatif adalah pilihan dari sang sosok yang telah diwisuda. Karena identitas diri di masyarakat adalah sebuah pilihan, tentu, wisudawan Unesa akan memilih identitas positif dalam kondisi dan keadaan apapun.

Wisuda adalah petanda dari sebuah babak dalam perjalanan hidup sang sosok yang kelak akan beridentitas positif sehingga berpredikat bermartabat. Petanda tersebut dibalut dalam sebuah momen Wisuda Unesa yang diatur secara apik, prosedural, dan khidmat agar sang sosok menitikkesankan pada petanda sehingga kelak akan melahirkan momentum bermanfaat. Untuk itu, wisudawan kali ini, perlu mengabadikan momen ini dengan penuh kegembiraan, kekhidmatan, dan keyakinan.
Kegembiraan merupakan dasar bagi keberlangsungan perjalanan sang sosok dalam menapaki babak baru di masyarakat. Dengan kegembiraan, inspirasi, kreasi, dan inovasi akan muncul dengan sempurna tanpa kegalauan meski dalam kondisi serba susah sekalipun. Wisudawan Unesa, pasti, mampu menempatkan kegembiraan sebagai dasar berkiprah dalam dunia sehingga menjadi sosok yang bermartabat.

Kekhidmatan merupakan perwujudan dari proses berkonsentrasi yang terfokus, ikhlas, dan bertanggung jawab. Dengan kehidmatan, sang sosok akan mampu melahirkan karya dan kinerja dengan jernih, berbobot, dan disukai oleh masyarakat. Meskipun berada dalam kegembiraan namun tidak khidmat, hasil yang diperoleh akan tidak maksimal, kacau, dan terbagi-bagi sehingga menutup tingkat keterfokusan diri. Modal bermartabat adalah kekhidmatan dalam setiap kesempatan sekecil apapun.

Keyakinan merupakan perwujudan berpikir positif atas karya dan kinerja yang telah, saat, dan akan dilaksanakan dalam diri sang sosok dalam menghadapi kiprah diri di masyarakat. Keyakinan biasanya didasari oleh mimpi, cita-cita, dan kehendak yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan diri. Wisudawan Unesa akan dapat bermartabat jika mempunyai keyakinan yang teramat kuat atas kesuksesan diri dalam menjangkau sosok yang bermartabat di masyarakat.



Senin, 09 Juni 2014

Kepemimpinan Panjat Pinang atau Panjat Tebing?

Ada dua hal yang perlu direnungkan dalam kepemimpinan, yakni kepemimpinan panjat pinang atau panjat tebing. Kedua-duanya sama-sama ke puncak dan mendapatkan hasil menjadi pemenang di ujung tertinggi. Namun, tipikal keduanya sangat berbeda jauh.
Kepemimpinan panjat pinang dicirikan oleh kerja keras dengan cara menginjak teman di bawahnya untuk dapat meraih hadiah di ujung tiang. Dia tidak peduli di bawahnya menahan sakit atau tidak yang penting dapat menginjak bahu untuk berada di posisi yang lebih tinggi. Penonton hanya tahu yang paling atas. penonton tidak pernah mengerti betapa susahnya yang di bawah.
Kepemimpinan panjat tebing ditandai oleh usaha sendiri atas inisiatif menaklukkan tebing dengan alat dan potensi energi. Kawan lain akan membantu agar tidak terjadi kecelakaan yang menumbangkan langkahnya. Tapak demi tapak dilalui untuk menaikkan derajat ketinggiannya. Dia tidak akan pernah lelah sebelum berada di puncak. Kawan lainnya selalu diperhatikan karena kebersamaan yang dipentingkannya.

Panjat pinang lebih banyak menebar kesedihan bagi lainnya. Sedangkan, panjat tebing lebih memperhatikan keselamatan diri dan timnya. Keduanya berbentuk usaha menguatkan energi agar sampai pada puncaknya. Segala upaya dilakukan dengan cara yang khas antara pinang dan tebing.
Kepemimpinan sejati merupakan kepemimpinan yang mampu membahagiakan yang dipimpinnya. Itu berarti pola panjat tebing menjadi teramat penting. Seorang pemimpin tidak perlu mencederai orang lain hanya untuk keberhasilannya. Dia akan membantu orang lain dengan cara yang khas agar dapat ke puncak tebing bersama-sama.

Dalam konteks pilpres, kepemimpinan panjat tebing perlu ditekankan daripada kepemimpinan panjat pinang. Untuk itu, perlilaku menghujat lawan, menghitamkan orang lain, mencederai rasa kedamaian, dan membatasi persaudaraan harus dijauhi. Jangan sampai pilpres menunjukkan pembelajaran permusuhan.

Kita tentunya tidak menginginkan Pilpres ini memberikan pelajaran bagi generasi muda sesuatu yang buruk. Pembelajaran yang buruk itu adalah jika ingin menjadi pemimpin lakukan kampanye hitam. Jika ingin memimpin hujat saja lawanmu. Presiden hebat itu adalah orang yang mampu mempecundangi lawan dengan agitasi kesombongan.  Pembelajaran buruk itu harus sama-sama dihindari dengan pemikiran yang negarawan.

Semua orang, termasuk calon presiden, mempunyai rasa damai dalam dirinya. Bahkan, keinginan dasarnya adalah membahagiakan rakyatnya. Untuk itu, kesantunan berbahasa, kejernihan berpikir, dan kenegarawanan yang hebat perlu diimplementasikan secara nyata. Kepemimpinan panjat tebing perlu dikembangkan lebih jauh. Indonesia adalah negara bangsa yang multietnis. Di situlah kesantunan menjadi jatidirinya.

Metode Pembelajaran Berbasis Pengalaman di Kepramukaan

Oleh Suyatno

Kepramukaan sangat jelas menggunakan metode pembelajaran berbasis pengalaman. Menurut WOSM dan Gerakan Pramuka Indonesia, metode kepramukaan dirinci menjadi alam bebas, belajar sambil melakukan, kiasan dasar, berkelompok, progresif (menarik dan menantang), sistem tanda penghargaan, berdasarkan kode kehormatan, keterlibatan orang dewasa, dan satuan terpisah. Dari rincian tersebut, terlihat bahwa pengalaman menjadi tumpuan pelaksanaannya. 
 
Teori John Dewey, dalam pembelajaran berbasis pengalaman menyatakan bahwa belajar merupakan proses merekonstruksi pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Pembelajar akan mengaitkan pengalaman  dengan berpikir. Seseorang akan belajar jauh lebih baik lewat keterlibatannya secara aktif dalam proses belajar. Baden Powell menyebutkan bahwa kepramukaan bukanlah ilmu yang harus diajarkan dalam ruang yang kosong melainkan melalui pengalaman bersama antara anak dengan orang dewasa dalam suasana menyehatkan, menyenangkan, menghasilkan karya, dan menolong orang lain. Antara teori John Dewey dan Baden Powell mempunyai garis yang sama dalam membelajarkan sesuatu melalui pengalaman. Anak akan tumbuh dan berkembang berdasarkan pengalaman belajar secara nyata.
 
Pembelajaran berbasis pengalaman menawarkan proses belajar berdasarkan epistemologi empiris. Kebutuhan lingkungan belajar diharuskan untuk mengembangkan dan membangun pengetahuan melalui pengalamannya. Pengalaman tersebut  menjadi modal melakukan refleksi dan observasi, mengkonseptualisasi dan menganalisis pengetahuan dalam pikiran anak.

Pembelajaran berbasis pengalaman merupakan kombinasi memperoleh pengalaman dengan mentransformasi pengalaman. Pengalaman terjadi akibat proses langsung dan tidak langsung. Proses langsung terjadi melalui indera manusia. Proses tidak langsung terjadi melalui bentuk simbol (konsep, gambar, dan seterusnya). Pengalaman tersebut selanjutnya menjadi bekal untuk mentransformasikan pengalaman ke dalam pemikiran melalui refleksi, observasi, kiasan, asosiasi, abstraksi, cerita, dan sebagainya. 
 
Meskipun menggunakan praktik nyata, pembelajaran berbasis pengalaman berbeda dengan pembelajaran berbasis struktural. Ciri belajar terstruktur adalah pemahaman konsep, praktik, dan penyimpulan. Sedangkan belajar berbasis pengalaman dicirikan oleh praktik nyata, refleksi, simbolisasi, dan penerapan untuk bentuk lain. Jadi, jika pembelajaran diawali oleh pencerahan awal bagi anak melalui ceramah singkat kemudian praktik, bukanlah belajar berbasis pengalaman. 
 
Ada seorang pelatih kepramukaan dalam sebuah KMD (kursus menjadi pembina pramuka tingkat dasar) di Cibubur memprotes kawan sesama pelatih kepada saya. Sebut saja, dia itu Kak Js. Kak Js menyampaikan kalau kawannya memberikan gambar menara bambu tiga kaki lalu meminta peserta membuat seperti gambar dengan alat yang telah tersedia tanpa menjelaskan terlebih dahulu pengertian menara. Menurut Kak Js, yang benar itu dijelaskan terlebih dahulu cara membuat menara kemudian dipraktikkan.  Saya menjelaskan dengan sederhana. Saya mengatakan bahwa kedua cara itu membelajarkan, yakni cara kawan Kak Js dengan cara Kak Js sendiri. Cara yang dilakukan kawan Js itu benar menurut pembelajaran berbasis pengalaman. Peserta tidak diberikan norma terlebih dahulu agar tidak terikat dengan norma tersebut. Inovasi dan kreativitas akan muncul dari kemampuan dalam trial and eror (uji coba). Selanjutnya, peserta akan dengan cepat belajar karena kesalahan yang diperbuat. Mereka akan menjadi rkeatif tanpa terikat dengan norma. Norma yang diterapkan adalah norma dari pikiran dan masa lalu mereka. Itulah pembelajaran berbasis pengalaman. 
Kemudian, saran Kak Js juga benar tetapi menurut pembelajaran struktural. Pembelajaran itu biasanya ditandai oleh pengarahan (ceramah, penjelasan, atau istilah lain), praktik, dan penyimpulan. Itu juga langkah benar tetapi bukan langkah menurut pembelajaran berbasis pengalaman. Bagus mana? Menurut saya, pembelajaran kepramukaan lebih berbasis pengalaman karena dituntut oleh metode kepramukaan yang menyatakan belajar sambil melakukan. Perkembangan peserta akan lebih cepat meningkat jika dilaksanakan dengan pembelajaran berbasis pengalaman.
 
KMD untuk guru SMP se-Indonesia 2014 yang diselenggarakan oleh direktorat PSMP Kemendikbud di Cibubur selama dua gelombang membuktikan bahwa pola pembelajaran berbasis pengalaman sangat memberikan percepatan belajar. Peserta merasakan tidak pernah belajar namun sebenarnya belajar dengan intensif. Hal itu dibuktikan dengan skor pretes dengan rata-rata 45 meningkat menjadi rata-rata 75 saat postes. Peserta merasakan banyak pengalaman yang diperoleh dan membekas dalam pikiran dan hatinya. Mereka mampu melaksanakan kegiatan pionering, orientering, dan mountenering tanpa harus membaca buku-buku tentang itu. Sosialisasi sesama kawan cepat terjadi karena mereka berkemah. Keterampilan berkemah dijalani secara nyata sehingga menguatkan pemahamannya tentang berkemah. 
 
KMD dirancang dengan siklus Concrete Experience (CE),, Refective Observation (RO), Abstract Conceptualization (AC), dan  Active Experimentation (AE). Pada CE, peserta melakukan tindakan nyata yang dipandu oleh jadwal dan pelatih. Mereka melakukan pengalaman konkret bersama kelompoknya di alam (bumi perkemahan Cibubur) sambil berkemah. Mereka menghasilkan karya sebagai wujud keberhasilan belajar berupa berdirinya tenda, tempat sepatu, tempat memasak, gapura, menara, jembatan bambu, ikatan tongkat, gerakan berbaris, pengiriman pesan sandi, dan sebagainya. Atas hasil itu peserta mendapatkan penghargaan setiap malam secara berkelompok. Kemudian, kiasan dasar diberikan (konseptualisasi abstrak) setiap malam melalui kegiatan reflektif atas pengalaman yang telah mereka lakukan. Keesokan harinya, peserta melakukan AE untuk menguatkan dasar belajar mereka.

Metode kepramukaan memang harus didudukkan sebagai metode berbasis pengalaman. Dalam setiap pelatihan, pola pengalaman harus diterapkan sampai mendapatkan hasil yang maksimal. Itulah tantangan bagi pengelola Gerakan pramuka Indonesia.

Selasa, 13 Mei 2014

Pendidikan di Finlandia dan Korea Selatan di Kuliah S-2 Bahasa Indonesia Unesa

Betapa riuhnya sebuah kelas S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia semester 2 di kelas Pascassarjana Unesa. Hari itu, ada dua topik dipresentasikan oleh mahasiswa, yakni kelompok desain pembelajaran di Finlandia dan Korea Selatan. Kelompok Finlandia disajikan oleh Mas Pana dan Mas Eko.

Mereka berdua mengeksplorasi informasi pendidikan modern yang berbasis guru. Konsistensi dan toleransi guru mengantarkan negara Finlandia menjadi berprestasi unggul tingkat dunia. Pertanyaan mahasiswa lain sangat beragam. "Bisakah itu diterapkan di Indonesia?; Terang saja berprestasi karena jumlah penduduk hanya 5 juta orang; Mereka konsisten sedangkan guru di kita, mana?: dan pertanyaan lainnya,".

Mahasiswa seakan terbius akan keinginan untuk menjadi Finlandia kedua di Indonesia. "Susah, karena kita berada di tingkat 80-an," ujar salah satu mahasiswa. "Kalau konsistensi tinggi, kita pasti dapat menyaningi Finlandia meskipun jumlah penduduk sangat banyak," ujar mahasiswa lain.

Lalu, kelompok kedua, yakni kelompok Korea Selatan menyajikan di depan kelas. Dikatakannya bahwa tingkat bunuh diri tinggi karena ketatnya pelajaran yang dituntut oleh sistem.

"Bagaimana tidak, dalam sehari siswa belajar dari pukul 08.00 sampai dengan 22.00 malam," kata Udin dan Berti sebagai penanggung jawab kelompok 2.

"Mana bisa sistem Korea diterapkan di Indonesia. nanti, akan banyak yang bunuh diri," ujar salah satu mahasiswa yang menyimak presentasi tersebut.

"Bisa saja, asal kita konsistensi atas sistem yang dikembangkan," jawab wakil kelompok. Diskusi dua topik sangat menarik. tentu, akan lebih menarik lagi jika diskusi itu melebar di luar kelas sehingga suatu ketika negara Indonesia naik peringkatnya.

Model Finlandia yang bertoleransi tinggi, manusiawi, dan kreatif sangat bagus. Begitu, pula model Korea Selatan yang sangat disiplin, konsisten dengan sistem, dan berbasis anak juga baik. Tentu, Indonesia akan menemukan modelnya sendiri yang mampu mengangkat prestasi anak-anaknya.