Rabu, 19 Agustus 2015

Suara sebagai Modal Keberhasilan Mengajar di Kelas

Oleh Suyatno

Guru itu pasti memunyai suara layaknya manusia lainnya karena didukung oleh alat ucap yang memadai. Namun, suara guru tidak hanya sekadar menyampaikan gagasan diri sendiri tetapi memberikan makna lain bagi siswa yang mendengarkannya. Suara guru berarti sama dengan suara inspirasi bagi siswanya.

Jika suara guru lantang tanpa jeda, makna yang diperoleh berbeda dengan suara lantang dengan jeda. Guru yang bersuara lirih akan menimbulkan makna lain dibandingkan dengan suara yang lantang. Siswa yang duduk paling belakang akan susah menerima dan memaknai isi suara gurunya jika tidak terdengar oleh telinga sang siswa. Itulah kehebatan suara yang disandang oleh seorang guru.

Lalu, seperti apa hendaknya suara guru saat mengajar di kelas? Berikut saran yang diperlukan agar guru selalu bersuara mantap sehingga mengandung nilai keguruan, kebijaksanaan, dan memotivasi siswa dalam belajar.
1. Jagalah suara dari gangguan berupa makanan atau kelelahan fisik sehingga saat mengajar suara guru tetap prima.
2. Gunakan intonasi dengan tepat sesuai dengan keinginan pembelajaran, seperti meminta, menyuruh, mengajak, menekankan, menarik perhatian, menguatkan, menegur, menyanjung, memberikan penghargaan, memfokuskan, dan sebagainya.
3. Variasikan pilihan kata dengan tepat sehingga tidak ditandai oleh siswa sebagai sosok yang "itu-itu saja".
4. Gunakan kalimat yang menarik dan menyenangkan bagi siswa untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang diharapkan guru.
5. Sekali-kali rekamlah suara guru sebagai bahan untuk mengevaluasi dan merefleksikan diri.

Dalam dunia pembelajaran, suara guru disebut juga sebagai bahasa guru. Bahasa guru memunyai porsi yang sangat besar bagi keberhasilan mengajar dan mampu membuat siswa memasuki dunia keberhasilan. Guru pandai secara akademis belum tentu mampu memandaikan siswa akibat suara yang tidak diolah dan dikemas dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Banyak guru yang hanya bersudut pandang dari diri sendiri saja tanpa melihat kebutuhan siswanya. Dia egoistis dengan suara yang juga egoistis. Suara datar tanpa nada, suara yang tidak berenergi, dan gerakan badan yang statis sering ditunjukkan oleh guru yang semaunya sendiri itu. Mereka selalu marah jika diingatkan. Siswa selalu menjadi korban kemarahan.

Sebaliknya, guru yang senantiasa bersudut pandang siswa selalu berbicara dengan suara yang tepat sesuai dengan keinginan siswanya. Dia berintonasi suara dengan baik. Dia tahu kapan harus bersuara meninggi dan kapan harus bersuara lirih. Pilihan kata selalu digunakan untuk kepentingan pendidikan sesuai dengan ciri siswa yang dihadapinya. Kadang suaranya lantang, cepat, dan mantap. Kadang suaranya lirih, tersedih, dan mengiris hati. Senyum mengembang mengiringi suara bernada positif. Lalu, simpul terdiam mewarnai suara yang sedih lirih. Dialah guru yang jago dalam mengendalikan kelas. 


Rabu, 27 Mei 2015

Pekan Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis di Maluku Berlangsung Lancar dan Memukau



               Orang tidak akan lihai dengan teks jika hanya memahami teks melalui mendengarkan ceramah dari sebuah pelatihan atau membaca buku tentang teks. Jika ingin lihai memproduksi teks, seseorang perlu langsung memproduksi teks sehingga akan lebih menguasai teks karena berpraktik langsung. Konsep itulah yang dilakukan Kantor Bahasa Provinsi Maluku dalam rangka melatihkan penulisan teks ke para guru di Ambon dan Maluku Tengah. Ternyata, konsep itu lebih mengena dan disukai oleh para guru bahasa Indonesia yang menjadi pesertanya.
               Pelatihan penulisan teks bagi guru di Ambon dan Leihitu Maluku Tengah dikemas dalam acara Pekan Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis yang berlangsung pada 18—26 Mei 2015 di empat lokasi, yakni SMAN 1 Ambon, SMAN 5 Ambon, SMPN 14 Ambon, dan SMAN 1 Leihitu,  Maluku Tengah. Dalam kegiatan tersebut terdapat empat kegiatan yang dilaksanakan sekaligus di setiap tempat, yakni Lomba Baca Puisi bagi Siswa, Lomba Membaca Berita TV bagi Siswa, Pelatihan Menulis Cerpen bagi Siswa, dan Pelatihan Penulisan Teks bagi Guru Bahasa Indonesia. Di setiap sekolah, kegiatan dilaksanakan selama dua hari.
               Kantor Bahasa Provinsi Maluku cukup cermat ketika memilih fasilitator dan juri untuk mengawal kegiatan tersebut. Hal itu dibuktikan dengan hasil yang maksimal. Untuk penulisan Cerpen bagi siswa, rata-rata peserta menyatakan puas dan senang karena dapat menghasilkan 1 sampai 4 cerpen akibat cara memfasilitasi narasumber sangat mantap. Metode berbasis siswa diterapkan dengan motivasi yang disenangi anak. Narasumber penulisan cerpen adalah Puji Santosa dari Badan Bahasa Jakarta yang telah menulis puluhan buku. Kemudian, narasumber kedua adalah Prof. Dr. Wahyudi yang sangat lihai dalam memfasilitasi anak-anak. Hasilnya, banyak cerpen siswa yang terkumpul dengan ciri khas bahasa remaja.
               Dalam pelatihan penulisan teks, narasumber yang dipasang adalah Prof. Dr. Suyatno, M.Pd. yang berpengalaman dalam memfasilitasi guru dalam memproduksi teks. Hasilnya, dalam dua hari, guru mampu memproduksi lima teks, yakni esai, puisi, anekdot, eksemplum, dan cerita pendek. Peserta merasakan betapa mudahnya menulis teks. Cara memfasilitasi narasumber ini cukup unik karena dengan permainan dan metode yang baru. Guru-guru merasakan baru kali ini mampu membuat teks dengan sesungguhnya. “Tidak terasa, kami menulis teks dengan sendirinya,” ujar salah satu peserta.
               Lomba baca puisi juga meriah karena puisi yang dibacakan sangat kontekstual dan dipandu langsung oleh sastrawan Ambon, Rudy Pofid dan guru yang berpengalaman. Kemudian, lomba membaca berita TV langsung ditangani oleh praktisi dari TVRI Maluku. Kedua lomba itu memukau karena di setiap kesempatan selalu penuh dengan peserta dan penonton.
               Kegiatan seperti di atas tampaknya perlu dilaksanakan se-Indonesia sehingga lebih banyak lagi guru yang berpengalaman langsung dalam membuat teks. Siswa akan lebih banyak yang membaca puisi dan berita. Untuk itu, para pemangku kantor bahasa atau balai bahasa di Indonesia perlu mengadopsi kegiatan serupa dengan caranya sendiri.
               Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan negara memang harus dikawal sehingga benar-benar di hati penggunanya. Bahasa Indonesia harus terus-menerus dikenalkan secara mendalam agar muncul kebanggaan yang serta-merta. Apalagi, saat ini, muncul perusak bahasa yang jika dibiarkan akan menggrogoti kualitas bahasa Indonesia. Perusak itu adalah harga diri bangsa Indonesia yang mulai bergeser ke penggunaan bahasa Inggris. Penjungkirbalikkan kata bahasa Indonesia untuk memenuhi keperluan bermedia sosial. Liha saja, pesan pendek di ponsel para anak muda, kebebasan menggunakan kata semakin banyak penyimpangan. Kata dan kalimat seenaknya saja diubah-ubah.
               Inisitatif Toha Maksum, selaku kepala Kantor Bahasa Provinsi Maluku cukup diacungi jempol karena mampu mewujudkan pesta berbahasa yang berbasis peserta. Apalagi, kru Kantor Bahasa Maluku sangat kompak dan bertanggung jawab sehingga kegiatan berjalan lancar. Panitia saling mengisi dan membantu dalam melancarkan kegiatan. Rasa senang panitia menulari kesenangan peserta dalam mengikuti kegiatan. Dukungan mitra juga terlihat maksimal. Hal itu dapat dilihat dari keterlibatan secara langsung dalam memfasilitasi tempat, ruang, birokrasi, dan moral saat pelaksanaan. Suyatno

Selasa, 28 April 2015

Bisakah Karyawan Kaya?

Hary Eko Prajuwito
Oleh Hary Eko Prajuwito

Di sela-sela kesibukan saya memberikan training di berbagai perusahaan, Sabtu dan Ahad kemarin saya sempatkan memberikan seminar untuk masyarakat umum. Sabtu di Universitas Widya Mandala, Surabaya, Ahad saya berbagi di PT. HM Sampoerna, Surabaya.

Selain menjalankan hobi saya yaitu memberikan training, saya juga ingin menguji dan mengasah kualitas ilmu yang saya dalami. Apakah ilmu itu hanya compatible di perusahaan atau bisa diserap masyarakat luas. Alhamdulillah, 1.000 peserta lebih di masing-masing tempat menikmati materi yang saya sajikan.

Dari diskusi dengan para peserta, saya menemukan bahwa sebagian besar peserta ternyata ingin menjadi pengusaha. Alasannya sederhana, menjadi karyawan susah kaya. Benarkah menjadi karyawan susah kaya? Jawaban saya, TIDAK. Menjadi karyawan bisa kaya dengan cara yang benar asal tahu ilmunya.

Sebelumnya perlu saya sampaikan, khususnya bagi Anda yang sangat silau dengan pengusaha. Ketahuilah, boleh jadi penghasilan para pengusaha tinggi tetapi penghasilan itu habis untuk operasional perusahaan dan membayar hutang. Sebagian diantara mereka sebenarnya tidak kaya.
Mereka mungkin mempunyai perusahaan dimana-mana, tetapi juga hutangnya berjibun dan tersebar ke segala penjuru mata angin. Boleh jadi hutangnya lebih banyak dibandingkan total kekayaanya. Sebagian diantara mereka sebenarnya tidak kaya. Tidur pun tidak nyenyak karena mimpinya pun dikejar-kejar debt collector.

Kaya, tidaklah identik dengan tingginya penghasilan dan banyaknya perusahaan yang dimiliki. Kaya ditentukan sejauh mana Anda memiliki aset-aset produktif yang jauh melebihi total hutang Anda. Selain itu, saat Anda memerlukan sesuatu, Anda memiliki dana yang cukup untuk memenuhinya.
Jadi, menjadi pengusaha tidak menjadi jaminan bahwa Anda bisa kaya. Karyawan pun bisa kaya dengan cara-cara yang tidak melanggar etika dan agama. Apabila Anda karyawan dan ingin kaya, bersegeralah menjadi seorang expert di pekerjaan yang Anda tekuni. Keahlian Anda diasah melebihi keahlian yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Percayalah, menjadi expert di pekerjaan Anda, menjadikan Anda mendapat bayaran yang menggiurkan.

Jangan lupa, gaji yang Anda peroleh gunakanlah untuk membeli aset-aset produktif yang bisa menghasilkan. Sahabat saya di Bank BNI, karena rajin menyisihkan gajinya untuk membeli kos-kosan, menjelang usia pensiunnya sudah memiliki 147 pintu yang bisa dikontrakkan. Dengan rata-rata 2 juta rupiah per pintu, ia bisa menghasilkan 300 juta rupiah setiap bulan. Belum lagi harga tanah yang selalu naik setiap tahunnya. Berlebih untuk bekal pensiun.

Saya memiliki banyak sahabat yang masih menjadi karyawan. Mereka banyak yang lebih kaya dibandingkan beberapa sahabat saya yang menjadi pengusaha. Menjadi karyawan bisa menjadi kaya walau mungkin tidak sampai menjadi kelompok yang kaya raya. Bila passion Anda sebagai karyawan maka nikmatilah pekerjaan Anda, tanpa harus merasa iri dengan para pengusaha. Karyawan pun bisa kaya, percayalah…

Bermartabatlah Selagi Sempat



Oleh Suyatno

Sesungguhnya, modal yang teramat indah untuk menjadi bermartabat adalah diwisuda. Diwisuda berarti diberikan kepercayaan legal untuk menjalankan kemampuan diri secara bermartabat di tengah masyarakat. Jika kelak di masyarakat ternyata sang sosok yang telah diwisuda berbuat cela dan ingkar dari komitmennya, dia akan menemukan identitas negatif yang berlawanan dari predikat bermartabat. Sebaliknya, sosok yang pernah diwisuda akan memperoleh cap bermartabat apabila melaksanakan perbuatan yang diterima oleh masyarakat karena berpikir positif, empati, berprestasi, dan memberikan arti bagi kehidupan. Identitas positif dan negatif adalah pilihan dari sang sosok yang telah diwisuda. Karena identitas diri di masyarakat adalah sebuah pilihan, tentu, wisudawan Unesa akan memilih identitas positif dalam kondisi dan keadaan apapun. 

Wisuda adalah petanda dari sebuah babak dalam perjalanan hidup sang sosok yang kelak akan beridentitas positif sehingga berpredikat bermartabat. Petanda tersebut dibalut dalam sebuah momen Wisuda Unesa yang diatur secara apik, prosedural, dan khidmat agar sang sosok menitikkesankan pada petanda sehingga kelak akan melahirkan momentum bermanfaat. Untuk itu, wisudawan kali ini, perlu mengabadikan momen ini dengan penuh kegembiraan, kekhidmatan, dan keyakinan.
Kegembiraan merupakan dasar bagi keberlangsungan perjalanan sang sosok dalam menapaki babak baru di masyarakat. Dengan kegembiraan, inspirasi, kreasi, dan inovasi akan muncul dengan sempurna tanpa kegalauan meski dalam kondisi serba susah sekalipun. Wisudawan Unesa, pasti, mampu menempatkan kegembiraan sebagai dasar berkiprah dalam dunia sehingga menjadi sosok yang bermartabat.

Kekhidmatan merupakan perwujudan dari proses berkonsentrasi yang terfokus, ikhlas, dan bertanggung jawab. Dengan kehidmatan, sang sosok akan mampu melahirkan karya dan kinerja dengan jernih, berbobot, dan disukai oleh masyarakat. Meskipun berada dalam kegembiraan namun tidak khidmat, hasil yang diperoleh akan tidak maksimal, kacau, dan terbagi-bagi sehingga menutup tingkat keterfokusan diri. Modal bermartabat adalah kekhidmatan dalam setiap kesempatan sekecil apapun. 

Keyakinan merupakan perwujudan berpikir positif atas karya dan kinerja yang telah, saat, dan akan dilaksanakan dalam diri sang sosok dalam menghadapi kiprah diri di masyarakat. Keyakinan biasanya didasari oleh mimpi, cita-cita, dan kehendak yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan diri. Wisudawan Unesa akan dapat bermartabat jika mempunyai keyakinan yang teramat kuat atas kesuksesan diri dalam menjangkau sosok yang bermartabat di masyarakat.

Senin, 06 Oktober 2014

Makna Sebuah Wisuda, Menyambut Wisuda ke-81 Unesa



Wisuda bukan hanya prosesi dengan memakai toga lalu bersalaman dengan rektor dan diabadikan dalam foto kenangan semata. Wisuda bukan senantiasa hanya itu saja. Ada makna yang terurai panjang dari sebuah wisuda. Lantas, orang yang dapat memaknai prosesi wisuda dengan tepat akan dapat menemukan jalan hidup kelak. Sebaliknya, siapa saja yang tertutup pembatas sehingga tidak mampu melihat dengan jernih makna wisuda yang sesungguhnya, tentu akan terseok-seok dalam menapaki kehidupannya.
Wisuda itu sebuah momen yang dapat memunculkan momentum. Momentum tidak selalu ada dalam sebuah momen. Jadi, meski Anda diwusida, belum tentu momentum dapat ditemukan. Yang dapat menemukan momentum adalah mereka yang mampu menggunakan wisuda sebagai energi pengungkit perjalanan hidupnya. Energi pengungkit itu akan muncul jika terdapat refleksi diri, penguatan jiwa, dan pemaksimalan potensi.
Wisudawan itu sosok yang berisi dan berpotensi. Namun, isi dan potensi itu akan menjadi tidak berguna manakala hanya tersimpan di lemari badan, terselip di untaian kata sebuah ijasah, dan hanya tertandai oleh toga yang dipasangkan di kepala saat wisuda. Sebaliknya, isi dan potensi akan bersatu membentuk energi baru yang dapat memberi arti hidup seorang wisudawan jika terus menerus dipoles dan diasah. Banyak orang yang mengeluh ketika selesai diwisuda. Namun, banyak orang yang juga semakin melejit dalam hidupnya setelah menemukan momentum dari sebuah prosesi wisuda.
Mengeluh dan melejit merupakan pilihan bagi wisudawan. Orang yang mampu memaknai wisuda secara mendalam tentu akan melejit. Sebaliknya, mereka yang hanya permukaan saja memaknai wisuda, tentu, dia akan mendapatkan kata mengeluh sepanjang masa. Tentu, alumni Unesa akan memilih kata melejit. Untuk itu, pemaknaan perlu terus dilakukan sampai suatu saat menemukan jalan yang lempang bagi hidupnya.
Dengan modal pemaknaan wisuda sebagai momentum loncatan diri untuk menggapai kesuksesan, Unesa menentukan tema Wisuda ke-81 Unesa Siap Mengembangkan Pendidikan Berbasis Revolusi Mental demi  Kejayaan Indonesia. Tema itu sungguh memerlukan usaha yang kuat dengan memadukan isi dan potensi diri setiap wisudawan. Dengan momen itu, momentum diri harus berada pada sebuah revolusi mental. Melejitkan diri tidak sekadar selesai di ucapan saja. Melejitkan diri harus sampai tarap memunculkan kejayaan bangsa. Bangsa yang jaya ditandai oleh kebergairahan para tokoh-tokohnya dalam membangun masyarakat dalam bingkai budaya. Siapa tokoh itu? Tak lain dan tak bukan adalah para wisudawan Unesa. Selamat diwisuda.

Senin, 15 September 2014

Memainkan Bola Media di Kursus Pelatih Pembina Pramuka Kwarda Aceh

Bagi orang dewasa, menghapalkan sembilan metode kepramukaan dengan konsep sekaligus tentu sangat sulit. Namun, kesulitan itu dapat diatasi dengan penggunaan metode dan media yang mampu membantu peserta menghapal nama metode sekaligus maknanya. Metode itu bernama lempar bola satu ucap dengan media bola plastik seukuran bola sepak.

Saat itu, pukul 10.00, saya ajak peserta ke halaman aula Balai Diklat Pertanian, Saree, Aceh Barat. Mereka, sejumlah 48 orang, saya minta membuat lingkaran kecil. Saya mengawali dengan menyebutkan satu per satu pilar metode kepramukaan dengan rincin konsepnya. Kemudian, sengaja satu pilar belum saya sebutkan. Peserta menyebut ulang nama metode pilar demi pilar. Sekiranya, mereka dapat mengulangi nama tersebut, satu metode yang masih belum disebut itu, saya tambahkan. Berkali-kali, peserta selalu kurang ketika menyebutkan secara lisan.

Kemudian, saya mengambil satu bola lalu kulemparkan ke salah satu peserta sambil saya meneriakkan nama metode kepramukaan. Lalu, yang menerima bola akan meneruskan sambil mengucapkan nama metode berikutnya ke salah satu temannya. Putaran pertama banyak yang tidak hafal. Ada peserta yang mencatatkan nama metode itu ke telapak tangan. Dia membaca dari telapak tangan kemudian melemparkan bola ke temannya. Saya biarkan saja cara seperti itu karena itu juga cara untuk menghafal.

Kemudian, lemparan bola saya tambah menjadi dua. Saling-silang lempar dilakukan peserta dengan suara lantang. Bola kemudian saya tambah sampai tujuh untuk dilemparkan ke peserta. Ternyata, peserta tambah bingung dengan nama metode karena kecepatan lemparan dari bola-bola yang lain ke dirinya. Peserta sangat senang dan mulai hafal dengan nama metode secara cepat.

Permainan saya lanjutkan ke tiap kelompok dengan lingkaran kecil, masing-masing berjumlah 5--8 orang. Ada tujuh kelompok yang bermain. Tiap kelompok diberi bola satu. mereka melemparkan bola sambil meneriakkan nama metode dan konsepnya. Ada kelompok yang cepat melempar dan cepat menyebutkan nama metode kepramukaan. Jarak 10 menit, semua peserta mampu menghafalkan nama metode tersebut.

Permainan ditambah lagi dengan cara menyepak bola. Peserta harus berada di lapangan rumbut yang laus. mereka menyepak bola sambil meneriakkan nama metode yang berjumlah sembilan itu. Hasilnya, peserta dapat serta merta hafal nama metode dan konsepnya.

Kemudian, peserta saya ajak ke ruangan lagi untuk bermain tujuh penjuru angin. Mereka memberikan umpan sepuluh pernyataan ke teman lain dengan topik yang berbeda dari sebelumnya. Sealan-akan mereka lupa dengan permainan bola.

Ternyata, ketika sore hari, beberapa peserta saya tanya ulang nama metode yang dimainkan pagi hari dapat menyebutkan dengan runtut. Padahal, mereka sudah menghadapi topik lain lagi sehari itu. Kemudian, dua hari berikutnya, secara acak peserta saya tanyai, mereka dapat menyebutkan dengan runtut nama-nama metode kepramukaan yang jumlahnya sembilan itu.

Jadi, belajar sambil bermain dapat meningkatkan daya hafal peserta. bahkan, peserta mampu meingidentifikasi konsep dan prosedur metode itu dengan tepat. Padahal, orang dewasa itu adalah warga belajar yang susah mengingat. Pendekatan yang tepat bagi mereka adalah andragogi. Pendekatan itulah yang senantiasa saya pakai dengan model yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya.

KPL (Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Lanjut) 2014 yang dilaksanakan oleh Pusdiklatda Kwarda Aceh terbilang sukses. Dari tanggal 7--13 September 2014 peserta sangat menikmati. Mereka seolah tidak merasakan waktu lama. "Terasa sejenak saja KPL ini," kata peserta. Itu semua karena kemasan metode dan teknik yang direncanakan dengan apik. Selamat buat Kwarda Gerakan Pramuka ACEH.

Pembelajaran Berkesan

Saat ini, ketika dunia sudah di abad canggih, pembelajaran dengan cara guru berkuasa sudah tidak dipentingkan lagi. Guru yang jahat, berteriak, memarahi, siswa sebagai objek yang dianggap masih bodoh, dan bahkan menyakiti fisik anak sudah tidak musim. Pembelajaran yang seperti itu hanya terjadi ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda dahulu lalu diikuti oleh guru yang pernah dididik pada era penjajah itu.
Memang, pembelajaran zaman Belanda dahulu berkesan. Namun, kesan yang dimunculkan hanya kesan saat disakiti semata. Materi pembelajaran malah lepas dari rekaman otak. Tak jarang orang bercerita tentang kesan disakiti itu. Misalnya saja, ada yang mengatakan, "Saya dulu dijewer guru gara-gara tidak membawa buku PR." Ada pula yang mengatakan seperti ini. "Aku dulu dijemur di lapangan gara-gara terlambat." Begitulah kesan yang muncul dari mereka yang pernah mengalami perlakuan guru yang sok jagoan mengajar.
Era guru penjajah itu tentu sudah lewat. Saat ini pembelajaran harus menyenangkan bagi siswanya. Siswa yang senang suasana batinnya akan mampu menyimpan materi pelajaran yang diperoleh dalam alam bawah sadarnya. Buatlah pembelajaran itu berkesan dengan cara menyenangkan, bermedia kreatif, komunikatif, dan dekat dengan anak. Pembelajaran yang demikian itu merupakan perwujudan pembelajaran yang ramah anak.
Banyak contoh guru yang saat ini sudah melakukan pembelajaran ramah anak. Mereka menggunakan aneka model pembelajaran sesuai dengan konteksnya. Kasyu, ranting, botol bekas, kertas, daun, atau apa saja dapat dipakai sebagai media pembelajaran. Selamat mencoba.

Kamis, 12 Juni 2014

Guru Berprestasi bukan untuk Gengsi

Memang, predikat berprestasi akan menguatkan percaya diri bagi seseorang yang meraih predikat itu. Namun, percaya diri tersebut bukan untuk memperkukuh gengsi sehingga berlabelkan kesombongan dan kearoganan diri. Percaya diri akibat prdikat berprestasi justru lebih memperkuat sikap rendah hati, empati, dan berkarya lebih lanjut demi perkembangan masyarakat.

Salah satu peserta seleksi guru berprestasi dan berdedikasi tingkat Jawa Timur yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, 9--11 Juni di Hotel Purnama, Kota Batu, mengatakan bahwa dirinya bukan untuk meraih gengsi tetapi untuk menguatkan diri dalam menyebarluaskan pengalaman ke masyarakat sekolah dan secara umum. Pernyataan itu sangat menyentuh kalbu. Pernyataan itulah yang diinginkan oleh khalayak agar terjadi perubahan pendidikan ke arah kualitas.

Secara serentak, seleksi dilaksanakan dengan sistem portofolio, tes, wawancara, dan presentase dengan juri berbeda-beda sehingga validitas dan akuntabilitas dapat dipercaya. Guru, pengawas, kepala sekolah dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK mengikuti seleksi sesuai dengan jenjangnya. Kemudian, pemenang I berdasarkan hasil seleksi akan mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional. Wakil itu adalah sosok yang telah teruji dalam aspek pengalaman, pengetahuan, sikap, dan perilaku.

Peserta seleksi yang ikut di tingkat provinsi adalah pemenang di tingkat kabupaten/kota. Mereka berpredikat berprestasi di wilayahnya dengan seleksi tersendiri yang diadakan oleh dinas pendidikan setempat. Hasil seleksi itu dibawa ke tingkat provinsi untuk diadu lagi sehingga diperoleh prestasi yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Gengsi bukanlah cara yang tepat untuk membawakan diri di tengah masyarakat karena akan menghambat pola komunikasi antara biasa dan berpredikat. Memang seseorang memerlukan gensi bagi dirinya untuk menempatkan diri. Tetapi, gengsi itu bukan untuk dipertunjukkan ke orang lain. Gengsi yang ditunjukkan ke orang lain hanyalah sebuah wujud kesombongan.

Wisuda dan Modal Menjadi Sosok yang Bermartabat


Oleh Suyatno
Sesungguhnya, modal yang teramat indah untuk menjadi bermartabat adalah diwisuda. Diwisuda berarti diberikan kepercayaan legal untuk menjalankan kemampuan diri secara bermartabat di tengah masyarakat. Jika kelak di masyarakat ternyata sang sosok yang telah diwisuda berbuat cela dan ingkar dari komitmennya, dia akan menemukan identitas negatif yang berlawanan dari predikat bermartabat. Sebaliknya, sosok yang pernah diwisuda akan memperoleh cap bermartabat apabila melaksanakan perbuatan yang diterima oleh masyarakat karena berpikir positif, empati, berprestasi, dan memberikan arti bagi kehidupan. Identitas positif dan negatif adalah pilihan dari sang sosok yang telah diwisuda. Karena identitas diri di masyarakat adalah sebuah pilihan, tentu, wisudawan Unesa akan memilih identitas positif dalam kondisi dan keadaan apapun.

Wisuda adalah petanda dari sebuah babak dalam perjalanan hidup sang sosok yang kelak akan beridentitas positif sehingga berpredikat bermartabat. Petanda tersebut dibalut dalam sebuah momen Wisuda Unesa yang diatur secara apik, prosedural, dan khidmat agar sang sosok menitikkesankan pada petanda sehingga kelak akan melahirkan momentum bermanfaat. Untuk itu, wisudawan kali ini, perlu mengabadikan momen ini dengan penuh kegembiraan, kekhidmatan, dan keyakinan.
Kegembiraan merupakan dasar bagi keberlangsungan perjalanan sang sosok dalam menapaki babak baru di masyarakat. Dengan kegembiraan, inspirasi, kreasi, dan inovasi akan muncul dengan sempurna tanpa kegalauan meski dalam kondisi serba susah sekalipun. Wisudawan Unesa, pasti, mampu menempatkan kegembiraan sebagai dasar berkiprah dalam dunia sehingga menjadi sosok yang bermartabat.

Kekhidmatan merupakan perwujudan dari proses berkonsentrasi yang terfokus, ikhlas, dan bertanggung jawab. Dengan kehidmatan, sang sosok akan mampu melahirkan karya dan kinerja dengan jernih, berbobot, dan disukai oleh masyarakat. Meskipun berada dalam kegembiraan namun tidak khidmat, hasil yang diperoleh akan tidak maksimal, kacau, dan terbagi-bagi sehingga menutup tingkat keterfokusan diri. Modal bermartabat adalah kekhidmatan dalam setiap kesempatan sekecil apapun.

Keyakinan merupakan perwujudan berpikir positif atas karya dan kinerja yang telah, saat, dan akan dilaksanakan dalam diri sang sosok dalam menghadapi kiprah diri di masyarakat. Keyakinan biasanya didasari oleh mimpi, cita-cita, dan kehendak yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan diri. Wisudawan Unesa akan dapat bermartabat jika mempunyai keyakinan yang teramat kuat atas kesuksesan diri dalam menjangkau sosok yang bermartabat di masyarakat.