Selasa, 25 April 2017

Jangan Mencari Air Mata


Jangan Mencari Air Mata

Oleh Suyatno

Naiklah ke kebon para bapa
Pala, coklat, dan langsa
Semua ada
Tapi jangan mencari air mata
Lalu, berendamlah ke laut jernih
Tiada ombak udara bersih
Perahu menidurkan kekasih
Tapi jangan mencari air mata
Minumlah kelapa muda
Di lapak memandang panorama
Melantunkan lagu merdeka
Tapi jangan mencari air mata
Rasakan percik embun pertama
Para bapa mendaki kebon segera
Para mama masak di belakang rumah
Tapi jangan mencari air mata

Leihitu, 26 Mei 2015

Pingin Nulis tapi Malas Menulis

Banyak orang kepingin menjadi penulis namun keinginan itu hanya di bibir saja tanpa ditindaklanjuti ke dalam tulisan. Mereka berkoar-koar selama waktu bergulir dan sejauh mata memandang namun tak sekecil pun tulisan dibuatnya. Jika menjumpai orang yang demikian itu biarkan saja dan berilah cukup senyuman. Dia akan paham bahwa kelemahan menulis dirinya ditutupi oleh keinginan diri yang diceploskan tanpa direalisasikan.
Padahal, menulis itu sangat mudah kalau dijalani dengan mudah. Bagaimana menjalaninya? Ambil laptop tulis apa saja yang menjadi keinginanmu. Jangan takut salah agar waktu dapat termanfaatkan dengan baik. Gunakan coretan awal sebagai rambu-rambu titik pijak dalam menulis. Ingatlah bahwa tulisan itu tidak sekali jadi sehingga kita tidak boleh takut salah. Tulis saja idemu ke dalam laptop.
Jangan pernah berpikir di ujung, yakni jadi buku lalu dijual dan mendapatkan uang. Bagaimana bisa dijual, buku saja belum ada. Bagaimana mencetak buku, tulisan saja belum punya. Oleh karena itu, ujung awal yang sangat diperlukan, yakni terdapat sejumlah tulisan.
Lupakan yang lain dan inagttlah janji diri tentang menulis. Berangkatlah dari keinginan diri yang harus dibuktikan lewat tulisan bukan dibuktikan lewat omongan. Lebih baik ada kesalahan tulisan daripada belum ada sama sekali tulisan yang salah. Menulis itu tindakan bukan angan-angan.
Kapan pun orang dapat menulis. Saat memasak, seorang ibu rumah tangga dapat menulis melalui ocehan tentang sesuatu yang direkam di hape. Setelah longgar, ibu tersebut dapat menuliskannya. Tulis apa saja yang ada di suara rekaman. Jangan diedit dulu. Setelah semua dituliskan, sang ibu rumah tangga itu mengedit. Lama-kelamaan, tulisan menumpuk dan jika diedit dapat menjadi sebuah buku. Itulah yang sering dilakukan ibu penulis yang sambil mengelola rumah tangga.
Jadi, yang terpenting adalah melakukan penulisan. Kemudian, tidak boleh takut salah. Setelah ada tulisan, editlah dengan ikhlas. Berikan ke orang lain untuk memberikan masukan. Ikuti masukan teman Anda. Kemudian, beranilah menerbitkaan buku itu.
Jangan takut bukumu layak terbit atau tidak. Yang menentukan layak terbit atau tidak itu orang lain dengan jaminan tertentu berkaitan dengan isi tulisan. Bahkan, jika bagus, penerbit akan menerbitkan konsep bukumu dengan cdara cepat dan menyisihkan buku lain yang siap naik cetak. Jadi, jangan takut bukumu diterbitkan atau tidak. Yang terpenting adalah menulis dan menulis. Selamat menulis.

Rabu, 12 April 2017

Guru Demam Menulis Buku

Saat ini, banyak guru berlomba-lomba menerbitkan buku agar dapat dinikmati oleh guru atau orang lain. Mereka mengikuti berbagai pelatihan cara menulis buku agar dapat membuat buku layaknya penulis buku lainnya. Bahkan, jarak dan waktu dilompatinya demi terwujudnya sebuah buku. Uasaha itu tentu perlu diapresiasi dengan baik.
Namun, akankah buku-buku yang dihasilkan itu dapat memberikan inspirasi bagi pembacanya? Tentu, jawabnya belum dipastikan karena motivasinya adalah menerbitkan lebih dahulu hasilnya kemudian. Pembaca terinspirasi atau tidak bukan tujuan seorang penulis. Tujuan seorang penulis adalah menuangkan gagasan agar terjadi kelegaan diri.

Kamis, 03 Maret 2016

Guru Hebat Indonesia: Diperlukan Keberanian Melompati Tembok Penghalang

Guru biasa menjelaskan. Guru baik mendemonstrasikan. Guru hebat menginspirasikan. Guru Indonesia dapat menjadi hebat sehebat guru di sekolah terbaik dunia. Itu bukan isapan jempol. Itu juga bukan ocehan semata. Semua itu dapat menjadi kenyataan di alam Indonesia. Negara yang kaya raya akan sumber daya alam ini.

Kok bisa menjadi guru hebat? Bisa saja, guru Indonesia menjadi sangat hebat. Syarat untuk menjadi hebat adalah keberanian sosok guru untuk melompati tembok penghalang dirinya sendiri. Tembok penghalang itu adalah (1) perrsepsi guru yang mengatakan bahwa mengajar itu seperti gaya gurunya dulu mengajar; (2) sempitnya ruang berpikir yang menyatakan bahwa metode mengajar itu hanyalah ceramah; (3) rendah diri yang menunjukkan bahwa "Saya hanyalah seorang guru biasa"; (4) cepat puas yang ditandai oleh kata "begini saja sudah cukup, nyatanya muridku juga berhasil."; (5) memelas yang ditunjukkan oleh pernyataan "saya sudah tua, biar yang muda saja yang berubah,"; (6) malas diri yang ditunjukkan oleh buku yang dibaca hampir sama dengan buku yang didalami saat berkuliah dulu, tidak ada penambahan buku yang berarti; (7) gaya baku dan beku yang ditunjukkan oleh gaya mengajar yang itu-itu terus tanpa perubahan dan malah guru tersebut merasa puas; (8) pelit dan irit yang ditunjukkan dengan ketidakmauan untuk mengikuti pelatihan atau kursus yang dapat meningkatkan diri jika disuruh membayar dan maunya gratis; (9) penguasa tunggal yang ditunjukkan oleh sikap sebagai penguasa kelas dan siswa tanpa mau mendengarkan keluhan belajar siswa akibat ketidakcocokan persepsi anak dengan guru; dan (10) tidak menghargai prestasi ditunjukkan oleh ketidaksadaran bahwa dirinya sudah memperoleh sertifikasi yang berarti itu semua merupakan penghargaan bagi dirinya.

Padahal, dari sisi gizi terbaik, guru mendapatkan tiap hari dari asupan sayuran, buah, dan makanan lainnya yang tumbuh di tanah subur Indonesia. Gizi yang diperoleh itu seharusnya mampu mendongkrak pertumbuhan otak dan diri guru. Dari sisi jejaring, guru memunyai para pakar yang asli Indonesia sehingga sangat mudah untuk belajar. Dari sisi sumber informasi, guru saat ini akan dengan mudah untuk mengaksesnya melalui dunia maya. Dari sisi kesempatan, guru dapat memanfaatkan untuk maju dan berkembang karena telah dibuka peluang untuk belajar lagi, berprestasi, dan berkembang melalui dinas terkait dan perguruan tinggi di tanah airnya. Lalu, apa yang kurang?

Guru harus berani untuk melewati tembok penghalang. Tembok itu tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri. Meloncatlah. Guru yang meloncat akan menemui penghalang. Itu pasti. Penghalang itu sebenarnya adalah gesekan yang mempertajam kepandaian guru. Proses itu dapat melelahkan. Bukankah orang yang sukses selalu diawali oleh proses yang melelahkan. Namun, di balik melelahkan itu terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi masa depan guru.

Guru jangan cepat puas dengan yang diperoleh saat ini. Guru harus berani merefleksikan perkembangan dirinya melalui cermin. Cermin itu adalah siswa, guru lain, kepala sekolah, dan diri sendiri. Guru jangan sampai takut untuk merefleksikan diri sendiri. Guru yang terbiasa merefleksikan diri sendiri akan cepat keluar dari tembok penghalang.

Guru Indonesia dapat menjadi hebat sehebat guru di sekolah lainnya di dunia ini. Percayalah. Syaratnya adalah keberanian guru untuk bermimpi yang sangat berani demi prestasi siswanya. Cobalah guru memasang target keberhasilan tiap tahun. Lakukan yang terbaik. jangan terlena dengan rasa kekurangan yang telah disebutkan di atas.

Dunia metode pembelajaran tidak seluas daun kelor. Metode pembelajaran jumlahnya berjibun. Metode itu bebas dipakai oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus berani untuk berubah-ubah gaya mengajar dengan metode yang bervariasi pula. Kemampuan mengubah gaya itulah jalan terbaik untuk menjadi guru hebat. Kalau tidak sekarang, guru akan melakukan kapan lagi?

Banyak guru yang membaca tulisan seperti ini langsung mencibir, "Ah, itu khan hanya omongan saja. Yang melakoni ini setengah mati." Namun, jika guru tidak cepat untuk menilai, tentu dia akan mendapatkan hikamh tertentu yang mampu menaikkan derajatnya. Untuk itu, ayolah melompati tembok penghalang diri sendiri. Jadilah guru yang hebat.

Cobalah berpikir agak luas sedikit. Kemampuan mengajar guru itu bukan hanya untuk diri sendiri dan siswa semata.  Kemampuan mengajar guru itu sebenarnya untuk membuka kehebatan Indonesia dalam membawa bangsanya ke alam yang maju dan beradab. Indonesia yang maju dan beradab harus diawali oleh keterbukaan dan kesediaan guru untuk berjuang lebih mendalam lagi.

Indonesia ini milik guru juga. Gurulah yang berani memimpikan ke depan dengan gaya mengajarnya di kelas. Guru harus berdarah Indonesia yang tulen. Pikirannya adalah pikiran kemajuan dan keberadaban Indonesia. Caranya, melompatlah dari penghalang diri. Bravo guru Indonesia.

Guru Kabupaten Alor: Semangat Dongkrak Hasil UN Siswa

Alor, kabupaten di Kepulauan Timur Laut dari Kota Kupang, yang berbatasan laut dengan Timor Timur tidak mau tertinggal dari kabupaten soal UN bagi siswanya. Meskipun, tahun 2015, Kabupaten Alor ranking kelima se-NTT. Mereka ingin, UN siswa di Alor menunjukkan prestasi tinggi dengan cara bersih dan halal. Kata kuncinya adalah menguatkan kompetensi guru di bidang mata pelajaran masing-masing.

Untuk itu, bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya, Dinas Pendidikan Kabupaten Alor melaksanakan pelatihan penjabaran SKL UN bagi siswa SMP dan SMA. Sekitar 400 guru bidang studi yang di-UN-kan diundang untuk mengikuti pelatihan selama 4 hari, yakni 9--13 Februari 2016 di Aula Dinas dan di ruang kelas SMP/SMA Santo Josef Kalabahi Alor.

Unesa menurunkan 12 dosen pilihan untuk mendampingi guru-guru dari membedah SKL sampai membuat soal untuk pelatihan bagi siswa masing-masing menjelang UN. Guru-guru terlihat senang dan merasakan hasilnya. mereka mempunyai tambahan ilmu dalam mengemas dan mengelola soal dalam rangka UN. Cara praktis mendampingi siswa juga dibimbingkan agar kelak mereka dapat dengan mudah memfasilitasi siswanya.


Pendidikan Bela Negara di Bojonegoro: Pementasan Hasilnya Memuaskan

Belajar dengan hasil tinggi biasanya diperoleh dari kegiatan yang praktik langsung. Hasilnya dapat 80% melekat di pikiran dan ingatan anak. Pola itulah yang dipakai oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro dalam melaksanakan pelatihan Bela Negara dan Pemberantasan Narkoba bagi siswa SMA/SMK/MA se-Kabupaten Bjonegoro.

Saat itu, ada 50 siswa yang duduk melingkar untuk menentukan naskah yang akan dipentaskan dua hari kelak. Mereka ramai berdebat untuk menentukan peran anggota dalam pementasan yang akan ditonton 300-an siswa yang diundang untuk menikmati pentas mereka. Isi debat terfokus pada bela negara dan antinarkoba. Suasana terlihat riuh. Selang satu jam, wakil mereka berani menyatakan kalau naskah gambaran naskah dan pementasan selesai.

Mereka sangat cepat menentukan topik, membuat kerangka naskah, dan menentukan tokoh yang akan pentas. Kecepatan itu terjadi setelah paginya mereka mendapatkan materi tentang bela negara dan antinarkoba. Setelah mengumpulkan naskah kasar, mereka pulang.

Hari kedua, 50-an peserta itu mendapatkan suntikan motivasi berbangsa dan bernegara oleh Garduguru. Mereka mengeluarkan semangat yang tinggi karena motivasi disajikan dengan cara menarik, lewat lagu, gerakan, yel, dan pembisikan. Siswa yang masih tumbuh pemahaman berbangsa dan bernegara itu semakin mengentalkan konsepnya untuk pementasan. Kemudian, tim Binmas Polres Bojonegoro dan Tim Antinarkoba juga menguatkan kembali aspek yang paling penting menjadi pemuda pelopor.

Siangnya, mereka membagi peran untuk melatih diri sesuai dengan naskah. Di tempat lain, ada siswa yang mulai menyiapkan properti. Mereka terlihat asyik. Panitia pengarah memberikan bimbingan intensif didampingi Garduguru. "Pementasan besok harus terpola dengan serius seperti pertunjukkan pada umumnya," kata Suyanto, panitia yang mendampingi. Dengan begitu, penjiwaan siswa sangat maksimal.

Pembelajaran dengan praktik berdrama memang sangat memberikan hasil yang melimpah. Bahkan, kenangan pentas akan dikenang sampai anak tersebut menjadi tua. Mereka akan bercerita pengalaman pentas ke anak cucunya.

Untuk itu, pelatihan bela negara sangat tepat jika dilakukan dengan cara pentas. Jangan hanya sekadar ceramah untuk menguatkan bela negara keada siswa. Jika hanya ceramah, kapasitas pengetahuannya akan habis hanya tiga bulan berikutnya.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 7--10 Februari di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro itu memang sangat berkesan. Siswa menyatakan bahwa kegiatan semacam ini sangat memberikan kesan yang tidak dilupakan. "Jiwa kami demi Indonesia," teriak salah satu siswa. Apalagi, yang dipentaskan adalah adegan perjuangan bangsa seperti perobekan bendera Belanda di Surabaya, Perang gerilya, penolakan pemuda terhadap narkoba, dan seterusnya.

Rabu, 03 Februari 2016

Menguatkan Karakter Guru agar Mempertajam Cara Mendidik Karakter Siswa

Masalah karakter yang kuat berbasis kebangsaan dan kecakapan bagi bangsa Indonesia tidak akan pernah pudar dibicarakan karena itulah titik sentral pembangunan manusia Indonesia. Indonesia akan bertahan lama sebagai negara bangsa yang bersatu-padu dari ujung barat sampai timur dan dari utara sampai selatan apabila pembangunan pendidikan yang berbasis karakter dan kebangsaan dijalankan secara taat asas. Melalui pendidikan tersebutlah akan tumbuh generasi yang lebih cinta Indonesia dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Anak-anak Indonesia haruslah memunyai persepsi dan perilaku sebagai anak yang plural, multisuku, dan bertoleransi tinggi. Perbedaan yang ada dipakai sebagai potensi yang saling melengkapi sehingga membentuk sebuah kekuatan tunggal yang bercinta dengan Indonesia. Itulah kehendak pendidikan di Indonesia sehingga masalah karakter harus terus dibicarakan.

Lalu, dari sudut mana mengefektifkan pendidikan karakter itu? Salah satu jalan adalah dari sisi guru karena dialah yang bergerak sebagai subjek manajer kelas, pendidik, dan pengajar yang berdekatan dengan siswa secara fisik dan nonfisik. Guru hebat dapat dipastikan akan dapat melahirkan siswa yang hebat. Sebaliknya, guru yang lemah akan membuat siswa bertambah lemah. Guru hebat itu tentu tidak datang dari langit melainkan datang dari pembinaan yang intensif dan sesuai dengan iklim pribadi guru. Oleh karena itu, pendidikan karakter dapat dimulai dari sisi penguatan guru.

Perlu diketahui bahwa dari sisi budaya, seseorang dikatakan memunyai kekuatan budaya kerja yang bagus jika memunyai konsepsi, perilaku, dan artefak. Begitu pula, guru hebat yang berbudaya tentu haruslah memunyai konsepsi tentang karakter, perilaku unggul yang menunjukkan karakter, dan memunyai artefak sebagai hasil dari kinerjanya. Dari sisi nilai karakter, menurut Lichona, terdapat dimensi knowing, feeling, dan actuiting. Dimensi pengetahuan harus dipunyai guru terkait dengan karakter yang baik bagi siswa. Dimensi keinginan untuk menerapkan karakter harus dipahami benar petanya oleh guru. Kemudian, dimensi perilaku berkarakter harus benar-benar dilakukan dalam tindakan nyata oleh guru.

Berkaitan dengan hal tersebut, pelatihan karakter bagi guru haruslah dijalankan dengan pola keterlibatan penuh atau pastisipasi penuh dari guru yang akan dikembangkan kekuatan berkarakternya. Program peningkatan karakter bukan melalui ceramah atau worksohop melainkan melalui pola simulatif penuh dengan gaya partisipasi. Guru sejak di hari pertama sudah merasakan keterlibatan diri karena beranggapan dirinya harus terlibat penuh. Penanaman konsep karakter tidak berasal dari pemandu melainkan berasal dari guru itu sendiri. Narasumber menjadi sosok hebat dalam memfasilitasi.

Memang kemampuan mendidik karakter siswa harus diawali oleh kekuatan guru dalam berkarakter. Untuk itu, guru harus dihadapkan oleh problematika karakter sehingga dapat memecahkan dengan jitu. Guru melakukan tindakan berkarakter akibat situasi yang diciptakan menghendaki guru harus berkarakter. Kemudian, guru dapat menyusun program penguatan karakter bagi siswa. Pelatihan untuk guru harus dihadapkan pada situasi senyatanya dalam berkarakter.

Tahun 2015 yang lalu, direktorat PSMA melaksanakan pendidikan karakter bagi guru SMA melalui pola berkemah selama 4 hari. Ternyata, hasilnya sangat baik bagi pembiasaan berkarakter guru. Guru secara tidak langsung melakukan tindak berkarakter akibat jadwal yang disusun memang mengharuskan guru berkarakter bagus. Karena pola berkarakter itu dilakukan terus-menerus dengan model pembiasaan, secara tidak sadar guru melakukan tindak yang bagus. Sehabis mengikuti program itu, salah satu guru berkomentar bahwa dirinya sekarang ini sangat paham atas tindak berkarakter sehingga dapat mendidik anak agar berkarakter.

Pola kegiatan seperti itu dilaksanakan berkerja sama dengan Gerakan Pramuka Kwartir Daerah di tiap provinsi. Fasilitator yang ditunjuk adalah para pelatih pembina pramuka yang berlisensi melatih tingkat lanjut. Mereka mendampingi, memfasilitasi, menguatkan, merefleksikan, dan mengevaluasi selama kegiatan berlangsung. Narasumber berada di lokasi sejak peserta datang sampai pulang agar mampu mendampingi secara utuh dan tuntas. Jadi, narasumber tidak hit and run atau datang lalu pergi setelah materinya selesai diberikan. Pola tersebut memberikan nilai tambah yang kuat dan berbobot bagi guru. Guru sangat senang dalam mengikuti melalui poal keterlibatn diri yang utuh. Dari pagi sampai larut malam semua yang menangani peserta sendiri. Kemudian, amteri karakter dilaksanakan melalui learning by doing yang dilekatkan ke peserta berdasarkan pemantauan narasumber.

Agaknya, pola tersebut sangat tepat dfilaksanakan untuk peningkatan kompetensi karakter bagi guru jenjang lainnya. Pola dikembangkan dengan cara berkemah, penuh tantangan, langsung, dan di alam terbuka. Bukankah melalui tantangan, karakter sebenarnya dari seseorang akan dikeluarkan dengan maksimal agar dapat mengatasi tantangan tersebut. Tantangan yang baik adalah hambatan yang bersifat N+1, maksudnya kondisi peserta ditambah tingkat kesulitan satu digit. Kesulitan itulah yang akan membentuk karakter peserta.

Jika penguatan kompetensi dilakukan di kelas, tentu, peserta tidak memunyai tantangan sepadan sehingga tidak meningkatkan daya kekuatan karakter peserta. Tantangan pendidikan yang bagus adalah hambatan yang mampu menyentuh pikiran, sikap, dan perilaku senyatanya tanpa simulatif. Guru yang hebat tentu bermula dari keberhasilannya dalam mengatasi tantangan itu.

Selasa, 02 Februari 2016

Kapan Guru Dianggap Mampu?

Rasanya, tiada henti-hentinya guru dirundung ucapan negatif, seperti tidak mampu, skor rendah, jalan di tempat, susah maju, dan seterusnya. Bahkan, ucapan negatif yang datang dari segala sudut (pemerintah, masyarakat, kepala sekolah, dinas pendidikan) itu menurunkan martabat guru di mata siswa dan orang tua. Bisa jadi, orang tua sering mencerca guru ketika anaknya ditangani dengan omelan atau sentuhan lainnya yang niatnya untuk memperbaiki sikap anak gara-gara martabat guru yang diturunkan oleh isu yang selalu populer, yakni ucapan negatif itu.

Kita tidak sadar bahwa ucapan negatif yang terus-menerus disampaikan akan membentuk antipati yang mendalam dalam diri seseorang. Begitu pula dengan ucapan negatif yang ditujukan kepada guru akan membentuk sikap dan pikiran antipati terhadap guru. Ucapan itu menjadi sebuah pembenaran bagi masyarakat yang ujung-ujungnya menurunkan kredibilitas guru. Dampaknya, guru saat ini seakan menjadi pesakitan bagi semua orang.

Padahal, guru sudah berbuat banyak untuk tumbuh kembang siswanya. Semua siswa yang melewati SD hampir semua dapat membaca dan berhitung. Tentu, itu semua wujud keberhasilan guru. Siswa dapat melanjutkan ke perguruan tinggi dengan skor lumayan, tentu juga hasil kinerja guru. Pekerjaan yang dapat dilakukan oleh para lulusan tentu berkat sentuhan guru. Jadi, guru sebenarnya sudah berbuat. Namun, hasil kinerja guru tersebut masih saja dianggap belum memadai sehingga ucapan negatif bertubi-tubi datang ke guru.

Kalau guru harus terus meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kinerja memang itulah yang diharapkan. Guru hebat adalah guru yang terus-menerus belajar sampai titik akhir hidupnya. Dia merupakan sosok yang sadar atas segala kekurangan. Oleh karena itu, tiada hari tanpa belajar bagi guru.

Hanya saja, kewibawaan guru harus dijaga agar kredibilitasnya juga meningkat. Untuk itu, marilah mulai memuliakan tugas guru agar masyarakat juga turut mengangkat kewibawaan tersebut. Jika akan mengerjakan sebuah projek dalam rangka memperbaiki guru janganlah berangkat dari keburukan guru. Keburukan guru hanya akan menguatkan antipati kepadanya.

Selasa, 05 Januari 2016

Dies Natalis Unesa, Melihat Kemajuan Dinamis



Oleh Suyatno

Mengapa setiap tahun banyak lembaga memeringati hari kelahiran dengan penuh suka cita? Itu semua dilakukan untuk memasuki dunia introspeksi dalam melihat kemajuan dinamis lembaga tersebut. Selain itu, peringatan merupakan energi untuk menguatkan peran siklus selanjutnya. Kira-kira, Universitas Negeri Surabaya ber-Dies Natalis ke-51 juga beralasan untuk berintropeksi diri sambil mengukur dinamika kemajuan selama ini. Energi yang diperoleh adalah suka cita dalam menjalani tugas kependidikan dan keilmuan bagi masyarakat yang penuh dengan pemikiran itu.

Jadi, Dies Natalis ke-51 Unesa bukanlah sekadar rutinitas, bagi-bagi dana, dan bersenang-senang semata. Dies Natalis ke-51 Unesa diperingati untuk melihat lebih jauh ke depan berdasarkan perjalanan yang lama dan kekinian. Ke depan kira-kira Unesa akan bertampang seperti apa? Jalan yang strategis mana yang harus ditempuh? Saat ini, sudah seberapa menggembirakan Unesa itu? Kehendak pendiri masa lampau apakah sudah terlihat di masa kini? Itulah pertanyaan yang menggelembung dalam sanubari warga Unesa di bawah paying peringatan ulang tahun.

Berbagai olahraga dilombakan untuk warga Unesa. Loma tersebut merupakan tanda bahwa kesehatan, sportivitas, dan keakraban masih menjadi pegangan kunci Unesa. Lembaga pendidikan sebesar Unesa tidak akan berjalan dengan baik jika warganya sakit-sakitan, tidak sportif, dan beregoisitas tinggi. Jadi lomba itu merupakan tanda dan simbol. Begitu juga lomba yang lainnya diadakan untuk memunculkan kunci instropeksi diri. 

Seminar, orkestra, jalan sehat, bakti sosial, pidato ilmiah, bazaar, unjuk gelar kreativitas mahasiswa, pameran terbuka, dan lainnya dilaksanakan dengan penuh senyum dan gembira karena kemampuannya memberikan sinyal dalam mengukur dinamika yang sedang berjalan. Itulah sebuah tekad yang mantap dalam memasuki dunia siklus tahunan untuk memperbaiki diri. Dies natalis merupakan momentum untuk mengoreksi kedalaman sambil bersuka ria. 

Tulisan reflektif yang dituangkan ke dalam artikel dari para dosen, yang kemudian disatukan dalam buku antologi merupakan gagasan yang menarik untuk dilirik. Banyak gagasan baru yang mampu memberikan masukan berharga bagi dunia nyata. Di samping itu, isi tulisan mencerminkan kekayaan gagasan yang berguna bagi pemikiran berikutnya. Buku antologi itu juga merupakan simbol dan tanda bahwa Unesa semakin maju berdinamisasi. 

Dies natalis ke-51 kali ini memang menjanjikan bagi jiwa yang terus tumbuh dan berkembang. Janji itu terpukau dalam pengalaman langsung yang digelar dengan gebyar di Desember 2015. Betapa Unesa masih bergairah dalam menjalankan tugas keperguruantinggiannya. Senyum mengembang mengawal semua warga dalam ber-Dies natalis. 

Dunia atas dan dunia bawah, dunia mikro dan dunia makro tidak akan pernah bersatu dalam satu jiwa manakala hanya larut dalam tugas yang penat terus-menerus. Kedua dunia yang berdikotomis, bersisi yang berbeda tentu memerlukan sarana penyatuan yang cair. Penyatuan itu diperlukan agar jalinan kerja dapat menyatu tanpa alasan individu nyang mengental. Kedua dunia itu dapat dipersatukan salah satunya lewat dies natalis. Oleh karena itu, jangan heran jika lembaga lain merayakan ulang tahun dengan hingar-bingar dengan dana yang minta ampun banyaknya. Itu semua untuk menguatkan energi penyatuan secara lahir dan batin. 

Jadi, jika Unesa ber-Dies natalis ke-51 dengan senyum merupakan perilaku yang sudah tepat. Energi lama diperbarui menjadi energi baru yang mampu memberikan warna pada tahun berikutnya. Kenangan dies natalis ke-51 sampai saat ini masih dirasakan energinya. Kenangan itu kelak menjadi asupan dalam berkiprah membangun Unesa dari tahun ke tahun. Unesa terlihat seirama dengan nuansa senyum yang datang dari semua warga Unesa. 

Perubahan selalu memerlukan titik lihat yang mampu dimasuki untuk melihat kedalaman dan keluasan. Titik lihat itu berada saat momentum hari ulang tahun. Dalam ulang tahun kali ini, titik lihat sangat memberikan sinar terang sehingga Unesa dapat dengan mudah berintropeksi. Bravo Unesa. Panjanglah umurmu.

Bermartabatlah Selagi Sempat



Oleh Suyatno

Sesungguhnya, modal yang teramat indah untuk menjadi bermartabat adalah diwisuda. Diwisuda berarti diberikan kepercayaan legal untuk menjalankan kemampuan diri secara bermartabat di tengah masyarakat. Jika kelak di masyarakat ternyata sang sosok yang telah diwisuda berbuat cela dan ingkar dari komitmennya, dia akan menemukan identitas negatif yang berlawanan dari predikat bermartabat. Sebaliknya, sosok yang pernah diwisuda akan memperoleh cap bermartabat apabila melaksanakan perbuatan yang diterima oleh masyarakat karena berpikir positif, empati, berprestasi, dan memberikan arti bagi kehidupan. Identitas positif dan negatif adalah pilihan dari sang sosok yang telah diwisuda. Karena identitas diri di masyarakat adalah sebuah pilihan, tentu, wisudawan Unesa akan memilih identitas positif dalam kondisi dan keadaan apapun.

Wisuda adalah petanda dari sebuah babak dalam perjalanan hidup sang sosok yang kelak akan beridentitas positif sehingga berpredikat bermartabat. Petanda tersebut dibalut dalam sebuah momen Wisuda Unesa yang diatur secara apik, prosedural, dan khidmat agar sang sosok menitikkesankan pada petanda sehingga kelak akan melahirkan momentum bermanfaat. Untuk itu, wisudawan kali ini, perlu mengabadikan momen ini dengan penuh kegembiraan, kekhidmatan, dan keyakinan.

Kegembiraan merupakan dasar bagi keberlangsungan perjalanan sang sosok dalam menapaki babak baru di masyarakat. Dengan kegembiraan, inspirasi, kreasi, dan inovasi akan muncul dengan sempurna tanpa kegalauan meski dalam kondisi serba susah sekalipun. Wisudawan Unesa, pasti, mampu menempatkan kegembiraan sebagai dasar berkiprah dalam dunia sehingga menjadi sosok yang bermartabat.

Kekhidmatan merupakan perwujudan dari proses berkonsentrasi yang terfokus, ikhlas, dan bertanggung jawab. Dengan kehidmatan, sang sosok akan mampu melahirkan karya dan kinerja dengan jernih, berbobot, dan disukai oleh masyarakat. Meskipun berada dalam kegembiraan namun tidak khidmat, hasil yang diperoleh akan tidak maksimal, kacau, dan terbagi-bagi sehingga menutup tingkat keterfokusan diri. Modal bermartabat adalah kekhidmatan dalam setiap kesempatan sekecil apapun. 

Keyakinan merupakan perwujudan berpikir positif atas karya dan kinerja yang telah, saat, dan akan dilaksanakan dalam diri sang sosok dalam menghadapi kiprah diri di masyarakat. Keyakinan biasanya didasari oleh mimpi, cita-cita, dan kehendak yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan diri. Wisudawan Unesa akan dapat bermartabat jika mempunyai keyakinan yang teramat kuat atas kesuksesan diri dalam menjangkau sosok yang bermartabat di masyarakat. 

Selamat diwisuda. Anda pasti dapat bermartabat dengan bermodalkan kegembiraan, kehidmatan, dan keyakinan karena telah mempunyai petanda dalam babak kehidupan yang bernama wisuda. Sekali lagi, Unesa mengucapkan selamat diwisuda.