Hasil UKA sudah diumumkan melalui web www.sergur.kemendiknas.go.id tanpa skor perolehan. Peserta yang lolos UKA diumukan berdasarkan urut abjad nama per kabupaten/kota dan per provinsi. Kemudian, yang tidak lolos tidak diumumkan. Artinya, jika nama guru tidak ada dalam daftar pengumuman hasil, berarti tidak lolos.
Dalam pengumuman tidak ada informasi setelah UKA harus melakukan apa. Yang penting, nama yang tertera berhak mengikuti PLPG. Selamat ya.
Tentunya, guru jangan bangga dahulu dengan pengumuman ini. Masih panjang jalan untuk lolos sertifikasi. Untuk itu, guru harus senantiasa belajar dengan giat agar lolos PLPG dan Uji Kemampuan Akhir nanti.
Selasa, 20 Maret 2012
Hore, Hasil UKA Sudah Diumumkan
Plong rasanya hati guru yang selama ini selalu was-was menunggu hasil UKA. Hasil UKA sudah dapat dilihat secara gratis di www.sergur.kemendiknas.go.id berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Nomor 12344/J/KP/2012 tanggal 16 Maret 2012 tentang
Penetapan Kelulusan Peserta Uji Kompetensi Awal Sertifikasi Guru Dalam
Jabatan Tahun 2012, yang dinyatakan lulus
UKA dan berhak mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG)
tahun 2012 sebanyak 248.733 orang.
Kemendiknas berarti tepat janji. Sebelumnya, hasil UKA akan diumumkan tanggal 22 Maret berdasarkan informasi resmi web mereka. Lalu, tiba-tiba terdapat pengumuman baru yang menyatakan hasil UKA. Selamat. Kemendiknas dapat tepat waktu.
Sekali lagi. Peserta yang lolos jangan terkecoh dengan iseng orang jahat yang akan meminta ssuatu. Pengumuman ini gratis.
Kemendiknas berarti tepat janji. Sebelumnya, hasil UKA akan diumumkan tanggal 22 Maret berdasarkan informasi resmi web mereka. Lalu, tiba-tiba terdapat pengumuman baru yang menyatakan hasil UKA. Selamat. Kemendiknas dapat tepat waktu.
Sekali lagi. Peserta yang lolos jangan terkecoh dengan iseng orang jahat yang akan meminta ssuatu. Pengumuman ini gratis.
Senin, 19 Maret 2012
Murid Banyak Beban di Tas Punggung bakal Sakit Punggung yang Parah
Ini peringatan untuk orang tua dan guru. Jangan sampai murid dibebani rang bawaan yang terlalu berat di rangselnya karena akan menyebabkan sakit punggung yang parah. Kebiasaan buruk guru dalam menugasi siswa membawa buku yang banyak rasanya perlu segera dihentikan. Begitu pula, kebiasaan orang tua menyarankan anaknya untuk membawa buku yang banyak juga perlu dihentikan. Tas ransel sarat dengan buku sekolah menjadi penyebab
sakit punggung yang parah.
Dalam penelitian tersebut hampir dua pertiga siswa membawa tas yang menyalahi aturan 10% berat tubuh tersebut. Berat tas tersebut kemudian dianalisa terkait dengan sakit punggung. Mereka yang mengalami sakit punggung sedikitnya 15 hari dalam setahun diukur beban di dalam tas mereka.
Anak-anak tersebut dibagi dalam empat kelompok berdasar beban tas mereka. Mereka dengan tas terberat akan 50% kemungkinan mengalami sakit punggung ketimbang mereka dengan tas teringan.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa perempuan mengalami lebih banyak persoalan dan meningkat seiring peningkatan usia. ''Banyak anak-anak bepergian dengan beban berlebihan di tas ransel mereka, yang bakan tak diijinkan untuk mereka yang sudah bekerja.'' (sumber:BBC Indonesia)
Anak lebih Suka Internet daripada TV
Telah terjadi pergeseran daya minat anak pada kondisi saat ini. Kalau era puluhan tahun lalu, anak lebih suka televisi dengan acara sinetron atau kuis, ternyata saat ini minat itu bergeser ke internet. Anak dapat berjam-jam jika sudah berhadapan dengan internet. Untuk itu, guru juga perlu memanfaatkan internet sebagai media belajar. Umpamanya, pelajaran dikembangkan melalui facebook, web, atau lainnya.
Pergeseran itu mengindikasikan bahwa anak lebih ke membaca teks daripada melihat gambar gerak. Nah, sekolah perlu menindaklanjuti kegemaran membaca teks di internet ke tradisi membaca teks keilmuan.
Hal itu seperti dilansir BBC Indonesia, yang menyatakan bahwa keberadaan televisi di kamar anak-anak di Inggris menurun dan digantikan oleh piranti bergerak yang bisa mengakses internet.
Survei Childwise menunjukkan 61% anak berusia
tujuh hingga 16 tahun memiliki telepon genggam yang bisa dipakai untuk
berselancar di dunia maya.Anak-anak tidak lagi terpaku dengan jadwal dari berbagai stasiun televisi. Dewasa ini mereka lebih suka mengakses acara televisi melalui komputer atau telepon genggam, yang bisa diakses kapan saja. Sebelum berangkat sekolah, anak-anak lebih mungkin ditemui bermain dengan telepon genggam dibandingkan menonton televisi.
Ketika mereka tiba kembali di rumah di sore hari, alih-alih menonton televisi, mereka lebih suka berada di depan layar komputer untuk mengakses internet. Ketika membaca di rumah, besar kemungkinan mereka melakukannya melalui layar, bukan buku atau majalah. Pemakaian telepon genggam tidak berhenti sampai di sini. Ketika berada di tempat tidur, 32% anak-anak yang disurvei mengaku masih menggunakan piranti ini. Seiring dengan perkembangan teknologi, keberadaan komputer model lama kini digantikan oleh komputer jinjing dan tablet.
Guru dengan begitu, harus mahir dalam menggunakan internet dengan segala programnya jika tidak mau ketinggalan zaman. Anak harus diikuti pola perkembangan pikiran dan tradisinya. Lalu, guru mengarahkan ke tujuan belajar yang sebenarnya. (Sumber: BBC Indonesia)
Minggu, 18 Maret 2012
Sertifikasi Guru 2012: Skor Tertinggi UKA Guru SLB Diraih Jawa Barat
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
(Mendikbud) Mohammad Nuh menilai guru sekolah luar biasa (SLB) di Jawa
Barat memiliki prestasi luar biasa. Hal ini merujuk pada nilai tertinggi
yang diraih guru SLB Jawa Barat dalam Ujian Kompetensi Awal (UKA) 2012.
"Guru-guru SLB dari Jabar berkualitas baik, terbukti dengan nilai rata-rata hasil UKA 2012 yakni sebesar 65,78," katanya dalam jumpa pers pemaparan hasil UKA di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Jumat.
Nilai tersebut, menurut Menteri, cukup jauh dari rata-rata nasional yaitu 49,07. Setelah Jabar, nilai guru SLB lainnya oleh Nusa Tenggara Barat yakni 48,39 dan Bangka Belitung yakni 47,35 persen. Untuk nilai terendah diperoleh Aceh dengan 23,38 persen.
"Semakin tinggi tingkat pendidikan guru SLB, maka kualitasnya cenderung naik," katanya.
Urutan 10 peserta dengan nilai UKA dari yang tertinggi; Isma Mulyani dari SLB BC YGP BL Limbangan, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 95; Sepdi Juandi dari SLB Al-Ghifari, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 94; dan Ade Mulyana dari SLB BC YGP BL Limbangan, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 94.
Selanjutnya, Rudi Senjaya dari SLB BC YGP BL Limbangan, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 94; Nina Sumarlina, dari SLB C YKB Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 94; Yadi Hartono Setia Putra dari SLB YPK Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jabar dengan nilai 94; dan Rahmawati Sadiah dari SLB N B Garut, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 93.
Selain itu, Dirman Sudirman, dari SLB Muhammadiyah Bayongbong, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 93; Agus Haerul Jamaludin dari SLB Aisyiyah, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar dengan nilai 93; dan Ecin Kuraesin dari SLB Sindangsari Cikoneng Kabupaten Ciamis Jabar, dengan nilai 93.
Ia menambahkan pihaknya akan memberi penghargaan kepada para guru dengan nilai UKA terbaik agar mereka termotivasi.
UKA 2012 diikuti oleh 285.884 peserta dari berbagai tingkatan guru dari 33 provinsi di seluruh Indonesia. Tujuan UKA 2012 adalah untuk meningkatkan dan memastikan kesiapan guru dalam mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG). (sumber: Republika.co.id)
"Guru-guru SLB dari Jabar berkualitas baik, terbukti dengan nilai rata-rata hasil UKA 2012 yakni sebesar 65,78," katanya dalam jumpa pers pemaparan hasil UKA di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Jumat.
Nilai tersebut, menurut Menteri, cukup jauh dari rata-rata nasional yaitu 49,07. Setelah Jabar, nilai guru SLB lainnya oleh Nusa Tenggara Barat yakni 48,39 dan Bangka Belitung yakni 47,35 persen. Untuk nilai terendah diperoleh Aceh dengan 23,38 persen.
"Semakin tinggi tingkat pendidikan guru SLB, maka kualitasnya cenderung naik," katanya.
Urutan 10 peserta dengan nilai UKA dari yang tertinggi; Isma Mulyani dari SLB BC YGP BL Limbangan, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 95; Sepdi Juandi dari SLB Al-Ghifari, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 94; dan Ade Mulyana dari SLB BC YGP BL Limbangan, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 94.
Selanjutnya, Rudi Senjaya dari SLB BC YGP BL Limbangan, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 94; Nina Sumarlina, dari SLB C YKB Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 94; Yadi Hartono Setia Putra dari SLB YPK Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jabar dengan nilai 94; dan Rahmawati Sadiah dari SLB N B Garut, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 93.
Selain itu, Dirman Sudirman, dari SLB Muhammadiyah Bayongbong, Kabupaten Garut, Jabar dengan nilai 93; Agus Haerul Jamaludin dari SLB Aisyiyah, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar dengan nilai 93; dan Ecin Kuraesin dari SLB Sindangsari Cikoneng Kabupaten Ciamis Jabar, dengan nilai 93.
Ia menambahkan pihaknya akan memberi penghargaan kepada para guru dengan nilai UKA terbaik agar mereka termotivasi.
UKA 2012 diikuti oleh 285.884 peserta dari berbagai tingkatan guru dari 33 provinsi di seluruh Indonesia. Tujuan UKA 2012 adalah untuk meningkatkan dan memastikan kesiapan guru dalam mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG). (sumber: Republika.co.id)
Sertifikasi Guru 2012: Skor Tertinggi UKA Terpusat di Jawa-Bali
Sangat terlihat bahwa kompetensi guru di Indonesia tidak berimbang. Guru berkompetensi baik berada di Jawa dan Bali. Hal itu dapat dilihat dari hasil UKA 2012 yang menyatakan bahwa 10 besar skor tertinggi diperoleh kabupaten dan kota di Jawa dan Bali.
Hasil itu tentunya dapat menjadi renungan untuk melakukan pembinaan guru lebih lanjut. Dengan begitu, pendidikan di Indonesia dapat merata. Ke depan, guru baik harus merata di semua tempat di Indonesia. Jika tidak, pendidikan di Indonesia amat berbahaya.
Seperti yang dilansir Garduguru sudah mengumumkan 10 provinsi dengan perolehan hasil UKA dengan hasil tinggi. Berikut ini, disampaikan 10 kabupaten/kota yang memperoleh skor tertinggi dalam UKA 2012.
Nilai rata-rata UKA secara Nasional adalah 42,25. Kabupaten Kota yang mendapatkan nilai rata-rata tertinggi melebihi rata-rata nasional adalah sebagai berikut:
- Kota Blitar sebesar 56,41,
- Kota Sukabumi sebesar 55, 88,
- Kabupaten Gresik 55,41,
- Kota Malang 53,71,
- Kabupaten Jembrana, sebesar 53,63,
- Kota Magelang 53,62,
- Kota Surakarta sebesar 52,49,
- Kota Pasuruan 52,30,
- Kota Denpasar sebesar 52,23, dan
- Kabupaten Banyumas sebesar 52,23.
(sumber:kemendiknas.go.id)
Hasil itu tentunya dapat menjadi renungan untuk melakukan pembinaan guru lebih lanjut. Dengan begitu, pendidikan di Indonesia dapat merata. Ke depan, guru baik harus merata di semua tempat di Indonesia. Jika tidak, pendidikan di Indonesia amat berbahaya.
Seperti yang dilansir Garduguru sudah mengumumkan 10 provinsi dengan perolehan hasil UKA dengan hasil tinggi. Berikut ini, disampaikan 10 kabupaten/kota yang memperoleh skor tertinggi dalam UKA 2012.
Nilai rata-rata UKA secara Nasional adalah 42,25. Kabupaten Kota yang mendapatkan nilai rata-rata tertinggi melebihi rata-rata nasional adalah sebagai berikut:
- Kota Blitar sebesar 56,41,
- Kota Sukabumi sebesar 55, 88,
- Kabupaten Gresik 55,41,
- Kota Malang 53,71,
- Kabupaten Jembrana, sebesar 53,63,
- Kota Magelang 53,62,
- Kota Surakarta sebesar 52,49,
- Kota Pasuruan 52,30,
- Kota Denpasar sebesar 52,23, dan
- Kabupaten Banyumas sebesar 52,23.
(sumber:kemendiknas.go.id)
Sertifikasi Guru 2012: Astaga! Guru S-2 Skor UKA Hanya 14
Keterlaluan. Ada guru SMP yang berijazah S-2 hanya mampu meraih skor 14 dalam UKA 2012. Tentu, hasil itu tidak pantas jika dibandingkan guru yang hanya S-1. Sampai-sampai, Menteri Nuh menambahkan, guru yang berskor rendah apalgi S-2, perlu perbaikan. Menurut Nuh, "Pada jenjang bertugas Sekolah Menengah
Pertama (SMP), guru yang memiliki latar belakang pendidikan S2 ada yang
mendapat nilai UKA sebesar 14". Selain itu, rata-rata guru SMP yang
berpendidikan S2 sebesar 51,3 dengan nilai UKA tertinggi sebesar 82.
Seharusnya, pendidikan yang lebih tinggi mendapatkan nilai UKA yang
lebih baik.
Pola yang sama juga terjadi pada jenjang bertugas
Sekolah Menengah Atas (SMA). Nilai UKA dari guru SMA yang berlatar
belakang pendidikan S3 sebesar 46,8 dengan nilai tertinggi 61. Nilai ini
tidak lebih baik dari nilai UKA dari guru yang berlatar belakang
pendidikan S2 yaitu sebesar 55,9 dengan nilai tertinggi 84,3.
Keteraturan peningkatan nilai UKA masih terjadi pada guru dengan latar
belakang pendidikan SMP sampai dengan S1. (sumber:kemendiknas.go.id)
Sertifikasi Guru 2012: Nilai Rata-Rata Pengawas Rendah
Nilai UKA pengawas sangat rendah. Nilai itu lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata UKA yang diperoleh guru. Dari 281.016 peserta UKA, sebanyak 606
peserta dari kategori jabatan pengawas memiliki rerata ujian paling
rendah dari kategori peserta guru TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB. Rerata
ujian pengawas adalah 32,58.
Berkait dengan hasil yang rendah itu, menteri M. Nuh menyampaikan observasi lanjutan terhadap para pengawas akan dilakukan. Tujuannya, penanganan yang tepat dapat segera dilakukan terhadap penyebab rendahnya nilai rerata tersebut. Observasi akan mencakup sistem perekrutan, usia, latar belakang pendidikan, kemampuan dasar pengawas.
Mendikbud mengatakan, para pengawas kebanyakan berada di usia pensiun. Ini berdasarkan hasil pengamatan secara umum di lapangan."Untuk itu perlu adanya observasi lanjutan agar dapat melihat kemungkinan hubungan usia pengawas dengan kompetensi atau yang lainnya," ujarnya.
Dengan kondisi yang seperti ini, kata Mendikbud, ada kemungkinan peserta akan diberi pelatihan, atau bahkan akan dibuat peraturannya.(sumber:kemendiknas.go.id)
Berkait dengan hasil yang rendah itu, menteri M. Nuh menyampaikan observasi lanjutan terhadap para pengawas akan dilakukan. Tujuannya, penanganan yang tepat dapat segera dilakukan terhadap penyebab rendahnya nilai rerata tersebut. Observasi akan mencakup sistem perekrutan, usia, latar belakang pendidikan, kemampuan dasar pengawas.
Mendikbud mengatakan, para pengawas kebanyakan berada di usia pensiun. Ini berdasarkan hasil pengamatan secara umum di lapangan."Untuk itu perlu adanya observasi lanjutan agar dapat melihat kemungkinan hubungan usia pengawas dengan kompetensi atau yang lainnya," ujarnya.
Dengan kondisi yang seperti ini, kata Mendikbud, ada kemungkinan peserta akan diberi pelatihan, atau bahkan akan dibuat peraturannya.(sumber:kemendiknas.go.id)
Langganan:
Entri (Atom)