Senin, 04 September 2017

Inovasilah Pembelajaran Berbicara

Pembelajaran berbicara merupakan pembelajaran yang paling tua karena sejak era Plato dkk. pembelajaran berbicara sudah menjadi tradisi mata ajar bagi para ksatria. Mereka didik untuk ber-Retorika yang baik ketika kelak menjadi pemimpin di depan rakyatnya. Pembelajaran retorika tersebut diajarkan dengan teliti dan simultan.

Sampai saat ini, pembelajaran berbicara terus dilakukan baik di bangku kelas maupun di masyarakat umum. Dalam pembelajaran berbicara, kesantunan berbicara, penataan gagasan, dan tampilan diri teramat diperlukan. Guru harus dengan tertib mengamati perkembangan kemampuan berbicara anak didiknya dengan baik. Dengan begitu, tujuan berbicara akan tercapai.

Dalam blog ini, Suyatno pernah menyebutkan bahwa sebagai sebuah keterampilan, berbicara yang baik diperlukan syarat yang harus dipenuhi oleh pembicara agar maksud dan tujuan berbicara dapat diterima oleh pendengar secara tepat tanpa ada persepsi yang menyimpang sedikit pun. Syarat itu terdiri atas (1) syarat isi pembicaraan, (2) syarat bahasa yang digunakan (saluran pesan), (3) syarat artikulasi dan kinestetik (mimik, bahasa tubuh, kode budaya), (4) syarat konteks, dan (5) syarat penggayaan pembicaraan. Syarat tersebut haruslah terintegrasi secara simultan sehingga didapatkan keterampilan bicara yang padu, apik, dan bermutu.

Ketika seseorang mencoba berkali-kali untuk berbicara di depan umum, komentar mereka rata-rata menyebutkan bahwa berbicara yang baik ternyata memerlukan perjuangan, sekali mencoba belum dapat dirasakan perubahannya, dan musuh utama adalah rasa kurang percaya diri yang berdampak pada tubuh yang gemetar.

Untuk memenuhi itu semua, sudah saatnya para guru memunculkan pembelajaran inovatif terhadap mata ajar berbicara. Melalui inovasi yang tiada henti, guru akan menemukan hasil pembelajaran yang lebih bermakna dan mudah diterima oleh peserta didik. Pembelajaran berbicara bukan pembelajaran yang diterapkan melalui ceramah. Pembelajaran berbicara itu pembelajaran praktik berbicara. Semakin siswa dilatih berbicara secara nyata dengan kontrol yang baik, tentu anak didik akan semakin mahir dalam berbicara. Sekali lagi, pembelajaran berbicara secara praktik perlu terus dilakukan melalui pola-pola inovatif.

Menu pembelajaran berbicara sangat banyak sebanyak manusia berbicara kepada orang lain. Menu itu adalah berpidato, debat, memimpin rapat, negosiasi, wawancara, presentasi, ngobrol, bercerita, mendongeng, melaporkan secara lisan, deklamasi, sambutan, briefing, pembawa acara, menjelaskan, dan berdialog.

Tugas sebagai calon guru tentu harus menguasai isi berbicara maupun metode mengajarkannya. Tugas pertama adalah menguraikan secara rinci, bagaimanakah uraian syarat-syarat berbicara bagi seseorang? Mengapa banyak orang merasa gagal dalam berbicara? Kemudian, apakah kekuatan bicara seseorang mencerminkan kecerdasan orang tersebut? Jawaban semua itu akan memperkuat seseorang dalam berbicara. Tugas kedua adalah menginovasi pembelajaran berbicara dengan cara memilih lima saja setiap orang dari sekian banyak pembelajaran berbicara (berpidato, debat, memimpin rapat, negosiasi, wawancara, presentasi, ngobrol, bercerita, mendongeng, melaporkan secara lisan, deklamasi, sambutan, briefing, pembawa acara, menjelaskan, dan berdialog). Buatlah pembelajaran inovasinya dengan menuliskan sintaksnya saja. Inovasi itu sesuatu yang baru. Buatlah sintaks yang sangat baru (di tempat lain inovasi itu belum pernah dilakukan). Bebaskan dirimu. Mainkan imajinasi liarmu. Berinovasilah mulai sekarang.

Tulislah di buku besar yang menjadi buku kebanggaan setiap kaum terpelajar dalam mencatatkan gagasannya. Selamat berinovasi.

Rabu, 03 Mei 2017

Guru Inovatif: Bunuhlah Rasa Takutmu

Apa yang menjadi penghalang utama bagi guru yang akan inovatif? Yang menjadi penghalang pertama guru inovatif adalah rasa takut. Rasa takut dalam diri guru melekat kuat di sanubarinya akibat budaya turun-temurun, tidak percaya diri, dan berada dalam roda rasa takut. Akhirnya, sampai mati pun, guru tidak pernah yakin bahwa dirinya dapat inovatif.

Rasa Takut Akibat Budaya Turun-Temurun
Secara turun-temurun, bangsa kita dijajah Belanda dengan pola menakut-nakuti melalui alat bernama siksaan, rampasan, dan pembuangan. Perilaku penjajah itu dilakukan terus-menerus sampai anak-cucu. Hanya yang diam, apa adanya, dan menurut sebagai pembungkus rasa takut akan selamat dari jahanam penjajah. Kemudian, rasa takut itu berubah menjadi sebuah senjata untuk selamat dalam hidup, baik bekerja maupun berkarya.

Sampai disebut sebagai kaum terbawah, inlander, dan hewan pun, nenek moyang kita terdiam dan seolah menerimanya. Intinya, daripada dijahati penjajah lebih baik diam seribu bahasa. Kemudian, akibat persekolahan yang dibuka Belanda, satu demi satu, bangsa Indonesia memupuk keberanian akibat refleksi diri yang bermuara pada kesedihan bangsanya diperlakukan sebagai sesuatu yang terhina. Padahal, pendidikan yang dibuka Belanda orientasinya bukan menciptakan pemikir tetapi menggandakan buruh yang sedikit mengerti untuk membantu Belanda. Namun, muncul satu-dua tokoh yang kelak mengubah bangsa menjadi merdeka.

Hanya saja, keberanian para tokoh untuk inovasi tinggi yang ditandai oleh kemerdekaan hakiki sebuah negara tidak turut serta mempengaruhi para guru yang jumlahnya lebih banyak. Sampai saat ini, para guru masih saja dihinggapi rasa takut. Rasa takut itu tercermin dari malu jika diejek orang lain, malu jika dimarahi orang lain, dan malu jika salah lalu berakibat fatal bagi dirinya.

Walhasil, jalan yang dipilih guru adalah menutupi rasa takut digunakan rasa malu sebagai penutupnya dan dikemas dengan apa adanya, statis, begitu-begitu saja asal mengajar seperti biasa. Jika pola tersebut dijalankan tentu pendidikan di Indonesia susah untuk menapaki sebuah perubahan. Perubahan pendidikan yang paling baik jika berangkat dari perubahan guru secara inovatif demi siswanya.

Rasa Takut akibat Tidak Percaya Diri
Rasa takut guru berikutnya disebabkan oleh tidak percaya diri jika dirinya mempunyai kemampuan. Seolah-olah, guru yang bersangkutan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan guru lainnya. Dia tidak cinta pada dirinya karena tidak percaya diri. Dirinya seolah hanya sebagai pengikut dan pengekor saja karena terlalu yakin bahwa orang lain pantas untuk diikutinya. Dalam dirinya, tidak ada secuil pun anggapan mempunyai kemampuan.

Padahal, dalam diri guru terdapat segumpal kemampuan yang spektakuler jika dipoles sedikit saja. Selama dia mengajar, pasti ada satu saja, sebuah pembelajaran yang terbaik menurutnya. Pembelajaran yang terbaik itu tentu jika terus ditekuni, dianalisis, dan diformulakan akan menjadi sebuah menu inovatif yang sanggup menyumbangkan bagi guru lain.

Hanya saja, tidak percaya diri sudah terlanjur membalut sikap diri. Ke mana-mana, dia selalu merasa bukan apa-apa dan tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Dia malu kepada orang lain yang lebih berani berunjuk prestasi. Lalu, alasan sibuk, tidak ada waktu, dan tidak bisa melakukan dijadikan sebagai menu alasan baginya.

Berada dalam Roda Rasa Takut
Guru yang seperti ini selalu berada dalam ruang rasa takut. Dia tidak mau keluar dari rasa takut itu. Seolah-olah dia menjadi sosok yang ditakdirkan sebagai sosok yang biasa saja dan apa adanya. Nasib dianggapnya sebagai biang yang tertuduh. Aku memang guru yang begini-ini.

Padahal, jika guru tersebut berani keluar dari kungkungan roda rasa takut, dia akan menemukan jalan keberanian untuk maju dan menghasilkan inovasi yang baik. Guru tersebut harus meilih keberanian daripada ketakutan. Dia pasti mampu untuk berani karena telah dibekali oleh gurunya dulu, dosennya dulu, dan kawan-kawannya untuk senantiasa maju.

Hanya saja, rasa takutnya lebih kuat dibandingkan rasa berani. Dia merasa nyaman berada dalam lingkaran roda rasa takut. Takut dan takut menjadi tameng untuk berlindung.

Bunuhlah Rasa Takut maka Inovasi akan Menjadi Milikmu
Untuk menjadi guru inovatif, jalan satu-satunya adalah membunuh rasa takut dari segala sisi. Bunuhlah rasa takutmu dengan cara paksaan. Rasa takut itu penyakit. Rasa takut itu racun yang akan membunuhmu pula. Jadi, beranilah melangkah. Jangan takut salah. Justru dengan kesalahan, guru akan menemukan resep untuk maju berikutnya.

Inovasi itu milikmu seperti engkau memiliki tangan dan kaki. Mulai sekarang berinovasilah dalam pembelajaran agar kelak guru disebut sebagai pembaharu. Lakukan dengan sepenuh hati dan tidak boleh takut salah. Indonesia itu sudah merdeka jadi isilah Indonesia dengan inovasimu. 

Cerpen: Dikejar dan Digoda Debar Jantung



Dikejar dan Digoda Debar Jantung
Oleh Suyatno

            Mencari rute baru yang menantang dan memberikan kesan bagi para penegak gampang-gampang susah. Jika rute itu jalan setapak yang terang benderang, tentu penegak akan dengan cepat melahap dan tiada dinikmati perjalanannya karena tanpa rasa. Padahal, rasa merupakan pemantik kekuatan selera jiwa. Jika rute itu baru dan belum ada seorang pun yang lewat tentu juga akan merepotkan pencari rute meskipun akan memberikan pengalaman baru bagi penegak yang akan lewat. Memang, alam terbuka bersifat netral. Alam terbuka menyediakan segudang sumber belajar dan bergantung manusia untuk memilih sumber belajar itu untuk tujuan yang diharapkan. Nah, dari dua pendapat itu, kami memilih rute baru. Ya, rute baru.
Kami putuskan pengembaraan akan sangat menarik jika dilakukan di hutan lindung karena mempunyai aneka jenis tanaman dan hewan jika dibandingkan hutan jati di sisi barat bumi perkemahan. Waktu itu, aku ditugasi bersama empat teman lainnya untuk memimpin pengembaraan penegak dengan menginap semalam di perjalanan. Kegiatan pengembaraan itu merupakan salah satu mata kegiatan dalam Perkemahan Peran Saka Jawa Timur 1990 yang diikuti perwakilan anggota saka di Bumi Perkemahan Bajul Mati, Banyuwangi. Ada 4.000 peserta yang dibagi-bagi ke dalam cluster yang waktu pelaksanaannya paralel dengan kegiatan lainnya.
Bumi Perkemahan Bajul Mati terletak di perbatasan Banyuwangi dengan Situbondo, 500 meter dari jalan raya Surabaya--Denpasar. Hutan jati melindungi lokasi. Sungai Bajul Mati melintasi dengan air yang malu-malu. Lokasi perkemahan bukan areal yang sudah jadi karena kami menempatinya berdasarkan luas lahan rata, teduh, dan dekat sungai. MCK dibangun alakadarnya. Lokasi dipetakan sekenanya. Pokoknya nyaman saja serinai wajah peserta. Seberang jalan, sisi timur terdapat hamparan Taman Nasional yang dirawat oleh negara.
Hutan lindung Baluran merupakan Taman Nasional yang unik di dunia karena mempunyai garis hijau dengan tanaman berdaun lebar yang seharusnya tidak tumbuh di kawasan Baluran yang kering dan tandus. Garis hijau itu selebar 400 meter memanjang dari bukit sampai pantai dengan burung beraneka jenis, seperti merak, jalak, elang, dan yang lainnya. Ada dua savana kering yang mengapit garis hijau itu. Di savana kanan dan kiri terdapat hewan banteng, babi, rusa, dan ayam hutan. Jika kita masuk ke hutan lindung itu, tentu petugas akan mencegat sambil menanyai tujuannya. Lalu, petugas dengan seragam hijau mentah itu memberikan sederet larangan dan keharusan. Jika kita memasuki hutan lindung itu, rasa takjub dengan cepat merasuki pikiran.
Berdasarkan hasil analisis tim pengembaraan, survei dilakukan siang hari dengan ancang-ancang jarak berjalan 3 km sampai ke pos pantai. Perbekalan disiapkan. Alat pencatat diutamakan. Jas hujan ponco dan matras tidur dibawa serta untuk sarana berbivak. Perjalanan dimulai.
“Permisi, Pak. Kami akan melewati semak dan jalan baru yang belum pernah dilewati karena peserta yang akan pengembaraan adalah usia remaja yang pilihan dari kwarcab se-Jatim,” kata Triadmidi salah satu anggota tim yang mendahului ucapanku.
“Boleh, Mas. Asalkan tidak merusak ya,” jawab petugas.
“Siap Pak!”
Aku segera mengeluarkan peta situasi. Petugas mencermati peta situasi itu. Jari ini menunjukkan perkiraan arah yang akan ditempuh sampai ke pos pantai. Petugas hanya tersenyum. Kami juga tersenyum.
Aku bertugas memainkan peta situasi. Triadmidi membuat peta pita. Budi dan Ekorejo membuka jalan dengan parang seperti Pahlawan Pattimura. Lalu, Purbo memasang tanda jejak dari tali plastik berwarna kuning yang diikatkan dengan simpul hidup agar mudah diambil lagi. Perjalanan dimulai.
Savana pertama mudah sekali dilalui karena hanya pohon jati dan rumput sepinggang. Untuk memberikan keasyikan perjalanan, kami memilih parit kecil untuk pintasan. Terlihat di kiri kanan, rusa menyampaikan salam dengan cara menegakkan kepala sambil berhenti merumput. Sesekali, Ekorejo iseng dengan menyambit rusa dengan batu kecil. Rusa berlari. Kami terus jalan. Sudah beberapa lagu didengungkan dengan suara rusak dan kacau seperti lalu lintas di Jakarta.
Tiba-tiba, kami terkejut melihat hutan di depan mata berwarna hijau, daun lebar, aneka pohon dataran rendah, dan burung-burung memainkan sayap sambil menyenggol dedaunan. Ada pohon rumbia, yang biasa dibuat untuk atap rumah orang Melayu zaman dahulu. Pohon rumbia biasanya tumbuh di tepi sungai dekat muara. Ada pohon talas besar. Pohon lainnya memberikan perpaduan warna hijau menyegarkan. Tanah basah. Sepatu memberikan rasa sejuk di kulit kaki. Udara segar.
“Inilah yang dinamakan sabuk hijau Baluran,” kataku menggurui.
“Sip. Kita santai dulu sambil minum dan memperbaiki peta pita yang bergaris sekenanya,” kata  Triadmidi. Kami pun tak kuasa membantahnya. Duduk di tepi garis hijau dengan santai.
Tanggung jawab mengingatkan kami untukberkelana lagi menyusuri hutan demi perjalanan peserta besok. Tali sudah terpasang berjajar dan meliuk-liuk sesekali hilang dari pandangan ketika kita melihat ke belakang. Sesekali Purbo memanjat pohon untuk memasang tali jejak.
Garis hijau dengan sungai gemericik terlewati. Kami seakan memasuki gerbang neraka lagi. Kering, berbatu, dan pohon jati menyapa kembali. Kami berjalan terus sambil memata-matai sungai kecil untuk pintasan agar perjalanan tidak menjenuhkan.
Ketika Budi membabat semak belukar, dengan kilatnya menyembul babi. Budi kaget. Kami pun kaget. Kami lari melebihi pelari nasional. Semakin kami lari, semakin babi memburu pelarian. Segerombolan babi itu mengejar dengan kencangnya rombongan kami. Ekorejo terjatuh namun dengan cepat bangun dan berlari. Kami terus berlari sekilatnya untuk tidak terkejar babi-babi itu. Anehnya, semakin kami lari kencang semakin babi itu tampak berlari cepat. Hutan yang diam tiba-tiba riuh dengan suara ketakutan kami.
Kami belok ke kiri lalu terperosok di sungai kecil tak berair. Rupanya, babi tidak melihat kami terperosok. Babi terus berlari dan pada akhirnya berhenti dengan sendirinya. Kami terdiam sambil melototi babi-babi itu. Namun, nafas terus saja membunyikan klaksonnya seakan kami berlomba paduan suara.
“Babi kurang ajar!” teriak Triadmidi sambil menggelontorkan nafas yang tersendat-sendat seperti mobil mogok.
“Enaknya disate saja babi itu” kata Budi sambil mengacungkan parang seperti pemberani saja padahal arahnya ke awan.
“Huss. Tidak boleh ngomong begitu. Itu babi hutan yang sengaja dipelihara di taman ini. Apalagi, babi biasanya membawa daya magis tersendiri. Siapa yang mengancamnya, dia akan menemui kesialan,” kataku.
“Ngawur ah. Jangan ngomong begitu, ah,” sahut Budi ketakutan. Teman lainnya memasang mata untuk memastikan babi hutan sudah menjauh.
“Bagaimana ini? Rute tetap lewat sini ya?” kata Triadmidi sambil memasang meja dada lagi.
Aku jawab, “Iya, kita tetap menjadikan tempat ini sebagai pintasan. Andai ada babi, itu malah bagus bagi pengalaman peserta. Kakn, tidak ada sejarahnya orang dimakan babi. Yang ada babi dimakan orang,” jawabku.
“Haram, ah,” sahut Ekorejo. Kami pun tertawa semua. Perjalanan melaju dengan semestinya.
Keringat menghujani seluruh kulit. Nafas sudah kehabisan stoknya. Kaki susah diajak kompromi. Namun, pos pantai sudah mengibarkan bendera penerima tamu. Kami langsung berlari sekenanya menuju pos seperti di peta situasi. Perkiraan perjalanan tiada yang meleset. Tiga jam waktu tempuh terpenuhi.
Dengan seketika, tas rangsel kami jatuhkan begitu saja ketika berada di halaman gubug  pos pantai dekat Pantai Bama. Tanpa dikomando, kami merebahkan badan seperti durian jatuh. Entah beralaskan apa saja, kami tak peduli. Minum terasa pelit. Udara terasa gelap. Tertidurlah kami secara serentak seperti tentara baris. Aku bangun seketika setelah teman berteriak, “Rangsel kita hilang!”
“Ha? Rangsel hilang semua!” teriak Budi.
“Kurang ajar. Ada maling!” kata Ekorejo sambil menghunus parang.
            Sekonyong-konyong, kami menyebar mencari rangsel yang dimaksud sambil mencari jejak kaki dan jejak barang yang tertinggal. Nol hasilnya. Tidak satu pun tanda ada sang pencuri.
Tiba-tiba, dari atas ada suara daun bergesekan. Kami mendongak ke atas.
“Itu tas kita,” kata Budi.
“Mana?”
“Itu dipegang kera,” jerit Triadmidi.
Sontak, kami semua mendongak seperti menghormat bendera tiang tinggi dari dekat. Ternyata, ada banyak kera berbuntut panjang dengan pongahnya memegangi rangsel kami. Ada lima rangsel yang mereka pegangi seakan kiriman makanan yang lezat baginya. Mereka terlihat tersenyum sambil mengoceh entah apa artinya.
            Kami mencari akal. Batu kanan kiri ludes kami ambil. Kami melempar seperti anak desa. Ternyata lemparan kami tanpa energi. Batas atas masih jauh dari sasaran. Tiba-tiba, teman kami melemparkan ranting besar dengan sekuatnya. Kena batang pohon sehingga menimbulkan suara keras. Kera berlarian. Rangsel berguguran. Tanpa diperintah. Rangsel kami periksa seperti polisi memeriksa surat kendaraan. Teliti sekali pemeriksaan itu. Tidak ada satupun kerusakan. Kami tersenyum bersama.
            Rangsel diikat jadi satu di batang pohon bagian bawah. Segera, kami mandi di Pantai Bama. Asyik juga ternyata di pantai tengah hutan tanpa ada satu pun orang. Kami semua mandi gaya tarzan dengan selembar celana dalam.
            Diskusi rute dijalankan. Pantai menjadi pos istirahat yang diberikan jam sangat panjang karena tidak berbahaya dengan ombak gadis romantis dengan rambut yang tergerai perlahan.
            Ini rute pengembaraan yang sangat bagus karena penuh tantangan. Tantangan alam dan tantangan hewan terbungkus dengan alamiah. Tantangan itulah yang memberikan daya dukung bagi kemenarikan pengalaman peserta yang sekaligus memberikan kemampuan tersendiri bagi peserta. Kemampuan pengamatan, cekatan, daya tanggap, dan tentunya kerja sama tim.
            Kami tidak bercerita kalau dikejar babi. Kami pun merahasiakan kalau rangsel sempat disenangi kera. Kami hanya mencatat sejumlah hewan yang ada di tengah perjalanan agar peserta berhati-hati.
            Esoknya, ada 500 penegak dibagi per kelompok berjalan menyusuri rute tali kuning. Mereka sangat senang. Meskipun, sesekali tangan peserta meraba sayatan semak. Mata memutar 180 derajat memburu tanda jejak. Bivak berjajar seperti tawon mengitari sarangnya di kanan kiri pos pantai. Kera heran sekali sambil memayungi bivak dari sisi pohon tinggi. Pantai Bama seakan menyambut dengan gembira. Ombak mendeburi badan para penegak. Pengembaraan yang asyik bagi penegak.

(((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((

Jumat, 28 April 2017

Mencari Akar Pendidikan Indonesia

Sebenarnya, ada nggak sih akar pendidikan Indonesia? Jawabnya, pasti ada akar pendidikan Indonesia. Alasannya, Indonesia merupakan negara yang dibangun dari sejarah budaya peradaban Indonesia yang konon sudah ada sejak lama, bahkan sebelum masehi. Tentu, dari sejarah budaya itu terdapat pendidikan yang dipakai untuk menularkan peradaban bagi generasi berikutnya oleh warga Indonesia waktu itu. Begitu pula, dahulu kala sudah ada kantong-kantong pendidikan bagi anak-anak raja yang dipersiapkan sebagai putera mahkota yang terdidik karena akan menjadi pengayom rakyatnya.
Siapakah yang mendidik Raja Mulawarman sehingga menjadi penguasa di negerinya? Siapa pula yang mendidik Raja di Kerajaan Sriwijaya sehingga mampu menjadi negara bahari yang unggul di waktu itu? Lalu, siapa pula yang mengajari Gajahmada menjadi seorang mahapatih yang ulung dan unggul menjaga bayangkara Majapahit? Bukankah tidak mungkin, sosok mereka itu datang tiba-tiba menjadi orang yang unggul. Mereka pastilah mengalami proses pendidikan sehingga menjadi tokoh yang ditokohkan oleh rakyatnya.
Jika proses pendidikan di waktu itu berjalan dengan baik, tentunya, pola pendidikan dapat dilihat dengan baik. Dalam proses pendidikan yang mereka jalani, pastilah ada tempat, metode, tujuan, dan mahaguru yang memegang tanggung jawab kurikulum pendidikannya. Dari situasi pendidikan peradaban masa lalu itulah, inti pendidikan yang khas Indonesia dapat dirumuskan.
Ketika waktu bergerak maju, muncul pula tokoh kerajaan seperti Raja Mataram, Sultan Fatahillah, Sisingamangaraja, Hasanudin, dan seterusnya. Tokoh itu tentu lahir dari proses pendidikan yang mantap dari pengasuhnya. Kemudian, Ki Hajar Dewantara di Jogjakarta, Imam Syafii di Bukit Tinggi, Nyi Ageng Serang di Banten, Kartini di Jepara, dan tokoh lainnya memberikan warna tersendiri terhadap pendidikan. Andai saja, pola mereka itu dirumuskan dengan jernih, tentu akan dihasilkan pola pendidikan yang mampu menyokong pendidikan khas Indonesia.
Selama ini, kita terlalu mudah mengadopsi pendidikan dari negara lain. Di permukaan memang negara yang diadopsi itu memunculkan keberhasilan. Namun, dari sisi budaya, adab, dan situasi lokus tentu ada yang memang tidak dapat diambil begitu saja. Negara itu bagus dalam pendidikan karena akar yang kuat sehingga model tersebut dapat mereka terapkan.
Oleh karena itu, sudah waktunya, Indonesia menjalani projek besar untuk merumuskan pendidikan yang berawal dari akar pendidikan bangsa sendiri. Kita perlu melakukan riset yang mendalam dan serius. Kemudian, hasilnya dapat menjadi tiang penyangga pendidikan di Indonesia.
Kita selama ini menganggap pendidikan model Ki Hajar Dewantara dianggap bagus namun kita tidak pernah secara serius menjalaninya sesuai dengan roh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Seolah-olah, kita hanya mengambil butirnya saja tetapi tidak serta merta dengan budaya dan adabnya secara baik. Begitu pula, pola pendidikan yang khas lainnya di Indonesia hanya dianggap baik namun tidak ada niatan untuk menerapkan sepenuhnya. Ataukah kita memerlukan Revolusi Pendidikan Indonesia?

Selasa, 25 April 2017

Jangan Mencari Air Mata


Jangan Mencari Air Mata

Oleh Suyatno

Naiklah ke kebon para bapa
Pala, coklat, dan langsa
Semua ada
Tapi jangan mencari air mata
Lalu, berendamlah ke laut jernih
Tiada ombak udara bersih
Perahu menidurkan kekasih
Tapi jangan mencari air mata
Minumlah kelapa muda
Di lapak memandang panorama
Melantunkan lagu merdeka
Tapi jangan mencari air mata
Rasakan percik embun pertama
Para bapa mendaki kebon segera
Para mama masak di belakang rumah
Tapi jangan mencari air mata

Leihitu, 26 Mei 2015

Pingin Nulis tapi Malas Menulis

Banyak orang kepingin menjadi penulis namun keinginan itu hanya di bibir saja tanpa ditindaklanjuti ke dalam tulisan. Mereka berkoar-koar selama waktu bergulir dan sejauh mata memandang namun tak sekecil pun tulisan dibuatnya. Jika menjumpai orang yang demikian itu biarkan saja dan berilah cukup senyuman. Dia akan paham bahwa kelemahan menulis dirinya ditutupi oleh keinginan diri yang diceploskan tanpa direalisasikan.
Padahal, menulis itu sangat mudah kalau dijalani dengan mudah. Bagaimana menjalaninya? Ambil laptop tulis apa saja yang menjadi keinginanmu. Jangan takut salah agar waktu dapat termanfaatkan dengan baik. Gunakan coretan awal sebagai rambu-rambu titik pijak dalam menulis. Ingatlah bahwa tulisan itu tidak sekali jadi sehingga kita tidak boleh takut salah. Tulis saja idemu ke dalam laptop.
Jangan pernah berpikir di ujung, yakni jadi buku lalu dijual dan mendapatkan uang. Bagaimana bisa dijual, buku saja belum ada. Bagaimana mencetak buku, tulisan saja belum punya. Oleh karena itu, ujung awal yang sangat diperlukan, yakni terdapat sejumlah tulisan.
Lupakan yang lain dan inagttlah janji diri tentang menulis. Berangkatlah dari keinginan diri yang harus dibuktikan lewat tulisan bukan dibuktikan lewat omongan. Lebih baik ada kesalahan tulisan daripada belum ada sama sekali tulisan yang salah. Menulis itu tindakan bukan angan-angan.
Kapan pun orang dapat menulis. Saat memasak, seorang ibu rumah tangga dapat menulis melalui ocehan tentang sesuatu yang direkam di hape. Setelah longgar, ibu tersebut dapat menuliskannya. Tulis apa saja yang ada di suara rekaman. Jangan diedit dulu. Setelah semua dituliskan, sang ibu rumah tangga itu mengedit. Lama-kelamaan, tulisan menumpuk dan jika diedit dapat menjadi sebuah buku. Itulah yang sering dilakukan ibu penulis yang sambil mengelola rumah tangga.
Jadi, yang terpenting adalah melakukan penulisan. Kemudian, tidak boleh takut salah. Setelah ada tulisan, editlah dengan ikhlas. Berikan ke orang lain untuk memberikan masukan. Ikuti masukan teman Anda. Kemudian, beranilah menerbitkaan buku itu.
Jangan takut bukumu layak terbit atau tidak. Yang menentukan layak terbit atau tidak itu orang lain dengan jaminan tertentu berkaitan dengan isi tulisan. Bahkan, jika bagus, penerbit akan menerbitkan konsep bukumu dengan cdara cepat dan menyisihkan buku lain yang siap naik cetak. Jadi, jangan takut bukumu diterbitkan atau tidak. Yang terpenting adalah menulis dan menulis. Selamat menulis.

Rabu, 12 April 2017

Guru Demam Menulis Buku

Saat ini, banyak guru berlomba-lomba menerbitkan buku agar dapat dinikmati oleh guru atau orang lain. Mereka mengikuti berbagai pelatihan cara menulis buku agar dapat membuat buku layaknya penulis buku lainnya. Bahkan, jarak dan waktu dilompatinya demi terwujudnya sebuah buku. Uasaha itu tentu perlu diapresiasi dengan baik.
Namun, akankah buku-buku yang dihasilkan itu dapat memberikan inspirasi bagi pembacanya? Tentu, jawabnya belum dipastikan karena motivasinya adalah menerbitkan lebih dahulu hasilnya kemudian. Pembaca terinspirasi atau tidak bukan tujuan seorang penulis. Tujuan seorang penulis adalah menuangkan gagasan agar terjadi kelegaan diri.