Minggu, 28 September 2008

Guru di Mata Mbok Siti (23)

Kicau burung prenjak itu sungguh-sungguh menggairahkan semangat pagi itu. Dari dahan ke dahan, berloncatan sambil berkicau khas, burung kecil itu. Aduh, tangan rasanya mau memegang burung itu. Mbok Siti tersenyum melihat wajahku yang mengikuti gerak burung prenjak dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, dan dari samping menelusup ke ranting terdalam.

"Itu burung bersahabat, anakku", ujar Mbok Siti sambil menyilakan aku duduk di beranda sebelah kanan rumah tepas kebanggaan. Dari burung kecil itu, kami terbiasa untuk membacanya bahwa sebentar lagi akan ada tamu, entah tamu dari mana. Dialah sebuah petunjuk. Petunjuk yang pasti, jauh sebelum dunia ini dihiasi telepon untuk mengabarkan sesuatu. "Jadilah petunjuk sesuatu sehingga dapat dibanggakan", ujarnya.

Guru juga seekor burung prenjak yang tidak pernah berhenti memberikan petunjuk dengan suara khasnya yang membedakan burung lain. Dalam memberikan petunjuk, guru tidak perlu jengah, lunglai, dan malas meski petunjuk itu tidak seberapa digunakan oleh murid-muridnya. Lama-kelamaan, murid akan paham bahwa petunjuk yang dikicaukan guru memberikan manfaat pasti bagi murid. Berilah murid suara khas guru yang dapat membekas di sanubari murid.

1 komentar:

komunitas arek japan mengatakan...

salam

satu hal yang tak pernah saya tahu, kenapa lagi-lagi harus mbok siti? Apakah tak ada yang lain? kenapa tidak pedagang krupuk atau loper koran atau petani dll?
saya salut dengan ke-intens-an anda mengupdate blog.
jika ada waktu singgahlah di gubuk yang saya asuh.
http://www.arekjapan.blogspot.com
sekian dulu.

salam

Akhmad Fatoni