Rabu, 02 April 2008

Guru Berhati Mulia


Oleh Suyatno

Masih adakah guru berhati mulia? Ah, pertanyaan konyol yang sangat retoris bagi logika dasar manusia. Betapa tidak. Semua yang disebut guru semestinya berhati mulia karena mengandung pengajaran dan pendidikan dalam hatinya. Bukankah guru itu bergerak di bidang pendidikan, yakni mengubah anak dari belum sadar menjadi sadar, dari brutal ke santun, dari penakut ke pemberani, dari kebohongan ke kejujuran, dan dari kegelapan ke pencerahan bagi anak. Di sisi pengajaran, guru senantiasa mengajak anak ke arah kecerdasan, yakni mengubah pikiran buntu anak ke pikiran jernih, dari bogoh ke pandai, dari tidak mampu ke kemampuan, begitulah seterusnya. Jadi, tidaklah mungkin guru itu jauh dari hati mulia.
Kalau memang semua guru berhati mulia, bagaimana seharusnya guru dapat bertindak di atas kemuliaan? Nah, permasalahan sebenarnya ada di kemuliaan dalam tindakan. Banyak penyandang kata guru atau berlabel guru tidak dapat memaknai hakikat guru seperti di atas. Ibaratnya, mereka hanya menyandang tas tapi tidak tahu isi dan pantas tidaknya menyandang. Banyak orang yang bertopeng guru namun hati dan pikirannya justru berlawanan dengan keguruan. Untuk itu, janganlah kaget jika muncul berita bahwa guru mencuri sepeda motor, menempeleng siswa, memerkosa siswa, mengumpat kepala sekolah, dan banyak bentu penyimpangan yang lain.
Penyimpangan yang dilakukan guru tentunya lebih banyak dipengaruhi oleh iklim ekonomi yang melingkupi saat ini di samping juga dipengaruhi oleh budaya yang lebih besar, yakni instan, jalan pintas, seolah-olah, dan bebas tanpa jati diri.
Oleh karena berpikir instan, guru terjebak oleh penyampaian materi pelajaran secara dangkal tanpa eksplorasi dan penguatan konsep ke siswa. Oleh karena budaya jalan pintas, guru mengajar hanya dengan melihat trik menjawab soal saja tanpa dikenalkan prosesnya sehingga siswa terbentuk menjadi generasi jalan pintas. Oleh karena budaya seolah-olah yang sangat menguat, guru juga terpengaruh dengan seolah-olah. Guru seolah-olah telah mengajar meskipun belum berkategori mengajar karena hanya menyuruh membuka buku halaman tertentu kepada siswanya.
Untuk itu, perlu pelopor dari guru sendiri untuk bergerak dan berjuang mengembalikan pamor guru. Guru perlu melakukan perbuatan yang kecil-kecil tetapi bermakna daripada besar justru merusak nama. Guru pelopor tersebut tentunya harus berangkat dari ketulusan dan keikhlasan kuat yang berjuang tanpa pamrih apapun. Adakah guru semacam ini?

3 komentar:

Eva mengatakan...

Saya sangat tertarik dengan kalimat "Di sisi pengajaran, guru senantiasa mengajak anak ke arah kecerdasan, yakni mengubah pikiran buntu anak ke pikiran jernih, dari bogoh ke pandai, dari tidak mampu ke kemampuan, begitulah seterusnya". Ketertarikan itu disebabkan keteringatan saya kepada delapan kecerdasan manusia yang memiliki kesimpulan bahwa manusia memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Bukankah dengan demikian sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa ada siswa 'bodoh' (ini dilihat dari teks bodoh ke pandai), namun harus dilihat dari kecerdasan lainnya. Boleh jadi siswa yang tidak cerdas dalam eksakta, memiliki kecerdasan di bidang musik. Jadi, saya sarankan dengan teks bahwa "guru sebagai penuntun untuk menuntun bakat siswanya".

kritikussastra mengatakan...

Saling memberi saran dan kritik ialh sebuah bentuk kepedulian yang berhahra!

Sudiku mengatakan...

tulisan2nya bagus, beberapa bisa menginspirasi. sekalian saya minta izin untuk tag tulisan2 bpk di blog saya ya! trima kasih sebelumnya. semoga kemanfaatannya semakin luas untuk org banyak.
(sudiku@yahoo.com/www.sudiku.blogspot.com)