Jumat, 22 Agustus 2008

Guru di Mata Mbok Siti (11)

Baru kali ini, aku diajak ke kebun belakang rumah Mbok Siti. Ternyata, aneka pohon menancap kuat di sana. Rindang, sejuk, dan damai merasuki pori-pori ini. Kicau burung bergantian tanpa henti.

"Burung-burung itu sejak lama menemani aneka pohon ini," jelas Mbok Siti sambil meraih rambanan untuk kambing peliharaannya. Burung itu mempunyai ciri sendiri-sendiri yang tidak dapat tergantikan dengan ciri yang lainnya. Coba saja, elang itu, dilatih untuk mengais-ngais tanah seperti burung puyuh, pastilah elang tidak akan mampu meneruskannya. Coba pula, puyuh dilatih untuk terbang tinggi, tentu, puyuh akan menghentikan napasnya. "Begitu pula, murid mempunyai ciri sendiri-sendiri yang khas baginya," tambah Mbok Siti.

Untuk itu, guru perlu mempelajari ciri-ciri khusus murid-muridnya sehingga dapat tepat sasaran. "Cara mengajar yang seragam bagi murid-murid, tampaknya sebuah cara yang mengingkari perbedaan manusia," jelas si Mbok. Menyelami ciri anak menjadi senjata mengajar yang tepat sasaran. Bukankah kecerdasan murid berbeda-beda berdasarkan potensi masing-masing?

1 komentar:

H. Wahib mengatakan...

aku jadi semakin bingung paaak ???
Gimana bisa ngajar dengan cara ngajar yang beda-beda untuk 40 siswa dalam kelas ?
kalo di TPQ dengan membawa Iqra satu satu mungkin bisa dilayani sendiri-sendiri. tapi dikelas ....??
sulit dech.
secara filosofi aku setuju, tapi prakteknya gimana niich ?