Senin, 14 Maret 2011

Guru di Mata Mbok Siti 99

“Mengapa baru datang, kamu langsung geleng-geleng kepala, anakku? Apakah kamu tidak suka dengan suasana rumahku pagi ini?” tanya Mbok Siti menyelidik.

“Maaf, Mbok. Bukan tidak suka tapi aku masih teringat dengan kejadian di jalan tadi. Aku lihat ada seorang ibu yang marah-marah sambil memukuli pantat anaknya sandal karena kenakalan anak itu”, jawabku. Bahkan, setelah dipukuli, anak itu malah lari kencang. Sang ibu juga mengejar dengan berlari lebih kencang. Suara sangat riuh yang bersumber dari jeritan seorang ibu.

“Anak nakal itu biasa, anakku”, kata Mbok Siti sambil menyilakan aku untuk duduk di atas tikar anyam merah hitam yang sudah lusuh terkena waktu.

“Tapi, Mbok. Susah lho menghadapi anak nakal itu”, sergahku dengan mantap.

“Semua anak itu pasti nakal”, jawabnya. Kalau tidak nakal berarti bukan anak. Anak nakal karena terjadi ketidaksesuaian antara kehendak orang tua dengan daya terima anak. Lihatlah pertemuan dua sungai dari alir yang berbeda, pasti keduanya akan menimbulkan gemuruh dan mewujudkan gelombang air yang mengayun keras. Namun, setelah kedua alir sungai bertemu dan berada dalam satu alir, air itu tenag kembali dengan menunjukkan kebersamaan irama perjalanan aliran.

“Nah, kesadaran yang ikhlas dari seoran guru dapat meredakan kenakalan sang murid”, kata Mbok Siti. Berilah kesederhanaan konsep yang berterima bagi murid sesuai warna, nuansa, dan kejiwaan murid. Guru harus masuk ke dunia murid dengan halus dan lembut tanpa alasan sekata pun. Batu yang keras akan juga lebur karena timpahan air yang lembut. Secara nalar, mana mungkin air yang lembut dapat memecahkan batu. Namun, secara nyata, air mampu memindahkan bahkan memecahkan batu sebesar apapun.

Tidak ada komentar: