Jumat, 29 Mei 2009

Cara Praktis Atasi Siswa Kesurupan

Oleh Suyatno

Kesurupan berasal dari kata bahasa Jawa yang berawal dari kata surup, artinya setelah sore sebelum malam. Keadaan saat itu langit memerah, matahari sudah tidak tampak, ayam pulang ke kandang, mobil menggunakan lampu kota, anak-anak sudah mandi dan bersiap-siap sembahyang, dan sekawanan burung mulai menempati dahan-dahan peristirahatan. Itulah yang namanya pergantian antarwaktu dan antarsuasana.

Nah, kesurupan berarti perubahan dimensi persepsi dari nyata ke tidak nyata akibat daya bayang mata yang bertumpu pada rekaman bawah sadarnya. Lihatlah, seorang anak dengan tiba-tiba mengatakan bapak kepada orang yang tidak dikenal karena bisa jadi postur orang itu sama dengan bapak aslinya. Setelah, diingatkan kalau orang itu bukan bapaknya, anak itu langsung menyadarinya. Artinya, anak itu kembali ke alam sadarnya.

Kesurupan pada siswa terjadi karena kebiasaan guru yang mengajar selalu menggunakan daya bayang siswa. Guru tidak pernah konkret dalam mengajar karena hanya dibungkus dan diantarkan dengan ceramah. Siswa disuruh membayangkan terus-menerus. Dampaknya, kebiasaan membayangkan tersebut beralih ke sesuatu yang dilihatnya dikembangkan ke bayangan lainnya sehingga siswa kesurupan.

Cara praktis untuk mengatasi siswa yang seperti itu adalah Pertama, kejutkan dengan memberikan aanatara lain teriakan, siraman air, pijatan kaki atau tangan, dan apa saja yang menyebabkan siswa kesurupan terkejut. Dengan begitu, siswa akan segera mengalihkan daya bayangnya ke bayangan normal. Kedua, segeralah dibawa ke tempat senyap yang berjauhan dengan lokasi kesurupan agar siswa mendapatkan situasi lain sehingga daya bayangnya hilang. Ketiga, segera diberikan air minum untuk mengalihkan daya bayangnya.

Cara pencegahan agar tidak terjadi kesurupan. Pertama, guru harus memberikan contoh konkret dengan media konkret sehingga siswa tidak banyak membayangkan. Kedua, hiaslah kelas dengan pajanan yang faktual dan nyata sehingga tidak berkesan menakutkan. Ketiga, jangan menakut-nakuti siswa karena siswa lain akan menggunakan solidaritas dengan cara menjerit, melotot, pingsan, dan apa saja akibat mereka takut dengan gurunya. Keempat, guru harus selalu terbuka, bersahabat, dan buatlah siswa tidak takut kepada guru.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ooo... berarti murid saya kesurupan dulu gara-gara itu ya, Pak?

Btw, kemarin minta maaf ya, Pak, saya tidak bisa mengikuti workshop sampai selesai karena ada keperluan penting.

Support Pak Yatno sangat saya butuhkan...

Edi Purwanto
http://www.edipsw.com/