Kamis, 14 Mei 2009

Gaya Bersekolah Cawapres Boediono

Oleh Suyatno

Boediono, gubernur bank Indonesia, mantan menteri koordinator ekonomi era SBY dan menteri ekonomi era Megawati, dipilih oleh calon presiden SBY untuk mendampingi sebagai calon wakil presiden. Pemilihan itu merupakan kejutan karena masih banyak yang antri dari beberapa partai politik dengan alasan koalisi. Tentu, Boediono mempunyai kelebihan yang ditangkap oleh SBY dengan kuat. Kelebihan itu dikalkulasi berdasarkan pemerintahan lima tahun ke depan dan era 2014. Tentu, kelebihan itu sedikit banyak ditentukan oleh gaya bersekolah Boediono saat masih menjadi siswa.

Menurut detiksurabaya.com (14 Mei 2009), boediono adalah orang yang kalem dan tenang.Itulah salah satu alasan SBY memilih Boediono sebagai pendampingnya. Jejak kesederhanaan juga melekat pada pria kelahiran Blitar, 25 Februari 1943 ini. Jejak itu setidaknya tampak dari rumah masa kecil doktor ekonomi bisnis lulusan Universitas Pennsylvania Amerika ini. Kediaman Boediono di Kota Blitar di Jalan Dr Wahidin No 6, Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjen Kidul.

Jika gaya Boediono kalem dan tenang, dapat dipastikan bahwa gaya bersekolah Boediono juga kalem dan tenang. Hal itu sejalan dengan tipe anak pertama dari tiga bersaudara yang lebih cenderung "Ngemong" adik-adiknya. Di kelas, saat SMA, Boediono masuk di program IPS. Bekal ilmu keekonomiannya berarti sudah menjadi angan-angan sejak di bangku sekolah.

Jalan kaki menjadi gaya bersekolah Boediono karena saat SMA, dia tidak memiliki sepeda motor. Padahal, SMA 1 Blitar sangat jauh dari rumah Boediono. Makna di balik jalan kaki adalah sang siswa itu menerima keadaan, penuh perjuangan, dan bergerak tiap pagi untuk mendapatkan ilmu dari gurunya. "Saya tahu persis dia itu tidak memiliki sepeda motor dan kalau ke sekolah mesti jalan kaki. Padahal sampeyan tahu sendiri berapa jarak rumahnya dengan sekolah," kata Sjamsijah, salah satu teman sekolah Boediono. Selain sederhana, Boediono juga dikenal sebagai sosok yang sangat pendiam dan terkesan tertutup. "Setahu saya Bu Sis (panggilan ibu kandung Boediono) itu pekerjaannya buka toko pakaian, bapaknya juga. Makanya dia sederhana dalam menjalani kehidupannya," ujar Sjamsijah.

Hal senada juga diungkapkan oleh Prijanto, teman sekolah Boediono yang lain. Menurutnya, selama 3 tahun menjalani pendidikan di SMA Negeri 1 Blitar tak sekali pun Boediono menaruh buku pelajarannya dalam tas sekolah. "Saya nggak tahu memang nggak punya atau sengaja. Jadi kalau sekolah bukunya digulung dan diletakkan dalam saku belakang celana. Tapi ya nggak tahu kenapa dia itu kok justru sangat pintar dan selalu berprestasi," ujar Prijanto tak habis pikir.

Ingatan setia merupakan tipe Boediono jika sekolah tanpa membawa buku banyak dan hanya satu buku untuk semua pelajaran. Ingatan setia itulah yang membingkai alam pikir Boediono sampai pada puncak kariernya. Jadi, guru juga perlu memahami bahwa siswa mempunyai aneka ragam gaya berpikir. Jika gaya berpikir itu difasilitasi dengan baik, tentu siswa akan berkembang sesuai dengan potensinya.

Boediono memulai kariernya sebagai dosen UGM. Posisinya terus menanjak setelah dia bergabung dengan Bank Indonesia. Kursi menteri mulai dipegang pada 1998 sebagai Menneg PPN/Ketua Bappenas pada era BJ Habibie, Menteri Keuangan di zaman Megawati (2001-2004), Menko Perekonomian era SBY (2005-2008) dan Gubernur BI (2008) hingga sekarang.

Tidak ada komentar: