Bagi orang dewasa, menghapalkan sembilan metode kepramukaan dengan konsep sekaligus tentu sangat sulit. Namun, kesulitan itu dapat diatasi dengan penggunaan metode dan media yang mampu membantu peserta menghapal nama metode sekaligus maknanya. Metode itu bernama lempar bola satu ucap dengan media bola plastik seukuran bola sepak.
Saat itu, pukul 10.00, saya ajak peserta ke halaman aula Balai Diklat Pertanian, Saree, Aceh Barat. Mereka, sejumlah 48 orang, saya minta membuat lingkaran kecil. Saya mengawali dengan menyebutkan satu per satu pilar metode kepramukaan dengan rincin konsepnya. Kemudian, sengaja satu pilar belum saya sebutkan. Peserta menyebut ulang nama metode pilar demi pilar. Sekiranya, mereka dapat mengulangi nama tersebut, satu metode yang masih belum disebut itu, saya tambahkan. Berkali-kali, peserta selalu kurang ketika menyebutkan secara lisan.
Kemudian, saya mengambil satu bola lalu kulemparkan ke salah satu peserta sambil saya meneriakkan nama metode kepramukaan. Lalu, yang menerima bola akan meneruskan sambil mengucapkan nama metode berikutnya ke salah satu temannya. Putaran pertama banyak yang tidak hafal. Ada peserta yang mencatatkan nama metode itu ke telapak tangan. Dia membaca dari telapak tangan kemudian melemparkan bola ke temannya. Saya biarkan saja cara seperti itu karena itu juga cara untuk menghafal.
Kemudian, lemparan bola saya tambah menjadi dua. Saling-silang lempar dilakukan peserta dengan suara lantang. Bola kemudian saya tambah sampai tujuh untuk dilemparkan ke peserta. Ternyata, peserta tambah bingung dengan nama metode karena kecepatan lemparan dari bola-bola yang lain ke dirinya. Peserta sangat senang dan mulai hafal dengan nama metode secara cepat.
Permainan saya lanjutkan ke tiap kelompok dengan lingkaran kecil, masing-masing berjumlah 5--8 orang. Ada tujuh kelompok yang bermain. Tiap kelompok diberi bola satu. mereka melemparkan bola sambil meneriakkan nama metode dan konsepnya. Ada kelompok yang cepat melempar dan cepat menyebutkan nama metode kepramukaan. Jarak 10 menit, semua peserta mampu menghafalkan nama metode tersebut.
Permainan ditambah lagi dengan cara menyepak bola. Peserta harus berada di lapangan rumbut yang laus. mereka menyepak bola sambil meneriakkan nama metode yang berjumlah sembilan itu. Hasilnya, peserta dapat serta merta hafal nama metode dan konsepnya.
Kemudian, peserta saya ajak ke ruangan lagi untuk bermain tujuh penjuru angin. Mereka memberikan umpan sepuluh pernyataan ke teman lain dengan topik yang berbeda dari sebelumnya. Sealan-akan mereka lupa dengan permainan bola.
Ternyata, ketika sore hari, beberapa peserta saya tanya ulang nama metode yang dimainkan pagi hari dapat menyebutkan dengan runtut. Padahal, mereka sudah menghadapi topik lain lagi sehari itu. Kemudian, dua hari berikutnya, secara acak peserta saya tanyai, mereka dapat menyebutkan dengan runtut nama-nama metode kepramukaan yang jumlahnya sembilan itu.
Jadi, belajar sambil bermain dapat meningkatkan daya hafal peserta. bahkan, peserta mampu meingidentifikasi konsep dan prosedur metode itu dengan tepat. Padahal, orang dewasa itu adalah warga belajar yang susah mengingat. Pendekatan yang tepat bagi mereka adalah andragogi. Pendekatan itulah yang senantiasa saya pakai dengan model yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya.
KPL (Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Lanjut) 2014 yang dilaksanakan oleh Pusdiklatda Kwarda Aceh terbilang sukses. Dari tanggal 7--13 September 2014 peserta sangat menikmati. Mereka seolah tidak merasakan waktu lama. "Terasa sejenak saja KPL ini," kata peserta. Itu semua karena kemasan metode dan teknik yang direncanakan dengan apik. Selamat buat Kwarda Gerakan Pramuka ACEH.
Senin, 15 September 2014
Pembelajaran Berkesan
Saat ini, ketika dunia sudah di abad canggih, pembelajaran dengan cara guru berkuasa sudah tidak dipentingkan lagi. Guru yang jahat, berteriak, memarahi, siswa sebagai objek yang dianggap masih bodoh, dan bahkan menyakiti fisik anak sudah tidak musim. Pembelajaran yang seperti itu hanya terjadi ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda dahulu lalu diikuti oleh guru yang pernah dididik pada era penjajah itu.
Memang, pembelajaran zaman Belanda dahulu berkesan. Namun, kesan yang dimunculkan hanya kesan saat disakiti semata. Materi pembelajaran malah lepas dari rekaman otak. Tak jarang orang bercerita tentang kesan disakiti itu. Misalnya saja, ada yang mengatakan, "Saya dulu dijewer guru gara-gara tidak membawa buku PR." Ada pula yang mengatakan seperti ini. "Aku dulu dijemur di lapangan gara-gara terlambat." Begitulah kesan yang muncul dari mereka yang pernah mengalami perlakuan guru yang sok jagoan mengajar.
Era guru penjajah itu tentu sudah lewat. Saat ini pembelajaran harus menyenangkan bagi siswanya. Siswa yang senang suasana batinnya akan mampu menyimpan materi pelajaran yang diperoleh dalam alam bawah sadarnya. Buatlah pembelajaran itu berkesan dengan cara menyenangkan, bermedia kreatif, komunikatif, dan dekat dengan anak. Pembelajaran yang demikian itu merupakan perwujudan pembelajaran yang ramah anak.
Banyak contoh guru yang saat ini sudah melakukan pembelajaran ramah anak. Mereka menggunakan aneka model pembelajaran sesuai dengan konteksnya. Kasyu, ranting, botol bekas, kertas, daun, atau apa saja dapat dipakai sebagai media pembelajaran. Selamat mencoba.
Memang, pembelajaran zaman Belanda dahulu berkesan. Namun, kesan yang dimunculkan hanya kesan saat disakiti semata. Materi pembelajaran malah lepas dari rekaman otak. Tak jarang orang bercerita tentang kesan disakiti itu. Misalnya saja, ada yang mengatakan, "Saya dulu dijewer guru gara-gara tidak membawa buku PR." Ada pula yang mengatakan seperti ini. "Aku dulu dijemur di lapangan gara-gara terlambat." Begitulah kesan yang muncul dari mereka yang pernah mengalami perlakuan guru yang sok jagoan mengajar.
Era guru penjajah itu tentu sudah lewat. Saat ini pembelajaran harus menyenangkan bagi siswanya. Siswa yang senang suasana batinnya akan mampu menyimpan materi pelajaran yang diperoleh dalam alam bawah sadarnya. Buatlah pembelajaran itu berkesan dengan cara menyenangkan, bermedia kreatif, komunikatif, dan dekat dengan anak. Pembelajaran yang demikian itu merupakan perwujudan pembelajaran yang ramah anak.
Banyak contoh guru yang saat ini sudah melakukan pembelajaran ramah anak. Mereka menggunakan aneka model pembelajaran sesuai dengan konteksnya. Kasyu, ranting, botol bekas, kertas, daun, atau apa saja dapat dipakai sebagai media pembelajaran. Selamat mencoba.
Kamis, 12 Juni 2014
Guru Berprestasi bukan untuk Gengsi
Memang, predikat berprestasi akan menguatkan percaya diri bagi seseorang yang meraih predikat itu. Namun, percaya diri tersebut bukan untuk memperkukuh gengsi sehingga berlabelkan kesombongan dan kearoganan diri. Percaya diri akibat prdikat berprestasi justru lebih memperkuat sikap rendah hati, empati, dan berkarya lebih lanjut demi perkembangan masyarakat.
Salah satu peserta seleksi guru berprestasi dan berdedikasi tingkat Jawa Timur yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, 9--11 Juni di Hotel Purnama, Kota Batu, mengatakan bahwa dirinya bukan untuk meraih gengsi tetapi untuk menguatkan diri dalam menyebarluaskan pengalaman ke masyarakat sekolah dan secara umum. Pernyataan itu sangat menyentuh kalbu. Pernyataan itulah yang diinginkan oleh khalayak agar terjadi perubahan pendidikan ke arah kualitas.
Secara serentak, seleksi dilaksanakan dengan sistem portofolio, tes, wawancara, dan presentase dengan juri berbeda-beda sehingga validitas dan akuntabilitas dapat dipercaya. Guru, pengawas, kepala sekolah dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK mengikuti seleksi sesuai dengan jenjangnya. Kemudian, pemenang I berdasarkan hasil seleksi akan mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional. Wakil itu adalah sosok yang telah teruji dalam aspek pengalaman, pengetahuan, sikap, dan perilaku.
Peserta seleksi yang ikut di tingkat provinsi adalah pemenang di tingkat kabupaten/kota. Mereka berpredikat berprestasi di wilayahnya dengan seleksi tersendiri yang diadakan oleh dinas pendidikan setempat. Hasil seleksi itu dibawa ke tingkat provinsi untuk diadu lagi sehingga diperoleh prestasi yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Gengsi bukanlah cara yang tepat untuk membawakan diri di tengah masyarakat karena akan menghambat pola komunikasi antara biasa dan berpredikat. Memang seseorang memerlukan gensi bagi dirinya untuk menempatkan diri. Tetapi, gengsi itu bukan untuk dipertunjukkan ke orang lain. Gengsi yang ditunjukkan ke orang lain hanyalah sebuah wujud kesombongan.
Salah satu peserta seleksi guru berprestasi dan berdedikasi tingkat Jawa Timur yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, 9--11 Juni di Hotel Purnama, Kota Batu, mengatakan bahwa dirinya bukan untuk meraih gengsi tetapi untuk menguatkan diri dalam menyebarluaskan pengalaman ke masyarakat sekolah dan secara umum. Pernyataan itu sangat menyentuh kalbu. Pernyataan itulah yang diinginkan oleh khalayak agar terjadi perubahan pendidikan ke arah kualitas.
Secara serentak, seleksi dilaksanakan dengan sistem portofolio, tes, wawancara, dan presentase dengan juri berbeda-beda sehingga validitas dan akuntabilitas dapat dipercaya. Guru, pengawas, kepala sekolah dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK mengikuti seleksi sesuai dengan jenjangnya. Kemudian, pemenang I berdasarkan hasil seleksi akan mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional. Wakil itu adalah sosok yang telah teruji dalam aspek pengalaman, pengetahuan, sikap, dan perilaku.
Peserta seleksi yang ikut di tingkat provinsi adalah pemenang di tingkat kabupaten/kota. Mereka berpredikat berprestasi di wilayahnya dengan seleksi tersendiri yang diadakan oleh dinas pendidikan setempat. Hasil seleksi itu dibawa ke tingkat provinsi untuk diadu lagi sehingga diperoleh prestasi yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Gengsi bukanlah cara yang tepat untuk membawakan diri di tengah masyarakat karena akan menghambat pola komunikasi antara biasa dan berpredikat. Memang seseorang memerlukan gensi bagi dirinya untuk menempatkan diri. Tetapi, gengsi itu bukan untuk dipertunjukkan ke orang lain. Gengsi yang ditunjukkan ke orang lain hanyalah sebuah wujud kesombongan.
Wisuda dan Modal Menjadi Sosok yang Bermartabat
Oleh Suyatno
Sesungguhnya, modal yang teramat indah untuk menjadi
bermartabat adalah diwisuda. Diwisuda berarti diberikan kepercayaan legal untuk
menjalankan kemampuan diri secara bermartabat di tengah masyarakat. Jika kelak di
masyarakat ternyata sang sosok yang telah diwisuda berbuat cela dan ingkar dari
komitmennya, dia akan menemukan identitas negatif yang berlawanan dari predikat
bermartabat. Sebaliknya, sosok yang pernah diwisuda akan memperoleh cap
bermartabat apabila melaksanakan perbuatan yang diterima oleh masyarakat karena
berpikir positif, empati, berprestasi, dan memberikan arti bagi kehidupan.
Identitas positif dan negatif adalah pilihan dari sang sosok yang telah
diwisuda. Karena identitas diri di masyarakat adalah sebuah pilihan, tentu,
wisudawan Unesa akan memilih identitas positif dalam kondisi dan keadaan
apapun.
Wisuda adalah petanda dari sebuah babak dalam perjalanan
hidup sang sosok yang kelak akan beridentitas positif sehingga berpredikat
bermartabat. Petanda tersebut dibalut dalam sebuah momen Wisuda Unesa yang
diatur secara apik, prosedural, dan khidmat agar sang sosok menitikkesankan
pada petanda sehingga kelak akan melahirkan momentum bermanfaat. Untuk itu,
wisudawan kali ini, perlu mengabadikan momen ini dengan penuh kegembiraan,
kekhidmatan, dan keyakinan.
Kegembiraan merupakan dasar bagi keberlangsungan perjalanan
sang sosok dalam menapaki babak baru di masyarakat. Dengan kegembiraan,
inspirasi, kreasi, dan inovasi akan muncul dengan sempurna tanpa kegalauan
meski dalam kondisi serba susah sekalipun. Wisudawan Unesa, pasti, mampu
menempatkan kegembiraan sebagai dasar berkiprah dalam dunia sehingga menjadi
sosok yang bermartabat.
Kekhidmatan merupakan perwujudan dari proses berkonsentrasi
yang terfokus, ikhlas, dan bertanggung jawab. Dengan kehidmatan, sang sosok
akan mampu melahirkan karya dan kinerja dengan jernih, berbobot, dan disukai
oleh masyarakat. Meskipun berada dalam kegembiraan namun tidak khidmat, hasil
yang diperoleh akan tidak maksimal, kacau, dan terbagi-bagi sehingga menutup
tingkat keterfokusan diri. Modal bermartabat adalah kekhidmatan dalam setiap
kesempatan sekecil apapun.
Keyakinan merupakan perwujudan berpikir positif atas karya
dan kinerja yang telah, saat, dan akan dilaksanakan dalam diri sang sosok dalam
menghadapi kiprah diri di masyarakat. Keyakinan biasanya didasari oleh mimpi,
cita-cita, dan kehendak yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan diri.
Wisudawan Unesa akan dapat bermartabat jika mempunyai keyakinan yang teramat kuat
atas kesuksesan diri dalam menjangkau sosok yang bermartabat di masyarakat.
Senin, 09 Juni 2014
Kepemimpinan Panjat Pinang atau Panjat Tebing?
Ada dua hal yang perlu direnungkan dalam kepemimpinan, yakni
kepemimpinan panjat pinang atau panjat tebing. Kedua-duanya sama-sama ke
puncak dan mendapatkan hasil menjadi pemenang di ujung tertinggi.
Namun, tipikal keduanya sangat berbeda jauh.
Kepemimpinan panjat pinang dicirikan oleh kerja keras dengan cara menginjak teman di bawahnya untuk dapat meraih hadiah di ujung tiang. Dia tidak peduli di bawahnya menahan sakit atau tidak yang penting dapat menginjak bahu untuk berada di posisi yang lebih tinggi. Penonton hanya tahu yang paling atas. penonton tidak pernah mengerti betapa susahnya yang di bawah.
Kepemimpinan panjat tebing ditandai oleh usaha sendiri atas inisiatif menaklukkan tebing dengan alat dan potensi energi. Kawan lain akan membantu agar tidak terjadi kecelakaan yang menumbangkan langkahnya. Tapak demi tapak dilalui untuk menaikkan derajat ketinggiannya. Dia tidak akan pernah lelah sebelum berada di puncak. Kawan lainnya selalu diperhatikan karena kebersamaan yang dipentingkannya.
Panjat pinang lebih banyak menebar kesedihan bagi lainnya. Sedangkan, panjat tebing lebih memperhatikan keselamatan diri dan timnya. Keduanya berbentuk usaha menguatkan energi agar sampai pada puncaknya. Segala upaya dilakukan dengan cara yang khas antara pinang dan tebing.
Kepemimpinan sejati merupakan kepemimpinan yang mampu membahagiakan yang dipimpinnya. Itu berarti pola panjat tebing menjadi teramat penting. Seorang pemimpin tidak perlu mencederai orang lain hanya untuk keberhasilannya. Dia akan membantu orang lain dengan cara yang khas agar dapat ke puncak tebing bersama-sama.
Dalam konteks pilpres, kepemimpinan panjat tebing perlu ditekankan daripada kepemimpinan panjat pinang. Untuk itu, perlilaku menghujat lawan, menghitamkan orang lain, mencederai rasa kedamaian, dan membatasi persaudaraan harus dijauhi. Jangan sampai pilpres menunjukkan pembelajaran permusuhan.
Kita tentunya tidak menginginkan Pilpres ini memberikan pelajaran bagi generasi muda sesuatu yang buruk. Pembelajaran yang buruk itu adalah jika ingin menjadi pemimpin lakukan kampanye hitam. Jika ingin memimpin hujat saja lawanmu. Presiden hebat itu adalah orang yang mampu mempecundangi lawan dengan agitasi kesombongan. Pembelajaran buruk itu harus sama-sama dihindari dengan pemikiran yang negarawan.
Semua orang, termasuk calon presiden, mempunyai rasa damai dalam dirinya. Bahkan, keinginan dasarnya adalah membahagiakan rakyatnya. Untuk itu, kesantunan berbahasa, kejernihan berpikir, dan kenegarawanan yang hebat perlu diimplementasikan secara nyata. Kepemimpinan panjat tebing perlu dikembangkan lebih jauh. Indonesia adalah negara bangsa yang multietnis. Di situlah kesantunan menjadi jatidirinya.
Kepemimpinan panjat pinang dicirikan oleh kerja keras dengan cara menginjak teman di bawahnya untuk dapat meraih hadiah di ujung tiang. Dia tidak peduli di bawahnya menahan sakit atau tidak yang penting dapat menginjak bahu untuk berada di posisi yang lebih tinggi. Penonton hanya tahu yang paling atas. penonton tidak pernah mengerti betapa susahnya yang di bawah.
Kepemimpinan panjat tebing ditandai oleh usaha sendiri atas inisiatif menaklukkan tebing dengan alat dan potensi energi. Kawan lain akan membantu agar tidak terjadi kecelakaan yang menumbangkan langkahnya. Tapak demi tapak dilalui untuk menaikkan derajat ketinggiannya. Dia tidak akan pernah lelah sebelum berada di puncak. Kawan lainnya selalu diperhatikan karena kebersamaan yang dipentingkannya.
Panjat pinang lebih banyak menebar kesedihan bagi lainnya. Sedangkan, panjat tebing lebih memperhatikan keselamatan diri dan timnya. Keduanya berbentuk usaha menguatkan energi agar sampai pada puncaknya. Segala upaya dilakukan dengan cara yang khas antara pinang dan tebing.
Kepemimpinan sejati merupakan kepemimpinan yang mampu membahagiakan yang dipimpinnya. Itu berarti pola panjat tebing menjadi teramat penting. Seorang pemimpin tidak perlu mencederai orang lain hanya untuk keberhasilannya. Dia akan membantu orang lain dengan cara yang khas agar dapat ke puncak tebing bersama-sama.
Dalam konteks pilpres, kepemimpinan panjat tebing perlu ditekankan daripada kepemimpinan panjat pinang. Untuk itu, perlilaku menghujat lawan, menghitamkan orang lain, mencederai rasa kedamaian, dan membatasi persaudaraan harus dijauhi. Jangan sampai pilpres menunjukkan pembelajaran permusuhan.
Kita tentunya tidak menginginkan Pilpres ini memberikan pelajaran bagi generasi muda sesuatu yang buruk. Pembelajaran yang buruk itu adalah jika ingin menjadi pemimpin lakukan kampanye hitam. Jika ingin memimpin hujat saja lawanmu. Presiden hebat itu adalah orang yang mampu mempecundangi lawan dengan agitasi kesombongan. Pembelajaran buruk itu harus sama-sama dihindari dengan pemikiran yang negarawan.
Semua orang, termasuk calon presiden, mempunyai rasa damai dalam dirinya. Bahkan, keinginan dasarnya adalah membahagiakan rakyatnya. Untuk itu, kesantunan berbahasa, kejernihan berpikir, dan kenegarawanan yang hebat perlu diimplementasikan secara nyata. Kepemimpinan panjat tebing perlu dikembangkan lebih jauh. Indonesia adalah negara bangsa yang multietnis. Di situlah kesantunan menjadi jatidirinya.
Metode Pembelajaran Berbasis Pengalaman di Kepramukaan
Oleh Suyatno
Kepramukaan sangat jelas menggunakan metode pembelajaran berbasis pengalaman. Menurut WOSM dan Gerakan Pramuka Indonesia, metode kepramukaan dirinci menjadi alam bebas, belajar sambil melakukan, kiasan dasar, berkelompok, progresif (menarik dan menantang), sistem tanda penghargaan, berdasarkan kode kehormatan, keterlibatan orang dewasa, dan satuan terpisah. Dari rincian tersebut, terlihat bahwa pengalaman menjadi tumpuan pelaksanaannya.
Teori John Dewey, dalam pembelajaran berbasis pengalaman menyatakan bahwa belajar merupakan proses merekonstruksi pengetahuan melalui transformasi
pengalaman. Pembelajar akan mengaitkan pengalaman dengan berpikir. Seseorang akan belajar jauh lebih baik lewat
keterlibatannya secara aktif dalam proses belajar. Baden Powell menyebutkan bahwa kepramukaan bukanlah ilmu yang harus diajarkan dalam ruang yang kosong melainkan melalui pengalaman bersama antara anak dengan orang dewasa dalam suasana menyehatkan, menyenangkan, menghasilkan karya, dan menolong orang lain.
Antara teori John Dewey dan Baden Powell mempunyai garis yang sama dalam membelajarkan sesuatu melalui pengalaman. Anak akan tumbuh dan berkembang berdasarkan pengalaman belajar secara nyata.
Pembelajaran berbasis pengalaman menawarkan proses belajar berdasarkan epistemologi empiris. Kebutuhan lingkungan belajar diharuskan untuk mengembangkan dan membangun
pengetahuan melalui pengalamannya. Pengalaman tersebut menjadi modal melakukan refleksi dan observasi, mengkonseptualisasi dan menganalisis
pengetahuan dalam pikiran anak.
Pembelajaran berbasis pengalaman merupakan kombinasi memperoleh pengalaman dengan mentransformasi pengalaman. Pengalaman terjadi akibat proses langsung dan tidak langsung. Proses langsung terjadi melalui indera manusia. Proses tidak langsung terjadi melalui bentuk simbol (konsep, gambar, dan seterusnya). Pengalaman tersebut selanjutnya menjadi bekal untuk mentransformasikan pengalaman ke dalam pemikiran melalui refleksi, observasi, kiasan, asosiasi, abstraksi, cerita, dan sebagainya.
Pembelajaran berbasis pengalaman merupakan kombinasi memperoleh pengalaman dengan mentransformasi pengalaman. Pengalaman terjadi akibat proses langsung dan tidak langsung. Proses langsung terjadi melalui indera manusia. Proses tidak langsung terjadi melalui bentuk simbol (konsep, gambar, dan seterusnya). Pengalaman tersebut selanjutnya menjadi bekal untuk mentransformasikan pengalaman ke dalam pemikiran melalui refleksi, observasi, kiasan, asosiasi, abstraksi, cerita, dan sebagainya.
Meskipun menggunakan praktik nyata, pembelajaran berbasis pengalaman berbeda dengan pembelajaran berbasis struktural. Ciri belajar terstruktur adalah pemahaman konsep, praktik, dan penyimpulan. Sedangkan belajar berbasis pengalaman dicirikan oleh praktik nyata, refleksi, simbolisasi, dan penerapan untuk bentuk lain. Jadi, jika pembelajaran diawali oleh pencerahan awal bagi anak melalui ceramah singkat kemudian praktik, bukanlah belajar berbasis pengalaman.
Ada seorang pelatih kepramukaan dalam sebuah KMD (kursus menjadi pembina pramuka tingkat dasar) di Cibubur memprotes kawan sesama pelatih kepada saya. Sebut saja, dia itu Kak Js. Kak Js menyampaikan kalau kawannya memberikan gambar menara bambu tiga kaki lalu meminta peserta membuat seperti gambar dengan alat yang telah tersedia tanpa menjelaskan terlebih dahulu pengertian menara. Menurut Kak Js, yang benar itu dijelaskan terlebih dahulu cara membuat menara kemudian dipraktikkan. Saya menjelaskan dengan sederhana. Saya mengatakan bahwa kedua cara itu membelajarkan, yakni cara kawan Kak Js dengan cara Kak Js sendiri. Cara yang dilakukan kawan Js itu benar menurut pembelajaran berbasis pengalaman. Peserta tidak diberikan norma terlebih dahulu agar tidak terikat dengan norma tersebut. Inovasi dan kreativitas akan muncul dari kemampuan dalam trial and eror (uji coba). Selanjutnya, peserta akan dengan cepat belajar karena kesalahan yang diperbuat. Mereka akan menjadi rkeatif tanpa terikat dengan norma. Norma yang diterapkan adalah norma dari pikiran dan masa lalu mereka. Itulah pembelajaran berbasis pengalaman.
Kemudian, saran Kak Js juga benar tetapi menurut pembelajaran struktural. Pembelajaran itu biasanya ditandai oleh pengarahan (ceramah, penjelasan, atau istilah lain), praktik, dan penyimpulan. Itu juga langkah benar tetapi bukan langkah menurut pembelajaran berbasis pengalaman. Bagus mana? Menurut saya, pembelajaran kepramukaan lebih berbasis pengalaman karena dituntut oleh metode kepramukaan yang menyatakan belajar sambil melakukan. Perkembangan peserta akan lebih cepat meningkat jika dilaksanakan dengan pembelajaran berbasis pengalaman.
KMD untuk guru SMP se-Indonesia 2014 yang diselenggarakan oleh direktorat PSMP Kemendikbud di Cibubur selama dua gelombang membuktikan bahwa pola pembelajaran berbasis pengalaman sangat memberikan percepatan belajar. Peserta merasakan tidak pernah belajar namun sebenarnya belajar dengan intensif. Hal itu dibuktikan dengan skor pretes dengan rata-rata 45 meningkat menjadi rata-rata 75 saat postes. Peserta merasakan banyak pengalaman yang diperoleh dan membekas dalam pikiran dan hatinya. Mereka mampu melaksanakan kegiatan pionering, orientering, dan mountenering tanpa harus membaca buku-buku tentang itu. Sosialisasi sesama kawan cepat terjadi karena mereka berkemah. Keterampilan berkemah dijalani secara nyata sehingga menguatkan pemahamannya tentang berkemah.
KMD dirancang dengan siklus Concrete Experience (CE),, Refective Observation (RO), Abstract Conceptualization (AC), dan Active Experimentation (AE). Pada CE, peserta melakukan tindakan nyata yang dipandu oleh jadwal dan pelatih. Mereka melakukan pengalaman konkret bersama kelompoknya di alam (bumi perkemahan Cibubur) sambil berkemah. Mereka menghasilkan karya sebagai wujud keberhasilan belajar berupa berdirinya tenda, tempat sepatu, tempat memasak, gapura, menara, jembatan bambu, ikatan tongkat, gerakan berbaris, pengiriman pesan sandi, dan sebagainya. Atas hasil itu peserta mendapatkan penghargaan setiap malam secara berkelompok. Kemudian, kiasan dasar diberikan (konseptualisasi abstrak) setiap malam melalui kegiatan reflektif atas pengalaman yang telah mereka lakukan. Keesokan harinya, peserta melakukan AE untuk menguatkan dasar belajar mereka.
Metode kepramukaan memang harus didudukkan sebagai metode berbasis pengalaman. Dalam setiap pelatihan, pola pengalaman harus diterapkan sampai mendapatkan hasil yang maksimal. Itulah tantangan bagi pengelola Gerakan pramuka Indonesia.
Selasa, 13 Mei 2014
Pendidikan di Finlandia dan Korea Selatan di Kuliah S-2 Bahasa Indonesia Unesa
Betapa riuhnya sebuah kelas S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia semester 2 di kelas Pascassarjana Unesa. Hari itu, ada dua topik dipresentasikan oleh mahasiswa, yakni kelompok desain pembelajaran di Finlandia dan Korea Selatan.
Kelompok Finlandia disajikan oleh Mas Pana dan Mas Eko.
Mereka berdua mengeksplorasi informasi pendidikan modern yang berbasis guru. Konsistensi dan toleransi guru mengantarkan negara Finlandia menjadi berprestasi unggul tingkat dunia. Pertanyaan mahasiswa lain sangat beragam. "Bisakah itu diterapkan di Indonesia?; Terang saja berprestasi karena jumlah penduduk hanya 5 juta orang; Mereka konsisten sedangkan guru di kita, mana?: dan pertanyaan lainnya,".
Mahasiswa seakan terbius akan keinginan untuk menjadi Finlandia kedua di Indonesia. "Susah, karena kita berada di tingkat 80-an," ujar salah satu mahasiswa. "Kalau konsistensi tinggi, kita pasti dapat menyaningi Finlandia meskipun jumlah penduduk sangat banyak," ujar mahasiswa lain.
Lalu, kelompok kedua, yakni kelompok Korea Selatan menyajikan di depan kelas. Dikatakannya bahwa tingkat bunuh diri tinggi karena ketatnya pelajaran yang dituntut oleh sistem.
"Bagaimana tidak, dalam sehari siswa belajar dari pukul 08.00 sampai dengan 22.00 malam," kata Udin dan Berti sebagai penanggung jawab kelompok 2.
"Mana bisa sistem Korea diterapkan di Indonesia. nanti, akan banyak yang bunuh diri," ujar salah satu mahasiswa yang menyimak presentasi tersebut.
"Bisa saja, asal kita konsistensi atas sistem yang dikembangkan," jawab wakil kelompok. Diskusi dua topik sangat menarik. tentu, akan lebih menarik lagi jika diskusi itu melebar di luar kelas sehingga suatu ketika negara Indonesia naik peringkatnya.
Model Finlandia yang bertoleransi tinggi, manusiawi, dan kreatif sangat bagus. Begitu, pula model Korea Selatan yang sangat disiplin, konsisten dengan sistem, dan berbasis anak juga baik. Tentu, Indonesia akan menemukan modelnya sendiri yang mampu mengangkat prestasi anak-anaknya.
Mereka berdua mengeksplorasi informasi pendidikan modern yang berbasis guru. Konsistensi dan toleransi guru mengantarkan negara Finlandia menjadi berprestasi unggul tingkat dunia. Pertanyaan mahasiswa lain sangat beragam. "Bisakah itu diterapkan di Indonesia?; Terang saja berprestasi karena jumlah penduduk hanya 5 juta orang; Mereka konsisten sedangkan guru di kita, mana?: dan pertanyaan lainnya,".
Mahasiswa seakan terbius akan keinginan untuk menjadi Finlandia kedua di Indonesia. "Susah, karena kita berada di tingkat 80-an," ujar salah satu mahasiswa. "Kalau konsistensi tinggi, kita pasti dapat menyaningi Finlandia meskipun jumlah penduduk sangat banyak," ujar mahasiswa lain.
Lalu, kelompok kedua, yakni kelompok Korea Selatan menyajikan di depan kelas. Dikatakannya bahwa tingkat bunuh diri tinggi karena ketatnya pelajaran yang dituntut oleh sistem.
"Bagaimana tidak, dalam sehari siswa belajar dari pukul 08.00 sampai dengan 22.00 malam," kata Udin dan Berti sebagai penanggung jawab kelompok 2.
"Mana bisa sistem Korea diterapkan di Indonesia. nanti, akan banyak yang bunuh diri," ujar salah satu mahasiswa yang menyimak presentasi tersebut.
"Bisa saja, asal kita konsistensi atas sistem yang dikembangkan," jawab wakil kelompok. Diskusi dua topik sangat menarik. tentu, akan lebih menarik lagi jika diskusi itu melebar di luar kelas sehingga suatu ketika negara Indonesia naik peringkatnya.
Model Finlandia yang bertoleransi tinggi, manusiawi, dan kreatif sangat bagus. Begitu, pula model Korea Selatan yang sangat disiplin, konsisten dengan sistem, dan berbasis anak juga baik. Tentu, Indonesia akan menemukan modelnya sendiri yang mampu mengangkat prestasi anak-anaknya.
Jumat, 09 Mei 2014
Berkarya dari Kantin Unesa
Ternyata, kantin tidak sekadar tempat untuk menutup lapar bagi pengunjungnya dengan aneka makanan dan minuman. Kantin juga mampu menjadi pemicu kreativitas insan yang berada di dalamnya. Lihat saja, kantin Unesa telah membuktikan hal itu.
Dari pertemuan sore beberapa alumni muda yang hanya bermodal secangkir kopi dan jajanan, lahirlah majalah kebudayaan Kalimas dengan versi baru. Saya katakan versi baru, karena majalah Kalimas pernah terbit di tahun 90-an lalu mati karena kehilangan amunisi. Sekarang, kalimas tampil dengan seri kebudayaan yang memunculkan banyak gagasan budaya, sastra, dan seni. Majalah kebudayaan itu lahir dari kantin Unesa.
Bahkan, para punggawa tidak puas dengan majalah Kalimas saja. Mereka akan menerbitkan karya pribadi dalam bentuk buku. Pada saatnya nanti, kata mereka, buku-buku itu akan dipamerkan dan ditunjukkan pada dunia agar mereka tahu bahwa Ketintang, lewat sebuah kantin Unesa, mampu memberikan sumbangan literasi. Betapa angan-angan itu membaik dan bertumbuh menjadi keniscayaan.
Saat ini, mereka sudah membuktikan akan penerbitan itu di samping menggarap edisi kedua majalah Kalimas. Atas dasar itu, saya juga merasa terpanggang untuk berkreasi. Ada satu judul kumpulan puisi yang saya siapkan untuk mendukung komunitas kantin Unesa itu. Judul yang mereka sarankan adalah bersuku kata sembilan. Saya bertanya, "Mengapa?". "Itu Hoki, Pak," jawab salah satu peserta pesta kopi sore hari di kantin. Saya menyengir dan menyetujui judul itu. Buku saya sedang digarap desainnya oleh mereka. Ada 52 judul puisi yang saya berikan.
Sore hari, selepas bekerja, mereka berada di kantin Unesa. Ada kopi dan air mineral menemaninya. Saya sesekali ikut nimbrung dengan gaya anak muda juga. Betapa dunia menjadi seimbang jika pekerjaaan yang padat diimbangi dengan duduk santai mengurai gagasan baru. Kantin Unesa adalah sebuah inspirasi bagi kaum muda tersebut.
Sebelumnya, saya tidak pernah terpikirkan untuk menerbitkan kumpulan puisi. Puisi, bagi saya, hanya sebuah tempat menagngkangi gagasan. Namun, berkat dorongan anak muda di kantin Unesa itu, puisi saya menjadi luluh untuk disebarluaskan ke publik. Saya tidak dapat menolak dengan permintaan itu. Puisi pilihan saya berikan ke mereka, yakni 52 judul dengan segala bentuknya.
Berikut ini salah satu puisi saya yang turut diterbitkan dalam kumpulan puisi itu.
Dari pertemuan sore beberapa alumni muda yang hanya bermodal secangkir kopi dan jajanan, lahirlah majalah kebudayaan Kalimas dengan versi baru. Saya katakan versi baru, karena majalah Kalimas pernah terbit di tahun 90-an lalu mati karena kehilangan amunisi. Sekarang, kalimas tampil dengan seri kebudayaan yang memunculkan banyak gagasan budaya, sastra, dan seni. Majalah kebudayaan itu lahir dari kantin Unesa.
Bahkan, para punggawa tidak puas dengan majalah Kalimas saja. Mereka akan menerbitkan karya pribadi dalam bentuk buku. Pada saatnya nanti, kata mereka, buku-buku itu akan dipamerkan dan ditunjukkan pada dunia agar mereka tahu bahwa Ketintang, lewat sebuah kantin Unesa, mampu memberikan sumbangan literasi. Betapa angan-angan itu membaik dan bertumbuh menjadi keniscayaan.
Saat ini, mereka sudah membuktikan akan penerbitan itu di samping menggarap edisi kedua majalah Kalimas. Atas dasar itu, saya juga merasa terpanggang untuk berkreasi. Ada satu judul kumpulan puisi yang saya siapkan untuk mendukung komunitas kantin Unesa itu. Judul yang mereka sarankan adalah bersuku kata sembilan. Saya bertanya, "Mengapa?". "Itu Hoki, Pak," jawab salah satu peserta pesta kopi sore hari di kantin. Saya menyengir dan menyetujui judul itu. Buku saya sedang digarap desainnya oleh mereka. Ada 52 judul puisi yang saya berikan.
Sore hari, selepas bekerja, mereka berada di kantin Unesa. Ada kopi dan air mineral menemaninya. Saya sesekali ikut nimbrung dengan gaya anak muda juga. Betapa dunia menjadi seimbang jika pekerjaaan yang padat diimbangi dengan duduk santai mengurai gagasan baru. Kantin Unesa adalah sebuah inspirasi bagi kaum muda tersebut.
Sebelumnya, saya tidak pernah terpikirkan untuk menerbitkan kumpulan puisi. Puisi, bagi saya, hanya sebuah tempat menagngkangi gagasan. Namun, berkat dorongan anak muda di kantin Unesa itu, puisi saya menjadi luluh untuk disebarluaskan ke publik. Saya tidak dapat menolak dengan permintaan itu. Puisi pilihan saya berikan ke mereka, yakni 52 judul dengan segala bentuknya.
Berikut ini salah satu puisi saya yang turut diterbitkan dalam kumpulan puisi itu.
KUBANGUNKAN BUKIT MATAHARI
kubangunkan bukit matahari
ketika ringkih kuda menuangkan gelas
kopinya
panas yang setengah cukup menularkan
kehangatan
di pucuk bukit bertuah sinar palinggi
yang ada
ombak datang menjemput cahayamu
dari kejauhan merangkak cepat di garis
pantai
Pinupahar mengikat kerinduan bukit dan
langit
disaksikan air laut melatari pandangan
yang jauh
kuda beranak-pinak menyedoti sinar
mentari
yang lahir dari bukit nenek-moyang
sapi bertukar pandang menggamit cahaya
hari
yang lahir dari ceruk lembah yang setia
babi, kambing, dan anjing bertahan nasib
yang lahir dari dongeng malam para ompu
kubangunkan bukit matahari
karena utangku pada Sumba Timur yang
selatan
melahirkan anak-anak harapan
Pinupahar, Sumba
Timur, 11 Juni 2013
Pemuda: Santunlah Berbahasa Indonesia
Oleh
Dr. Suyatno, M.Pd.
/1/
Siapakah pencetus bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional? Pencetusnya adalah pemuda. Dengan lantang, penuh keberanian,
dan bertanggung jawab, para pemuda se-Indonesia mencantumkan bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan di naskah Sumpah Pemuda. Mereka sepakat bahwa
satu-satunya bahasa yang dapat mempersatukan suku di Indonesia adalah bahasa
Indonesia.
Kini, para pemuda dengan lincah menggunakan
bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Grup band di Indonesia yang di
dominasi oleh para pemuda banyak menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana
penuangan ide-idenya. ‘’Mau di bawa ke mana, hubungan kita/jika kau terus
menunda-nunda/dan tak pernah katakan cinta/Mau di bawa ke mana/hubungan kita…”
Itulah syair lagu grup Armada. Albumnya tampak dengan lincah dan mantap berisi
bahasa Indonesia. Lihat pula, grup lain juga terlihat menggunakan bahasa
Indonesia untuk menampung intuisi dan imajinasi pikiran pencipta lagu sehingga
lagu tersebut indah didengar dan bermanfaat dari segi isinya.
Bahasa Indonesia juga mampu dipakai sebagai
alat untuk menuangkan imajinasi bersastra kaum muda. Banyak puisi, cerpen, dan
novel dilahirkan para pemuda dengan bahasa yang mudah dipahami. Penulis itu
dengan lincah menyampaikan gagasannya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Itulah bukti bahwa bahasa Indonesia mampu memunculkan keindahan setelah diolah
dengan kalimat yang tertata dengan baik.
Bahasa Indonesia juga mampu berperan aktif
dalam menampung pikiran ilmiah para peneliti. Banyak hasil penelitian yang
memberikan masukan bagi kehidupan dikemas dengan bahasa Indonesia. Kalimat demi
kalimat tertata dengan baik sehingga mampu memberikan arti keilimiahan sebuah
karya tulis ilmiah.
Buku pengetahuan tersebar di berbagai toko
buku dan dapat dinikmati oleh pembacanya karena bahasa Indonesia yang digunakan
memudahkan pemahaman. Bahasa Indonesia mampu mengimbangi keperluan kreatif
penulis untuk buku-buku pengetahuan. Ada ribuan judul buku telah ditulis dengan
menggunakan bahasa Indonesia.,
Itulah bukti bahwa bahasa Indonesia mampu
digunakan dalam segala bentuk kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu,
pemuda sebagai sosok generasi yang bersemangat seharusnya juga mempunyai
semangat untuk mempertahankan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang baik dan
benar. Bukankah, pemuda sebenarnya sosok yang paling bertanggung jawab terhadap
keberlangsungan bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa nasional maupun bahasa
negara.
/2/
Meskipun gigih terhadap perkembangan bahasa
Indonesia, bahasa pemuda juga mengandung virus kesalahan berbahasa Indonesia.
Jika virus itu tidak segera diantibiotik dengan serum bahasa yang baik dan
benar, penurunan kualitas bahasa Indonesia akan terjadi. Bahasa baik dan benar
tidak akan selamanya bertahan karena kualitasnya bergantung pemakainya. Bahasa
Indonesia tidak datang dari langit melainkan datang dari penggunaan secara
rutin.
Sama dengan bahasa lain di dunia, bahasa
Indonesia adalah bahasa yang mampu menampung ide sedalam apapun yang ada di
pikiran pemakainya. Bahasa Indonesia mampu melancarkan karya ilmiah seseorang.
Bahasa Indonesia mampu membantu kesuksesan bisnis apapun. Begitu pula, bahasa
Indonesia mampu dipakai sebagai alat komunikasi sosial, budaya, politik,
ekonomi, pertahanan, hiburan, dan sebagainya.
Bahkan, saat ini, banyak negara yang tertarik
untuk membuka jurusan bahasa Indonesia di perguruan tingginya. Di Korea, Cina,
Australia, Vietnam, Belanda, Jerman, dan negara lainnya terdapat program studi
di perguruan tingginya. Di Indonesia, banyak pula warga negara asing yang
belajar bahasa Indonesia di pusat-pusat bahasa, yakni di UI, UGM, Unesa, UM,
USU, Unhas, dan lainnya. Mereka dengan semangat tinggi ingin menguasai bahasa
Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa di laman pramuka dunia.
Bisa jadi, bahasa Indonesia menjadi bahasa dunia karena jumlah pemakainya
ratusan juta orang.
Sudah menjadi kewajiban pemuda Indonesia saat
ini untuk terus menguatkan posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi
dalam negeri dan luar negeri. Cita-cita itu bukan mustahil akan terwujud jika
pemuda dengan gigih memperjuangkan bahasa Indonesia. Agar menjadi bahasa yang
dapat bersanding dengan bahasa besar lainnya, cara yang dilakukan adalah (1)
gunakan bahasa Indonesia dalam kesempatan apapun; (2) pemakaian bahasa baik dan
benar harus menjadi kewajiban para pemuda; (3) di laman-laman, media sosial,
blog, dan dunia maya lainnya, bahasa Indonesia harus dengan kokoh digunakan
oleh para pemuda; (4) promosikan terus bahasa Indonesia di dunia maya; (5)
minimalkan kesalahan berbahasa; dan (5) resolusikan bahasa Indonesia sebagai
bahasa dunia melalui PBB atau yang membidanginya. Itulah perjuangan yang harus
dilakukan oleh pemuda saat ini.
Mau tidak mau, pemuda harus memberikan
keteladanan santun berbahasa Indonesia di setiap kesempatan. Jika bukan pemuda
bangsanya yang melakukan, siapa yang harus membangun bahasa Indonesia?
/3/
Banyak kesalahan berbahasa Indonesia yang
dilakukan oleh para pemuda. Kesalahan itu seakan menjadi tren dan gagah-gagahan
para pemuda. Mereka tidak mau menggunakan bahasa yang baik dan benar karena
malu dianggap tidak modern. Pemuda yang menggunakan bahasa Indonesia dengan
tidak semestinya itu layak disebut sebagai pemuda minus.
Perhatikan kesalahan berbahasa Indonesia yang
dilakukan pemuda minus berikut ini.
(1)
Pesan pendek (SMS):
tgAlx
kpn, P
jd
ujian skrg, pak
kpn
ttdx
(2)
Surat elektronik:
makalah sudah terkirim
Pak mohon dicek
Pak mau nanya, daftar SNMPTN
mash dibuka nih
(3)
Karangan:
Surabaya
nih, menurutku mulai macet seperti jakarta aja. Macet tiap hari serasa sedih
sekali aku. Coba deh dilihat jalan A Yani tu, minta ampun deh sumpeknya.
Sekolah telat lagi. Dimarahin guru so pasti. Gimana ya biar tidak macet? Kalo
saranku sih, buat aja jalan layang semua. He.He. Pasti deh kagak macet. (Siswa
SMA XXXX)
(4)
Sapaan:
Hei, Bro. Nandi ae. Aku tunggu lo. Ya udah,
antar formulir ini ke panitia, sana. Gak boleh takut, lo ya.
(5)
Lagu:
Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku
(baby
please be mine, eeeaa, baby please be mine)
Kau
bidadari jatuh dari surga, kau di hatiku
(baby
please be mine, eeeaa, baby please be mine)
(Coboy
Junior)
Semua yang kau lakukan is magic
Semua yang kau berikan is magic
Semua yang kau lakukan is magic
Semua yang kau berikan is magic
(lyla-Magic)
Banyak guru yang mengeluh terhadap kalimat
yang digunakan siswa dalam menulis. Begitu pula, banyak dosen yang
menggelengkan kepala terlihat sedikit pusing jika mencermati tulisan
mahasiswanya dalam tugas akhir. Bahkan, majalah dinding, buatan siswa, dalam konteks
lomba di Jawa Pos menggunakan bahasa Indonesia yang penuh dengan virus.
Berkaitan dengan bentuk bahasa Indonesia yang mereka hasilkan itu, jawaban yang
muncul adalah, “biar keren, Pak’; “Kan, gaul, Pak”; “emang masalah buat lo”;
dan seterusnya. Betapa kesalahan berubah menjadi sebuah pembenaran baru di mata
pemuda minus itu.
Tidaklah cukup kesalahan dengan hal tersebut.
Masih banyak kesengsaraan bahasa Indonesia saat menghuni rumah pikiran pemuda
minus. Bahasa Indonesia dijungkir-balikkan, disakiti, diamputasi, dan
dipingir-pinggirkan. Lihatlah, data berikut ini.
(6)
Aku CinT4 k4Mu; B3g0; S4tu 7an; M3J3N9 4h
(7)
alay, lebay, titi dj, lemot, telmi
(8)
malam ini kita meeting sebentar, ya
Di samping hal di atas, terdapat kesalahan
berbahasa yang mengakibatkan seseorang marah. Ada pemuda yang dimarahi orang
lebih tua akibat kesalahan penggunaan kata. Misalnya pernyataan, “pinjam korek,
Pak.” Orang tua akan marah karena tidak ada penghormatan dan mengira pemuda
tersebut tidak bersopan santun. Bahkan ada seseorang masuk di penjara. Sebut
saja, si Polan, yang suka menebar kata-kata tidak santun di media sosial Facebook.
Dia berperkara di pengadilan akibat menuliskan pernyataan, “Hai, si
Cerewet.” Teman Facebook-nya tidak berterima lalu mengadukan ke
polisi tentang perkara tersebut. Banyak kasus semacam itu di pengadilan saat
ini.
Apakah pernyataan salah seperti contoh di atas
tidak dapat diperbaiki sehingga menjadi bahasa santun yang baik dan benar? Tentunya,
pernyataan perbaikan itu justru akan menguatkan kewibawaan berbahasa
pemakainya. Pembicara akan lebih disegani dan dihormati karena menggunakan
kesantunan berbahasa Indonesia.
Bukankah, kecendekiaan seseorang tercermin
dari bahasanya? Begitu pula, kekuatan pemuda Indonesia salah satunya terletak
pada pemertahanan menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa yang sangat hebat adalah
bahasa dapat mempersatukan bangsanya.
Kesalahan berbahasa Indonesia tampaknya akan
semakin menggejala dan runyam. Ujung-ujungnya, bahasa Indonesia akan kehilangan
jatidirinya. Agar kerunyaman tidak semakin parah, diperlukan usaha yang keras
dari para pemuda. Usaha itu dapat dilakukan perorangan maupun kelompok dari
situasi yang paling terkecil (diri sendiri, keluarga, teman) sampai
situasi terbesar (sekolah, acara
kebahasaan, seminar, dan seterusnya).
/4/
Kesantunan berbahasa Indonesia menjadi sebuah
keharusan bagi penggunanya agar terjalin komunikasi yang sempurna. Komunikasi
sempurna ditandai oleh kelengkapan unsur komunikasi, yakni pembicara, pendengar, tempat, waktu, topik, saluran, dan tujuan. Salah satu unsur itu tidak
terpenuhi maka komunikasi akan mengalami gangguan.
Sebelum
berkomunikasi, pemakai bahasa sebaiknya tahu latar belakang pembicara. Baik
dari sisi usia, status, jabatan, sampai pada kondisi terkini pembicara
tersebut. Cobalah perhatikan pilihan kalimat berikut ini.
(9)
Kamu akan ke sini?
(10)
Saudara akan ke sini?
(11)
Bapak akan ke sini?
(12)
Tuan akan ke sini?
(13)
Bos akan ke sini?
(14)
Kalian akan ke sini?
Kalimat (9) sampai (14) di atas akan
berbeda-beda digunakan karena perbedaan pembicara atau pendengarnya. Cobalah
mengucapkan Kalian akan ke sini
kepada para orang tua. Pembicara pasti akan dimarahi atau didiamkan saja.
Begitu pula unsur komunikasi lainnya
akan menentukan keberhasilan berbahasa. Selain itu, pengguna bahasa akan tunduk
pada norma budaya, sosial, dan ekonomi yang melatari komunikasi. Pengguna
bahasa akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang
yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak
berbudaya akibat kesalahan berbahasa dalam komunikasinya.
Grice
(1978) mengidentifikasi bahwa komunikasi secara santun harus memperhatikan
prinsip kerja sama. Ketika berkomunikasi, seorang penutur harus memperhatikan
(1) prinsip kualitas (Informasi
harus di dukung dengan data agar lebih sah dan benar sehingga lawan bicara
tidak merasa tertipu); (2) prinsip kuantitas (informasi harus sesuai dengan
yang diperlukan, tidak lebih dan tidak kurang); (3) prinsip relevansi (ketika berkomunikasi
dengan orang lain harus relevan dan berkaitan dengan yang dibicarakan oleh
lawan bicara); dan (4) prinsip cara (cara penyampaian harus diperhatikan).
Berikut pedoman
berbahasa yang mendapatkan hasil maksimal.
1. Jangan
memperlakukan mitra tutur sebagai orang yang tunduk kepada penutur
2. Jangan
mengatakan hal-hal yang kurang baik mengenai diri mitra tutur atau orang
atau barang yang ada kaitannya dengan mitra tutur
3. Jangan
mengungkapkan rasa senang atas kemalangan mitra tutur sehingga mitra tutur
merasa jatuh harga dirinya
4. Jangan
memuji diri sendiri atau membanggakan nasib baik atau kelebihan diri sendiri
5. Maksimalkan
ungkapan simpati kepada mitra tutur
6. Minimalkan
rasa tidak senang pada mitra tutur dan maksimalkan rasa senang
Kesantunan berbahasa ditentukan oleh sikap hormat,
kerendahan hati, dan ketulusan. Sebaliknya, berbahasa yang tidak santun dicirikan oleh (1) penutur menyatakan kritik secara langsung dan dengan kata -kata
kasar; (2) Penutur didorong rasa emosi ketika bertutur; (3) Penutur protektif terhadap pendapatnya; (4) Penutur sengaja memojokkan mitra tutur dalam bertutur; (5) Penutur menyampaikan tuduhan atas
dasar kecurigaan terhadap mitra tutur.
/5/
Oleh karena itu, pemuda Indonesia haruslah mempunyai
daya bahasa yang mampu digunakan untuk berkomunikasi secara santun. Di mana
saja, kapan saja, dan kesempatan apa saja, merupakan titik perhatian berbahasa
pemuda Indonesia. Dengan begitu, kualitas hidup pemuda Indonesia akan menaiki
tangga bermartabat.
Langganan:
Postingan (Atom)