Selasa, 30 Desember 2008

Guru Lain Saja Tidak Melakukan, Mengapa Saya Harus?

Oleh Suyatno

"Guru lain saja tidak melakukan pembaharuan mengajar, mengapa saya diharuskan melakukan pembaharuan?", begitulah kata banyak guru yang saya jumpai di sela-sela pelatihan pembelajaran inovatif. Menurutnya, pembelajaran inovatif harus dijalankan oleh semua guru, tidak terkecuali. "Jangan hanya kita yang disuruh-suruh berubah tetapi guru lain tidak", bantahnya kemudian.

Menjadi yang terbaik tentunya tidak harus menunggu orang lain berbuat terlebih dahulu menjadi yang terbaik. Seorang pemimpin biasanya ditandai oleh kebaruan yang dijalankan baik dari sisi pemikiran, perilaku, dan keterampilan tertentu. Untuk itu, kalau menunggu orang lain berbuat terlebih dahulu, berarti nilai kepemimpinan orang tersebut tidak ada nilai inovasinya.

Janganlah menunggu orang lain berbuat, karena dalam pembelajaran juga bukan orang lain yang mendapatkan kenikmatan mengajar. Ketika guru melakukan pembeharuan di kelas, yang merasakan hasilnya adalah guru itu sendiri bukan guru lain. Jadi, berbuatlah terlebih dahulu kalau menginginkan orang lain juga berbuat.

Mulailah dari sekarang perubahan pembelajaran dilakukan sebelum kita didahului oleh ajal yang menjemput. Kalau dapat sekarang berubah mengapa harus menunggu nanti. Itulah kiasan yang harus senantiasa digunakan sebagai motivasi guru.

Pembaharuan mengajar tidak sesulit yang dibayangkan banyak orang. Ketika guru melakukan refleksi tentang kegagalan siswa dalam menyerap sebuah mata pelajaran kemudian di hari berikutnya guru melakukan perubahan langkah mengajar yang memberikan dampak, kegiatan guru tersebut sudah dapat dikatakan inovasi. Yang paling penting, guru harus senantiasa mengubah gaya mengajar agar siswa selalu berada dalam kondisi menyenagkan terus. Jagalah irama kekuatan kelas dalam menyerap materi. Gunakan mimik, kinestetis, suara, dan posisi berdiri guru secara terpadu dalam setiap pembelajaran. Berilah ucapan guru sebuah kekuatan yang mampu masuk dengan cepat ke memori siswa.

Jangan menunggu guru lain melakukan perubahan. Lakukan saja meski guru lain tidak melakukan perubahan. Yang terpenting siswa dalam keadaan maju berkelanjutan.

Guru Tersenyum, Siswa pun Kagum

Oleh Suyatno

Jika Anda seorang guru, cobalah diingat-ingat, seberapa sering Anda muram dan marah? Jawabannya pasti, lebih banyak muram dan marah dibandingkan gembira dan tersenyum. Padahal, mengajar dengan senyum akan lebih meningkatkan daya serap siswa, yang pada akhirnya, siswa akan kagum pada guru yang tersenyum.

“Padahal belajar bisa menjadi sangat menyenangkan, lho,” kata DR. Frieda Mangunsong, MEd, (dalam www.gayahidupsehatonline, 31 Juli 2007). Hal ini dibuktikan Frieda saat mengisi sesi Belajar Itu Menyenangkan dalam acara Forum Anak Nasional di Depok, pekan lalu. Ia mengawali paparannya dengan mengajak 106 anak-anak bermain. Staf pengajar di Fakultas Psikologi UI ini meminta anak-anak yang berasal dari 31 daerah di sejumlah provinsi di Indonesia itu membuat lingkaran. Lalu, mereka diminta berhitung dan meneriakkan “Boom” di setiap angka tujuh beserta kelipatannya dan angka yang mengandung unsur tujuh.

Sepintas, hal ini seperti main-main saja. Namun, di balik itu, tanpa disadari anak-anak diajak menghitung dan berkonsentrasi. Saat melakukan permainan itu, anak-anak terlihat gembira. Mereka tertawa-tawa kala ada salah seorang yang lupa mengucapkan “Boom”. “Tertawa sebelum pelajaran dimulai bukanlah sesuatu yang buruk,” ujar psikolog pendidikan ini. Suasana gembira sebelum belajar justru dapat membangkitkan semangat anak.

Adanya interaksi antara guru dan siswa, akan membuat belajar menyenangkan. “Siswa yang aktif akan membuat guru senang,” tuturnya lagi. Seperti yang terjadi saat itu, anak-anak turut mengungkapkan pendapatnya saat Frieda melontarkan berbagai pertanyaan.

Dalam kesempatan itu misalnya, Frieda meminta pendapat anak-anak yang berasal dari 31 daerah layanan World Vision Indonesia yang berada di Aceh, Kalimantan Barat, Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, NTT, dan Papua tentang belajar dan sekolah. Salah seorang anak dari Sumba Barat mengatakan belajar menjadi tidak menyenangkan bila guru marah. Selain enggan belajar, anak juga enggan sekolah.

Belajar dalam suasana menyenangkan merupakan proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara aktif dan dilakukan dalam situasi menyenangkan, sehingga siswa merasa aman dan nyaman, bebas dari tekanan. Situasi ini akan membuat anak lebih aktif belajar.

Belajar aktif akan mengintegrasi fisik, akal, dan emosi. Yang pada akhirnya, akan menambah keterampilan fisik dan akademis, sejalan dengan meningkatnya jenjang pendidikan. Setiap pelajaran yang makin sulit akan membuat kita makin terampil.

Contohnya, saat TK-SD, anak lebih banyak melakukan permainan saat sekolah maupun belajar. Ketika menginjak bangku SMP-SMA, mereka lebih banyak duduk di dalam kelas. Di masa ini belajar lebih banyak melibatkan tangan dan pikiran seperti percobaan laboratorium.

Metode belajar yang memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk mempelajari sesuatu secara konkret atau nyata akan memperbesar persentase penyerapan. Dan juga memicu mereka untuk berubah secara positif.

Sebaliknya, cobalah guru marah dalam kelas. Hasilnya, tentu, siswa akan tegang, bingung, dan tidak dapat menyerap inti pembelajaran. Namun, mengapa marah masih menjadi idola para guru saat di kelas?

Sabtu, 27 Desember 2008

Guru di Mata Mbok Siti (34)

Siang itu menjadi waktu yang paling lama karena di waktu siang yang lain tidak ada jumpa seperti sekarang ini dengan MBok Siti. Kami saling menumpahkan obrolan yang sempat tersekat dengan kesibukan luar biasa sehingga tidak dapat tertumpah di teras rumah Mbok.

"Saya juga heran Mbok, mengapa waktu terus mengikat diriku untuk sibuk dengan diri sendiri", ujarku sambil tanganku memegangi kepala. Mbok Siti tersenyum tenang seolah tidak percaya kalau aku sangat sibuk. Senyumnya terus mengembang dengan lembut tanpa menjawab sedikit kata pun. "Aku sangat sulit membagi waktu, meskipun hati ini ingin berkunjung ke rumah Mbok ini", sambungku. Dia masih saja tersenyum tanpa jawab sepatah kata pun.

"Semua waktu ada dalam dirimu. Kaulah yang berhak membaginya sesuai dengan peruntukkannya" jawab Mbok Siti dengan santainya. "Lihatlah burung merpati itu, ia terbang ke sarangnya karena ada waktu untuk ke sarang itu", kata Mbok yang selalu tersenyum itu. Ketika merpati ke sarang berarti merpati itu tidak ke dahan itu meskipun dalam hatinya ada keinginan ke dahan. Merpati itu ke sarang karena merasa lebih perlu ke sarang daripada ke dahan terlebih dahulu. "Itulah namanya silih-berganti". Nah, guru yang baik perlu memainkan silih-berganti dalam dirinya sehingga dapat membagi waktu untuk setiap siswanya. Waktu guru adalah waktu siswa. Siswa berhak atas waktu dari gurunya.

Siswa Ditampar Guru, Tampar juga Guru Itu

Oleh Suyatno

Guru matematika sebuah SMA di Gorontalo membariskan siswanya untuk ditampar satu per satu. Guru laki-laki itu berdiri di teras lalu satu per satu siswa yang berbaris membujur sampai di rumput depan kelas ditampar sekali kemudian disuruh masuk kelas. Kemudian, di Mojoagung, Jombang, guru kesenian SMP menampar siswa ddi depan siswa lain di kelas hanya karena siswa itu tidak mengerjakan PR. Itu tamparan guru yang sempat terekam kamera. Mungkin banyak tamparan lain di sekolah lain dalam bentuk lain di Indonesia ini yang tidak terekspos atau terekam media massa.

Perbuatan itu seolah-olah telah menyelesaikan permasalahan bagi guru tersebut. Padahal, justru memberikan tumpukan dendam bagi siswa kelak. Tamparan itu pasti tersimpan dalam memori siswa yang suatu saat memori itu akan dikeluarkan kembali ke pikiran sadar. Bagaimanapun, perbuatan guru seperti itu sangat tidak sesuai dengan nilai edukasi. Namun, mengapa pola tampar dan menyakiti siswa dengan cara lain masih diberikan oleh guru?

Tamparan guru seperti itu menunjukkan bahwa kewibawaan guru dibangun dari kekuasaan. Siswa hanya objek yang harus menuruti subjeknya. Metode tampar merupakan metode satu-satunya bagi guru tersebut yang dapat menyelesaikan permasalahan yang dialami siswa dengan guru. Cara lain terasakan tidak ada lagi, menurut guru itu. Padahal, tidak ada kampus satu pun yang memberikan perkuliahan tentang metode tampar. Lalu, guru tampar memperoleh metode dari mana?

Guru tampar adalah guru yang tidak mengenal metode mengajar secara variasi. Guru tersebut lupa bahwa metode pembelajaran juga telah mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat. Guru tampar itu berarti termasuk guru yang perlu dipisahkan dari label guru, alias dikeluarkan jadi guru. Guru tampar merupakan gambaran guru yang tidak dapat menerima siswa sebagai manusia.

Untuk itu, perlu seleksi ulang setiap guru dengan pendekatan psikologis. Guru yang secara psikologis tidak berterima tutup saja pintu keguruannya agar tidak ada lagi siswa yang ditampar. Kepala sekolah perlu merangking guru dari sisi emosionalnya. Guru yang emosional tinggi, sok jago, dan galak terhadap siswa jadikan Pak Kebun saja biar emosinya tertumpah pada rumput liar dan ranting pohon.

Guru di Mata Mbok Siti (33)

Hujan tidak mau mengenal lelah, guyurannya, membasah di setiap ceruk tanah. Itulah tanda kesetiaan sejati antara hujan dengan tanah yang selalu merindukannya. Begitu pula, aku sangat rindu pada Mbok Siti di setiap ceruk napasku. Baru kali ini, aku dapat berjumpa dengan Mbok Siti. Perjumpaan itu pun hanya dapat sekejap mata memandang karena kesibukan menggelayuti terus di pundakku.
"Waduh, anakku, kok lama tidak bertemu", ujar Mbok Siti sambil menyilakan duduk di kursi yang dulu pernah aku duduki. "Maaf Mbok, aku sangat tidak ada waktu untuk kemari", jawabku membela diri. "Kalau seseorang tidak ada waktu berarti dia juga mempunyai waktu", jawab Mbok yang masih juga berpakaian hitam. Waktu itu selalu ada bagi siapapun. Di satu sisi tidak ada waktu berarti di sisi lain ada waktu. Tinggallah, bagaimana waktu itu diberikan secara seimbang kepada sisi mana pun yang memerlukan waktu.
Begitu pula, setiap guru pasti mempunyai waktu untuk murid-muridnya. "Hanya saja, waktu itu diberikan pada sisi apa?", kata Mbok Siti. Jika waktu diberikan dengan seimbang antara murid satu dengan yang lainnya, murid itu juga akan memberikan perhatian yang seimbang. Waktu selalu ada karena bersifat tetap. Yang diperlukan dalam waktu adalah cara pengelolaannya. Guru yang mampu mengelola waktu akan diberikan manfaat oleh waktu itu sendiri. "Bergaul dengan waktu memberikan kedamaian dalam mengisinya", kata Mbok sambil mengacungkan segelas kopi kesukaanku. Problemnya, banyak waktu guru yang tidak berada dalam waktu siswa sepenuh hati.

Senin, 22 Desember 2008

Pergeseran Pendidikan Masa Kini

Oleh Suyatno
Perubahan yang terjadi di dunia ini juga merebak dalam dunia pendidikan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi sangat menuntut hadirnya perubahan paradigma pendidikan yang berorientasi pada pasar dan kebutuhan hidup masyarakat.Pergeseran paradigma atau cara pandang terhadap pendidikan juga harus mengalami perubahan. Dalam kindisi tersebut, guru mau tidak mau juga memaksakan diri untuk bergeser dari cara pandang lama ke cara pandang baru.
Sayling Wen dalam bukunya future of education menyebutkan beberapa pergeseran paradigma pendidikan, antara lain:

1. Pendidikan yang berorientasi pada pengetahuan bergeser menjadi pengembangan ke segala potensi yang seimbang.
Pada pendidikan orientasi pendidikan lebih menekankan pada pemindahan informasi yang dimiliki kepada peserta didik (bersifat kognitif). Proses pembelajaran yang berkembang di negara kita dapat deskripsikan sebagai berikut: peran guru sangat dominan dalam proses pembelajaran, kesan yang muncul adalah guru mengajar peserta didik diajar, guru aktif peserta didik pasif, guru pinter peserta didik minder, guru berkuasa, peserta didik dikuasai. Dalam kegiatannya pendidik berusaha memola anak didik sesuai dengan kehendaknya. Program pembelajaran, materi, media, metode dan evaluasi yang diterapkan sepenuhnya disiapkan oleh pendidik. Mulai tahun pelajaran 2004/2005 Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mulai diterapkan, implementasi KBK diharapkan dapat mengembangkan seluruh potensi yang menjadi sasaran pendidikan secara optimal. Mengingat KBK mengandung prinsip pembelajaran yang menerapkan pendekatan, antara lain: 1) student centered, 2) Integrated learning, 3) individual learning, 4) mastery learning, 5) problem solving, 6) Experince based learning, dan 7) peran guru sebagai fasilitator, pembimbing, konsultan dan sekaligus mitra belajar. Meskipun dalam pelaksanaannya, KBK masih ditemukan banyak kelemahan-kelemahan.

2. Dari keseragaman pembelajaran bersama yang sentralistik menjadi keberagaman yang terdesentralisasi dan terindividulisasikan. Hal ini seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dimana informasi dapat diakses secara mudah melalui brbagai macam media pembelajaran secara mandiri, misalnya; internet, multimedia pembelajaran, dsb.

3. Pembelajaran dengan model penjenjangan yang terbatas menjadi pembelajaran seumur hidup. Belajar tidak hanya terbatas pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi, namun belajar dapat dilakukan sepanjang hayat, yang tidak terbatas pada tempat, usia, waktu, dan fasilitas.

4. Dari pengakuan gelar kearah pengakuan kekuatan-kekuatan nyata (profesionalisme)
Dilihat dari kualitas pendidik, secara kuantitatif jenjang pendidikan yang dimiliki guru-guru SD, SLTP, SMU/SMK cukup menjanjikan, Sebagian besar sarjana atau D2. Hal ini ditunjukkan dengan gelar yang dimiliki pada pendidik, namun secara kualitas, sungguh memprihatinkan. Secara kualitatif bisa dilihat, motivasi belajar dan motivasi berprestasi dalam meningkatkan profesionalisme di kalangan pendidik sangat rendah. Sebagian besar guru malas belajar, malas mencari pengetahuan baru, dan berkarya (baca: tekun membaca, mengikuti pelatihan, menulis karya ilmiah). Pola pikir yang berkembang pada pendidik saat ini lebih loyal pada integrasi gaji dari pada loyalitas profesional, dengan nafsu mengejar pangkat, golongan, posisi dan tunjangan. Di antara pendidik ada yang melanjutkan kuliahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (S1, S2 dan S3), bukan untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi, namun demi “gengsi, posisi dan gaji”, kesempatan kuliah yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi secara mandiri mulai menghilang. Kondisi demikian sungguh memprihatinkan. Namun seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan persaingan global, kompetensi dan profesionalisme akan menjadi tolok ukur keberhasilan seseorang dalam memenang persaingan hidup. Prestasi kerja menempatkan seseorang pada posisi kerja yang sesungguhnya (“saat ini muncul image posisi kerja adalah uang”)

5. Pembelajaran yang berbasis pada pencapaian target kurikulum bergeser menjadi pembelajaran yang berbasis pada kompetensi dan produksi. Pencapaian target kurikulum bukan satu-satunya indikator keberhasilan proses pendidikan, keberhasil pendidikan hendaknya di lihat dari konteks, input, proses, output dan outcomes, sehingga keberhasilan pendidikan dapat dimaknai secara komprehensif. Masih banyak lembaga pendidikan kita yang masih menekankan pada pencapaian target kurikulum, contoh dilapangan: kita lihat kurikulum pendidikan dasar, pada jenjang pendidikan dasar (masa kanak-kanak dan SD) merupakan jenjang pendidikan yang menyenangkan (masa bermain), coba kita lihat setelah anak mulai masuk di TK atau di SD kesempatan bermain bagi anak sangat dibatasi. Sistem pembelajaran yang diterapkan membatasi gerak anak dengan dinding dan keangkuhan guru yang sangat kokoh di depan kelas. Anak-anak mulai dipola sekehendak gurunya yang dengan dalih agar sesuai dengan kurikulum yang telah dirumuskan oleh pejabat pendidikan, meskipun dengan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). peserta didik SD yang seharusnya masih menggunakan konsep pendidikan bermain sambil belajar. Dengan, namun mulai menghilang, yang muncul belajar sambil bermain. Sehingga anak-anak SD kurang mengenal nama-nama benda, tumbuhan, binatang yang ada disekitarnya.

Kondisi ini wajar, karena beban pelajaran yang dipersyaratkan dalam kurikulum yang harus ditanggung peserta didik di SD begitu berat (9 mata pelajaran), belum lagi masih banyaknya pekerjaan rumah (PR) yang sebagian besar bersifat menghafal (mengkhayal) hal-hal yang terpisah dari kemampuan dan tuntutan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sejak masa kanak-kanak para peserta didik telah dikondisikan dengan pencapaian target kuantitif yang sangat berat. Untuk mengurangi jumlah pengkhayal dalam pendidikan, sebaiknya pada jenjang pendidikan dasar mulai dipikirkan menerapkan kurikulum dasar yang berbasis pada mata pelajaran Matematika, bahasa, sains, jasmani dengan memperhatikan pemberdayaan sistem nilai yang berkembang di daerahnya. Proses pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan kontektual.

6. Pendidikan sebagai investasi manusia dengan hight cost, yang dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat menengah ke atas, khususnya pendidikan tinggi.

Rabu, 17 Desember 2008

Anggaplah Semua Siswa Calon Presiden

Oleh Suyatno

Andai saja, semua siswa di kelas Anda calon presiden lalu apa yang harus dilakukan guru? Pastilah, guru akan sangat hati-hati dalam mengajar. Gaya mengajarnya harus lebih mengesankan dengan skenario pembelajaran yang terhebat. Jangan sampai, siswa sekelas yang calon presiden itu terluka, teraniaya, dan tertutup pintu kecerdasannya. Tiap guru mengajar selalu diawasi oleh tim penjaga calon prsiden. Guru yang dipilih pasti yang pandai dari segala sisi. Siapkah Anda mengajar di kelas itu?

Tentunya, calon presiden yang diajar itu kelak ketika menjadi presiden harus pandai berbicara, ahli strategi, manusiawi, cerdas, lincah, tidak cacat, tegar, wibawa, dan visioner. Untuk itu, menu sajian guru, apapun pelajarannya, haruslah menyentuh wilayah itu. Semua materi dikemas dengan baik sehingga di samping memberikan makna keilmuan juga memberikan sekaligus makna kepresidenan.

Guru yang disiapkan tentu juga penuh disiplin, tanggung jawab, profesional, dan memahami sosok presiden yang teramat bagus. Tentunya, guru yang asal-asalan, tidak punya roh, dan hidup enggan mati tak mau, tidak diperlukan.

Andai semua sekolah menganggap tiap kelasnya adalah siswa yang calon presiden, tentu, sekolah itu juga dikelola dengan mantap. Bisakah?

Alasan Siswa Berontak kepada Guru

Oleh Suyatno

Ketika guru mengajar, kadangkala ada siswa yang berontak, menolak, dan lari dari kelas. Bakhan, siswa di luar sekolah, mencegat gurunya untuk berbuat kejahatan. Bahkan, guru dipermalukan di segala tempat. Umumnya, siswa berontak bukan karena sekadar iseng. Ada beberapa alasan yang membuat siswa memutuskan untuk melakukan hal itu. Berikut alasannya.

1. Balas dendam
Kalau Anda mengkhianati perhatian siswa, siswa juga bisa melakukannya, bahkan lebih hebat dari guru. Kalaupun sampai ketahuan oleh guru, mungkin memang siswa sengaja. Masing-masing siswa memang mempunyai cara balas dendam sendiri dalam menghadapi. Siswa dapat melakukan balas dendam dengan sembunyi-sembunyi di belakang guru, dapat juga siswa sengaja “memamerkannya” dengan cara mengobrol terus tanpa henti, cuek, cemberut, dan melakukan perbuatan melawan guru.

2. Urutan kesekian
Setiap siswa ingin selalu menjadi nomor satu dalam hidup diri guru. Bukan nomor dua, apalagi nomor-nomor berikutnya. Jika siswa merasakan bahwa dirinya menjadi nomor dua dibandingkan siswa lain, siswa itu akan berontak dengan caranya sendiri. Jadikanlah semua siswa nomor satu dalam diri guru.

3. Kekerasan
Kini, banyak siswa yang semakin sadar tentang pentingnya penghargaan atas dirinya sendiri, salah satunya dengan bersikap tegas ketika guru melakukan tindak kekerasan (umumnya secara fisik) kepadanya. Mungkin awalnya siswa akan mencoba bertahan, tapi bila guru kembali mengulangi tindakan itu, siswa akan meninggalkan guru. Mereka yakin, masih banyak guru lain yang bisa menghargainya jauh lebih baik daripada guru yang penuh kekerasan.

4. Hambar
Siswa menyukai hal-hal detail, misal dipuji karena rambutnya, bajunya, senyumnya, hari ulang tahunnya, atau hal-hal istimewa lainnya. Hati-hati bila guru menganggap semua ini sebagai hal remeh, apalagi bila selama ini siswa selalu perhatian terhadap guru. Bila guru tidak pernah menghargai apa yang sudah dilakukan siswa untuk guru dan mengabaikan hal-hal yang dianggapnya penting, bersiaplah menghadapi pemberontakan hebat dari siswa.

5. Tidak Sesuai Kenyataan
Siswa akan berontak ketika nilai pelajaran yang diperolehnya tidak sesuai antara yang tertulis diraport dan kenyataan sehari-hari di kelas. Apalagi, siswa mengetahui bahwa temannya yang dianggap lebih kurang pintar di kelas malah mendapatkan nilai baik di raport.

6. Berawal dari Julukan
Siswa akan berontak jika terus-menerus dijuluki sesuatu yang tidak cocok dengan hatinya, misal, guru memanggil siswa dengan "Si Kribo, Si Hitam, Si Gendut". Siswa lebih senang dipanggil dengan namanya dan panggilan yang bersifat positif.

7. Digunjingkan dengan Orang Lain
Pemberontakan siswa akan terjadi jika guru menggunjingkan siswa kepada siswa lain atau guru lain tentang sesuatu yang buruk. Siswa akan marah saat mendengar bahwa guru berbicara atas namanya berkaitan dengan ketidakmampuan, keboborokkan, dan kejelekkan dirinya.

8. Dipermalukan di Depan Kelas
Maksud guru agar siswa lain juga tidak berbuat negatif seperti yang sedang disetrap atau dimarahi, namun bagi siswa, perbuatan guru itu terasa menyayat hati. Suatu saat siswa akan menarik diri dari ikatan wibawa guru dan dapat berubah menjadi pemberontakan.

Wibawa Guru Bukan dari Guru Jahat

Oleh Suyatno

Suatu saat, ada guru yang mengatakan bahwa wibawa guru akan turun jika guru akrab dengan siswa. Menurutnya, guru harus jaga jarak untuk membangun citra kewibawaan. Sesekali, guru menghardik, menjewer, atau menghukum agar siswa memberikan perhatian tinggi pada guru yang bersangkutan. Itulah resep guru berwibawa, menurutnya.

Fakta itu tampaknya menyeruak di segala sekolah sehingga memberikan kesan bahwa guru adalah sosok yang harus dihormati penuh oleh siswa, guru segalanya, dan gurulah orang yang harus disegani siswanya. Fakta itu memberikan kesan bahwa siswa sebagai objek dan guru sebagai subjek ditambah lagi guru mempunyai otoritas penuh terhadap skor perolehan siswa.

Dari sisi siswa, guru yang demikian itu biasanya disebut sebagai guru jahat, menakutkan, dan membuat merinding bulu roma saat bertemu dengannya. Tiap guru jahat muncul, semua mulut siswa terkunci dan terdiam bukian karena menunggu informasi menyenangkan tetapi menunggu agar guru tersebut cepat pergi.

Padahal, wibawa guru bukan bersumber dari guru jahat melainkan dari guru yang dekat dan setara dengan kejiwaan siswa. Rasa hormat siswa dibangun dari ketulusan hati siswa karena sesuatu yang diperlukan siswa dapat tersedia dari guru tersebut. Guru wibawa dapat dipastikan murah senyum, ramah, dan paham akan kejiwaan siswanya. Guru tersebut tahu dan mengerti kapan saat berkelakar dengan siswa, bergaul, dan berproses belajar dengan siswa.

Berikut ini tips menjadi guru berwibawa. Pertama, saat menyampaikan pelajaran, guru tersebut dapat memodifikasi materi pembelajaran sesuai dengan kerangka berpikir siswa sehingga mudah diserap. Kedua, bahasa yang digunakan guru sesuai dengan bahasa yang dimiliki siswa sehingga sangat komunikatif. Ketiga, perkembangan psikologis siswa sangat diketahui oleh guru sehingga segala layanan guru sesuai dengan kondisi siswa. Keempat, senyum selalu diberikan kepada siswanya. Kelima, hardikan, ancaman, dan hukuman tidak diberikan dengan cara kasar tetapi dengan bahasa yang dapat menyentuh siswa untuk berubah. Keenam, segala perlakuan guru saat di kelas selalu berdasarkan perencanaan yang matang.

Guru wibawa bukan berasal dari tipikal guru jahat tetapi berasal dari guru yang berhati mulia karena tugasnya semata untuk membangun siswa sesuai dengan jatidirinya. Kewibawaan akan datang dengan sendirinya dari perbuatan guru yang memang benar-benar seorang guru. Ingatlah, siswa itu manusia yang juga mempunyai hati dan perasaan yang kelak akan menggantikan kita. Bagaimana jadinya, jika sejak kecil sudah diajari dengan kejahatan yang dicontohkan guru secara langsung kepada siswanya.

Jumat, 12 Desember 2008

Tariklah Perhatian Siswa ke Inti Pembelajaran dengan Maksimal

Oleh Suyatno

Karena siswa itu beragam asal, latar belakang, kekuatan potensi, minat, dan lainnya, pembelajaran di kelas kadang tidak berjalan dengan mulusnya. Bahkan, ada kelas yang berubah menjadi kacau-balau dan guru tidak dapat mengatasinya. Guru yang tidak dapat mengatasi itu kadang melaporkan ke guru BP atau kepala sekolah, yang hasilnya, kelas itu dimarahi oleh BP atau kepala sekolah. Kasihan siswa yang demikian itu. Gara-gara guru tidak dapat mengatasi kelas karena mempunyai bekal yang tipis dan dangkal, siswa menjadi korban.

Itulah sebabnya, guru saat berkuliah dibekali ilmu psikologi perkembangan, manajemen kelas, strategi pembelajaran, dan ilmu kependidikan yang lainnya. Namun, karena ilmu itu hanya sekadar lewat tanpa berhenti di memori calon guru, ketika menjadi guru, mereka sama dengan orang biasa yang tidak punya bekal apa-apa dalam mengajar. Jadinya, mengajar hanya sekadar memindahkan ilmu pengetahuan dengan syarat siswa harus diam, patuh, dan tidak berulah.

Padahal, siswa itu sosok yang tumbuh dan berkembang dengan alat indra yang berkembang pula. Oleh karena itu, siswa dapat dipastikan akan berkembang dengan banyak tingkah, bersuara riuh, dan eksplorasi diri lainnya. Bukanlah sosok siswa jika dia tidak bertanya ini-itu, bergerak ke sana-ke mari, dan berusaha keras untuk ingin tahu. Untuk itu, cara mengajarnya juga harus mendukung perkembangan fisik, mental, dan kognisi siswa.

Lalu, bagaimanakah cara menarik perhatian siswa agar konsentrasinya terpusat pada inti pembelajaran? Mudah saja caranya. Pertama, gunakan suara. Suara guru harus menjangkau ke seluruh pelosok tembok, lebih keras dari riuh siswa, dan diolah dengan intonasi yang menarik. Biasanya, siswa akan riuh jika suara guru amat pelan, intonasi datar tidak bergairah, dan lembek. Kedua, gunakan mata. Mata guru harus menyorot ke semua siswa baik yang depan maupun belakang. Lirikan guru sangat ampuh untuk menghentikan keriuhan siswa. Ketiga, gunakan gerakan. Gerakan tertentu, seperti bertepuk, lambaian tangan, goyangan kepala, dan goyangan badan akan dapat menghilangkan keriuhan siswa. Siswa akan lebih merasa diperhatikan hanya dengan kinestetis guru yang bertujuan. Keempat, gunakan posisi. Posisi berdiri guru sangat menentukan bagi penguatan daya tarik siswa. Guru berposisi berdiri lebih tinggi, di tengah, di belakang, dan di depan dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi perhatian siswa.

Pada akhirnya, pengalaman mencoba beberapa re4sep di atas akan memberikan keampuhan sendiri. Untuk calon guru, cobalah bersabar untuk terus berlatih dengan segala model. Ingatlah, pengalaman adalah guru yang terbaik.