Sabtu, 06 September 2008

Guru di Mata Mbok Siti (15)

"Mbok Siti, apakah selama ini tidak kesepian, kok sendiri di rumah?", tanyaku menyelidik sambil gentar ketakutan. "Sendiri dan tidak sendiri adalah hal yang wajar, anakku", jawabnya sambil memegangi kambing-kambingnya yang akan makan rambanan sore itu. Kadang kita sendiri kadang juga bersama orang lain. Itulah yang namanya silih berganti yang mengalir ibarat siang berganti malam dan malam berganti siang secara wajar tiap hari. "Ketika sendiri, pasti menyelinap pikiran ingin bersma orang lain. Sebaliknya, ketika bersama orang lain, kadang kita berpikiran ingin sendiri", ujarnya kalem. Guru juga begitu, pastilah mempunyai pikiran ingin sendiri untuk melihat diri sendiri. Sebaliknya, guru juga diperlukan bersama orang lain untuk menerapkan kemampuannya agar bermanfaat bagi orang lain.

Mengalir dengan wajar adalah prinsip kehidupan yang menapaki usia bumi dengan kesederhanaan. dari kesederhanaan itulah muncul kekuatan untuk membangun dunia. Kesederhanaan itu adalah guru yang suatu ketika mampu memunculkan inspirasi dahsyat bagi siswanya untuk berkarya di atas bumi. "Guru adalah sosok yang sendiri dan tidak sendiri", tegasnya.

Jumat, 05 September 2008

Menghantarkan Pesan Melalui Kesan Mendalam bagi Siswa

Oleh Suyatno

Banyak guru yang mengajar sarat pesan sehingga bertubi-tubi menyampaikan pesan dengan cara diungkapkan dan dicecarkan secara lisan semata. Kalau ditanya, mengapa hanya dicecarkan saja Pak Guru? Jawabnya, "Aduh, waktunya tidak cukup, bahannya banyak, Saya takut kehabisan waktu jika dieksplorasi lebih jauh". Pembelajaran berjalan dengan suara guru lebih dominan di telinga siswa.

Mengajar dengan cara demikian memang efektif dari sisi guru karena semua materi dapat disampaikan dengan cepat kilat. Namun, sangat tidak efektif dari sisi siswa. Siswa adalah siswa yang memerlukan proses dalam merekam sesuatu sehingga melekat sepanjang hidupnya. Siswa bukanlah kaset yang siap merekam suara dan dapat diputar kembali.

Agar pesan dapat tersimpan di memori siswa sepanjang masa, kesan yang berbeda dengan kesan hari lainnya perlu dimunculkan. Dengan begitu, pesan dapat tersimpan di kotak rekam memori yang berbeda-beda. Ketika siswa memunculkan kembali pesan yang tersimpan, siswa dapat dengan mudah untuk menariknya ke alam sadar. Contohnya, ketika siswa akan mengukur luas tanah milik ibunya, dia akan dengan cepat menggunakan rumusnya karena rumus itu terekam kuat dalam memorinya. Begitulah seterusnya.

Banyak cara untuk menghantarkan pesan melalui kesan yang mendalam bagi siswa saat mengajar di kelas bagi guru. Cara itu adalah (1) pengulangan, ulangilah berkali-kali pesan yang dirasa sangat penting melalui pertemuan yang berbeda-beda. Kita dengan cepat mengenali kawan lama sebagai teman akrab karena kita berulang-ulang mengetahui wajahnya saat itu; (2) pembedaan, bedakanlah pesan yang disampaikan dengan pesan lainnya sehingga mudah dikenalinya. Kita dengan cepat mengatakan Paris, ketika disodori gambar tower yang berbeda itu; (2) penguatan, sesuatu yang telah diterima oleh siswa perlu dikuatkan bahwa mereka mempunyai kehebatan dalam memelajari sesuatu. Seseorang dapat melakukan sesuatu dengan baik manakala mendapatkan penguatan yang hebat dari orang lain. Penguatan itu dapat berupa pujian dan pengingatan.

Rabu, 03 September 2008

Guru di Mata Mbok Siti (14)

Pagi itu, cuaca sangat panas, karena matahari tampak berada di posisi paling dekat dengan kepala ini. Panas, gerah, dan keringat bergantian mengambil peran. Aku masih saja meneruskan perjalanan ke Mbok Siti di terik yang paling terik itu.

"Mengapa gusar dengan panas matahari anakku?" ujar Mbok Siti santai sambil memandangi aku turun dari sepeda motor butut itu. "Hari ini, panasnya menyengat Mbok, tidak seperti hari-hari yang lalu," jawabku menenangkan pikiran. "Andai matahari tidak dapat dirasakan panasnya, dia hanya memberi terang tanpa semangat," kata Mbok Siti kemudian. Matahari memberikan manusia sebuah penerang yang menghangatkan sehingga membuat kita mereaksinya. Guru juga begitu, dia tidak sekadar memberikan penerang pikiran bagi siswanya, juga dia memberikan kehangatan bagi siswanya agar memanfaatkan terang itu dengan penuh semangat.

Jumat, 29 Agustus 2008

Biarlah Hanya Ryan yang Psikopat, Siswa Lainnya Janganlah: Kiat Guru Mengenali Ciri siswa Psikopat

Karena sudah terjadi, biarlah Ryan saja yang mengidap psikopat sampai membunuh 11 orang dengan darah dingin. Generasi muda, yang sekarang masih siswa, perlu dikenali gejalanya agar tidak muncul psikopat baru. Kata Dr Robert Hare dalam bukunya Without Conscience: the Disturbing World of the Psychopats Among Us, psikopat bergentayangan di sekitar kita. Mereka bisa berada di kantor, tempat olahraga, arena hiburan, bahkan di lingkungan terdekat, seperti tetangga, suami atau pacar sekalipun. Sepintas, gelagat mereka tidak kelihatan seperti orang yang punya kelainan. Pasalnya, secara tampak mata mereka terlihat menarik, pintar dan berlaku seperti orang normal lainnya.

Berikut ini kiat guru dalam mengenali gejala psikopat. Hare mengungkapkan empat ciri karakter psikopat, yakni antisosial (antisocial), pribadi yang sulit diduga (borderlne), pandai bersandiwara (histrionic) dan luar biasa egois (narcisstic).

Seseorang yang antisosial biasanya cuek pada norma-norma sosial, tak peduli pada aturan, dan pemberontak. Kepribadiannya yang sulit ditebak, bisa terlihat dari ketidakstabilannya dalam hubungan interpersonal, citra diri, serta selalu bertindak menuruti kata hati. Tanpa peduli perbuatannya itu salah atau benar, mengganggu orang atau tidak.

Orang seperti ini cenderung impulsif (melakukan sesuatu tanpa pikir panjang), dan berpikiran negatif. Ia juga memiliki sifat pendendam. Sedikit saja Anda melakukan kesalahan, seumur hidup diingat dan suatu saat akan diungkit lagi. Sedangkan pribadi histrionic, emosinya tak terkendali alias meledak-ledak, dan selalu ingin menarik perhatian.

Ada lagi kepribadian narcisstic, yang ditunjukkan dengan sikapnya yang selalu ingin dikagumi, serta minimnya empati. Ia selalu berusaha membuat hanya dirinya satu-satunya lelaki dalam hidup Anda. Hanya dialah yang boleh Anda puja.

Sedangkan indikasi lain orang psycho adalah manipulatif, egosentris, pembohong, mudah frustasi, dan gaya hidup parasit. Nah, seabrek sifat buruk ini mengerucut pada satu karakter tunggal: hipokrit alias munafik.

Dalam buku The Mask of Sanity, Dr. Hervey Cleckley menggambarkan psikopat sebagai pribadi yang likeable, charming, intelek, perhatian, impresif, punya pede tinggi, dan pintar merayu (karena itu mereka mudah "menipu" perempuan). Umumnya, mereka juga cerdas secara akademik.

Tapi, di balik itu semua, mereka membawa sifat negatif, seperti tidak bertanggung jawab, serta merusak diri sendiri dan orang lain. Ia kerap mengatakan ingin bunuh diri bila Anda memutuskan hubungan? Hm, hati-hati saja karena ia bisa melakukannya.

Para psikopat umumnya tidak pernah merasa menyesal, meski telah menyakiti orang lain. Bila belangnya ketahuan, wajahnya akan tetap seperti tak berdosa. Apa penyebabnya? Belum jelas. Hare menduga, psikopat terjadi akibat kelainan fungsi otak. Karena itu, si penderitanya tidak dapat memisahkan stimulus yang bersifat rasional dari yang emosional. Stimulus-stimulus ini diolah sekaligus oleh otak kiri dan kanan.

Namun, temuan lain menyebutkan, pengidap kelainan ini akibat dari latar belakang masa kecilnya yang "bermasalah", yang berakibat perkembangan emosinya kurang optimal. Menginjak dewasa, anak-anak ini tumbuh menjadi orang-orang yang tak bisa berempati dan tak memiliki kata hati.

Lantaran belum dipastikan penyebabnya, Hare berpendapat, psikopat belum bisa dipastikan dapat disembuhkan atau tidak. Namun, pendapat lain yang menduga kelaianan itu berawal karena salah asuh mengatakan, psikopat bisa dicegah. Asal, indikasi kelainannya terdeteksi sedini mungkin. Inilah tanda-tanda pria psikopat.

- Rajin Monitor. Setiap jam ia selalu menelepon untuk mencari tahu secara detil apa yang Anda lakukan saat itu, bersama siapa, dan sebagainya. Bila teleponnya tidak dijawab, ia akan meneror Anda hingga diangkat.

- Berbohong Tentang Masa Lalu. Ketika membicarakan mantan-mantannya, ia selalu memposisikan diri sebagai obyek penderita. Ia akan membual tentang mantan-mantannya yang bermasalah, dan bagaimana ia disakiti oleh mereka.

- Membajak Keluarga dan Teman. Tanpa meminta izin dan tidak melibatkan Anda, ia sering mengajak sahabat Anda nonton, menelepon teman-teman dan ibu Anda berjam-jam. Kelihatannya ia ingin mencari tahu tentang Anda, tapi Anda tidak pernah tahu motivasi dia sesungguhnya.

- Berdebat di Muka Umum. Ia tidak bisa memilih-milih tempat untuk bertengkar, bahkan ia kerap mengkritisi Anda di depan keluarga dan teman-teman.

- Sikapnya Susah Ditebak. Ia bisa tiba-tiba marah dan berteriak pada Anda tanpa alasan. Sedetik kemudian berlaku supermanis.

- Rajin Bohong. Ia biasa berbohong tentang apa saja, besar atau kecil, dan terkadang tanpa alasan.

- Menginterogasi Anda. Di matanya, Anda tidak pernah benar. Ia selalu ingin tahu mengapa Anda terlambat 10 menit. Ia akan menginterogasi Anda semalaman untuk memuaskan keingintahuannya.

- Memata-Matai. Awalnya ia akan melakukan invasi terhadap privasi Anda, kemudian ia akan mengecek email, telepon, bahkan berkunjung diam-diam ke kantor dan rumah untuk mencari tahu apakah ada lelaki lain dalam hidup Anda.

- Cemburu Berlebihan. Ia tidak tahan melihat Anda dekat dengan lelaki lain, meski itu teman Anda sendiri. (sumber: Ika Nurul Syifaa/kompas.com)

Mengenal Pendidikan di Brasil

Oleh Suyatno

Setelah pendidikan di India pernah dikupas di garduguru ini, penjaga gardu mengedepankan Brasil untuk dikupas pendidikannya senyampang sebulan berlalu tentang pertemua SBY dengan Presiden Brasil. Pada 12 Juli 2008, yang lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut kedatangan Presiden Brazil Luiz Inacio Lula Da Silva dalam kunjungan kenegaraan sehari di Indonesia. Presiden Brazil disambut upacara kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta. Rombongan Presiden Brazil berjumlah 68 orang itu disertai oleh Menteri Luar Negeri Brazil, Celso Amorim, Menteri Staf Kepresidenan Dilma Rousseff, serta Menteri Pengembangan Industri dan Perdagangan Luar Negeri Edmundo S Fujita. Kedua kepala negara menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman di tiga bidang, yaitu pendidikan, kerjasama teknik produksi bahan bakar etanol, dan perjanjian bebas visa untuk hubungan diplomatik serta pelayanan paspor.

Sistem Pendidikan Brasil mencakup lembaga-lembaga pemerintah (federal, negara-negara bagian dan kotamadya), serta lembaga swasta. Jenjang pendidikan dimulai dari tingkat prasekolah, sekolah dasar (Tingkat Dasar- I Grau ), dan tingkat menengah (Tingkat Kedua- II Grau ) sampai universitas dan tingkat pasca sarjana.

Pendidikan wajib bagi anak usia 7-14 tahun. Undang-Undang Dasar Brasil 1988 mengalokasikan sekurang-kurangnya 25% dari pendapatan pajak negara bagian untuk pendidikan. Di tahun 2000, 91% dari semua anak-anak Brasil usia 10-14 tahun bersekolah. Pemerintah Federal mendirikan sekurang-kurangnya satu universitas federal di setiap negara bagian. Pada tahun 1996 amandemen baru Undang-Undang Dasar dibuat, memungkinkan bagi para professor dan ilmuwan asing untuk menjadi pengajar di universitas Brasil. Kini di Brasil ada lebih dari 1.000 program pasca sarjana yang memiliki dosen pengajar yang mutunya setara dengan institusi sejenis di negara-negara maju.

Masa depan ekonomi Brasil terletak paling vital pada perbaikan pendidikan guna mencapai hasil produktivitas yang "besar sekali", "Kurangnya modal manusia menjadi penghalang tunggal terutama bagi pertumbuhan produktivitas," Organisasi bagi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan mengatakan dalam sebuah survei terhadap ekonomi Brasil. "Ada kesepakatan luas bahwa hasil yang akan diperoleh dari akumulasi modal manusia yang lebih cepat besar sekali." Indikator pendidikan yang jelek adalah lebih merupakan masalah kualitas pendidikan daripada pendanaan.

Brasil memiliki sejarah meledak dan melambat, dan OECD mengatakan potensi bagi pertumbuhan tanpa overheating kini "agak rendah" pada sekitar 3,0-3,5% per tahun. Di wilayah OECD yang terdiri dari negara-negara industri utama, potensi pertumbunan adalah sekitar 2,5% dan diperkirakan akan naik menjadi 3,0-3,5%. Brasil harus mengejar reformasi untuk meningkatkan sekitar lima poin lebih baik, menyiratkan pertumbuhan sekitar 8,0%, untuk diraih seperempat abad mendatang, laporan itu mengatakan.

OECD juga mendapati bahwa "pengurangan hambatan perdagangan nampaknya telah memainkan peran krusial dalam peningkatan produktivitas", dan program privatisasi yang besar juga telah membantu. Ekonomi telah tumbuh dengan 2,3% tahun lalu sesudah 4,9% pertumbuhan pada 2004 dan 0,5% pertumbuhan pada 2003.

Memuji reformasi belakangan ini di Brasil untuk menstabilkan inflasi, memperkuat mata uang dan mengurangi utang, OECD mengatakan bahwa "prospeknya bagus bagi pemulihan yang luas." Namun laporan itu menyoroti tiga bidang dimana aksi yang perkasa diperlukan:
1- Tantangan "dominan" akan "terus berlanjut guna mengurangi utang publik yang mengancam" sementara memperbai keuangan publik dengan kendali pengeluaran bukan terutama dengan kenaikan pajak sejauh ini. Reformasi pensiun khususnya penting.
2- Suatu "tantangan kebijakan utama adalah dengan meningkatkan inovasi di sektor bisnis" karena, meskipun kinerja inovasi membaik dengan cepat, masih terlalu rendah dan didorong terutama oleh negara dan universitas.
3- Kualitas pendidikan harus membaik karena sementara pendanaan naik hingga tingkat OECD hal itu tidak mendukung dengan cukup cepat kualifikasi angkatan kerja.

Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengurangi pasar tenaga kerja yang tak didiumumkan -- tinggi dan merugikan -- laporan tersebut menandaskan, menyebutkan sebuah terbitan bahwa buruh yang tak dideklarasikan berjumlah 37,0% dari angkatan kerja pada 1999. Dan institut itu mendesakkan diciptakannya "sistem sertifikasi keterampilan nasional".

Apa yang disebut "keajaiban Brasil" pada 1960-an dan 1970-an telah menaikkan produk domestik bruto dengan sekitar 7,5% per tahun, namun kebijakan peningkatan tidak berkelanjutan dan pertumbuhan menurun hingga sekitar 2,5% dari 1980 sampai 2005, karena lonjakan diikuti kemerosotan. "Hasilnya adalah bahwa kesenjangan dalam pendapatan per kapita Brasil dibandingkan dengan wilayah OECD (negara-negara industri maju) telah melebar dari sekitar 60% pada 1980 hingga hampir 70% sejak 2000."Untuk menutup kesenjangan ini dalam seperempat abad".

Seperti halnya Ki Hajar Dewantara, Imam Syafii, Bu Kasur, dan tokoh pendidikan yang lainnya, di Brasil juga terdapat tokoh yang dikenal dunia, yakni Paolo Freire, yang telah menyampaikan pemikiran-pemikiran kritisnya tentang realitas pendidikan. Bahwa pendidikan hanya ditakdirkan untuk melayani dominasi atau reproduksi bentuk-bentuk dominasi dari sebuah kekuasaan, telah diuraikan secara panjang lebar oleh Freire dalam sejumlah bukunya.

Menelaah sejumlah karyanya, tampak bagaimana Freire mengkritisi tentang peran reproduksi sekolah atau pendidikan sistematis terhadap ideologi dominan atau ideologi yang berkuasa. Tugas utama pendidikan sistematis adalah reproduksi ideologi kelas dominan, reproduksi kondisi-kondisi untuk memelihara kekuasaan mereka atau kekuasaan kaum borjuis. Namun tepatnya karena hubungan antara pendidikan sistematis sebagai suatu subsistem dengan sistem sosial merupakan hubungan pertentangan dan kontradiksi timbal balik.

Gambaran Freire tentang kondisi pendidikan di Brazil ini tak jauh berbeda ketika masa pemerintahan orde baru. Instrumen-instrumen pendidikan seperti kurikulum, pengajar maupun siswa berada dalam sebuah sistem yang berfungsi untuk mengamankan kekuasaan yang ada. Maka tidak heran jika fungsi pendidikan bukan lagi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan sebuah bentuk indoktrinasi untuk melanggengkan pemerintahan yang berkuasa.

Terhadap kondisi dunia pendidikan seperti ini, tokoh pendidikan asal Brazil ini memaparkan sejumlah solusinya. Bahwa ketika bicara reproduksi sebagai tugas kelas-kelas dominan, maka ada kemungkinan tugas tandingan terhadap reproduksi ideologi dominan. Kedua tugas ini bersifat dialektik, yang pertama adalah tugas reproduksi dan kedua adalah tugas oposisi pendidikan. Tugas oposisi pendidikan ini adalah bagaimana mengembalikan fungsi pendidikan agar tidak menjadi pelayan dari sebuah kekuasaan dan dinikmati oleh golongan tertentu seperti kaum borjuis melainkan kembali ke cita-citanya untuk membangun manusia yang seutuhnya.

Tantangan yang kemudian muncul dalam menjalankan tugas oposisi pendidikan ini adalah bagaimana memperjuangkan transformasi revolusioner masyarakat borjuis untuk membangun masyarakat sosialis. Revolusi perlu menciptakan dan membantu lahirnya masyarakat baru dan proses kelahiran masyarakat baru ini ada di dalam pendidikan revolusioner. Ketika revolusi meraih kekuasaan itu merupakan bantuan fantastik yang diperlukan untuk membaharui sistem pendidikan. Satu hal yang menjadi pekerjaan sekarang adalah melawan sistem borjuis melalui korps revolusioner untuk mencipta melalui pendidikan.

Pemikiran, kritik dan sebuah solusi yang telah ditawarkan oleh Freire di atas jika dicermati dengan seksama, ternyata begitu dekat dengan realitas dunia pendidikan kita. Bagaimana dengan di Indonesia? Adakah yang menindaklanjuti konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Imam Syafii?

Mengajar dengan Gaya Anak-Anak

Oleh Suyatno

Anak adalah anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil. Piagiet (Suparno, 2001:30), dalam teori perkembangan anak, menyebutkan bahwa anak berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan baik mental, fisik, dan kognitifnya. Menurut teori Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru di lahirkan sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif. Empat tingkat perkembangan kognitif itu adalah:
1) Sensori motor (usia 0 - 2 tahun)
2) Pra operasional (usia 2 – 7 tahun)
3) Operasional kongkrit (usia 7 – 11 tahun)
4) Operasi formal (usia 11 tahun hingga dewasa)
Berdasarkan tingkat perkembangan kognitif Piaget itu, gaya guru dalam mengajar haruslah disesuaikan dengan kondisi dan situasi anak. Cara yang paling tepat adalah mengajar dengan gaya anak-anak. Berikut modal mengajar dengan gaya anak-anak.

Pertama, kreatif. Anak adalah orang yang paling kreatif dibandingkan dengan orang dewasa karena masih dalam taraf pencarian pengalaman. Untuk itu, mengajar dengan gaya anak-anak ditandai oleh kreativitas guru yang mampu membangkitkan kreativitas anak.

Kedua, Zona Perkembangan Terdekat (scafolding). Anak berada dalam lingkungan yang mudah dijangkau olehnya. Anak selalu belajar dari yang dekat ke yang jauh. Untuk itu, dalam mengembangkan materi dan menggunakan bahasa guru, guru perlu berangkat dari materi yang mudah dikenali anak dan digiring ke yang lebih kompleks. Bahasa guru juga perlu disederhanakan dengan kata-kata yang lugas.

Ketiga, Multimedia. Anak menagkap sesuatu melalui multimedia yang dimilikinya, yakni melalui mata, telinga, gerak, dan rasa. Dengan begitu, mengajar dengan gaya anak-anak juga harus memadukan media mata, telinga, gerak, dan rasa. Mengajar yang hanya bertumpu pada ceramah berarti menyalahi prinsip alamiah anak-anak.

Keempat, Pembiasaan. Anak selalu berada dalam pembiasaan untuk menguasai aspek tertentu. Saat anak mampu makan secara mandiri, saat itulah anak telah lolos dari pembiasaan yang dilakukan ibunya dalam belajar makan. Bahkan, untuk mengajari makan yang benar saja, seorang ibu menempuh waktu 2 tahun. Begitu pula, belajar yang lainnya, anak memerlukan pembiasaan seperti memakai baju, menggunakan tangan kanan, berbicara sopan, dan seterusnya. Guru dengan gaya mengajar anak-anak perlu melakukan pembiasaan agar anak dapat menangkap materi dengan kuat.

Kelima, Media. Anak dalam belajar selalu menggunakan media tampak yang dapat dilakukannya. Ketika belajar bersepeda, anak pasti menggunakan langsung media sepeda. Begitu pula, dalam belajar di kelas, anak akan cepat menguasai materi jika dibarengi dengan media yang pas.

Keenam, Menyenangkan. Anak dalam bermain, belajar, dan bergerak selalu dalam keadaan gembira. Lhiat saja, ketika anak masih kecil dalam keadaan susah, dia pasti berdiam diri dan menolak. Sebaliknya, saat anak dalam keadaan gembira, dia melakukan apapun yang disukainya dalam rangka belajar. Guru di kelas, hendaknya juga selalu menyenangkan dalam mengajar.

Kamis, 28 Agustus 2008

Guru di Mata Mbok Siti (13)

Tiba-tiba saja, aku mendapatkan potongan cermin, amat kecil, di sela tepas dapur Mbok Siti. Aku ambil potongan itu mumpung Mbok Siti masuk ke dalam rumah dan kulihat wajahku sendiri. Ya. Wajahku sendiri.

"Kalau ingin bercermin mengapa harus sembunyi-sembunyi," kata suara Mbok Siti dari dalam menuju ke dapur. Aku cepat-cepat meletakkan kembali cermin kecil itu ke selipan tepas dengan posisi seperti semula. Bercerminlah dengan sepuasnya sampai kamu mendapati gambar yang utuh dari dirimu. "Jika kita bercermin dengan cermin kecil, tentu, hanya akan tampak gambar kita dengan kecil pula," kata Mbok Siti penuh senyum. Bercerminlah di depan cermin besar yang mampu memantulkan gambar kita dengan besar pula. "Guru juga senantiasa perlu bercermin agar mengetahui gambar asli dan perubahan dirinya setiap waktu," jelas Mbok Siti sambil duduk di sebelahku. Aku gemetar dan merasa bersalah melakukan perbuatan bercermin tanpa sepengetahuan Mbok Siti.

Justru bercermin yang baik jangan sampai diketahui orang karena bercermin adalah tindakan melihat diri sendiri. Guru yang baik jangan sampai bercermin kalau ada orang yang melihatnya saja. "Cobalah bercermin dengan khidmat dan tulus. Akui semua gambar yang muncul karena itulah keaslian diri," sela Mbok Siti.

Guru, Jadilah Dirimu Sendiri

Oleh Suyatno

Kalau kita tidak bisa memberi berkah
kepada orang lain,
setidak-tidaknya
janganlah menjadi batu sandungan
bagi orang lain


Jadilah diri sendiri dan janganlah menjadi orang lain yang ditutupi dengan wajah fisik sendiri. Guru adalah sosok manusia yang mempunyai kedirian yang berpotensi jika diasah dan dikembangkan. Dari kedirian itu, muncullah semangat berkarya melalui jalur guru, yang menjadi agen perubahan bagi generasi mendatang. Guru adalah guru dan bukan pekerjaan lain.

Tugiman, sebut saja begitu, seorang guru yang selalu bimbang ketika melihat dokter begitu laris dikunjungi pasien. Dia tambah suka melamun ketika melihat arsitek berkendaraan mobil mewah. Dia tambah stres ketika melihat tukang bakso membeli sepeda motor baru. Dia pusing 100 hari ketika melihat muridnya melebihi kariernya daripada sosoknya yang hanya guru.

Lain lagi dengan Guru Paiman, dia selalu bingung dengan metode pembelajaran yang begitu banyak dan tidak mengetahui metode mana yang paling bagus. Paiman selalu takut salah ketika akan menerapkan metode pembelajaran yang pernah dipakai guru lain. Apa yang disajikan di depan kelas, selalu dirasakan Paiman sebagai sesuatu yang penuh dengan kegamangan.

Lastri, perempuan guru, sebut juga begitu, selalu meniru pekerjaan guru lain dalam hal apapun. Perencanaan pembelajaran yang dibuatnya merupakan tiruan dari perencanaan guru lain di tempat lain. Cara mengajarnya juga fotokopi dari cara yang digunakan guru lain. Pokoknya, apa yang dilakukan guru lain, entah bagus atau tidak, selalu ditirunya.

Tugiman, Paiman, dan Lastri di atas merupakan contoh dari guru yang tidak berada dalam posisinya sebagai guru sebenar-benarnya guru. Mereka hanya bersaput bentuk namun tidak berisi makna dan fungsi. Mereka berkategori guru kacau-balau karena tidak bersandar pada diri sendiri.

Kalau memang sudah memastikan diri dilabeli profesi guru, jadilah guru yang benar-benar guru. Guru yang demikian tidak akan pernah iri dengan profesi lain meskipun daya pancar profesi lain itu begitu memukau. Guru sejati selalu yakin akan peran yang dimainkannya di kelas bermanfaat bagi siswanya. Guru sejati selalu terhindar dari kontaminasi negatif yang merusak citra guru.

Jika guru sebagai sebuah bentuk kebahagiaan dalam hidup, dalamilah tugas guru sampai pada taraf yang mengagungkan bagi diri. Rasakan kenikmatan diri saat melihat siswa yang diasuh mengalami perubahan tingkah laku ke arah positif. Dengarkan detak jantung sendiri yang berirama itu ketika melihat siswa yang diajar tersenyum dan menganggukkan kepala pertanda mengerti dan mampu menyerap konsep yang diberikan. Angkatlah bibir menjadi sebuah senyuman ketika melihat senyum siswa yang tulus karena merasakan kenikmatan belajar. Itulah diri sendiri yang akan melekat dalam aurora guru.

Selasa, 26 Agustus 2008

Guru di Mata Mbok Siti (12)

Akhirnya, saya dapat juga bermalam di rumah Mbok Siti hanya karena ketidaksengajaan. Pasalnya. sore menjelang malam itu, sepeda motor bututku tidak berangin alias ban kempes. Lalu, Mbok Siti menyilakan aku menginap saja karena tukang tambal sangat jauh, sekitar 10 km. Wah, sebuah perjalanan yang teramat panjang dan bisa-bisa tukang tambal ban sudah tutup.

Dengan ditemani secangkir kopi, aku bersila di tikar kebanggan Mbok Siti sambil mengobrol dengan Mbok. Lampu yang menerangi malam itu hanya sebuah dimar dari kain yang dililit di pucuk botol dengan minyak tanah sebagai tenaganya. Aku memandangi lama dimar itu.

"Lihatlah api itu anakku, dia menyala terus karena mempunyai cadangan minyak di dalamnya", ujarnya. Jika minyak itu habis, api akan pelan-pelan padam. Guru juga ibarat api yang harus terus menyala agar dapat menerangi sekitarnya. Agar semangat guru tidak padam, guru memerlukan minyak yang cukup. Minyak itu dapat diperoleh guru dari melihat, merenung, membaca, menulis, dan berdiskusi. Senatiasa, guru harus mengisi botol keguruannya dengan minyak keguruan pula. "Guru yang kehabisan minyak memang akan tetap guru tetapi hanya tampak luarnya saja," kata Mbok Siti sambil beringsut menyodorkan ketela rebus.

Sabtu, 23 Agustus 2008

Mengajar dengan Jubah Konsep

Oleh Suyatno

Betapa siswa sangat jenuh jika bertemu guru berkali-kali dengan gaya mengajar yang nyaris tetap. Biasanya, siswa sudah mengenali kebiasaan guru, dari cara berbicara, gaya berdiri, mimik, sikap, dan posisi di kelas. Tidak jarang, siswa menirukan gaya guru ketika jam istirahat untuk mendatangkan tawa sesama mereka. Anehnya, banyak guru yang tidak tahu kalau menjadi bahan tiruan siswa sebagai bahan gurauan.

Agar siswa tidak jenuh dan tidak menirukan gaya khas guru di saat istirahat, guru perlu sering mengubah gaya mengajar dengan aneka metode pembelajaran. Cobalah sekali-kali, guru menggunakan jubah seperti baju dokter atau petugas laboratorium yang telah ditulisi konsep mata pelajaran yang diasuhnya. Masuklah dengan jubah itu. Kemudian, dengan gaya peragawan, guru memamerkan tulisan yang ada di jubah untuk dibaca siswa. Setelah itu, siswa menyimpulkan isi tulisan yang ada di jubah itu.

Jubah konsep dapat digunakan untuk guru matematika dengan menulisi rumus yanghendak dikuasai siswa di jubah itu. Guru biologi juga dapat menggunakan jubah itu dengan menuliskan konsep yang akan diajarkan di jubah. Begitu pula, guru mata pelajaran lainnya, jubah dapat digunakan.

Tariklah simpati siswa dengan memainkan jubah konsep dengan tepat. Setelah pelajaran selesai, jubah dapat dilipat dan disimpan untuk minggu-minggu berikutnya atau untuk kelas lain. Yakinlah, siswa akan tertarik dengan cara mengajar dengan jubah konsep. Selamat mencoba.