Kamis, 04 November 2010

Sastra Anak, Mau Dibawa ke Mana?

Inilah fakta yang membanggakan Indonesia dari sudut kekuatan potensi anak-anak dalam menulis. Betapa tidak. Saat ini, bermunculan sastra karya anak-anak secara menggila karena ada ratusan judul cerpen, puisi, dan novel karya anak-anak baik yang dibukukan maupun dimuat di media massa. Jika dikatakan revolusi, inilah revolusi menulis di Indonesia dari sisi usia dini sudah berkarya. Lihat saja, Fais sebagai penulis puisi, Ataka penulis novel berseri, Izzati penulis novel paling prduktif, Aini penulis cerpen, dan anak-anak lainnya. Mereka bertubi-tubi menghiasi jagat sastra anak di Indonesia.
Tentunya, semua pihak berharap bahwa di dunia anak harus terus bergulir karya-karya sastra sampai kapan pun sehingga mampu menghiasi dunia sastra anak di Indonesia. Jangan sampai, hadirnya sastra anak karya anak tersebut hanya sebatas euforia atau kegembiraan sesaat saja untuk saat ini. Lalu, ke depan, sastra anak karya anak menyusut bahkan tenggelam di makan perkembangan zaman. Perlu diingat, gangguan kreativitas juga menyerbu anak-anak Indonesia melalui budaya instan, konsumerisme, pragmatis, dan nina bobok. Gangguan kejam yang dapat memasung kreativitas anak itu perlu dihalangi bahkan dijauhkan dari kehidupan sejati anak-anak.
Lalu, resep apakah yang mampu melanggengkan kreativitas anak-anak dalam tulis-menulis sehingga muncul tersendiri aliran sastra karya anak? Bagaimanakah resep itu mampu menjawab secara jitu ketakutan akan perkembangan sastra anak karya anak? Jawabnya, ada di pundak generasi Indonesia semuanya. Ingatlah bahwa anak-anak merupakan pilar pelapis masa depan bangsa karena hidup selalu berkembang dan bergantian.

42 komentar:

Aricha Galuh DP mengatakan...

Nama : Aricha Galuh Dyah P
Nim : 072144042
Sastra Indonesia

Komentar :
membaca judul "sastra anak mau dibawa kemana?" seakan teringat akan judul lagu dari salah satu grup band yangg sedang naik daun. Jika kita mempertanyakannya, mau dibawa kemana sih sastra anak ini? tentu setiap orang memiliki pemikirannya sendiri. Bagi saya, Dunia anak-anak tentu sewarna dengan pengalaman dan pengetahuan mereka yang belum menumpuk sehingga masih diperlukan mediasi untuk mengembangkan daya kreatifnya. Maka yang paling penting dalam hal ini adalah pemenuhan hak anak. Hal yang dimaksud adalah proses belajar, menjadi individu yang subjektif, perkembangan pengalaman dan pengetahuan, yang semuanya berada dalam bingkai dunia anak. Membaca dan menulis misalnya, merupakan hak anak sebab di sana terdapat adanya ‘proses menjadi diri sendiri secara utuh’, bukan menjadi seperti gurunya, seperti orang tuanya, atau seperti orang lain. Jadi lebih baik bawa saja sastra anak tersebut ke dunia anak itu sendiri bukan dibawa lari ke dunia orang lain (dewasa).

Ranie_Novieta mengatakan...

Rani Novita
072144018
Sastra Indonesia

sastra anak mau dibawa kemana???
mendengar pertanyan itu sebenarnya sangat sulit untuk dijawab dalam era globalisasi sekarang ini...
karena dunia anak saat ini telah dipenuhi mOdernisasi,..
anak-anak selalu ingin mengetahui berbagai informasi tentang apa saja yang dapat dijangkau pikirannya...
selain informasi, anak-anak juga butuh perrhatian, pengakuan dan penghargaan...
Hak anak harus dipenuhi, dan inilah tugas para orang tua untuk mengapresiasikan seorang anak.
dunia anak merupakan sebuah dunia yang penuh keceriaan, sebuah surga dunia yang sulit diperoleh kembali, bahkan tidak akan pernah oleh mereka yang sudah dewasa...
kesadaran untuk mengenal dan membaca berbagai karya sastra anak itu menjadi bagian dari diri sendiri dan diharapkan kesaddaran itu dapat diwaariskan kepada anak cucu kita, baik dari lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah pada waktunya kelak...

erga_bubu mengatakan...

Immaculata Febrianti
072144012

Sastra anak sebenarnya sudah ada sejak dahulu, hanya saja perhatian terhadapnya baru gencar beberapa saat ini. Hal ini terbukti dengan berbagai contoh sastra anak seperti cerita seri binatang "Si kancil", puisi lagu seperti "keplok ame-ame", "burung kakak tua", "satu-satu", dan lain-lain.
Sastra anak mau dibawa kemana sebenarnya tergantung kepada masyarakat penikmatnya. Dahulu mungkin sastra anak belum seberapa diperhatikan karena tidak banyak penelitian terhadapnya. Setelah diteliti, sastra anak ternyata mempunyai berbagai nilai yang menguntungkan bagi penikmatnya. Hal inilah yang membuat sastra anak akhirnya "laku" dipasaran. Ditambah lagi karena tekhnologi yang semakin berkembang, semakin membuat sastra anak diperhatikan.Buku-buku pengetahuan tentang sastra anak juga mulai "naik daun", yang digunakan sebagai salah satu bahan acuan untuk dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan sastra anak.
Semoga saja semakin banyak buku-buku pengetahuan tentang sastra anak sehingga sastra anak dapat semakin berkembang dan dapat berpengaruh terhadap keoptimalan tumbuh kembangnya anak Indonesia saat ini dan selanjutnya..!
n_n

navy girl mengatakan...

kreativitas yang dimiliki oleh seorang anak tidak akan lepas dari peran orang tua semasa anak itu masih balita.
perlakuan orang tua dalam membentuk kreativitas anak sangat penting dalam kehidupan seorang anak selanjutnya.
dan apabila saat ini kita berbicara tentang resep untuk melanggengkan kreativitas anak, maka peran orang tua dan lingkungan disekitarnya sangat penting.
karena dengan dukungan dari orang tua dan lingkungan dimana anak itu tumbuh dapat memacu kreativitas dan hasrat anak dalam menciptakan sebuah karya sastra anak.
bukan hanya dukungan saja yang dibutuhkan, tetapi juga pujian.
pujian bagi setiap karya yang dihasilkan oleh anak-anak sangat penting bagi jiwa anak karena hal itu dapat meningkatkan keinginan mereka untuk terus menghasilkan karya.

re_rezq mengatakan...

Nama : Rizki Aulia Susanti
Nim : 072144939
Prodi : Sastra Indonesia '07


kalo menurut saya resep yang pas untuk melanggengkan kreativitas adalah pacuan dari orang dewasa (orang tua)di sekitar mereka dengan cara sering-sering bercerita kepada anak pada saat tidur karena mereka akan mendengarkan itu semua dengan sungguh-sungguh dan juga dengan cara menjawab setiap pertanyaan yang diberikan anak kepada orang tua dengan sabar. Anak-anak sama dengan halnya manusia dewasa, mereka membutuhkan informasi tentang dunia, tentang segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. mereka sangat suka mendengarkan bahkan sering sekali ikut nimbrung. sehingga membantu anak terhadap proses kreatifnya dalam sastra karya anak. semua itu, merupakan dorongan energi positif dari orang tua terhadap kreatifitas anak-anaknya. Karena , dengan adanya dorongan energi positif yang datang dari orang terdekat , mereka akan semakin terdorong untuk bisa lebih berkreatifitas dalam sastra karya anak itu sendiri. atau orang tua memberikan fasilitas yang di butuhkan anak dalam menghasilkan sebuah karya.
Tidak hanya itu, anak juga berhak memperoleh hal-hal dalam rangka pengembangan identitas diri dan kepribadiannya. sebab anak-anak masih membutuhkan dorongan moral dari orang tuanya.

antonius eko w mengatakan...

Nama : Antonius eko wibowo
Nim : 072144021
Jurusan : Sastra Indonesia



menurut saya sastra anak seharusnya di buat oleh anak dibaca oleh anak dan dimengerti oleh anak. gambar,mimik dan tatanan kata sangat berpengaruh dalam persoalan ini. mengatakan persoalan-persoalan yang menyangkut masalah kekerasan dan prasangka, serta masalah hidup mati tidak didapati sebagai tema dalam bacaan anak. Begitu pula pembicaraan mengenai perceraian, ataupun KDRT merupakan hal yang dihindari dalam bacaan anak. Artinya, tema-tema yang disebut tidaklah perlu dikonsumsi oleh anak. Fungsi sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan, sehingga menuntun kecerdasan emosinya

Maya D. Arista mengatakan...

Nama : Maya Dwi Arista
No.Reg : 072144024
Sastra Indonesia

Komentar :
Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak melalui pandangan anak-anak. Apakah sastra anak merupakan sastra yang ditulis oleh orang dewasa yang ditujukan untuk anak-anak atau sastra yang ditulis anak-anak untuk kalangan mereka sendiri tidaklah perlu dipersoalkan, asalkan dalam penggambarannya ditekankan pada kehidupan anak yang memiliki nilai kebermaknaan bagi mereka. Tapi dalam kenyataannya, nilai kebermaknaan bagi anak-anak itu terkadang dilihat dan diukur dari perspektif orang dewasa sehingga sastra anak yang ditulis oleh orang dewasa lebih bersifat menggurui.

sastra,bahasa,budaya mengatakan...

oleh: Pramita Jaya Ernila Tarie
NIM/Jur: 072144004/Sastra Indonesia
Anak-anak memang pilar pelapis masa depan bangsa. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa selayaknya mendapat perhatian lebih dari orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat pada umumnya. Hak-hak mereka harus dilindungi, dipenuhi, dan diperhatikan. Anak-anak membutuhkan teladan yang baik bagi mereka, baik dalam bersikap maupun bertingkah laku. Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak sering meniru gaya ayah dan ibunya dalam hal berpakaian, berdandan, bersikap, dan lain-lain. Anak-anak juga meniru tokoh idola dalam film atau dongeng yang mereka lihat, dengarkan, dan baca. Nah, di sinilah peran karya sastra anak itu sangat penting. Para penulis cerita anak bisa memunculkan tokoh-tokoh teladan di dalam cerita, misalnya tokoh pahlawan dalam bentuk fabel atau teman yang baik hati. Karya sastra anak yang diciptakan oleh anak-anak akan memiliki 'nilai lebih' dibanding karya sastra anak yang dihasilkan oleh orang dewasa, sebab anak-anak lebih mengetahui dunia yang mereka rasakan sendiri. Maka, orang tua sebagai ‘guru utama’ bagi anak-anak di rumah perlu membiasakan ‘budaya membaca’ sejak anak-anak masih berusia dini. Dengan berlatih membaca, anak-anak akan aktif belajar dan selanjutnya akan timbul minat menulis. Pada awalnya anak-anak bisa menulis coretan sehari-hari di buku tulis atau di buku harian (diary). Selanjutnya, bimbingan dan arahan dari orang tua, guru di sekolah, serta motivasi dari diri mereka sendiri akan memunculkan minat menulis karya sastra anak, sehingga anak-anak bisa berlatih menulis puisi, cerpen, bahkan novel maupun cerita berseri sejak usia dini. Dengan mengembangkan budaya membaca dan menulis di rumah, anak-anak akan menjadi gemar menulis karya sastra, sehingga karya sastra yang ditulis oleh anak-anak bisa berkembang dan tidak mandeg atau menjadi euforia belaka.

kematian mengatakan...

fajar ahadi
sastra indonesia/072144036

Mau dibawa ke mana sebuah sastra anak,adalah sebuah pertanyaan besar?memang dalam sastra anak masa kini semakin menggila,dengan banyaknya karya-karya sastra yang terlahir justru dari mereka yang dapat juga dikatakan seorang sastrawan cilik yang tidak tahu ilmu akan kesastraan sesungguhnya. Karena itu,kita sebagai generasi tua atau muda yang telah mengenyam ilmu kesusastraan ikut andil dalam mengarahkan para sastrawan-sastrawan cilik sejak dini. Sehingga, mereka dapat mampu melanjutkan pembaharuan-pembaharuan dalam karya sastra dan mereka juga dapat lebih terarah atau lebih terkembangkan imajinasi-imajinasi ajaib mereka, yang berakhir dengan sebuah generasi yang hebat dan melanjutkan perjuangan para sastrawan terdahulu demi mengharumkan nama bangsa.

Risandiarto Mardika mengatakan...

Nama: Risandiarto Mardika
Nim : 072144037
Satra Indonesia 07

Kekuatan potensi anak-anak dalam menulis adalah imajinasi, dimana anak-anak masih dapat menerima hal-hal yang berbau imajinatif dan khayal. Menurut saya anak-anak adalah awal dari sirkulasi kehidupan dunia, dimana anak-anak masih polos dalam menanggapi berbagai hal dan kurangnya pengetahuan tentang dunia. karena itulah peran orangtua disini sangatlah penting untuk mengarahkan anak-anak agar tidak terperosok kedalam jurang orang dewasa. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa saat ini anak-anak telah kehilangan dunianya. Anak-anak sekarang lebih suka terhadap karya sastra yang seharusnya karya tersebut dinikmati oleh orang dewasa. Fenomena yang saya tangkap sekarang adalah, dimana anak-anak lebih suka menyanyikan lagu untuk orang dewasa. Sungguh riskan memang jika kita sebagai penerus bangsa hanya diam saja melihat penampakan-penampakan yang menjajah mental anak-anak, yang dirancang sedemikian rupa untuk menirukan style orang dewasa. Beruntunglah kita memiliki anak-anak yang datang dengan sejuta imajinasi yang dituangkan kedalam karya sastra, dan mampu menyelamatkan serta mengembalikan citra anak-anak yang seharusnya. Melihat trend positif yang telah ditorehkan anak-anak tersebut, kita sebagai generasi Indonesia wajib hukumnya untuk menjaga dan dapat menjadi tembok yang membatasi antara dunia anak-anak dan orang dewasa.

sastrakita mengatakan...

Nama : Evi Zuliana
NIM : 072144034
Kelas : SRN 07

Dunia sastra anak saat ini memang mengalami perkembangan yang cukup signifikan dibanding dengan angkatan dan atau tahun sebelumnya. Hal itu bisa kita lihat dari beberapa karya sastra anak yang dikarang oleh anak-anak. Namun, belum tentu revolusi positif itu bisa bertahan lama. Mengingat perkembangan teknologi yang cepat sehingga memungkinkan terciptanya benda-benda (mainan) berteknologi yang canggih bisa membuat anak-anak berpaling dari membaca dan atau menulis cerita fiksi anak ke permainan modern, misalnya saja play station.
Sebagian besar anak-anak di Indonesia lebih suka bermain play station daripada membaca dan atau menulis cerita fiksi anak. Bahkan beberapa dari mereka sampai lupa waktu dan rela bolos sekolah karena ingin bermain play station. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan sekali. Perkembangan teknologi menjadi momok yang dapat merusak generasi bangsa. Oleh karena itu, sastra anak harus terus dikembangkan dan dikemas semenarik mungkin agar anak-anak lebih tertarik terhadap karya sastra anak daripada permainan modern.
Untuk itu sudah menjadi tugas orang tua dan guru untuk terus mendorong anak-anak mengembangkan kreativitas mereka dalam membaca dan menulis karya sastra. Orang tua dan guru adalah faktor paling utama yang paling berpengaruh dalam mendidik anak-anak. Orang tua seharusnya selalu mendukung anaknya untuk mengembangkan kreativitas, mengajari anaknya membaca dan menulis melalui karya sastra anak. Sementara itu, guru sebagai pendidik di sekolah hendaknya mengajarkan siswa-siswanya membaca dan menulis melalui karya sastra anak juga. Salah satu cara pengajaran agar anak-anak mau menulis karya sastra anak adalah dengan memberikan tugas kepada mereka untuk mengarang karya sastra anak. Hal tersebut dapat membuat anak terbiasa untuk menghasilkan karya sastra sehingga sastra anak tidak lenyap begitu saja, dan mungkin juga kembali mengalami revolusi positif.

Uaswatun Chasanah mengatakan...

Uswatun Cahasanah
072144033

Dunia anak adalah dunia bermain dan bersuka cita, dimana mereka belum memikirkan tanggung jawab seperti orang dewasa. Bermain akan mempermudah anak memupuk unsur-unsur kreativitas, seperti rasa ingin tahu, daya khayal/imajinasi, dan coba-coba. Lewat permainan, tingkat kreativitas anak akan dipacu melalui daya khayalnya. Ini akan membuatnya mampu melihat gambaran dan wawasan baru.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa sastra anak adalah cerminan atau gambaran dari kehidupan dengan penggambaran yang konkret sehingga mudah untuk diimajinasikan oleh pembaca anak. Seorang anak yang dibiasakan dengan karya sastra maka akan terus terpacu imajinasinya sehingga menuntun anak untuk menuangkannya. Tetapi tidak semua karya sastra disediakan untuk anak-anak, Seperti karya sastra yang khusus untuk orang dewasa karena akan menghambat imajinasi anak.
Kreativitas untuk memicu anak untuk menghasilkan karya yang baik adalah tidak menekan dan mengatur semua keinginan atau kegiatan anak. Karena anak yang kreati mempunyai sifat dominan spontan yaitu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan tertarik pada hal-hal baru. Sifat dominan yang selanjutnya adalah dunia anak adalah dunia bermain dan bersuka cita, dimana mereka belum memikirkan tanggung jawab seperti orang dewasa. Bermain akan mempermudah anak memupuk unsur-unsur kreativitas, seperti rasa ingin tahu, daya khayal/imajinasi, dan coba-coba. Lewat permainan, tingkat kreativitas anak akan dipacu melalui daya khayalnya. Ini akan membuatnya mampu melihat gambaran dan wawasan baru. Dengan wawasan dan gambaran baru itulah seorang anak yang kreatif akan menuangkannya melalui tulisan.
Maka untuk menumbuhkan daya kreativitas anak adalah (1) memberikan anak ruang dan kebebasan untuk bermain dan bereksplorasi, (2) membiarkan anak memilih sendiri media permainannya, jangan terlalu diatur karena anak akan merasa tertekan dan cenderung tidak mandiri serta sulit untuk berkembang, (3) memperkenalkan anak pada orang lain, budaya, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda dari kebiasaannya dan akan menambah wawasannya, (4) membiarkan anak merasa tenang, nyaman, dan menikmati proses kreativitasnya tanpa terlalu turun tangan untuk ikut mengaturnya ini memicu agar anak mempunyai kemandirian serta tidak selalu bergantung dengan orang lain, dan (5) menciiptakan lingkungan yang terbuka dan menerima anak apa adanya.
Dengan semakin banyaknya anak yang kreatif, maka akan terciptalah karya sastra anak yang baik dan bermutu serta melanggengkan kreatifitas anak untuk menulis.

mitcuo mengatakan...

nama: M. Rahmatullah
Nim :072144002

membaca artikel yang berjudul "sastra anak mau dibawa kemana?", merupakan kegembiraan dan juga kewaspadaan bagi kita. kegembiraannya kita telah memiliki aset sasatrawan cilik yang jitu, dan kewaspadaannya yaitu bagaimana mempertahannkan aset itu, dan mengembangkannya.
anak-anak sekarang lahir dimata dunia yang sudah menggiras modern, hal itu tentunya membawa dampak positif dan juga negatif. misalnya di negeri korea, pemerintahnya sekarang lagi sibuk mencari problem soving buat anak anak yang telah kecanduan dengan game online. apakah di indonesia demikian?. iya, anak anak di indonesia sekarang telah mengenal internet, facebook, twiter, game online, dan tidak sedikit dari mereka ada yang melihat hal hal yang tidak diinginkan oleh kita. dan hal tersebut akan menghambat kekratifitasan anak-anak.
oleh karena itu sebaiknya orang tua harus mengontrol anak-anaknya, mendidik, memberi kesibukan yang positif, dan memberikan hak-hak anak-anak sewajarnya. pemerintah membantu hal tersebut, dan kita generasi mudah mengawasi juga. untuk mengembangkan kesusastraan anak-anak, sebaiknya pada kurikulum pelajaran, ditambah pelajaran sastra, hal ini pernah diusulkan dalam seminar yang diadakan di Unair. bahkan di negeri lain misalnya china. disana sudah terdapat pelajaran sastra untuk sekolah dasar. hal tersebut akan menimbulkan berbagai karya sastra anak, dan akan menciptakan aliran sastra anak. orang tua dan generasi muda harus mendukung hal tersebut. dan pemerintah harus menghargai apa yang telah dihasilkan oleh anak-anak, yang selama ini perhatian pemerintah kurang terhadap karya seni anak khususnya sastra.

PhisyaNyaMuppy mengatakan...

Nama : Rafi Aprilina S.
NIM : 072144007
Prodi : Sastra Indonesia 2007

Sastra anak di Indonesia memang sedang marak di dunia sastra saat ini. Bermunculannya cerpen, puisi, dan bahkan novel karya anak-anak merupakan salah satu wujud apresiasi mereka dalam mengekspresikan semua yang mereka lihat,mereka dengar dan apa yang mereka rasa. Bila ditanyakan “sastra anak, mau dibawa kemana ?” maka semua dikembalikan lagi pada mereka yang mempunyai ide kreatif dan orang-orang yang sadar akan potensi anak mereka masing-masing. Selain itu peluang untuk membuat karya sastra anak masih sangat luas. Melalui sastra pulalah anak-anak mengembangkan imajinasi, emosional, dan perkembangan diri serta membantu mereka mengembangkan cakrawala tentang dunia luar. Sedangkan untuk melanggengkan kreativitas anak dalam berkarya, anak-anak sendiri membutuhkan motivasi secara moral dan spiritual dari orang-orang terdekat untuk terus mampu berkarya.

Desi Eka Priestian mengatakan...

sastra anak mau dibawa kemana ?? sebuah pertanyaan yang membuat kita tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan akan tetapi ikut memikirkan nasib sastra anak saat ini khususnya sastra anak karya anak. Membuat anak untuk senang menulis bukanlah hal yang mudah, akan tetapi dengan metode bermain dan belajar akan mempermudah usaha para orang tua untuk memdidik anak-anak agar lebih tertarik untuk berkarya.Dengan bermain, anak-anak akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan bagi mereka sehingga ketika kita mengajak mereka untuk belajar menulis, mereka akan mudah lebih mudah menulis pengalaman yang telah mereka dapatkan. hal demikian akan membuat anak-anak akan terlatih dan terbisa untuk menulis dan menghasilkan karya sastra anak

tipink mengatakan...

Ika Noviyanti
072144022 / Sastra Indonesia

Sastra anak, mau dibawa kemana? Tentu kita mengharapkan sastra anak akan dibawa ke arah yang lebih baik, sehingga dapat berkembang dang langgeng keberadaannya terlebih bila melihat fakta-fakta yang telah dipaparkan, bahwasanya saat ini begitu banyak anak yang mampu berkarya lewat tulisan atau karya sastra dalam berbagai bentuk. Anak merupakan aset bangsa yang sangat berharga, selayaknyalah dijaga keberadaan dan potensinya.
Kemajuan sastra anak dengan maraknya karya sastra anak bermunculan haruslah dipertahankan dan dikembangkan. Terdapat beberapa cara yang berkesinambungan sebenarnya untuk melanggengkan apa yang sudah ada saat ini. yang pertama adalah menghargai kehadiran dan eksistensi anak. Caranya adalah memberikan dukungan moril berupa motivasi, sehingga anak dapat memiliki dorongan untuk mengeksplor bakat, minat, dan kemampuannya. Dukungan mental itu sangat penting.
Selain dukungan moril, anak juga memerlukan media atau sarana dan prasarana menyalurkan bakat, minat, dan kemampuannya. Hal ini akan mendorong anak menjadi tekun untuk mengasah bakat, minat, dan kemampuannya lebih dalam. Yang lebih penting dari itu adalah membiasakan anak untuk membaca. Kebiasaan membaca ini akan banyak memiliki dampak positif. Pertama, kebiasaan membaca anak merupakan penghargaan. Maksudnya, dengan membaca karya-karya sastra anak, anak ikut serta memberikan penghargaan kepada pengarang atau penulis karya tersebut. Siklus tersebut akan memotivasi penulis dan anak sendiri untuk berkarya tanpa henti. Pada akhirnya ini dapat melanggengkan eksistensi sastra anak karya anak.
Kedua, kebiasaan anak membaca dan menulis akan memperkaya pikiran dan batin anak. Hal ini tentu penting untuk memperkuat soul anak dalam menulis karya. Pada akhirnya karya-karya sastra anak menjadi bermutu dan bernilai sastra tinggi layaknya karya sastra dewasa.
Dalam hal melanggengkan dan memberi arah sastra anak karya anak, perlu adanya peran serta orang tua atau dewasa, terutama sastrawan-sastrawan dewasa. Mengapa perlu? Karena sastrawan dan kritikus-kritikus sastra dapat memberi pencerahan dan arah yang lebih baik. Penelitian-penelitian terhadap sastra anak karya anak haruslah mereka lakukan, karena ini penting untuk mengembangkan eksistensi yang kemudian mengklasifikasi karya-karya sastra anak. Apabila seluruh cara-cara di atas dilakukan dan digalakkan secara kesinambungan, tentu harapan untuk membuat sastra anak memiliki arah dan pengembangan yang lebih baik akan terwujud.

ayu gaaraqu mengatakan...

Nama : Ayu Dwi Listiana
NIM : 072144014
SASTRA ANAK

Seharusnya kita biarkan anak-anak menulis sepuas hatinya, menggambar, dan berkreasi lainnya, dimana dunia anak adalah dunia fantasi, mereka hidup dengan dunianya, tapi saat anak membaca cerita,dongeng, puisi, melihat telvisi, kita sebagai orang tua harus mendampingi, agar anak terarah dengan baik. Ketika anak bertanya kita sebagai orang tua harus menjawabnya jangan bilang “tidak tahu atau wes ojo takok ae,,,pegel jawab”, karenaq saat kita menjawab seperti itu anak akan takut dan dia akan malu bertanya sampai dewasa. Jadi bagaimana cara karya anak terus berkembang kita jangan menghentikan kemauan anak ingin apa dan mau apa biarkan mereka berkreasi, menciptakan dunianya dan kehidupannya kedepan. Jangan meremehkan karya anak kita harus dukung dan mensport mereka untuk berkarya.

eka emilia sari mengatakan...

nama : eka emilia sari
nim : 072144015
sastra indonesia

"sastra anak, mau dibawa kemana?"....judul ini membuat saya merenung, karena selama ini masih banyak karya sastra anak yang mengikuti cerita orang dewasa. bahkan, terkadang masih ada orang dewasa yang menciptakan karya sastra anak menggunakan cara berpikir orang dewasa. Dunia anak sangat imajinatif berbeda dengan dunia orang dewasa atau remaja. Dunia anak banyak canda dan tawanya seakan tidak pernah ada masalah. jadi, sastra anak mau dibawa kemana? sebaiknya sastra anak dibawa kedalam kehidupan anak-anak dengan cara dan imajinasi mereka sendiri, bukan cara pikir remaja atau orang dewasa karena itu hanya membuat mereka akan menjadi dewasa sebelum waktunya.

delly novianti mengatakan...

Ketika sebuah pertanyaan muncul, mau dibawa kemana sastra anak itu? Sastra anak hendaklah jangan dibawa bermain ke dunia lain seperti fiksi dewasa, fantasi tingkat tinggi, bawalah ia ke jalur sastra anak yang benar. Karya sastra anak dewasa ini mengalami revolusi dan sebaiknya revolusi itu dipertahankan. Bagaimana caranya seorang anak lebih menggemari buuku katimbang dengan permainan. Usaha itu bisa berangkat dari para orang tua, yang memiliki jam terbanyak dengan anak. Mulai biasakanlah anak dengan buku, kebiasaan itu yang akan tertanam dalam benak anak. Sehingga perjuangan para penulis cilik kita seperti Faiz, Izzati, Ataka, dan kawan-kawan tidak akan berhenti sampai disini. Karena generasi penerusnya sudah memiliki kebiasaan (habit) membaca. Anak sebagai pilar pelapis masa depan yang selalu berkembang, masa depan ada di tangan kalian, ciptaknlah kebiasaan yang baik. Semoga revuolusi penulis cilik saat ini yang kian marak bukan sebatas euforia belaka.
delly novianti
072144027
sastra indonesia 2007

Vhenny mengatakan...

Nama : Veni masruchah FibriyantiNim : 072144041



Sastra Anak mau dibawa kemana?Menurut saya itu tergantung pribadi masing-masing individu,menyikapi segala sesuatu yang berkaitan dengan sastra anak. Khususnya anak itu sendiri. Karena dalam sastra anak, anak adalah subyek atau pelaku utama. Dan orang dewasa disekitar anak tersebut hanya bisa menyaksikan, mengarahkan,mensupport serta memberi tambahan pengetahuan yang ringan buat anak. Misalnya, dengan menyodorkan buku Informasi. Buku informasi merupakan salah satu genre sastra anak yang memiliki peran penting dalam proses pembelajaran anak. Berbeda dengan buku fiksi, buku informasi menyampaikan fakta dan data apa adanya, yang berguna untuk menambah keterampalan, wawasan, dan juga bekal teoritis dalam batas tertentu bagi anak untuk mengenal ilmu yang lebih luas di masa mendatang.Namun demikian, tidak semua buku informasi dapat memenuhi keinginan seperti itu. Buku-buku informasi yang disajikan secara menarik, berkualitas, dan oleh penulis yang tepat, dapat memancing minat pembaca anak. sebaliknya, meskipun mungkin materinya bagus, namun bila disajikan secara ‘ecek-ecek’, bertele-tele dan tidak pas dengan ‘daya tahan anak’, ilustrasinya asal-asalan, bukan saja tidak memberi manfaat bagi anak, tetapi juga mungkin dibuang di keranjang sampah. Oleh sebab itu, kita harus pandai-pandai dalam memilah buku yang akan di pakai bekal oleh anak.

Aricha Galuh DP mengatakan...

Nama : Nur'aini Saura Putri
Nim : 072144011
Sastra Indonesia

Komentar :
Sastra anak, mau dibawa kemana?
hal ini telah ada dalam pecinta karya sastra, sastra anak yang dengan cepat membuming membuat sebagian orang khawatir akan bertahannya karya-karya untuk anak dalam lingkup sastra.
Karya anak pada dasarnya diperuntukkan untuk anak, bukan tentang anak. Sastra anak yang saat ini juga diciptakan oleh orang dewasa dimungkinkan kurang maksimal dalam mengerti dunia anak, walaupun pada dasarnya mereka sudah mengalami masa anak-anak. Karya yang diciptakan oleh anak lebih fokus pada jiwa anak yang pada umumnya sangat imajinatif.
Diharapkan untuk kedepannya sastra anak mampu diciptakan sendiri oleh anak-anak, agar mereka juga lebih produktif dalam mencurahkan imajinasinya dalam sebuah karya sastra. Hal itu tentu saja sangat di butuhkan bimbingan dari orang-orang disekitarnya, orangtua dirasa sebagai motivator utama bagi anak dalam berkarya.
Semoga sastra anak yang diperuntukkan untuk anak juga mampu dihasilkan oleh anak.

yuneni novikawati mengatakan...

Nama : Yuneni Novikawati
Nim : 072144043
Sastra Indonesia 2007


Komentar:
Saya sepakat sekali dengan blog yang tertulis pada Gardu Guru oleh Dr. Suyatno, M.Pd ini. Memang benar, dunia sastra anak yang terus bergulir tetap harus dipertahankan. Oleh karena itu, jika ditanyakan mengenai resep apakah yang mampu melanggengkan kreativitas anak-anak dalam tulis-menulis sehingga muncul tersendiri aliran sastra karya anak? Ialah jawabannya dengan melalui pembiasaan anak terhadap bacaan atau cerita anak. Anak akan terdorong bersemangat dan memiliki kemampuan berimajinasi yang tinggi terhadap beberapa cerita yang melekat dalam pikirannya. Usia dini pada itulah terus dibentuk sehingga nantinya anak dengan sendirinya mudah menangkap fenomena atau kejadian dalam dunianya yang diaplikasikan ke dalam sebuah tulisan.
Kemudian jika pertanyaan kedua mengenai bagaimana resep itu mampu menjawab secara jitu ketakutan akan perkembangan sastra anak karya anak? Ialah dimulai pada generasi sekarang. Generasi sekarang diharapkan mencintai dan peduli terhadap perkembangan anak. Karena bagaimanapun juga mereka juga akan menjadi seorang pendidik, baik di dalam lingkungan keluarga, sekolah, ataupun masyarakat. Rasa cinta dan peduli tersebut dapat diwujudkan kedalam kemampuan dan ketelatenan bercerita. Pasti tentunya kesemua rasa cinta dan peduli yang mereka tanamkan akan membuahkan hasil. Sehingga anak didik mereka akan menjadikan generasi yang dibanggakan oleh bangsa.
Maka dengan demikian disimpulkan, marilah para generasi muda mulai cinta dan peduli terhadap masa depan anak.

Alfian mengatakan...

Nama :Dedi Alfianto
NIM :072144030

Dalam perkembangan masa yang serba maju sekarang ini,sastra anak masih tetap saja dibutuhkan untuk pembentukan kepribadian anak, karena anak memerlukan
segala informasi tentang dunia, tentang segala sesuatu yang ada dan terjadi di
sekelilingnya. Anak juga ingin mengetahui berbagai informasi tentang apa saja yang
dijangkau oleh pikirannya. Informasi yang diperlukan dapat diperoleh dari berbagai
sumber, seperti media cetak, media elektronika, dan buku bacaan, termasuk bacaan
sastra. Namun, dalam usia yang masih sangat muda anak masih belum dapat
memilih dan memilah bacaan sastra yang baik. Anak akan membaca apa saja bacaan
yang ditemui dan menarik bagi dirinya., tak peduli sesuai atau tidak untuknya.
Bacaan yang dikonsumsi anak tentu akan berpengaruh pada perkembangan sikap,
mental, dan perilaku anak yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya
anak akan meniru dari apa yang dilihat atau apa yang dibacanya.
Perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan periodenya bila
disuguhi bahan bacaan yang sesuai pula. Pembelajaran sastra di sekolah harus diarahkan
dengan menyajikan sastra yang memang sesuai dengan perkembangan kepribadian
anak masa kini. Dan orang tua harus berperan aktif terhadap kemajuan anak dan memilah-milah bacaan satra anak yang memang dapat membuat perkembangan dalam kepribadian anak itu sendiri. Karena tanpa orang tua yang berperan, perkembangan sastra anak tidak akan ada manfaat buat perkembangan sastra anak ke masa-masa mendatang, maka sangat diperlukan sekali bahwa peran orang tualah yang sangat menunjang agar sastra anak tetap eksis di masa-masa yang akan datang.

chuzh.sastra mengatakan...

Tentu kita tahu bahwa sastra merupakan sesuatu yang menarik, yang memberi hiburan, yang mampu untuk menanamkan dan memupuk rasa keindahan dan sastra hadir di tengah masyarakat sebagai sarana untuk memberikan dan atau memberikan hiburan. Anak membutuhkan sastra untuk merefleksikan hidup dan sarana untuk pembiasaan jiwa. Anak mempunyai dunia tersendiri yang lain dari dunia dan alam kehidupan orang dewasa. Yang dimaksud dengan dunia tersendiri adalah ruang lingkup pikiran dan aktivitas anak yang secara khas ada dalam diri anak dan berbeda dengan ruang lingkup orang dewasa. Dunia anak-anak tentu sewarna dengan pengalaman dan pengetahuan mereka yang belum menumpuk sehingga masih diperlukan mediasi untuk mengembangkan daya kreatifnya. Maka yang paling penting dalam hal ini adalah pemenuhan hak anak. Hal yang dimaksud adalah proses belajar, menjadi individu yang subjektif, perkembangan pengalaman dan pengetahuan, yang semuanya berada dalam bingkai dunia anak.
Peran sastra bagi anak disamping memberikan kesenangan juga memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap kehidupan ini. Melalui bacaan yang baik, seorang anak dapat mengembangkan intelegensianya. Dengan membaca anak mampu menyalurkan bakat dan minat yang telah dimiliki. Selain itu, karya sastra juga mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak, baik menyimak, membaca, berbicara, maupun menulis. Melalui karya sastra, anak juga dapat bertemu dengan wawasan budaya berbagai kelompok sosial dari berbagai belahan dunia serta berbagai sikap dan perilaku hidup yang mencerminkan budaya suatu masyarakat berbeda dengan masyarakat yang lainnya. Peran baca sastra selain ikut membentuk kepribadian anak, juga menumbuhkan dan mengembangkan rasa ingin dan mau membaca, yang akhirnya membaca tidak hanya terbatas pada bacaan sastra. Sastra dapat memotivasi anak untuk mau membaca. Karena buku adalah jendela ilmu pengetahuan, buku adalah jendela untuk melihat dunia. Jadi sastra anak perlu dikembangkan karena memiliki peran besar dalam perkembangan kemampuan diri dan daya apresiasi sejak anak usia dini.

chuzh.sastra mengatakan...

Nama : Chusnul Chotimah
Nim : 072144203
Jurusan : sastra Indonesia

Tentu kita tahu bahwa sastra merupakan sesuatu yang menarik, yang memberi hiburan, yang mampu untuk menanamkan dan memupuk rasa keindahan dan sastra hadir di tengah masyarakat sebagai sarana untuk memberikan dan atau memberikan hiburan. Anak membutuhkan sastra untuk merefleksikan hidup dan sarana untuk pembiasaan jiwa. Anak mempunyai dunia tersendiri yang lain dari dunia dan alam kehidupan orang dewasa. Yang dimaksud dengan dunia tersendiri adalah ruang lingkup pikiran dan aktivitas anak yang secara khas ada dalam diri anak dan berbeda dengan ruang lingkup orang dewasa. Dunia anak-anak tentu sewarna dengan pengalaman dan pengetahuan mereka yang belum menumpuk sehingga masih diperlukan mediasi untuk mengembangkan daya kreatifnya. Maka yang paling penting dalam hal ini adalah pemenuhan hak anak. Hal yang dimaksud adalah proses belajar, menjadi individu yang subjektif, perkembangan pengalaman dan pengetahuan, yang semuanya berada dalam bingkai dunia anak.
Peran sastra bagi anak disamping memberikan kesenangan juga memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap kehidupan ini. Melalui bacaan yang baik, seorang anak dapat mengembangkan intelegensianya. Dengan membaca anak mampu menyalurkan bakat dan minat yang telah dimiliki. Selain itu, karya sastra juga mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak, baik menyimak, membaca, berbicara, maupun menulis. Melalui karya sastra, anak juga dapat bertemu dengan wawasan budaya berbagai kelompok sosial dari berbagai belahan dunia serta berbagai sikap dan perilaku hidup yang mencerminkan budaya suatu masyarakat berbeda dengan masyarakat yang lainnya. Peran baca sastra selain ikut membentuk kepribadian anak, juga menumbuhkan dan mengembangkan rasa ingin dan mau membaca, yang akhirnya membaca tidak hanya terbatas pada bacaan sastra. Sastra dapat memotivasi anak untuk mau membaca. Karena buku adalah jendela ilmu pengetahuan, buku adalah jendela untuk melihat dunia. Jadi sastra anak perlu dikembangkan karena memiliki peran besar dalam perkembangan kemampuan diri dan daya apresiasi sejak anak usia dini.

belajarkehidupan mengatakan...

Wahyu Septian Hermawan
072144032
Sastra Indonesia

Akhirnya sempat juga saya mengunjungi blog ini dan melihat komentar dari berbagai teman-teman. Membaca judul Sastra Anak mau dibawa kemana? saya seperti mendengarkan lagu Armada sepenggal saya ingat liriknya yang berbunyi "mau dibawa kemana hubungan kita, bila kau terus menunda-nunda dan tak pernah nyatakan cinta...", penggalan lirik tersebut sangat cocok dengan judul postingan ini yang saya rasa mungkin suatu saat sastra anak akan sepi peminat, tidak banyak pendukung, dan penggiatnya hanya kalangan tertentu. Anak pada hakikatnya mempunyai imajinasi yang tak berbatas dan kreatifitas yang tiada henti untuk bisa dituangkan dalam sebuah karya, kita bisa lihat di berbagai media tulis maupun cetak karya sastra anak mulai bermunculan dengan penulis-penulis "cilik" yang mau tak mau kita harus salut dengan karya mereka yang sudah dicetak dan dibaca oleh kalangan masyarakat umum. Pada hakikatnya karya sastra anak harus "dicintai" oleh seluruh masyarakat supaya anak-anak bisa menumbuhkan kepekaan sosial dalam hal kehidupan bermasyarakat, kita semua tahu sastra dapat memberikan pelajaran tentang arti sebuah kehidupan, membentuk diri yang "liar" menjadi yang "humanis". Bayangkan jika karya sastra anak berkembang dengan pesat dan memberikan hal yang positif untuk semua kalangan terutama anak-anak. Bukan tidak mungkin anak-anak pada masa 25-50 tahun kedepan mempunyai pemikiran yang cerdas, pandai, sekaligus mempunyai kepribadian yang positif. Mengapa saya mengatakan demikian? bolehlah kita tengok kekacauan yang terjadi di dalam negeri yang dilahirkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mungkin masa kecilnya mereka tidak pernah "didongengi" oleh orang tuanya. Kembali lagi pada sastra yang bisa membentuk pribadi yang "humanis", dongeng merupakan salah satu bagian dari sastra dengan dongeng anak bisa belajar hal-hal yang positif dan akan membantu membentuk karakter yang kuat, dan "humanis". Oleh karena itu ketika dikembalikan lagi kepada pertanyaan Sastra Anak mau dibawa kemana? maka jawabnya adalah Sastra Anak harus kita cintai terlebih dahulu dan menularkannya kepada anak-anak, itu jika kita lihat dari pandangan kita. Jika kita melihatnya dari pandangan anak-anak maka kita harus bisa menyediakan sebuah wadah yang bisa untuk menampung kreatifitas mereka dan memberi mereka kesempatan lebih untuk menampilkan karya-karya mereka baik itu di media cetak maupun elektronik. Maka mungkin itu salah satu cara dari berbagai cara untuk menyelamatkan dunia Sastra Anak.

sastra anak mengatakan...

PIT ASMARAWATI

072144001

SASTRA INDONESIA’07

KOMENTAR :

Memang, dunia kecil anak saat ini dapat dilihat sebagai suatu perubahan yang membanggakan. Bagaimana tidak, anak di usianya yang masih dini sudah mampu berkreatifitas dengan jiwa dan pikirannya. Pola pikir anak kini sudah dapat dilihat mengalami begitu banyak perubahan di era yang didorong semakin modern ini. Mencenggangkan bila kita lihat anak di usia bermain, mereka sudah memikirkan akan kreatifitas selanjutnya yang akan mereka tampilkan dimuka umum. Bila kita melihat diri kita sendiri, 10 atau 20 tahun kebelakang, kita akan merasa diri kita telah ditakhlukkan oleh seorang bocah ajaib saat ini. Kita merasa tak ada apa-apanya dibandingkan dengan usia kita saat ini.

Dalam melihat sastra karya anak yang banyak berkembang dan beredar di berbagai media saat ini, saya melihat begitu hebatnya dunia anak saat ini. Begitu hebatnya dunia luar yang mampu merubah dunia anak 10 atau 20 tahun kebelakang, menjadi dunia anak kini yang penuh dengan warna-warni kreatifitas hasil ciptaan anak. Dan begitu hebatnya orang tua dalam mendidik anak hingga menjadi seorang bocah yang mampu membanggakan Indonesia , patut menjadi suatu kebanggaan.

Bila melihat lebih jauh tentang “Sastra Anak Mau di Bawa Kemana”, maka kita sebagai generasi muda akan juga berpikir tentang dunia anak yang masih polos. Yang kelak ketika mereka sudah beranjak dewasa akankah masih berlanjut semangat berimajinasi didalam dunia berkarya sastra. Dan sebagai generasi yang sudah dewasa sepatutnya kita dapat memberikan semangat kepada para sastrawan anak agar tetap bersemangat dalam berkarya menciptakan sebuah karya-karya yang selalu dapat dinikmati oleh anak-anak sebayanya maupun oleh orang dewasa. Jadi sebagai generasi muda kita harus dapat menciptakan sebuah suasana yang selalu dapat membuat anak membaca, mendengarkan, dan berimajinasi, dengan suasana yang disukai oleh anak. Dan tak luput dari dukungan yang penuh dengan kasih sayang dari orang tua.

noer mengatakan...

Nama : Nur Fajaruddin
NIM : 072144040
Sastra Indonesia ‘07
Sastra anak, mau di bawa ke mana? Pertanyaan ini simple tapi juga membuat bingung karena pada prakteknya apakah mampu generasi muda untuk membuat sastra anak menjadi bagian dari hidup anak-anak maupun kalangan masyarakat umum. Seharusnya hal ini menjadikan pemacu kita untuk lebih baik dalam mendidik anak-anak di Indonesia, karena banyak sekali di Indonesia ini anak-anak yang memiliki bakat yang terpendam terutama pada sastra ataupun menulis. Seharusnya pemerintah melihat lebih dalam karena kayanya kreatifitas dari seorang anak Indonesia. Karena di zaman yang seperti ini, serba canggih dan modern seorang anak dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan suatu lingkungan yang mampu untuk menjadi dirinya sebagai raja, bukan menjadi air yang hanya mengalir mengikuti jalur sungainya. Memang sudah mulai menggeliat karya-karya dari anak-anak namun itu hanya segelintir anak, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak mulai dari orang tua, guru sebagai pendidik dan instansi-instansi yang mampu menyalurkan bakat anak untuk lebih baik dalam berkarya. Zaman saat ini memang sudah berubah pesat dan banyak sekali budaya-budaya yang mampu meruntuhkan kreatifitas anak meski secara perlahan. Justru hal ini menjadi sebuah tantangan yang harusnya mudah untuk di lewati, karena seorang anak sudah memiliki dasar atupun pilar budaya yang baik dari bangsanya tinggal kita poles dengan baik. Kreatifitas anak tanpa tampungan sama saja menggarami laut, tampungan kreatifitas seharusnya sejak dini di mulai dari sekolah-sekolah dan memberi kebiasaan membaca yang baik, karena bibit harus di tanam sejak awal. Semoga potensi kreatifitas sastra anak akan lebih memiliki bibit-bibit unggul dan seorang sastrawan kenamaan dapat membantu anak-anak bangsanya lebih menciptakan karya yang baik. Juga dukungan semua pihaklah kesuksesan dapat di raih. (noer)

irma mengatakan...

IRMA RAHMAWATI
072144003
SASTRA INDONESIA

Dunia sastra mengalami perubahan yang membanggakan dewasa ini. Maraknya pengarang-pengarang baru bermunculan, mulai dari penulis novel, cerpen, dan puisi. Serta semakin banyak orang yang berminat membaca karya sastra. Hal ini tidak hanya terjadi pada pengarang atau pembaca sastra dewasa. Saat ini banyak anak-anak yang juga berminat dalam dunia sastra. Anak-anak ini telah menelurkan banyak karya yang sangat kreatif. Mulai dari novel dan puisi.
sastra merupakan sarana hiburan, keindahan, dan juga pendidikan tidak hanya bagi orang dewasa namun juga bagi anak-anak. Dengan media sastra selain mendapat hiburan, anak-anak secara tidak langsung juga akan belajar mengenai kehidupan. Perkembangan sastra anak saat ini semakin memicu kreatifitas anak-anak untuk karya-karya mereka yang terbaik. Semakin diasah bakat mereka dalam berkarya sastra maka akan semakin menyemarakkan perkembangan sastra anak di Indonesia. Namun bisa jadi sastra anak karya anak tersebut menghilang,jika dilihat pada masa sekarang ini. Anak bisa terlena dengan keadaan modernisasi di masa sekarang, yang semuanya serba instant. Serta kebiasaan orang tua yang bersifat konsumerisme juga dapat memicu anak menjadi tidak mendiri. Misalnya, sifat orang tua yang lebih memilih membelikan anak-anaknya barang yang sebenarnya kurang bermanfaat, dari pada membelikan anaknya buku bacaan. Hal-hal seperti ini dapat menghambat anak-anak untuk berkreatifitas. Maka mulai saat ini perlu adanya peran positif orang tua untuk mendukung anak-anaknya dalam berkreatifitas. Khususnya bagi mereka yang tertarik dalam bidang sastra. Dengan demikian maka sastra anak akan semakin berkembang dan tidak akan mudah menyusut.

andres mengatakan...

Nama : Andris dyan yusdika
Nim: 072144008
sastra indonesia 2007

Saya sependapat dengan pernyataan diatas bahwa pada saat ini hadirnya sastra anak karya anak tersebut hanya sebatas euforia atau kegembiraan sesaat saja. Pada saat ini bermunculan sastra karya anak-anak secara menggila karena ada ratusan judul cerpen, puisi, dan novel karya anak-anak baik yang dibukukan maupun dimuat di media massa. Menurut saya seharusnya hal ini akan menjadikan pemacu kita untuk lebih baik dalam mendidik anak-anak indonesia, karena banyak sekali bakat anak yang terpendam terutama pada sastra ataupun menulis. Peran orang tua dan guru sangat penting sekali dalam mengarahkan anak untuk menunjukkan bakat kekreatifitasannya. Perlu diakui memang hanya segelintir anak di indonesia yang memiliki bakat dalam menulis sastra anak, tetapi bagi anak yang tidak memiliki bakat dalam menulis itu karena tidak memiliki resep dalam menulis. Resep yang mampu melanggengkan kreativitas anak-anak dalam tulis-menulis menurut saya adalah dengan mengajak anak untuk membaca buku bacaan yang baik. Buku bacaan yang sesuai dengan pandangan hidup untuk kemajuan bangsa. Misalkan dalam membuat karya sastra anak dengan mengkritik budaya masarakat yang tidak sesuai dengan norma-norma Agama. sehingga muncul tersendiri aliran sastra karya anak. Resep itu mampu menjawab secara jitu ketakutan akan perkembangan sastra anak karya anak. Sehingga anak kelak dewasa akan menjadi tauladan kapada masarakat yang baik. Ingatlah bahwa anak-anak merupakan pilar pelapis masa depan bangsa karena hidup selalu berkembang dan bergantian. juga dukungan semua pihaklah kesuksesan anak dalam menulis karya sastra anak dapat diraih.

Aricha Galuh DP mengatakan...

Nama : Witma Supriyajana
NIM: 072144045
SRN 07

Seperti kita tau saat ini banyak sekali sastra karya anak,dan semuanya indah,heran sebenarnya jika puisi,cerpen atau novel itu ternyata adalah karya seorang "anak" yang belum banyak makan asam garam kehidupan.Sastra itu bisa diperkenalkan pada anak sejak usia dini karena seorang anak itu akan terbiasa dengan sendirinya dan muncullah kecintaanya pada sastra hingga ketika dia bisa menulis nanti, dia akan menuliskan semua apa yang telah ia alami atau pendek katanya curahan hatinya dituangkanlah pada tulisan. Bukankah semuanya akan terasa indah jika sejak kecil seorang anak sudah terbiasa merasakan kehidupan dengan hati? Pasti para orangtua akan merasa bangga ketika seorang anak itu mampu menuangakan kecintaanya terhadap orangtuanya,kawan-kawannya,saudara-saudaranya dengan begitu luar biasanya lewat medium bahasa pada karyanya.Sastra adalah media penyadaran & moral,ada baiknya jika proses penyadaran&moral itu mulai ditanamkan sejak kecil..Agar semuanya jelas "Mau dibawa kemana sastra anak?" jawabannya "Dibawa ke masa depan",masa dimana bangsa butuh banyak perbaikan untuk moral generasi bangsa,perbaikan untuk masa ketika seseorang mulai berubah individualis untuk disadarakan kembali kesosialis,dan masa ketika sebuah bangsa telah kehilangan pondasi nurani dan etika ketimuran. Untuk para orangtua dan calon orangtua bisikkanlah kepada anak-anakmu bahwa sastra itu "indah" suatu hari nanti sastra akan menjadi "superhero",bukan hanya untuk anak-anak,tapi untuk semua generasi penerus bangsa.

masfufah hamid mengatakan...

Anak adalah generasi penerus dan harapan bagi bangsa, jikalau anak tak bisa lagi diharapkan oleh bangsa, anak itu tidak memiliki sumbangsih apapun pada bangsa dan menjadi pribadi yang biasa. Anak dari kecil sudah dikenalkan dengan dunia sastra, yaitu lewat dongeng yang disampaikan oleh orang tua di malam hari, nyanyian (lagu dolanan, nina bobo), dan lainnya. Anak mempunyai kreativitas sangat tinggi, karena rasa ingin tahu dan daya serapnya yang lebih, sehingga tak heran jika sekarang banyak anak-anak yang sudah menghasilkan karya, terutama karya sastra anak. Kreativitas yang dimiliki anak dalam usianya yang masih muda membawa mereka ke dunia anak yang menyenangkan yaitu dunia imajinasi atau fantasi. Karya sastra anak membawa kebahagiaan dan dunia tersendiri bagi anak-anak. Dan jika sastra anak tak lagi muncul dihadapan kita, terus mau di bawa ke mana sastra anak?
Memang jika pertanyaan itu muncul pada kita, para generasi muda akan sulit untuk menjawabnya, dikarenakan realitas yang sudah terjadi selama ini. Realitas yang yang tidak lepas dari perkembangan zaman dan selalu seiring dengan perkembangan itu. Seperti penjelasan yang sudah dikemukakan oleh dosen kita bapak Suyatno di atas, bahwa yang menjadi dampak menurunnya kreativitas anak adalah faktor budaya instan, konsumerisme, dan nina bobo. Untuk itu, kita sebagai generasi muda yang sudah lebih tahu banyak mengenai sastra harus bisa menjadikan sastra sebagai sesuatu yang berharga. Dan cara menghargai sastra itu, yaitu dengan menyalurkan kemampuan sastra yang kita miliki kepada anak-anak. Mengenalkan anak pada dunia sastra, mendukung anak dalam berkreativitas sastra yang berdampak positif, menghindarkan dari budaya instan, konsumerisme, dan nina bobo, membekali anak dengan sastra, dan lainnya. Jika hal ini dapat dilakukan, anak akan lebih berkembang dengan memiliki kemampuan bersastra yang baik sehingga mereka juga mampu menghasilkan karya sastra, khususnya karya sastra anak.

Masfufah
07144205

Ahadianti mengatakan...

AHADIANTI NOVERA R.
072 144 005/SRN 2007


Sastra anak sejatinya benar-benar diperuntukkan untuk anak. Peristiwa revolusi menulis pada usia dini telah menunjukkan ke arah itu. Sementara bagi penulis dewasa yang ingin menulis sastra anak seharusnya melihat dengan kacamata anak. Jika hal itu dilakukan, tentulah sastra anak bisa benar-benar diperuntukkan untuk anak baik dari segi sastra anak itu hasil karya penulis dewasa maupun karya anak.

Ketakutan akan “hanya euforia belaka” pada sastra anak karya anak dapatlah diatasi dengan melawan gangguan-gangguan kreativitas pada anak (seperti yang telah disebutkan dalam artikel Sastra Anak, Mau Dibawa ke Mana? di atas). Pengaruh-pengaruh dari lingkungan modern saat ini memang tidak bisa dihindari. Sikap yang bijak untuk mengatasi gangguan kreativitas itu adalah dengan berupaya melawan dan tidak pernah membiarkan gangguan kreativitas seperti budaya instan, konsumerisme, pragmatis, dan ninabobok menjadi kebiasaan dalam hidup anak. Berlaku dan bersikap wajar dan bijak dalam kehidupan sehari-hari juga dapat membantu mengatasi permasalahan itu. Tak luput peran bijak dari orang dewasa dalam hal pemberian perhatian, pendidikan, dan pengajaran yang intens juga penting maknanya.

Jika sastra anak telah benar-benar diperuntukkan untuk anak dan gangguan kreativitas telah dapat teratasi, sastra anak akan menemukan jalan terbaiknya di jagat sastra Indonesia dan dapat menjadi peluang besar bagi lahirnya genre sastra baru di Indonesia, yaitu sastra anak. Dengan demikian, revolusi menulis pada usia dini bukan lagi euforia belaka.

masfufah hamid mengatakan...

Masfufah
07144205

Anak adalah generasi penerus dan harapan bagi bangsa, jikalau anak tak bisa lagi diharapkan oleh bangsa, anak itu tidak memiliki sumbangsih apapun pada bangsa dan menjadi pribadi yang biasa. Anak dari kecil sudah dikenalkan dengan dunia sastra, yaitu lewat dongeng yang disampaikan oleh orang tua di malam hari, nyanyian (lagu dolanan, nina bobo), dan lainnya. Anak mempunyai kreativitas sangat tinggi, karena rasa ingin tahu dan daya serapnya yang lebih, sehingga tak heran jika sekarang banyak anak-anak yang sudah menghasilkan karya, terutama karya sastra anak. Kreativitas yang dimiliki anak dalam usianya yang masih muda membawa mereka ke dunia anak yang menyenangkan yaitu dunia imajinasi atau fantasi. Karya sastra anak membawa kebahagiaan dan dunia tersendiri bagi anak-anak. Dan jika sastra anak tak lagi muncul dihadapan kita, terus mau di bawa ke mana sastra anak?
Memang jika pertanyaan itu muncul pada kita, para generasi muda akan sulit untuk menjawabnya, dikarenakan realitas yang sudah terjadi selama ini. Realitas yang yang tidak lepas dari perkembangan zaman dan selalu seiring dengan perkembangan itu. Seperti penjelasan yang sudah dikemukakan oleh dosen kita bapak Suyatno di atas, bahwa yang menjadi dampak menurunnya kreativitas anak adalah faktor budaya instan, konsumerisme, dan nina bobo. Untuk itu, kita sebagai generasi muda yang sudah lebih tahu banyak mengenai sastra harus bisa menjadikan sastra sebagai sesuatu yang berharga. Dan cara menghargai sastra itu, yaitu dengan menyalurkan kemampuan sastra yang kita miliki kepada anak-anak. Mengenalkan anak pada dunia sastra, mendukung anak dalam berkreativitas sastra yang berdampak positif, menghindarkan dari budaya instan, konsumerisme, dan nina bobo, membekali anak dengan sastra, dan lainnya. Jika hal ini dapat dilakukan, anak akan lebih berkembang dengan memiliki kemampuan bersastra yang baik sehingga mereka juga mampu menghasilkan karya sastra, khususnya karya sastra anak.

desy tri indah mengatakan...

Nama : Desy Tri Indah L
Nim : 072144029
Jurusan : Sastra Indonesia

Berbicara mengenai anak-anak memang tidak akan ada habisnya. Hem.. jadi ingat bahwa kita dulu pun mempunyai masa-masa yang indah saat masih anak-anak. Tapi kenapa ya waktu kecil saya tidak menciptakan karya yang seperti diciptakan Faiz, Ataka, Izzati dan juga Aini. Resep untuk melanggengkan kreativitas anak-anak dalam tulis-menulis dengan cara mengembangkan bakat anak yang dimilikinya itu sejak kecil, dengan dilengkapi fasilitas-fasilitas yang menunjang. Mengingat bahwa masih anak-anak, dan belum sepenuhnya mempunyai kekuatan untuk menyediakan fasilitas-fasilitas tersebut, hendaknya para orang tua dan pemerintah ikut membantu. Zaman boleh saja berganti, namun karya sastra anak harus ada penerusnya dari zaman ke zaman. Anak-anak suka bercerita, suka mendongeng, sekaligus juga suka mendengarkan cerita, dan suka mendengarkan dongeng yang sangat berhubungan dengan hakikat anak yang suka bermain-main. Jadi, apapun yang terjadi kelak apabila dikembangkan sejak kecil akan ikut membentuk masa depan anak untuk menjadi yang lebih baik. Dan biarkan saja anak-anak berkreasi sesuka mereka, karena anak-anak mempunyai daya imajinasi yang kuat yang diman daya imajinasinya sangat menggambarkan ciri-ciri anak.

Nepster mengatakan...

Perkembangan sastra anak yang mulai berkembang memberikan nilai positif karena perkembangan sastra anak merupakan perkembangan positif terhadap pembentukan karakter anak sejak dini. Tapi dalam realitasnya sastra anak perlu didorong lagi untuk dapat lebih berkembang secara signifikan sehingga lebih memunculkan ciri khas dalam sastra anak tersebut.
Perkembangan teknologi informasi memberikan dampak negatif dan positif terhadap kreatifitas anak, dalam kenyataannya teknologi informasi lebih banyak memberikan dampak negatif terhadap kreatifitas anak melalui budaya instannya. Namun bila dilihat lebih dalam teknologi juga mempengaruhi kreatifitas anak. Baik pembuatan karya sastranya maupun pembuatan kreatifitasnya (banyak sastra anak yang diilhami oleh film dan game anak). Faktor budaya anak-anak setempat juga mempengaruhi terhadap pembentukan karya sastra. Sehingga cara berfikir anak akan lebih tajam dalam pembentukan sebuah karya sastra. Sehingga dengan menggabungkan teknologi dengan budaya akan memberikan sokongan dalam perkembangan kreatifitas sastra anak dan pembentukan karakter yang baik. Serta menjauhkan dari budaya instan, konsumerisme dan lainnya. Karena teknologi yang secara global akan difilter dengan kebudayaan setempat sehingga muncul aliran sastra anak. sehingga nantinya akan diharapkan sastra anak dapat dibawa ke dunia anak-anak itu sendiri sehingga batasan antara sastra anak dan sastra untuk orang dewasa lebih jelas.
Untuk mengatasi masalah ini merupakan tanggung jawab bersama untuk menekan budaya instan dan konsumerisme pada anak-anak dengan hal-hal seperti di atas. Dan yang tak kalah penting adalah perlunya dorongan regulasi dari pemerintah khususnya yang membidangi anak, budaya, dan pendidikan. Ini seyogyanya dilakukan untuk menjaga dunia anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa di masa depan.

Nepster mengatakan...

Nama : Fikri Laili Ramadhan
Nim : 072144023
Sastra Indonesia '07

Perkembangan sastra anak yang mulai berkembang memberikan nilai positif karena perkembangan sastra anak merupakan perkembangan positif terhadap pembentukan karakter anak sejak dini. Tapi dalam realitasnya sastra anak perlu didorong lagi untuk dapat lebih berkembang secara signifikan sehingga lebih memunculkan ciri khas dalam sastra anak tersebut.
Perkembangan teknologi informasi memberikan dampak negatif dan positif terhadap kreatifitas anak, dalam kenyataannya teknologi informasi lebih banyak memberikan dampak negatif terhadap kreatifitas anak melalui budaya instannya. Namun bila dilihat lebih dalam teknologi juga mempengaruhi kreatifitas anak. Baik pembuatan karya sastranya maupun pembuatan kreatifitasnya (banyak sastra anak yang diilhami oleh film dan game anak). Faktor budaya anak-anak setempat juga mempengaruhi terhadap pembentukan karya sastra. Sehingga cara berfikir anak akan lebih tajam dalam pembentukan sebuah karya sastra. Sehingga dengan menggabungkan teknologi dengan budaya akan memberikan sokongan dalam perkembangan kreatifitas sastra anak dan pembentukan karakter yang baik. Serta menjauhkan dari budaya instan, konsumerisme dan lainnya. Karena teknologi yang secara global akan difilter dengan kebudayaan setempat sehingga muncul aliran sastra anak. sehingga nantinya akan diharapkan sastra anak dapat dibawa ke dunia anak-anak itu sendiri sehingga batasan antara sastra anak dan sastra untuk orang dewasa lebih jelas.
Untuk mengatasi masalah ini merupakan tanggung jawab bersama untuk menekan budaya instan dan konsumerisme pada anak-anak dengan hal-hal seperti di atas. Dan yang tak kalah penting adalah perlunya dorongan regulasi dari pemerintah khususnya yang membidangi anak, budaya, dan pendidikan. Ini seyogyanya dilakukan untuk menjaga dan menyelamatkan dunia anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa di masa depan.

Nepster mengatakan...

Nama : M. Sholeh
Nim : 072144206
Sastra Indonesia 2007

Saya setuju dengan pendapat yang pertama bahwa sastra anak pada Saat ini sedang naik daun,hal ini dengan makin banyaknya pengarang-pengarang yang berusia dini atau masih anak-anak.Tapi perlu diingat pula bahwa tidak semua anak di Indonesia memiliki kreatifitas seperti mereka. Bahkan perbandingannya pun mungkin satu banding seribu.Hal ini disebabkan karena selain alasan seperti tulisan bapak,juga karena tidak adanya media serta para ahli sastra yang membimbing mereka(Entah karena kurang biaya atau yang lainnya).
Untuk mengatasi masalah tersbut, pemerintah harus memberikan perhatian yang lebih terhadap para pengarang,khususnya anak-anak.pemerintah melalui DEPDIKNAS memberikan pelajaran sastra terhadap anak-anak sekolah,mulai dari tingkat paling bawah hinga tingkat tertinggi.Selain itu juga, agar sastra anak tidak tenggelam di telan zaman, para sastrawan harus lebih sering merangkul anak-anak dan menularkan ilmu mereka padanya. Dan yang terakhir kita semua,khususnya orang tua, harus lebih membiarkan mereka berekspresi serta berkreasi dan orang tua harus lebih sering mensupport anak-anaknya

Rizki mengatakan...

Nama:Rizki Alfian KH
NIM:072144038
SRN '07

Sastra anak memang sangat perlu dikembangkan dan ini tidak terlepas dengan para orang tua yang senantiasa mendampingi anak anak. Budaya konsumerisme memang menjadi salah satu pemicu tercengalnya kreatifitas anak, tetapi melihat itu menurut saya teknologi juga menjadi salah satu pemicu yang dominan.Teknologi serta era globlasisasi yang mendera Indonesia memang menjadi suatu awal yang baik tetapi juga bisa menjadi awal keterpurukan. Melihat baik karena dalam perolehan suatu informasi untuk saat ini sangat mudah didapat dan sekaligus teknologi teknologi yang mendukung lainnya. Era globalisasi menjadi awal keterpurukan apabila dengan teknologi tersebut disalah gunakan, salah satu contoh dapat kita lihat masih banyaknya anak anak yang masih menonton film dewasa dari layanan internet, selain itu adalah game-online menjadi suatu racun yang dapat menghancurkan anak negeri kita. Karena memang ada beberapa teman berikut adik saya menjadi korban dari game-online, tetapi untunglah saya dapat memberi pengarahan sehingga anak tersebut sehingga menjadi “waras” dari game-online tersebut.
Sehubungan dengan resep dalam menjaga kreatifitas anak menurut saya adalah dampingan, bimbingan arahan, dan motivasi dari wali atau orang tua. Memang dampingan dari orang tua dan dukungan lingkungan yang baik sangat membantu dalam perkembangan anak terutama dalam proses kreatifitas anak. Selain itu juga penerbiasaan anak, seperti budaya membaca dan menuangkan ke dalam sebuah kertas juga menjadi salah satu resep untuk menjaga proses kreatif anak, memberi suatu kegiatan menarik dalam memberikan cara menulis seperti dengan permainan setelah itu dibelajari dalam merefleksikan ke dalam sebuah tulisan, itu merupakan salah satu cara dalam memotivasi seorang anak. Dan tak lupa selalu mengontrol anak dalam setiap hal karena anak seperti magnet yang dapat melekat di besi manapun.

naesya mengatakan...

di usia anak-anak sangat dibutuhkan suatu pendidikan dimana seorang guru dapat menyampaikan pendidikan dengan cara yang disukai anak-anak.itu merupakan pelatihan jiwa seni yang harus mulai dididik sejak dini. sebaiknya bagi para generasi muda lebih memperhatikan sastra anak agar anak-anak dimasa depan lebih mengerti akan seni dan lebih kreatif.

Desi Eka Priestian mengatakan...

Resti fatma sari (srn 07)

072144026

Dunia sastra di Indonesia sepertinya belum berkembang secara baik karena itu belim terlihat. di usia anak-anak sangat dibutuhkan suatu pendidikan dimana seorang guru dapat menyampaikan pendidikan dengan cara yang disukai anak-anak.itu merupakan pelatihan jiwa seni yang harus mulai dididik sejak dini. sebaiknya bagi para generasi muda lebih memperhatikan sastra anak agar anak-anak dimasa depan lebih mengerti akan seni dan lebih kreatif. Seharusnya dunia sastra anak sangat menguntungkan jika dapat dimanfaatkan dalam dunia bisnis. Karena dari segi keingintahuan anak-anak terhadap suatu hal yang bersifat baru akan membuat mereka selalu ingin tahu.

susan kristanti mengatakan...

syaiful arifin
072144207

dunia anak adalah dunia yang syarat dengan imajinasi, berkembangnya imajinasi anak tidak lepas dari peran serta orang tua dan lingkungan. pada dasrnya dunia anak setiap manusia pernah mengalaminya, dan itu tidak akan pernah terlupakan karena seorang anak ibarat sebuah kertas kosong yang siap untuk diisi dengan apapun. ketika orang tua dan lingkungan sejak dini sudah memperhatikan dunia anak maka dijamin anak itu akan kreatif. dewasa ini banyak fenomena-fenomena yang menggambarkan oarang tua kurang begitu memperhatikan dunia anak, salah satu contoh fenomena yang terjadi pada Sandi, bocah Malang.
peran serta orang tua dan lingkungan juga akan membantu perkembangan sastra anak, dengan memperhatikan dunia anak secara otomatis akan membantu berkembangnya sastra anak, dan mungkkin akan melahirkan aliran sastra anak