Rabu, 03 Juni 2009

Wajah Buruk Ujian Nasional

Niat awalnya untuk mengukur kompetensi siswa di tingkat nasional agar diketahui perkembangan dan kemajuan pendidikan di INdonesia, hasilnya adalah pembentukan jiwa curang di semua kalangan pendidikan yang berurusan dengan sekolah. Jiwa curang saat ini mulai terbentuk menjadi salah satu aset bangsa setelah dipupuk dalam proses yang bernama ujian nasional. Betapa tidak! Semua kepala dinas atau kepala daerah tentu tidak ingin daerahnya lebih rendah kualitas pendidikannya dibandingkan dengan daerah lain. Itu demi gengsi kepemimpinan. Jalan pintas pun dijalani. Hasilnya upaya manipulasi tingkat tinggi atas nama baju kecurangan.

Jawa POs (Selasa, 2 Juni 2009), harian nasional yang terbit dari Surabaya, melaporkan bahwa dunia pendidikan Indonesia benar-benar ternoda. Kasus kecurangan pelaksanaan ujian nasional (unas) tahun ajaran 2008/2009 tidak hanya dilakukan 19 SMA, melainkan 33 SMA. Selain itu, kecurangan tersebut terjadi di level pendidikan menengah tingkat pertama (SMP). Itulah fakta terakhir yang dibeberkan Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP) kemarin.

Ketua BSNP Prof Eddy Mungin Wibowo mengungkapkan, kecurangan itu mayoritas terjadi di daerah. ''Total ada 33 SMA. Kami sudah mendatanya dan menyiapkan ujian ulang untuk seluruh SMA itu,'' terangnya kemarin. Kasus pelanggaran berat tak hanya terjadi di SMAN 2 Ngawi, tapi juga terjadi di Sungai Liat, Bangka Belitung.

Kasusnya adalah joki oleh guru dengan menyebarkan kunci jawaban unas melalui pesan SMS. Pesan itu kemudian disebar di SMA Bakti dan SMA Setia Budi. Menurut Mungin, kasusnya saat ini ditangani pihak kepolisian. Dua sekolah itu juga harus mengulang ujian.

Siswa SMA Bakti jurusan IPA harus mengulang mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan kimia. Sedangkan siswa jurusan IPS harus mengulang semua mata pelajaran yang diujikan dalam unas. Yaitu, matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ekonomi, geografi, dan sosiologi. Sementara siswa SMA Setia Budi harus mengulang semua mata pelajaran, baik untuk jurusan IPA maupun IPS.

Yang memprihatinkan lagi adalah bentuk kecurangan di Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara. Seluruh SMP dan MTs di kabupaten itu harus mengulang ujian lantaran mendapat kunci jawaban unas. (Selengkapnya lihat grafis). Kronologinya, sehari sebelum pelaksanaan unas atau pada (27/6) lalu, salah seorang guru SMP di kabupaten itu mencuri soft copy soal unas di percetakan. Dari soal itu dibuat kunci jawaban. Lantas, kunci jawaban itu disebarkan ke seluruh sekolah di Kendari. Namun, pihak kepolisian setempat telah berhasil menangkap guru tersebut.

Kemudian, pengawas, Irjen, dan BSNP turun ke lapangan untuk membuktikan apakah kunci jawaban itu sesuai dengan kunci jawaban asli. Hasilnya, pola jawaban semua siswa sama, tapi tidak sesuai dengan kunci jawaban asli. ''Artinya, jawaban siswa salah semua. Karena ini bentuk kecurangan dan melanggar POS (prosedur operasional standar, Red), akhirnya kami putuskan mengulang ujian itu,'' terangnya. Seluruh siswa SMP dan MTs Kabupaten Kendari harus mengulang semua mata pelajaran. Pelanggaran lain terjadi di SMPN 1 Lebong Bengkulu, MTs Kabupaten Kolaka, dan SMPN 4 Sampara, Kabupaten Konawa (Sulawesi Tenggara).

Mungin menjelaskan, sejatinya keputusan menggelar ujian ulang tidak diambil begitu saja. BSNP beberapa kali mengundang para kepala dinas kota/kabupaten setempat untuk membahas kasus tersebut. Peristiwa memalukan itu dibahas kali pertama pada 15 Mei lalu. Akhirnya keputusan final mengulang ujian diambil pada Sabtu (30/5) lalu. ''Pertimbangan kami menyangkut sekian banyak siswa. Kalau ujian ulang tidak dilakukan, ini sangat merugikan mereka,'' tutur pejabat asli Semarang itu.

Mungin mengatakan, bobot soal ujian ulang akan disusun setara unas yang berlangsung pada April lalu. Dengan demikian, kata Mungin, diharapkan kualitas unas ulangan tidak diragukan. Saat ini pihaknya telah menyiapkan ujian ulang itu. ''Kami berharap kecurangan tidak terjadi lagi,'' ucapnya.

Sementara itu, Direktur Centre for the Betterment of Education (CBE) Satria Dharma mengatakan, peristiwa itu sebagai tragedi dunia pendidikan. ''Jika siswa lebih memercayai kunci jawaban palsu yang beredar, artinya tidak ada kepercayaan terhadap proses pembelajaran yang berlangsung selama tiga tahun. Ini bencana bagi dunia pendidikan,'' ungkapnya.

Satria menilai, yang paling bertanggung jawab terhadap kasus itu adalah para kepala daerah, kepala dinas pendidikan, dan kepala sekolah. ''Karena itu, kasus ini harus diusut tuntas hingga ke pengadilan,'' jelas alumnus Unesa itu.

Karena merupakan sebuah kecurangan, menurut Satria, tidak seharusnya BSNP menggelar ujian ulang. ''Dalam persoalan ini, BSNP tidak boleh mengambil kebijakan mengulang unas. Itu kesalahan siswa sendiri yang lebih memercayai kunci jawaban palsu daripada apa yang telah mereka peroleh dari sekolah selama ini,'' tegasnya.

Kasus itu langsung ditanggapi Komisi X DPR RI. Kemarin komisi yang mengatur masalah pendidikan, seni, dan budaya itu mengadakan rapat intern tertutup. Wakil Ketua Komisi X Heri Akhmadi mengatakan, rapat tersebut menghasilkan beberapa keputusan. Yakni, membentuk panitia kerja (panja) untuk mengevaluasi menyeluruh unas.

Bahkan, malam ini (2/6) sekitar pukul 19.00 komisi akan memanggil Mendiknas Bambang Sudibyo dalam rapat kerja. ''Mendiknas harus menyikapi ini dengan sungguh-sungguh. Harus ada evaluasi total dan menyeluruh untuk unas,'' tegas anggota dewan dari dapil VII itu.

Heri mengatakan, komisi menyatakan sangat prihatin atas terjadinya kasus tersebut. Dia menengarai, kasus itu melibatkan orang dalam. ''Mereka (Depdiknas daerah, Red) bilang kalau itu terjadi karena siswa mendapat bocoran. Jelas tidak mungkin. Siswa tidak akan percaya kalau itu tidak dari orang dalam dan orang yang mereka percaya,'' katanya.

Karena itu, Komisi X mendesak Mendiknas segera mengungkapkan masalah yang terjadi di SMA-SMA tersebut dan menindak semua pihak yang terlibat. ''Kalau ada indikasi unsur pidana, kasus ini harus dilaporkan ke polisi,'' katanya.

Heri sendiri sempat melakukan sidak di sejumlah sekolah di daerah pemilihannya. Dari penelusuran itu, dia menilai modus kecurangan dilakukan dengan sangat sistematis dan melibatkan jaringan orang dalam. Mulai guru hingga panita ujian dari dinas pendidikan setempat. Caranya, salah seorang guru atau panitia yang ikut mendistribusi naskah soal mengambil salah satu soal. Dia lantas membuat kunci jawabannya.

''Nah, setelah itu baru disebarkan ke siswa. Penyebarannya bisa dengan cara SMS antarsiswa atau kertas-kertas dari guru yang mengawasi,'' katanya. Modus lain, kata Heri, bisa saja terjadi. Namun, untuk melakukan penelusuran yang detail, dia berharap upaya investigasi dari pihak kepolisian.

Kunci jawaban itu, kata Heri, barangkali benar. Namun, karena beberapa sekolah memiliki jenis soal berbeda, kunci jawaban itu tak cocok saat digunakan di SMA yang semua siswanya tak lulus itu. ''Bisa jadi di sekolah lain malah sukses dan semuanya lulus,'' katanya.

Heri yakin modus tersebut sudah lumrah digunakan sekolah-sekolah. Itu pula yang menjadi rahasia kelulusan mereka selama ini. ''Nah, kebetulan mereka yang gagal lulus itu sedang apes. Akhirnya jadi ketahuan. Coba kalau mereka lulus semua, pasti cara-cara tidak jujur itu tidak pernah ketahuan,'' kata anggota FPDIP itu.

Komisi X, kata Heri, juga menolak keputusan Depdiknas menurunkan Inspektorat Jenderal (Itjen) untuk menginvestigasi kasus tersebut. Sebab, Itjen tak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan. Dari beberapa kasus pendidikan yang terjadi, Itjen malah memperkeruh suasana. ''Lihat saja kasus Sumatera dulu. Guru-guru diduga mendiktekan jawaban kepada siswa. Masak Itjen malah menyalahkan mereka yang melaporkan kejadian itu,'' katanya.

Komisi juga menolak kebijakan BSNP melakukan ujian ulang. Hal itu dinilai tidak adil bagi siswa lain yang dinyatakan tidak lulus. ''Bahkan, meski dianggap korban oknum guru pun, mereka tetap tak bisa melakukan ujian ulang. Para siswa kan ikut aktif melakukan kecurangan itu. Jangan sampai karena jumlah siswa yang tak lulus mencapai ribuan, kita jadi melanggar peraturan. Ujian ulang tak pernah ada dalam aturan,'' tegasnya.

Skandal itu juga menyeret Depdiknas ke sejumlah kasus lain yang selama ini tak banyak dibicarakan. Pembentukan panja unas juga untuk mengevaluasi semua program Depdiknas yang bermasalah.

Kasus itu adalah program jaringan pendidikan nasional (jardiknas), data dan statistik pendidikan, dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). ''Program jardiknas bahkan tidak jelas. Anggarannya besar, tapi tidak ada hasilnya. Malah data dan statistik pendidikan tidak jelas juntrungnya,'' tegas Heri.

Guru di Mata Mbok Siti (52)

"Ke mana saja selama ini, anakku?", tanya Mbok Siti. "Aku pikir, kamu sudah lupa dengan kehidupan desa yang jauh dari kesempurnaan ini", tambahnya. Aku tersipu malu. Cepat-cepat aku tutupi dengan alasan. "Maaf Mbok, rasa hati ingin ke sini terus tapi banyak tugas yang harus diselesaikan", jawabku sekenanya. "He.He.He. Gak apa-apa kok", sahut Mbok yang memakai baju hitamnya dengan tertawa. "Aku sangat rindu untuk bertemu. Entah mengapa rindu itu terjadi. Banyak hal yang akan aku omongkan", ungkapnya.
"Anakku, guru harus mempunyai kerinduan kepada murid-muridnya meski rindu itu harus terjadi", kata Mbok dengan pelan. Apalah arti sebuah hubungan antara guru dengan murid jika tidak dibalut dengan kerinduan yang mendalam. Yang dikatakan guru itu ketika dia bertemu dengan muridnya. "Saat guru bertemu dengan muridnya, saat itulah kata guru benar-benar menemukan maknanya, anakku", jelasnya. Aku mengamini saja. "Untuk itu, jangan lepaskan ikatan hubungan antara guru dengan murid sekecil apapun", tambah Mbok yang beruban itu. Dari hubungan itulah terjalin pemindahan isi kesempurnaan dari guru ke murid.

Jumat, 29 Mei 2009

Cara Praktis Atasi Siswa Kesurupan

Oleh Suyatno

Kesurupan berasal dari kata bahasa Jawa yang berawal dari kata surup, artinya setelah sore sebelum malam. Keadaan saat itu langit memerah, matahari sudah tidak tampak, ayam pulang ke kandang, mobil menggunakan lampu kota, anak-anak sudah mandi dan bersiap-siap sembahyang, dan sekawanan burung mulai menempati dahan-dahan peristirahatan. Itulah yang namanya pergantian antarwaktu dan antarsuasana.

Nah, kesurupan berarti perubahan dimensi persepsi dari nyata ke tidak nyata akibat daya bayang mata yang bertumpu pada rekaman bawah sadarnya. Lihatlah, seorang anak dengan tiba-tiba mengatakan bapak kepada orang yang tidak dikenal karena bisa jadi postur orang itu sama dengan bapak aslinya. Setelah, diingatkan kalau orang itu bukan bapaknya, anak itu langsung menyadarinya. Artinya, anak itu kembali ke alam sadarnya.

Kesurupan pada siswa terjadi karena kebiasaan guru yang mengajar selalu menggunakan daya bayang siswa. Guru tidak pernah konkret dalam mengajar karena hanya dibungkus dan diantarkan dengan ceramah. Siswa disuruh membayangkan terus-menerus. Dampaknya, kebiasaan membayangkan tersebut beralih ke sesuatu yang dilihatnya dikembangkan ke bayangan lainnya sehingga siswa kesurupan.

Cara praktis untuk mengatasi siswa yang seperti itu adalah Pertama, kejutkan dengan memberikan aanatara lain teriakan, siraman air, pijatan kaki atau tangan, dan apa saja yang menyebabkan siswa kesurupan terkejut. Dengan begitu, siswa akan segera mengalihkan daya bayangnya ke bayangan normal. Kedua, segeralah dibawa ke tempat senyap yang berjauhan dengan lokasi kesurupan agar siswa mendapatkan situasi lain sehingga daya bayangnya hilang. Ketiga, segera diberikan air minum untuk mengalihkan daya bayangnya.

Cara pencegahan agar tidak terjadi kesurupan. Pertama, guru harus memberikan contoh konkret dengan media konkret sehingga siswa tidak banyak membayangkan. Kedua, hiaslah kelas dengan pajanan yang faktual dan nyata sehingga tidak berkesan menakutkan. Ketiga, jangan menakut-nakuti siswa karena siswa lain akan menggunakan solidaritas dengan cara menjerit, melotot, pingsan, dan apa saja akibat mereka takut dengan gurunya. Keempat, guru harus selalu terbuka, bersahabat, dan buatlah siswa tidak takut kepada guru.

Rabu, 20 Mei 2009

Ragam Program Pendidikan Tinggi 2009

Tahun 2009 ini, merupakan tahun terakhir pelaksanaan Renstra 2005-2009. Rembuk Nasional Pendidikan (RNP) yang telah ditutup oleh bapak Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA pada Rabu malam (25/02) merupakan kesempatan terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, termasuk juga dikti untuk memastikan bahwa seluruh target Renstra bisa tercapai dalam satu tahun terakhir ini.

Dikti bersama stakeholder pendidikan tinggi yang diundang, telah melakukan evaluasi program dan capaian kinerja pembangunan pendidikan tinggi tahun 2008. Serta telah menghimpun berbagai masukan untuk penyempurnaan draft renstra Depdiknas 2010-2014, terutama bagian Dikti.

Salah satu hal yang cukup menggembirakan untuk tahun 2009 ini adalah kenaikan anggaran dikti yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dibandingkan dengan tahun 2008, anggaran pendidikan tinggi untuk 2009 naik menjadi 30.55 persen termasuk PNBP. Jika dikeluarkan PNBP, maka kenaikan anggaran dikti adalah menjadi 37.96 persen. Anggaran dana pendidikan tinggi untuk 2009 ini adalah 18 triliun lebih, yaitu 29,56 persen atau sepertiga dari totalitas anggaran Depdiknas. Pendanaan paling tertinggi, pasti masih berada di Ditjen MPDM, yaitu 39,88 persen dari totalitas.

Kenaikan anggaran ini adalah sebagai indikator atas kesadaran para pengambil keputusan betapa pentingnya posisi pendidikan tinggi dalam pembangunan pendidikan Indonesia. Pendidikan tinggi memiliki peranan penting melahirkan manusia Indonesia yang aktif, mandiri, memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Perubahan paradigma pembangunan di dunia menjadi knowledge-based economic, membuat peranan perguruan tinggi semakin sentral, bukan periperal lagi.

Untuk tahun 2009, dikti memiliki program prioritas nasional, dananya langsung dititipkan ke dalam DIPA perguruan tinggi masing-masing. Perguruan tinggi harus mengalokasikan/memakai dana yang diamanahkan itu sesuai dengan program peruntukannya. Perguruan tinggi penerima dibagi dalam empat kategori yaitu universitas/institut Negeri, Kopertis, Perguruan tinggi bertaraf Internasional, dan politeknik.

Untuk tiga kategori selain kopertis, ada enam program: pertama, kegiatan kewirausahaan mahasiswa; kedua, kegiatan pengembangan minat, bakat, kegiatan akademik dan pengembangan kompetensi mahasiswa; ketiga, langganan e-jurnal; keempat, peningkatan keamanan (safety) keselamatan, kenyamanan, keindahan dan kebersihan kampus; kelima, penghijauan kampus dan dukungan terhadap penghijauan kota/wilayah; keenam, pengembangan unit kegiatan mahasiswa (UKM) (olah raga, seni, KSRPMI, Mapala, Pramuka, Menwa, Pers, Kampus, Kerohanian dll).

Program prioritas nasional untuk kopertis ada tiga, yaitu pertama pengembangan program kewirausahaan Mahasiswa PTS; kedua, pengembangan program akademik dan ketiga, program peningkatan EPSBED serta satu program reguler Kopertis, yaitu peningkatan tupoksi KOPERTIS.

Untuk PTN masing-masing program secara berurutan dengan alokasi dana sebagai berikut 1 milyar, 500 juta, 500 juta, 2 milyar, 500 juta, dan 1 milyar. Total 5,5 Miliar/perguruan tinggi. Sementara itu untuk perguruan tinggi bertaraf internasional, 2 milyar, 500 juta, 1 milyar, 2 milyar, 500 juta, 1 miliar. Total 7 milyar/perguruan tinggi. Politeknik, 500 juta, 500 juta, 500 juta, 1 milyar, 500 juta, dan 500 juta. Total 3,5 miliar.

Sementara itu Kopertis berdasarkan urutan tiga program prioritas nasionalnya mendapatkan masing-masing 1 milyar, 1 milyar, dan 250 juta. Ditambah dengan program peningkatan tupoksi KOPERTIS, sebanyak 3 milyar. Total bagi kopertis 5,25 milyar.

Memperhatikan Program prioritas nasional diatas, maka program kemahasiswaan menjadi perhatian terpenting sesuai dengan komitment bapak Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D, bahwa mahasiswa adalah penentu terpenting dari sukses atau tidaknya suatu perguruan tinggi. sesuai dengan amanah Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab V pasal 12 ayat (1.c); PP No. 48 tahun 2008 tentang pendanaan pendidikan; dan Undang-Undang No.9 tahun 2009 tentang BHP, bab VI pasal 46 ayat (2), maka pemerintah mengalokasikan bantuan beasiswa bagi mahasiswa yang orang tuanya tidak mampu membayar biaya pendidikan.

Alokasi beasiswa bagi mahasiswa pada tahun 2009 diberikan dalam beberapa jenis beasiswa. Pertama Beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) dengan jumlah total (dalam Rp jutaan), yaitu 321.100. kedua, Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) dengan jumlah total 350.000. ketiga, Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dengan jumlah total 260.000. keempat, Beasiswa Bantuan Mahasiswa Unggulan (BMU) denga jumlah total 5.000. keseluruahan berjumlah 936.100, mendekati angka satu triliun.

Dikti juga menfasilitasi program Penalaran Mahasiswa dan Program Kreatifitas Mahasiswa. program Penalaran Mahasiswa seperti Kompetisi Karya Tulis Ilmiah, Debat Bahasa Inggris, Oliampiade Internasional, Kompetisi Karya tulis bidang Seni, Kompetisi Karya Tulis Sikap Kritis, Kompetisi Peningkatan Kependulian Sosial, Kompetisi Mahasiswa Berprestasi, dan pelatihan Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa. Sementara itu, Program Kreatifitas Mahasiswa seperti Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS), Kontes Robot Indonesia (KRI), Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI), Kontes Jembatan Indonesia (KJI), Pagelaran Mahasiswa Tingkat Nasional bidang Informasi dan Telekomunikasi (GEMASTIK), dan Kontes Roket.

Untuk memperpendek waktu penyesuaian lulusan perguruan tinggi memasuki dunia kerja, mendapatkan pengalaman kerja di perusahaan, Dikti juga menfasilitasi program Co-op (cooperative academic Education) di industri/perusahan besar, maupun di UKM-UKM. Selain itu mahasiswa juga harus memiliki karakter dan kecerdasan emosional, maka ada program Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ), Pesta Seni Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi), Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas), Temu Wicara dan Kenal Medan Mahasiswa Pecinta Alam (TWKM Mapala), Temu Bhakti KSR-PMI Unit Perguruan tinggi se Indonesia. Kecerdasan Kinestetik, bagi mahasiswa sangat penting, oleh karena itu Dikti menfasilitasi program Universiade: kegiatan olahraga antara mahasiswa sedunia; World University Championship: kegiatan olah raga singel event yang diselenggarakan oleh FISU sekali dua tahun; Asean University Games atau POM ASEAN dan Pekan Olah Raga Nasional (POMNAS).

Untuk tahun 2009, merupakan (harapannya), tahun “hiruk pikuk” bagi segenap civitas academika, termasuk juga peneliti dan perakayasa di LPND untuk melakukan penelitian, publikasi nasional dan internasional. Tahun 2009 ada kenaikan dana penelitan yang sangat spektakuler dibandingkan dengan tahun 2008. Saat ini dana penelitian mencapai angka satu triliun rupiah untuk totalitas seluruh skim penelitian, termasuk juga hibah penelitian untuk peneliti perekayasa. Ini adalah public expenditure penelitian yang cukup besar. Dan 2/3 dari total anggaran penelitian ini sudah dimasukkan ke DIPA perguruan tinggi.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, dalam hal pemenuhan kualifikasi akademik minimun dosen dan upaya recharging bagi dosen senior, terus mengembangkan program beasiswa untuk studi S2/S3 dalam dan luar negeri dengan skema BPPS, sandwich program, Program Academic Recharging (PAR), dan program aliansi. Tahun 2009, total beasiswa untuk seluruh skema ini, hampir satu triliun rupiah yaitu 997.671.095.000.

Selain itu dikti melakukan program pengembangan pendidikan seni; Pengembangan Pendidikan Bidang Pertanian; Pengembangan Pendidikan Bidang MIPA; Pengembangan Teachng Hospital; penguatan Politeknik baru Pemda, Penguatan 26 Politeknik, Percepatan pembentukan lembaba pembentukan Internal QA di perguruan tinggi, Peningkatan Mutu dan Relevansi Asosiasi Profesi Mahasiswa dan dikti melakukan Pendidikan S1 guru dalam jabatan dan Pendidikan Profesi Guru.

Banyak lagi program Dikti, kesemuanya masuk dalam tiga pilar pendidikan Departemen Pendidikan Nasional yaitu Pemerataan dan perluasan akses; kedua, mutu, relevansi dan daya saing; ketiga, tata kelola, akuntabilitas dan citra publik. (sumber dikti.co.id)

Trik Hadapi Penilaian Kepala Sekolah Selaku Atasan

Oleh Suyatno

Tidak semua kepala sekolah bersahabat dengan guru-gurunya meskipun sebelumnya kepalas ekolah tersebut juga berasal dari guru. Ada kepala sekolah yang menganggap dirinya bos dan guru-guru sebagai pekerja yang harus disuruh-suruh. Ada kepala sekolah yang arogan dengan segala kebijakan berdasarkan kemauannya tanpa dasar apa-apa. Namun, ada kepala sekolah yang sangat bersahabat dengan guru dan selalu memberikan inspirasi untuk mengajar bagi guru-gurunya.

Lalu, bagaimana cara menghadapi penilaian kepala sekolah terhadap guru? Kepala sekolah adalah pemimpin dan manajer yang bertanggung jawab atas keberlangsungan sekolah. Untuk itu, guru harus menyadari bahwa tugas-tugasnya harus sejalan dengan kebijakan kepala sekolah. Jadi, sangat wajar jika kepala sekolah mengevaluasi guru dan memberikan penilaian baik dan buruk. Evaluasi yang diberikan tersebut tentu bisa mempengaruhi perasaan guru. Namun, alangkah lebih baik jika kekhawatiran terbesar guru tak menjadi kenyataan.

Tetap tenang
Ketika menghadapi penilaian buruk dari kepala sekolah, guru mungkin merasa lemah. Namun usahakan tetap tenang dan dengarkan apa yang atasan katakan, tanpa berusaha defensif. Fokus saja kepada yang dituturkannya. Jika perlu, guru bisa mencatat hal-hal penting yang diutarakannya. Ingat! Sebaiknya simpan sangkalan untuk lain waktu saja. Sebab, itu tak akan menambah nilai positif pandangan kepala sekolah terhadap guru.

Bagaimanapun, jika kepala sekolah selaku atasan sedang marah atau bersikap tak profesional, guru bisa berusaha mengarahkan untuk melihat kembali kepada fakta dan informasi berguna lainnya. Katakan kepada atasan, ”Saya menghargai ketulusan Anda, tapi saya ingin mendapat umpan balik yang konstruktif agar bisa membantu saya menjadi lebih baik.” Sehingga, mengesankan kepada kepala sekolah, guru mengerti letak permasalahannya. Untuk memastikan pula, guru bisa lebih berorientasi pada solusi.

Beraksi, bukan bereaksi
Jika guru merasa lemah, tersudutkan, atau merasa marah, coba ambil waktu lebih lama untuk menilik kembali dan menjawab kritik yang dilontarkan kepala sekolah. Sebagai guru yang profesional sebaiknya guru minta waktu dan kesempatan lain untuk memikirkan kembali segalanya. Jelaskan kepada kepala sekolah, guru butuh waktu 1-2 hari untuk membangun rencana baru sehubungan isu yang dijadikan kritikan.

Kenyataan bahwa Anda akan kembali dengan sejumlah solusi akan membuat atasan lebih mendukung sikap Anda. Namun, usahakan selama kurun waktu itu Anda benar-benar mengerahkan upaya dalam mengumpulkan ide atau solusi yang dibutuhkan secepatnya.

Ingat, perspektif itu subyektif
Anda tak harus menerima setiap kritik atas fakta performa kerja. Bahkan, sebenarnya boleh saja mengabaikan beberapa bagian yang menurut Anda tidak faktual. Nyatakan poin-poin penting dari review yang Anda buat, lalu Anda dapat menolaknya dengan mengatakan, ”Ada beberapa hal dari sudut pandang berbeda yang saya miliki, dan inilah yang sebenarnya terjadi.”

Dengan melakukannya, Anda akan mendapatkan kendali untuk mengarahkan pembicaraan kembali ke poin-poin yang dimiliki. Ini lebih terlihat bijaksana daripada menyerang evaluasi atasan atas kualitas Anda.

Bersikap realistis
Jika memang mendapatkan penilaian buruk dan Anda tidak sepakat, mungkin perlu untuk memutuskan tetap dengan pekerjaan saat ini atau pindah ke perusahaan lain. Jika masih mencintai pekerjaan Anda, sebaiknya terima masukan dan kritik yang diberikan.

Meski Anda tak sepakat dengan evaluasi atasan, namun kebanyakan orang bernyali menganggap pekerjaan ini tak cocok baginya dan mengabaikan instingnya. Jika memang demikian, memutuskan untuk pindah atau mengambil kesempatan lain bisa menjadi jalan keluar. Namun perlu diingat, jangan memutuskan untuk pindah atau menetap hanya karena Anda merasa takut. Toh, Anda membutuhkan semangat dan rasa percaya diri yang tinggi untuk pindah ke tempat kerja baru. Jika takut, Anda tak akan mampu membuat keputusan terbaik demi karier Anda.

Pelajari kesalahan
Ketika memulai pekerjaan baru, mungkin Anda akan merasa amat ketakutan kembali dengan evaluasi pertama. Anda bisa mencegah penilaian buruk dengan membuka komunikasi bersama atasan sejak awal bekerja.

Anda bisa memprediksikan evaluasi kerja dengan meminta atasan atau rekan kerja untuk memberikan umpan balik dan mengecek ulang kinerja Anda. Cari tahu seberapa sering Anda mendapat evaluasi jabatan serta memohon peninjauan kembali secara informal atas proyek besar Anda. Orang yang berkomunikasi secara terbuka sejak awal bekerja, akan mendapatkan umpan balik dari lingkungan kerjanya secara alami. Orang seperti ini lebih mudah melakukan perubahan yang baik, karena banyaknya masukan yang didapat dari orang-orang sekitarnya. Oleh karena itu, jadilah Anda sebagai orang yang pertama melakukannya. (disarikan dari Kompas.com)

Guru Marah-Marah, Ah Buat Apa?

Oleh Suyatno

Adakah seorang guru yang tidak pernah marah kepada siswanya selama menjadi guru? Rasanya, pertanyaan itu mudah sekali dijawab, yakni jawabannya ada. Tiap guru pernah marah dengan kadar yang berbeda-beda. Ada yang marah sambil memainkan tangan untuk memberikan sentuhan fisik dengan kasar, ada yang dengan omongan keras dan membabi-buta, ada yang menggerutu, dan ada yang marah dengan sindiran halus.

Apapun jenis marah yang dilakukan guru, marah itu memberikan dampak pada siswa secara psikologis meskipun banyak yang menganggap bahwa marah merupakan bentuk motivasi. Siswa yang tiap hari dimarahi tentu tidak dapat menemukan diri sendiri dengan mandiri karena dia tidak yakin dengan dirinya.

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah apakah guru tidak boleh marah? Apakah amarah selalu berakibat buruk?

Jawabannya adalah guru boleh saja marah dan amarah tidak selalu harus berakibat buruk. Tetapi bagaimana caranya agar amarah tidak membuat kacau dan justru malah bermanfaat bagi siswa? Ini yang perlu kita pelajari.

Menurut P. Henrietta Siswadi, S. Psi, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (kompas.com: 20 Mei 2009) amarah adalah salah satu bentuk emosi yang dimiliki oleh seseorang. Emosi sendiri memiliki kekuatan yang sangat dahsyat untuk membangun atau menghancurkan kehidupan seseorang. Ketika emosi dikelola dengan baik, kekuatannya dapat membangun kehidupan seseorang menjadi lebih baik, tetapi begitu juga sebaliknya ketika emosi tidak dikelola dengan baik.

Marah yang bermanfaat adalah marah yang tepat dan sudah dikelola dengan baik. Hal ini jelas tidak mudah, butuh waktu, kesabaran dan hati yang lapang, tapi bukan berarti tidak dapat dilakukan.

Langkah pertama yang perlu dilatih terus menerus adalah menyadari ketika kita merasa marah.Sadari bahwa saat ini aku sedang marah. Proses menyadari adalah langkah awal untuk mengendalikan dan mengelola amarah. Setelah menyadari, seseorang perlu memahami dan menerima alasan kenapa ia marah.

Inilah langkah yang kedua, proses memahami dan menerima bahwa ada sesuatu yang membuatnya marah. Termasuk dalam proses memahami adalah mengevaluasi penyebab kemarahannya. Seorang guru yang baru masuk kelas mulai merasa marah ketika siswanya tidak tertib, padahal ia merasa sangat lelah. guru ini dapat saja langsung memarahi siswanya . Tetapi hal tersebut dapat berbuntut siswa tambah tidak tertib dan liar dan guru semakin frustasi. Ketika guru mau mencoba menyadari, kemudian mencoba memahami kejadian tersebut, ia akan dapat melihat bahwa siswa tidak nakal tetapi pelampiasan jam yang sedikit terlambat atau ada kejadian kecdil di kelas. Nah, guru perlu tahu alasan tidak tertib itu.

Berdasarkan kisah dari beberapa orang, terungkap bahwa terkadang sesuatu yang membuat marah justru punya alasan atau maksud yang berbeda. Banyak yang menyesal karena sudah marah – marah untuk alasan yang tidak tepat, misalnya marah karena ada orang yang menunjuk – nunjukkan jari padanya, padahal orang tersebut bermaksud memberitahu bahwa ada bahaya yang mengancamnya dari belakang. Alasan sebenarnya inilah yang perlu kita pahami agar tidak asal marah dan buang – buang energi.

Langkah yang ketiga adalah mengelola atau mengekspresikan amarah dengan tepat. Jika kita punya alasan yang tepat, misalnya bukan hanya meluapkan emosi, tetapi juga demi pembelajaran bagi orang lain, kita dapat mengungkapkan kemarahan kita. Kemarahan yang bermanfaat tentu saja bukan kemarahan yang ingin membalas atau menyakiti orang lain, melainkan marah yang mendidik dan membangun.

Cara lain yang dapat kita lakukan adalah mengelola dengan mengubah amarah yang kita rasakan menjadi hal yang positif bagi diri kita. Kita dapat mencoba melihat sisi positif dari kejadian yang membuat kita marah, mengambil hikmah atau pembelajaran dari kejadian tersebut.

Kita juga dapat mengubah energi kemarahan yang kita rasakan menjadi energi yang dapat memotivasi kita melakukan hal yang bermanfaat. Daripada marah – marah pada pengendara motor yang memotong jalan dan sudah tidak tampak lagi, lebih baik energi yang ada digunakan untuk lebih waspada, mencermati jalan, menyalurkan hobi menyanyi, atau menyelesaikan pekerjaan di kantor.

Intinya adalah jangan terjebak pada kemarahan yang dapat merusak hari dan diri kita, tetapi manfaatkanlah kemarahan dengan cara yang tepat. Sadari, pahami dan kelola dengan tepat emosi marah yang kita rasakan karena kemampuan ini adalah bagian dari kecerdasan emosi yang kita miliki. Bersahabatlah dengan siswa.

Kamis, 14 Mei 2009

Gaya Bersekolah Cawapres Boediono

Oleh Suyatno

Boediono, gubernur bank Indonesia, mantan menteri koordinator ekonomi era SBY dan menteri ekonomi era Megawati, dipilih oleh calon presiden SBY untuk mendampingi sebagai calon wakil presiden. Pemilihan itu merupakan kejutan karena masih banyak yang antri dari beberapa partai politik dengan alasan koalisi. Tentu, Boediono mempunyai kelebihan yang ditangkap oleh SBY dengan kuat. Kelebihan itu dikalkulasi berdasarkan pemerintahan lima tahun ke depan dan era 2014. Tentu, kelebihan itu sedikit banyak ditentukan oleh gaya bersekolah Boediono saat masih menjadi siswa.

Menurut detiksurabaya.com (14 Mei 2009), boediono adalah orang yang kalem dan tenang.Itulah salah satu alasan SBY memilih Boediono sebagai pendampingnya. Jejak kesederhanaan juga melekat pada pria kelahiran Blitar, 25 Februari 1943 ini. Jejak itu setidaknya tampak dari rumah masa kecil doktor ekonomi bisnis lulusan Universitas Pennsylvania Amerika ini. Kediaman Boediono di Kota Blitar di Jalan Dr Wahidin No 6, Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjen Kidul.

Jika gaya Boediono kalem dan tenang, dapat dipastikan bahwa gaya bersekolah Boediono juga kalem dan tenang. Hal itu sejalan dengan tipe anak pertama dari tiga bersaudara yang lebih cenderung "Ngemong" adik-adiknya. Di kelas, saat SMA, Boediono masuk di program IPS. Bekal ilmu keekonomiannya berarti sudah menjadi angan-angan sejak di bangku sekolah.

Jalan kaki menjadi gaya bersekolah Boediono karena saat SMA, dia tidak memiliki sepeda motor. Padahal, SMA 1 Blitar sangat jauh dari rumah Boediono. Makna di balik jalan kaki adalah sang siswa itu menerima keadaan, penuh perjuangan, dan bergerak tiap pagi untuk mendapatkan ilmu dari gurunya. "Saya tahu persis dia itu tidak memiliki sepeda motor dan kalau ke sekolah mesti jalan kaki. Padahal sampeyan tahu sendiri berapa jarak rumahnya dengan sekolah," kata Sjamsijah, salah satu teman sekolah Boediono. Selain sederhana, Boediono juga dikenal sebagai sosok yang sangat pendiam dan terkesan tertutup. "Setahu saya Bu Sis (panggilan ibu kandung Boediono) itu pekerjaannya buka toko pakaian, bapaknya juga. Makanya dia sederhana dalam menjalani kehidupannya," ujar Sjamsijah.

Hal senada juga diungkapkan oleh Prijanto, teman sekolah Boediono yang lain. Menurutnya, selama 3 tahun menjalani pendidikan di SMA Negeri 1 Blitar tak sekali pun Boediono menaruh buku pelajarannya dalam tas sekolah. "Saya nggak tahu memang nggak punya atau sengaja. Jadi kalau sekolah bukunya digulung dan diletakkan dalam saku belakang celana. Tapi ya nggak tahu kenapa dia itu kok justru sangat pintar dan selalu berprestasi," ujar Prijanto tak habis pikir.

Ingatan setia merupakan tipe Boediono jika sekolah tanpa membawa buku banyak dan hanya satu buku untuk semua pelajaran. Ingatan setia itulah yang membingkai alam pikir Boediono sampai pada puncak kariernya. Jadi, guru juga perlu memahami bahwa siswa mempunyai aneka ragam gaya berpikir. Jika gaya berpikir itu difasilitasi dengan baik, tentu siswa akan berkembang sesuai dengan potensinya.

Boediono memulai kariernya sebagai dosen UGM. Posisinya terus menanjak setelah dia bergabung dengan Bank Indonesia. Kursi menteri mulai dipegang pada 1998 sebagai Menneg PPN/Ketua Bappenas pada era BJ Habibie, Menteri Keuangan di zaman Megawati (2001-2004), Menko Perekonomian era SBY (2005-2008) dan Gubernur BI (2008) hingga sekarang.

Senin, 11 Mei 2009

Tips Ujian Skripsi

Oleh Suyatno

Setelah sibuk dengan berkeringat-keringat dan berduit-duit saat membuat skripsi, ada satu tahap yang menentukan diakui atau tidak karya mahasiswa sebagai skripsi yang layak, yakni ujian skripsi. Biasanya, mahasiswa gemetar dan gentar setelah mendengar kata ujian. Di alam bawah sadar mahasiswa, kata ujian melekat kuat sebagai sesuatu yang ketat, diawasi, menakutkan, dan menghantui. Padahal, ujian skripsi hanyalah sebagai bentuk pertanggungjawaban atas yang telah diperbuat selama ini. Ujian skripsi ibarat laporan kepada orang lain untuk dilihat dan dirunut kelogisan dan kesistematisannya sehingga layak dibaca oleh kalangan luas.

Berikut ini tips ujian skripsi. Pertama, bacalah berulang-ulang skripsi yang telah anda buat lalu tandai hal-hal penting.

Kedua, buatlah bahan presentasi yang komunikatif dan mewadahi alur berpikir sebuah skripsi.

Ketiga, cobalah berlatih presentasi dengan waktu yang singkat (5--10 menit) dengan mengajak teman sebagai pendengar lalu mintalah pendapat mereka tentang kekurangan dan kelebihannya.

Keempat, mintalah doa restu kepada orang tua dan dosen pembimbing, tentu juga pacar kalau sudah punya untuk tambahan motivasi diri.

Kelima, datanglah lebih awal dari waktu yang telah ditentukan untuk membuang grogi, menetralkan detak jantung, dan mengecek persiapan apa saja yang dirasa kurang. Jangans ekali-kali datang terlambat karena untuk kencing saja pasti tidak sempat.

Keenam, tersenyumlah saat pertama masuk ruang karena dengan senyum, grogi akan lenyap seketika.

Ketujuh, jangan sekali-kali menganggap dosen penguji sebagai hewan yang akan menerkam ibarat harimau bertemu dengan kambing.

Kedelapan, salami semua dosen penguji sambil ucapkan salam.

Kesembilan, berhentilah sejenak sambil menunggu perintah salah satu dosen untuk menyilakan duduk atau berdoa.

Kesepuluh, berdoalah dengan khidmat agar dapat lancar berbicara di depan dosen penguji.

Kesebelas, presentasilah dengan tenang; gunakan bahasa yang lugas, mantap, dan jelas; pandangilah semua dosen penguji dengan senyum dikulum; perhatikan waktu yang disediakan.

Keduabelas, jawablah pertanyaan dosen penguji berdasarkan isi skripsi anda dan jangan ngelantur. Jika memang tidak dapat menjawab, katakan terus terang. Jika bersifat saran, terimalah saran itu dengan senang hati.

Tidak ada skripsi yang sempurna. Begitu pula, skripsi anda. Jadi, jangan jengah jika dosen penguji menyarankan dihapus, diedit, diperbaiki, diubah, diganti, dan di- yang lainnya. Anggap hal itu sebuah proses yang biasa demi kebaikan skripsi. Semestinya, justru anda harus berterima kasih karena sudah dibantu memperbaiki. Selamat ujian.

Obat Grogi Berbicara di Depan Umum

Oleh Suyatno

Pengunjung blog ini, Prasojo namanya, bertanya bagimana agar tidak grogi saat berbicara di kelas atau di depan umum. Saya sangat mengapresiasi dengan pertanyaan tersebut, jujur, lugas, dan menarik. Apresiasi saya tentu dalam bentuk posting di blog kebanggaan ini.

Percayalah, semua orang, pembicara hebat sekalipun, pasti mengalami grogi saat pertama berbicara di depan umum. Kalau grogi terjadi dalam diri anda berarti, anda mengalami hal yang sama. Wajar. Meski sudah mempersiapkannya sebaik mungkin tetap saja grogi. Berbicara merupakan sebuah keterampilan yang sama dengan keterampilan yang lain. menaiki sepeda saat pertama tentu muncul grogi dan takut jatuh tetapi jika terus menerus menaiki dan hafal, grogi dan takut jatuh hilang dengan sendirinya. Begitu pula dengan berbicara di depan umum. Ala bisa karena biasa. Berbicara adalah keterampilan proses, sebuah keterampilan yang tidak datang
seketika. Artinya, bila ingin mengusainya diperlukan banyak berlatih dan
berlatih.

Waidi dalam mailing list Imagusri menyebutkan bahwa ada dua pendekatan dalam menganalisis grogi, yakni pendekatan neurologis (syaraf otak) seseorang bisa menjadi grogi. Seseorang menjadi grogi atau bahkan sebaliknya menjadi senang bila di depan publik itu sangat tergantung bagaimana syaraf otak merespon atau menanggapi sesuatu yang berada di luar, yaitu --dalam hal ini-- audience (publik). Perilaku (grogi, takut, senang dan lain-lain) merupakan hasil dari respon pikiran kita. Kalau kita merespon/menanggapi sesuatu di luar adalah sesuatu yang menakutkan, maka pikiran (syaraf) segera mengolahnya menjadi sebuah ketakutan. Sebaliknya, kalau kita meresponnya sesuatu yang menyenangkan, semua sel-sel dan jutaan syaraf segera mengolahnya menjadi hal yang menyenangkan.

Ketika Anda merespon pendengar sebagai seuatu yang "menakutkan" syaraf otak segera
bekerja dengan cara yang negatif. Hasilnya mejadi negatif. Syaraf otak segera bekerja untuk menemukan sejumlah alasan negatif untuk meyakinkan bahwa audience itu "menakutkan". Alasan-alasan yang ditemukan oleh pikiran negatif berupa: 1) audience
terlalu banyak dan banyak orang yang sudah pintar bicara, maka saya kurang pede; 2) audience akan meneriaki "huuuuuuu..?" bila saya salah; 3) audience akan mempergunjingkan saya bila saya salah; 4) saya akan malu bila apa yang saya sampaikan tidak menarik; 5) saya akan malu bila saya salah dalam bicara nanti dan; 6) masih banyak alasan negatif yang mengantarkan Anda menjadi semakin tidak percaya diri atau grogi. Hasilnya, keringat dingin keluar, gemetar, bicara tidak lancar dan
salah-salah terus selama bicara. Pada saat seperti itu, pikiran sibuk memikirkan audience yang "menakutkan" ketimbang memimikirkan materi yang sedang di sampaikan.

Akan menjadi berbeda hasilnya bila Anda meresponnya secara positif. Pikiran Anda akan segera mencarikan sejumlah alasan positif yang menguatkan Anda tampil lebih percaya diri. Anda akan tampil lebih percaya diri bila memandang audience sebagai:
1) sekelompok manusia yang sedang memberikan kesempatan baik pada Anda untuk
bicara; 2) mereka tidak akan menghukum bila Anda keliru; 3) keliru dalam berlatih bicara adalah hal yang wajar yang dialami oleh setiap orang; 4) mereka juga belum tentu memiliki keberanian untuk bicara; 5) kalau pun ia diberi kesempatan bicara ia pasti melakukan kesalahan seperti Anda; 6) dalam sejarah belum ada audience yang "mencemooh" pembicara bila dalam menyampaikannya secara santun dan; 7) ini adalah kesempatan terbaik untuk berlatih bicara.

Dengan kata lain, audiene bukan menjadi beban pikiran selama Anda bicara. Bila perlu Anda cuek-bebek (tapi sopan) selama bicara. Ketika Anda telah mengusai audience dengan cara respon positif seperti tersebut di atas, pikiran Anda tinggal fokus pada materi. Perlu dicatat bahwa mengapa seorang pembicara grogi karena pikirannya selama
bicara sibuk memikirkan audiencenya yang dianggap "menakutkan". Menakutkan atau tidaknya sangat tergantung bagaimana pikiran kita "menafsirkannya". Bila menafsirkannya sebagai hal yang tidak menakutkan, maka pikiran akan lancar, fokus pada topik, bicara pun lancar tanpa beban grogi.

Pendekatan kedua adalah pendekatan praktis, yakni, pertama, tingkatkan rasa percaya diri (pede). Kalau kita pede, keberanian meningkat, tetapi kalau belum apa-apa sudah takut dulu, rasa pede mengecil. Akibatnya sudah grogi dulu sebelum bicara. Untuk bisa meningkatkan rasa pede, coba sebelum Anda bicara, Anda membayang seorang tokoh pintar bicara yang menjadi idola Anda. Setelah membayangkan secara jelas, anggap saja dia merasuk dalam jiwa Anda yang membantu Anda pada saat bicara. Anggap saja dia yang bicara, tapi bukan Anda.

Kedua, berani bicara kapan dan dimana saja bila ada kesempatan tampil di depan umum. Jangan takut salah dan takut ditertawakan, bicara dan bicaralah. Kalau Anda tidak pernah mencobanya, maka tidak pernah punya pengalaman. Jangan berpikir, benar-salah, bagus-tidak, mutu-tidak, selama bicara. Pokoknya, Anda sedang uji nyali, berani atau tidak. Ketika Anda berani mencobanya, berarti nyali Anda hebat. Semakin sering Anda lakukan, semakin kuat nyalinya dan tidak takut lagi. Pokoknya Anda harus berani malu.

Ketiga, mulailah dari kelompok kecil. Berlatihlah bicara pada kelompok-kelompok kecil dulu seperti karang taruna, kelompok belajar, pertemuan RT/RW. Bicaralah sebisanya dan jangan buang kesempatan. Yang seperti ini sudah saya lakukan, saya mulai dari kelompok belajar, panitia seminar, dan acara-acara pengajian. Lama- ama saya biasa. Ingat Anda bisa karena biasa.

Keempat, tulis dulu sebagai persiapan. Sebelum bicara, alangkah baiknya ditulis dulu topik dan urutan penyampaiannya. Sebab, tanpa ditulis dulu, biasanya lupa saat bicara dan menjadikan materinya tidak runtut. Ada dua cara dalam menulis, menulis lengkap kenudian tinggal membaca atau tulis pokok-pokonya saja. Bila Anda menulis lengkap akan sangat membantu Anda bicara, tetapi keburukannya membosankan. Apalagi intonasi bacanya jelek. Yang baik adalah pokok- pokok saja, kemudian Anda menguraikannya saat bicara, tetapi keburukannya, Anda bisa lupa tentang datailnya.

Kelima, akan lebih baik kalau memiliki kebiasaan menulis. Menulis apa saja, cerita, artikel, surat atau catatan harian. Catatan harian akan sangat membantu. Kenapa menulis? Karena dengan menulis adalah cara efektif untuk membuat sebuah "bangunan logika", sebuah bangunan yang masuk akal. Bila Anda terbiasa menuliskan topik-topik yang masuk akal, maka akan membantu pada saat bicara. Tinggal memanggil ulang saja.

Keenam, perbanyak membaca. Orang bicara atau menulis, tidak lepas dari kegiatan membaca. Dengan banyak membaca menjadi banyak pengetetahuan yang dapat dijadikan acuan pada saat bicara atau menulis. Kebuntuan dalam bicara terjadi karena tidak saja grogi tetepi juga karena terbatasnya acuan (informasi) yang dimilikinya.

Ketujuh, janganlah menjadi pendiam saat ada diskusi atau debat. Bicaralah, jangan pikirkan Anda menang atau kalah dalam berdebat, tetapi jadikannlah media debat menjadi media pembelajaran dalam mengasah keterampilan bicara. Juga, biasakanlah berdsiskusi, jangan hanya menjadi pendengar yang baik (diam saja) tapi Anda harus menjadi pembicara yang baik.


Kedelapan, rajin mengevaluasi diri sehabis bicara. Karena berbicara merupakan keterampilan proses, maka sebaiknya rajin mengevaluasi diri setiap saat sehabis bicara. Seringkali (pengalaman saya) saya merasa tidak puas dengan hasil akhir bicara. Selalu ada saja kekurangannya, banyak topik yang lupa tidak tersampaikan. Kekurangan ini harus menjadi catatan untuk tampil lebih baik pada kesempatan mendatang.

Kesembilan, komitmen untuk terus berlatih. Tiada sukses tanpa latihan terus menerus. Tiada juara tanpa banyak latihan. Tiada bicara tanpa grogi bila hanya tampil (berlatih) satu atau dua kali saja. Bicaralah saat ada kesempatan bicara, karena keterampilan berbicara hanya dapat diperoleh dengan "berbicara" bukan dengan cara "belajar tentang". Satu ons praktik bicara lebih baik dari pada satu ton teori berbicara.

Di samping sembilan cara praktis di atas, anda juga perlu berdoa sebelum berbicara di depan umum. Doa itu berkaitan dengan kelancaran berbicara saat nanti berbicara di depan umum. Doa dapat memberikan motivasi mujarab agar tidak grogi.

Sertifikasi Guru 2009: Perubahan dan Perkembangannya

Oleh Suyatno

Kabar gembira bagi guru yang belum mendapatkan sertifikat guru profesional karena (1) proses sertifikasi tahun 2009 segera dimulai (April pemberkasan), (2) ada kemudahan bagi guru yang belum berijasah S-1 dan usia di atas 50 tahun, (3) pengawas mulai disertifikasi, (4) guru S-2 atau S-3 berpangkat IVb tidak perlu portofolio dan langsung mendapatkan sertifikat, dan (5) guru atau guru dalam jabatan pengawas tanpa harus s-1 asal berpangkat IVc langsung mendapatkan sertifikat. Kabar menarik lainnya, tentu saja, jika lolos sertifikasi, tambahan gaji akan mengisi pundi-pundi anggaran pribadi.

Semua pasti setuju manakala guru harus profesional yang didukung oleh bukti sertifikat mengajar. Semua juga tidak setuju jika guru bersertifikat tetapi tidak mengalami perubahan tanggung jawab dan tidak inovatif. Untuk itu, guru diharapkan terus memacu diri untuk mendapatkan predikat guru sejati. Jalan yang harus ditempuh adalah menghimpun pengalaman dari berbagai aspek kemudian dikumpulkan melalui portofolio.

Dalam serifikasi guru 2009, perubahannya adalah (1) dokumen portofolio tahap awal akan diseleksi oleh dinas pendidikan untuk dilihat kelayakan diperiksa atau tidak, (2) dokumen yang telah diseleksi kelayakan tersebut juga akan diseleksi ulang oleh LPMP, (3) kemudian, dokumen akan diteliti keautentikannya dan diberi skor oleh LPTK yang ditunjuk, dan (4) jika dokumen belum memenuhi target kelulusan dinyatakan tidak lolos kemudian yang bersangkutan harus mengikuti diklat.

Ketentuan lolos tentu tidak semudah itu. Dokumen yang sah dan lengkap dan mendapatkan skor di atas 850 dinyatakan lulus. Dokumen yang sah dan lengkap dengan skor 841--849 dinyatakan melengkapi substansi. Dokumen yang sah dan lengkap dengan skor di bawah 841 dinyatakan (tidak lolos) dan mengikuti diklat. Dokumen belum sah dan lengkap dengan skor minimal 850 tetapi ada dokumen yang belum ditandatangani atau distempel dinyatakan melengkapi administrasi. Dokumen mengandung kecurigaan dinyatakan klarifikasi. Kemudian, dokumen yang tidak memenuhi kriteria serta terdapat pemalsuan dinyatakan diskualifikasi dan dokumen diskualifikasi itu akan dikembalikan ke dinas pendidikan.