Rumah di sekitar Mbok Siti sama sederhananya. Genteng kusam, tembok batu bata lama,kayu lapuk menggantung, dan pelataran tanah.Rumah-rumah itu seperti seragam dan seirama. Aku terkesima setiap kali berkunjung ke sana. Entah bagian otak mana yang membuat aku kagum dengan rumah-rumah sederhana itu.
"Menikmati apa anakku?" tanya si Mbok sambil membuka pintu. "Ini Mbok, struktur rumah yang kokoh ini", jawabku sekenanya. "Rumah ini sudah lama dibangun untuk tinggal dengan nyaman keluarga kami", jawabnya. Entah berapa orang yang dilahirkan, dibesarkan, dan berkembang dari rumah ini. Begitu pula, entah berapa orang yang berkembang dari rumah-rumah lain di sekitar ini. "Itu pertanda bahwa rumah ini, meskipun sederhana, mampu membuat orang yang tinggal di dalamnya nyaman, damai, dan betah", terang Mbok yang mempunyai tangan kokoh itu.
Begitu pula, guru harus mampu menjadi rumah bagi siswanya. "Guru harus mampu membuat siswa nyaman, damai, dan betah belajar", kata Mbok Siti sambil meletakkan secangkir kopi. Pada akhirnya, guru dapat menumbuhkembangkan kejiwaan siswa menjadi generasi yang damai dan berprestasi. "Yang membuat nyaman, damai, dan betah para siswa adalah gaya mengajar guru, bahasa yang mudah dimengerti dan akrab, penampilan yang menyejukkan siswa, dan kapasitas materi yang memadai", tambah Mbok Siti yang bernama lengkap Siti Damiyah itu.
Jumat, 06 Februari 2009
Senin, 02 Februari 2009
Cara Mudah Menerapkan Team Teaching dalam Pembelajaran
Oleh Suyatno
Team Teaching atau Pembelajaran Tim (PT) saat ini mulai marak setelah beberapa sekolah terutama SMP, melakukan pembelajaran dengan harapan dapat lebih memaksimalkan fungsi guru, memenuhi standar mengajar 24 jam, dan pembelajaran menjadi menarik. SMPN 1 Pringkuku, Pacitan, 2007 yang lalu, melakukan pelatihan bagi guru untuk ber-pembelajaran tim yang diasuh oleh garduguru. Pelatihan itu dilaksanakan di ruang laboratorium. Kesannya sekarang, guru-guru di SMPN 1 Pringkuku itu merasakan hasilnya. Kemudian, SMPN 2 dan 4 Sidoarjo juga melakukan pelatihan PT dengan seksama meskipun sebelumnya sudah menerapkan PT. Mereka menyatakan bahwa PT lebih aspiratif dan menggairahkan kelas.
Apakah PT itu? PT adalah pembelajaran yang diasuh oleh dua atau lebih guru dengan satu topik atau satu kompetensi dasar. Di Jepang PT digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang berorientasi kesiswaan sekaligus menjadi solusi problematika kelas besar yang sangat sulit ditangani oleh satu orang guru, sedangkan untuk mengembangkan sebuah kelas baru terbentur pada masalah pendanaan. Beberapa SD di Jepang yang pernah menerapkan PT. Dengan pendekatan ini, pendidikan SD di Jepang yang berorientasi kepada pendidikan anak per anak lebih mudah dijalankan. Secara praktisnya, guru utama bertugas menjelaskan materi pelajaran, sedangkan assistant teacher berfungsi membantu anak yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran. Di Indonesia beberapa sekolah menerapkan pola yang sama namun berorientasi utama untuk melengkapi beban jam mengajar guru.
PT merupakan model pembelajaran kolaborasi pengajar di dalam kelas dengan observasi terhadap siswa secara intensif. Catatan khusus terhadap perilaku, ketidakbisaan, kesulitan siswa akan terekam dengan baik, bersamaan dengan itu, teknik pengajaran pun akan dapat dikritisi dengan baik. Untuk dapat melakukan ini dengan baik, kedua guru yang berkolaborasi harus mempunyai kesamaan komitmen, dan kesiapan untuk bersikap kritis dan mengkritisi.
PT tidak semudah pembelajaran yang biasanya, yakni pembelajaran guru tunggal. PT memerlukan tim yang padu, seirama, sejalan, senada, seide, dan semodel. Ibarat tim olahraga, guru yang akan ber-PT harus mampu memainkan pembelajaran dengan sangat padu dan kompak ke arah tujuan yang akan dicapai. Suara guru satu dengan guru lainnya harus diatur sehingga enak didengar siswa. Posisi berdiri tim juga harus dijaga dan diatur. Upayakan kelas benar-benar hidup dengan pemaknaan tunggal. Jangan sampai guru satu lebih berkuasa dibandingkan guru lainnya. Tim harus setara.
Cara mudah untuk PT adalah (1) rencanakan bersama. Duduklah berdua untuk membincangkan pembelajaran yang akan dilaksanakan lalu aturlah sampai ke hal teknis di kelas. Perencanaan yang dibuat bersama harus menjadi pedoman utama. Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula. (2) Laksanakan bersama. Ketika di kelas, tim harus semuanya berada di kelas dengan posisi yang telah diatur dalam rencana. Jangan sampai guru lainnya tidak masuk dengan alasan percaya dengan guru lainnya. Janagan lupa, ukurlah tingkat pemahaman siswa saat pelaksanaan. Kendali keberhasilan harus menjadi kunci kerja tim. (3) Evaluasi bersama. Setelah pembelajaran usai, tim jangan segera bubar. Luangkan waktu sebentar untuk saling mengevaluasi posisi, peran, hasil, kondisi, dan kapasitas penerimaan materi dari siswa. Hasil evaluasi itu menjadi bahan untuk rencana PT di hari berikutnya. Dalam PT, para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa.
Team Teaching atau Pembelajaran Tim (PT) saat ini mulai marak setelah beberapa sekolah terutama SMP, melakukan pembelajaran dengan harapan dapat lebih memaksimalkan fungsi guru, memenuhi standar mengajar 24 jam, dan pembelajaran menjadi menarik. SMPN 1 Pringkuku, Pacitan, 2007 yang lalu, melakukan pelatihan bagi guru untuk ber-pembelajaran tim yang diasuh oleh garduguru. Pelatihan itu dilaksanakan di ruang laboratorium. Kesannya sekarang, guru-guru di SMPN 1 Pringkuku itu merasakan hasilnya. Kemudian, SMPN 2 dan 4 Sidoarjo juga melakukan pelatihan PT dengan seksama meskipun sebelumnya sudah menerapkan PT. Mereka menyatakan bahwa PT lebih aspiratif dan menggairahkan kelas.
Apakah PT itu? PT adalah pembelajaran yang diasuh oleh dua atau lebih guru dengan satu topik atau satu kompetensi dasar. Di Jepang PT digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang berorientasi kesiswaan sekaligus menjadi solusi problematika kelas besar yang sangat sulit ditangani oleh satu orang guru, sedangkan untuk mengembangkan sebuah kelas baru terbentur pada masalah pendanaan. Beberapa SD di Jepang yang pernah menerapkan PT. Dengan pendekatan ini, pendidikan SD di Jepang yang berorientasi kepada pendidikan anak per anak lebih mudah dijalankan. Secara praktisnya, guru utama bertugas menjelaskan materi pelajaran, sedangkan assistant teacher berfungsi membantu anak yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran. Di Indonesia beberapa sekolah menerapkan pola yang sama namun berorientasi utama untuk melengkapi beban jam mengajar guru.
PT merupakan model pembelajaran kolaborasi pengajar di dalam kelas dengan observasi terhadap siswa secara intensif. Catatan khusus terhadap perilaku, ketidakbisaan, kesulitan siswa akan terekam dengan baik, bersamaan dengan itu, teknik pengajaran pun akan dapat dikritisi dengan baik. Untuk dapat melakukan ini dengan baik, kedua guru yang berkolaborasi harus mempunyai kesamaan komitmen, dan kesiapan untuk bersikap kritis dan mengkritisi.
PT tidak semudah pembelajaran yang biasanya, yakni pembelajaran guru tunggal. PT memerlukan tim yang padu, seirama, sejalan, senada, seide, dan semodel. Ibarat tim olahraga, guru yang akan ber-PT harus mampu memainkan pembelajaran dengan sangat padu dan kompak ke arah tujuan yang akan dicapai. Suara guru satu dengan guru lainnya harus diatur sehingga enak didengar siswa. Posisi berdiri tim juga harus dijaga dan diatur. Upayakan kelas benar-benar hidup dengan pemaknaan tunggal. Jangan sampai guru satu lebih berkuasa dibandingkan guru lainnya. Tim harus setara.
Cara mudah untuk PT adalah (1) rencanakan bersama. Duduklah berdua untuk membincangkan pembelajaran yang akan dilaksanakan lalu aturlah sampai ke hal teknis di kelas. Perencanaan yang dibuat bersama harus menjadi pedoman utama. Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula. (2) Laksanakan bersama. Ketika di kelas, tim harus semuanya berada di kelas dengan posisi yang telah diatur dalam rencana. Jangan sampai guru lainnya tidak masuk dengan alasan percaya dengan guru lainnya. Janagan lupa, ukurlah tingkat pemahaman siswa saat pelaksanaan. Kendali keberhasilan harus menjadi kunci kerja tim. (3) Evaluasi bersama. Setelah pembelajaran usai, tim jangan segera bubar. Luangkan waktu sebentar untuk saling mengevaluasi posisi, peran, hasil, kondisi, dan kapasitas penerimaan materi dari siswa. Hasil evaluasi itu menjadi bahan untuk rencana PT di hari berikutnya. Dalam PT, para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa.
Jumat, 30 Januari 2009
Guru di Mata Mbok Siti (39)
Sandal jepit yang aku pakai ini, baru pertama aku injakkan di pelataran Mbok Siti, yang sebelumnya, aku selalu bersepatu. Aku agak kikuk karena takut tidak menghormat Si Mbok yang sangat wibawa itu.
"Wah, bagus sekali sandalmu, anakku", tanya Mbok yang murah senyum itu. Aku kikuk. Lalu aku jawab dengan enteng, "Hanya sekali ini pakai sandal Mbok". "Janganlah sekali-kali kamu minder pakai alas kaki sandal atau alas apapun", jawab simbok kalem. Bagi kehormatan seseorang, sandal atau sepatu tidak penting. Yang terpenting adalah jiwa dan hatinya. Semua pakaian, sandal, atau yang melekat dalam tubuh hanyalah luarnya.
Guru juga begitu, janganlah memandang siswa dari luarnya. "Pandanglah siswa dari jiwa dan hatinya", kata Mbok Siti. Jiwa anak termata indah kalau dipandang dan akan lebih indah kalau dibangun berdasarkan potensinya. Hati anak adalah hati yang terindah dari hati yang ada. Buatlah keindahan jiwa dan hati anak-anak menjadi keindahan hidupnya kelak.
"Wah, bagus sekali sandalmu, anakku", tanya Mbok yang murah senyum itu. Aku kikuk. Lalu aku jawab dengan enteng, "Hanya sekali ini pakai sandal Mbok". "Janganlah sekali-kali kamu minder pakai alas kaki sandal atau alas apapun", jawab simbok kalem. Bagi kehormatan seseorang, sandal atau sepatu tidak penting. Yang terpenting adalah jiwa dan hatinya. Semua pakaian, sandal, atau yang melekat dalam tubuh hanyalah luarnya.
Guru juga begitu, janganlah memandang siswa dari luarnya. "Pandanglah siswa dari jiwa dan hatinya", kata Mbok Siti. Jiwa anak termata indah kalau dipandang dan akan lebih indah kalau dibangun berdasarkan potensinya. Hati anak adalah hati yang terindah dari hati yang ada. Buatlah keindahan jiwa dan hati anak-anak menjadi keindahan hidupnya kelak.
Guru Marah?Jangan Cederai Siswa dan Inilah Obatnya
Oleh Suyatno
Entah berapa kali lagi, berita tentang guru melukai siswa dengan mencubit, menempeleng, menjewer, memukul, menyabet, dan bentuk menyakitkan yang lainnya hanya untuk melampiaskan kemarahan guru. Alasan guru agar siswa berubah menjadi baik. Namun, siswa tetap saja membandel. Guru marah. Jalan keluarnya, siswa disakiti sebagai bentuk hukuman.
Ketika siswa berulah menjengkelkan, tentu timbul kemarahan dalam diri guru. Ingin rasanya berteriak memarahi bahkan memukul siswa karena sulit dinasihati. Padahal, guru tidak perlu bersikap demikian. Masalahnya, dengan menaikkan suara, berarti guru akan menciptakan suatu pertempuran yang cuma-cuma, yang bukan hanya membuat hati kesal dan frustrasi, tapi juga membuat suasana menjadi tidak enak yang diakhiri dengan perasaan bersalah.
Agar semua ini tidak lagi dialami guru, coba deh 11 cara berikut ini. Siswa menjadi tidak ketakutan mendengar teriakan gurunya, guru pun dapat hidup bebas tanpa stres dalam mengajar.
1. Biarkan
Jangan terlalu cepat bereaksi. Jika siswa mengambil spidol lalu membuangnya, tidak perlu berteriak memarahinya. Minta dia mengambil spidol itu dan katakan untuk tidak mengulangi perbuatannya yang tidak baik itu. Yang paling penting dari semua ini adalah menyelamatkan kesehatan jiwa kita. Jadi, hadapi dengan tenang sehingga teriakan akan berkurang.
2. Jangan berharap terlalu banyak
Jika guru merasa selalu siap berteriak dan marah-marah pada siswa, mungkin karena guru terlalu banyak mengharapkan dari mereka. Siswa itu bukan orang dewasa yang dapat cepat menangkap sesuatu. Siswa memerlukan pengulangan, penyederhanaan konsep, dan penggunaan bahasa yang membelajarkan.
3. Cukup perlahan
Ketika guru marah, cobalah menggunakan suara pelan dan lembut dengan kata-kata yang menyentuh diri siswa. Kedengarannya aneh? Yang jelas, hampir bisa dipastikan Anda tak berteriak dengan suara keras saat marah jika sudah terbiasa berbicara dengan perlahan dan halus.
4. Pakai strategi
Temukan cara untuk menyelesaikan suatu tugas yang membuat guru stres. Misalnya, guru dan siswa tidak sejalan dengan PR yang diberikan. Katakanlah ke siswa untuk tidak mengulang kembali kejadian ini, cobalah mencari jalan lain. Misalnya, ulang kembali tentang kejelasan bahasa guru berkaitan dengan PR itu.
5. Temukan mantra
Cari sebuah kata atau kalimat yang dapat meredam amarah dan mengingatkan guru bahwa siswa sedang tidak mencoba mempermainkan guru. Dia hanya anak kecil. Itu saja! Kalimat mantra itu bisa seperti, "Mereka siswaku yang kucinta." Ulangi terus beberapa kali ketika guru merasa akan berteriak.
6. Remas bola
Ambil bola kecil, sapu tangan, genggaman, atau benda lentur lainnya. Remas-remas begitu rasa marah mulai memuncak dan guru siap berteriak.
7. Olahraga
Daripada berteriak-teriak atau marah mengeluarkan energi, sebagai gantinya lebih baik guru berolahraga. Entah itu joging, lompat-lompat, atau apa saja sehingga guru dapat merasa seperti tengah mengeluarkan emosi berteriak. Tentunya tidak dilakukan di depan siswa, cukup di rumah saja. Siapa tahu dapat keuntungan ganda: emosi bisa diredam, berat badan juga ikut turun!
8. Minta bantuan
Mengajar siswa kadang menimbulkan rasa jenuh. Berteriak atau marah merupakan satu tanda dari keletihan dan stres. Dengan kata lain, guru membutuhkan istirahat! Jangan ragu minta bantuan kepada guru lain!
9. Tenang
Jika pada suatu ketika guru dihadapkan pada keadaan yang sangat kacau sehingga guru stres, salami siswa nakal itu katakan dengan lembut bahwa yang dilakukan tidak berkenan dalam pembelajaran yang sedang berlangsung.
10. Anggaplah Manusia
Ingat bahwa pendidikan itu bersifat manusiawi bukan hewani. Menyakiti siswa dalam bentuk apapun tidak manusiawi melainkan hewani. Jadi, ketika akan menyakiti siswa, segeralah guru ingat bahwa perlakuan itu bersifat hewani.
11. Pasang Siswa Pengingat
Katakanlah ke siswa untuk mengingatkan jika guru marah. Dengan begitu, guru tidak akan pernah marah. Yang tahu kita marah atau tidak salah satunya adalah siswa. Jadi, tidak ada salahnya untuk bertanya kepada siswa.
Entah berapa kali lagi, berita tentang guru melukai siswa dengan mencubit, menempeleng, menjewer, memukul, menyabet, dan bentuk menyakitkan yang lainnya hanya untuk melampiaskan kemarahan guru. Alasan guru agar siswa berubah menjadi baik. Namun, siswa tetap saja membandel. Guru marah. Jalan keluarnya, siswa disakiti sebagai bentuk hukuman.
Ketika siswa berulah menjengkelkan, tentu timbul kemarahan dalam diri guru. Ingin rasanya berteriak memarahi bahkan memukul siswa karena sulit dinasihati. Padahal, guru tidak perlu bersikap demikian. Masalahnya, dengan menaikkan suara, berarti guru akan menciptakan suatu pertempuran yang cuma-cuma, yang bukan hanya membuat hati kesal dan frustrasi, tapi juga membuat suasana menjadi tidak enak yang diakhiri dengan perasaan bersalah.
Agar semua ini tidak lagi dialami guru, coba deh 11 cara berikut ini. Siswa menjadi tidak ketakutan mendengar teriakan gurunya, guru pun dapat hidup bebas tanpa stres dalam mengajar.
1. Biarkan
Jangan terlalu cepat bereaksi. Jika siswa mengambil spidol lalu membuangnya, tidak perlu berteriak memarahinya. Minta dia mengambil spidol itu dan katakan untuk tidak mengulangi perbuatannya yang tidak baik itu. Yang paling penting dari semua ini adalah menyelamatkan kesehatan jiwa kita. Jadi, hadapi dengan tenang sehingga teriakan akan berkurang.
2. Jangan berharap terlalu banyak
Jika guru merasa selalu siap berteriak dan marah-marah pada siswa, mungkin karena guru terlalu banyak mengharapkan dari mereka. Siswa itu bukan orang dewasa yang dapat cepat menangkap sesuatu. Siswa memerlukan pengulangan, penyederhanaan konsep, dan penggunaan bahasa yang membelajarkan.
3. Cukup perlahan
Ketika guru marah, cobalah menggunakan suara pelan dan lembut dengan kata-kata yang menyentuh diri siswa. Kedengarannya aneh? Yang jelas, hampir bisa dipastikan Anda tak berteriak dengan suara keras saat marah jika sudah terbiasa berbicara dengan perlahan dan halus.
4. Pakai strategi
Temukan cara untuk menyelesaikan suatu tugas yang membuat guru stres. Misalnya, guru dan siswa tidak sejalan dengan PR yang diberikan. Katakanlah ke siswa untuk tidak mengulang kembali kejadian ini, cobalah mencari jalan lain. Misalnya, ulang kembali tentang kejelasan bahasa guru berkaitan dengan PR itu.
5. Temukan mantra
Cari sebuah kata atau kalimat yang dapat meredam amarah dan mengingatkan guru bahwa siswa sedang tidak mencoba mempermainkan guru. Dia hanya anak kecil. Itu saja! Kalimat mantra itu bisa seperti, "Mereka siswaku yang kucinta." Ulangi terus beberapa kali ketika guru merasa akan berteriak.
6. Remas bola
Ambil bola kecil, sapu tangan, genggaman, atau benda lentur lainnya. Remas-remas begitu rasa marah mulai memuncak dan guru siap berteriak.
7. Olahraga
Daripada berteriak-teriak atau marah mengeluarkan energi, sebagai gantinya lebih baik guru berolahraga. Entah itu joging, lompat-lompat, atau apa saja sehingga guru dapat merasa seperti tengah mengeluarkan emosi berteriak. Tentunya tidak dilakukan di depan siswa, cukup di rumah saja. Siapa tahu dapat keuntungan ganda: emosi bisa diredam, berat badan juga ikut turun!
8. Minta bantuan
Mengajar siswa kadang menimbulkan rasa jenuh. Berteriak atau marah merupakan satu tanda dari keletihan dan stres. Dengan kata lain, guru membutuhkan istirahat! Jangan ragu minta bantuan kepada guru lain!
9. Tenang
Jika pada suatu ketika guru dihadapkan pada keadaan yang sangat kacau sehingga guru stres, salami siswa nakal itu katakan dengan lembut bahwa yang dilakukan tidak berkenan dalam pembelajaran yang sedang berlangsung.
10. Anggaplah Manusia
Ingat bahwa pendidikan itu bersifat manusiawi bukan hewani. Menyakiti siswa dalam bentuk apapun tidak manusiawi melainkan hewani. Jadi, ketika akan menyakiti siswa, segeralah guru ingat bahwa perlakuan itu bersifat hewani.
11. Pasang Siswa Pengingat
Katakanlah ke siswa untuk mengingatkan jika guru marah. Dengan begitu, guru tidak akan pernah marah. Yang tahu kita marah atau tidak salah satunya adalah siswa. Jadi, tidak ada salahnya untuk bertanya kepada siswa.
RPP Guru Sebenarnya untuk Apa?
Oleh Suyatno
Awal tahun ini dapat dikatakan menjadi awal yang sibuk bagi guru dalam mempersiapkan perencanaan mengajar atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP itu dibuat sekaligus, dijilid, lalu ditandatangankan ke kepala sekolah dan pengawas. Setelah itu, puaslah guru yang membuat RPP. Sebenarnya, RPP Guru untuk apa?
RPP merupakan perencanaan pembelajaran yang digunakan guru sebagaia cuan dan pedoman mengajar ketika di kelas. Dengan begitu, saat mengajar, RPP dibawa ke kelas kemudian dicoreti manakala terjadi perubahan. Dengan begitu, RPP selalu terbarui berdasarkan kondisi pembelajaran yang tengah berlangsung.
Kenyataannya, RPP yang sudah ditandatangani kepala sekolah hanya sekadar sebagai dokumen yang disimpan di meja atau lemari guru dan dicadangkan untuk persediaan andaikata terjadi pemeriksaan. Saat mengajar, guru kembali ke modal hapalan tanpa melihat RPP. Jadi, pembelajaran klasik dan konvensional senantiasa terjadi meskipun RPP guru berpola pembelajaran modern.
Runyamnya, banyak RPP guru hanya sekadar kopian dari RPP milik teman lain, di sekolah lain, atau dari buku RPP yang dijual di toko buku. Padahal, RPP bersifat mempribadi berdasarkan kondisi siswa, kelas, dan menu kompetensi dasar yang akan dicapai.
Untuk itu, RPP harus dibawa di kelas dan digunakan sebagai pedoman mengajar. Itulah pembelajaran yang senyatanya. Bagamana dengan Anda?
Awal tahun ini dapat dikatakan menjadi awal yang sibuk bagi guru dalam mempersiapkan perencanaan mengajar atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP itu dibuat sekaligus, dijilid, lalu ditandatangankan ke kepala sekolah dan pengawas. Setelah itu, puaslah guru yang membuat RPP. Sebenarnya, RPP Guru untuk apa?
RPP merupakan perencanaan pembelajaran yang digunakan guru sebagaia cuan dan pedoman mengajar ketika di kelas. Dengan begitu, saat mengajar, RPP dibawa ke kelas kemudian dicoreti manakala terjadi perubahan. Dengan begitu, RPP selalu terbarui berdasarkan kondisi pembelajaran yang tengah berlangsung.
Kenyataannya, RPP yang sudah ditandatangani kepala sekolah hanya sekadar sebagai dokumen yang disimpan di meja atau lemari guru dan dicadangkan untuk persediaan andaikata terjadi pemeriksaan. Saat mengajar, guru kembali ke modal hapalan tanpa melihat RPP. Jadi, pembelajaran klasik dan konvensional senantiasa terjadi meskipun RPP guru berpola pembelajaran modern.
Runyamnya, banyak RPP guru hanya sekadar kopian dari RPP milik teman lain, di sekolah lain, atau dari buku RPP yang dijual di toko buku. Padahal, RPP bersifat mempribadi berdasarkan kondisi siswa, kelas, dan menu kompetensi dasar yang akan dicapai.
Untuk itu, RPP harus dibawa di kelas dan digunakan sebagai pedoman mengajar. Itulah pembelajaran yang senyatanya. Bagamana dengan Anda?
Rabu, 28 Januari 2009
Guru di Mata Mbok Siti (38)
"Aduh, Mbok. Aku lunglai sekali setelah seminggu memfasilitasi para pramuka penggalang di Jambore daerah," keluhku sambil duduk terdiam di depan Mbok Siti. Bahkan, beberapa hari tidak sempat menjumpai Mbok di sini.
"Tak mengapa lelah, anakku, karena lelah akan dapat segera menjadi segar," jawab Mbok dengan enteng. "Yang paling penting adalah hasilnya. Berkat peranmu, tentu anak-anak itu mendapatkan pengalaman yang menarik bagi hidupnya kelak," ujar Mbok yang selalu senyum. Mengabdi kepada anak-anak hukumnya wajib karena memenuhi hukum keberlangsungan. "Dulu, ketika kita kecil, kita juga difasilitasi orang yang lebih dewasa dari kita," tambahnya. Begitu pula, sekarang, sudah menjadi kewajiban kita menumbuhkan generasi baru. Prinsip itulah yang harus dipegang oleh semua guru agar terjadi keikhlasan dan ketulusan dalam mendidik.
"Tak mengapa lelah, anakku, karena lelah akan dapat segera menjadi segar," jawab Mbok dengan enteng. "Yang paling penting adalah hasilnya. Berkat peranmu, tentu anak-anak itu mendapatkan pengalaman yang menarik bagi hidupnya kelak," ujar Mbok yang selalu senyum. Mengabdi kepada anak-anak hukumnya wajib karena memenuhi hukum keberlangsungan. "Dulu, ketika kita kecil, kita juga difasilitasi orang yang lebih dewasa dari kita," tambahnya. Begitu pula, sekarang, sudah menjadi kewajiban kita menumbuhkan generasi baru. Prinsip itulah yang harus dipegang oleh semua guru agar terjadi keikhlasan dan ketulusan dalam mendidik.
Sertifikasi Guru Belum Aman bagi Guru Bersertifikat
Guru yang telah tersertifikasi jangan senang dahulu, karena sertifikat yang diperoleh berdampak pada pengawasan ketat berkait dengan tunjangan yang telah dikucurkan. Berikut ini beritanya.
Jakarta, Kamis (22 Januari 2009) -- Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) Depdiknas akan menyusun kriteria kinerja guru. Dirjen PMPTK Baedowi mengatakan, kriteria kinerja ini akan dijadikan indikator untuk melakukan pembayaran tunjangan profesi guru. Selain itu, dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan profesional guru bagi yang telah mendapatkan sertifikat profesi.
Baedhowi mengatakan, penerbitan sertifikat profesi bagi guru adalah untuk keprofesiannya, tetapi pembayaran tunjangan profesi adalah berdasarkan atas kinerjanya. Salah satu syaratnya, kata dia, sesuai Peraturan Pemerintah No.74 Tahun 2008 tentang Guru, yakni memenuhi beban kerja guru paling sedikit 24 jam tatap muka dalam satu minggu. "Jadi kinerjanya itu walaupun memenuhi 24 jam tatap muka, tetapi harus dilihat indikator kinerja yang sekarang sedang dikerjakan," katanya usai mengikuti acara penandatanganan MoU bidang pendidikan antara Indonesia dengan Turki di Depdiknas, Jakarta, Kamis (22/1/2009).
Baedhowi menyebutkan, jumlah kumulasi guru yang telah disertifikasi pada 2007 dan 2008 adalah sekitar 360.000 orang. Mulai Januari 2009, kata dia, sudah dipersiapkan pembayaran tunjangan profesinya. Sementara, target guru yang disertifikasi pada 2009 adalah sebanyak 200.000 orang dan pembayaran tunjangan profesinya akan dimulai pada 2010. "Pembayaran ditujukan terutama bagi peserta yang sudah lulus lama, sedangkan yang baru lulus diminta melengkapi berkas untuk diterbitkan SK tunjangan profesi pendidik," katanya.
Baedhowi menegaskan, tidak ada perubahan dalam sistem sertifikasi guru, tetapi perubahan pada pekerjaan kepengawasan terutama bagi pengawas dalam jabatan. Menurut dia, untuk menjaga agar pengawas bekerja secara profesional diperlukan pengawas yang betul - betul memahami proses pembelajaran. "Kalau pengawas tidak menguasai proses pembelajaran kan sulit. Oleh karena itu, dicari mereka yang punya pengalaman sebagai guru atau kepala sekolah," katanya.***
Sumber: Pers Depdiknas
Jakarta, Kamis (22 Januari 2009) -- Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) Depdiknas akan menyusun kriteria kinerja guru. Dirjen PMPTK Baedowi mengatakan, kriteria kinerja ini akan dijadikan indikator untuk melakukan pembayaran tunjangan profesi guru. Selain itu, dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan profesional guru bagi yang telah mendapatkan sertifikat profesi.
Baedhowi mengatakan, penerbitan sertifikat profesi bagi guru adalah untuk keprofesiannya, tetapi pembayaran tunjangan profesi adalah berdasarkan atas kinerjanya. Salah satu syaratnya, kata dia, sesuai Peraturan Pemerintah No.74 Tahun 2008 tentang Guru, yakni memenuhi beban kerja guru paling sedikit 24 jam tatap muka dalam satu minggu. "Jadi kinerjanya itu walaupun memenuhi 24 jam tatap muka, tetapi harus dilihat indikator kinerja yang sekarang sedang dikerjakan," katanya usai mengikuti acara penandatanganan MoU bidang pendidikan antara Indonesia dengan Turki di Depdiknas, Jakarta, Kamis (22/1/2009).
Baedhowi menyebutkan, jumlah kumulasi guru yang telah disertifikasi pada 2007 dan 2008 adalah sekitar 360.000 orang. Mulai Januari 2009, kata dia, sudah dipersiapkan pembayaran tunjangan profesinya. Sementara, target guru yang disertifikasi pada 2009 adalah sebanyak 200.000 orang dan pembayaran tunjangan profesinya akan dimulai pada 2010. "Pembayaran ditujukan terutama bagi peserta yang sudah lulus lama, sedangkan yang baru lulus diminta melengkapi berkas untuk diterbitkan SK tunjangan profesi pendidik," katanya.
Baedhowi menegaskan, tidak ada perubahan dalam sistem sertifikasi guru, tetapi perubahan pada pekerjaan kepengawasan terutama bagi pengawas dalam jabatan. Menurut dia, untuk menjaga agar pengawas bekerja secara profesional diperlukan pengawas yang betul - betul memahami proses pembelajaran. "Kalau pengawas tidak menguasai proses pembelajaran kan sulit. Oleh karena itu, dicari mereka yang punya pengalaman sebagai guru atau kepala sekolah," katanya.***
Sumber: Pers Depdiknas
Ujian Nasional SMP dan SMA April, UASBN SD Mei 2009
Jakarta, Senin (12 Januari 2009) -- Penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2008/2009 jenjang SMP/MTs/SMPLB akan dilaksanakan pada bulan April 2009. Ujian utama dilaksanakan pada tanggal 27, 28, 29, dan 30 April 2009 mulai pukul 8.00 - 10.00, sedangkan ujian susulan dilaksanakan pada tanggal 4, 5, 6, dan 7 Mei 2009. Sementara ujian utama SMA/MA dilaksanakan pada tanggal 20, 21, 22, 23, dan 24 April 2009, sedangkan ujian susulan dilaksanakan pada tanggal 27, 28, 29, 30 April 2009, dan 1 Mei 2009.
Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (Ka BSNP) Mungin Eddy Wibowo mengatakan, ujian utama SMALB diselenggarakan pada tanggal 20,21, dan 22 April 2009 mulai pukul 8.00 - 10.00, sedangkan ujian susulan diselenggarakan pada tanggal 27, 28, 29 April 2009. Sementara ujian utama SMK diselenggarakan pada tanggal 20, 21, dan 22 April 2009 mulai pukul 8.00 - 10.00, sedangkan ujian susulan diselenggarakan pada tanggal 27, 28, dan 29 April 2009. "BSNP telah menyusun prosedur operasi standar (POS) untuk ujian kompetensi. Kisi - kisinya juga sudah disusun," katanya saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media, Depdiknas, Jakarta, Senin (12/1/2009).
Jadwal UN Kompetensi Keahlian SMK harus selesai satu minggu sebelum UN utama dan mengacu pada ketentuan khusus tentang teknis pelaksanaan uji kompetensi keahlian. "Bagi SMK program empat tahun, uji kompetensi keahlian dilaksanakan pada tahun ke empat," kata Mungin.
Adapun Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) Tahun Pelajaran 2008/2009 SD/MI/SDLB akan dilaksanakan pada tanggal 11, 12, dan 13 Mei 2008 untuk ujian utama dan pada tanggal 18, 19, dan 22 Mei 2009 untuk ujian susulan.
Selengkapnya mata pelajaran yang diujikan untuk jenjang SMP/MTs/SMPLB meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pada jenjang SMA/MA program IPA mata pelajaran yang diujikan meliputi Bahasa Indonesia, Biologi, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, dan Kimia, sedangkan untuk program IPS meliputi Bahasa Indonesia, Sosiologi, Bahasa Inggris, Matematika, Geografi, dan Ekonomi.
Adapun untuk program Bahasa mata pelajaran yang diujikan meliputi Bahasa Indonesia, Sejarah Budaya/Antropologi, Bahasa Inggris, Matematika, Sastra Indonesia, dan Bahasa Asing, sedangkan untuk program Keagamaan meliputi Bahasa Indonesia, Ilmu Kalam, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Hadist, dan Ilmu Tafsir.
Sementara, pada jenjang SMALB mata pelajaran yang diujikan meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, sedangkan pada jenjang SMK akan mengujikan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan uji kompetensi keahlian.
Pengumuman hasil UASBN SD dan UN SMP/MTs/SMPLB dilakukan serentak di sekolah/madrasah penyelenggara selambat - lambatnya pada minggu ketiga bulan Juni 2009, sedangkan pengumuman hasil UN SMA/MA/SMK/SMALB selambat - lambatnya pada minggu kedua bulan Juni 2009.
Kriteria kelulusan UASBN ditetapkan oleh setiap sekolah/madrasah yang peserta didiknya mengikuti UASBN melalui rapat dewan guru yang. Kriteria kelulusan ini mencakup nilai minimum setiap mata pelajaran yang diujikan dan nilai rata - rata ketiga mata pelajaran. "Kelulusan UASBN digunakan sebagai salah satu pertimbangan penentuan kelulusan dari sekolah/madrasah, " kata Mungin.
Sementara, peserta UN dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan UN, yakni memiliki nilai rata - rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran Kompetensi Keahlian Kejuruan minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata - rata UN.
Pemerintah daerah dan/atau satuan pendidikan dapat menetapkan batas kelulusan di atas nilai tersebut di atas, sebelum pelaksanaan UN. Peserta UN diberikan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) yang diterbitkan oleh sekolah/madrasah penyelenggara.
Mungin mengatakan, mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada penjelasan pasal 68 butir b, hasil ujian nasional dijadikan sebagai salah satu dasar seleksi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Satuan pendidikan, kata dia, dapat melakukan seleksi dengan menggunakan instrumen seleksi yang materinya tidak diujikan dalam Ujian Nasional.
Dia mencontohkan, perguruan tinggi dapat menyelenggarakan tes bakat skolastik, tes intelegensil, tes minat, tes bakat, tes kesehatan, atau tes lainnya sesuai dengan kriteria pada satuan pendidikan tersebut. "Hal ini tidak hanya berlaku untuk perguruan tinggi saja, nanti untuk SMP pun masuk ke SMA tidak perlu ada tes yang materinya sama dengan UN," ujarnya.
Mungin menyampaikan, satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan ini paling lambat tujuh tahun sejak mulai berlakunya PP Nomor 19/2005. "Harapannya ke depan perguruan tinggi betul - betul akan memanfaatkan hasil ujian ini sebagai dasar seleksi penerimaan mahasiswa baru," katanya.
Mungin menyebutkan, total anggaran untuk kegiatan UN dan UASBN tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak Rp.376 milyar dengan rincian untuk penyelenggaraan UASBN SD sebanyak Rp.56 milyar, UN SMP/MTS/SMPLB sebanyak Rp.200 milyar, dan UN SMA/MA/SMK sebanyak Rp.120 milyar. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Depdiknas Burhanuddin Tolla menambahkan, total biaya penyelenggaraan ujian termasuk Ujian Paket A,B, dan C yang diselenggarakan dua kali dalam setahun sebanyak Rp.572 milyar.***
Sumber: Pers Depdiknas
Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (Ka BSNP) Mungin Eddy Wibowo mengatakan, ujian utama SMALB diselenggarakan pada tanggal 20,21, dan 22 April 2009 mulai pukul 8.00 - 10.00, sedangkan ujian susulan diselenggarakan pada tanggal 27, 28, 29 April 2009. Sementara ujian utama SMK diselenggarakan pada tanggal 20, 21, dan 22 April 2009 mulai pukul 8.00 - 10.00, sedangkan ujian susulan diselenggarakan pada tanggal 27, 28, dan 29 April 2009. "BSNP telah menyusun prosedur operasi standar (POS) untuk ujian kompetensi. Kisi - kisinya juga sudah disusun," katanya saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media, Depdiknas, Jakarta, Senin (12/1/2009).
Jadwal UN Kompetensi Keahlian SMK harus selesai satu minggu sebelum UN utama dan mengacu pada ketentuan khusus tentang teknis pelaksanaan uji kompetensi keahlian. "Bagi SMK program empat tahun, uji kompetensi keahlian dilaksanakan pada tahun ke empat," kata Mungin.
Adapun Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) Tahun Pelajaran 2008/2009 SD/MI/SDLB akan dilaksanakan pada tanggal 11, 12, dan 13 Mei 2008 untuk ujian utama dan pada tanggal 18, 19, dan 22 Mei 2009 untuk ujian susulan.
Selengkapnya mata pelajaran yang diujikan untuk jenjang SMP/MTs/SMPLB meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pada jenjang SMA/MA program IPA mata pelajaran yang diujikan meliputi Bahasa Indonesia, Biologi, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, dan Kimia, sedangkan untuk program IPS meliputi Bahasa Indonesia, Sosiologi, Bahasa Inggris, Matematika, Geografi, dan Ekonomi.
Adapun untuk program Bahasa mata pelajaran yang diujikan meliputi Bahasa Indonesia, Sejarah Budaya/Antropologi, Bahasa Inggris, Matematika, Sastra Indonesia, dan Bahasa Asing, sedangkan untuk program Keagamaan meliputi Bahasa Indonesia, Ilmu Kalam, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Hadist, dan Ilmu Tafsir.
Sementara, pada jenjang SMALB mata pelajaran yang diujikan meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, sedangkan pada jenjang SMK akan mengujikan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan uji kompetensi keahlian.
Pengumuman hasil UASBN SD dan UN SMP/MTs/SMPLB dilakukan serentak di sekolah/madrasah penyelenggara selambat - lambatnya pada minggu ketiga bulan Juni 2009, sedangkan pengumuman hasil UN SMA/MA/SMK/SMALB selambat - lambatnya pada minggu kedua bulan Juni 2009.
Kriteria kelulusan UASBN ditetapkan oleh setiap sekolah/madrasah yang peserta didiknya mengikuti UASBN melalui rapat dewan guru yang. Kriteria kelulusan ini mencakup nilai minimum setiap mata pelajaran yang diujikan dan nilai rata - rata ketiga mata pelajaran. "Kelulusan UASBN digunakan sebagai salah satu pertimbangan penentuan kelulusan dari sekolah/madrasah, " kata Mungin.
Sementara, peserta UN dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan UN, yakni memiliki nilai rata - rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran Kompetensi Keahlian Kejuruan minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata - rata UN.
Pemerintah daerah dan/atau satuan pendidikan dapat menetapkan batas kelulusan di atas nilai tersebut di atas, sebelum pelaksanaan UN. Peserta UN diberikan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) yang diterbitkan oleh sekolah/madrasah penyelenggara.
Mungin mengatakan, mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada penjelasan pasal 68 butir b, hasil ujian nasional dijadikan sebagai salah satu dasar seleksi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Satuan pendidikan, kata dia, dapat melakukan seleksi dengan menggunakan instrumen seleksi yang materinya tidak diujikan dalam Ujian Nasional.
Dia mencontohkan, perguruan tinggi dapat menyelenggarakan tes bakat skolastik, tes intelegensil, tes minat, tes bakat, tes kesehatan, atau tes lainnya sesuai dengan kriteria pada satuan pendidikan tersebut. "Hal ini tidak hanya berlaku untuk perguruan tinggi saja, nanti untuk SMP pun masuk ke SMA tidak perlu ada tes yang materinya sama dengan UN," ujarnya.
Mungin menyampaikan, satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan ini paling lambat tujuh tahun sejak mulai berlakunya PP Nomor 19/2005. "Harapannya ke depan perguruan tinggi betul - betul akan memanfaatkan hasil ujian ini sebagai dasar seleksi penerimaan mahasiswa baru," katanya.
Mungin menyebutkan, total anggaran untuk kegiatan UN dan UASBN tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak Rp.376 milyar dengan rincian untuk penyelenggaraan UASBN SD sebanyak Rp.56 milyar, UN SMP/MTS/SMPLB sebanyak Rp.200 milyar, dan UN SMA/MA/SMK sebanyak Rp.120 milyar. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Depdiknas Burhanuddin Tolla menambahkan, total biaya penyelenggaraan ujian termasuk Ujian Paket A,B, dan C yang diselenggarakan dua kali dalam setahun sebanyak Rp.572 milyar.***
Sumber: Pers Depdiknas
Ponsel (HP) Ganggu Belajar Siswa
Bandung - Detik.net melaporkan (Kamis, 25 Januari 2009) bahwa telepon genggam alias ponsel dianggap lebih berbahaya daripada bolos sekolah. Pasalnya ponsel telah menggeser nilai pendidikan siswa di sekolah, di rumah ataupun lingkungannya.
Demikian dikatakan Kasubdin Bina Program Dinas Pendidikan Jawa Barat Asep Hilman yang ditemui detikINET di ruang kerjanya, jalan Dr. Rajiman No. 6, baru-baru ini.
"Ponsel secara perlahan tapi pasti telah menggeser nilai pendidikan anak sekolah. Alat komunikasi tersebut telah menggantikan pola komunikasi antara guru, orang tua dan yang lainnya terhadap siswa," kata Asep.
Pola komunikasi yang dimaksud, lanjut Asep, adalah dalam konteks transformasi edukasi yang berbasis nilai. "Seperti saat orang tua ataupun guru memberikan nasehat atau wejangan kepada siswa. Jika dulu dilakukan dengan tatap muka sehingga gerak, mimik serta contoh bisa langsung dipraktekkan, maka sekarang cukup melalui telepon. Nah, disini tidak ada transformasi nilai," papar Asep.
Tak hanya itu, ponsel juga dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan siswa yang bolos sekolah. Sebab, saat ini banyak konten negatif yang berseliweran di ponsel anak.
"Secara psikologis, anak-anak cenderung lebih cepat menyerap hal negatif tersebut ketimbang pelajaran di sekolah. Nah, kalau bolos kan secara fisik si anak tidak ada di kelas jadi untuk melakukan pembinaan juga mudah. Kalau ini, secara fisik anaknya ada di kelas duduk, tapi di bawah mejanya dia buka-buka konten yang nggak bener di hpnya. Ini bahaya," tegas Asep.
Menurut Asep, saat ini pihaknya telah memberikan imbauan kepada sekolah dan orang tua murid untuk tidak mengaktifkan ponsel milik siswa saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
( afz / dwn )
Demikian dikatakan Kasubdin Bina Program Dinas Pendidikan Jawa Barat Asep Hilman yang ditemui detikINET di ruang kerjanya, jalan Dr. Rajiman No. 6, baru-baru ini.
"Ponsel secara perlahan tapi pasti telah menggeser nilai pendidikan anak sekolah. Alat komunikasi tersebut telah menggantikan pola komunikasi antara guru, orang tua dan yang lainnya terhadap siswa," kata Asep.
Pola komunikasi yang dimaksud, lanjut Asep, adalah dalam konteks transformasi edukasi yang berbasis nilai. "Seperti saat orang tua ataupun guru memberikan nasehat atau wejangan kepada siswa. Jika dulu dilakukan dengan tatap muka sehingga gerak, mimik serta contoh bisa langsung dipraktekkan, maka sekarang cukup melalui telepon. Nah, disini tidak ada transformasi nilai," papar Asep.
Tak hanya itu, ponsel juga dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan siswa yang bolos sekolah. Sebab, saat ini banyak konten negatif yang berseliweran di ponsel anak.
"Secara psikologis, anak-anak cenderung lebih cepat menyerap hal negatif tersebut ketimbang pelajaran di sekolah. Nah, kalau bolos kan secara fisik si anak tidak ada di kelas jadi untuk melakukan pembinaan juga mudah. Kalau ini, secara fisik anaknya ada di kelas duduk, tapi di bawah mejanya dia buka-buka konten yang nggak bener di hpnya. Ini bahaya," tegas Asep.
Menurut Asep, saat ini pihaknya telah memberikan imbauan kepada sekolah dan orang tua murid untuk tidak mengaktifkan ponsel milik siswa saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
( afz / dwn )
Minggu, 18 Januari 2009
Jamda Jatim 2009 Bersifat Strategis bagi Masa Depan Anak
Jamda Jatim 2009, yang semula berlangsung di akhir Desember 2008, menapaki tahap sibuk karena saat ditulis ini, pelaksanaan kurang sehari. Di lokasi Jamda Jatim 2009, sore hari, dua hari sebelum pelaksanaan, terdengar suara kru penataan lahan memetakan lokasi tenda peserta. Kemudian, di Surabaya, tepatnya di Unesa, terlihat para pandega bersimulasi kegiatan karena mereka akan menjadi panitia kegiatan tantangan. Malam harinya, para penggalang yang akan menjadi peserta, tepatnya Sabtu Malam, sudah berada di kwarcab untuk pengecekan terakhir keberangkatan. Semua itu pertanda bahwa Jambore Jatim 2009 ini benar-benar menyedot banyak perhatian dan memberikan kesibukan bagi siapapun yang terlibat.
Jambore adalah hal biasa, tentu, bagi mereka yang pernah turut serta dan sekarang sudah menginjak di usia pekerja atau dewasa. Namun, bagi peserta, jambore merupakan wahana baru dalam menimba pengalaman. Bisa jadi, bagi penggalang, Jamda merupakan pengalaman pertama dalam membuka kesempatan pikiran, sikap, dan keterampilan yang bersinggungan dengan alam dan situasi kepramukaan. Oleh karena itu, siapapun yang terlibat dalam pelaksanaan Jamda 2009 ini, harus mengemas perannya dengan mantap agar dapat dipetik hasilnya bagi perkembangan anak-anak.
Jambore bersifat strategis bagi masa depan anak-anak karena memori pengalaman berjambore akan menjadi fondasi dalam pengalaman di masa depan. Untuk itu, bidang kegiatan, sebagai fasilitator kegiatan, harus menyiapkan menu kegiatan dengan mantap. Tidak saja sekadar menyajikan kegiatan, bidang giat dutuntut untuk menindaklanjuti kegiatan dengan cara merefleksikan secara langsung kegiatan yang telah dilaksanakan. Dengan begitu, peserta akan mendapatkan simpanan memori kuat tentang kegiatan positif jambore ini.
Semoga sukses dan harus sukses. Salam Pramuka!!!
Jambore adalah hal biasa, tentu, bagi mereka yang pernah turut serta dan sekarang sudah menginjak di usia pekerja atau dewasa. Namun, bagi peserta, jambore merupakan wahana baru dalam menimba pengalaman. Bisa jadi, bagi penggalang, Jamda merupakan pengalaman pertama dalam membuka kesempatan pikiran, sikap, dan keterampilan yang bersinggungan dengan alam dan situasi kepramukaan. Oleh karena itu, siapapun yang terlibat dalam pelaksanaan Jamda 2009 ini, harus mengemas perannya dengan mantap agar dapat dipetik hasilnya bagi perkembangan anak-anak.
Jambore bersifat strategis bagi masa depan anak-anak karena memori pengalaman berjambore akan menjadi fondasi dalam pengalaman di masa depan. Untuk itu, bidang kegiatan, sebagai fasilitator kegiatan, harus menyiapkan menu kegiatan dengan mantap. Tidak saja sekadar menyajikan kegiatan, bidang giat dutuntut untuk menindaklanjuti kegiatan dengan cara merefleksikan secara langsung kegiatan yang telah dilaksanakan. Dengan begitu, peserta akan mendapatkan simpanan memori kuat tentang kegiatan positif jambore ini.
Semoga sukses dan harus sukses. Salam Pramuka!!!
Langganan:
Postingan (Atom)