Sangat wajar jika ada siswa meraih nilai sempurna alias 10 untuk semua mata pelajaran yang diujikan. Betapa tidak. UN merupakan ujian yang berdasarkan SKL. Lalu, SKL itu diajarkan oleh guru di sekolah. Logikanya, siswa dapat meraih angka tertinggi. Jadi, sekali lagi sangat wajar jika ada siswa meraih angka penuh dalam UN.
Begitu pula, seperti yang dilaporkan Detik.com, Atik Fajaryani (17) siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Bantul berhasil meraih nilai tertinggi Ujian Nasional (UN) se-Indonesia. Nilai rata-rata yang diraihnya 9,60. Dua mata pelajaran yakni Matematika dan Bahasa Inggris diraih Atik dengan nilai sempurna yakni 10.
Kepala Sekolah SMKN I Bantul, Endang Suryaningsih mengaku kaget dan bangga ketika pengumuman kelulusan pada hari Senin 16 Mei kemarin, Atik Fajaryani siswi jurusan Akuntansi dinyatakan lulus dengan nilai tertinggi untuk hasil UN se-Indonesia. Asisten Mendiknas juga sudah menghubungi sekolah untuk memberitahukan hal tersebut.
"Tidak hanya sekolah kami saja yang bangga, tapi banyak pihak yang bangga atas prestasi yang diaraih anak didik kami," kata Endang kepada detikcom, Kamis (19/6/2011).
Menurut dia, Atik merupakan salah satu siswi yang pandai di sekolah. Setiap tahun dia terus menduduki ranking satu di kelas. "Anaknya memang rajin dan pandai. Itu terlihat dari hasil rapor dan laporan dari guru dan wali kelas," katanya.
Endang mengatakan saat ini sudah ada beberapa pihak yang menawarkan bea siswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi kepada Atik. Dia berencana melanjutkan kuliah di jurusan akuntasi di perguruan tinggi negeri di Yogyakarta.
Menurut Endang, Atik lahir di Bantul 13 Juni 1993. Dia merupakan anak ke empat atau anak bungsu dari empat bersaudara. Orangtuanya bernama Sambudi yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani. Atik bersama orangtuanya tinggal di Dusun Gandekan Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan Bantul atau sekitar 7 kilometer arah barat SMKN 1 Jetis Bantul.
"Kami senang bila Atik bisa melanjutkan kuliah dengan bantuan bea siswa yang bakal diterima dari berbagai pihak itu," pungkas dia.
Kamis, 19 Mei 2011
Guru Perlu Tahu Karakteristik Siswa Bodoh dan Siswa Pintar: Orang Bodoh ala Bob Sadino
Kadang banyak guru yang tidak pernah mau tahu dengan siswa bodoh. Yang mereka tahu hanya siswa pintar. Padahal, siswa pintar akan menjadi bodoh yang sebenarnya bodoh dan siswa bodoh justru mempunyai kepintaran. Dengan begitu, banyak pula guru yang tahunya hanya siswa pintar.
Ambisi guru hanya tunggal, yakni menjadikan anak bodoh menjadi pintar. Namun, guru tidak pernah tahu hakikat siswa bodoh yang sebenarnya pintar. Berikut beda pandangan bodoh dan pintar dari kacamata Bob Sadino :
1. Terlalu Banyak Ide -
Orang "pintar" biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satu pun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang "bodoh" mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya
2. Miskin Keberanian untuk memulai -
Orang "bodoh"biasanya lebih berani dibanding orang "pintar", Mengapa? Karena orang "bodoh"sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang "pintar"telalu banyak pertimbangan.
3. Telalu Pandai Menganalisis -
Sebagian besar orang "pintar" sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat
lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang "bodoh"tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.
4. Ingin Cepat Sukses -
Orang"Pintar" merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkan hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang "bodoh" merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.
5. Tidak Berani Mimpi Besar -
Orang "Pintar" berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa dicapai. Orang "bodoh" tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.
6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi -
Orang "Pintar"menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang "Bodoh" berpikir, dia pun bisa berbisnis.
7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai -
Orang "Pintar" yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang "bodoh" tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.
8. Maunya Dikerjakan Sendiri -
Orang "Pintar"berpikir "aku pasti bisa mengerjakan semuanya", sedangkan orang "bodoh" menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.
9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan -
Orang "Pintar" menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang "bodoh" berpikir simple, "yang penting produknya terjual".
10. Tidak Fokus -
Orang "Pintar" sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang "bodoh" tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.
11. Tidak Peduli Konsumen -
Orang "Pintar" sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke
berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang"bodoh"?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.
12. Abaikan Kualitas -
Orang "bodoh" kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka
tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sedangkan orang "pintar" sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.
13. Tidak Tuntas -
Orang "Pintar" dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang "bodoh"mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.
14. Tidak Tahu Pioritas -
Orang "Pintar" sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang "Bodoh"? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas
15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas -
Banyak orang "Bodoh" yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang "Pintar" malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,
16. Mencampur adukan Keuangan -
Seorang "pintar" sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.
17. Mudah Menyerah -
Orang "Pintar" merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang "Bodoh" seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.
18. Melupakan Tuhan -
Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan "TUHAN". Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.
19. Melupakan Keluarga -
Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga
20. Berperilaku Buruk -
Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diatas kakinya sendiri.
Ambisi guru hanya tunggal, yakni menjadikan anak bodoh menjadi pintar. Namun, guru tidak pernah tahu hakikat siswa bodoh yang sebenarnya pintar. Berikut beda pandangan bodoh dan pintar dari kacamata Bob Sadino :
1. Terlalu Banyak Ide -
Orang "pintar" biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satu pun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang "bodoh" mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya
2. Miskin Keberanian untuk memulai -
Orang "bodoh"biasanya lebih berani dibanding orang "pintar", Mengapa? Karena orang "bodoh"sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang "pintar"telalu banyak pertimbangan.
3. Telalu Pandai Menganalisis -
Sebagian besar orang "pintar" sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat
lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang "bodoh"tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.
4. Ingin Cepat Sukses -
Orang"Pintar" merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkan hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang "bodoh" merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.
5. Tidak Berani Mimpi Besar -
Orang "Pintar" berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa dicapai. Orang "bodoh" tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.
6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi -
Orang "Pintar"menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang "Bodoh" berpikir, dia pun bisa berbisnis.
7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai -
Orang "Pintar" yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang "bodoh" tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.
8. Maunya Dikerjakan Sendiri -
Orang "Pintar"berpikir "aku pasti bisa mengerjakan semuanya", sedangkan orang "bodoh" menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.
9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan -
Orang "Pintar" menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang "bodoh" berpikir simple, "yang penting produknya terjual".
10. Tidak Fokus -
Orang "Pintar" sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang "bodoh" tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.
11. Tidak Peduli Konsumen -
Orang "Pintar" sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke
berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang"bodoh"?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.
12. Abaikan Kualitas -
Orang "bodoh" kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka
tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sedangkan orang "pintar" sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.
13. Tidak Tuntas -
Orang "Pintar" dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang "bodoh"mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.
14. Tidak Tahu Pioritas -
Orang "Pintar" sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang "Bodoh"? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas
15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas -
Banyak orang "Bodoh" yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang "Pintar" malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,
16. Mencampur adukan Keuangan -
Seorang "pintar" sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.
17. Mudah Menyerah -
Orang "Pintar" merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang "Bodoh" seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.
18. Melupakan Tuhan -
Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan "TUHAN". Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.
19. Melupakan Keluarga -
Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga
20. Berperilaku Buruk -
Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diatas kakinya sendiri.
Mengajar dengan Praktik sungguh Mengesankan Peserta Didik
Inilah perkuliahan terakhir bagi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, terutama mata kuliah Keterampilan Berbicara yang berbobot 4 sks. Perkuliahan selama ini, 90% praktik, memberikan kesan mendalam bagi mahasiswa. Kompetensi berbicara benar-benar terlihat di tiap individu mahasiswa. Dari 45 mahasiswa, hanya 4 mahasiswa yang berbicara masih lambat. Lebihnya, mereka sangat jago berbicara.
Hambatan berbicara seperti banyak luncuran kata tidak penting (ah, uh, eh, ehm, dan apa itu), diam lama menunggu kata lain, lihat atas atau bawah, goyang-goyang badan, gemetar, dan tersendat kata sudah tidak terjadi dalam diri mahasiswa. Hambatan itu semula sangat kuat menghinggapi diri mahasiswa. Mengubahnya sangat susah. Waktu demi waktu perubahan dilakukan melalui praktik langsung. Hasilnya, wooh, luar biasa. Mahasiswa sekarang antigrogi.
Perkuliahan dilalui selama 32 pertemuan. Mereka mencoba berbagai model berbicara orang per orang dengan diakhiri refleksi. Mahasiswa antusias berbicara. Perkuliahan ini cukup asyik. "Asyik sekali, Pak", kata Angga ketika ditanya kesannya. "Banyak manfaatnya", kata Nunila.
Hambatan berbicara seperti banyak luncuran kata tidak penting (ah, uh, eh, ehm, dan apa itu), diam lama menunggu kata lain, lihat atas atau bawah, goyang-goyang badan, gemetar, dan tersendat kata sudah tidak terjadi dalam diri mahasiswa. Hambatan itu semula sangat kuat menghinggapi diri mahasiswa. Mengubahnya sangat susah. Waktu demi waktu perubahan dilakukan melalui praktik langsung. Hasilnya, wooh, luar biasa. Mahasiswa sekarang antigrogi.
Perkuliahan dilalui selama 32 pertemuan. Mereka mencoba berbagai model berbicara orang per orang dengan diakhiri refleksi. Mahasiswa antusias berbicara. Perkuliahan ini cukup asyik. "Asyik sekali, Pak", kata Angga ketika ditanya kesannya. "Banyak manfaatnya", kata Nunila.
Selasa, 17 Mei 2011
Inilah PGRI-nya Guru di Amerika Serikat (AFT)
Jika di Indonesia ada PGRI, IGI, KGI, dan sebagainya selaku komunitas guru atau himpunan guru, di Amerika Serikat ada Federasi Guru Amerika (AFT-America of Federation Teachers). AFT adalah persatuan guru secara nasional di Amerika Serikat yang keanggotaannya sekitar lebih dari satu juta guru dan dosen. AFT berafiliasi dengan Federasi Tenaga Kerja Amerika dan Kongres Organisasi Industri (AFL-CIO), sebuah federasi serikat buruh dan industri yang mewakili lebih dari tiga belas juta orang. AFT dibentuk untuk (1) memperbaiki kehidupan anggota dan keluarga mereka, (2) memberikan aspirasi yang sah dan profesional, ekonomi, dan sosial, (3) memperkuat lembaga-lembaga tempat bekerja, (4) meningkatkan kualitas layanan, (5) menyatukan semua anggota, (6) membantu dan mendukung satu sama lain, dan (7) mempromosikan demokrasi, hak asasi manusia dan kebebasan di Amerika dan dunia.
Seperti serikat buruh lain, AFT bekerja untuk meningkatkan bayaran lebih tinggi dan tunjangan yang lebih baik serta kondisi kerja bagi para anggotanya. Organisasi guru ini juga menawarkan berbagai manfaat dan layanan kepada para anggotanya, termasuk asuransi murah, tabungan pensiun, jasa kredit, perwakilan hukum, dan diskon harga. AFT sangat mendukung akses pendidikan umum secara gratis dan perawatan kesehatan yang terjangkau. AFT juga melakukan negosiasi kontrak dan ketentuan khusus berkaitan dengan profesi guru, seperti ukuran kelas, kode disiplin siswa, buku pelajaran dan bahan pengajaran yang memadai, dan pengembangan profesional dan evaluasi.
Seperti serikat buruh lain, AFT bekerja untuk meningkatkan bayaran lebih tinggi dan tunjangan yang lebih baik serta kondisi kerja bagi para anggotanya. Organisasi guru ini juga menawarkan berbagai manfaat dan layanan kepada para anggotanya, termasuk asuransi murah, tabungan pensiun, jasa kredit, perwakilan hukum, dan diskon harga. AFT sangat mendukung akses pendidikan umum secara gratis dan perawatan kesehatan yang terjangkau. AFT juga melakukan negosiasi kontrak dan ketentuan khusus berkaitan dengan profesi guru, seperti ukuran kelas, kode disiplin siswa, buku pelajaran dan bahan pengajaran yang memadai, dan pengembangan profesional dan evaluasi.
Guru SMPN 20 Surabaya Antusias Berlatih Membuat Modul
Karena sangat antusias berlatih menulis modul belajar, guru SMPN 20 Surabaya sampai terlupa akan waktu rehat. Mereka asyik menulis dari halaman judul sampai pada cara menuliskan daftar pustaka. "Ternyata, menulis modul itu sangat mudah", kata salah satu guru yang menjadi peserta. Rancangan modul selesai hanya selama 3 jam. Ketika pemandu, yakni Dr. Suyatno, M.Pd. sebagai pengasuh garduguru ini menyampaikan refleksi, rata-rata guru telah menghasilkan 10 lembar tulisan bahan modul.
Pelatihan penulisan bahan ajar berbentuk modul itu dilaksanakan di Aula SMPN 20 Surabaya pada Sabtu, 14 Mei 2011. "Ini langkah awal agar guru produktif dalam menulis bahan ajar", kata Suparno M.M., selaku kepala sekolah. Diharapkan, guru tidak sebatas tahu modul tetapi sampai menghasilkan modul buatan sendiri. "Untuk itu, diharapkan bulan Juli, rancangan modul selesai dibuat dan akan direviu langsung oleh Pak Suyatno", tambah kepala sekolah.
Pelatihan pembuatan modul dirancang dengan pola learning by doing. Peserta diajak untuk langsung praktik membuat modul yang dibimbing langsung Pak Suyatno. Pertama, dalam penyajian, pemandu mengajak peserta untuk berkomitmen diri melalui permainan kertas selembar. Setelah itu, peserta diberikan gambaran modul dan peran bahan ajar. Akhirnya, peserta secara tidak langsung membuat modul yang dipimpin oleh pemandu. Hasilnya, tidak ada satu guru pun yang tidak menghasilkan rancangan kasar sebuah modul.
Pelatihan penulisan bahan ajar berbentuk modul itu dilaksanakan di Aula SMPN 20 Surabaya pada Sabtu, 14 Mei 2011. "Ini langkah awal agar guru produktif dalam menulis bahan ajar", kata Suparno M.M., selaku kepala sekolah. Diharapkan, guru tidak sebatas tahu modul tetapi sampai menghasilkan modul buatan sendiri. "Untuk itu, diharapkan bulan Juli, rancangan modul selesai dibuat dan akan direviu langsung oleh Pak Suyatno", tambah kepala sekolah.
Pelatihan pembuatan modul dirancang dengan pola learning by doing. Peserta diajak untuk langsung praktik membuat modul yang dibimbing langsung Pak Suyatno. Pertama, dalam penyajian, pemandu mengajak peserta untuk berkomitmen diri melalui permainan kertas selembar. Setelah itu, peserta diberikan gambaran modul dan peran bahan ajar. Akhirnya, peserta secara tidak langsung membuat modul yang dipimpin oleh pemandu. Hasilnya, tidak ada satu guru pun yang tidak menghasilkan rancangan kasar sebuah modul.
Sekolah Zaman Dahulu, ketika Belanda Menjajah Indonesia
Apakah nenek moyang kita dulunya sempat sekolah di sekolah Belanda berikut ini? Tentu, jawabnya, banyak yang mengatakan tidak karena memang sekolah zaman Belanda sangat terbatas.
Ketika masa lalu, sekolah sudah ada, meski jumlahnya hanya sedikit dan untuk orang-orang terbatas, anak juragan dan ningrat, serta anak yang berdarah biru. Masa itu adalah masa ketika Belanda mulai sadar perlunya pendidikan di tanah jajahan. Pada waktu itu, didirikan sekolah dengan berbagai tingkat dan macam. yaitu :
1. ELS (Eurospeesch Lagere School) atau disebut juga HIS (Hollandsch Inlandsch School) sekolah dasar dengan lama studi sekitar 7 tahun. Sekolah ini menggunakan sistem dan metode seperti sekolah di negeri belanda. Sekolah ini untuk bangsa Eropa di Indonesia. bangsa Indonesia tidak boleh sekolah kecuali anak raja.
2. HBS (Hogere Burger School) yang merupakan sekolah lanjutan tinggi pertama untuk warga negara pribumi dengan lama belajar 5 tahun. AMS (Algemeen Metddelbare School) mirip HBS, namun setingkat SLTA/SMA.
3. Sekolah Bumi Putera (Inlandsch School) dengan bahasa pengantar belajarnya adalah bahasa daerah dan lama studi selama 5 tahun.
4. Sekolah Desa (Volksch School) dengan bahasa pengantar belajar bahasa daerah sekitar dan lama belajar adalah 3 tahun.
5. Sekolah lanjutan untuk sekolah desa (Vervolksch School) belajar dengan bahasa pengantarnya bahasa daerah dan masa belajar selama 2 tahun.
6. Sekolah Peralihan (Schakel School) yaitu sekolah lanjutan untuk sekolah desa dengan lama belajar 5 tahun dan berbahasa belanda dalam kegiatan belajar mengajar.
7. MULO Sekolah lanjutan tingkat pertama singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs dengan tingkatan yang sama dengan smp / sltp pada saat jika dibandingkan dengan masa kini.
8. Stovia (School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen) yang sering disebut juga sebagai Sekolah Dokter Jawa dengan masa belajar selama 7 tahun sebagai lanjutan MULO.
Ketika masa lalu, sekolah sudah ada, meski jumlahnya hanya sedikit dan untuk orang-orang terbatas, anak juragan dan ningrat, serta anak yang berdarah biru. Masa itu adalah masa ketika Belanda mulai sadar perlunya pendidikan di tanah jajahan. Pada waktu itu, didirikan sekolah dengan berbagai tingkat dan macam. yaitu :
1. ELS (Eurospeesch Lagere School) atau disebut juga HIS (Hollandsch Inlandsch School) sekolah dasar dengan lama studi sekitar 7 tahun. Sekolah ini menggunakan sistem dan metode seperti sekolah di negeri belanda. Sekolah ini untuk bangsa Eropa di Indonesia. bangsa Indonesia tidak boleh sekolah kecuali anak raja.
2. HBS (Hogere Burger School) yang merupakan sekolah lanjutan tinggi pertama untuk warga negara pribumi dengan lama belajar 5 tahun. AMS (Algemeen Metddelbare School) mirip HBS, namun setingkat SLTA/SMA.
3. Sekolah Bumi Putera (Inlandsch School) dengan bahasa pengantar belajarnya adalah bahasa daerah dan lama studi selama 5 tahun.
4. Sekolah Desa (Volksch School) dengan bahasa pengantar belajar bahasa daerah sekitar dan lama belajar adalah 3 tahun.
5. Sekolah lanjutan untuk sekolah desa (Vervolksch School) belajar dengan bahasa pengantarnya bahasa daerah dan masa belajar selama 2 tahun.
6. Sekolah Peralihan (Schakel School) yaitu sekolah lanjutan untuk sekolah desa dengan lama belajar 5 tahun dan berbahasa belanda dalam kegiatan belajar mengajar.
7. MULO Sekolah lanjutan tingkat pertama singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs dengan tingkatan yang sama dengan smp / sltp pada saat jika dibandingkan dengan masa kini.
8. Stovia (School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen) yang sering disebut juga sebagai Sekolah Dokter Jawa dengan masa belajar selama 7 tahun sebagai lanjutan MULO.
Mengajar dengan Gaya Sunan Derajat
Rasanya, asyik juga jika guru mengajar dengan gaya para guru pendahulu dalam membimbing siswanya. Mengapa tidak? Guru kuno adalah penginspirasi bagi guru saat ini dalam membangun kemajuan pendidikan di Indonesia. Salah satu guru kuno yang perlu diteladani gaya mengajarnya adalah guru Sunan Derajat, salah satu Walisongo yang tinggal di Desa Derajat, Paciran, Lamongan.
Sunan Derajat . nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.
Ketika dewasa, kira-kira 1470 Masehi, Sunan Drajat menjadi guru dan mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.
Sebagai guru, beliau berani mengajar di daerah terpencil, pedesaan, dengan cara pengembangan jiwa sosial, sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Dalam mengajar sambil berdakwah, Sunan Derajat terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Ketika mengajar, Ia memotivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yang mempunyai otonomi.
Filosofi Sunan Drajat dalam mengajar tertuang dalam pernyataan sebagai berikut.
1. Dalam mengajar, guru harus menciptakan rasa senang siswanya dalam kondisi apapun.
2. Saat senang, siswa jangan berlarut dalam kesenangan tetapi tetap ingat dan waspada dengan ilmu yang dipelajari karena rasa senang hanyalah energi mendalami keilmuan.
3. Siswa senantiasa akan kukuh terhadap cita-citanya dengan melawan segala rintangan belajar.
4. Nafsu hewani dalam diri siswa dikikis habis dan digeser ke nafsu manusiawi. Contoh nafsu hewani adalah rakus, sombong, malas, dan sebagainya.
5. Siswa dilatih berkonsentrasi penuh dalam mendalami pelajaran.
6. Kewajiban ibadah menjadi menu utama agar siswa selalu berada di jalur diri sejatinya.
Layani siswa dengan sungguh-sungguh.
Sunan Derajat . nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.
Ketika dewasa, kira-kira 1470 Masehi, Sunan Drajat menjadi guru dan mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.
Sebagai guru, beliau berani mengajar di daerah terpencil, pedesaan, dengan cara pengembangan jiwa sosial, sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Dalam mengajar sambil berdakwah, Sunan Derajat terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Ketika mengajar, Ia memotivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yang mempunyai otonomi.
Filosofi Sunan Drajat dalam mengajar tertuang dalam pernyataan sebagai berikut.
- Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain)
- Jroning suko kudu eling Ian waspodo (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)
- Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
- Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
- Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).
- Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan shalat lima waktu)
- Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)
1. Dalam mengajar, guru harus menciptakan rasa senang siswanya dalam kondisi apapun.
2. Saat senang, siswa jangan berlarut dalam kesenangan tetapi tetap ingat dan waspada dengan ilmu yang dipelajari karena rasa senang hanyalah energi mendalami keilmuan.
3. Siswa senantiasa akan kukuh terhadap cita-citanya dengan melawan segala rintangan belajar.
4. Nafsu hewani dalam diri siswa dikikis habis dan digeser ke nafsu manusiawi. Contoh nafsu hewani adalah rakus, sombong, malas, dan sebagainya.
5. Siswa dilatih berkonsentrasi penuh dalam mendalami pelajaran.
6. Kewajiban ibadah menjadi menu utama agar siswa selalu berada di jalur diri sejatinya.
Layani siswa dengan sungguh-sungguh.
Senin, 16 Mei 2011
Peringkat Terburuk UN 2011 Tingkat Provinsi
Jika ada yang terbaik, pasti juga ada yang terburuk dalam hasil UN 2011. Itu hal yang biasa dalam pemeringkatan. Berikut ini tujuh provinsi terburuk dalam perolehan UN 2011, yakni NTT, Bangka Belitung, Kalteng, Papua, NAD, Sumatera Barat, dan Sulawesi Tengah.
Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) memberikan peringatan serta perhatian khusus terhadap tujuh provinsi yang memiliki tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) pada tahun ini. Ketujuh provinsi yang persentase ketidaklulusannya tertinggi itu adalah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan ketidaklulusan 1.813 siswa dari 32.532 peserta UN atau 5,57 persen, Bangka Belitung 250 siswa tidak lulus dari 6.035 siswa (4,14 persen), Kalimantan Tengah 595 siswa tidak lulus dari 14.880 peserta (4 persen). Selanjutnya, Papua 430 siswa tidak lulus dari 13.090 peserta (3,38 persen), Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) 1.701 siswa tidak lulus dari 53.387 peserta (3,19 persen), Sumatra Barat 1.167 tidak lulus dari 43.211 peserta (2,7 persen), dan Sulawesi Tengah 487 siswa tidak lulus dari 19,071 peserta (2,55 persen).
Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) memberikan peringatan serta perhatian khusus terhadap tujuh provinsi yang memiliki tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) pada tahun ini. Ketujuh provinsi yang persentase ketidaklulusannya tertinggi itu adalah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan ketidaklulusan 1.813 siswa dari 32.532 peserta UN atau 5,57 persen, Bangka Belitung 250 siswa tidak lulus dari 6.035 siswa (4,14 persen), Kalimantan Tengah 595 siswa tidak lulus dari 14.880 peserta (4 persen). Selanjutnya, Papua 430 siswa tidak lulus dari 13.090 peserta (3,38 persen), Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) 1.701 siswa tidak lulus dari 53.387 peserta (3,19 persen), Sumatra Barat 1.167 tidak lulus dari 43.211 peserta (2,7 persen), dan Sulawesi Tengah 487 siswa tidak lulus dari 19,071 peserta (2,55 persen).
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 2.388.541 siswa jenjang SMA/SMK dan yang sederajat dinyatakan lulus pada UN tahun ini, sedangkan 16.088 siswa dinyatakan tidak lulus. Jika dibandingkan angka kelulusan UN SMA tahun lalu, maka ada peningkatan sekira 0,08 persen. Pada 2010, tingkat kelulusan UN berada di kisaran 99,04 persen. Untuk jenjang SMA, siswa yang lulus UN 2011 mencapai 1.450.498 siswa atau 99,22 persen, sedangkan yang tidak lulus sebanyak 11.433 siswa atau 0,78 persen. Untuk SMK, jumlah siswa yang lulus mencapai 938.043 siswa atau 99,51 persen. Sementara yang tidak lulus sebanyak 4.655 siswa atau 0,49 persen. (sumber: gresnews.com)
Peraih UN Terbaik untuk 10 Besar: Bali, Bengkulu, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Selatan,, Sulawesi Utara, Lampung, Riau, Jawa Tengah, Maluku
Persentase kelulusan pada satuan pendidikan SMA/MA/SMK tahun ini mengalami kenaikan lebih dari sembilan persen. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), 1.461.941 peserta ujian nasional (UN) SMA/sederajat tahun ajaran 2010/2011, 1.450.498 atau sama dengan 99.22 persen siswa lulus, sementara 11.443 atau sama dengan 0.78 persen siswa lainnya tidak lulus.
Tahun lalu, dari 1.522.195 peserta UN, sebanyak 1.368.938 atau sama dengan 89.93 persen siswa lulus, dan 153.257 atau sama dengan 10.07 persen lainnya tidak lulus. Berikut kami berikan ringkasan 10 daerah dengan rata-rata nilai akhir, nilai UN dan nilai sekolah terbaik.
Data Kemdiknas memaparkan, 10 daerah dengan persentase nilai akhir terbaik tahun ini adalah Bali (8.40), Sumatera Utara (8.17), Bengkulu (8.08), Jawa Barat (8.08), Jawa Timur (8.05), Sumatera Selatan (7.96), Sulawesi Utara (7.94), Lampung (7.91), Riau (7.90), Jawa Tengah (7.89), Sulawesi Selatan (7.84).
Sementara itu, 10 daerah dengan rata-rata nilai UN terbaik adalah Bali (8.31), Bengkulu (8.07), Sumatera Utara (8.05), Jawa Barat (8.03), Jawa Timur (7.86), Sumatera Selatan (7.80), Sulawesi Utara (7.66), Lampung (7.67), Riau (7.91), Jawa Tengah (7.70), Maluku (7.69). Sedangkan 10 daerah dengan rata-rata nilai sekolah terbaik adalah Bali (8.51), Bengkulu (8.35), DI Yogyakarta ( 8.35), Sulawesi Utara ( 8.340, Jawa Timur (8.32), Lampung (8.25), Sumatera Selatan (8.25), Sumatera Selatan (8.19), Jawa Tengah (8.16), Sumut (8.16), Jawa Barat (8.13). (sumner: kompas.com)
Gurulah Penentu Keberhasilan Siswa Meraih Mimpi
Banyak anak yang kelak menjadi dewasa susah meraih mimpi ketika kecilnya karena banyak sekali hambatan yang menghalanginya. Hambatan tersebut sedikit banyak ditanamkan oleh guru ketika orang itu dulu di bangku sekolah. Guru menanamkan secara rutin agar anak takut berbuat meski sedikit pun.
Bagaimana bisa guru yang menjadi penghambat? Tengok saja, tiap hari siswa diajari takut melalui larangan tidak mengerjakan PR. Tiap hari, jika siswa tidak mengerjakan PR akan mendapatkan hukuman dari guru entah apa bentuk hukumannya. Anak tidak akan dapat mengerjakan 10 atau 15 PR sekaligus karena PR diberikan bertahap. Cobalah, PR diberikan di minggu pertama untuk urutan PR. misalnya, di minggu pertama masuk, anak diberikan 15 PR yang akan dikerjakan selama satu semester. Anak diperbolehkan mengerjakan 3, 4, atau 15 sekaligus jika mampu.
Tengok pula, anak tidak pernah diajari melompat namun hanya boleh pelan-pelan bertahap. Ajarilah anak untuk melompat karena dengan melompat anak akan merasakan dua hal, yakni berhasil dan gagal. Biarkan anak berpengalaman untuk jatuh. jatuh dan bangun adalah dunia pengalaman. Anak memerlukan pengalaman itu.
Gurulah penentu keberhasilan mimpi siswa karena tiap hari terjadi dialog, integrasi, dan penyambungan gagasan. Jika tiap hari guru memberikan motivasi untuk melompatdalam hidup, anak akan dengan mudah melompat. Melompat adalah milik anak muda.
Bagaimana bisa guru yang menjadi penghambat? Tengok saja, tiap hari siswa diajari takut melalui larangan tidak mengerjakan PR. Tiap hari, jika siswa tidak mengerjakan PR akan mendapatkan hukuman dari guru entah apa bentuk hukumannya. Anak tidak akan dapat mengerjakan 10 atau 15 PR sekaligus karena PR diberikan bertahap. Cobalah, PR diberikan di minggu pertama untuk urutan PR. misalnya, di minggu pertama masuk, anak diberikan 15 PR yang akan dikerjakan selama satu semester. Anak diperbolehkan mengerjakan 3, 4, atau 15 sekaligus jika mampu.
Tengok pula, anak tidak pernah diajari melompat namun hanya boleh pelan-pelan bertahap. Ajarilah anak untuk melompat karena dengan melompat anak akan merasakan dua hal, yakni berhasil dan gagal. Biarkan anak berpengalaman untuk jatuh. jatuh dan bangun adalah dunia pengalaman. Anak memerlukan pengalaman itu.
Gurulah penentu keberhasilan mimpi siswa karena tiap hari terjadi dialog, integrasi, dan penyambungan gagasan. Jika tiap hari guru memberikan motivasi untuk melompatdalam hidup, anak akan dengan mudah melompat. Melompat adalah milik anak muda.
Langganan:
Postingan (Atom)