Oleh Suyatno
Pada dasarnya, proses belajar terjadi ketika siswa mampu memberikan makna/membangun pemahaman pada pengalamannya terhadap suatu objek atau suatu peristiwa. Misalnya, ketika seorang siswa baru pertama kali melihat kerbau dia akan mengatakan kerbau itu sebagai ‘anjing besar’ karena sehari-harinya dia terbiasa melihat anjing. Dia senantiasa berupaya mengaitkan pengetahuan baru itu dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Setelah dia amati berkali-kali, dia menyadari bahwa ‘anjing besar’ ini berbeda dengan anjing yang biasa dilihatnya sehari-hari. Pada waktu itu, siswa mulai membangun pengetahuan tentang ciri-ciri ‘anjing besar’ ini. Dalam jaringan struktur kognitif siswa ini, tidak hanya ada konsep anjing tetapi bertambah dengan ‘anjing besar’ yang dalam beberapa kali pengalamannya ‘melihat kerbau’, terminologi ‘anjing besar’ ini digantinya dengan terminologi baru menjadi ‘anjing bertanduk’. Proses belajar berlangsung dari dalam diri, ketika siswa secara terus menerus membangun gagasan baru atau menyempurnakan gagasan lama.
Ketika siswa memperoleh pengalaman pertama melihat seekor kerbau, struktur kognitif siswa mengalami goncangan ketidakseimbangan (disequilibrium) akibat perbedaan karakteristik anjing yang biasa dilihatnya dengan karakteristik kerbau yang sekarang dilihatnya. Kondisi ini memaksa siswa untuk membangun gagasan baru (anjing besar) yang berasal dari gagasan lama (‘anjing’ yang biasa dilihatnya). Proses seperti ini disebut proses assimilasi. Pada proses ini, pada dasarnya gagasan lama tidak berubah, siswa hanya melakukan perluasan gagasan dalam jaring kognitifnya. Proses lain adalah proses akomodasi dimana terjadi penggantian gagasan lama dengan gagasan baru.
Jumat, 17 Juli 2009
Rabu, 15 Juli 2009
Mengajar di Sekolah Baru
Marina, seorang guru baru, mulai mengajar di sekolah baru dengan modal kependidikan yang baru pula. Tentu sungguh mengasyikkan kondisi tersebut karena Marina dapat lebih leluasa untuk mengeksplorasi kemampuannya di lingkungan baru. Lebih asyik lagi jika Marina mampu merencanakan dengan kuat tindakan yang akan dilakukannya.
Sebenarnya, sekolah lama atau baru sama saja karena mempunyai permasalahan dan tantangan sendiri-sendiri yang juga sama memerlukan sentuhan dari seorang guru. Lalu, bagaimana cara yang paling tepat untuk mengajar di sekolah baru?
Sekolah baru adalah sekolah yang belum mempunyai tradisi persekolahan. Yang ada hanyalah persepsi imajinatif dari pengelola sekolah berdasarkan pengalaman yang dimiliki atau berdasarkan teks yang pernah dibacanya. Dari kondisi itu, tentu muncul kesenjangan antara angan-angan dengan kenyataan yang harus terjadi.
Beberapa rambu yang perlu diperhatikan adalah analisis kondisi siswa yang ada, pelajari kurikulum baku, perhatikan kondisi sekolah, cek kondisi masyarakat, dan perhatikan sarana dan prasarana yang dimiliki. Hasil analisis kondisi siswa menentukan bagi pola pembelajaran yang dijalankan beserta kemasan materinya. Kurikulum (KTSP) perlu dikembangna berdasarkan kemauan sekolah yang berkembang. Kondisi masyarakat diperlukan untuk memberikan gaya persekolahan yang akan dijalankan. Kondisi sekolah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan pembelajaran. Sarana dan prasarana memeberikan kelancaran bagi keterlaksanaan pembelajaran.
Senyampang sekolah baru, pengelola perlu langsung tancap gas untuk menerapkan sistem pembelajaran modern yang berbasis siswa karena pola tradisional belum mengental di antara guru. Guru perlu bertemu untuk menentukan menu pembelajaran dengan prinsip integratif dan kondusif.
Sebenarnya, sekolah lama atau baru sama saja karena mempunyai permasalahan dan tantangan sendiri-sendiri yang juga sama memerlukan sentuhan dari seorang guru. Lalu, bagaimana cara yang paling tepat untuk mengajar di sekolah baru?
Sekolah baru adalah sekolah yang belum mempunyai tradisi persekolahan. Yang ada hanyalah persepsi imajinatif dari pengelola sekolah berdasarkan pengalaman yang dimiliki atau berdasarkan teks yang pernah dibacanya. Dari kondisi itu, tentu muncul kesenjangan antara angan-angan dengan kenyataan yang harus terjadi.
Beberapa rambu yang perlu diperhatikan adalah analisis kondisi siswa yang ada, pelajari kurikulum baku, perhatikan kondisi sekolah, cek kondisi masyarakat, dan perhatikan sarana dan prasarana yang dimiliki. Hasil analisis kondisi siswa menentukan bagi pola pembelajaran yang dijalankan beserta kemasan materinya. Kurikulum (KTSP) perlu dikembangna berdasarkan kemauan sekolah yang berkembang. Kondisi masyarakat diperlukan untuk memberikan gaya persekolahan yang akan dijalankan. Kondisi sekolah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan pembelajaran. Sarana dan prasarana memeberikan kelancaran bagi keterlaksanaan pembelajaran.
Senyampang sekolah baru, pengelola perlu langsung tancap gas untuk menerapkan sistem pembelajaran modern yang berbasis siswa karena pola tradisional belum mengental di antara guru. Guru perlu bertemu untuk menentukan menu pembelajaran dengan prinsip integratif dan kondusif.
Guru di Mata Mbok Siti (57)
Kambing di belakang rumah Mbok Siti tampak sehat-sehat dengan gerak mulut lincah mengunyah rumput. Tiap aku sodori rumput, kambing itu dengan cepat menyambarnya seolah mengucapkan terima kasih. Mbok Siti tiba-tiba memberikan seikat rumput berupa dedaunan di wadah makanan yang diikat setinggi 60 cm menempel di kandang. "Kok banyak Mbok?", tanyaku menyelidik. "Rumput segini, memang sudah porsinya, anakku", sambil tersenyum memandangku. Karena tiap hari memberikan rumput, Mbok Siti sangat hafal takaran rumput yang diberikan.
Begitu pula, guru sudah seharusnya hafal dengan takaran materi pembelajaran yang diberikan. "Guru harus tahu seberapa berat materi diberikan untuk siswanya", kata Mbok Siti. Tentu, tidak semua siswa menerima takaran yang sama. Takaran materi pembelajaran tentu bergantung kapasitas siswa, situasi, kondisi, dan tujuan yang akan dicapai. "Anakku, jangan sekali-kali melihat materinya tetapi lihatlah siapa yang akan menerima materi itu", pesannya. Akupun mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
Begitu pula, guru sudah seharusnya hafal dengan takaran materi pembelajaran yang diberikan. "Guru harus tahu seberapa berat materi diberikan untuk siswanya", kata Mbok Siti. Tentu, tidak semua siswa menerima takaran yang sama. Takaran materi pembelajaran tentu bergantung kapasitas siswa, situasi, kondisi, dan tujuan yang akan dicapai. "Anakku, jangan sekali-kali melihat materinya tetapi lihatlah siapa yang akan menerima materi itu", pesannya. Akupun mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
Jumat, 10 Juli 2009
Peran Guru dalam Melejitkan Minat Baca Siswa
Oleh Suyatno
Sampai saat ini, membaca masih belum menjadi budaya kuat di kalangan manusia INdonesia. Meskipun, pertumbuhan penerbitan buku mengalami kemajuan pesat yang ditandai oleh banyaknya penerbitan yang berada jauh dari kota Jakarta. Budaya membaca masih sebatas untuk kalangan pembelajar di sekolah dan bangku kuliah. Budaya membaca itu mungkin saat ini mulai dikalahkan oleh budaya internetan dan sms.
KOndisi memprihatinkan itu tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja bagi semua pihak, khususnya guru. Guru mempunyai peran sentral dalam memberikan motivasi kepada siswanya untuk gemar membaca sepanjang hidupnya. Di samping itu, orang tua juga harus memberikan motivasi kuat kepada anaknya untuk membaca.
Guru sebagai anutan siswa yang tiap hari bertemu meskipun hanya 5-6 jam sehari diharapkan mampu memberikan keteladanan membaca bagi siswa. Guru mengajak siswa untuk membaca dari buku yang ringan ke buku yang rumit. Membaca yang baik dengan kecepatan menyerap informasi juga perlu diajarkan dan dibiasakan di kalangan siswa.
Prinsip pendidikan berupa dari sederhana ke kompleks, dari dekat ke yang jauh, dari mudah ke yang sulit, dari konkret ke yang abstrak perlu diterapkan dalam pembiasaan membaca. Biarkan siswa membaca sesuai dengan seleranya. Namun, lambat laun harus digeser ke membaca sesuai dengan fokus dan topik yang ditentukan dengan target waktu tertentu.
Sampai saat ini, membaca masih belum menjadi budaya kuat di kalangan manusia INdonesia. Meskipun, pertumbuhan penerbitan buku mengalami kemajuan pesat yang ditandai oleh banyaknya penerbitan yang berada jauh dari kota Jakarta. Budaya membaca masih sebatas untuk kalangan pembelajar di sekolah dan bangku kuliah. Budaya membaca itu mungkin saat ini mulai dikalahkan oleh budaya internetan dan sms.
KOndisi memprihatinkan itu tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja bagi semua pihak, khususnya guru. Guru mempunyai peran sentral dalam memberikan motivasi kepada siswanya untuk gemar membaca sepanjang hidupnya. Di samping itu, orang tua juga harus memberikan motivasi kuat kepada anaknya untuk membaca.
Guru sebagai anutan siswa yang tiap hari bertemu meskipun hanya 5-6 jam sehari diharapkan mampu memberikan keteladanan membaca bagi siswa. Guru mengajak siswa untuk membaca dari buku yang ringan ke buku yang rumit. Membaca yang baik dengan kecepatan menyerap informasi juga perlu diajarkan dan dibiasakan di kalangan siswa.
Prinsip pendidikan berupa dari sederhana ke kompleks, dari dekat ke yang jauh, dari mudah ke yang sulit, dari konkret ke yang abstrak perlu diterapkan dalam pembiasaan membaca. Biarkan siswa membaca sesuai dengan seleranya. Namun, lambat laun harus digeser ke membaca sesuai dengan fokus dan topik yang ditentukan dengan target waktu tertentu.
Guru di Mata Mbok Siti (56)
Air sumur di rumah Mbok Siti sangat jernih bagaikan awan tanpa mendung sedikit pun. Aku sempatkan cuci muka dan berkumur dengan lama di sumur belakang rumah. "Benar-benar sejuk dan menyegarkan jika dibandingkan air PAM di kota", gumamku. Kesegaran itu masih aku rasakan ketika aku sudah berada di teras rumah Mbok Siti.
"Air sumurnya sangat segar Mbok", tanyaku sambil mengusap bekas cuci muka di wajahku. "Iya, anakku. Sepanjang hidup, dari turun-temurun, sumur itu dapat menghidupi keluarga kami sampai kini", jelas Mbok yang penuh senyum itu. Air itu dapat segar dan sejuk karena berada di sumur yang alamiah dengan menampung sumber air di sekitarnya. Apalagi kanan kiri sumur itu terdapat tetumbuhan yang bertugas menahan laju air agar tetap di sumur itu.
Begitu pula, seorang guru, dia harus dapat secara alamiah memberikan kesegaran dan kesejukan bagi siswanya. "Guru adalah sumur yang mampu menampung air secara terus-menerus dan memberikan manfaat air itu bagi kehidupan secara menyegarkan dan menyejukkan", kata Mbok Siti. Guru bukanlah air yang dikatakan segar setelah diberi ramuan obat penjernih.
"Air sumurnya sangat segar Mbok", tanyaku sambil mengusap bekas cuci muka di wajahku. "Iya, anakku. Sepanjang hidup, dari turun-temurun, sumur itu dapat menghidupi keluarga kami sampai kini", jelas Mbok yang penuh senyum itu. Air itu dapat segar dan sejuk karena berada di sumur yang alamiah dengan menampung sumber air di sekitarnya. Apalagi kanan kiri sumur itu terdapat tetumbuhan yang bertugas menahan laju air agar tetap di sumur itu.
Begitu pula, seorang guru, dia harus dapat secara alamiah memberikan kesegaran dan kesejukan bagi siswanya. "Guru adalah sumur yang mampu menampung air secara terus-menerus dan memberikan manfaat air itu bagi kehidupan secara menyegarkan dan menyejukkan", kata Mbok Siti. Guru bukanlah air yang dikatakan segar setelah diberi ramuan obat penjernih.
Sekolah Alam Mulai Menggeliat
Saat ini, sekolah alam mulai menggeliat setelah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sekolah alam yang menawarkan pendidikan yang ramah lingkungan dan menghargai potensi individu berkembang pesat serta diminati masyarakat. Di sekolah alam pendidikan tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik anak.
Sejumlah pimpinan sekolah alam, Rabu (8/7), mengatakan, orangtua yang sadar mengenai pendidikan yang bisa memberi keleluasaan untuk bereksplorasi serta pengembangan minat dan bakat anak mulai memilih sekolah alam. Citra sekolah alam, yang tadinya dianggap sekolah ”aneh” karena ruangan kelasnya hanya saung-saung, kini mulai berubah. ”Kepedulian orangtua dan masyarakat soal alam belakangan ini semakin tumbuh. Awalnya banyak keraguan dari orangtua karena pendidikan yang ditawarkan tidak seperti sekolah umum,” kata Principal Sekolah Alam Bogor Agus Gusnul Yakin.
Ketika dibuka tahun 2002, sekolah ini hanya memiliki 27 siswa. Sekarang jumlahnya mencapai 350 siswa. Bahkan, tahun depan akan dibuka level SMP. Meskipun mulai diminati orangtua, setiap kelas hanya diisi 24 siswa dengan dua guru. Kondisi itu bertujuan untuk bisa memberikan layanan pendidikan yang lebih bisa mengembangkan potensi individu anak. ”Kami yakin, sekolah alam bisa jadi mainstream dalam pengembangan sekolah Indonesia ke depan,” kata Agus.
Laila Sari, Kepala Sekolah Alam Medan Raya, di Deli Serdang, Sumatera Utara, mengatakan, awalnya sekolah ini hanya untuk anak-anak tidak mampu yang disponsori sebuah lembaga amil zakat. Namun, kehadiran sekolah itu mulai menarik minat orangtua dari kalangan yang mampu secara ekonomi. ”Pembelajaran tetap mengacu pada kurikulum nasional. Namun, guru memperkayanya dengan sumber-sumber lain dengan metode pembelajaran yang menyenangkan. Belajar anak-anak itu istilahnya ’mendarah daging’ karena mereka selalu diajak mengalaminya secara nyata di alam,” kata Laila.
Ketika sekolah alam itu membuka paket Holiday In Action untuk anak-anak umum selama liburan, ternyata minat masyarakat cukup tinggi. Akhirnya, program itu dibuka setiap bulan supaya siswa umum bisa merasakan pembelajaran ala sekolah alam Medan Raya. Loula Maretta dari Green Education mengatakan bahwa pengembangan sekolah-sekolah, terutama milik pemerintah, lebih banyak pada hal-hal fisik. Pengembangan Sekolah Standar Nasional atau Sekolah Bertaraf Internasional, misalnya, lebih direpotkan pada tersedianya bangunan-bangunan fisik daripada mutu guru dan proses belajar yang menyenangkan. ”Orangtua sekarang banyak yang merindukan pendidikan alternatif yang tidak hanya fokus ke akademik. Pendidikan memang mestinya mengembangkan multi-intelegensia tiap anak,” ujarnya (Sumber: Kompas.com)
Sejumlah pimpinan sekolah alam, Rabu (8/7), mengatakan, orangtua yang sadar mengenai pendidikan yang bisa memberi keleluasaan untuk bereksplorasi serta pengembangan minat dan bakat anak mulai memilih sekolah alam. Citra sekolah alam, yang tadinya dianggap sekolah ”aneh” karena ruangan kelasnya hanya saung-saung, kini mulai berubah. ”Kepedulian orangtua dan masyarakat soal alam belakangan ini semakin tumbuh. Awalnya banyak keraguan dari orangtua karena pendidikan yang ditawarkan tidak seperti sekolah umum,” kata Principal Sekolah Alam Bogor Agus Gusnul Yakin.
Ketika dibuka tahun 2002, sekolah ini hanya memiliki 27 siswa. Sekarang jumlahnya mencapai 350 siswa. Bahkan, tahun depan akan dibuka level SMP. Meskipun mulai diminati orangtua, setiap kelas hanya diisi 24 siswa dengan dua guru. Kondisi itu bertujuan untuk bisa memberikan layanan pendidikan yang lebih bisa mengembangkan potensi individu anak. ”Kami yakin, sekolah alam bisa jadi mainstream dalam pengembangan sekolah Indonesia ke depan,” kata Agus.
Laila Sari, Kepala Sekolah Alam Medan Raya, di Deli Serdang, Sumatera Utara, mengatakan, awalnya sekolah ini hanya untuk anak-anak tidak mampu yang disponsori sebuah lembaga amil zakat. Namun, kehadiran sekolah itu mulai menarik minat orangtua dari kalangan yang mampu secara ekonomi. ”Pembelajaran tetap mengacu pada kurikulum nasional. Namun, guru memperkayanya dengan sumber-sumber lain dengan metode pembelajaran yang menyenangkan. Belajar anak-anak itu istilahnya ’mendarah daging’ karena mereka selalu diajak mengalaminya secara nyata di alam,” kata Laila.
Ketika sekolah alam itu membuka paket Holiday In Action untuk anak-anak umum selama liburan, ternyata minat masyarakat cukup tinggi. Akhirnya, program itu dibuka setiap bulan supaya siswa umum bisa merasakan pembelajaran ala sekolah alam Medan Raya. Loula Maretta dari Green Education mengatakan bahwa pengembangan sekolah-sekolah, terutama milik pemerintah, lebih banyak pada hal-hal fisik. Pengembangan Sekolah Standar Nasional atau Sekolah Bertaraf Internasional, misalnya, lebih direpotkan pada tersedianya bangunan-bangunan fisik daripada mutu guru dan proses belajar yang menyenangkan. ”Orangtua sekarang banyak yang merindukan pendidikan alternatif yang tidak hanya fokus ke akademik. Pendidikan memang mestinya mengembangkan multi-intelegensia tiap anak,” ujarnya (Sumber: Kompas.com)
Rabu, 08 Juli 2009
Daoed Joesoef: Jalankan Pendidikan Bukan Persekolahan
Seperti diberitakan kompas.com, mantan mendiknas, Daoed Joesoef mengatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia semakin lama semakin terasa menjauh dari tujuan yang dikehendaki oleh founding fathers seperti yang tercantum dalam UUD 1945.
Hal tersebut ditegaskan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef dalam diskusi 'Mencari Profil Ideal Menteri Pendidikan Nasional' di Jakarta, Selasa (7/7). Hal tersebut terjadi, menurut Daoed, disebabkan oleh konsep pendidikan (education) yang diidentikkan dengan persekolahan (schooling).
"Padahal keduanya memiliki pemahaman yang jauh berbeda, pendidikan merupakan proses pembelajaran di sekolah yang membiasakan anak didik menggali dan memahami nilai-nilai yang dapat berguna bagi dirinya dan masyarakat," ujar Daoed. Daoed melanjutkan, sedangkan persekolahan merupakan pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada penguasaan materi yang diajarkan. Penguasaan materi itu nantinya diketahui lewat ujian dengan rentang waktu tertentu dengan penghargaan berupa ijazah dan gelar.
"Materi yang sudah dikuasai dianggap sebagai pengetahuan yang dapat memberikan kekuatan, karena itu anak-anak sejak jenjang sekolah paling bawah sudah diberikan berbagai macam pengetahuan di luar kapasitas mereka sebagai anak-anak yang masih butuh bermain," tambah Daoed. Selain itu, penyetaraan dalam pembelajaran yang diberlakukan pada semua anak didik dengan hasil ujian yang berbeda-beda juga membuat kebebasan anak diabaikan. Hasilnya, ujar Daoed, semua anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang sama di sekolah dengan konsekuensi mutu pembelajaran turun untuk mengejar kesetaraan.
"Sementara dalam pendidikan yang seharusnya diberlakukan ada tiga jenjang yaitu informasi, pengetahuan, serta kearifan," tandasnya. Menurut Daoed, informasi sebagai nilai diajarkan pada jenjang Sekolah Dasar. Pengetahuan, yang juga sebagai nilai, diajarkan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. "Sedangkan kearifan diajarkan pada jenjang kuliah baik itu program sarjana, master, maupun doktor. Orang berpengetahuan dan punya gelar belum tentu memiliki kearifan," ujarnya.
Pada saat, lanjut Daoed, ketika arus informasi semakin cepat, anak-anak menerima begitu banyak informasi yang bukan merupakan pengetahuan. Seharusnya, dari berbagai informasi itu dipilah-pilih yang masuk ke dalam pengetahuan dan tidak. Hakikatnya, kata Daoed, pengetahuan berkaitan dengan sistem, tatanan, dan persepsi mengenai sebab-akibat. Dari pengetahuan itulah, dipilih lagi pengetahuan yang arif dan yang tidak untuk diaplikasikan dalam kehidupan. "Jadi sebaiknya yang dijalankan dalam pendidikan di Indonesia adalah pendidikan bukan persekolahan," ujar Daoed. (sumber: Kompas.com, 7 Juli 2009/M1-09)
Hal tersebut ditegaskan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef dalam diskusi 'Mencari Profil Ideal Menteri Pendidikan Nasional' di Jakarta, Selasa (7/7). Hal tersebut terjadi, menurut Daoed, disebabkan oleh konsep pendidikan (education) yang diidentikkan dengan persekolahan (schooling).
"Padahal keduanya memiliki pemahaman yang jauh berbeda, pendidikan merupakan proses pembelajaran di sekolah yang membiasakan anak didik menggali dan memahami nilai-nilai yang dapat berguna bagi dirinya dan masyarakat," ujar Daoed. Daoed melanjutkan, sedangkan persekolahan merupakan pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada penguasaan materi yang diajarkan. Penguasaan materi itu nantinya diketahui lewat ujian dengan rentang waktu tertentu dengan penghargaan berupa ijazah dan gelar.
"Materi yang sudah dikuasai dianggap sebagai pengetahuan yang dapat memberikan kekuatan, karena itu anak-anak sejak jenjang sekolah paling bawah sudah diberikan berbagai macam pengetahuan di luar kapasitas mereka sebagai anak-anak yang masih butuh bermain," tambah Daoed. Selain itu, penyetaraan dalam pembelajaran yang diberlakukan pada semua anak didik dengan hasil ujian yang berbeda-beda juga membuat kebebasan anak diabaikan. Hasilnya, ujar Daoed, semua anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang sama di sekolah dengan konsekuensi mutu pembelajaran turun untuk mengejar kesetaraan.
"Sementara dalam pendidikan yang seharusnya diberlakukan ada tiga jenjang yaitu informasi, pengetahuan, serta kearifan," tandasnya. Menurut Daoed, informasi sebagai nilai diajarkan pada jenjang Sekolah Dasar. Pengetahuan, yang juga sebagai nilai, diajarkan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. "Sedangkan kearifan diajarkan pada jenjang kuliah baik itu program sarjana, master, maupun doktor. Orang berpengetahuan dan punya gelar belum tentu memiliki kearifan," ujarnya.
Pada saat, lanjut Daoed, ketika arus informasi semakin cepat, anak-anak menerima begitu banyak informasi yang bukan merupakan pengetahuan. Seharusnya, dari berbagai informasi itu dipilah-pilih yang masuk ke dalam pengetahuan dan tidak. Hakikatnya, kata Daoed, pengetahuan berkaitan dengan sistem, tatanan, dan persepsi mengenai sebab-akibat. Dari pengetahuan itulah, dipilih lagi pengetahuan yang arif dan yang tidak untuk diaplikasikan dalam kehidupan. "Jadi sebaiknya yang dijalankan dalam pendidikan di Indonesia adalah pendidikan bukan persekolahan," ujar Daoed. (sumber: Kompas.com, 7 Juli 2009/M1-09)
Selasa, 07 Juli 2009
Kalau Berbisik dengan Siswa, di Telinga Sebelah Mana?
Sering, guru berbisik kepada siswa untuk menyampaikan informasi penting atau sekadar menunjukkan perhatian saat di kelas atau di tempat lain. Kalau berbisik dengan siswa, sebaiknya telinga sebelah mana yang dibisiki? Liputan6. com melaporkan bahwa sekalipun tidak terlalu signifikan, berbisik di telinga kanan tidak hanya lebih disukai, ternyata lebih tepat. Doktor Luca Tommasi dan Daniele Marzoli dari Universitas Gabriele d`Annunzio, Chieti e Pescara, Italia, mengungkapkan rahasianya.
Rupanya ini terkait dengan Hemispheric asymmetry di dalam otak manusia yang ternyata sangat didominasi telinga kanan. Telinga kanan diyakini tersambung dengan otak kiri yang mengatur proses informasi verbal. Tommasi dan Marzoli serta timnya mengadakan serangkaian penelitian. Penelitian pertama mengamati perilaku para pengunjung klub dalam ruangan yang berisik. Sebanyak 286 pengunjung diamati, telinga mana yang mereka gunakan saat berbicara dengan rekan mereka. Hasilnya 72 orang melakukannya dengan telinga kanan.
Pada penelitian kedua, para peneliti mendekati sejumlah pengunjung klub malam. Kemudian dengan sengaja meminta rokok yang mereka miliki saat para pengunjung kurang mendengar. Ternyata, sebanyak 58 persen pengunjung menggunakan telinga kanan untuk meminta penegasan, sisanya menggunakan telinga kiri.
Penelitian ketiga, peneliti dengan sengaja meminta rokok dari para pengunjung klub di kedua telinga. Hasilnya, mereka yang dibisiki di telinga kanan memberikan lebih banyak rokok daripada mereka yang dibisiki di telinga kiri.
Dari hasil ini menandakan adanya keuntungan komunikasi dan kekhususan dari dua belahan otak dalam merespons sesuatu saat telinga mendapat bisikan. Jadi, agar bisikan Anda tepat ditanggapi, berbisiklah di telinga kanan.(ANS/ScienceDaily)
Rupanya ini terkait dengan Hemispheric asymmetry di dalam otak manusia yang ternyata sangat didominasi telinga kanan. Telinga kanan diyakini tersambung dengan otak kiri yang mengatur proses informasi verbal. Tommasi dan Marzoli serta timnya mengadakan serangkaian penelitian. Penelitian pertama mengamati perilaku para pengunjung klub dalam ruangan yang berisik. Sebanyak 286 pengunjung diamati, telinga mana yang mereka gunakan saat berbicara dengan rekan mereka. Hasilnya 72 orang melakukannya dengan telinga kanan.
Pada penelitian kedua, para peneliti mendekati sejumlah pengunjung klub malam. Kemudian dengan sengaja meminta rokok yang mereka miliki saat para pengunjung kurang mendengar. Ternyata, sebanyak 58 persen pengunjung menggunakan telinga kanan untuk meminta penegasan, sisanya menggunakan telinga kiri.
Penelitian ketiga, peneliti dengan sengaja meminta rokok dari para pengunjung klub di kedua telinga. Hasilnya, mereka yang dibisiki di telinga kanan memberikan lebih banyak rokok daripada mereka yang dibisiki di telinga kiri.
Dari hasil ini menandakan adanya keuntungan komunikasi dan kekhususan dari dua belahan otak dalam merespons sesuatu saat telinga mendapat bisikan. Jadi, agar bisikan Anda tepat ditanggapi, berbisiklah di telinga kanan.(ANS/ScienceDaily)
Guru di Mata Mbok Siti (55)
Ketika tiba-tiba kambing di belakang rumah mengembik bersahut-sahutan, secara cepat, Mbok Siti ke belakang rumah untuk mengambil cadangan rumput yang disimpannya di kiri kandang. Padahal, waktu itu, kami sedang asyik ngobrol tentang air dan timba yang ada di sumur. Akupun, sejurus kemudian, turut mengikuti Mbok ke arah kandang. "Ada apa Mbok?", tanyaku. "Oh, anakku, enggak ada apa-apa. Hanya, kambing ini memberikan tanda kalau lapar dengan cara mengembik", katanya. Tiap makhluk mempunyai tanda sendiri-sendiri dalam menjalani hidupnya, terutama untuk tanda lapar. "Kita harus mengenalinya dengan kuat, anakku", jelas Mbok yang suka baju hitam itu.
Begitu pula, dalam pendidikan, guru harus sangat paham dengan tanda-tanda yang dimunculkan oleh siswa. "Tiap siswa selalu mempunyai tanda yang berbeda-beda ketika menyatakan keinginannya", jelas Mbok. Keinginan itu berupa keinginan belajar, jenuh, gembira, dan seterusnya. Guru yang baik adalah guru yang kenal dengan tanda-tanda yang dimunculkan siswanya.
Begitu pula, dalam pendidikan, guru harus sangat paham dengan tanda-tanda yang dimunculkan oleh siswa. "Tiap siswa selalu mempunyai tanda yang berbeda-beda ketika menyatakan keinginannya", jelas Mbok. Keinginan itu berupa keinginan belajar, jenuh, gembira, dan seterusnya. Guru yang baik adalah guru yang kenal dengan tanda-tanda yang dimunculkan siswanya.
Sabtu, 04 Juli 2009
Siswa SMKN 7 Samarinda Produksi Laptop Sendiri
SAMARINDA, KOMPAS.com — Pihak DPRD Kalimantan Timur menyatakan salut atas kemampuan pelajar SMKN (Sekolah Menengah Kejuruan Negeri) 7 Samarinda yang mampu memproduksi (merakit) laptop secara massal, serta mengharapkan agar keahlian mereka terus dikembangkan.
"Kami bangga atas prestasi ini. Tidak semua sekolah kejuruan bahkan sekolah yang sama di daerah lain memiliki kemampuan seperti itu. Jadi, kami berharap agar SMKN 7 mendapat dukungan semua pihak sehingga keahlian mereka dapat terus ditingkatkan dan dikembangkan," kata anggota DPRD Kaltim, Entjik Widyani, di Samarinda, Sabtu (4/7). Kemampuan itu, katanya, menambah bukti bahwa mutu pendidikan di Kaltim tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia.
"Namun, sebaiknya kita tidak merasa berpuas diri, semua pihak harus mendukung penuh agar kemampuan dan keterampilan SMKN 7 ini terus ditingkatkan dan dikembangkan sehingga nanti bukan hanya sekadar memproduksi laptop, melainkan juga berbagai alat elektronik lainnya," imbuh dia.
Pihak DPRD Kaltim berjanji akan mendukung penuh berbagai program untuk meningkatkan mutu pendidikan, termasuk kepada SMKN 7 tersebut. "Secara umum, DPRD Kaltim sudah sepakat melaksanakan UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni mengalokasikan 20 persen dari total APBD untuk sektor pendidikan," kata dia. DPRD Kaltim juga mendukung penuh program Kaltim yang melaksanakan Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun atau di atas program nasional, yakni Wajar Sembilan Tahun. Mengenai kemampuan SMKN 7 itu, ia menilai harus dimanfaatkan pihak-pihak terkait, misalnya program untuk memberikan laptop gratis yang tahap awal hanya kepada 20 persen dari total guru di Kaltim mencapai 58.829 orang.
Pengajuan dana untuk bantuan laptop cuma-cuma kepada sejumlah guru di Kaltim itu telah masuk dalam APBD Perubahan 2009 Kaltim. "Kita baru mendapat informasi bahwa baru Pemkot Kota Samarinda yang telah mengajukan permintaan 2.000 laptop buatan SMKN 7 untuk mendukung program pembagian laptop gratis itu," katanya. Ia mengharapkan agar daerah lain juga mengikuti hal yang sama, tujuannya untuk memberdayakan kemampuan SMKN 7 dalam memproduksi laptop secara massal itu. "Selain itu, harga alat elektronik produksi SMKN 7 ini jelas lebih murah, tetapi kualitas cukup bagus sehingga bisa menekan dana APBD dalam menjalankan program pembagian laptop gratis ini," katanya.
Kepala SMKN 7 Samarinda Edih Rahmanuddin mengatakan bahwa pihaknya sudah mendapat kewenangan untuk memproduksi laptop secara massal. SMKN 7 memiliki tiga jurusan kompetensi, yakni multimedia, rekayasa peranti lunak, serta teknik komputer dan jaringan. Jumlah semua siswa SMK saat ini ada 803 anak, 45 persen di antaranya sanggup merakit laptop. "Jadi, atas kemampuan para siswa itu, maka kami tidak khawatir apabila ada permintaan secara massal karena satu siswa mampu merakit laptop hanya beberapa jam," ujar Edih. Sumber : Antara
"Kami bangga atas prestasi ini. Tidak semua sekolah kejuruan bahkan sekolah yang sama di daerah lain memiliki kemampuan seperti itu. Jadi, kami berharap agar SMKN 7 mendapat dukungan semua pihak sehingga keahlian mereka dapat terus ditingkatkan dan dikembangkan," kata anggota DPRD Kaltim, Entjik Widyani, di Samarinda, Sabtu (4/7). Kemampuan itu, katanya, menambah bukti bahwa mutu pendidikan di Kaltim tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia.
"Namun, sebaiknya kita tidak merasa berpuas diri, semua pihak harus mendukung penuh agar kemampuan dan keterampilan SMKN 7 ini terus ditingkatkan dan dikembangkan sehingga nanti bukan hanya sekadar memproduksi laptop, melainkan juga berbagai alat elektronik lainnya," imbuh dia.
Pihak DPRD Kaltim berjanji akan mendukung penuh berbagai program untuk meningkatkan mutu pendidikan, termasuk kepada SMKN 7 tersebut. "Secara umum, DPRD Kaltim sudah sepakat melaksanakan UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni mengalokasikan 20 persen dari total APBD untuk sektor pendidikan," kata dia. DPRD Kaltim juga mendukung penuh program Kaltim yang melaksanakan Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun atau di atas program nasional, yakni Wajar Sembilan Tahun. Mengenai kemampuan SMKN 7 itu, ia menilai harus dimanfaatkan pihak-pihak terkait, misalnya program untuk memberikan laptop gratis yang tahap awal hanya kepada 20 persen dari total guru di Kaltim mencapai 58.829 orang.
Pengajuan dana untuk bantuan laptop cuma-cuma kepada sejumlah guru di Kaltim itu telah masuk dalam APBD Perubahan 2009 Kaltim. "Kita baru mendapat informasi bahwa baru Pemkot Kota Samarinda yang telah mengajukan permintaan 2.000 laptop buatan SMKN 7 untuk mendukung program pembagian laptop gratis itu," katanya. Ia mengharapkan agar daerah lain juga mengikuti hal yang sama, tujuannya untuk memberdayakan kemampuan SMKN 7 dalam memproduksi laptop secara massal itu. "Selain itu, harga alat elektronik produksi SMKN 7 ini jelas lebih murah, tetapi kualitas cukup bagus sehingga bisa menekan dana APBD dalam menjalankan program pembagian laptop gratis ini," katanya.
Kepala SMKN 7 Samarinda Edih Rahmanuddin mengatakan bahwa pihaknya sudah mendapat kewenangan untuk memproduksi laptop secara massal. SMKN 7 memiliki tiga jurusan kompetensi, yakni multimedia, rekayasa peranti lunak, serta teknik komputer dan jaringan. Jumlah semua siswa SMK saat ini ada 803 anak, 45 persen di antaranya sanggup merakit laptop. "Jadi, atas kemampuan para siswa itu, maka kami tidak khawatir apabila ada permintaan secara massal karena satu siswa mampu merakit laptop hanya beberapa jam," ujar Edih. Sumber : Antara
Langganan:
Postingan (Atom)