Oleh Suyatno
Ketika guru mengajar, kadangkala ada siswa yang berontak, menolak, dan lari dari kelas. Bakhan, siswa di luar sekolah, mencegat gurunya untuk berbuat kejahatan. Bahkan, guru dipermalukan di segala tempat. Umumnya, siswa berontak bukan karena sekadar iseng. Ada beberapa alasan yang membuat siswa memutuskan untuk melakukan hal itu. Berikut alasannya.
1. Balas dendam
Kalau Anda mengkhianati perhatian siswa, siswa juga bisa melakukannya, bahkan lebih hebat dari guru. Kalaupun sampai ketahuan oleh guru, mungkin memang siswa sengaja. Masing-masing siswa memang mempunyai cara balas dendam sendiri dalam menghadapi. Siswa dapat melakukan balas dendam dengan sembunyi-sembunyi di belakang guru, dapat juga siswa sengaja “memamerkannya” dengan cara mengobrol terus tanpa henti, cuek, cemberut, dan melakukan perbuatan melawan guru.
2. Urutan kesekian
Setiap siswa ingin selalu menjadi nomor satu dalam hidup diri guru. Bukan nomor dua, apalagi nomor-nomor berikutnya. Jika siswa merasakan bahwa dirinya menjadi nomor dua dibandingkan siswa lain, siswa itu akan berontak dengan caranya sendiri. Jadikanlah semua siswa nomor satu dalam diri guru.
3. Kekerasan
Kini, banyak siswa yang semakin sadar tentang pentingnya penghargaan atas dirinya sendiri, salah satunya dengan bersikap tegas ketika guru melakukan tindak kekerasan (umumnya secara fisik) kepadanya. Mungkin awalnya siswa akan mencoba bertahan, tapi bila guru kembali mengulangi tindakan itu, siswa akan meninggalkan guru. Mereka yakin, masih banyak guru lain yang bisa menghargainya jauh lebih baik daripada guru yang penuh kekerasan.
4. Hambar
Siswa menyukai hal-hal detail, misal dipuji karena rambutnya, bajunya, senyumnya, hari ulang tahunnya, atau hal-hal istimewa lainnya. Hati-hati bila guru menganggap semua ini sebagai hal remeh, apalagi bila selama ini siswa selalu perhatian terhadap guru. Bila guru tidak pernah menghargai apa yang sudah dilakukan siswa untuk guru dan mengabaikan hal-hal yang dianggapnya penting, bersiaplah menghadapi pemberontakan hebat dari siswa.
5. Tidak Sesuai Kenyataan
Siswa akan berontak ketika nilai pelajaran yang diperolehnya tidak sesuai antara yang tertulis diraport dan kenyataan sehari-hari di kelas. Apalagi, siswa mengetahui bahwa temannya yang dianggap lebih kurang pintar di kelas malah mendapatkan nilai baik di raport.
6. Berawal dari Julukan
Siswa akan berontak jika terus-menerus dijuluki sesuatu yang tidak cocok dengan hatinya, misal, guru memanggil siswa dengan "Si Kribo, Si Hitam, Si Gendut". Siswa lebih senang dipanggil dengan namanya dan panggilan yang bersifat positif.
7. Digunjingkan dengan Orang Lain
Pemberontakan siswa akan terjadi jika guru menggunjingkan siswa kepada siswa lain atau guru lain tentang sesuatu yang buruk. Siswa akan marah saat mendengar bahwa guru berbicara atas namanya berkaitan dengan ketidakmampuan, keboborokkan, dan kejelekkan dirinya.
8. Dipermalukan di Depan Kelas
Maksud guru agar siswa lain juga tidak berbuat negatif seperti yang sedang disetrap atau dimarahi, namun bagi siswa, perbuatan guru itu terasa menyayat hati. Suatu saat siswa akan menarik diri dari ikatan wibawa guru dan dapat berubah menjadi pemberontakan.
Rabu, 17 Desember 2008
Wibawa Guru Bukan dari Guru Jahat
Oleh Suyatno
Suatu saat, ada guru yang mengatakan bahwa wibawa guru akan turun jika guru akrab dengan siswa. Menurutnya, guru harus jaga jarak untuk membangun citra kewibawaan. Sesekali, guru menghardik, menjewer, atau menghukum agar siswa memberikan perhatian tinggi pada guru yang bersangkutan. Itulah resep guru berwibawa, menurutnya.
Fakta itu tampaknya menyeruak di segala sekolah sehingga memberikan kesan bahwa guru adalah sosok yang harus dihormati penuh oleh siswa, guru segalanya, dan gurulah orang yang harus disegani siswanya. Fakta itu memberikan kesan bahwa siswa sebagai objek dan guru sebagai subjek ditambah lagi guru mempunyai otoritas penuh terhadap skor perolehan siswa.
Dari sisi siswa, guru yang demikian itu biasanya disebut sebagai guru jahat, menakutkan, dan membuat merinding bulu roma saat bertemu dengannya. Tiap guru jahat muncul, semua mulut siswa terkunci dan terdiam bukian karena menunggu informasi menyenangkan tetapi menunggu agar guru tersebut cepat pergi.
Padahal, wibawa guru bukan bersumber dari guru jahat melainkan dari guru yang dekat dan setara dengan kejiwaan siswa. Rasa hormat siswa dibangun dari ketulusan hati siswa karena sesuatu yang diperlukan siswa dapat tersedia dari guru tersebut. Guru wibawa dapat dipastikan murah senyum, ramah, dan paham akan kejiwaan siswanya. Guru tersebut tahu dan mengerti kapan saat berkelakar dengan siswa, bergaul, dan berproses belajar dengan siswa.
Berikut ini tips menjadi guru berwibawa. Pertama, saat menyampaikan pelajaran, guru tersebut dapat memodifikasi materi pembelajaran sesuai dengan kerangka berpikir siswa sehingga mudah diserap. Kedua, bahasa yang digunakan guru sesuai dengan bahasa yang dimiliki siswa sehingga sangat komunikatif. Ketiga, perkembangan psikologis siswa sangat diketahui oleh guru sehingga segala layanan guru sesuai dengan kondisi siswa. Keempat, senyum selalu diberikan kepada siswanya. Kelima, hardikan, ancaman, dan hukuman tidak diberikan dengan cara kasar tetapi dengan bahasa yang dapat menyentuh siswa untuk berubah. Keenam, segala perlakuan guru saat di kelas selalu berdasarkan perencanaan yang matang.
Guru wibawa bukan berasal dari tipikal guru jahat tetapi berasal dari guru yang berhati mulia karena tugasnya semata untuk membangun siswa sesuai dengan jatidirinya. Kewibawaan akan datang dengan sendirinya dari perbuatan guru yang memang benar-benar seorang guru. Ingatlah, siswa itu manusia yang juga mempunyai hati dan perasaan yang kelak akan menggantikan kita. Bagaimana jadinya, jika sejak kecil sudah diajari dengan kejahatan yang dicontohkan guru secara langsung kepada siswanya.
Suatu saat, ada guru yang mengatakan bahwa wibawa guru akan turun jika guru akrab dengan siswa. Menurutnya, guru harus jaga jarak untuk membangun citra kewibawaan. Sesekali, guru menghardik, menjewer, atau menghukum agar siswa memberikan perhatian tinggi pada guru yang bersangkutan. Itulah resep guru berwibawa, menurutnya.
Fakta itu tampaknya menyeruak di segala sekolah sehingga memberikan kesan bahwa guru adalah sosok yang harus dihormati penuh oleh siswa, guru segalanya, dan gurulah orang yang harus disegani siswanya. Fakta itu memberikan kesan bahwa siswa sebagai objek dan guru sebagai subjek ditambah lagi guru mempunyai otoritas penuh terhadap skor perolehan siswa.
Dari sisi siswa, guru yang demikian itu biasanya disebut sebagai guru jahat, menakutkan, dan membuat merinding bulu roma saat bertemu dengannya. Tiap guru jahat muncul, semua mulut siswa terkunci dan terdiam bukian karena menunggu informasi menyenangkan tetapi menunggu agar guru tersebut cepat pergi.
Padahal, wibawa guru bukan bersumber dari guru jahat melainkan dari guru yang dekat dan setara dengan kejiwaan siswa. Rasa hormat siswa dibangun dari ketulusan hati siswa karena sesuatu yang diperlukan siswa dapat tersedia dari guru tersebut. Guru wibawa dapat dipastikan murah senyum, ramah, dan paham akan kejiwaan siswanya. Guru tersebut tahu dan mengerti kapan saat berkelakar dengan siswa, bergaul, dan berproses belajar dengan siswa.
Berikut ini tips menjadi guru berwibawa. Pertama, saat menyampaikan pelajaran, guru tersebut dapat memodifikasi materi pembelajaran sesuai dengan kerangka berpikir siswa sehingga mudah diserap. Kedua, bahasa yang digunakan guru sesuai dengan bahasa yang dimiliki siswa sehingga sangat komunikatif. Ketiga, perkembangan psikologis siswa sangat diketahui oleh guru sehingga segala layanan guru sesuai dengan kondisi siswa. Keempat, senyum selalu diberikan kepada siswanya. Kelima, hardikan, ancaman, dan hukuman tidak diberikan dengan cara kasar tetapi dengan bahasa yang dapat menyentuh siswa untuk berubah. Keenam, segala perlakuan guru saat di kelas selalu berdasarkan perencanaan yang matang.
Guru wibawa bukan berasal dari tipikal guru jahat tetapi berasal dari guru yang berhati mulia karena tugasnya semata untuk membangun siswa sesuai dengan jatidirinya. Kewibawaan akan datang dengan sendirinya dari perbuatan guru yang memang benar-benar seorang guru. Ingatlah, siswa itu manusia yang juga mempunyai hati dan perasaan yang kelak akan menggantikan kita. Bagaimana jadinya, jika sejak kecil sudah diajari dengan kejahatan yang dicontohkan guru secara langsung kepada siswanya.
Jumat, 12 Desember 2008
Tariklah Perhatian Siswa ke Inti Pembelajaran dengan Maksimal
Oleh Suyatno
Karena siswa itu beragam asal, latar belakang, kekuatan potensi, minat, dan lainnya, pembelajaran di kelas kadang tidak berjalan dengan mulusnya. Bahkan, ada kelas yang berubah menjadi kacau-balau dan guru tidak dapat mengatasinya. Guru yang tidak dapat mengatasi itu kadang melaporkan ke guru BP atau kepala sekolah, yang hasilnya, kelas itu dimarahi oleh BP atau kepala sekolah. Kasihan siswa yang demikian itu. Gara-gara guru tidak dapat mengatasi kelas karena mempunyai bekal yang tipis dan dangkal, siswa menjadi korban.
Itulah sebabnya, guru saat berkuliah dibekali ilmu psikologi perkembangan, manajemen kelas, strategi pembelajaran, dan ilmu kependidikan yang lainnya. Namun, karena ilmu itu hanya sekadar lewat tanpa berhenti di memori calon guru, ketika menjadi guru, mereka sama dengan orang biasa yang tidak punya bekal apa-apa dalam mengajar. Jadinya, mengajar hanya sekadar memindahkan ilmu pengetahuan dengan syarat siswa harus diam, patuh, dan tidak berulah.
Padahal, siswa itu sosok yang tumbuh dan berkembang dengan alat indra yang berkembang pula. Oleh karena itu, siswa dapat dipastikan akan berkembang dengan banyak tingkah, bersuara riuh, dan eksplorasi diri lainnya. Bukanlah sosok siswa jika dia tidak bertanya ini-itu, bergerak ke sana-ke mari, dan berusaha keras untuk ingin tahu. Untuk itu, cara mengajarnya juga harus mendukung perkembangan fisik, mental, dan kognisi siswa.
Lalu, bagaimanakah cara menarik perhatian siswa agar konsentrasinya terpusat pada inti pembelajaran? Mudah saja caranya. Pertama, gunakan suara. Suara guru harus menjangkau ke seluruh pelosok tembok, lebih keras dari riuh siswa, dan diolah dengan intonasi yang menarik. Biasanya, siswa akan riuh jika suara guru amat pelan, intonasi datar tidak bergairah, dan lembek. Kedua, gunakan mata. Mata guru harus menyorot ke semua siswa baik yang depan maupun belakang. Lirikan guru sangat ampuh untuk menghentikan keriuhan siswa. Ketiga, gunakan gerakan. Gerakan tertentu, seperti bertepuk, lambaian tangan, goyangan kepala, dan goyangan badan akan dapat menghilangkan keriuhan siswa. Siswa akan lebih merasa diperhatikan hanya dengan kinestetis guru yang bertujuan. Keempat, gunakan posisi. Posisi berdiri guru sangat menentukan bagi penguatan daya tarik siswa. Guru berposisi berdiri lebih tinggi, di tengah, di belakang, dan di depan dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi perhatian siswa.
Pada akhirnya, pengalaman mencoba beberapa re4sep di atas akan memberikan keampuhan sendiri. Untuk calon guru, cobalah bersabar untuk terus berlatih dengan segala model. Ingatlah, pengalaman adalah guru yang terbaik.
Karena siswa itu beragam asal, latar belakang, kekuatan potensi, minat, dan lainnya, pembelajaran di kelas kadang tidak berjalan dengan mulusnya. Bahkan, ada kelas yang berubah menjadi kacau-balau dan guru tidak dapat mengatasinya. Guru yang tidak dapat mengatasi itu kadang melaporkan ke guru BP atau kepala sekolah, yang hasilnya, kelas itu dimarahi oleh BP atau kepala sekolah. Kasihan siswa yang demikian itu. Gara-gara guru tidak dapat mengatasi kelas karena mempunyai bekal yang tipis dan dangkal, siswa menjadi korban.
Itulah sebabnya, guru saat berkuliah dibekali ilmu psikologi perkembangan, manajemen kelas, strategi pembelajaran, dan ilmu kependidikan yang lainnya. Namun, karena ilmu itu hanya sekadar lewat tanpa berhenti di memori calon guru, ketika menjadi guru, mereka sama dengan orang biasa yang tidak punya bekal apa-apa dalam mengajar. Jadinya, mengajar hanya sekadar memindahkan ilmu pengetahuan dengan syarat siswa harus diam, patuh, dan tidak berulah.
Padahal, siswa itu sosok yang tumbuh dan berkembang dengan alat indra yang berkembang pula. Oleh karena itu, siswa dapat dipastikan akan berkembang dengan banyak tingkah, bersuara riuh, dan eksplorasi diri lainnya. Bukanlah sosok siswa jika dia tidak bertanya ini-itu, bergerak ke sana-ke mari, dan berusaha keras untuk ingin tahu. Untuk itu, cara mengajarnya juga harus mendukung perkembangan fisik, mental, dan kognisi siswa.
Lalu, bagaimanakah cara menarik perhatian siswa agar konsentrasinya terpusat pada inti pembelajaran? Mudah saja caranya. Pertama, gunakan suara. Suara guru harus menjangkau ke seluruh pelosok tembok, lebih keras dari riuh siswa, dan diolah dengan intonasi yang menarik. Biasanya, siswa akan riuh jika suara guru amat pelan, intonasi datar tidak bergairah, dan lembek. Kedua, gunakan mata. Mata guru harus menyorot ke semua siswa baik yang depan maupun belakang. Lirikan guru sangat ampuh untuk menghentikan keriuhan siswa. Ketiga, gunakan gerakan. Gerakan tertentu, seperti bertepuk, lambaian tangan, goyangan kepala, dan goyangan badan akan dapat menghilangkan keriuhan siswa. Siswa akan lebih merasa diperhatikan hanya dengan kinestetis guru yang bertujuan. Keempat, gunakan posisi. Posisi berdiri guru sangat menentukan bagi penguatan daya tarik siswa. Guru berposisi berdiri lebih tinggi, di tengah, di belakang, dan di depan dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi perhatian siswa.
Pada akhirnya, pengalaman mencoba beberapa re4sep di atas akan memberikan keampuhan sendiri. Untuk calon guru, cobalah bersabar untuk terus berlatih dengan segala model. Ingatlah, pengalaman adalah guru yang terbaik.
Jumat, 28 November 2008
Cara Menghadapi Siswa Celometan atau overspeech
Oleh Suyatno
Di kelas, kadang banyak siswa yang celometan dengan suara keras, menyela tanpa makna, dan melawak saat guru berada di tengah-tengah mereka. Guru yang baik tentunya dapat mengatasi hal itu dengan cara cantik. Namun, guru yang tidak baik, dia akan marah atau terbawa arus sehingga pembelajaran menjadi rusak dan tujuan pembelajaran tidak tercapai.
Siswa celometan atau overspeech merupakan perwujudan dari rasa ingin diperhatikan, dianggap paling jago, dan disegani. Itu merupakan hal yang wajar bagi eksistensi siswa. Hanya saja, kalau berlebihan, pembelajaran akan terganggu. Berikut ini cara untuk menghadapi siswa celometan itu.
1. Abaikan
Saat mengajar, tiba-tiba ada seorang siswa yang celometan mencari perhatian. Kalau yang celometan itu sendirian, guru perlu mengabaikan, jangan dilihat, dan pandangan arahkan ke teman lain yang diam. Biarkan saja. Siswa itu akan menghentikan sendiri celometannya.
2. Tegurlah
Jika celometan terus menerus dan mengganggu konsentrasi kelas, guru perlu menegur siswa tersebut. Teguran itu upayakan didengar oleh teman lainnya sehingga siswa celometan itu merasa malu dengan isi celometannya.
3. Ingatkan
Jika celometan berlangsung agak lama dan dilakukan banyak siswa, guru perlu memberikan peringatan dengan suara lebih keras, tepuk, atau ketuk sambil ucapkan kata "coba perhatikan", dengan agak lantang.
4. Hukumlah
Siswa yang berkali-kali celometan tanpa memperhatikan peringatan atau teguruan perlu diberikan hukuman yang tentunya bersifat mendidik. Umpamanya, siswa itu ditunjuk untuk mengerjakan soal dengan jumlah lebih atau hukuman nonfisik lainnya.
Celometan terjadi di setiap situasi. Apalagi, saat guru tidak siap, tanpa media, dan tanpa perencanaan, celometan akan terjadi lebih serius. Kunci agar siswa tidak celometan adalah (1) kuasailah kelas dengan tampilan dan suara yang baik dan mudah diterima siswa; (2) jangan cepat tertawa dengan lelucon dangkal dari siswa yang hanya bersifat menggoda; (3) aturlah pandangan ke semua siswa tanpa pandang buluh; (4) berjalanlah dengan penyesuain tinggi terhadap perencanaan; dan (5) jangan salah ucap, salah berdiri, dan jangan menggunakan pakaian yang membuat siswa tertawa.
Kondisi di atas sering terjadi pada guru baru yang belum mempunyai aura mengajar dengan baik. Kalau guru lama, dia sudah mempunyai kiat khusus untuk itu. Namun, guru baru hanya menguasai materi tetapi belum kaya dengan cara menampilkan di situasi siswa yang berbeda-beda. Hanya pengalaman mengajarlah yang akan membuat siswa tidak celometan tak terkendali. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Hadapilah siswa celometan dengan tegar dan hati yang sabar.
Di kelas, kadang banyak siswa yang celometan dengan suara keras, menyela tanpa makna, dan melawak saat guru berada di tengah-tengah mereka. Guru yang baik tentunya dapat mengatasi hal itu dengan cara cantik. Namun, guru yang tidak baik, dia akan marah atau terbawa arus sehingga pembelajaran menjadi rusak dan tujuan pembelajaran tidak tercapai.
Siswa celometan atau overspeech merupakan perwujudan dari rasa ingin diperhatikan, dianggap paling jago, dan disegani. Itu merupakan hal yang wajar bagi eksistensi siswa. Hanya saja, kalau berlebihan, pembelajaran akan terganggu. Berikut ini cara untuk menghadapi siswa celometan itu.
1. Abaikan
Saat mengajar, tiba-tiba ada seorang siswa yang celometan mencari perhatian. Kalau yang celometan itu sendirian, guru perlu mengabaikan, jangan dilihat, dan pandangan arahkan ke teman lain yang diam. Biarkan saja. Siswa itu akan menghentikan sendiri celometannya.
2. Tegurlah
Jika celometan terus menerus dan mengganggu konsentrasi kelas, guru perlu menegur siswa tersebut. Teguran itu upayakan didengar oleh teman lainnya sehingga siswa celometan itu merasa malu dengan isi celometannya.
3. Ingatkan
Jika celometan berlangsung agak lama dan dilakukan banyak siswa, guru perlu memberikan peringatan dengan suara lebih keras, tepuk, atau ketuk sambil ucapkan kata "coba perhatikan", dengan agak lantang.
4. Hukumlah
Siswa yang berkali-kali celometan tanpa memperhatikan peringatan atau teguruan perlu diberikan hukuman yang tentunya bersifat mendidik. Umpamanya, siswa itu ditunjuk untuk mengerjakan soal dengan jumlah lebih atau hukuman nonfisik lainnya.
Celometan terjadi di setiap situasi. Apalagi, saat guru tidak siap, tanpa media, dan tanpa perencanaan, celometan akan terjadi lebih serius. Kunci agar siswa tidak celometan adalah (1) kuasailah kelas dengan tampilan dan suara yang baik dan mudah diterima siswa; (2) jangan cepat tertawa dengan lelucon dangkal dari siswa yang hanya bersifat menggoda; (3) aturlah pandangan ke semua siswa tanpa pandang buluh; (4) berjalanlah dengan penyesuain tinggi terhadap perencanaan; dan (5) jangan salah ucap, salah berdiri, dan jangan menggunakan pakaian yang membuat siswa tertawa.
Kondisi di atas sering terjadi pada guru baru yang belum mempunyai aura mengajar dengan baik. Kalau guru lama, dia sudah mempunyai kiat khusus untuk itu. Namun, guru baru hanya menguasai materi tetapi belum kaya dengan cara menampilkan di situasi siswa yang berbeda-beda. Hanya pengalaman mengajarlah yang akan membuat siswa tidak celometan tak terkendali. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Hadapilah siswa celometan dengan tegar dan hati yang sabar.
Senin, 10 November 2008
Guru di Mata Mbok Siti (32)
Tiba-tiba, Mbok Siti mengajakku sejenak ke belakang rumah. Aku turut saja ajakannya. Kami duduk di bawah pohon sawo belakang rumah. Pohon buah berwarna coklat tua dengan rasa manis itu teramat rindang bagi siang yang menyengat itu. Lalu, diambilnya sawo jatuh karena dimakan codot (kelelawar besar). "Buah ini berarti sudah tua dan matang sebab codot itu telah memakannya", ujarnya. Rasanya, kita tiap hari berlomba dengan codot itu untuk menentukan cepat mana antara kita yang memetik atau codot yang merusak itu. Andai saja, kita tidak tahu kalau buah itu layak petik, tentu buah itu pada gilirannya akan dimakan codot.
Tingkat kematangan buah sawo harus dapat kita ketahui dengan cermat. "Dengan begitu, kita dapat dengan tepat memetiknya dan tidak salah dengan buah yang masih muda serta mentah", ujar Mbok Siti. Guru yang paham akan tingkat kematangan siswa, dia akan dengan cepat menakar kekuatan siswa tersebut. Jika guru tidak punya bekal melihat kematangan siswa, dia tidak akan pernah mampu memberikan kemanfaatan bagi siswanya.
Tingkat kematangan buah sawo harus dapat kita ketahui dengan cermat. "Dengan begitu, kita dapat dengan tepat memetiknya dan tidak salah dengan buah yang masih muda serta mentah", ujar Mbok Siti. Guru yang paham akan tingkat kematangan siswa, dia akan dengan cepat menakar kekuatan siswa tersebut. Jika guru tidak punya bekal melihat kematangan siswa, dia tidak akan pernah mampu memberikan kemanfaatan bagi siswanya.
Kesan Pertama Menentukan Prestasi Mengajar
Oleh Suyatno
Pernahkah Anda berkesan di mata siswa sendiri? Apakah kesan itu seterusnya melekat? Apakah Anda ingin memperbaiki kesan pertama yang Anda berikan kepada siswa di kelas? Apakah Anda ingin kemampuan Anda disamakan dengan guru lain? Kesan pertama guru di mata siswanya sangat menentukan. Seringkali, orang menilai kemampuan guru dari kesan pertama yang mereka tangkap. Itu sebabnya, memberikan kesan pertama yang berkesan sangatlah penting dalam pembelajaran.
Banyak siswa yang merasakan tidak ada kesan kepada seorang guru karena guru itu tiap hari selalu sama baik dalam berpakaian, ucapan, maupun kinestetisnya. Parahnya, guru demikian malah beralasan kalau perbuatan statis itu memang karakternya. Sebaiknya, tiap bertemu dengan siswa, guru mengubah intonasi berbicara, gaya berpakaian, dan gaya menyapanya. Dengan begitu, siswa akan merasakan dinamika kesan dalam dirinya.
Bukan rahasia umum lagi, sebagai guru, Anda harus lebih memperhatikan kesan yang Anda berikan kepada siswa karena Anda harus mengubah kesan dengan komentar yang sering kita dengar, "Oh pantesan, guru hebat sih". Bila Anda ingin dipandang orang sebagai seorang guru yang mempunyai rasa percaya diri, mampu, dan tulus, simaklah tips-tips berikut ini.
Memasuki Kelas
Bila Anda berjalan dengan beberapa siswa, cobalah untuk berjalan di depan. Hal ini memperlihatkan kesan yang kuat. Bila Anda sendirian dan masuk ke kelas yang sudah dipenuhi oleh siswa, masuklan melalui pintu depan, berdiri beberapa saat di bagian pinggir dan dengan cepat meneliti ruangan untuk menentukan bagaimana Anda akan duduk atau berdiri.
Mungkin Anda akan melewati sekelompok siswa yang telah Anda kenal, ambil kesempatan ini untuk membicarakan mengenai topik yang sesuai dengan acara pelajaran hari itu. Bila Anda merasa canggung, dekati siswa dan berdiri agak sedikit di luar zona mereka dan tersenyum; tunggu sampai ada jeda pada pembicaraan tersebut lalu ambil kesempatan untuk menguatkan gaya mengajar Anda.
Kekuatan Berbicara
Jadilah guru yang memulai pembicaraan dengan bicara menarik dari isi dan suara agar siswa tertarik dan memberikan kesan pertamanya. Pada saat Anda berbicara, sekali-sekali coba berikan jeda karena memberi kesan Anda menguasai pembicaraan. Tetapi bila Anda berhadapan dengan siswa yang senang menginterupsi, lupakan jeda dan gunakan tangan Anda untuk memintanya menunggu sebentar.
Anggukan dan Kedipan
Kedua gerakan di atas memperlihatkan lemahnya kekuatan. Coba untuk tidak mengerdip terlalu sering karena akan memberikan kesan gelisah. Coba untuk tidak mengangguk terlalu sering karena akan membuat siswa menganggap Anda setuju dengan apa yang diucapkannya atau menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan.
Tersenyum
Siswa selalu mengharap guru lebih banyak tersenyum. Bila Anda kurang banyak tersenyum, Anda akan dianggap tidak ramah. Tentu Anda dapat memberikan senyuman, tapi ingat, jangan memberikan senyuman pada topik pembicaraan yang tidak Anda setujui, atau bila Anda diserang secara lisan. Banyak, lho, guru yang mempunyai kebiasaan tersenyum bila merasa tidak nyaman dan bila pendapat guru diserang.
Pernahkah Anda berkesan di mata siswa sendiri? Apakah kesan itu seterusnya melekat? Apakah Anda ingin memperbaiki kesan pertama yang Anda berikan kepada siswa di kelas? Apakah Anda ingin kemampuan Anda disamakan dengan guru lain? Kesan pertama guru di mata siswanya sangat menentukan. Seringkali, orang menilai kemampuan guru dari kesan pertama yang mereka tangkap. Itu sebabnya, memberikan kesan pertama yang berkesan sangatlah penting dalam pembelajaran.
Banyak siswa yang merasakan tidak ada kesan kepada seorang guru karena guru itu tiap hari selalu sama baik dalam berpakaian, ucapan, maupun kinestetisnya. Parahnya, guru demikian malah beralasan kalau perbuatan statis itu memang karakternya. Sebaiknya, tiap bertemu dengan siswa, guru mengubah intonasi berbicara, gaya berpakaian, dan gaya menyapanya. Dengan begitu, siswa akan merasakan dinamika kesan dalam dirinya.
Bukan rahasia umum lagi, sebagai guru, Anda harus lebih memperhatikan kesan yang Anda berikan kepada siswa karena Anda harus mengubah kesan dengan komentar yang sering kita dengar, "Oh pantesan, guru hebat sih". Bila Anda ingin dipandang orang sebagai seorang guru yang mempunyai rasa percaya diri, mampu, dan tulus, simaklah tips-tips berikut ini.
Memasuki Kelas
Bila Anda berjalan dengan beberapa siswa, cobalah untuk berjalan di depan. Hal ini memperlihatkan kesan yang kuat. Bila Anda sendirian dan masuk ke kelas yang sudah dipenuhi oleh siswa, masuklan melalui pintu depan, berdiri beberapa saat di bagian pinggir dan dengan cepat meneliti ruangan untuk menentukan bagaimana Anda akan duduk atau berdiri.
Mungkin Anda akan melewati sekelompok siswa yang telah Anda kenal, ambil kesempatan ini untuk membicarakan mengenai topik yang sesuai dengan acara pelajaran hari itu. Bila Anda merasa canggung, dekati siswa dan berdiri agak sedikit di luar zona mereka dan tersenyum; tunggu sampai ada jeda pada pembicaraan tersebut lalu ambil kesempatan untuk menguatkan gaya mengajar Anda.
Kekuatan Berbicara
Jadilah guru yang memulai pembicaraan dengan bicara menarik dari isi dan suara agar siswa tertarik dan memberikan kesan pertamanya. Pada saat Anda berbicara, sekali-sekali coba berikan jeda karena memberi kesan Anda menguasai pembicaraan. Tetapi bila Anda berhadapan dengan siswa yang senang menginterupsi, lupakan jeda dan gunakan tangan Anda untuk memintanya menunggu sebentar.
Anggukan dan Kedipan
Kedua gerakan di atas memperlihatkan lemahnya kekuatan. Coba untuk tidak mengerdip terlalu sering karena akan memberikan kesan gelisah. Coba untuk tidak mengangguk terlalu sering karena akan membuat siswa menganggap Anda setuju dengan apa yang diucapkannya atau menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan.
Tersenyum
Siswa selalu mengharap guru lebih banyak tersenyum. Bila Anda kurang banyak tersenyum, Anda akan dianggap tidak ramah. Tentu Anda dapat memberikan senyuman, tapi ingat, jangan memberikan senyuman pada topik pembicaraan yang tidak Anda setujui, atau bila Anda diserang secara lisan. Banyak, lho, guru yang mempunyai kebiasaan tersenyum bila merasa tidak nyaman dan bila pendapat guru diserang.
Sabtu, 08 November 2008
Guru di Mata Mbok Siti (31)
Tangan tua Mbok Siti masih lincah ketika mengupas kentang untuk acara selamatan malam itu. Aku juga menirukan memegang pisau dapur untuk turut mengupas kentang yang diletakkan di baskom terendam air. "Aduh, sulitnya setengah mati", gumamku lirih. Semakin aku lincah seperti Mbok Siti, semakin kentang berloncatan seperti katak kedatangan hujan.
"Mengapa berkeringat begitu?", tanya Mbok saat melihat aku menyeka dengan lengan yang terbebani tangan memegang pisau dapur. "Ternyata sulit ya...Mbok, mengupas kentang itu", jelasku memberikan alasan. Mbok hanya tersenyum. "Kita merasa sulit mengupas karena melihat kentang yang banyak, belum pernah, dan berpikiran sulit", jawabnya. Cobalah menganggap bahwa yang dikupas satu lalu satu lalu satu, pasti kita tidak merasa sulit. Apalagi, kalau kita pernah mengupas, untuk mengupas berikutnya, tentu rasanya akan semakin mudah. Yang paling penting, dalam menghadapi kentang yang banyak ini, kita perlu berpikiran positif saja, yakni berpikir bahwa pastilah kentang ini terkupas.
Begitulah seorang guru, dia harus melihat pembelajaran dari hal yang kecil agar tidak merasakan kejenuhan. Guru perlu pengalaman yang memberikan kekuatan bagi pembelajaran berikutnya. "Kemudian, guru harus senantiasa berpikiran positif", katanya dengan lembut.
"Mengapa berkeringat begitu?", tanya Mbok saat melihat aku menyeka dengan lengan yang terbebani tangan memegang pisau dapur. "Ternyata sulit ya...Mbok, mengupas kentang itu", jelasku memberikan alasan. Mbok hanya tersenyum. "Kita merasa sulit mengupas karena melihat kentang yang banyak, belum pernah, dan berpikiran sulit", jawabnya. Cobalah menganggap bahwa yang dikupas satu lalu satu lalu satu, pasti kita tidak merasa sulit. Apalagi, kalau kita pernah mengupas, untuk mengupas berikutnya, tentu rasanya akan semakin mudah. Yang paling penting, dalam menghadapi kentang yang banyak ini, kita perlu berpikiran positif saja, yakni berpikir bahwa pastilah kentang ini terkupas.
Begitulah seorang guru, dia harus melihat pembelajaran dari hal yang kecil agar tidak merasakan kejenuhan. Guru perlu pengalaman yang memberikan kekuatan bagi pembelajaran berikutnya. "Kemudian, guru harus senantiasa berpikiran positif", katanya dengan lembut.
Jumat, 07 November 2008
Kiat Sukses Ikuti Diklat PLPG Sertifikasi Guru
Oleh Suyatno
Minggu ini merupakan masa penantian panjang seorang guru dalam kepastian lolos sertifikasi melalui portofolio atau mengikuti diklat PLPG untuk angkatan 2008. Yang lolos, sudah pasti, dia akan mengembangkan senyum dan seraya bersyukur sedangkan yang tidak lolos, pastilah sedikit bersedih dan bersusah. Sedih dan susah merupakan sesuatu yang sangat wajar. Hadapilah dengan biasa dan mengalir saja.
Untuk yang tidak lolos melalui dokumen portofolio, tentunya, garduguru mengucapkan selamat karena akan mengikuti diklat. Kok ucapan selamat? Ya. Dalam diklat yang sembilan hari itu, tentu, banyak yang didapat oleh seorang guru sehingga sedikit banyak memberikan perubahan gaya mengajar kelak. Kedua, selamat karena peserta tidak ditarik biaya untuk diklat sembilan hari dengan makan dan jajanan gratis. Ketiga, peserta akan menemui kawan yang senasib dan tentu akan menjadi relasi baru dalam pembelajaran ke depan. Keempat, peserta dapat istirahat sejenak dalam mengajar untuk sekadar refreshing dalam diklat.
Lalu, bagaimana agar lancar dalam diklat dan tentunya sekaligus lolos? Gampang dan mudah. Peserta pasti lolos asal mengikuti diklat dengan serius, disiplin, dan memahami materinya. He.he. (ya..pasti begitu).
Diklat PLPG sertifikasi guru dirancang dengan model pelatihan partisipatif. Peserta lebih banyak praktik untuk melaksanakan pembelajaran inovatif termasuk sistem evaluasi dan cara meneliti tindakan kelasnya. Penilaian untuk peserta diambil dari hasil tes tulis di akhir diklat, partisipatipasi peserta saat diklat di tiap topik sajian, hasil tugas, penilaian teman sebaya, dan kehadiran.
Berikut kiatnya. Pertama, buang jauh kekesalan, kesedihan, dan rasa malas kemudian ganti dengan percaya diri, optimistis, dan berniat. Ketiga, bawalah kurikulum, buku pelajaran, dan buku lainnya dalam diklat sebagai acuan meskipun nanti peserta akan mendapatkan modul pelatihannya. Keempat, masuklah tepat waktu dan jangan sekali-kali izin karena hal itu termasuk dalam penilaian. Kelima, bacalah modul dengan seksama meskipun penatar tidak menyuruh membaca karena soal tes diambil dari modul itu. Keenam, aktiflah di kelompok dengan kesetiakawanan tinggi, empati, dan toleransi karena hal itu juga menjadi bagian penilaian teman sejawat. Ketujuh, buatlah RPP yang inovatif dan praktikkan saat peer teaching dengan baik. Peer teaching maksudnya praktik mengajar di depan teman-teman diklat sendiri. Dalam peer teaching, penatar akan menunggui dan memberikan penilaian tentang sikap, gaya mengajar, membuka, menerangkan, menutup, bertanya, menegelola kelas, dan menggunakan media inovatif. Untuk itu, jangan sampai dalam peer teaching, grogi, tidak keluar suara, gemetar, dan sebagainya. Anggap saja seperti mengajar ke siswa di sekolah.
Saat diklat berlangsung, cobalah menikmati dengan membuang segala prasangka buruk tetapi justru membangun suasana diklat dengan kegembiraan dan kehendak untuk maju yang tinggi. Dengan begitu, diklat akan terasa berjalan dengan nyaman dan serasa cepat. Percayalah.
Minggu ini merupakan masa penantian panjang seorang guru dalam kepastian lolos sertifikasi melalui portofolio atau mengikuti diklat PLPG untuk angkatan 2008. Yang lolos, sudah pasti, dia akan mengembangkan senyum dan seraya bersyukur sedangkan yang tidak lolos, pastilah sedikit bersedih dan bersusah. Sedih dan susah merupakan sesuatu yang sangat wajar. Hadapilah dengan biasa dan mengalir saja.
Untuk yang tidak lolos melalui dokumen portofolio, tentunya, garduguru mengucapkan selamat karena akan mengikuti diklat. Kok ucapan selamat? Ya. Dalam diklat yang sembilan hari itu, tentu, banyak yang didapat oleh seorang guru sehingga sedikit banyak memberikan perubahan gaya mengajar kelak. Kedua, selamat karena peserta tidak ditarik biaya untuk diklat sembilan hari dengan makan dan jajanan gratis. Ketiga, peserta akan menemui kawan yang senasib dan tentu akan menjadi relasi baru dalam pembelajaran ke depan. Keempat, peserta dapat istirahat sejenak dalam mengajar untuk sekadar refreshing dalam diklat.
Lalu, bagaimana agar lancar dalam diklat dan tentunya sekaligus lolos? Gampang dan mudah. Peserta pasti lolos asal mengikuti diklat dengan serius, disiplin, dan memahami materinya. He.he. (ya..pasti begitu).
Diklat PLPG sertifikasi guru dirancang dengan model pelatihan partisipatif. Peserta lebih banyak praktik untuk melaksanakan pembelajaran inovatif termasuk sistem evaluasi dan cara meneliti tindakan kelasnya. Penilaian untuk peserta diambil dari hasil tes tulis di akhir diklat, partisipatipasi peserta saat diklat di tiap topik sajian, hasil tugas, penilaian teman sebaya, dan kehadiran.
Berikut kiatnya. Pertama, buang jauh kekesalan, kesedihan, dan rasa malas kemudian ganti dengan percaya diri, optimistis, dan berniat. Ketiga, bawalah kurikulum, buku pelajaran, dan buku lainnya dalam diklat sebagai acuan meskipun nanti peserta akan mendapatkan modul pelatihannya. Keempat, masuklah tepat waktu dan jangan sekali-kali izin karena hal itu termasuk dalam penilaian. Kelima, bacalah modul dengan seksama meskipun penatar tidak menyuruh membaca karena soal tes diambil dari modul itu. Keenam, aktiflah di kelompok dengan kesetiakawanan tinggi, empati, dan toleransi karena hal itu juga menjadi bagian penilaian teman sejawat. Ketujuh, buatlah RPP yang inovatif dan praktikkan saat peer teaching dengan baik. Peer teaching maksudnya praktik mengajar di depan teman-teman diklat sendiri. Dalam peer teaching, penatar akan menunggui dan memberikan penilaian tentang sikap, gaya mengajar, membuka, menerangkan, menutup, bertanya, menegelola kelas, dan menggunakan media inovatif. Untuk itu, jangan sampai dalam peer teaching, grogi, tidak keluar suara, gemetar, dan sebagainya. Anggap saja seperti mengajar ke siswa di sekolah.
Saat diklat berlangsung, cobalah menikmati dengan membuang segala prasangka buruk tetapi justru membangun suasana diklat dengan kegembiraan dan kehendak untuk maju yang tinggi. Dengan begitu, diklat akan terasa berjalan dengan nyaman dan serasa cepat. Percayalah.
Masih Perlukah Guru Killer?
Oleh Esti Nugraheni
Guru SMPN 39 Surabaya
Indonesia sudah selangkah demi selangkah berupaya mengentaskan keterpurukan pendidikan. Upaya itu ditandai dengan perbaikan kurikulum yang sudah mengalami perubahan sebanyak empat kali sejak tahun 1975. Selain itu upaya pemerintah yang lain yaitu mengentas pendidikan guru dengan cara mewajibkan pendidikan penyetaraan S1 bagi guru SD, SMP, maupun SMA, bahkan memberi peluang bagi guru yang ingin melanjutkan pendidikan S2. Belum lagi kegiatan-kegiatan penataran yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru.
Upaya pemerintah Indonesia untuk mengentas pendidikan ini mendapat banyak sambutan dari masyarakat, namun tidak kalah banyak juga yang menyambutnya dengan dingin dan apatis. Masyarakat yang menyambut dengan antusias dan gembira adalah masyarakat yang menginginkan perubahan menuju kepada perbaikan. Mereka bersikap demikian karena mereka melihat laju pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun tidak ada perkembangan baik dalam proses pembelajaran maupun hasil outputnya. Sedangkan masyarakat yang menyambut dengan dingin dan apatis adalah masyarakat yang melihat bahwa upaya tersebut hanyalah sia-sia bahkan merepotkan, dalam arti merepotkan guru untuk selalu belajar dan merepotkan guru untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan kurikulum yang diberlakukan.
Dalam masa sekarang ini, kebutuhan anak didik untuk lebih mendapatkan "kebebasan" dalam belajar hendaknya guru menyambutnya dengan antusias karena anak didik berhak mendapatkan itu.
Mengapa demikian? Setiap peserta didik adalah unik. Peserta didik mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu proses penyeragaman dan penyamarataan akan membunuh keunikan tersebut. Keunikan harus diberi tempat dan dicarikan peluang agar dapat lebih berkembang. Anak didik bukanlah objek pendidikan, sehingga guru seyogyanya memusatkan belajar pada siswa, artinya dalam pembelajaran, segalanya berpusat dari siswa mulai penentuan pokok bahasan yang akan dipelajari sampai kepada kegiatan pembelajaran. Guru tinggal memotivasi dan memediatori siswa dalam pembelajaran.
Memang, kegiatan pembelajaran yang demikian itu sangatlah sulit untuk dilaksanakan apalagi budaya kolonialisme sudah berurat berakar di Indonesia termasuk dalam lingkup pendidikan. Ditambah lagi dengan pemikiran guru yang seperti ini: "Ah, selamaini saya mengajar dengan cara lama ya baik-baik saja, tidak ada masalah". Ada pula guru yang bangga dijuluki guru killer karena kegalakannya. Guru tersebut menggunakan sistem seperti itu karena mungkin guru tidak ingin direpotkan dengan siswa yang ramai, yang malas, atau yang kurang pandai. Guru tersebut merasa nyaman mengajar dengan siswa yang duduk rapi dalam keadaan sunyi sepi dan dalam suasana tegang karena takut. Guru yang demikian itu melihat pembelajaran berfokus pada guru(pribadi) tetapi tidak melihat dari sisi siswa (peserta didik). Hal yang demikian hendaklah dipikirkan kembali.
Menurut Freire, pendidikan dengan paradigma kritis menempatkan peserta didik sebagai subjek. Bagi Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subjek bukan penderita atau objek. Menurut Freire pula, jika seseorang pasrah, tetap pada sistem dan struktur yang sebenarnya usang dan menyerah pada sistem tersebut sesungguhnya ia sedang tidak manusiawi. Lalu bagaimanakah sikap guru menghadapi tantangan ini?
Guru adalah sosok yang dibutuhkan dalam pembelajaran, khususnya di kelas. Seperti yang sudah ditulis di atas, guru adalah sebagai mediator dan memfasilitasi peserta didik untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya meskipun masih dalam koridor kurikulum yang diberlakukan. Guru harus termasuk golongan yang menyikapi perubahan paradigma pembelajaran dengan antusias dan gembira. Karena diharapkan guru dapat mencetak peserta didik yang kreatif dan inovatif, sehingga dapat dipastikan Indonesia nantinya tidak akan kekurangan SDM berkualitas.
Guru harus senang menerima pengetahuan-pengetahuan baru tentang pendidikan dan berupaya untuk mengaplikasikannya di kelas. Bukankah anak didik adalah tanggungjawab guru? Baik tidaknya hasil yang diperoleh anak didik juga tergantung seberapa besar upaya guru dan kemampuan guru untuk memotifasi, memfasilitasi, dan menjembatani antara anak didik dengan pengetahuan yang sedang dipelajari. Maka membuka lebar-lebar hati untuk menerima perubahan dan mau mengubah cara pembelajaran yang selama ini bersifat konservatif bukanlah hal yang tabu.
Sebagai orang yang menangani pendidikan, guru harus berani dan mempunyai komitmen untuk mengubah paradigma yang dipegang selama ini ke paradigma baru yang justru dibutuhkan oleh masyarakat. Freire membagi kesadaran manusia dalam belajar ke dalam tiga kelompok.
Kelompok pertama adalah kesadaran magis, yaitu kesadaran yang tidak mampu mengetahui antara faktor satu dengan faktor lainnya. Proses pendidikan metode tersebut tidak memberikan kemampuan analisis tentang kaitan antara sistem yang diciptakan dalam proses pelatihan dalam pendidikan dengan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Peserta didik secara dogmatis menerima kebenaran dari pendidik tanpa ada mekanisme pemahaman makna setiap konsepsi kehidupan masyarakat.
Kelompok kedua adalah kesadaran naïf, yakni melihat aspek manusia menjadi penyebab masalah yang berkembang di masyarakat. Pendidikan dalam konteks naïf tersebut tidak mempertanyakan sistem dan struktur pelatihan. Bahkan, sistem dan stuktur yang ada dianggap sudah baik dan benar. Sistem tersebut dianggap given oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas pelatihan atau proses pendidikan adalah mengarahkan agar peserta didik dapat masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut.
Kelompok ketiga disebut dengan kesadaran kritis. Kesadaran tersebut lebih melihat sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Paradigma kritis dalam pendidikan melatih peserta didik mampu mengidentifikasikan ketimpangan struktur dan sistem yang ada kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistem bekerja serta bagaimana mentransformasikannya. Tugas pendidik dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar peserta didik terlibat suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan sesuai dengan diri peserta didik.
Dari kesadaran tersebut dan kaitannya dengan sistem pendidikan maka apabila guru mengajar dengan melihat dari sisi anak didik maka tentunya guru tersebut termasuk orang yang mendukung kelompok ketiga. Alangkah bahagianya bila semua guru bersatu padu meneriakkan "Selamat datang pendidikan kritis, Selamat datang KBK!" maka pendidikan Indonesia akan mampu menyamai pendidikan modern di negara-negara lain. Pendidikan di Indonesia akan mengantarkan bangsa Indonesia siap menerima era globalisasi tanpa ragu. Dalam kualitas pendidikan, bangsa Indonesia tidak akan berada di peringkat 109 dari seluruh jumlah negara-negara di dunia. Bangsa Indonesia tidak akan lagi menjadi bangsa konsumen tetapi akan siap menjadi bangsa produsen. Itulah setidaknya yang harus dicita-citakan guru. Betapa mulianya. Tidak salah bila selama ini bangsa kita menyebut guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Nah, kalau sudah demikian apakah guru akan tetap bangga dengan predikat guru killer?
Daftar Pustaka
Fakih, Mansour dkk. 2001. Pendidikan Populer Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Suyatno, 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa Dan Sastra. Surabaya. SIC.
Guru SMPN 39 Surabaya
Indonesia sudah selangkah demi selangkah berupaya mengentaskan keterpurukan pendidikan. Upaya itu ditandai dengan perbaikan kurikulum yang sudah mengalami perubahan sebanyak empat kali sejak tahun 1975. Selain itu upaya pemerintah yang lain yaitu mengentas pendidikan guru dengan cara mewajibkan pendidikan penyetaraan S1 bagi guru SD, SMP, maupun SMA, bahkan memberi peluang bagi guru yang ingin melanjutkan pendidikan S2. Belum lagi kegiatan-kegiatan penataran yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru.
Upaya pemerintah Indonesia untuk mengentas pendidikan ini mendapat banyak sambutan dari masyarakat, namun tidak kalah banyak juga yang menyambutnya dengan dingin dan apatis. Masyarakat yang menyambut dengan antusias dan gembira adalah masyarakat yang menginginkan perubahan menuju kepada perbaikan. Mereka bersikap demikian karena mereka melihat laju pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun tidak ada perkembangan baik dalam proses pembelajaran maupun hasil outputnya. Sedangkan masyarakat yang menyambut dengan dingin dan apatis adalah masyarakat yang melihat bahwa upaya tersebut hanyalah sia-sia bahkan merepotkan, dalam arti merepotkan guru untuk selalu belajar dan merepotkan guru untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan kurikulum yang diberlakukan.
Dalam masa sekarang ini, kebutuhan anak didik untuk lebih mendapatkan "kebebasan" dalam belajar hendaknya guru menyambutnya dengan antusias karena anak didik berhak mendapatkan itu.
Mengapa demikian? Setiap peserta didik adalah unik. Peserta didik mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu proses penyeragaman dan penyamarataan akan membunuh keunikan tersebut. Keunikan harus diberi tempat dan dicarikan peluang agar dapat lebih berkembang. Anak didik bukanlah objek pendidikan, sehingga guru seyogyanya memusatkan belajar pada siswa, artinya dalam pembelajaran, segalanya berpusat dari siswa mulai penentuan pokok bahasan yang akan dipelajari sampai kepada kegiatan pembelajaran. Guru tinggal memotivasi dan memediatori siswa dalam pembelajaran.
Memang, kegiatan pembelajaran yang demikian itu sangatlah sulit untuk dilaksanakan apalagi budaya kolonialisme sudah berurat berakar di Indonesia termasuk dalam lingkup pendidikan. Ditambah lagi dengan pemikiran guru yang seperti ini: "Ah, selamaini saya mengajar dengan cara lama ya baik-baik saja, tidak ada masalah". Ada pula guru yang bangga dijuluki guru killer karena kegalakannya. Guru tersebut menggunakan sistem seperti itu karena mungkin guru tidak ingin direpotkan dengan siswa yang ramai, yang malas, atau yang kurang pandai. Guru tersebut merasa nyaman mengajar dengan siswa yang duduk rapi dalam keadaan sunyi sepi dan dalam suasana tegang karena takut. Guru yang demikian itu melihat pembelajaran berfokus pada guru(pribadi) tetapi tidak melihat dari sisi siswa (peserta didik). Hal yang demikian hendaklah dipikirkan kembali.
Menurut Freire, pendidikan dengan paradigma kritis menempatkan peserta didik sebagai subjek. Bagi Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subjek bukan penderita atau objek. Menurut Freire pula, jika seseorang pasrah, tetap pada sistem dan struktur yang sebenarnya usang dan menyerah pada sistem tersebut sesungguhnya ia sedang tidak manusiawi. Lalu bagaimanakah sikap guru menghadapi tantangan ini?
Guru adalah sosok yang dibutuhkan dalam pembelajaran, khususnya di kelas. Seperti yang sudah ditulis di atas, guru adalah sebagai mediator dan memfasilitasi peserta didik untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya meskipun masih dalam koridor kurikulum yang diberlakukan. Guru harus termasuk golongan yang menyikapi perubahan paradigma pembelajaran dengan antusias dan gembira. Karena diharapkan guru dapat mencetak peserta didik yang kreatif dan inovatif, sehingga dapat dipastikan Indonesia nantinya tidak akan kekurangan SDM berkualitas.
Guru harus senang menerima pengetahuan-pengetahuan baru tentang pendidikan dan berupaya untuk mengaplikasikannya di kelas. Bukankah anak didik adalah tanggungjawab guru? Baik tidaknya hasil yang diperoleh anak didik juga tergantung seberapa besar upaya guru dan kemampuan guru untuk memotifasi, memfasilitasi, dan menjembatani antara anak didik dengan pengetahuan yang sedang dipelajari. Maka membuka lebar-lebar hati untuk menerima perubahan dan mau mengubah cara pembelajaran yang selama ini bersifat konservatif bukanlah hal yang tabu.
Sebagai orang yang menangani pendidikan, guru harus berani dan mempunyai komitmen untuk mengubah paradigma yang dipegang selama ini ke paradigma baru yang justru dibutuhkan oleh masyarakat. Freire membagi kesadaran manusia dalam belajar ke dalam tiga kelompok.
Kelompok pertama adalah kesadaran magis, yaitu kesadaran yang tidak mampu mengetahui antara faktor satu dengan faktor lainnya. Proses pendidikan metode tersebut tidak memberikan kemampuan analisis tentang kaitan antara sistem yang diciptakan dalam proses pelatihan dalam pendidikan dengan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Peserta didik secara dogmatis menerima kebenaran dari pendidik tanpa ada mekanisme pemahaman makna setiap konsepsi kehidupan masyarakat.
Kelompok kedua adalah kesadaran naïf, yakni melihat aspek manusia menjadi penyebab masalah yang berkembang di masyarakat. Pendidikan dalam konteks naïf tersebut tidak mempertanyakan sistem dan struktur pelatihan. Bahkan, sistem dan stuktur yang ada dianggap sudah baik dan benar. Sistem tersebut dianggap given oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas pelatihan atau proses pendidikan adalah mengarahkan agar peserta didik dapat masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut.
Kelompok ketiga disebut dengan kesadaran kritis. Kesadaran tersebut lebih melihat sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Paradigma kritis dalam pendidikan melatih peserta didik mampu mengidentifikasikan ketimpangan struktur dan sistem yang ada kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistem bekerja serta bagaimana mentransformasikannya. Tugas pendidik dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar peserta didik terlibat suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan sesuai dengan diri peserta didik.
Dari kesadaran tersebut dan kaitannya dengan sistem pendidikan maka apabila guru mengajar dengan melihat dari sisi anak didik maka tentunya guru tersebut termasuk orang yang mendukung kelompok ketiga. Alangkah bahagianya bila semua guru bersatu padu meneriakkan "Selamat datang pendidikan kritis, Selamat datang KBK!" maka pendidikan Indonesia akan mampu menyamai pendidikan modern di negara-negara lain. Pendidikan di Indonesia akan mengantarkan bangsa Indonesia siap menerima era globalisasi tanpa ragu. Dalam kualitas pendidikan, bangsa Indonesia tidak akan berada di peringkat 109 dari seluruh jumlah negara-negara di dunia. Bangsa Indonesia tidak akan lagi menjadi bangsa konsumen tetapi akan siap menjadi bangsa produsen. Itulah setidaknya yang harus dicita-citakan guru. Betapa mulianya. Tidak salah bila selama ini bangsa kita menyebut guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Nah, kalau sudah demikian apakah guru akan tetap bangga dengan predikat guru killer?
Daftar Pustaka
Fakih, Mansour dkk. 2001. Pendidikan Populer Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Suyatno, 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa Dan Sastra. Surabaya. SIC.
Rabu, 05 November 2008
Obama is The Best Teacher
Oleh Suyatno
Obama is The Best Teacher. Ia telah memberikan inspirasi bagi jutaan manusia dari segala penjuru untuk melakukan perubahan paradigma berpikir, paradigma bertindak, dan paradigma kepastian. Selama ini, tidak ada yang memastikan bahwa Benua Amerika, yang asal mulanya dikuasai kulit putih dan kulit hitam sebagai budaknya, akan dipimpin oleh keturunan kulit hitam, Barack Obama. Barack Obama membius alam sadar dan alam bawah sadar warga Amerika untuk secara serta merta mendukungnya.
Guru biasa menjelaskan, guru baik mendemonstrasikan, dan guru hebat menginspirasikan. Itulah kategori guru yang menandakan masih ada peringkat guru berdasarkan gaya mengajarnya. Nah, Barack Obama masuk dalam kategori guru hebat karena mampu memberikan inspirasi bagi warga Amerika untuk memilihnya, mengangkatnya, dan mendudukkan di singgahsana Gedung Putih. Inspirasi itu bersumber dari gaya berbicara, berjalan, senyuman, daya tanggap kepada lawan bicara, dan daya pikir Obama.
Lihat saja, saat menaiki tangga panggung atau podium, Obama selalu bergaya cepat menaiki tangga seperti berlari. Saat berjalan, Obama menunjukkan gaya cepat melintasi altar yang dilewati. Saat orang lainnya menyapa baik lisan maupun gerak, Obama langsung menoleh dan tersenyum. Gaya tersebut sebenarnya adalah gaya guru hebat. Citra diri guru memberikan inspirasi untuk berpikir positif bagi orang lain.
Andai saja, banyak guru yang menangkap gaya Obama ini, tentu, akan banyak guru yang berubah gaya, dari gaya guru baik ke gaya guru hebat. Perubahan paradigma murid terhadap guru memberikan keberhasilan tersendiri bagi perkembangan siswa. Tentunya, perubahan itu ditandai oleh perubahan positif, optimis, dan bertujuan. Guru gaya Obama, siapa yang terinspirasi?
Obama is The Best Teacher. Ia telah memberikan inspirasi bagi jutaan manusia dari segala penjuru untuk melakukan perubahan paradigma berpikir, paradigma bertindak, dan paradigma kepastian. Selama ini, tidak ada yang memastikan bahwa Benua Amerika, yang asal mulanya dikuasai kulit putih dan kulit hitam sebagai budaknya, akan dipimpin oleh keturunan kulit hitam, Barack Obama. Barack Obama membius alam sadar dan alam bawah sadar warga Amerika untuk secara serta merta mendukungnya.
Guru biasa menjelaskan, guru baik mendemonstrasikan, dan guru hebat menginspirasikan. Itulah kategori guru yang menandakan masih ada peringkat guru berdasarkan gaya mengajarnya. Nah, Barack Obama masuk dalam kategori guru hebat karena mampu memberikan inspirasi bagi warga Amerika untuk memilihnya, mengangkatnya, dan mendudukkan di singgahsana Gedung Putih. Inspirasi itu bersumber dari gaya berbicara, berjalan, senyuman, daya tanggap kepada lawan bicara, dan daya pikir Obama.
Lihat saja, saat menaiki tangga panggung atau podium, Obama selalu bergaya cepat menaiki tangga seperti berlari. Saat berjalan, Obama menunjukkan gaya cepat melintasi altar yang dilewati. Saat orang lainnya menyapa baik lisan maupun gerak, Obama langsung menoleh dan tersenyum. Gaya tersebut sebenarnya adalah gaya guru hebat. Citra diri guru memberikan inspirasi untuk berpikir positif bagi orang lain.
Andai saja, banyak guru yang menangkap gaya Obama ini, tentu, akan banyak guru yang berubah gaya, dari gaya guru baik ke gaya guru hebat. Perubahan paradigma murid terhadap guru memberikan keberhasilan tersendiri bagi perkembangan siswa. Tentunya, perubahan itu ditandai oleh perubahan positif, optimis, dan bertujuan. Guru gaya Obama, siapa yang terinspirasi?
Langganan:
Postingan (Atom)