Jumat, 30 Oktober 2009

Potensi Anak Jangan Diabaikan

Potensi anak jangan diabaikan tetapi justru menjadi pijakan dalam pengembangan pendidikan. Harian Kompas, Jumat, 30 Oktober 2009 melaporkan bahwa sistem pendidikan Indonesia sampai saat ini belum mengutamakan pengembangan potensi anak didik seluas-luasnya. Kurikulum pendidikan pun memperlakukan anak didik sama rata tanpa mempertimbangkan keunikan pada setiap anak didik. Setiap individu unik karena mempunyai potensi, bakat, dan talenta yang berbeda.

Hal itu mengemuka dalam seminar bertema ”Mengembalikan Pola Pendidikan Berbasis Potensi Anak yang Berwawasan Budaya Lokal Nusantara” yang digelar Forum Pengajar-Dokter-Psikolog bagi Ibu Pertiwi dan Yayasan Anand Ashram, Kamis (29/10) di Jakarta. ”Sistem pendidikan makin terfokus hanya pada materi. Menghancurkan bangsa itu mudah, bodohkan saja rakyatnya,” kata Ketua Yayasan Anand Ashram, Maya Safira Muchtar.

Potensi anak terkubur karena pendidikan terfokus pada materi. Akibat tuntutan materi yang meningkat, orangtua tidak mendukung pengembangan potensi anak, malah memaksakan keinginan kepada anak. ”Masih banyak orangtua yang beranggapan, jika ingin sukses atau kaya, anak harus menjadi dokter, insinyur, atau pengacara,” katanya.

Psikolog Rose Mini menyebutkan, setiap orangtua tentu ingin pendidikan anaknya berhasil. Patokan keberhasilan ini yang kerap dinilai hanya dari pencapaian prestasi bidang akademis dan eksakta. Adapun pencapaian bidang kreatif, seperti musik, belum dianggap sebagai prestasi. ”Setiap individu memiliki potensi cerdas. Tetapi, tidak akan teraktualisasi optimal jika tidak distimulasi dengan baik,” ujarnya.

Agar potensi anak berkembang optimal, Ketua Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia Frieda Maryam Siahaan mengingatkan, pendidik harus bisa mendidik dengan empati dan kepekaan sehingga potensi anak didik dapat diperhatikan satu per satu.

”Guru dan orangtua harus memiliki hati untuk meningkatkan kemampuan emosional, sosial, fisik, spiritual, dan kemandirian anak dalam menyelesaikan masalahnya,” ujar Frieda. (LUK)

Buku Struktur Narasi Novel Karya Anak Diresensi di Koran Sinar Harapan dan Batam Pos

Ternyata, buku Struktur Narasi Novel Karya Anak yang ditulis pemilik blog ini diresensi di berbagai media seperti Sinar Harapan dan Batam Pos. Tentu, media lain juga akan memuat resensi tentang buku tersebut. Buku itu memang menggambarkan potret kemampuan anak Indonesia yang luar biasa.

Anak yang masih dianggap belum mempunyai kemampuan apa-apa ternyata mempunyai potensi luar biasa jika disentuh dengan baik. Hal itu tergambar jelas mengapa dan bagaimananya dalam buku tersebut. Buku yang dikemas dengan bagus itu sekarang juga sudah beredar di toko-toko buku terutama toko buku Gramedia seperti yang saya lihat seminggu lalu. Selamat menikmati.

Penilaian Berbasis Kelas

Oleh Suyatno
Banyak guru yang belum mampu mengukur dan menilai siswa secara terbuka, valid, dan autentik sehingga tidak dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasinya. Bahkan, banyak guru yang hanya menilai sambil lalu, mengarang skor, dan menggunakan ilmu asal tulis skor. Seharusnya guru dapat akurat dan adil dalam memberikan penilaian dengan cara(a) Memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja siswa dari sejumlah penilaian yang dilakukan dengan berbagai strategi dan cara, dan (b) Membuat keputusan yang adil terhadap penguasaan yang adil terhadap penguasaan kemampuan siswa dengan mempertimbangkan hasil kerja yang dikumpulkan.

Penilaian kelas mempunyai pengaruh langsung pada pembelajaran. Hasil penilain yang digunakan oleh guru guru dapat dijadikan dasar bagi pengambil keputusan mengenai keefektifan program pendidikan secara umum. Ini merupakan kemampuan dan keterampilan guru sebagai individu. Kualitas keputusan guru ditentukan oleh bagaimana mereka dapat menyimpulkan apa yang dibutuhkan peserta didik.

Untuk melaksanakan KTSP, guru sebaiknya menggunakan penilaian berbasis kelas yang memandu keterlaksanaan pembelajaran di kelas. Authentik assessment (penilaian yang sebenarnya) menjadi acuan dalam penilaian di kelas, artinya penilaian tentang kemajuan belajar siswa diperoleh di sepanjang proses pembelajaran. Oleh karena itu penilaian tidak hanya dilakukan pada akhir periode tetapi dilakukan secara terintregrasi dari kegiatan pembelajaran dalam arti kemajuan belajar dinilai dari proses bukan semata-mata hasil.

Asesmen kelas suatu istilah umum yang meliputi prosedur prosedur yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang pembelajaran peserta didik (pengamatan, tingkat performans, tes tertulis) untuk dijadikan pertimbangan pemberian nilai dengan memperhatikan kemajuan belajarnya (Linn dkk., 1995: 5).

Penilaian harus mencakup tiga aspek kemampuan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor yang dapat berbentuk tes tertulis, performance, penugasan, atau proyek, dan portofolio. Penilaian kognitif semata-mata menilai sejauh mana seorang siswa memiliki pengetahuan terhadap fakta, konsep, dan teori. Penilaian ketrampilan mengukur kemampuan motorik siswa dalam ”bekerja ilmiah” mengikuti langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melakukan kegiatan.

Tujuan dari penilaian adalah untuk mengukur seberapa jauh tingkat keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, dikembangkan dan ditanamkan di sekolah serta dapat dihayati, diamalkan/diterapkan, dan dipertahankan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu penilaian juga bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang digunakan sebagai feedback/umpan balik bagi guru dalam merencanakan proses pembelajaran selanjutnya. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan, memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran yang dilaksanakan (Sudjana, 2002: 2). Penilaian ini harus dilakukan secara jujur, dan transparan agar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya (Mulyasa, 2002: 183).

Prinsip-Prinsip Penilaian
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan penilaian berdasarkan Kebijakan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2002 (Fajar, 2002: 184) adalah:
a. Valid, artinya penilaian harus memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa, misalnya apabila pembelajaran menggunakan pendekatan eksperimen maka kegiatan melakukan eksperimen harus menjadi salah satu obyek yang dinilai.
b. Mendidik, artinya penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar siswa. Hasil penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan bagi siswa yang berhasil atau sebagai pemicu semangat belajar bagi yang kurang berhasil.
c. Berorientasi pada kompetensi, artinya penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.
d. Adil, artinya penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa, dan jender.
e. Terbuka, artinya kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak (siswa, guru, sekolah, orang tua, dan pihak laian yang terkait).
f. Berkesinambungan, artinya penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa sebagai hasil kegiatan belajarnya.
g. Menyeluruh, artinya penilaian dapat dilakukan dengan berbagai teknik dan prosedur termasuk mengumpulkan berbagai bukti hasil belajar siswa. Penilaian terhadap hasil belajar siswa meliputi pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), sikap dan nilai (afektif) yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
h. Bermakna, artinya penilaian hendaknya mudah dipahami, mempunyai arti, berguna dan bisa ditindaklanjuti oleh semua pihak.
Dalam penelitian ini semua unsur penilaian digunakan untuk melihat aspek-aspek pada portofolio apakah akan mengalami pertumbuhan/peningkatan.

Instrumen Penilaian
Untuk memperoleh hasil penilaian, guru dapat menyiapkan intrumen penilaian (Fajar, 2002: 185) yang dapat berupa:
a. Soal tes tertulis
b. Soal tes lisan
c. Lembar observasi
d. Lembar portofolio
e. Lembar skala sikap
f. Lembar cheklist
g. Lembar pedoman wawancara
h. Lembar pedoman pengamatan
i. Lembar pedoman penelitian, dan sebagainya.

Mengurai Benang Kusut Profesi Guru

Oleh Suyatno

Keberadaan guru yang profesional tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam aspek kompetensi yakni pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Temu Nasional 2009 di Jakarta, Kamis, 29 Oktober (edukasi Kompas.com) meminta Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh untuk mengubah metodologi belajar-mengajar. Menurut Presiden, pendidikan jangan hanya mengejar nilai rapor dan ujian. ”Kalau itu yang dipilih, anak-anak bersekolah tetapi tidak berkembang kreativitas, inovasi, dan jiwa wirausahanya,” lanjut Presiden. Pola yang sekarang tidak mendorong siswa kreatif dan inovatif sehingga sulit memunculkan jiwa kewirausahaan anak didik. Metode belajar-mengajar anak didik yang dilakukan sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sekolah menengah dinilai hanya menunjukkan gurunya yang aktif, sedangkan anak didik justru tidak aktif. Proses belajar seperti itulah yang dinilai tidak dapat mengembangkan inovasi dan kreativitas serta kewirausahaan.
Pernyataan presiden di atas merupakan puncak dari pergunjingan masyarakat yang prihatin terhadap dunia guru yang tidak juga berubah meskipun diberi perlakukan khusus melalui sertifikasi pendidik. Guru dalam perannya masih mempunyai beberapa permasalahan, yakni (1) masih berperan sebagai transmiter, sumber pengetahuan, mahatahu, (2) terikat dengan sistem dan berpikir struktural, (3) menunggu arahan pejabat di atasnya, (4) memandang fakta, isi pelajaran, dan teori sebagai basis belajar, (5) lebih mentoleransi kebiasaan latihan menghafal, (6) cenderung statis dan tidak kompetitif, (7) gaya verbalistis menjadi fokus utama di kelas, (8) miskin kreativitas dan inovasi, (9) komunikasi terbatas, (10) penilaian lebih bersifat normatif, dan (11) tidak peduli dengan perubahan dan perkembangan pembelajaran.
Dari sisi internal guru, ada beberapa problem yang menjadi batu sandungan dalam peningkatan profesi guru, seperti (1) masih banyak guru yang hidupnya tidak berkecukupan karena memang pendapatannya kecil; (2) banyak guru yang mengajar di daerah terpencil yang penampilannya tampak dekil, (3) heterogenitas paradigma dan persepsi guru yang sangat tinggi, (4) latar belakang akademis guru yang tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diasuh, (5) komitmen guru yang masih rendah dalam menjalani tugasnya, dan (6) minimalnya pengalaman guru.
Di tingkat eksternal guru, berbagai cara dilakukan untuk mengangkat citra guru secara mendasar seperti portofolio seritifikasi guru, PLPG (diklat guru yang tidak lolos portofolio), insentifikasi kesejahteraan guru, program lomba guru, pelatihan-pelatihan. Hanya saja cara-cara di atas masih bersifat permukaan semata tidak sampai mengubah prilaku dan paradigma guru di tingkat implementasi. Beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan sentuhan eksternal di atas adalah (1) kebijakan masih bersifat sentralistik, (2) program pengembangan hanya bersifat puncak gunung yang tidak sampai ke bukit dan ngarai, (3) pendidikan dan pelatihan guru tidak bersifat membelajarkan hanya mengajarkan, (4) terputusnya mata rantai pembinaan guru sampai ke satuan terkecil akibat kurang berfungsinya KKG dan MGMP, (5) miskinnya media pembelajaran inovatif dan buku-buku di sekolah terpencil, (6) program yang ada yang sampai saat ini belum menyentuh keadaan pikiran, sikap, dan kiprah guru yang sebenarnya, dan (6) kepedulian pejabat di tingkat bawah hanya sebatas selebrasi.
Dalam proses pembelajaran, paradigma baru pembelajaran sebagai produk inovasi
seyogyanya lebih menyediakan proses untuk mengembalikan hakikat siswa ke fitrahnya
sebagai manusia yang memiliki segenap potensi untuk mengalami becoming process dalam mengembangkan kemanuasiaanya. Oleh sebab itu, apapun fasilitas yang dikreasi untuk memfasilitasi siswa dan siapapun fasilitator yang akan menemani siswa belajar, seyogyanya bertolak dari dan berorientasi pada apa yang menjadi tujuan belajar siswa. Tujuan belajar yang orisinal muncul dari dorongan hati (mode = intrinsic motivation).
Salah satu faktor yang memengaruhi menurunnya kualitas pendidik di Indonesia adalah guru. Padahal dalam sebuah proses pendidikan, guru merupakan komponen yang sangat penting selain tujuannya, kurikulum, metode, sarana dan prasarana, lingkungan dan evaluasi. Hal itu menunjukkan bahwa guru sangat berperan penting dalam memajukan kualitas anak bangsa. Mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan sangat penting, dibutuhkan pemahaman yang baik dan benar dari guru terhadap profesinya sehingga proses dan hasil dari pembelajaran dapat dicapai dengan maksimal. Dengan perubahan kurikulum, penerapan metode mengajar yang baru, pengelolaan sarana dan prasarana, pembelajaran akan berdaya guna apabila didukung oleh guru yang profesional. Semua pihak tahu bahwa tugas guru meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Untuk menjalankan tugasnya tersebut, guru dituntut memiliki kemampuan berwawasan luas, mempunyai sikap dan tingkah laku yang patut diteladani dan memiliki keterampilan.
Untuk itu, problematika di atas harus segera dipecahkan agar terwujud implementasi pembelajaran yang mampu mengeksplorasi dan mengelaborasi potensi anak secara kuat dan optimal. Pemecahannya dapat dilakukan melalui program yang sangat strategis yang mampu menggerakkan semua komponen dalam meningkatkan profesi guru sampai ke akar-akarnya.

Berikut ini saran pemecahan problematika profesi guru.
1.Upaya perbaikan dan peningkatan profesi guru dilakukan secara terprogram, terintegrasi, dan berkelanjutan yang memperhatikan semua komponen pendidikan.
2.Pertukaran guru lintas lokasi perlu dilakukan untuk membuka paradigma dan pengalaman baru secara langsung.
3.Pelaksanaan guru magang di sekolah-sekolah maju yang diasuh oleh guru yang sudah maju pula.
4.Pendampingan guru dengan sistem susun mentor dengan pengawasan yang simultan.
5.Penguatan peran komunitas guru berdasarkan spesifikasi yang dilaksanakan sampai ke tingkat pedalaman dengan memperan-aktifkan MGMP dan KKG.
6.Pemaksimalan kapasitasi tenaga kependidikan (kepala dinas, pengawas, kepala sekolah, dan lainnya) terhadap peningkatan profesi guru.
7.Pelatihan terfokus kepada semua guru dengan sistem identifikasi dan kualifikasi yang dapat memotivasi guru (pelatihan ramah anak, komunikasi, penguatan metode pembelajaran, penelitian, dan sebagainya).
8.Perbanyak lomba kualifikasi guru di semua lini.
9.Pemberian penghargaan diperbanyak dalam rangka mengangkat keprcayaan guru terhadap perannya.
10.Penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) guru harus sampai ke tingkat yang paling pedalaman.
11.Penciptaan budaya semangat juang untuk meningkatkan citra guru pada era globalisasi ini.

Presiden: Ubah Metode Mengajar

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh untuk mengubah metodologi belajar-mengajar. Pola yang sekarang tidak mendorong siswa kreatif dan inovatif sehingga sulit memunculkan jiwa kewirausahaan anak didik.

Metode belajar-mengajar anak didik yang dilakukan sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sekolah menengah dinilai hanya menunjukkan gurunya yang aktif, sedangkan anak didik justru tidak aktif. Proses belajar seperti itulah yang dinilai tidak dapat mengembangkan inovasi dan kreativitas serta kewirausahaan.

Demikian disampaikan Presiden Yudhoyono saat membuka Temu Nasional 2009 di Jakarta, Kamis (29/10). Dalam acara itu, hadir Wakil Presiden Boediono, para menteri kabinet, gubernur, bupati, wali kota, unsur pimpinan badan usaha milik negara (BUMN), dan sejumlah pejabat lain.

”Saya minta Menteri Pendidikan Nasional untuk mengubah metodologi belajar-mengajar yang ada selama ini. Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah jangan hanya gurunya yang aktif, tetapi harus mampu membuat siswanya juga aktif,” kata Presiden.

Menurut Presiden, pendidikan jangan hanya mengejar nilai rapor dan ujian. ”Kalau itu yang dipilih, anak-anak bersekolah tetapi tidak berkembang kreativitas, inovasi, dan jiwa wirausahanya,” lanjut Presiden.

Kewirausahaan

Menurut Presiden, jiwa kewirausahaan sangat penting dan harus dipupuk sejak kecil. Dengan demikian, setelah selesai menjalani pendidikan mereka tidak sekadar menjadi pencari kerja, tetapi menjadi pencipta lapangan kerja.

”Oleh karena itu, perlu reformasi di bidang pendidikan nasional. Guru dan dosen harus diajak untuk bisa mengembangkan jiwa kewirausahaan, inovasi, dan kreativitas,” ujarnya.

Sebelumnya Presiden Yudhoyono menyatakan telah menerima surat dari Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jakob Oetama dan pengusaha Ciputra agar pemerintah mendorong tumbuh dan berkembangnya jiwa kewirausahaan di Indonesia.

Dikatakan Presiden, jumlah wirausahawan Indonesia sangat sedikit jika dibandingkan dengan negara lain, seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Singapura. Padahal dengan berkembangnya jiwa kewirausahaan, tingkat pengangguran dan kemiskinan dapat diturunkan.

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, yang dimintai tanggapannya oleh pers, menyatakan akan segera mereformasi sistem pendidikan, khususnya metode belajar-mengajar. Meski demikian, akan dikaji dulu metode belajar-mengajar yang diterapkan saat ini.

Pada tahap awal, lanjut Mohammad Nuh, pembenahan akan dilakukan pada infrastruktur pendidikan. ”Jangan ada lagi sekolah yang bocor, apalagi ambruk,” kata Nuh.(Sumber: Kompas.com/HAR)

Kamis, 29 Oktober 2009

Video Game Menyehatkan Mata

Detik.con melaporkan bahwa banyak kejadian atau perilaku buruk seseorang yang disangkutpautkan dengan game. Namun sebuah penelitian, yang digelar oleh dua Universitas, membuktikan bahwa game justru menyehatkan.

Salah satu jenis game yang diklaim dapat menyehatkan adalah jenis Action. Game dengan jenis ini telah terbukti dapat memberikan penglihatan yang lebih tajam bagi para pemainnya, bahkan dikatakan dapat menyembuhkan penyakit Amblyopia.

Amblyopia sendiri adalah, suatu kelainan di mata dimana mata yang satu memiliki tingkat penglihatan yang lebih rendah dibandingkan dengan mata yang lain. Cara penyembuhan yang biasa yaitu menggunakan sebuah perangkat yang dikenakan pada mata.

Seperti dikutip detikINET dari CNN, Kamis, (29/10/2009). Hasil riset yang diadakan oleh Universitas Nottingham menunjukan bahwa bermain video game selama 1 jam, sama dengan melakukan terapi dengan alat tersebut selama 400 jam.

Pendapat ini pun makin diperkuat oleh hasil riset sejenis yang diadakan oleh Universitas Rochester. Dalam riset terpisah ini, disimpulkanbahwa bermain game First Person Shooter dapat meningkatkan kemampuan dan refleks otak terhadap kejadian sekitar.

Kunci Mudah Mengajarkan Matematika dengan Kreativitas

Matematika merupakan pelajaran yang dianggap menyulitkan dan menyebalkan bagi siswa. Bahkan, gurunya juga merasakan kesusahan mengajarkan agar siswa senang dan tertantang. Namun, banyak cara membuat Matematika menjadi pelajaran yang mudah dan menyenangkan. Dari yang tradisional menggunakan batang lidi, sampai yang mutakhir ala Glenn Doman. Kuncinya cuma kreativitas.

Penuturan Djomon Bapila, Kepala SD 008 Kalampising, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, ini misalnya. Djomon mengaku, dia mewajibkan para siswa kelas I untuk membawa batang-batang lidi ke sekolah. "Lalu, saya minta mereka mengikatnya dengan jumlah untuk masing-masing ikat sebanyak 10 lidi. Itulah alat hitung mereka," ujar Djomon, awal Oktober lalu.

"Sederhana memang, tetapi hanya itu yang termurah, tercepat, dan termudah untuk diserap oleh siswa. Dengan lidi-lidi ini, mereka menjadi aktif belajar dan tak sadar bisa menghitung dengan tangkas," tambahnya.

Lain Djomon, lain pula Sugimun. Guru Matematika SMPN I Lumbis, Kabupaten Nunukan, ini punya cara jitu untuk membuat siswanya tertarik dan mudah mengerti pelajaran Matematika yang ia ajarkan. Salah satunya, Sugimun mengajak para siswa bermain gaple atau yang lebih akrab disebut domino. Ya, "domino Matematika". Sugimun sudah membuktikan bahwa domino tersebut bisa memudahkan siswa mengenal pelajaran Matematika tentang bilangan pecahan.

Tak ubahnya bermain domino, setelah kartu pertama dilempar, kartu berikutnya akan mengikuti. Namun, jika pada domino sesungguhnya berisi kumpulan atau urutan angka-angka, maka kartu pada "domino Matematika" berisi berbagai bilangan pecahan. "Saya berpikir, apa pun yang ada di sekitar kita, baik itu di lingkungan rumah maupun sekolah bisa dimanfaatkan. Sederhananya, Matematika itu tidak rumit dan mudah dimengerti siswa, asalkan gurunya bisa memudahkan siswa menyerapnya," ujar Sugimun.

"Pernah, waktu pelajaran tentang bangun bidang, seperti kubus, balok, segitiga, atau kerucut, saya minta siswa melihat ke semua sisi bangunan (sekolah), mulai dari dinding sampai atap, ternyata itu lebih mudah dimengerti ketimbang hanya teori di papan tulis," ujar lulusan Universitas Mulawarman ini.

Glenn Doman
Khusus anak balita, mereka memerlukan sistem pembelajaran, metode, dan sarana yang tepat supaya bisa merasa senang dan mudah saat mempelajari Matematika.

Berangkat dari fungsi otak yang memiliki kemampuan menyerap informasi yang luar biasa pada seorang anak, Dr Glenn Doman menunjukkan betapa mudahnya mengajarkan Matematika ke anak balita dan menjadikan proses belajar tersebut begitu menyenangkan.

Menurut Irene F Mongkar, seorang praktisi metode Glenn Doman, pada masa tiga tahun pertama, otak balita mengalami perkembangan yang sangat pesat. Akibatnya, stimulasi yang diberikan pada masa ini akan merangsang kecerdasannya. Pertanyaannya, bagaimana metode ini mampu membuat pelajaran Matematika menjadi begitu menarik dan menyenangkan buat anak-anak Anda?

- Tahap Pertama, Perkenalkan Jumlah

Perlihatkan kepada anak, kartu-kartu putih berukuran 28 x 28 cm dengan gambar dot (lingkaran berdiameter 2 cm) berwarna merah, mulai dari kartu berjumlah dot 1 sampai dengan 100.

Untuk memperkenalkan jumlah, cukup dengan memberikan 5 kartu, dengan sangat cepat (2 kartu untuk 1 detik) dan diulang maksimum sebanyak 3 kali sehari.

- Tahap Kedua, Perkenalkan Persamaan

Kembali kita menunjukkan kartu-kartu dot, misalnya dot berjumlah 7, 5, dan 12. Tunjukkan kartu tersebut dengan mengatakan ”tujuh ditambah lima sama dengan dua belas”.

Berikan tiga persamaan dalam setiap pengajaran, dan sehari berikan 3 kali pengajaran. Harus dicatat, setiap persamaan tidak diulang lagi.

- Tahap ketiga, Pemecahan Masalah

Siapkan kartu dot berjumlah 4, 7, 11, dan 16. Lalu, tunjukkan kartu tersebut dengan mengatakan ”Empat ditambah tujuh sama dengan 11 atau 16?”

Biarkan si anak memilih, dan berikan dia cukup waktu berpikir dan menunjukkan jawabannya. Berikan anak balita kesempatan untuk menggunakan kemampuannya.

- Tahap keempat, Pengenalan Angka

Pengenalan ini prinsipnya seperti pada tahap 1. Adapun pada tahap kelima, perkenalkan persamaan dengan angka yang ditulis dalam karton panjang berukuran 10 x 50 cm, dengan berbagai jenis persamaan, misalnya 7 + 1 + 11 – 5 + 2 – 4.

Dengan cara yang sederhana, waktu yang singkat, sikap gembira dan menyenangkan, kita dapat mengenalkan Matematika kepada anak balita. Dengan begitu, anak balita akan mulai menyenangi Matematika.(Sumber: Kompas.com, Rabu, 21 Oktober 2009/LTF)

Kemampuan Guru dalam Membelajarkan Membaca Pemahaman Sangat Minimal

Membaca merupakan pintu gerbang memahami isi dunia. Oleh karena itu, bagaimana jadinya jika siswa sangat rendah dalam membaca pemahaman? Seperti yang dilaporkan kompas.com, 28 Oktober 2oo9, dari hasil penelitian Pusat Penelitian Pendidikan Depdiknas, ditunjukkan bahwa kemampuan guru dalam mengajarkan kemampuan membaca pemahaman sangat minimal. Tentu, banyak faktor penyebabnya yang memerlukan perbaikan. Studi penilaian tersebut dilakukan dengan cara merekam menggunakan video tentang segala kemampuan guru dalam mengajarkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV melalui tahap prainstruksional, instruksional dan evaluasi.

Disebutkan dalam studi itu bahwa kemampuan guru-guru tersebut relatif rendah, yaitu hanya 42,85 % dari ideal. Sementara itu, kemampuan tiap tahapan pembelajaran pada prainstruksional 29,67 %, instruksional 49,55 %, dan evaluasi 24,75 % dari ideal.

Sejurus dengan rendahnya kemampuan guru tersebut, studi ini juga menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa tergolong rendah, yaitu hanya 35,64 % untuk tes lokal dan 33,27 % untuk tes PIRLS .

Menurut hasil penelitian ini, beberapa faktor yg secara signifikan memengaruhi kemampuan mengajar guru tersebut adalah status guru dalam kelas. Sedangkan pada faktor pendidikan, pengalaman mengajar tidak signifikan berpengaruh terhadap kemampuan mengajar guru.

Kemampuan pendidikan dan pengalaman guru secara signifikan berpengaruh terhadap kemampuan siswa dan membaca pemahaman. Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa adalah kebiasaan berbahasa Indonesia.

Kebiasaan membaca dan kondisi sekolah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan siswa. Adapun hasil penelitian tersebut sedang dijadikan salah satu pembahasan seminar Mutu Pendidikan Menengah Hasil Penelitian Puspendik 2009 yg berlangsung hari ini, Rabu (28/10), di Jakarta.

Guru di Mata Mbok Siti (63)

Bunga di halaman depan dekat pagar rumah Mbok Siti terasa harum setelah kelopak melati warna putih mekar berseri. Aku terasa nyaman dengan harum melati itu sehingga jalan kuperlambat sambil melirik untaian melati berjajar.

"Suka bunga melati ya...", sapa Mbok Siti yang ternyata memperhatikan dari kejauahan.

"Iya, Mbok. Melati ini sangat semerbak mewangi dan terlihat berjajar indah", jawabku sambil mempercepat jalan mendekati Mbok Siti yang juga tampak berseri di pagi ini.

"Bunga itu mekar, harum, dan memutih berseri karena telah melewati berbagai proses yang didukung oleh kesabaran waktu, usaha daun, tangkup, dan batang untuk berjuang mewujudkan merekahnya bunga", jawab Mbok Siti sambil tersenyum memandangku.

"Siswa kita dapat merekah berseri dengan keharuman yang menggembirakan semua orang apabila dalam prosesnya juga didukung oleh kesetiaan berbagai aspek", jelas Mbok Siti. Guru, kepala sekolah, orang tua, teman, dan staf sekolah harus bahu-membahu memberikan tanggung jawab masing-masing demi keberhasilan siswa. Guru hebat adalah guru yang mampu melindungi siswa dalam tumbuh dan berkembang. Pada akhirnya, guru itu akan memetik keberhasilan atas usahanya.

Kemampuan Siswa Indonesia di Bawah Rata-Rata Skor Internasional

Ini tantangan bagi guru di Indonesia dan bukan hambatan. Kemampuan mengajar guru perlu dipacu lagi sampai ke tingkat terdalam sehingga mereka mampu mengeksplorasi potensi siswa dengan hebat. Betapa tidak. Menurut laporan kompas.com, 28 Oktober 2009, ternyata dari tiga hasil studi internasional dinyatakan bahwa, kemampuan siswa Indonesia untuk semua bidang yang diukur secara signifikan ternyata berada di bawah rat-rata skor internasional yang sebesar 500.

Jika dibandingkan dengan siswa internasional, siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal dalam kategori rendah dan sedikit sekali, bahkan hampir tidak ada yang dapat menjawab soal yang menuntut pemikiran tingkat tinggi.

Demikian hasil tiga studi tersebut mengemuka dalam seminar Mutu Pendidikan dan Menengah Hasil Penelitian Puspendik 2009 di Gedung Depdiknas, Jakarta, Rabu (28/10).

"Tapi kita optimistis, karena skor PISA kita rata-rata 30 poin, kita yakin peraihan di tahun-tahun mendatang bisa lebih baik untuk mendekati rata-rata internasional," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas Mansyur Ramly usai membuka seminar, Rabu (28/10).

Ramly menambahkan, pencapaian mutu pendidikan siswa dalam standar internasional tersebut memang masih harus ditingkatkan. Dua faktor utama, lanjut Ramly, yang perlu diperkuat untuk mengejar ketertinggalan itu antara lain pola dan penggunaan dana BOS serta kualitas tenaga penduduk.

"Hasil studi ini memang untuk memotret kemampuan kita dalam kualifikasi internasional, termasuk SBI. Dari studi inilah kita akan melangkah untuk peningkatan mutu sekolah seperti di negara maju," tambah Ramly.

Adapun tiga studi internasional itu antara lain PIRLS 2006 , PISA 2006 dan TIMSS 2007. Berdasarkan studi PISA tahun 2003, Indonesia berada di urutan 39 dari 41 negara untuk Matematika dan IPA. Pada kedua bidang itu, di Asia Tenggara posisi Indonesia di bawah Malaysia dan Thailand.