Minggu, 08 Mei 2011

Lulusan SMK Keperawatan Tidak Bisa Jadi Perawat

Detik. Health.com melaporkan bahwa di daerah dan beberapa kota masih banyak orang yang masuk SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) jurusan keperawatan dan berharap setelah lulus dapat langsung menjadi perawat. Padahal SMK jurusan keperawatan bukan sekolah untuk jadi perawat.

"Untuk jadi perawat itu minimal D3 dan SMK jurusan keperawatan bukan sekolah untuk jadi perawat," jelas Dewi Irawaty, MA. PhD, Ketua Umum Persatuan Perawatan Nasional Indonesia (PPNI) dalam acara pertemuan Press Briefing di Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (6/5/2011).

Menurut Dewi, masih banyak orang yang masuk SMK jurusan keperawatan dan berharap setelah lulus bisa langsung bekerja menjadi perawat dan dikirim ke luar negeri.

"Kan kasian kalau seperti ini, jadi banyak yang merasa tertipu," jelas Dewi yang juga merupakan Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Dewi juga menjelaskan, dengan masuk SMK jurusan keperawatan juga tidak ada kemudahan khusus yang diberikan ketika siswa ingin melanjutkan ke Akademi Keperawatan atau Sekolah Tinggi.

"Semuanya sama yang SMK dan SMA. Jadi jangan tertipu, SMK bukan sekolah untuk jadi perawat," tegas Dewi.

Bahkan pada tahun 2015 mendatang, lanjut Dewi, PPNI mewacanakan bahwa semua tenaga perawat harus dari lulus sarjana (S1), tetapi dengan asumsi pada waktu itu (tahun 2015) penataan sudah dimulai.

"Tapi kalau kita lihat kondisi sekarang sepertinya belum bisa. Yang terpenting, mari berikan rakyat pelayanan yang terbaik," tutup Dewi. (sumber: detik.health.com)

Hambatan Guru saat Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Oleh Suyatno

Jika mendengarkan uraian para pakar saat seminar atau pelatihan PTK, rasanya melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas terasa mudah. Namun, jika informasi itu diterapkan di kelas oleh guru, hambatan mulai berdatangan yang pada akhirnya menutup kemauan guru untuk melakukan. Hambatan itu sangat banyak dan kompleks serta lebih banyak muncul dibandingkan keuntungannya. Oleh karena itu, jalan yang harus dilalui oleh guru adalah membuang hambatan menjadi sebuah kesempatan.

Berikut ini beberapa hambatan dan pemecahan dalam melaksanakan PTK.
(1) Malas Melakukan
      Oleh karena guru tidak pernah melaksanakan PTK sebelumnya, terkadang muncul rasa malas melakukan. Alasan yang diberikan adalah banyak tugas lain, terlalu ribet, dan tidak dapat melakukannya. PTK belum menjadi kewajiban penuh sehingga guru sedikit ogah-ogahan.
(2) Merasa Tidak Bisa
     Yang dipakai sebagai alasan kedua oleh banyak guru adalah kata-kata "saya tidak bisa", padahal guru belum mencobanya. Ketika mendengar PTK lalu terbayang ketebalan laporan, guru menyerah seperti kalah perang. Apalagi dalam dirinya terbayang selama ini tidak pernah menulis apapun.
(3) Buta Masalah
     "Membuat PTK? Ah, tidaklah karena kelas saya tidak pernah ada masalah. Buktinya, tiap tahun semua naik kelas:", kata seorang guru. Guru tersebut merasakan bahwa di kelasnya tidak ada masalah karena memang tidak pernah tahu akan masalah pembelajaran.
(4) Takut Diketahui Belangnya
      PTK itu syaratnya harus kolaboratif atau kerja sama dengan guru lain. Nah, saat guru lain itu membantu, guru yang bersangkutan takut ketahuan keburukannya. Kalau keburukan diketahui oleh orang lain, celakalah dunia guru yang bersangkutan.
(5) Jalan Pintas dan Instan
     Mengapa harus susah payah membuat PTK sebagai syarat kepangkatan? Bukankah banyak lembaga yang dapat membuatkan PTK. Yang terpenting mempunyai uang untuk membeli PTK. Guru tipe ini tidak peduli PTK bermanfaat bagi kinerja dirinya atau tidak. Yang penting baginya, ada PTK atas namanya dan tidak melalui jalan susah-susah.
(6) Hasilnya Itu-Itu Saja
     Ratusan PTK yang ada hasilnya sama, yakni dari kasus itu ke itu saja. Jadi, tidaklah perlu PTK karena hanya menghabiskan waktu saja. Hambatan ini lebih dipengaruhi oleh ketidaktahuan atas manfaat PTK sebagai obat pembelajaran.

Sabtu, 07 Mei 2011

Dengan Learning by Doing, Prposal Penelitian Tindakan Kelas 41 Guru SDN Sememi 1 Benowo Berkategori Baik

Mulanya, 41 guru SDN Sememi 1 Benowo susah untuk menulis kalimat dalam paragraf apalagi menuliskan proposal sebuah penelitian. Namun, rasa susah itu sirna dalam sekejap setelah komitmen diri meluap-luap dalam pelatihan pembuatan proposal PTK yang diadakan dengan pola learning by doing. Saat ini, telah tersusun 41 proposal PTK yang siap untuk dilaksanakan. Tiga bulan ke depan, di SDN Sememi 1 Benowo akan ada arsip PTK sejumlah 41 berkas.

Jika guru di sekolah lain sampai saat ini susah benar membuat proposal dan pada ujung-ujungnya bisa jadi "membeli" PTK, guru SDN Sememi 1 Benowo  justru rela bersusah payah membuat hanya dengan satu tujuan, yakni dapat menulis sendiri. Kondisi itu muncul setelah mereka pada bulan Oktober tahun lalu dilatih secara langsung oleh garduguru di SDN Sememi 1 Benowo Surabaya.

Pelatihan yang dipandu garduguru sangat asyik dan lain dari yang lain. "Saya pernah ikut pelatihan PTK tapi seharian hanya ceramah saja sehingga pulang tidak bisa. tapi, pelatihan dengan Bapak Suyatno, setengah hari, saya langsung bisa", kata Pak Pur, guru olahraga SDN Sememi 1 Benowo Surabaya yang diamini guru-guru lain.Semua itu terwujud berkat inovasi kepala sekolah, Drs. trubus, yang berkeinginan bahwa guru-gurunya harus pandai mengkaji pembelajaran yang dilakukan sendiri melalui tulisan penelitian.

Saat jumat, 6 Mei 2011, garduguru datang ke SDN Sememi 1 untuk melihat hasilnya. Ternyata, semua guru menyodorkan proposal yang mantap dan siap untuk dilaksanakan. padahal, bayangan garduguru, proposal yang dibuat masih sebatas catatn-catatan singkat. Ternyata anggapa itu keliru. Jadi, dapat dipastikan, laporan PTK pada Juli mendatang pasti akan terealisasi. Bukankah penelitian yang baik diawali oleh proposal yang baik pula.

Langkah 50, untuk Guru Sukses

Kalau sudah menjadi guru, Anda jangan puas terlebih dahulu karena bisa jadi Anda berada di kandang gagal. Dalam perjalanan mengajar, ada guru di kandang gagal dan ada yang di kandang sukses. Seharusnya, guru selalu berada di kandang sukses dalam kondisi apapun. Jika guru sukses, siswanya pasti akan turut sukses tetapi jika guru gagal tentu siswanya lebih gagal lagi dalam menapaki kehidupan. 
Guru sukses bersumber dari mental. Guru boleh saja miskin finansial namun dia harus kaya kesuksesan dan pada akhirnya guru itu akan kaya finansial. Jika seorang guru terlahir kaya, namun tidak memiliki mental sukses, maka kelak guru itu pun bisa jatuh melarat.

Guru dapat meraih sukses dengan mengembangkan 50  langkah sukses ini. Namun, ingat juga bahwa ukuran kesuksesan bukanlah uang, melainkan mental puas itu sendiri.

1. Carilah dan temukan kesempatan saat guru lain gagal menemukannya.

2.Guru sukses melihat masalah sebagai bahan pembelajaran dan bukannya kesulitan belaka.

3.Fokus pada solusi, bukan berkubang pada masalah pembelajaran yang ada.

4.Menciptakan jalan suksesnya sendiri dengan pemikiran dan inovasi yang ada.

5.Guru sukses boleh merasa takut, namun mereka kemudian mengendalikan dan mengatasinya.

6.Guru sukses selalu mengajukan pertanyaan yang tepat, sehingga menegaskan kualitas pikiran dan emosional yang positif.

7.Guru sukses jarang mengeluh.

8.Guru sukses tidak menyalahkan orang lain, namun mengambil tanggung jawab atas tindakannya.

9. Guru sukses selalu menemukan cara untuk mengembangkan potensi diri dan menggunakannya dengan efektif.
10. Guru sukses selalu sibuk, produktif, dan proaktif, bukan luntang-lantung.

11.Guru sukses mau menyesuaikan diri dengan sifat dan pemikiran orang lain.

12. Guru sukses memiliki ambisi atau semangat.

13.Tahu benar apa yang diinginkan.

14.Guru sukses senantiasa inovatif dan bukan plagiat.

15. Guru sukses tidak menunda-nunda apa yang ada.

16.Guru sukses memiliki prinsip bahwa hidup adalah proses belajar yang tiada henti.

17.Guru sukses tidak menganggap diri sempurna sehingga sudi belajar dari orang lain.

18. Guru sukses melaksanakan apa yang seharusnya, bukan apa yang mereka mau lakukan.

19.Guru sukses mau mengambil resiko, tapi bukan nekat.

20.  Guru sukses menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan segera.

21.  Guru sukses tidak menunggu datangnya keberuntungan, atau kesempatan. Merekalah yang menciptakannya.

22.Guru sukses bertindak bahkan sebelum disuruh/ diminta.

23.Guru sukses  mampu mengendalikan emosi dan bersikap profesional.

24. Guru sukses adalah komunikator yang handal.

25. Guru sukses mempunyai rencana dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan.

26. Guru sukses menjadi luar biasa karena mereka memilih untuk itu.

27. Guru sukses berhasil melalui masa-masa berat yang biasanya membuat orang lain menyerah.

28. Guru sukses tahu apa yang penting bagi mereka dan melakukan yang terbaik yang mereka bisa.

29.Guru sukses memiliki keseimbangan. Mereka tahu bahwa uang hanya alat, bukan segalanya.

30.Guru sukses paham betul pentingnya disiplin dan pengendalian diri.

31. Guru sukses merasa aman karena mereka tahu mereka berharga.
32.Mereka juga murah hati dan baik hati.

33.Mereka mau mengakui kesalahan dan tidak segan untuk minta maaf.

34. mau beradaptasi dengan perubahan.

35. Guru sukses menjaga kesehatan dan performa tubuh.

36. Guru sukses rajin.

37. Guru sukses selalu ulet
38. Guru sukses terbuka dan mau menerima masukan dari orang lain.

39.  Guru sukses tetap bahagia saat menghadapi pasang surut kehidupan.

40.Guru sukses tidak bergaul dengan orang-orang yang salah/ merusak.

41. Guru sukses tidak membuang waktu dan energi emosional untuk sesuatu yang di luar kendali mereka.

42.Guru sukses nyaman bekerja di tempat yang ada.

43. Guru sukses memasang standar yang tinggi bagi diri sendiri.

44. Guru sukses tidak mempertanyakan mengapa mereka gagal namun memetik pelajaran dari itu semua.

45. Guru sukses tahu bagaimana harus rileks, menikmati apa yang ada, dan mampu bersenang-senang dalam kecerobohan sekalipun.

46.Karir mereka bukanlah siapa mereka, itu hanyalah pekerjaan.
 
47.Guru sukses lebih tertarik pada apa yang efektif ketimbang pada apa yang mudah.

48. Guru sukses menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.

49. Guru sukses menyadari bahwa mereka bukan hanya makhluk hidup belaka, namun juga makhluk rohani.

50.Guru sukses melakukan sesuai yang mereka katakan.

Rabu, 04 Mei 2011

Inilah Ketentuan Sertifikasi Guru 2011

Anda guru yang diprediksikan meraih sertifikasi pendidik untuk tahun 2011? Jika ya, ada baiknya ikuti informasi di bawah ini. Informasi ini disalin dari SK Mendiknas no 11 tahun 2011 tentang proses sertifikasi pendidik tahun 2011. Semoga Anda secepatnya dapat sertifikasi pendidik dengan sah dan halal.

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan selanjutnya disebut Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang bertugas sebagai guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan. Sertifikasi dilaksanakan melalui:
a. penilaian portofolio;
b. pendidikan dan latihan profesi guru;
c. pemberian sertifikat pendidik secara langsung; atau
d. pendidikan profesi guru.

Penilaian portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan:
a. kualifikasi akademik;
b. pendidikan dan pelatihan;
c. pengalaman mengajar;
d. perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran;
e. penilaian dari atasan dan pengawas;
f. prestasi akademik;
g. karya pengembangan profesi;
h. keikutsertaan dalam forum ilmiah;
i. pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; dan
j. penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan

Sertifikasi diikuti oleh guru dalam jabatan yang:
a. memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV);
b. belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV apabila sudah:
1. mencapai usia 50 tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun
sebagai guru; atau
2. mempunyai golongan IV/a, atau yang memenuhi angka kredit kumulatif
setara dengan golongan IV/a;
c. telah diangkat menjadi guru sebelum tanggal 30 Desember 2005.

Guru dalam jabatan yang memilih Sertifikasi melalui penilaian portofolio harus mengikuti tes awal yang dikoordinasikan oleh Konsorsium Sertifikasi Guru. Guru dalam jabatan yang lulus dalam tes awal harus menyerahkan portofolio untuk penilaian. Kemudian, jika guru dalam jabatan yang tidak lulus dalam tes awal, dia harus mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru. Guru dalam jabatan yang memenuhi syarat kelulusan akademik dan administrasi penilaian portofolio mendapat sertifikat pendidik. Guru dalam jabatan yang belum memenuhi syarat kelulusan administrasi penilaian portofolio dapat melengkapi administrasi portofolio. Guru dalam jabatan yang belum memenuhi syarat kelulusan akademik penilaian portofolio mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru yang diakhiri uji
kompetensi.
Sertifikasi melalui pendidikan dan latihan profesi guru diperuntukkan bagi guru yang:
a. tidak memiliki kesiapan diri untuk penilaian portofolio;
b. tidak lulus penilaian portofolio; dan
c. dinyatakan tidak memenuhi persyaratan untuk memperoleh sertifikat pendidik secara langsung.

Guru dalam jabatan yang lulus pendidikan dan latihan profesi guru mendapat sertifikat pendidik. Guru dalam jabatan yang tidak lulus pendidikan dan latihan profesi guru diberi kesempatan mengulang uji kompetensi satu kali.

Sertifikasi melalui pemberian sertifikat pendidik secara langsung diperuntukkan bagi:
a. guru yang sudah memiliki kualifikasi akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya dengan golongan paling rendah IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b;
b. guru kelas yang sudah memiliki kualifikasi akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan tugas yang diampunya dengan golongan paling rendah IV/b atau yang  memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b;
c. guru bimbingan dan konseling yang sudah memiliki kualifikasi akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan tugas bimbingan dan konseling dengan golongan paling rendah IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b;
d. guru yang diangkat dalam jabatan pengawas pada satuan pendidikan yang sudah memiliki kualifikasi akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan tugas kepengawasan dengan golongan paling rendah IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b; atau
e. guru yang sudah mempunyai golongan paling rendah IV/c, atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/c.

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan melalui pendidikan profesi guru dilaksanakan sesuai peraturan perundangundangan. Sertifikasi diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan
program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Menteri. Perguruan tinggi itu harus memiliki program studi kependidikan yang relevan dengan bidang studi/mata pelajaran guru yang disertifikasi dan dapat didukung oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi terakreditasi yang relevan dengan bidang studi/mata pelajaran guru yang di sertifikasi.

Perguruan tinggi penyelenggara Sertifikasi wajib melaporkan setiap perubahan berkenaan dengan peserta Sertifikasi kepada Konsorsium Sertifikasi Guru. Perguruan tinggi penyelenggara Sertifikasi wajib melaporkan guru yang sudah mendapat sertifikat pendidik kepada Konsorsium Sertifikasi Guru. Konsorsium Sertifikasi Guru melaporkan guru yang sudah mendapat sertifikat pendidik kepada Menteri. Berdasarkan laporan tersebut, Menteri atau pejabat yang ditunjuk memberi nomor registrasi guru.
Berkaitan dengan kuota, menteri menetapkan kuota peserta sertifikasi setiap tahun. Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menentukan peserta Sertifikasi berdasarkan kuota yang ditetapkan oleh Menteri.

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas yang belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV, berlaku dalam jangka waktu 5 tahun sejak berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Sertifikasi yang diatur dalam Peraturan Menteri ini berlaku juga untuk sertifikasi bagi pengawas satuan pendidikan selain guru yang diangkat sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
(sumber: sertifikasiguru.org)

SNMPTN Buka Peluang, Banyak Calon mahasiswa Diterima

Kabar gembira bagi para siswa jenjang SMA/MA/SMK/MAK yang akan mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Selain jalur undangan yang mulai diberlakukan pada tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) juga menambah jumlah kursi untuk peserta jalur undangan dan jalur ujian tertulis.
Calon peserta SNMPTN 2011 mencapai 233.000, pemerintah menyediakan sedikitnya 108.535 kursi untuk peserta jalur undangan dan jalur ujian tertulis. Jumlah itu naik dibandingkan dengan tahun lalu yang menyediakan 105.000 kursi untuk seluruh peserta SNMPTN. Kenaikan tersebut disebabkan adanya penambahan pada fakultas dan perguruan tinggi negeri (PTN) di seluruh Indonesia.
Saat ini peserta yang lolos SNMPTN dapat memilih fakutas yang diminati dari 60 PTN di seluruh Indonesia. Peserta jalur ujian tertulis akan dikelompokkan menjadi tiga kelompok, IPA, IPS, dan IPC (campuran IPA dan IPS). Dengan biaya ujian tertulis sebesar Rp150.000 untuk kelompok IPA dan IPS serta Rp 175.000 untuk kelompok IPC, setiap peserta dapat mengikuti kelompok ujian tanpa harus sesuai dengan jurusan di sekolah terdahulu.
Para calon peserta SNMPTN tertulis dapat mendaftar secara online dengan mengakses http://www.ujian.snmptn.ac.id. Pendaftaran dilakukan melalui dua tahapan. Tahapan pertama bagi pendaftar lulusan 2009 dan 2010 dimulai dari 2 Mei hingga 10 Mei 2011 dan tahap kedua untuk pendaftar lulusan tahun 2011 dimulai dari tanggal 11 Mei hingga 25 Mei 2011.
Mengenai mekanisme pembayarannya, calon peserta SNMPTN jalur ujian tertulis dapat melakukan pembayaran melalui Bank Mandiri (loket, ATM, internet banking, SMS banking) dengan waktu pembayaran untuk lulusan tahun 2009/2010 mulai tanggal 2 sampai dengan 9 Mei dan untuk calon peserta yang lulus tahun ini dapat membayar mulai 2 hingga 24 Mei 2011.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pendaftar SNMPTN 2011 agar mengirimkan foto resmi ukuran 4 x 6 Cm format JPG atau PNG dengan ukuran maksimum 100 KB. Selain itu, laman resmi SNMPTN 2011 aktif selama 24 jam, disarankan agar para pendaftar mengakses laman tersebut di luar jam sibuk (pagi/malam hari).
Para pendaftar dapat memperoleh informasi umum mengenai SNMPTN dengan mengakses laman http://www.snmptn.ac.id atau melalui HALO SNMPTN 2011 (call center) 0804-1-450-450 selama 24 jam setiap hari.

Pelajar Indonesia Rajai Lomba Penelitian Tingkat Dunia

  Jika dilatih, dikuatkan, dipercaya, dan difasilitasi dengan sepenuhnya, anak muda Indonesia akan menunjukkan prestasinya. Hal itu terbukti dengan berprestasinya 8 pelajar Indonesia di lomba penelitian tingkat dunia International Conference of Young Scientis (ICYS) di Moskwa, Rusia. Indonesia berhasil mempersembahkan satu medali emas, dua medali perak, dua medali perunggu, dan tiga penghargaan khusus.

Pelajar yang berhasil mengharumkan nama bangsa adalah Jessica Lo (SMAK Cita Hati Surabaya) yang meraih medali emas. Medali perak dipersembahkan Luthfi Mu'awan (SMAN 1 Purwareja) dan Christy Hong (SMA St.Laurensia Tangerang).

Medali perunggu diraih Ninda Frisky dan Annisa Fitriani (keduanya dari SMAN 1 Yogyakarta) dan Christa Lorenzia Soesanto (SMP St.Laurensia Tangerang). Adapun penghargaan khusus diberikan kepada Ganang Albryansyah (SMPN 1 Bontang), Fialdy Josua Pattirajawane (SMP Chandra Kusuma Medan), dan Arief Ridho Kusuma (SMAN 1 Samarinda).

"Pada tahun Ini, Jerman yang unggul. Namun, Indonesia peraih medali terbanyak untuk yang Asia," ujar Monika Raharti, Koordinator ICYS Indonesia, Minggu (1/5/2011). Ia mengatakan sejak ikut ICYS tahun 2005 hingga sekarang, tim Indonesia tidak pernah pulang dengan tangan kosong.

Lomba ini untuk menggali potensi peneliti muda yang kelak dapat berperan dalam penemuan dan pengembangan sains untuk meningkatkan kualitas hidup manusia di dunia. Pelajar yang mewakili Indonesia diseleksi mulai dari tingkat regional yang dipusatkan di Medan, Bontang, Denpasa, dan Bandung.

Mengajar dengan Media Kain Planel

Rasanya, pembelajaran kita perlu divariasikan agar siswa merasa bahagia saat di kelas. Cobalah diingat-ingat, berapa kali dalam mengajar siswa menggunakan papan tulis dengan spidol ataukapur? Pastilah jawabnya, hampir tiap hari, 350 hari dalam setahun. Betapa jenuh siswa ketika harus menghadap papan terus dengan mengikuti gerak tangan guru mengayunkan spidol atau kapur. Apakah tidak ada cara lain yang dapat memberikan bumbu variasi demi kenyamanan belajar siswa?

Banyak cara memvariasikan mengajar dengan inovatif dan kreatif. Pada blog garduguru ini, Dr. Suyatno, sudah banyak memberikan alternatif jitu. Kali ini, yang ditawarkan oleh garduguru adalah media mengajar dengan kain planel dengan beragam tempel sesuai dengan mata pelajarannya.

Media pembelajaran dengan kain planel maksudnya adalah kain planel yang sudah dibingkai dengan kayu atau pengeras lainnya ditempeli kata, bagan, gambar, grafik, atau apa saja sesuai dengan mata pelajaran. Kain planel sifatnya mengikat karena ada bulu kain yang akan menempel jika diletakkan alat perekat seperti yang ada di sepatu, tas, dan lainnya.

Sebelumnya, guru harus menyiapkan huruf yang sudah dikemas sesuai dengan ukuran jarak pandang. Lalu huruf itu ditempel di karton agar sedikit kencang. Di balik karton ditempeli perekat kain yang dilem. Kemudian, kartu huruf atau kata itu siap digunakan.


Untuk mudahnya, garduguru saat ini sudah memproduksi kain planel dengan kemasan menarik dan mudah digunakan. Jika pembaca menginginkan kain planel itu dapat menghubungi Mas Arum di 085648008053. Kain planel akan segera dikirim setelah ada pesanan. Tentunya, harga ditambah dengan ongkos kirim.

Minggu, 01 Mei 2011

Hari Pendidikan dengan Cuci Otak

Pada saat Hari Pendidikan 2011 dirayakan, tepatnya 2 Mei 2011, oleh warga bangsa Indonesia, tamparan terhadap warna pendidikan sangat memerah dan memuakkan. Betapa tidak. Saat anak-anak Indonesia menikmati UN dan kenangan manis Ki Hajar Dewantara melalui Hari Pendidikan, tiba-tiba dengan tidak berdaya, para mahasiswa dan pelajar Indonesia dengan begitu mudahnya dicuci otaknya oleh sekelompok orang yang ingin menangguk untung.


Para mahasiswan itu begitu mudahnya ditipu daya dengan omongan, rayuan, dan pernyataan yang dibuat untuk masuk akal. Padahal, para maahasiswa itu sebelumnya, tentu, sudah mempunyai pertahanan pikiran dan mental sendiri yang justru lebih kuat. Pikiran dan mental itu telah diisikan oleh orang tua dan guru serta masyarakat. Namun, pikiran dan mental itu terkalahkan oleh rayuan gombal gerombolan NII. Betapa ringkihnya pikiran dan mental para mahasiswa.

Kondisi itu memberikan pertanda bahwa cuci otak orang tua dan guru tidak dapat berdaya tahan lama di memori mahasiswa. Bahkan, model pembelajran guru sebagai juga bentuk cuci otak hanya bersifat sesaat yang mudah lekang oleh waktu. Untuk itu, perlu kekuatan cuci otak (artikan dengan pembelajaran) dengan metode yang pas. Dengan demikian, mahasiswa tidak begitu mudah diombang-ambingkan pikirannya.

Prinsip Dasar Problem Based Learning (PBL)

Beragam model pembelajaran yang berkembang saat ini,salah satunya adalah pembelajaran berdasarkan masalah atau problem based learning (PBL). Premis dasar PBL adalah belajar merupakan proses konstruksi pengetahuan baru yang berdasarkan pada pengetahuan terkini. Glaser (1991) menyebutkan bahwa belajar adalah proses yang konstruktif dan bukan penerimaan. Proses kognitif itu disebut juga metakognisi. Proses kognitif selalu mempengaruhi penggunaan pengetahuan, faktor-faktor sosial, dan kontekstual dalam pembelajaran. 
Ada beberapa prinsip dalam PBL, yakni:
Prinsip 1. Belajar adalah proses konstruktif dan bukan penerimaan. Pembelajaran tradisional didominasi oleh pandangan bahwa belajar adalah penuangan pengetahuan kekepala pebelajar. Kepala pebelajar dipandang sebagai kotak kosong yang siap diisi melalui repetisi dan penerimaan. Pengajaran lebih diarahkan untuk penyimpanan informasi oleh pebelajar pada memorinya seperti menyimpan buku-buku di perpustakaan. Pemanggilan kembali informasi bergantung pada kualitas nomer panggil(call number) yang digunakan dalam mengklasifikasikan informasi. Namun, psikologi kognitif modern menyatakan bahwa memori merupakan struktur asosiatif. Pengetahuan disusun dalam jaringan antar konsep, mengacu pada jalinan semantik. Ketika belajar terjadi informasi baru digandengkan pada jaringan informasi yang telah ada. Jalinan semantik tidak hanya menyangkut bagaimana menyimpan informasi, tetapi juga bagaimana informasi itu diinterpretasikan dan dipanggil.
Prinip 2. Knowing About Knowing (metakognisi) Mempengaruhi Pembelajaran.
Prinsip kedua yang sangat penting adalah belajar adalah proses cepat, bila pebelajar mengajukan keterampilan-keterampilan self monitoring, secara umum mengacu pada metakognisi (Bruer, 1993 dalam Gijselaers, 1996). Metakognisi dipandang sebagai elemen esensial keterampilan belajar seperti setting tujuan (what am I going to do), strategi seleksi (how am I doing it?), dan evaluasi tujuan (did it work?). Keberhasilan pemecahan masalah tidak hanya bergantung pada pemilikan pengetahuan konten (body of knowledge), tetapi juga penggunaan metode pemecahan masalah untuk mencapai tujuan. Secara khusus keterampilan metokognitif meliputi kemampuan memonitor prilaku belajar diri sendiri, yakni menyadari bagaimana suatu masalah dianalisis dan apakah hasil pemecahan masalah masuk akal?
Prinsip 3. Faktor-faktor Kontekstual dan Sosial Mempengaruhi Pembelajaran. Prinsip ketiga ini adalah tentang penggunaan pengetahuan. Mengarahkan pebelajar untuk memiliki pengetahuan dan untuk mampu menerapkan proses pemecahan masalah merupakan tujuan yang sangat ambisius. Pembelajaran biasanya dimulai dengan penyampaian pengetahuan oleh pembelajar kepada pebelajar, kemudian disertai dengan pemberian tugas-tugas berupa masalah untuk meningkatkan penggunaan pengetahuan. Namun studi-studi menunjukkan bahwa pebelajar mengalami kesulitan serius dalam menggunakan pengetahuan ilmiah (Bruning et al, 1995). Studi juga menunjukkan bahwa pendidikantradisional tidak memfasilitasi peningkatan peman masalah-maslah fisika walaupun secara formal diajarkan teori fisika ( misalnya, Clement, 1990).
Jika tujuan pembelajaran adalah mengajarkan pebelajar untuk menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah dunia nyata, bagaimana seharusnya pembelajaran itu dilakukan? Mandl, Gruber, dan Renkl (1993) menyarankan empat cara yaitu: pengajaran harus diletakkan dalam konteks situasi pemecahan masalah kompleks dan bermakna; pengajaran harus dipusatkan pada pengajaran keterampilan metakognitif dan bilamana mengunakannya; pengetahuan dan keterampilan-keterampilan harus diajarkan dari perspektif yang berbeda dan diterapkan pada setiap situasi yang berbeda; belajar harus berlangsung dalam situasi kerjasama untuk mengkonfrotasikan keyakinan yang dipegang oleh masing-masing individu. Strategi ini dilandasi oleh dua model yang saling melengkapi cognitive apprenticeship dan anchored instruction. Kedua model ini menekankan bahwa pengajaran harus terjadi dalam kontek masalah dunia nyata atau parktek-praktek professional.
Faktor sosial juga mempengaruhi belajar individu. Glaser (1991) beralasan bahwa dalam kerja kelompok kecil pembelajar mengekspose pandangan alternatif adalah tantangan nyata untuk mengawali pemahaman. Dalam kelompok kecil pembelajar akan membangkitkan metode pemecahan masalah dan pengetahuan konseptual mereka. Mereka menyatakan ide-ide dan membagi tanggung jawab dalam memanage situasi masalah. Bruning, Schraw, dan Ronning (1995) menyatakan bahwa pengajaran sains sangat efektif bila hakikat sosial pembelajaran diterima dan digunakan untuk membantu pebelajar memperoleh peman ilmiah secara akurat.
Bertolak dari prisnip-prinsip pembelajaran di atas, pembelajaran berbasis masalah dapat ditelusuri melalui tiga aliran pemikiran pendidikan yaitu: Dewey dan Kelas Demokratis: Konstruktivisme Viaget dan Vygotsky, Belajar Penemuan Bruner (Ibrahim dan Nur, 2004).