Pada saat Hari Pendidikan 2011 dirayakan, tepatnya 2 Mei 2011, oleh warga bangsa Indonesia, tamparan terhadap warna pendidikan sangat memerah dan memuakkan. Betapa tidak. Saat anak-anak Indonesia menikmati UN dan kenangan manis Ki Hajar Dewantara melalui Hari Pendidikan, tiba-tiba dengan tidak berdaya, para mahasiswa dan pelajar Indonesia dengan begitu mudahnya dicuci otaknya oleh sekelompok orang yang ingin menangguk untung.
Para mahasiswan itu begitu mudahnya ditipu daya dengan omongan, rayuan, dan pernyataan yang dibuat untuk masuk akal. Padahal, para maahasiswa itu sebelumnya, tentu, sudah mempunyai pertahanan pikiran dan mental sendiri yang justru lebih kuat. Pikiran dan mental itu telah diisikan oleh orang tua dan guru serta masyarakat. Namun, pikiran dan mental itu terkalahkan oleh rayuan gombal gerombolan NII. Betapa ringkihnya pikiran dan mental para mahasiswa.
Kondisi itu memberikan pertanda bahwa cuci otak orang tua dan guru tidak dapat berdaya tahan lama di memori mahasiswa. Bahkan, model pembelajran guru sebagai juga bentuk cuci otak hanya bersifat sesaat yang mudah lekang oleh waktu. Untuk itu, perlu kekuatan cuci otak (artikan dengan pembelajaran) dengan metode yang pas. Dengan demikian, mahasiswa tidak begitu mudah diombang-ambingkan pikirannya.
Minggu, 01 Mei 2011
Prinsip Dasar Problem Based Learning (PBL)
Beragam model pembelajaran yang berkembang saat ini,salah satunya adalah pembelajaran berdasarkan masalah atau problem based learning (PBL). Premis dasar PBL adalah belajar merupakan proses konstruksi pengetahuan baru yang berdasarkan pada pengetahuan terkini. Glaser (1991) menyebutkan bahwa belajar adalah proses yang konstruktif dan bukan penerimaan. Proses kognitif itu disebut juga metakognisi. Proses kognitif selalu mempengaruhi penggunaan pengetahuan, faktor-faktor sosial, dan kontekstual dalam pembelajaran.
Ada beberapa prinsip dalam PBL, yakni:
Prinsip 1. Belajar adalah proses konstruktif dan bukan penerimaan. Pembelajaran tradisional didominasi oleh pandangan bahwa belajar adalah penuangan pengetahuan kekepala pebelajar. Kepala pebelajar dipandang sebagai kotak kosong yang siap diisi melalui repetisi dan penerimaan. Pengajaran lebih diarahkan untuk penyimpanan informasi oleh pebelajar pada memorinya seperti menyimpan buku-buku di perpustakaan. Pemanggilan kembali informasi bergantung pada kualitas nomer panggil(call number) yang digunakan dalam mengklasifikasikan informasi. Namun, psikologi kognitif modern menyatakan bahwa memori merupakan struktur asosiatif. Pengetahuan disusun dalam jaringan antar konsep, mengacu pada jalinan semantik. Ketika belajar terjadi informasi baru digandengkan pada jaringan informasi yang telah ada. Jalinan semantik tidak hanya menyangkut bagaimana menyimpan informasi, tetapi juga bagaimana informasi itu diinterpretasikan dan dipanggil.
Prinip 2. Knowing About Knowing (metakognisi) Mempengaruhi Pembelajaran.
Prinsip kedua yang sangat penting adalah belajar adalah proses cepat, bila pebelajar mengajukan keterampilan-keterampilan self monitoring, secara umum mengacu pada metakognisi (Bruer, 1993 dalam Gijselaers, 1996). Metakognisi dipandang sebagai elemen esensial keterampilan belajar seperti setting tujuan (what am I going to do), strategi seleksi (how am I doing it?), dan evaluasi tujuan (did it work?). Keberhasilan pemecahan masalah tidak hanya bergantung pada pemilikan pengetahuan konten (body of knowledge), tetapi juga penggunaan metode pemecahan masalah untuk mencapai tujuan. Secara khusus keterampilan metokognitif meliputi kemampuan memonitor prilaku belajar diri sendiri, yakni menyadari bagaimana suatu masalah dianalisis dan apakah hasil pemecahan masalah masuk akal?
Prinsip 3. Faktor-faktor Kontekstual dan Sosial Mempengaruhi Pembelajaran. Prinsip ketiga ini adalah tentang penggunaan pengetahuan. Mengarahkan pebelajar untuk memiliki pengetahuan dan untuk mampu menerapkan proses pemecahan masalah merupakan tujuan yang sangat ambisius. Pembelajaran biasanya dimulai dengan penyampaian pengetahuan oleh pembelajar kepada pebelajar, kemudian disertai dengan pemberian tugas-tugas berupa masalah untuk meningkatkan penggunaan pengetahuan. Namun studi-studi menunjukkan bahwa pebelajar mengalami kesulitan serius dalam menggunakan pengetahuan ilmiah (Bruning et al, 1995). Studi juga menunjukkan bahwa pendidikantradisional tidak memfasilitasi peningkatan peman masalah-maslah fisika walaupun secara formal diajarkan teori fisika ( misalnya, Clement, 1990).
Jika tujuan pembelajaran adalah mengajarkan pebelajar untuk menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah dunia nyata, bagaimana seharusnya pembelajaran itu dilakukan? Mandl, Gruber, dan Renkl (1993) menyarankan empat cara yaitu: pengajaran harus diletakkan dalam konteks situasi pemecahan masalah kompleks dan bermakna; pengajaran harus dipusatkan pada pengajaran keterampilan metakognitif dan bilamana mengunakannya; pengetahuan dan keterampilan-keterampilan harus diajarkan dari perspektif yang berbeda dan diterapkan pada setiap situasi yang berbeda; belajar harus berlangsung dalam situasi kerjasama untuk mengkonfrotasikan keyakinan yang dipegang oleh masing-masing individu. Strategi ini dilandasi oleh dua model yang saling melengkapi cognitive apprenticeship dan anchored instruction. Kedua model ini menekankan bahwa pengajaran harus terjadi dalam kontek masalah dunia nyata atau parktek-praktek professional.
Faktor sosial juga mempengaruhi belajar individu. Glaser (1991) beralasan bahwa dalam kerja kelompok kecil pembelajar mengekspose pandangan alternatif adalah tantangan nyata untuk mengawali pemahaman. Dalam kelompok kecil pembelajar akan membangkitkan metode pemecahan masalah dan pengetahuan konseptual mereka. Mereka menyatakan ide-ide dan membagi tanggung jawab dalam memanage situasi masalah. Bruning, Schraw, dan Ronning (1995) menyatakan bahwa pengajaran sains sangat efektif bila hakikat sosial pembelajaran diterima dan digunakan untuk membantu pebelajar memperoleh peman ilmiah secara akurat.
Bertolak dari prisnip-prinsip pembelajaran di atas, pembelajaran berbasis masalah dapat ditelusuri melalui tiga aliran pemikiran pendidikan yaitu: Dewey dan Kelas Demokratis: Konstruktivisme Viaget dan Vygotsky, Belajar Penemuan Bruner (Ibrahim dan Nur, 2004).
Kamis, 28 April 2011
Menteri Pendidikan, Muh Nuh: Anak Bangsa ini Harus Diisi Mental Kebangsaan
Terkait dengan NII, Menteri pendidikan Muh. Nuh juga geram. Berikut ini wawancara wartawan dengan M Nuh di sela-sela acara Musyarawah Perencanaan Pembangunan Nasional 2012 di Gedung Bidakara, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (28/4/2011):
Terkait NII, Anda akan memanggil rektor-rektor?
Ada atau tidak ada urusan dengan NII atau hal-hal yang lain kita sudah punya
mekanisme pertemuan dengan pimpinan perguruan tinggi. Itu salah satu agenda yang menarik yang akan dibahas dalam pertemuan rektor ke depan ini yaitu membangun
karakter.
Jadi pada intinya, pembangunan karakter akan kecintaan terhadap negara yang berbasis pada kasih sayang dan toleransi. Diyakinkan bahwa di negara ini sudah ada empat pilarnya (Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika).
Ada kerjasama dengan Kementerian Agama?
Tentu itu juga merupakan bagian. Jadi kan ada materi-materi yang penanggungjawabnya
itu adalah Kementerian Agama yaitu pelajaran-pelajaran agama. Karena itu pada waktu rapat di Wapres, sepakat untuk melakukan revitalisasi pelajaran agama, bukan hanya agama Islam tetapi semua agama, itu coba dilakukan revitalisasi. Itu bukan hanya pengetahuan berbasis agama semata tetapi juga harus diterjemahkan dalam perilaku. Hal-hal yang sifatnya pemikiran, terutama yang radikal itu tidak bisa dilawan atau dicegah dengan yang bukan pemikiran. Jadi pemikiran itu harus dilawan dengan pemikiran.
Oleh karena itu, di kampus-kampus sudah saatnya dibuka ruang untuk berdiskusi secara
akademik, karena memang di kampus itu medianya akademik, keilmuan. Oleh karena itu, harus dibuka dialog. Dari dialog itulah kemudian muncul pemikiran-pemikiran yang lebih fresh. Sekarang ini kan seakan-akan kita dikejutkan, seakan-akan pemikiran yang empat pilar itu sudah selesai, tetapi tiba-tiba ada aliran yang sangat bertentangan dengan 4 pilar itu. Itu menunjukkan pentingnya ruang dialog. Sekarang kan tidak ada dialog-dialog tiba tiba mbledos (meletup).
Akan ada edaran di kampus-kampus untuk mengawasi NII?
Tidak harus dalam bentuk surat edaran tapi nanti di pidato saya pas tanggal 2
Mei (Hardiknas) yang besok itu sudah saya sampaikan, bukan hanya ke perguruan tinggi tetapi juga sekolah-sekolah untuk memberikan ruang aktivitas positif dan memberikan
perhatian yang lebih. Jadi saya kan sering mengibaratkan kalau kita punya lahan, itu kita biarkan kosong kan nanti bisa diisi macam-macam karena lahannya mengganggur.
Pemikiran juga begitu, anak-anak kan juga punya lahan pemikiran kalau nanti tidak diisi, tidak dijaga maka mesti ada yang mengisi, menjaga kelompok-kelompok 'liar'. Oleh karena itu, ini yang harus kita lakukan supaya kampus, sekolah membuka aktivitas yang lebih banyak termasuk ekstra-ekstra. Salah satu yang kita canangkan revitalisasi Pramuka. Pramuka itu jelas mengajarkan kesetiakawanan, kreativitas.
Sebagai Mendiknas, Anda melihat banyaknya generasi muda yang terpengaruh dengan aliran radikalisme sebagai gejala apa?
Satu yaitu gejala tentang lemahnya pemahaman prinsip-prinsip dasar bernegara. Seakan-akan negara itu pilarnya bisa diganti setiap saat tergantung siapa penduduknya padahal negara ini adalah suatu yang tempatnya sudah fixed. Yang boleh berubah-ubah yang dinamis itu isinya tapi bentuk wilayahnya itu sudah dengan 4 pilar itu.
Oleh karena itu, bentuk perdebatan seperti pada tahun 1980-an, perdebatan azas tunggal, itu diskusinya ramai sekali. Beberapa organisasi keagamaan telah menyampaikan bahwa itu sudah final, kalau debat tentang bentuk negara, falsafah hidupnya yang berkaitan dengan negara itu terus diperdebatkan, itu tidak akan selesai, kita tidak sempat mengisi.
Perdebatan itu sudah selesai 50 tahun yang lalu. Sekarang fasenya adalah fase mengisi, tetapi generasi ini kan ganti terus. Orang-orang tua dulu yang sepakat memang sudah sepakat tetapi generasi yang baru ini kan belum tentu sepakat. Karena itulah diperlukan satu diskusi yang bisa menumbuhkan pemikiran-pemikiran yang terkait dengan bentuk, falsafah negara, prinsip-prinsip negara. Tidak usah malu-malu, kalau itu memang ada perbedaan itu bisa diperdebatkan, bisa didiskusikan akademik.
Kalau tidak ada ranah diskusi secara akademik tahu-tahu penyimpangan-penyimpangan, nggak pakai ngomong, mbledos. Itu kan jauh lebih berbahaya. Oleh karena itu, sebelum terjadi, dibukalah ruang itu. Karena kampus itu kan basisnya keilmuan, menanamkan nilai-nilai kenegaraan.
Apakah maraknya pemikiran radikal di kampus itu sebagai bentuk kegagalan dari dunia pendidikan?
Saya tidak mengatakan apakah ini gagal atau tidak gagal. Karena urusan ini bukan urusan di dunia pendidikan tapi masyarakat keseluruhan. Sejak reformasi, istilah-istilah yang berkaitan dengan nilai-nilai kenegaraan kan jarang dibahas, seakan-akan sudah ditinggalkan. Oleh karena itu, sudah saatnya dengan fenomena yang sekarang ini kita harus waspada bahwa masih ada saudara-saudara kita yang menghendaki empat pilar itu coba diganti dengan pilar yang lain.
Itu yang harus dilakukan dan tidak boleh berhenti karena generasinya terus berganti.
Generasi dulu mungkin sudah paham tapi yang baru kan tidak paham lagi. Oleh karena itu, kita harus melakukan secara rutin.
Tadi malam saya rapat sampai pukul 23.00 WIB untuk melakukan review tentang pelajaran mulai dari PPKN, kewarganegaraan, dan seterusnya dalam rangka memantapkan isi dari prinsip-prinsip bernegara itu.
Konkretnya bagaimana? Apa perlu ditambah jamnya?
Belum perlu ditambah. Tapi pendekatannya harus lebih ditingkatkan. Lalu ada penambahan kegiatan-kegiatan yang lebih menumbuhkan kecintaan pada Tanah Air. Kegiatan di kemahasiswaan harus diisi, kalau tidak diisi orang.
Kalau pesantren bagaimana kurikulumnya?
Pesantren besar-besar sudah lama aman. Kalau di bawah naungan NU atau Muhammadiyah itu aman. Dulu NU, soal azas tunggal tentang pentingnya Pancasila. Fatwa dari muktamar NU sudah jelas. Sekarang ini kan trennya ada yang mencoba perdebatan untuk mengubah 4 pilar itu.
Ada pengawasan Al Zaytun?
Saya tidak tahu urusan yang sangat spesifik.(sumber: detikNews.com)
Terkait NII, Anda akan memanggil rektor-rektor?
Ada atau tidak ada urusan dengan NII atau hal-hal yang lain kita sudah punya
mekanisme pertemuan dengan pimpinan perguruan tinggi. Itu salah satu agenda yang menarik yang akan dibahas dalam pertemuan rektor ke depan ini yaitu membangun
karakter.
Jadi pada intinya, pembangunan karakter akan kecintaan terhadap negara yang berbasis pada kasih sayang dan toleransi. Diyakinkan bahwa di negara ini sudah ada empat pilarnya (Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika).
Ada kerjasama dengan Kementerian Agama?
Tentu itu juga merupakan bagian. Jadi kan ada materi-materi yang penanggungjawabnya
itu adalah Kementerian Agama yaitu pelajaran-pelajaran agama. Karena itu pada waktu rapat di Wapres, sepakat untuk melakukan revitalisasi pelajaran agama, bukan hanya agama Islam tetapi semua agama, itu coba dilakukan revitalisasi. Itu bukan hanya pengetahuan berbasis agama semata tetapi juga harus diterjemahkan dalam perilaku. Hal-hal yang sifatnya pemikiran, terutama yang radikal itu tidak bisa dilawan atau dicegah dengan yang bukan pemikiran. Jadi pemikiran itu harus dilawan dengan pemikiran.
Oleh karena itu, di kampus-kampus sudah saatnya dibuka ruang untuk berdiskusi secara
akademik, karena memang di kampus itu medianya akademik, keilmuan. Oleh karena itu, harus dibuka dialog. Dari dialog itulah kemudian muncul pemikiran-pemikiran yang lebih fresh. Sekarang ini kan seakan-akan kita dikejutkan, seakan-akan pemikiran yang empat pilar itu sudah selesai, tetapi tiba-tiba ada aliran yang sangat bertentangan dengan 4 pilar itu. Itu menunjukkan pentingnya ruang dialog. Sekarang kan tidak ada dialog-dialog tiba tiba mbledos (meletup).
Akan ada edaran di kampus-kampus untuk mengawasi NII?
Tidak harus dalam bentuk surat edaran tapi nanti di pidato saya pas tanggal 2
Mei (Hardiknas) yang besok itu sudah saya sampaikan, bukan hanya ke perguruan tinggi tetapi juga sekolah-sekolah untuk memberikan ruang aktivitas positif dan memberikan
perhatian yang lebih. Jadi saya kan sering mengibaratkan kalau kita punya lahan, itu kita biarkan kosong kan nanti bisa diisi macam-macam karena lahannya mengganggur.
Pemikiran juga begitu, anak-anak kan juga punya lahan pemikiran kalau nanti tidak diisi, tidak dijaga maka mesti ada yang mengisi, menjaga kelompok-kelompok 'liar'. Oleh karena itu, ini yang harus kita lakukan supaya kampus, sekolah membuka aktivitas yang lebih banyak termasuk ekstra-ekstra. Salah satu yang kita canangkan revitalisasi Pramuka. Pramuka itu jelas mengajarkan kesetiakawanan, kreativitas.
Sebagai Mendiknas, Anda melihat banyaknya generasi muda yang terpengaruh dengan aliran radikalisme sebagai gejala apa?
Satu yaitu gejala tentang lemahnya pemahaman prinsip-prinsip dasar bernegara. Seakan-akan negara itu pilarnya bisa diganti setiap saat tergantung siapa penduduknya padahal negara ini adalah suatu yang tempatnya sudah fixed. Yang boleh berubah-ubah yang dinamis itu isinya tapi bentuk wilayahnya itu sudah dengan 4 pilar itu.
Oleh karena itu, bentuk perdebatan seperti pada tahun 1980-an, perdebatan azas tunggal, itu diskusinya ramai sekali. Beberapa organisasi keagamaan telah menyampaikan bahwa itu sudah final, kalau debat tentang bentuk negara, falsafah hidupnya yang berkaitan dengan negara itu terus diperdebatkan, itu tidak akan selesai, kita tidak sempat mengisi.
Perdebatan itu sudah selesai 50 tahun yang lalu. Sekarang fasenya adalah fase mengisi, tetapi generasi ini kan ganti terus. Orang-orang tua dulu yang sepakat memang sudah sepakat tetapi generasi yang baru ini kan belum tentu sepakat. Karena itulah diperlukan satu diskusi yang bisa menumbuhkan pemikiran-pemikiran yang terkait dengan bentuk, falsafah negara, prinsip-prinsip negara. Tidak usah malu-malu, kalau itu memang ada perbedaan itu bisa diperdebatkan, bisa didiskusikan akademik.
Kalau tidak ada ranah diskusi secara akademik tahu-tahu penyimpangan-penyimpangan, nggak pakai ngomong, mbledos. Itu kan jauh lebih berbahaya. Oleh karena itu, sebelum terjadi, dibukalah ruang itu. Karena kampus itu kan basisnya keilmuan, menanamkan nilai-nilai kenegaraan.
Apakah maraknya pemikiran radikal di kampus itu sebagai bentuk kegagalan dari dunia pendidikan?
Saya tidak mengatakan apakah ini gagal atau tidak gagal. Karena urusan ini bukan urusan di dunia pendidikan tapi masyarakat keseluruhan. Sejak reformasi, istilah-istilah yang berkaitan dengan nilai-nilai kenegaraan kan jarang dibahas, seakan-akan sudah ditinggalkan. Oleh karena itu, sudah saatnya dengan fenomena yang sekarang ini kita harus waspada bahwa masih ada saudara-saudara kita yang menghendaki empat pilar itu coba diganti dengan pilar yang lain.
Itu yang harus dilakukan dan tidak boleh berhenti karena generasinya terus berganti.
Generasi dulu mungkin sudah paham tapi yang baru kan tidak paham lagi. Oleh karena itu, kita harus melakukan secara rutin.
Tadi malam saya rapat sampai pukul 23.00 WIB untuk melakukan review tentang pelajaran mulai dari PPKN, kewarganegaraan, dan seterusnya dalam rangka memantapkan isi dari prinsip-prinsip bernegara itu.
Konkretnya bagaimana? Apa perlu ditambah jamnya?
Belum perlu ditambah. Tapi pendekatannya harus lebih ditingkatkan. Lalu ada penambahan kegiatan-kegiatan yang lebih menumbuhkan kecintaan pada Tanah Air. Kegiatan di kemahasiswaan harus diisi, kalau tidak diisi orang.
Kalau pesantren bagaimana kurikulumnya?
Pesantren besar-besar sudah lama aman. Kalau di bawah naungan NU atau Muhammadiyah itu aman. Dulu NU, soal azas tunggal tentang pentingnya Pancasila. Fatwa dari muktamar NU sudah jelas. Sekarang ini kan trennya ada yang mencoba perdebatan untuk mengubah 4 pilar itu.
Ada pengawasan Al Zaytun?
Saya tidak tahu urusan yang sangat spesifik.(sumber: detikNews.com)
Rabu, 27 April 2011
NII Perusak Bangsa Indonesia, Inilah Modusnya (1)
Modus perekrutan yang digunakan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) pada umumnya menyasar mahasiswa-mahasiswa baru untuk bergabung. Hal ini ditunjukkan pula oleh testimoni sejumlah alumni dan mahasiswa Universitas Indonesia yang disampaikan kepada Kompas.com. Mereka mengaku pernah dibujuk untuk menjadi anggota, saat baru menjejak bangku kuliah. Ada yang hanya sebatas diajak berdiskusi hingga dibaiat. Seperti yang dialami lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, sebut saja Andi. Pada tahun 2006, saat ia baru memasuki dunia perkuliahan, Andi sempat menjadi korban NII. Bahkan ia sempat dibaiat dan berganti namanya.
Sayangnya Andi tidak ingat lagi kalimat baiat apa yang dimaksud. Ia menuturkan, perkenalannya dengan NII berawal dari ajakan seorang teman yang baru dikenalnya. Teman wanita yang baru dikenal Andi itu mengenalkannya dengan teman lelaki si wanita yang mengaku butuh bantuan untuk seminar penelitian."Saat dibaiat, disuruh pakai baju putih celana hitam, di hadapan jenderal-jenderalnya, ditunjukin kata-kata gitu," ungkap Andi, Selasa (26/4/2011).
"Akhirnya kita bertiga ketemuan, diajak ngobrol, berkenalan di tempat makan di Cilandak Town Square," ujarnya.
Namun, pada pertemuan tersebut, si teman lelaki, sebut saja bernama Rudi, tidak membahas soal seminar yang dijadikan dalih pertemuan. Rudi, tutur Andi, malah mengajaknya berdiskusi tentang agama, ibadah dengan merujuk pada kitab suci Al Qur'an yang dibawanya. "Kalau orang masih awam, akan iya-iya saja, manggut-manggut saja dengar ceritanya," kata Andi.
Lelaki itu, lanjutnya, menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan Andi di Indonesia selama ini tidak sah. Karena, menurutnya, Indonesia adalah tempat yang kotor untuk beribadah. "Indonesia kotor, banyak korupsinya, lingkungannya enggak sehat, macam-macam, pokoknya jelek-jelekin Indonesia," kisah Andi.
Lantas, lelaki itu menyarankan Andi untuk berpindah ke negara yang bersih, yakni Negara Islam Indonesia agar ibadahnya sah. "Nah, dia bilang, kalau mau ibadah, ada di NII, itu jelas, bersih, sah ibadahnya," tutur Andi.
Mendengar hal itu, Andi mulai merasakan kejanggalan. Namun, rasa penasarannya menuntun Andi untuk melanjutkan diskusi hingga pertemuan berikutnya. Selang beberapa hari, Andi, Rudi, dan seorang lelaki lain yang menurut Andi adalah supervisornya Rudi, mengadakan pertemuan di sebuah tempat makan. Kali ini, lokasinya di sebuah mall di kawasan Lebak Bulus. Pembicaraan dalam pertemuan tersebut, kata Andi, pada intinya sama seperti sebelumnya. Hanya saja, lelaki yang menjadi supervisor Rudi itu lebih meyakinkan Andi untuk hijrah dari NKRI ke NII.
"Di sana digodok lagi, seperti usaha sampai korbannya enggak sadar," ucap Andi.
Masih merasa penasaran, Andi setuju untuk mengikuti pertemuan selanjutnya dan berjumpa dengan orang yang disebut komandan NII. Kemudian, ia diminta menunggu giliran untuk bertemu. "Katanya kalau mau hijrah, nunggu giliran, nunggu kloter," ungkapnya.
Ketika ada kloter yang kosong, Rudi menghubungi Andi. "Ya sudah, akhirnya saya bareng kloter yang dekat rumah saya, Ciledug," tuturnya.
Andi pun menuju tempat baiat dengan terlebih dahulu berjanji bertemu dengan Rudi di sebuah tempat di kawasan Ciledug. Di tempat itu, Rudi dan lima kawannya telah menunggu dengan mengendarai mobil. "Akhirnya saya masuk dalam mobil," ucap Andi.
Di dalam mobil, lanjutnya, sudah ada 10 orang calon anggota lain yang siap dibaiat. "Semuanya laki-laki," katanya.
Sekitar pukul 21.00, mereka berangkat menuju lokasi Baiat. Andi menuturkan, dalam perjalanan, ia dipesankan untuk menutup mata ketika ada perintah. "Nanti kalau sudah dekat tempatnya, merem (memejamkan mata) ya," ujarnya menirukan Rudi.
Namun, Andi tidak menutup mata saat diperintah. Ia kemudian melihat bahwa rombongan menuju sebuah rumah yang masih berada di kawasan Ciledug. Sesampainya di sebuah rumah itu, semua calon anggota diperintahkan untuk shalat kemudian tidur. Menjelang tengah malam, tutur Andi, mereka dibangunkan untuk bertemu dengan petinggi NII.
"Di situ kembali diyakinkan," ucap Andi.
Setelah itu, mereka kembali diperintahkan untuk tidur. Kemudian, Andi dibangunkan kembali dari tidurnya untuk mengikuti proses penggantian nama. "Namanya dipilihin tapi saya lupa namanya. Terus tidur lagi, besok Subuh bangun, dan berangkat lagi," lanjutnya.
Keesokan harinya, Andi bersama 10 orang calon anggota NII lainnya diberangkatkan ke tempat lain. Di tempat itu, kata Andi, mereka akan dipertemukan dengan komandan NII dan dibaiat. "Ke daerah yang agak jauhan tapi saya tahu itu masih di Wilayah Ciledug," katanya.
Di tempat kedua yang juga merupakan rumah kontrakan itu, Andi diperintahkan memakai baju putih dan celana hitam, kemudian dibawa ke ruangan komandan NII. Memasuki ruangan, kata Andi, ia bertemu dengan lima orang komandan NII yang duduk berjajar seperti panelis. Kelima orang itu, menurut Andi, berpakaian biasa saja. Tidak mengenakan peci atau atribut apapun. Selanjutnya, di dalam ruangan itu, Andi beserta 10 orang calon anggota NII lainnya kembali dijelaskan tentang NII dan diyakinkan.
"Di-brain wash lagi ramai-ramai, lebih detil omongannya. Makan siang, sholat, terus dibaiat," ungkapnya.
NII Perusak Bangsa Indonesia, Inilah Modusnya (2)
Bermula dari perkenalannya dengan Rudi yang mengajak berdiskusi tentang sebuah seminar, Andi pun diajak untuk mengenali ajaran sebuah kelompok, Negara Islam Indonesia. Suatu malam, ia diajak ke suatu tempat dan menjalani prosesi pembaiatan. Kelompok Negara Islam Indonesia memang memberlakukan sumpah setia atau baiat kepada para calon anggotanya. Seperti yang dituturkan Andi (nama samaran), alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, yang sempat dibaiat NII saat memasuki tahun pertama kuliah sekitar tahun 2006. Namun, Andi tidak terjerumus hingga menjadi anggota NII karena menilai adanya kejanggalan pada ajaran-ajaran NII. Apa saja ajaran yang dinilainya janggal?
"Pokoknya di sini (di NII) hidup terjamin, selalu dapat uang," kata Andi kepada Kompas.com, Selasa (26/4/2011).Menurut Andi, di setiap kesempatan, anggota NII yang berupaya merekrutnya menjanjikan keuntungan-keuntungan materi kepadanya. Ia dijanjikan akan mendapatkan penghasilan tanpa harus bekerja dan segala kebutuhan hidupnya akan terjamin.
Lebih anehnya lagi, kata Andi, NII mengajarkan anggotanya untuk tidak perlu melaksanakan ibadah shalat lima waktu. Menurut ajaran NII, shalat hanya dilakukan dua waktu. "Shalat besar dan shalat kecil," kata Andi.
Akan tetapi, ia mengaku lupa mengenai apa yang dimaksud dengan shalat besar dan shalat kecil. Seingatnya, yang dimaksud shalat kecil adalah mengajak orang lain untuk bergabung. "Mengajak orang masuk NII itu ibadah," ucapnya.
Lalu, jika anggota NII melakukan dosa, kata Andi, cukup dibayar dengan sejumlah uang. Setelah membayar, dosa-dosanya diyakini akan hilang. "Itu tidak masuk akal," ucap Andi.
Lainnya, setiap anggota NII, menurut Andi, diwajibkan membayar iuran kepada negara. Untuk mencari uang, dihalalkan cara apa pun, termasuk mencuri. "Terus, uangnya dimasukin ke kas negara untuk membiayai negara," tuturnya.
Menurut Andi, tiap anggota dijanjikan akan mendapat bagian dari uang yang disetorkannya. Andi lupa berapa persen bagian yang akan didapatkan seorang anggota dari setoran yang dimasukkan. Setoran kepada negara tersebut, lanjut Andi, mulai dibayarkan di awal menjadi anggota. Setelah dibaiat, Andi mengaku dimintai iuran berkisar Rp 400.000-Rp 500.000. Iuran-iuran tersebut disetorkan kepada seseorang yang berwenang, tidak melalui transfer rekening.
Mengetahui adanya sejumlah iuran yang harus dibayarkan, Andi mengaku tidak memiliki uang untuk itu. Namun, Rudi, orang yang merekrutnya, kemudian membujuk dengan menawarkan diri untuk membayarkan sementara kewajiban Andi.
"Mereka pintar, mereka bilang, 'Gw bayarin dulu, asal lo yakin'," kata Andi menirukan ucapan Rudi saat itu.
Berusaha lepas dari bujukan Rudi, Andi berkilah bahwa ia merasa tidak yakin dengan ajaran NII. Menanggapinya, lagi-lagi Rudi mengerahkan kemampuan komunikasinya untuk meyakinkan Andi. "Kalau masalah enggak yakin, kamu lihat saja dulu, masalah yakin enggak yakin belakangan," kata Andi menirukan Rudi.
Pascabaiat, Andi pulang ke rumah. Ia menuturkan, karena merasa ragu dengan ajaran NII, Andi kemudian membaca-baca Al Quran lengkap dengan terjemahan yang ada di rumahnya. Dari situlah Andi sadar bahwa ayat-ayat Al Quran yang disampaikan anggota NII kepadanya telah ditafsirkan secara berbeda.
"Saya baca ayatnya, ternyata penafsirannya beda, pintar banget dia (orang NII), pakai ayat Al Quran," ungkapnya.
Selanjutnya, Andi semakin yakin untuk meninggalkan NII ketika mendengar nasihat temannya. "Kata teman saya, cara orang menyembah Tuhan berbeda-beda. Enggak perlu sampai pindah negara segala," tuturnya.
Apalagi, setelah Andi mengikuti seminar tentang NII yang kebetulan digelar di kampus tidak lama setelah ia dibaiat. Andi juga menceritakan, meskipun tidak merasa yakin dengan NII, ia tidak dilepaskan begitu saja. Pasca-dibaiat, anggota NII terus berupaya menghubunginya. Anggota NII juga sempat mendatanginya ke kampus.
"Dari awal dia ngancem sih, kalau keluar bakal kena musibah besar. Namun, buktinya sampai sekarang saya enggak kenapa-kenapa," ungkapnya.
Andi pun memilih untuk mengganti nomor ponselnya demi menghindari "gangguan" para anggota NII. "Dua minggu kemudian, sudah enggak dihubungi lagi," katanya.
Meskipun demikian, setelah dibaiat, Andi mengaku sempat diperkenalkan dengan anggota NII lainnya yang sekampus dengannya. "Ternyata di UI banyak, di bawah tanah, enggak keliatan, ada anak Komunikasi 2005 juga, anak FISIP, dan anak FIB," ungkapnya.
Bahkan, ada seorang anggota NII yang merupakan senior Andi, sejurusan dengan Andi di Departemen Ilmu Komunikasi. Andi juga mengungkapkan, menurut para anggota NII yang sempat dikenalnya, saat itu Presiden NII adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi UI.
NII Perusak Bangsa Indonesia, Inilah Modusnya (3)
Kelompok Negara Islam Indonesia (NII) selalu menyasar para mahasiswa yang baru memasuki jenjang perkuliahan. Modus perekrutannya juga sama, dengan menawarkan korban menjadi responden penelitian. Setidaknya, hal itu diungkapkan korban perekrutan NII, seperti dituturkan Sulaiman (24). Ia pernah dua kali direkrut, yakni pada tahun pertama dan tahun terakhir ia berkuliah di Universitas Indonesia.
Ia menuturkan, pada perekrutan pertama, Sulaiman dimintai tolong oleh teman SMA-nya untuk mengisi kuesioner penelitian. Kemudian, mereka bertemu di sebuah mushala. Anehnya, kata Sulaiman, temannya itu tidak membahas soal kuesioner sama sekali. "Diangakunya lupa bawa lembar survei," ucapnya."Modusnya dua-duanya sama. Minta tolong isi kuesioner survei," kata Sulaiman ketika dihubungiKompas.com, Selasa (26/4/2011) malam.
Temannya itu malah mengajak Sulaiman berdiskusi tentang Pancasila. "Dia tanya menurut saya Pancasila sah gak sih. Saya jawab, menurut saya sah, " ujarnya.
Selanjutnya, sang teman memperkenalkan Sulaiman dengan seorang temannya. Menurut teman SMA Sulaiman, seseorang yang diperkenalkan itu akan mempresentasikan hasil seminar yang didapatnya di Singapura tentang Pancasila. "Terus, temannya itu datang ke masjid, bawa laptop, dia presentasi," lanjut Sulaiman.
Dalam presentasinya, lelaki teman dari teman SMA Sulaiman itu menggunakan dalil-dalil Al Quran. Untungnya, kata Sulaiman, ia juga membaca ayat Al Quran yang sama. Merasa tidak sependapat dengan penafsiran lelaki itu, Sulaiman mendebatnya. Hingga akhirnya, saat baru mempresentasikan beberapa slide, lelaki itu pergi.
"Tiba-tiba dia pura-pura terima telepon, pergi, alasannya bokapnya minta dijemput. Teman SMA saya juga pergi," tambahnya.
Belakangan, Sulaiman tahu bahwa teman SMA-nya tersebut dikabarkan telah bergabung dengan NII. Lebih jauh Sulaiman menceritakan, pada perekrutan kedua, sekitar tahun 2008, ia juga diminta mengisi kuesioner oleh orang yang baru dikenalnya. Orang itu mengaku mahasiswa Fakultas Psikologi UI. Karena memiliki pengalaman serupa, Sulaiman lebih waspada.
"Tetapi yang ini lebih ilmiah, ada surveinya, ada kuesionernya. Saya curiga ini NII, tapi saya terusin, pengen tahu saja," tuturnya.
Orang yang mengaku mahasiswa psikologi itu menanyakan pertanyaan di luar kuesioner, misalnya apakah ia sering mengikuti pengajian, aktif di organisasi Islam atau tidak, dan apakah memiliki saudara TNI atau polisi.
"Pertanyaannya sama dengan yang disampaikan di seminar tentang NII," tambahnya.
Seusai pertemuan, orang tersebut berusaha mengajak Sulaiman bertemu, namun selalu ditolaknya. Dan akhirnya orang tersebut tak menghubunginya lagi.
Pengalaman senada dituturkan Bayu, mahasiswa Vokasi Kehumasan Universitas Indonesia. Pada 2008, saat baru memasuki bangku perkuliahan, Bayu dikenalkan kepada seorang perempuan bernama Tania oleh teman satu jurusan. Tania mengaku sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi UI yang sedang menyusun skripsi. Kemudian, saat pertemuan, Tania sama sekali tidak membahas skripsinya. "Malahngobrol tentang Indonesia seperti apa," ujar Bayu, Rabu (27/4/2011).
Selanjutnya, Tania mengenalkan Bayu kepada teman lelakinya yang kemudian menjelaskan kepada Bayu lebih rinci tentang konsep hijrah yang merujuk pada ayat-ayat Al Quran. "Sampai akhirnya saya diajak bertemu di tempat dia (laki-laki) itu, di rumah kontrakan," lanjutnya.
Untungnya, kata Bayu, pada akhirnya ia tidak terjerumus ke dalam NII karena merasa tidak yakin. "Orang itu enggak bisa jelasin maunya apa. Saya gebrak meja, saya tanya maunya apa, terus dia bilang mau pertemukan saya sama kepala negara NII. Tapi sampai sekarang enggak muncul lagi," papar Bayu. (sumber: Kompas.com)
Kuasai Passing Grade untuk Mempermudah Masuk Perguruan Tinggi
Jika ingin lolos ke perguruan tinggi yang didam-idamkan dengan mulus, kajilah passing grade jurusan yang akan dimasuki. Semakin kita paham tentang PG itu, tentu akan semakin mudah mencpai cita-cita.
Maksudnya, sebelum mengikuti tes masuk perguruan tinggi, cobalah tes diri untuk mengetahui kemampuan diri untuk melihat PG diri. Setelah itu dicocokkan dengan PG yang ada sesuai informasi PG jurusan. Logikanya, jika PG diri lebih tinggi dengan PG jurusan, dapat dipastikan Anda lolos ke pertin.
Berikut ini adalah 100 urutan teratas dari passing grade tertinggi di universitas negeri yang ada di Indonesia untuk SPMB dan SNMPTN 2009/2010. Tersedia untuk jurusan IPA dan IPS. Indikator dalam passing grade adalah persen, semakin tinggi persennya maka semakin banyak soal yang harus dijawab benar oleh peserta.
ini hanya sekedar gambaran dan bahan rujukan saja , karena pasti akan ada hal dan pertimbangan lain , seperti Di ITB itu penjurusan dilakukan pada tahun kedua (tahun pertama masih di Fakultas) jadi tidak akan ada di buku SNMPTN pilihan jurusan Teknik informatika atau Teknik elektro tapi STEI (Sekolah Tinggi Elektronika dan Informatika).
ITB mempunyai Fakultas sekarang, jadi kalo T.Informatika dan T elektro itu digabung didalam STEI(Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika) Jurusannya ada 5
1. T Informatika (IF)
2. T Elekfro (EL)
3. T Tenaga Listrik /Elektro Power (EP)
4. T Telekomunikasi /Elektro Telkom (ET)
5. T Sistem Teknologi dan Informasi (STI)
TOP 100 PASSING GRADE TERTINGGI JURUSAN IPA
1. Teknik Informatika – ITB (65,9%)
1 Teknik Elektro – ITB (62,5%)
2 Teknik Kimia – ITB (61,8%)
3 Pendidikan Dokter – UI (59,8%)
4 Teknik Informatika – ITS (59,5%)
5 Pendidikan Dokter – UGM (59,3%)
6 Teknik Industri – ITB (58,8%)
7 Teknik Elektro – UI (58,6%)
8 Pendidikan Dokter – UNAIR (58,6%)
9 Farmasi – UI (58,4%)
10 Pendidikan Dokter – UNPAD (58%)
11 Teknik Elektro – ITS (57,7%)
13 Pendidikan Dokter – UNDIP (57,5%)
14 Teknik Kimia/TGP – UI (57,4%)
15 Farmasi – ITB (57,4%)
16 Teknik Elektro – UGM (57,4%)
17 Teknik kimia – ITS (56,6%)
18 Ilmu Komputer – UGM (56,5%)
19 Pendidikan Dokter – UNSRI (56,5%)
20 Teknik Perminyakan – ITB (55,2%)
21 Teknik Fisika – ITB (55,1%)
22 Pendidikan Dokter – UNBRAW (55,1%)
23 Teknik Lingkungan – ITB (54,8%)
24 Teknik Kimia – UGM (54,8%)
25 Matematika – ITB (54,6%)
26 Teknik Pertambangan – ITB (54,2%)
27 Teknik Elektro – UNDIP (54,1%)
28 Teknik Industri – UI (54%)
29 Teknik Industri – ITS (53,8%)
30 Farmasi – UNAIR (53,8%)
31 Teknik Mesin – ITB (53,4%)
32 Teknik Penerbangan – ITB (52,9%)
33 Teknik Industri – UNDIP (52,9%)
34 Teknik Elektro – UNBRAW (52,9%
35 Ilmu Komputer – UI (52,8%)
36 Teknik Lingkungan – ITS (52,4%)
37 Pendidikan Dokter – USU (52,1%)
38 Teknik Mesin – UI (52%)
40 Farmasi – UNPAD (51,5%)
41 Teknik Mesin – ITS (51,5%)
42 Arsitektur – UGM (51,4%)
43 Teknik Mesin – UGM (51,4%)
44 Pendidikan Dokter Gigi – UI (51,2%)
45 Pendidikan Dokter – UNAND (50,6%)
46 Arsitektur – ITB (50,3%)
47 Teknik Planologi – ITB (50,1%)
48 Pendidikan Dokter Gigi – UGM (50%)
49 Pendidikan Dokter – UNHAS (50%)
51 Teknik Material – ITB (49,2%)
52 Arsitektur – UNDIP (49,2%)
53 Kimia – ITB (49,1%)
54 Pendidikan Dokter Gigi – UNAIR (49%)
55 Teknik Sipil – ITB (48,7)
56 Teknik Elektro – UNUD (48,5%)
58 Biologi – ITB (47,8%)
59 Teknik Geologi – ITB (47,8%)
60 Pendidikan Dokter Gigi – UNPAD (47,8%)
61 Teknik Mesin – UNDIP (47,8%)
62 Psikologi – UNPAD (47,7%)
63 Teknik Metalurgi dan Material – UI (47,4%)
64 Sistem Informasi – ITS (47,4%)
65 Arsitektur – UI (47,2%)
66 Statistika – UNPAD (47,2%)
67 Biologi – UGM (47,2%)
68 Arsitektur – UNBRAW (47,1%)
TOP 100 PASSING GRADE TERTINGGI JURUSAN IPS Tahun 2008
1. Akuntansi – UI (63,9%)
2 Ilmu Hubungan Internasional – UI (63,1%)
3 Akuntansi – UGM (62,1%)
4 Akuntansi – UNPAD (61,2%)
5 Manajemen – UI (61%)
6 Psikologi – UI (60,6%)
7 Ilmu Komunikasi – UNPAD (59,4%)
8 Psikologi – UGM (58,7%)
9 Ilmu Hubungan Internasional – UGM (58,5%)
10 Ilmu Komunikasi – UI (58,3%)
11 Ilmu Hubungan Internasional – UNPAD (58,1%)
12 Manajemen – UGM (57,9%)
13 Akuntansi – UNAIR (57,5%)
14 Ilmu Komunikasi – UGM (57,4%)
15 Ilmu Komunikasi – UNAIR (57,4%)
16 Akuntansi – UNBRAW (57,3%)
17 Sastra Inggris – UGM (56,6%)
18 Ekonomi Pembangunan – UI (56,4%)
19 Psikologi – UNAIR (56,4%)
20 Ilmu Hukum – UI (56,2%)
21 Manajemen – UNAIR (56%)
22 Eko. dan Studi Pembangunan – UGM (55,6%)
23 Akuntansi – UNDIP (55,2%)
24 Manajemen – UNPAD (55,1%)
25 Manajemen – UNBRAW (54,5%)
26 Ekonomi Pembangunan – UNPAD (54,2%)
27 Ilmu Hukum – UGM (54,1%)
28 Manajemen – Univ. 11 Maret Solo (53,9%)
29 Sastra Inggris – UI (53,8%)
30 Ilmu Administrasi Niaga – UI (52,9%)
31 Ilmu Administrasi Niaga – UNPAD (52,2%)
32 Manajemen – USU (52,1%)
33 Ilmu Komunikasi – UNDIP (51,6%)
34 Manajemen – UNDIP (51,5%)
35 Ilmu Hukum – UNPAD (51,4%)
36 Ekonomi Pembangunan – UNAIR (51,1%)
37 Ilmu Hukum – UNAIR (50,7%)
38 Ilmu Administrasi Negara – UGM (50,5%)
39 Ilmu Pemerintahan – UGM (50,4%)
40 Sastra Perancis – UI (50,1%)
41 Sastra Jepang – UGM (50%)
42 Manajemen – UNS (49,9%)
43 Kriminologi – UI (49,6%)
44 Ekonomi Pembangunan – USU (49,5%)
45 Ilmu Administrasi Publik – UNBRAW (49,3%)
46 Ilmu Administrasi Negara – UI (49%)
47 Ilmu Hukum – UNDIP (48,8%)
48 Akuntansi – UNHAS (48,6%)
49 Ilmu Administrasi Negara – UNAIR (48,5%)
50 Ilmu Pemerintahan – UNDIP (48,3%)
51 Ilmu Hukum – UNBRAW (48,3%)
52 Ilmu Hukum – USU (48,2%)
53 Akuntansi – UNSRI (48,1%)
54 Ilmu Hubungan Internasional – UNAIR (47,9%)
55 Manajemen – UNAND (47,9%)
56 Ilmu Politik – UI (47,8%)
57 Sastra Cina – UI (47,8%)
58 Ilmu Hukum – UNSRI (47,7%)
59 Ilmu Komunikasi – UNILA (47,7%)
60 Ilmu Administrasi Negara – UNPAD (47,4%)
61 Sastra Perancis – UGM (47,1%)
62 Akuntansi – Univ. 11 Maret Solo (46,9%)
63 Sastra Rusia – UI (46,7%
64 Sastra Inggris – USU (46,6%)
65 Ilmu Administrasi Fiskal – UI (46,6%)
66 Ilmu Filsafat – UI (46,6%)
67 Manajemen – Univ. Negeri Semarang (46,6%)
68 Akuntansi – USU (46,5%)
69 Sastra Jerman – UI (46,4%)
70 Manajemen – UNHAS (46,4%)
71 Ilmu Hukum – UNAND (46,2%)
72 Ekonomi Pembangunan – UNILA (46,1%)
73 Sastra Inggris – UNPAD (46%)
74 Ilmu Hubungan Internasional – UNHAS (46%)
75 Sastra Inggris – UNAIR (45,8%)
76 Desain Komunikasi Visual – Univ. 11 Maret Solo (45,7%)
77 Sastra Inggris – UNHAS (45,6%)
78 Ilmu Kesejahteraan Sosial – UI (44,9%)
79 Arkeologi – UI (44,7%)
80 Ilmu Hukum – UNSRI (44,7%)
81 Ilmu Administrasi Bisinis – UNBRAW (44,7%)
82 Sosiologi – UI (44,5%)
83 Ilmu Pemerintahan – UNHAS (44,2%)
84 Ekonomi Pembangunan – UNDIP (44%)
85 Ilmu Hukum – UNHAS (44%)
86 Sastra Arab – UI (43,8%)
87 Ilmu Administrasi Negara – Univ. 11 Maret Solo (43,5%)
88 Ilmu Sejarah – UI (43,2%)
89 Desain Interior – Univ. 11 Maret Solo (43,2%)
90 Manajemen – UNUD (43,2%)
91 Ekonomi Pembangunan – UNBRAW (43,1%)
92 Ilmu Pemerintahan – UNPAD (43%)
93 Ilmu Administrasi Niaga – UNDIP (43%)
94 Pend. B. Inggris – UNSRI(42,9%)
95 Ilmu Administrasi Negara – USU (42,7%)
96 Ilmu Administrasi Niaga – UNILA (42,6%)
97 Ekonomi Pembangunan – UNHAS (42,6%)
98 Sastra Inggris – UNBRAW (42,3%)
99 Antropologi Sosial – UI (42%)
100 Akuntansi – UNUD (41,9%) PASSING GRADE TERTINGGI IPA VERSI LAINNYA :
Passing Grade Regional III
Arsitektur I T S 42.77 IPA
Biologi I T S 31.5 IPA
Desain Produk Industri I T S 33.22 IPA
Fisika I T S 35.69 IPA
Kimia I T S 34.16 IPA
Matematika I T S 36.11 IPA
Statistika I T S 38.91 IPA
Teknik Elektro I T S 49.13 IPA
Teknik Fisika I T S 40.19 IPA
Teknik Geodesi I T S 38.16 IPA
Teknik Industri I T S 48.22 IPA
Teknik Informatika I T S 49.94 IPA
Teknik Kelautan I T S 42.47 IPA
Teknik Kimia I T S 48.80 IPA
Teknik Lingkungan I T S 39 IPA
Teknik Material I T S 35.16 IPA
Teknik Mesin I T S 44.27 IPA
Teknik Perkapalan I T S 47.36 IPA
Teknik Sipil I T S 45.33 IPA
Teknik Sistem Perkapalan I T S 43.47 IPA
PASSING GRADE TERTINGGI IPS VERSI LAINNYA
Antropologi Sosial UNAIR 32.28 IPS
Biologi UNAIR 31.80 IPA
Ekonomi Akuntansi UNAIR 46.81 IPS
Ekonomi Manajemen UNAIR 44.40 IPS
Ekonomi Pembangunan UNAIR 42.87 IPS
Farmasi UNAIR 37.02 IPA
Fisika UNAIR 32.22 IPA
Ilmu Administrasi Negara UNAIR 40.31 IPS
Ilmu Hubungan Internasional UNAIR 43.21 IPS
Ilmu Hukum UNAIR 39.5 IPS
Ilmu Komunikasi UNAIR 41.75 IPS
Ilmu Politik UNAIR 34.75 IPS
Ilmu Sejarah UNAIR 31.71 IPS
Kedokteran Hewan UNAIR 36.25 IPA
Kesehatan Masyarakat UNAIR 35.69 IPA
Kimia UNAIR 32.30 IPA
Matematika UNAIR 33.66 IPA
Pendidikan Dokter UNAIR 43.81 IPA
Pendidikan Dokter Gigi UNAIR 37.97 IPA
Psikologi UNAIR 39.62 IPS
Sastra Indonesia UNAIR 31.03 IPS
Sastra Inggris UNAIR 31.18 IPS
Sosiologi UNAIR 32.12 IPS
Maksudnya, sebelum mengikuti tes masuk perguruan tinggi, cobalah tes diri untuk mengetahui kemampuan diri untuk melihat PG diri. Setelah itu dicocokkan dengan PG yang ada sesuai informasi PG jurusan. Logikanya, jika PG diri lebih tinggi dengan PG jurusan, dapat dipastikan Anda lolos ke pertin.
Berikut ini adalah 100 urutan teratas dari passing grade tertinggi di universitas negeri yang ada di Indonesia untuk SPMB dan SNMPTN 2009/2010. Tersedia untuk jurusan IPA dan IPS. Indikator dalam passing grade adalah persen, semakin tinggi persennya maka semakin banyak soal yang harus dijawab benar oleh peserta.
ini hanya sekedar gambaran dan bahan rujukan saja , karena pasti akan ada hal dan pertimbangan lain , seperti Di ITB itu penjurusan dilakukan pada tahun kedua (tahun pertama masih di Fakultas) jadi tidak akan ada di buku SNMPTN pilihan jurusan Teknik informatika atau Teknik elektro tapi STEI (Sekolah Tinggi Elektronika dan Informatika).
ITB mempunyai Fakultas sekarang, jadi kalo T.Informatika dan T elektro itu digabung didalam STEI(Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika) Jurusannya ada 5
1. T Informatika (IF)
2. T Elekfro (EL)
3. T Tenaga Listrik /Elektro Power (EP)
4. T Telekomunikasi /Elektro Telkom (ET)
5. T Sistem Teknologi dan Informasi (STI)
TOP 100 PASSING GRADE TERTINGGI JURUSAN IPA
1. Teknik Informatika – ITB (65,9%)
1 Teknik Elektro – ITB (62,5%)
2 Teknik Kimia – ITB (61,8%)
3 Pendidikan Dokter – UI (59,8%)
4 Teknik Informatika – ITS (59,5%)
5 Pendidikan Dokter – UGM (59,3%)
6 Teknik Industri – ITB (58,8%)
7 Teknik Elektro – UI (58,6%)
8 Pendidikan Dokter – UNAIR (58,6%)
9 Farmasi – UI (58,4%)
10 Pendidikan Dokter – UNPAD (58%)
11 Teknik Elektro – ITS (57,7%)
13 Pendidikan Dokter – UNDIP (57,5%)
14 Teknik Kimia/TGP – UI (57,4%)
15 Farmasi – ITB (57,4%)
16 Teknik Elektro – UGM (57,4%)
17 Teknik kimia – ITS (56,6%)
18 Ilmu Komputer – UGM (56,5%)
19 Pendidikan Dokter – UNSRI (56,5%)
20 Teknik Perminyakan – ITB (55,2%)
21 Teknik Fisika – ITB (55,1%)
22 Pendidikan Dokter – UNBRAW (55,1%)
23 Teknik Lingkungan – ITB (54,8%)
24 Teknik Kimia – UGM (54,8%)
25 Matematika – ITB (54,6%)
26 Teknik Pertambangan – ITB (54,2%)
27 Teknik Elektro – UNDIP (54,1%)
28 Teknik Industri – UI (54%)
29 Teknik Industri – ITS (53,8%)
30 Farmasi – UNAIR (53,8%)
31 Teknik Mesin – ITB (53,4%)
32 Teknik Penerbangan – ITB (52,9%)
33 Teknik Industri – UNDIP (52,9%)
34 Teknik Elektro – UNBRAW (52,9%
35 Ilmu Komputer – UI (52,8%)
36 Teknik Lingkungan – ITS (52,4%)
37 Pendidikan Dokter – USU (52,1%)
38 Teknik Mesin – UI (52%)
40 Farmasi – UNPAD (51,5%)
41 Teknik Mesin – ITS (51,5%)
42 Arsitektur – UGM (51,4%)
43 Teknik Mesin – UGM (51,4%)
44 Pendidikan Dokter Gigi – UI (51,2%)
45 Pendidikan Dokter – UNAND (50,6%)
46 Arsitektur – ITB (50,3%)
47 Teknik Planologi – ITB (50,1%)
48 Pendidikan Dokter Gigi – UGM (50%)
49 Pendidikan Dokter – UNHAS (50%)
51 Teknik Material – ITB (49,2%)
52 Arsitektur – UNDIP (49,2%)
53 Kimia – ITB (49,1%)
54 Pendidikan Dokter Gigi – UNAIR (49%)
55 Teknik Sipil – ITB (48,7)
56 Teknik Elektro – UNUD (48,5%)
58 Biologi – ITB (47,8%)
59 Teknik Geologi – ITB (47,8%)
60 Pendidikan Dokter Gigi – UNPAD (47,8%)
61 Teknik Mesin – UNDIP (47,8%)
62 Psikologi – UNPAD (47,7%)
63 Teknik Metalurgi dan Material – UI (47,4%)
64 Sistem Informasi – ITS (47,4%)
65 Arsitektur – UI (47,2%)
66 Statistika – UNPAD (47,2%)
67 Biologi – UGM (47,2%)
68 Arsitektur – UNBRAW (47,1%)
TOP 100 PASSING GRADE TERTINGGI JURUSAN IPS Tahun 2008
1. Akuntansi – UI (63,9%)
2 Ilmu Hubungan Internasional – UI (63,1%)
3 Akuntansi – UGM (62,1%)
4 Akuntansi – UNPAD (61,2%)
5 Manajemen – UI (61%)
6 Psikologi – UI (60,6%)
7 Ilmu Komunikasi – UNPAD (59,4%)
8 Psikologi – UGM (58,7%)
9 Ilmu Hubungan Internasional – UGM (58,5%)
10 Ilmu Komunikasi – UI (58,3%)
11 Ilmu Hubungan Internasional – UNPAD (58,1%)
12 Manajemen – UGM (57,9%)
13 Akuntansi – UNAIR (57,5%)
14 Ilmu Komunikasi – UGM (57,4%)
15 Ilmu Komunikasi – UNAIR (57,4%)
16 Akuntansi – UNBRAW (57,3%)
17 Sastra Inggris – UGM (56,6%)
18 Ekonomi Pembangunan – UI (56,4%)
19 Psikologi – UNAIR (56,4%)
20 Ilmu Hukum – UI (56,2%)
21 Manajemen – UNAIR (56%)
22 Eko. dan Studi Pembangunan – UGM (55,6%)
23 Akuntansi – UNDIP (55,2%)
24 Manajemen – UNPAD (55,1%)
25 Manajemen – UNBRAW (54,5%)
26 Ekonomi Pembangunan – UNPAD (54,2%)
27 Ilmu Hukum – UGM (54,1%)
28 Manajemen – Univ. 11 Maret Solo (53,9%)
29 Sastra Inggris – UI (53,8%)
30 Ilmu Administrasi Niaga – UI (52,9%)
31 Ilmu Administrasi Niaga – UNPAD (52,2%)
32 Manajemen – USU (52,1%)
33 Ilmu Komunikasi – UNDIP (51,6%)
34 Manajemen – UNDIP (51,5%)
35 Ilmu Hukum – UNPAD (51,4%)
36 Ekonomi Pembangunan – UNAIR (51,1%)
37 Ilmu Hukum – UNAIR (50,7%)
38 Ilmu Administrasi Negara – UGM (50,5%)
39 Ilmu Pemerintahan – UGM (50,4%)
40 Sastra Perancis – UI (50,1%)
41 Sastra Jepang – UGM (50%)
42 Manajemen – UNS (49,9%)
43 Kriminologi – UI (49,6%)
44 Ekonomi Pembangunan – USU (49,5%)
45 Ilmu Administrasi Publik – UNBRAW (49,3%)
46 Ilmu Administrasi Negara – UI (49%)
47 Ilmu Hukum – UNDIP (48,8%)
48 Akuntansi – UNHAS (48,6%)
49 Ilmu Administrasi Negara – UNAIR (48,5%)
50 Ilmu Pemerintahan – UNDIP (48,3%)
51 Ilmu Hukum – UNBRAW (48,3%)
52 Ilmu Hukum – USU (48,2%)
53 Akuntansi – UNSRI (48,1%)
54 Ilmu Hubungan Internasional – UNAIR (47,9%)
55 Manajemen – UNAND (47,9%)
56 Ilmu Politik – UI (47,8%)
57 Sastra Cina – UI (47,8%)
58 Ilmu Hukum – UNSRI (47,7%)
59 Ilmu Komunikasi – UNILA (47,7%)
60 Ilmu Administrasi Negara – UNPAD (47,4%)
61 Sastra Perancis – UGM (47,1%)
62 Akuntansi – Univ. 11 Maret Solo (46,9%)
63 Sastra Rusia – UI (46,7%
64 Sastra Inggris – USU (46,6%)
65 Ilmu Administrasi Fiskal – UI (46,6%)
66 Ilmu Filsafat – UI (46,6%)
67 Manajemen – Univ. Negeri Semarang (46,6%)
68 Akuntansi – USU (46,5%)
69 Sastra Jerman – UI (46,4%)
70 Manajemen – UNHAS (46,4%)
71 Ilmu Hukum – UNAND (46,2%)
72 Ekonomi Pembangunan – UNILA (46,1%)
73 Sastra Inggris – UNPAD (46%)
74 Ilmu Hubungan Internasional – UNHAS (46%)
75 Sastra Inggris – UNAIR (45,8%)
76 Desain Komunikasi Visual – Univ. 11 Maret Solo (45,7%)
77 Sastra Inggris – UNHAS (45,6%)
78 Ilmu Kesejahteraan Sosial – UI (44,9%)
79 Arkeologi – UI (44,7%)
80 Ilmu Hukum – UNSRI (44,7%)
81 Ilmu Administrasi Bisinis – UNBRAW (44,7%)
82 Sosiologi – UI (44,5%)
83 Ilmu Pemerintahan – UNHAS (44,2%)
84 Ekonomi Pembangunan – UNDIP (44%)
85 Ilmu Hukum – UNHAS (44%)
86 Sastra Arab – UI (43,8%)
87 Ilmu Administrasi Negara – Univ. 11 Maret Solo (43,5%)
88 Ilmu Sejarah – UI (43,2%)
89 Desain Interior – Univ. 11 Maret Solo (43,2%)
90 Manajemen – UNUD (43,2%)
91 Ekonomi Pembangunan – UNBRAW (43,1%)
92 Ilmu Pemerintahan – UNPAD (43%)
93 Ilmu Administrasi Niaga – UNDIP (43%)
94 Pend. B. Inggris – UNSRI(42,9%)
95 Ilmu Administrasi Negara – USU (42,7%)
96 Ilmu Administrasi Niaga – UNILA (42,6%)
97 Ekonomi Pembangunan – UNHAS (42,6%)
98 Sastra Inggris – UNBRAW (42,3%)
99 Antropologi Sosial – UI (42%)
100 Akuntansi – UNUD (41,9%) PASSING GRADE TERTINGGI IPA VERSI LAINNYA :
Passing Grade Regional III
Arsitektur I T S 42.77 IPA
Biologi I T S 31.5 IPA
Desain Produk Industri I T S 33.22 IPA
Fisika I T S 35.69 IPA
Kimia I T S 34.16 IPA
Matematika I T S 36.11 IPA
Statistika I T S 38.91 IPA
Teknik Elektro I T S 49.13 IPA
Teknik Fisika I T S 40.19 IPA
Teknik Geodesi I T S 38.16 IPA
Teknik Industri I T S 48.22 IPA
Teknik Informatika I T S 49.94 IPA
Teknik Kelautan I T S 42.47 IPA
Teknik Kimia I T S 48.80 IPA
Teknik Lingkungan I T S 39 IPA
Teknik Material I T S 35.16 IPA
Teknik Mesin I T S 44.27 IPA
Teknik Perkapalan I T S 47.36 IPA
Teknik Sipil I T S 45.33 IPA
Teknik Sistem Perkapalan I T S 43.47 IPA
PASSING GRADE TERTINGGI IPS VERSI LAINNYA
Antropologi Sosial UNAIR 32.28 IPS
Biologi UNAIR 31.80 IPA
Ekonomi Akuntansi UNAIR 46.81 IPS
Ekonomi Manajemen UNAIR 44.40 IPS
Ekonomi Pembangunan UNAIR 42.87 IPS
Farmasi UNAIR 37.02 IPA
Fisika UNAIR 32.22 IPA
Ilmu Administrasi Negara UNAIR 40.31 IPS
Ilmu Hubungan Internasional UNAIR 43.21 IPS
Ilmu Hukum UNAIR 39.5 IPS
Ilmu Komunikasi UNAIR 41.75 IPS
Ilmu Politik UNAIR 34.75 IPS
Ilmu Sejarah UNAIR 31.71 IPS
Kedokteran Hewan UNAIR 36.25 IPA
Kesehatan Masyarakat UNAIR 35.69 IPA
Kimia UNAIR 32.30 IPA
Matematika UNAIR 33.66 IPA
Pendidikan Dokter UNAIR 43.81 IPA
Pendidikan Dokter Gigi UNAIR 37.97 IPA
Psikologi UNAIR 39.62 IPS
Sastra Indonesia UNAIR 31.03 IPS
Sastra Inggris UNAIR 31.18 IPS
Sosiologi UNAIR 32.12 IPS
Selasa, 26 April 2011
Seto Mulyadi: Ujian Nasional Melanggar Etika dan Kejujuran
Praktisi pendidikan anak, Seto Mulyadi, mengatakan, banyak hal perlu diperhatikan dalam menentukan standar kelulusan nasional. Sangat salah menjadikan ujian nasional sebagai penentu kelulusan tersebut.
"Saya tak setuju UN dijadikan standar kelulusan nasional karena sebaiknya UN dibatasi sebagai upaya pemetaan, bukan penentu kelulusan," kata Seto, Selasa (26/4/2011) di Jakarta.
Pengamat pendidikan yang akrab disapa Kak Seto ini mengatakan, pemetaan yang dimaksud berguna sebagai upaya pemerintah dalam memonitor pemerataan pendidikan nasional. Sebab, saat ini, standar pendidikan di Indonesia belum merata dalam banyak hal, terutama di daerah-daerah pedalaman. Jika UN ditetapkan sebagai penentu kelulusan nasional, katanya, yang terjadi adalah seperti saat ini, yaitu siswa dipaksa tidak jujur dan secara sadar telah melupakan etika dalam dunia pendidikan.
"Coba lihat, sekarang UN telah melanggar etika, kejujurannya tidak ada. Bukan hanya pada siswa, tetapi juga terjadi pada tingkat-tingkat di atasnya karena ini menyangkut kredibilitas, gengsi," ujarnya. UN seharusnya menjadi tolok ukur kualitas pendidikan nasional. UN, kata Seto, sebaiknya tidak dilihat hanya dari sisi kognitif karena banyak pihak melakukan pembenaran yang sebetulnya jauh dari semangat meningkatkan mutu pendidikan.
"Gara-gara UN akhirnya mereka melakukan pembenaran-pembenaran dengan membocorkan soal dan mencontek. Ini sangat jauh dari semangat dan tujuan meningkatkan mutu pendidikan. Untuk itu, semua pihak, termasuk media, perlu mengkritisi UN secara serius," ungkap Seto. (sumber: Kompas.com/2642011)
Walikota Surabaya, Tri Rismaharini: Prestasi Tidak Bisa Dijadikan Alasan Pelanggaran
Prestasi SDN Tandes Lor meningkat selama kepala sekolahnya dipegang Wahyuningsih sekitar 8 tahun lebih. Namun bagi Walikota Surabaya Tri Rismaharini, hal itu tidak bisa dijadikan alasan melakukan pelanggaran. Prestasi yang diraih Wahyuningsih selama memimpin SDN Tandes Lor selama 8 tahun lebih cukup moncer. Selain mendapat bantuan dan penghargaan dari negara Jepang dan Inggris, para siswa juga meraih prestasi di ajang lomba.
Dari catatan prestasi yang ditempel di dinding sekolahan, diantaranya lomba penyuluhan lingkungan hidup tingkat kota menjadi penampilan terbaik tahun 2010. Penghargaan itu merupakan ururtan yang ke 133. Meski prestasi Wahyuningsih selama memimpin SDN Tandes Lor bersinar, rupanya di balik itu para siswa maupun guru dicekam rasa ketakutan terhadap perlakuan kasar yang dilakukan kasek. Selain melakukan kekerasan verbal seperti menghina siswi sebagai anak perex (pelacur) juga melakukan kekerasan fisik seperti memukul dan mencakar siswa.
Para guru pun juga ada yang mendapatkan hukuman disuruh berdiri menghadap ke tiang bendera dengan alasan yang tidak mendasar dan banyak perlakuan kasar lainnya. "Tidak ada kaitannya antara prestasi dengan pelanggaran. Justru dia punya prestasi harus menjaga. Apalagi ini kan seorang pendidik, yang dia harus memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya. Bukan prestasi dia bisa melakukan sesuai dengan keinginannya," kata Walikota Surabaya Tri Rismaharini kepada wartawan usai sidang paripurna di gedung DPRD Surabaya, Jalan Yos Sudarso, Selasa (26/4/2011).
Saat ditanya, apakah Wahyuningsih akan dicopot dari jabatannya sebagai kepala sekolah, Risma mengaku menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan inspektorat dan psikolog. "Makanya nanti kita lihat sejauh mana laporannya. Taruhlah dia, mungkin dia punya beban psikolog atau apa, sehingga keluar kata-kata seperti itu. Nanti kita cek ke psikolog," tuturnya.
Jika hasil dari inspektorat dan psikolog turun, tidak menutup kemungkinan Wahyuningsih akan dicopot dari jabatannya dan akan ditempatkan di bagian administrasi. "Setelah laporan dari inspektorat, kemudian psikolog merekomendasikan untuk tidak menjadi pengajar, dia kita rekomendasikan untuk menjadi administrasi," tegas Rismar: Gresnews.com)
Dari catatan prestasi yang ditempel di dinding sekolahan, diantaranya lomba penyuluhan lingkungan hidup tingkat kota menjadi penampilan terbaik tahun 2010. Penghargaan itu merupakan ururtan yang ke 133. Meski prestasi Wahyuningsih selama memimpin SDN Tandes Lor bersinar, rupanya di balik itu para siswa maupun guru dicekam rasa ketakutan terhadap perlakuan kasar yang dilakukan kasek. Selain melakukan kekerasan verbal seperti menghina siswi sebagai anak perex (pelacur) juga melakukan kekerasan fisik seperti memukul dan mencakar siswa.
Para guru pun juga ada yang mendapatkan hukuman disuruh berdiri menghadap ke tiang bendera dengan alasan yang tidak mendasar dan banyak perlakuan kasar lainnya. "Tidak ada kaitannya antara prestasi dengan pelanggaran. Justru dia punya prestasi harus menjaga. Apalagi ini kan seorang pendidik, yang dia harus memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya. Bukan prestasi dia bisa melakukan sesuai dengan keinginannya," kata Walikota Surabaya Tri Rismaharini kepada wartawan usai sidang paripurna di gedung DPRD Surabaya, Jalan Yos Sudarso, Selasa (26/4/2011).
Saat ditanya, apakah Wahyuningsih akan dicopot dari jabatannya sebagai kepala sekolah, Risma mengaku menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan inspektorat dan psikolog. "Makanya nanti kita lihat sejauh mana laporannya. Taruhlah dia, mungkin dia punya beban psikolog atau apa, sehingga keluar kata-kata seperti itu. Nanti kita cek ke psikolog," tuturnya.
Jika hasil dari inspektorat dan psikolog turun, tidak menutup kemungkinan Wahyuningsih akan dicopot dari jabatannya dan akan ditempatkan di bagian administrasi. "Setelah laporan dari inspektorat, kemudian psikolog merekomendasikan untuk tidak menjadi pengajar, dia kita rekomendasikan untuk menjadi administrasi," tegas Rismar: Gresnews.com)
Kelemahan Pengawas Surabaya Benamkan Prestasi Kepala Sekolah Wahyuningsih
Tiba-tiba, kasus Wahyuningsih dibawa ke sidang dewan melalui pola hearing atau dengar pendapat yang dihadiri oleh banyak pihak, dewan, guru, orangtua, siswa, dan dinas pendidikan dengan satu tujuan mendengarkan keluhan siswa dan komentar kepala sekolah. Karuan saja, karena fokusnya untuk membicarakan kepala sekolah, dan semua tertuju ke kepala sekolah, lalu kepala sekolah itu tidak punya kawan untuk membantu berbicara, pastilah ujungnya Wahyuningsih sang kepala sekolah Tandes Lor menjadi bulan-bulanan atau objek sangkaan. Cobalah sedikit berpikir jernih dengan cara behind two side dengan kondisi yang tidak bersifat mendakwa, tentu akan diperoleh jawaban yang lebih bernuansa dunia pendidikan.
Taruhlah Wahyuningsih telah melakukan kesalahan dalam menerapkan disiplin bagi siswa-siswanya, tentu pengawas setempat tahu dan memberikan teguran atau para guru menyampaikan keluhan. Bila saja keluhan itu memuncak, tentu tidak dibawa ke dewan yang bernuansa politik tetapi dibawa ke dinas pendidikan. Kalau begitu, kerja pengawas di Kecamatan Tandes apa saja? Sampai-sampai tindakan Wahyuningsih tidak diketahui sebelumnya. Lalu, dinas pendidikan mengapa tidak bergerak untuk menyelesaikan sebelum ke dewan? Apakah jika ada tindakan seperti itu selalu dibawa ke hearing dewan?
Jika kasus-kasus pengelolaan pendidikan langsung dibawa ke dewan, betapa kasihannya dewan karena terhambat dalam peran legislasinya. Cobalah diperankan para pengawas untuk cegah dini. Pengawas pendidikan tentunya mempunyai segudang pengalaman dalam mengantisipasi tindakan guru atau kepala sekolah. Wahyuningsih adalah korban bagi ketidakjalanan pola pendidikan di Surabaya.
Seolah-olah pengawas pendidikan Surabaya telah membenamkan prestasi kepala sekolah. lalu, kepala sekolah mana yang mau melangkah demi kebaikan jika sedikit salah saja langsung di sidang ke dewan. Garduguru bukannya setuju atas tindakan Wahyuningsih karena tindakan itu manyalahi asasi pendidikan. Namun, sebagai pelaksana pendidikan, Wahyuningsih juga mempunyai hak dasar manusiawi yang sedang menjalankan tugas.
Taruhlah Wahyuningsih telah melakukan kesalahan dalam menerapkan disiplin bagi siswa-siswanya, tentu pengawas setempat tahu dan memberikan teguran atau para guru menyampaikan keluhan. Bila saja keluhan itu memuncak, tentu tidak dibawa ke dewan yang bernuansa politik tetapi dibawa ke dinas pendidikan. Kalau begitu, kerja pengawas di Kecamatan Tandes apa saja? Sampai-sampai tindakan Wahyuningsih tidak diketahui sebelumnya. Lalu, dinas pendidikan mengapa tidak bergerak untuk menyelesaikan sebelum ke dewan? Apakah jika ada tindakan seperti itu selalu dibawa ke hearing dewan?
Jika kasus-kasus pengelolaan pendidikan langsung dibawa ke dewan, betapa kasihannya dewan karena terhambat dalam peran legislasinya. Cobalah diperankan para pengawas untuk cegah dini. Pengawas pendidikan tentunya mempunyai segudang pengalaman dalam mengantisipasi tindakan guru atau kepala sekolah. Wahyuningsih adalah korban bagi ketidakjalanan pola pendidikan di Surabaya.
Seolah-olah pengawas pendidikan Surabaya telah membenamkan prestasi kepala sekolah. lalu, kepala sekolah mana yang mau melangkah demi kebaikan jika sedikit salah saja langsung di sidang ke dewan. Garduguru bukannya setuju atas tindakan Wahyuningsih karena tindakan itu manyalahi asasi pendidikan. Namun, sebagai pelaksana pendidikan, Wahyuningsih juga mempunyai hak dasar manusiawi yang sedang menjalankan tugas.
Langganan:
Postingan (Atom)