Selasa, 05 Januari 2010

Oleh-Oleh dari Philipina (5): Surabaya Kurang Dikenal

Suatu saat orang Philipina bertanya tentang asal saya. Saya jawab dari Indonesia di Kota Surabaya. Mereka mengulangi dengan bertanya tentang Surabaya itu mana. Saya katakan bahwa Surabaya di Pulau Jawa bagian timur. Mereka menggeleng-geleng pertanda tidak tahu Surabaya. Kalau Jakarta, mereka tahu.

Oleh-Oleh dari Philipina (4): Toko Buku National

Jika di Indonesia bertebaran toko buku Gramedia, di Philipina banyak tersebar toko buku National baik di jalan besar maupun di mal. Pengunjungnya juga banyak. Saya menuju toko buku itu dan mendapatkan satu buku tentang sastra. Asyik juga.

Oleh-Oleh dari Philipina (3): Ramah dan Cepat Akrab

Senyum dan menyapa menjadi bagian manusia Philipina ketika dijumpai di manapun. Bahkan, mereka sering menyapa lebih dahulu. Saya sering ditanya, "apakah Anda Philipino?" Saya jawab, "Bukan, Saya dari Indonesia" sambil berjabat tangan. "Mengapa Saya dikira Philipino?" tanya saya. Jawabnya, "face Anda persis dengan Philipino".

Mereka tidak sadar bahwa saya dan mereka berada di Asia Tenggara yang tentu mempunyai banyak kesamaan. Saya seorang Pinoy.

Oleh-Oleh dari Philipina (2): Jalan Cepat Celana Pendek

Saya masih kalah berjalan cepat menyusuri teras mal dengan para pinoy (sebutan untuk orang Philipina)ketika di Mall of Asia. Postur tubuh pinoy lebih pendek-pendek dibandingkan dengan orang Indonesia tetapi jalan kaki mereka lebih cepat seakan ingin cepat sampai. Apakah jalan cepat itu seirama dengan jalan pikirannya?

Lalu, celana pendek kira-kira 5 cm dari pangkal paha berseliweran di depan mata yang dikenakan para perempuan di Manila. Putih mulus tampak bergerak-gerak. Celana pendek itu dipadu dengan kaos ketat dengan sedikit menampakkan lekuk buah dada. Ihh...

Oleh-Oleh dari Philipina (1): Kabel Ruwet

Kabel listrik berseliweran di terminal tiang menjuntai ke rumah-rumah. Saya sangat susah merunut kabel itu. Ruwet dan tidak beraturan. Jika Indonesia, ruwet kabel sudah menjadi masa lalu. Hanya saja, listrik Indonesia masih byar-pet sedangkan di Philipina menyala terus.

Tahun Baru bagi Guru Bermutu

Tahun 2010 tentu tidak akan indah jika tidak diisi dengan hidup yang indah. Semua guru, pasti akan senang jika semakin bermutu. Guru perlu melakukan resolusi atau penataan kembali terhadap kehidupan secara menyeluruh. Guru bermutu selalu ingin meninggalkan hal-hal buruk, membuang sifat-sifat negatif yang terbukti menghambat kehidupan selama ini. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mensyukuri apa pun yang telah dialami selama satu tahun yang lewat.

Hambatan meraih sukses
Banyak hambatan dalam meraih sukses bagi seorang guru. hambatan itu sebagai berikut.

1. Tidak fokus
Bila belum tahu mau melakukan apa dan ke mana tujuan hidup, guru akan mudah bimbang. Jika guru tidak konsisten menjalankan sesuatu, kurang fokus pada apa yang dituju, guru akan mudah kehilangan arah. Guru juga sering terbiasa mengurusi hal-hal kecil sehingga mengurangi perhatian pada hal yang betul-betul penting. Jika tidak punya prioritas dalam melakukan sesuatu, guru akan menjadi bingung.

2. Kekurangan harga diri
Hal ini berhubungan dengan citra diri yang kurang baik, merasa diri kurang berharga untuk meraih sukses, merasa diri kurang punya bakat, kurang mampu mengajar, dan tidak layak mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

3. Kurang keyakinan
Akan sangat menghambat kinerja bila guru kurang yakin pada kemampuan dan kekuatan diri untuk meraih sukses. Juga bila kurang yakin pada hal-hal yang tersedia di lingkungan, apakah pada sistem dan aturan yang ada, ataupun tidak percaya pada orang-orang yang berada di sekitar. Guru cenderung berpikiran yang negatif saja tentang berbagai hal.

4. Kurang pengetahuan dan keterampilan
Acap kali guru merasa sudah paham dan tidak perlu belajar lagi dalam menghadapi kegagalan. Padahal sikap kurang terbuka pada hal baru dan sikap mudah puas dengan apa yang telah dimiliki bukanlah hal yang mendukung perbaikan dan pemberdayaan diri. Khususnya keterampilan komunikasi interpersonal sering kurang menjadi perhatian untuk dilatihkan.

5. Energi yang rendah
Energi yang rendah berhubungan dengan kurangnya semangat atau rasa cepat lelah dalam menghadapi sesuatu. Bisa karena secara fisik kurang sehat, bisa pula karena memang tak ada cukup semangat dan sikap cepat menyerah dalam mengatasi kesulitan.

6. Kekurangan dukungan
Banyak guru tidak bisa selalu menangani berbagai hal sendirian. Tidak salah bila suatu waktu meminta bantuan dan dukungan pada orang yang dianggap bisa menolong menghadapi masa-masa sulit. Banyak contoh mereka yang dalam kesusahan dan ketidakberdayaan, tidak memperoleh dukungan dari lingkungan terdekat, malah melakukan tindakan yang lebih negatif.

Langkah-langkah
Jika dicoba meramu bersama agar guru dapat menjadi pribadi atau kelompok yang lebih baik, produktif, dan sukses, setujukah Anda dengan langkah berikut ini?

1. Memiliki cita-cita atau mimpi serta tujuan hidup
Cita-cita bisa setinggi langit, tetapi tujuan hidup perlu lebih realistis. Tujuan hidup tidak langsung bisa ditemukan begitu saja. Diperlukan perenungan diri dalam waktu yang tidak singkat. Tapi tujuan hidup ini penting sebagai panduan yang mengarahkan langkah kita selanjutnya.

2. Bekerja keras
Cita-cita maupun tujuan hidup harus ditindaklanjuti dengan kerja nyata, kalau tidak mimpi tersebut akan pudar dan menghilang.

3. Menghadapi berbagai tantangan
Memperlakukan berbagai kesulitan sebagai sesuatu yang menantang, bukan mengancam. Ini semua berkaitan dengan persepsi. Guru perlu mengubah pandangan menjadi lebih optimistis. Kita harus mempunyai kebanggaan dan kebermaknaan terhadap hal-hal yang kita miliki dan akan kita capai.

4. Bertahan
Guru harus tidak cepat menyerah atau berhenti mencoba. Kita berupaya meyakini bahwa semua kesulitan, seberapa pahit dan sulitnya, pasti ada penyelesaiannya.

5. Meningkatkan energi
Untuk mencapai stamina dan energi maksimal, guru perlu merawat diri agar sehat secara fisik dan mental. Ini dapat dilakukan dengan makan cukup dan benar serta berolahraga secara rutin.

6. Mengembangkan prinsip hidup yang bermoral dan etis
Termasuk di sini prinsip menghargai dan toleran pada guru lain yang berbeda dengan diri kita, peduli pada lingkungan dan kesulitan orang lain, meyakini hukum ”makin banyak memberi kita akan makin banyak menerima”, serta tidak berpamrih dalam hubungan dengan siapa pun.

7. Menikmati dan menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan
Guru perlu terus latihan memanfaatkan waktu yang terbatas ini sebaik-baiknya. Sukses hidup berarti seimbang dalam menjalani berbagai aspek kehidupan, bisa memadukan aktivitas pribadi, pekerjaan, kesehatan, keluarga, sosial, dan spiritual.

Cara Memukul Siswa agar Siswa Malah Pandai

Oleh Suyatno

Saat ini, banyak guru mengeluh bahkan organisasi kependidikan juga mengeluh akibat diberlakukan Undang-Undang Perlindungan Anak. Porsi guru untuk memukul siswa seakan ditiadakan. Guru takut terkena hukuman. Padahal, dari sisi apapun, memukul siswa itu sungguh menyakitkan. Cara mendidik dengan melukai siswa sebenarnya juga cara penjajah saat memperlunak pribumi. Namun, masih ada cara memukul siswa yang justru memandaikan siswa itu.

Guru disarankan tidak mendidik siswa dengan cara kekerasan fisik karena mental dan fisiknya masih lemah yang bisa berakibat buruk. Siswa harus dilindungi bagaimana pun susahnya dia didik. Jika diberi tahu lewat kata-kata saja tidak cukup, ada cara yang dibolehkan untuk memukulnya tapi bukan sembarang memukul.

Dalam Children's Act 2004 ada batasan-batasan yang diperjelas bagi guru jika ingin memukul siswanya, yaitu tidak boleh menimbulkan bekas atau luka, tidak memukul dengan keras, dan tidak boleh menyebabkan masalah kesehatan mental dalam jangka waktu panjang.

"Guru tidak boleh memukul siswanya dengan sembarangan apalagi jika menggunakan alat," ujar Marjorie Gunnoe, seorang profesor psikologi di Calvin College, Grand Rapids, Michigan, seperti dikutip dari Telegraph, Senin (4/1/2010).

Bagaimana memukul yang diperbolehkan? Gunnoe menjelaskan sebuah tepukan ringan seringkali menjadi cara paling efektif untuk mengajarkannya agar tidak melakukan sesuatu yang berbahaya atau merugikan orang lain. Pukulan ringan itu pun hanya berlaku sampai siswa usianya 6 tahun.

Berdasarkan hasil penelitiannya, anak yang dipukul ringan hingga usia 6 tahun memiliki sifat positif yang lebih baik di antaranya dalam hal akademis dan optimisme, dan tidak memiliki sifat negatif yang buruk. Tapi siswa yang masih sering dipukul hingga usia 11 tahun memiliki sifat negatif seperti terlibat dalam perkelahian.

Penelitian itu juga menunjukkan siswa yang dipukul ringan oleh gurunya hingga usia 6 tahun akan memiliki prestasi sekolah yang lebih baik dan lebih optimis. Siswa itu ini nantinya akan lebih bersemangat dalam hal belajar, mengejar cita-citanya untuk masuk universitas terkemuka serta membantunya lebih optimis dalam hal meraih mimpinya dibandingkan dengan siswa yang tidak pernah dipukul sama sekali oleh gurunya.

Penelitian ini melibatkan 179 remaja yang ditanya mengenai seberapa sering mereka dipukul saat masih anak-anak dan pada usia berapa terakhir kali orangtua memukulnya. Jawaban yang didapat dibandingkan dengan perilakunya termasuk kelakuan negatif seperti anti sosial, aktivitas seksual yang lebih dini, kekerasan, depresi serta kelakuan positif lainnya.

Hal yang boleh dilakukan oleh guru adalah hanya melakukan tepukan ringan, sementara jika lebih dari itu sudah termasuk dalam kekerasan dan merupakan cara mendidik siswa yang salah. Cara mendidik dengan memberikan tepukan ringan jika siswa melakukan kesalahan sebaiknya juga diiringi dengan kata-kata positif agar siswa tahu apa kesalahannya. Jika tepukan ringan tersebut dilakukan dengan bijaksana dan penuh kasih sayang, siswa akan lebih mengerti dan juga membantunya untuk berprestasi di sekolah serta lebih optimis. Tapi guru tidak boleh memukul siswa di daerah wajah atau dengan menggunakan alat, karena bisa mengembangkan masalah-masalah perilaku atau mental seperti menjadi agresif.(sumber: Detikhealth)

Resensi Buku Menjelajah Pembelajaran Inovatif Karya Suyatno

Menjawab Tantangan Guru
Minggu, 27 Desember 2009

Judul buku : Menjelajah Pembelajaran Inovatif
Penulis : Dr. Suyatno, M.Pd.
Penerbit : Masmedia Buana Pustaka
Cetakan : Oktober 2009
Tebal : viii +176 halaman
Peresensi : Salamet Wahedi


Memperbincangkan pendidikan dewasa ini, seperti menelisik setiap sendi kehidupan manusia. Peranan dunia pendidikan tidak hanya sekadar mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih dari itu, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab moral membentuk manusia seutuhnya. Yaitu manusia yang mampu memahami dirinya sendiri.

Terlepas dari peran-fungsinya bagi setiap manusia, dunia pendidikan juga menjadi cerminan bagi survivenya suatu Negara-bangsa di tengah kancah pertarungan globalisasi. Maupun sebaliknya, kemajuan suatu Negara-bangsa juga dapat diukur sejauh mana dunia pendidikan yang dibangun di dalamnya. Dengan kata lain, dunia pendidikan menjadi barometer suatu Negara-bangsa dalam membaca dan melihat posisinya.

Maka tidak heranlah, sepanjang sejarah Negara-bangsa Indonesia, persoalan menemukan konsep dunia pendidikan yang ideal tak pernah usai. Hal ini berbanding lurus dengan gerak laju zaman yang selalu ditentukan dari riuh redam ruang kelas ataupun ruang kuliah para cendekia.

Lebih jauh, mencuat gonjang-ganjing Ujian Nasional (Unas) yang meresahkan berbagai elemen peserta didik, merupakan bukti paling mutakhir, bahwa dunia pendidikan selalu menuntut pada setiap peserta didik untuk selalu memikirkan, merumuskan dan menemukan konsep pendidikan yang ideal.

Selain persoalan konsep yang ideal dalam membentuk manusia yang seutuhnya, yang perlu diperhatikan adalah substansi dan esensi pendidikan itu sendiri. Seperti disinyalir dalam beberapa dekade terakhir ini, bahwa dunia pendidikan telah banyak mengalami berbagai kegagalan dalam membentuk karakter manusia seutuhnya. Dengan kata lain, tugas pendidikan banyak terabaikan. Terutama memanusiakan manusia. Artinya, dunia pendidikan selama ini tak ubahnya penjara bagi anak didik.

Di sinilah, kehadiran paradigma dunia pendidikan kritis yang diusung Paulo Freire (1986) menemukan ruang kontemplasinya. Lewat keyakinan akan pentingnya landasan pendidikan sebagai sebuah proses memanusiawikan manusia kembali, Freire coba memberikan jalan alternatif untuk memberontak pada tradisi dehumanisasi yang menyelimuti dinding ruang sekolah.

Untuk lebih memahami konsep pendidikannya, Freire menjabarkan kesadaran manusia menjadi tiga macam. Pertama, kesadaran magis, yakni kesadaran yang tidak mampu mengetahui antara faktor satu dengan faktor lainnya. Kedua, kesadaran naïf, yakni kesadaran yang melihat aspek manusia menjeadi penyebab masalah yang berkembang di masyarakat. Ketiga, kesadaran kritis, yakni kesadaran yang melihat sistem dan struktur sebagai sumber masalah.

Dengan mengacu pada kesadaran yang terakhir ini, dunia pendidikan selalu mendapatkan pertanyaan dari setiap peserta didiknya. Pertanyaan yang selalu merongrong kemandekan dan kejumudan lingkungan tumbuh kembangnya dunia pendidikan. Dengan kata lain, kesadaran kritis ini menuntut pada setiap peserta didik untuk terus menerus mempertanyakan, merombak, mencari dan merumuskan kembali setiap konsep pendidikan sesuai ruang waktu ke-disini-an dan ke-kini-an.

Di tengah tuntutan, tantangan serta berbagai persoalan kegagagalan dunia pendidikan, sosok guru merupakan pihak yang paling tertuduh. Sosok guru merupakan orang paling dimintai pertanggung jawabannya. Bahkan tidak ada alasan apa pun, yang dapat diberikan oleh seorang guru untuk membela dirinya.

Maka, ketika ujian nasional digulirkan dengan standar kelulusan yang cukup fantastis, sosok guru pulalah, yang mula-mula merasa ketar-ketir. Ia mesti bertanggung jawab atas segala apa yang akan terjadi pada peserta didik: frustasi, stress, depresi dan segala keputuasaan mental generasi bangsa ini.

Maka perbaikan dan evaluasi pada kemampuan seorang guru, seolah menjadi hal yang logis untuk dilakukan pertama kali dalam memecahkan persoalan dunai pendidikan. Maka, kehadiran buku “Menjelajah Pembelajaran Inovatif” karya Dr. Suyatno, M. Pd. merupakan menu mujarab setiap guru dalam mempersiapkan dirinya sebagai peserta didik yang paling dituntut.

Dalam buku ini, sosok guru diajak untuk berkenalan dengan paradigma baru pendidikan, yang menekankan hadirnya prinsip pembelajaran yang inovetif dan keberanian seorang guru untuk melakukan inovasi. Dengan prinsip pembelajaran inovatif, seorang guru akan mampu memfasilitasi siswanya untuk mengembangkan diri dan terjun di tengah masyarakatnya.

Hal ini dapat dipahami dengan memerhatikan beberapa prinsip pembelajaran inovatif, yaitu: (a) pembelajaran, bukan pengajaran; (b) guru sebagai fasilitator, bukan instruktur; (c) siswa sebagai subjek, bukan objek; (d) multimedia, bukan monomedia; (e) sentuhan manusiawi, bukan hewani; (f) pembelajaran induktif, bukan deduktif; (g) materi bermakna bagi siswa, bukan sekadar dihafal; (h) keterlibatan siswa partisipasif, bukan pasif.

Selain memberikan beberapa prinsip dasar, pembelajaran inovatif juga menekankan adanya pola dan strategi pendidikan yang utuh. Pola dan strategi pendidikan yang menitik bertakan pada tercipanya kesadaran peserta didik pada dirinya sendiri dan lingkungannya.

Selanjutnya, ketakutan dan keminderan seorang guru dalam melakukan ekpresi merupakan salah satu tumor pendidikan yang urgen untuk disembuhkan. Inilah salah satu hal yang esensial yang dibawa buku ini. Seorang guru sudah seyogyanya untuk yakin bahwa setiap guru tanpa terkecuali dapat berinovasi dalam pembelajarannya; seorang seyogyanya untuk yakin bahwa perbuatan-perbuatan kecilnya yang teliti, semisal mencatat perubahan tentang cara dan gaya mengajar setiap hari akan melahirkan hasil yang besar; serta seorang guru seyogyanya untuk terbuka menerima saran dan kritik dari guru lain, bila pola pembelajaran yang disampaikannya sama seperti yang kemarin (halaman 17)

Lebih jauh, keberanian seorang guru dalam berinovasi, serta merta akan membentuk karakternya menjadi kreatif. Kemampuan dan kapasitasnya, baik hard skill maupun soft skill, akan terasah dengan sendirinya. Kekreatifan seorang guru, akan berdampak tidak hanya pada pola komunikasi pembelajaran, tetapi juga akan membentuk suasana serta atmosfir pembelajaran yang menyenangkan (enjoy learning). Pembelajaran yang mampu mentransformasikan ilmu sekaligus mampu membetuk karaketr siswa yang manusiawi.

Di bagian akhir buku, juga diuraikan beberapa metode yang dapat digunakan oleh seorang kreatif dalam membangun suasana kelas yang familiar dan manusiawi. Suasana kelas yang tak lagi hadir sebagai ruang penjara yang dijejali teori, konsep dan tugas dari guru. Tetapi raung kelas yang mampu menggali potensi siswa dan menjernihkan nalar pikir anak didik dalam memahami dan mengaplikasikan kemampuannya untuk dirinya sendiri dan lingkungannya.

Di tengah berbagai tuntutan dan gonjang-ganjing dunia pendidikan, serta terealisasinya anggaran dua puluh persen APBN untuk pendidikan, kehadiran buku “Menjelajah Pembelajaran Inovatif’” memiliki arti dan peranan yang cukup penting. Pertama, buku ini dapat dijadikan referensi bagi setiap peserta didik untuk melihat paradigma baru dunia pendidikan masa kini. Kedua, buku ini dapat menjadi media motivasi bagi setiap guru untuk lebih berani dalam melakukan pola dan strategi pembelajaran yang inovatif; pembelajaran yang mampu menciptakan ruang dan suasana kelas yang familiar dan harmonis, serta dinamis bagi anak didik. Ketiga, buku ini dapat mendorong guru untuk lebih kreatif dalam melakukan transformasi keilmuan. Kreatifitas guru tentunya terletak pada kekayaannya memiliki metode dan aneka model pembelajaran, serta kecermatannya untuk memilih dan memilah metode dan aneka pembelajaran yang akan digunakan di setiap waktu yang berbeda.

Terlepas dari arti dan peran-fungsinya bagi peserat didik, terutama guru, buku “Menjelajah Pembelajaran Inovatif” memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi dunia pendidikan. ***

Senin, 21 Desember 2009

Philipina dan Sejarahnya

Filipina adalah sebuah negara republik di Asia Tenggara, sebelah utara Indonesia dan Malaysia. Filipina merupakan sebuah negara kepulauan. Negara ini terdiri dari 7.107 pulau. Filipina seringkali dianggap sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara di mana pengaruh budaya Barat terasa sangat kuat.

Filipina adalah negara paling maju di Asia setelah Perang Dunia II, namun sejak saat itu telah tertinggal di belakang negara-negara lain akibat pertumbuhan ekonomi yang lemah, penyitaan kekayaan yang dilakukan pemerintah, korupsi yang luas, dan pengaruh-pengaruh neo-kolonial. Saat ini Filipina mengalami pertumbuhan ekonomi yang moderat, yang banyak disumbangkan dari pengiriman uang oleh pekerja-pekerja Filipina di luar negeri dan sektor teknologi informasi yang sedang tumbuh pesat.

Masalah-masalah besar negara ini termasuk gerakan separatis muslim di sebelah selatan Mindanao, pemberontak-pemberontak dari Tentara Rakyat Baru (New People's Army) yang beraliran komunis di wilayah-wilayah pedesaan, kebijakan-kebijakan pemerintah yang sering tidak konsisten, tingkat kejahatan yang makin meningkat, dan kerusakan lingkungan seperti penebangan hutan dan polusi laut. Filipina juga mengalami masalah banyaknya penduduk di daerah-daerah perkotaan akibat kurangnya lapangan pekerjaan di wilayah pedesaan dan tingkat kelahiran yang tinggi.

Peninggalan tertulis Filipina dimulai sekitar abad ke-8 berdasarkan temuan lempeng tembaga di dekat Manila. Dari tulisan pada lempeng itu diketahui bahwa Filipina berada dalam pengaruh Sriwijaya. Namun demikian bukti tertulis ini sangat sedikit sehingga bahkan ahli-ahli sejarah Filipina masih beranggapan sejarah Filipina dimulai pada era kolonialisme.

Sebelum orang-orang Spanyol datang pada abad ke-16, di Filipina berdiri kerajaan-kerajaan kecil yang bercorak animisme yang terpengaruh sedikit kultur India dan yang bercorak Islam di bagian selatan kepulauan. Kerajaan-kerajaan muslim ini mendapat pengaruh kuat dari Kerajaan Malaka.

Sepanjang masa 265 tahun, Filipina merupakan koloni Kerajaan Spanyol (1565-1821) dan selama 77 tahun berikutnya diangkat menjadi provinsi Spanyol (1821-1898). Negara ini mendapat nama Filipina setelah diperintah oleh penguasa Spanyol, Raja Felipe II. Setelah Perang Spanyol-Amerika pada tahun 1898, Filipina diperintah Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi sebuah persemakmuran di bawah Amerika Serikat sejak tahun 1935. Periode Persemakmuran dipotong Perang Dunia II saat Filipina berada di bawah pendudukan Jepang. Filipina akhirnya memperoleh kemerdekaannya (de facto) pada 4 Juli 1946. Masa-masa penjajahan asing ini sangat mempengaruhi kebudayaan dan masyarakat Filipina. Negara ini dikenal mempunyai Gereja Katolik Roma yang kuat dan merupakan salah satu dari dua negara yang didominasi umat Katolik di Asia selain Timor Leste.

Filipina berada di urutan ke-12 di dunia dalam jumlah penduduk dengan jumlah 86,241,697 jiwa pada 2005. Sekitar dua per tiga penduduk tinggal di Pulau Luzon dan Manila, ibu kotanya, berada di urutan ke-11 dalam jumlah penduduk area metropolitan. Orang-orang Filipina dikenal dengan nama Filipino yang berasal dari orang aborigin Taiwan dan bercampur dengan orang-orang Tiongkok Selatan, Polinesia, dan Spanyol/Amerika. Orang Filipina terbagi dalam 12 kelompok etnolingustik dengan yang terbesar adalah Tagalog, Cebuano, dan Ilocano. Penduduk asli Filipina ialah suku Aeta namun sudah terpinggir dan populasinya tinggal 30 ribu jiwa.

Tiga kelompok minoritas terbesar asing adalah orang Tionghoa, Amerika, dan Asia Selatan. Sisanya adalah orang-orang Eropa, Arab, Indonesia, Korea, dan Jepang. Orang-orang Mestizo adalah minoritas sebesar 1-2% yang berpengaruh. Dalam penelitian dari Universitas Stanford, ditemukan bahwa 3,6% populasi memiliki turunan dari bangsa Eropa.

95,9% penduduk Filipina bisa membaca, salah satu yang tertinggi di Asia, dan setara untuk pria maupun wanita. Angka harapan hidup penduduknya adalah 69,29 tahun; 72,28 untuk wanita dan 66,44 untuk pria. Pertumbuhan penduduk per tahunnya sebesar 1,92% dan sekarang Filipina sedang mengalami masalah kepadatan penduduk karena angka kelahirannya tinggi. Filipina mempunyai kira-kira 85 juta penduduk menurut perkiraan sensus 2005. (sumber: Wikipedia)

Jambore ke-26 Asia-Pasifik di Kaki Gunung Makiling, Provinsi Laguna, Filipina

Indonesia tidak ketinggalan dalam berpramuka. Gerakan Pramuka Indonesia akan mengirimkan kontingen yang beranggotakan 144 anggota Pramuka putra dan putri dari seluruh Indonesia berusia 12-17 tahun untuk ikut-serta dalam Jambore Pandu Regional Asia-Pasifik ke-26 di kaki Gunung Makiling, Provinsi Laguna, Filipina, 28 Desember 2009 sampai 3 Januari 2010.

Jambore adalah perkemahan besar para Pandu/Pramuka yang diisi berbagai kegiatan dan permainan lapangan serta bergembira bersama. Lebih dari enam ribu Pandu/Pramuka atau Scout putera dan puteri dari 26 negara Asia-Pasifik diharapkan ikut-serta dalam Jambore tersebut, yang bertujuan mempererat persaudaraan dan saling-pengertian antar generasi muda calon-calon pemimpin bangsa guna membangun kerjasama sosial-ekonomi dan perdamaian kawasan.. Tema Jambore Asia Pasifik ke-26 adalah “Scouts: Creating a Better World” (Pandu: Menciptakan satu Dunia yang Lebih Baik).

Panitia Jambore mengenakan biaya 200 Dollar AS kepada setiap peserta untuk transportasi lokal, makanan dan tenda untuk berkemah. Sedangkan biaya di luar itu, peserta harus menanggung sendiri antara lain untuk biaya tiket pesawat Jakarta-Manila p.p. serta perlengkapan kontingen termasuk seragam lengkap Pramuka kecuali sepatu, ransel besar dan back pack, tas pinggang, jaket, t-shirt, topi lapangan, souvenir, kartu nama dengan foto dan alamat e-mail, pin dan badge kontingen. Bila ditotal biaya keseluruhan yang dibutuhkan sekitar Rp 10 juta rupiah/ peserta.

Kwartir Nasional Gerakan Pramuka juga memberi kesempatan kepada anggota Penegak, Pandega dan anggota dewasa berusia 18 hingga 45 tahun untuk menjadi sukarelawan panitia jambore atau dikenal dengan istilah International Service Time (IST). Hanya 20 anggota putra dan putri dari Gerakan Pramuka Indonesia yang dialokasikan sebagai IST, dengan batas waktu pendaftaran paling lambat 15 Oktober 2009, serta menanggung sendiri biaya tiket pesawat Jakarta-Manila p.p. dan fee 200 Dolar AS.

Di antara berbagai kegiatan yang digelar dalam Jambore Asia-Pasifik adalah termasuk Global Development Village dan Asia-Pasific Region Village, yang mempertunjukan berbagai karya seni dan budaya, serta kemajuan ilmu dan teknologi, juga kegiatan pelestarian lingkungan dari berbagai negara dan bangsa di Asia-Pasifik. Bumi perkemahan Makiling National Scout Reservation Camp pernah menjadi arena Jambore Pandu se Dunia ke-10 tahun 1959. Jambore Pandu Asia-Pasifik 1973 juga diselenggarakan di Gunung Makiling, Filipina.

Pandu se Asia-Pasifik bertekad menggalang semangat SHARE (berbagi), yang dalam Bahasa Inggris adalah singkatan Solidarity (Solidaritas atau Persaudaraan), Harmony (Harmoni atau Keselarasan), Altruism (Saling Mencintai / Mengasihi), Respect (Saling Menghormati) dan Equality (Persamaan), guna mewujudkan satu dunia yang lebih baik di tengah banyak sekali perbedaan di kawasan ini karena ras, suku, dan kepercayaan.

Sekadar catatan, Jambore Kepanduan Sedunia pertama kali diadakan di Inggris pada 1920, kemudian yang kedua di Denmark (1924), selanjutnya ketiga kembali di Inggris (1929), keempat di Hungaria (1933), dan kelima di Belanda (1937). Pecahnya Perang Dunia II membuat penyelenggaraan Jambore Kepanduan Sedunia dihentikan sementara. Baru setelah Perang Dunia II usai, digelar Jambore Kepanduan Sedunia keenam di Prancis (1947), ketujuh di Austria (1951), kedelapan di Kanada (1955), dan kesembilan kembali diadakan di Inggris pada 1957 untuk memperingati 50 tahun berdirinya Gerakan Kepanduan Sedunia yang dimulai pada 1907.

Jadi, Jambore Kepanduan Sedunia ke-10 pada 1959 adalah untuk pertama kalinya para pandu di seluruh dunia menikmati berjambore dan berkemah di negara tropis. Tercatat 12.203 peserta dari 44 negara ikut serta dalam jambore itu, termasuk pula kontingen dari Indonesia.

Mount Makiling juga tercatat dalam sejarah sebagai tempat diselenggarakannya pertama kali Jambore Kepanduan Asia-Pasifik. Jambore yang diberi nama 1st Asia-Pacific Regional Jamboree diselenggarakan dari 28 Desember 1973 sampai 4 Januari 1974. Sejumlah anggota Gerakan Pramuka juga ikut dalam jambore tersebut.

Duapuluh tahun kemudian, tepatnya dari 28 Desember 1993 sampai 4 Januari 1994, Mt. Makiling kembali menerima para pandu dari mancanegara. Kali ini, di tempat itu digelar 1st ASEAN Scout Jamboree (Jambore Kepanduan ASEAN pertama). Lebih dari 12.000 peserta dari 16 negara, termasuk Kontingen Gerakan Pramuka, ikut serta dalam jambore itu. Selain dari negara-negara ASEAN, jambore tersebut memang diikuti pula oleh sejumlah pandu dari negara-negara di luar ASEAN.

Kali ini, dalam Jambore Kepanduan Asia-Pasifik ke-26 yang bakal digelar akhir Desember 2009, selain dari negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, menurut rencana akan diikuti pula oleh sejumlah pandu dari Inggris, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya di luar Asia-Pasifik.

Boy Scouts of the Philippines (BSP), yang menjadi tuan rumah acara itu, telah siap menyambut para peserta. Presiden BSP Jejomar C. Binay, yang juga Wali Kota Makati City dan Ketua Komite Kepanduan Asia-Pasifik, serta Sekretaris Jenderal BSP J. Rizal C. Pangilinan yang merupakan direktur jambore kali ini, dalam percakapan dengan penulis beberapa waktu lalu, mengemukakan kesiapan BSP untuk menerima para pandu dari mancanegara, termasuk dari Indonesia.