Rabu, 20 April 2011

Mengajar dengan Metode Inovatif Sistem Among Ki Hajar Dewantara


Metode sistem among dapat dikatakan metode pembelajaran inovatif yang mampu mengembangkan jiwa merdeka siswa. Metode ini melawan metode klasikal yang kaku, statis, dan dingin dengan info-info guru semata. Guru Indonesia sebaiknya jangan bertipe semut di seberang lautan tampak dan gajah di depan mata tidak tampak. Sebelum melirik gaya mengajar yang diimpor dari luar negeri, marilah melirik gaya mengajar yang telah dikembangkan tokoh Indonesia Ki hajar Dewantara. gaya itu adalah gaya mengajar dengan sistem among. 
Among mempunyai pengertian menjaga, membina, dan mendidik anak dengan kasih sayang. Lalu gurunya disebut pamong karena momong (mengasuh) yang mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong. Guru disebut pamong yang bertugas mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu. Tujuan sistem among membangun anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa, merdeka lahir batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani rohani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya.
Sistem among memberikan ciri jiwa merdeka. Jadi, mengajar dengan sistem among yang pertama harus ditumbuhkan adalah mengenalkan, menanamkan, dan mewujudkan jiwa merdeka. Dengan jiwa merdeka, kreativitas dn imajinasi siswa akan muncul dan kelak menjadi bekal membangun Indonesia. Oleh karena itu, sistem among mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan/kekerasan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak. Sistem Among dilaksanakan secara “tut wuri handayani”, bila perlu perilaku anak boleh dikoreksi (handayani) namun tetap dilaksanakan dengan kasih sayang.
          Ki Hadjar Dewantara menyebutkan bahwa “Sang anak harus tumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei) itulah perlu sekali untuk segala kemajuan (evolutie) dan harus dimerdekakan seluas-luasnya. Pendidikan yang beralaskan paksaan-hukuman-ketertiban (regering-tucht en orde) kita anggap memperkosa hidup kebatinan sang anak. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Itulah yang kita namakan Among Methode.”
Dalam pelaksanaan pembelajaran, Ki Hajar Dewantara menuturkan “Pelajaran berarti mendidik anak-anak akan menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka fikirannya dan  merdeka tenaganya.”
Pembelajaran dengan metode sistem among bersendikan  Kodrat Alam dan Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Sendi kedua Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak hingga dapat hidup mandiri. Ki Hajar Dewantara menempatkan jiwa merdeka sebagai sifat kodrati sang anak yang harus ditumbuh kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran.
        Cara mengajar dengan metode sistem among berarti mengajar dengan cara terbuka, kasih sayang, bebas, dan melindungi siswa dengan kesejukan dan kenyamanan pikiran. Teknik mengajarnya dengan cara bermain. Ki Hajar Dewantara sering menganjurkan para pamong untuk mengajak siswa sambil “bermain” dalam memberikan pelajarannya. Misalnya pelajaran ilmu bumi (geografi) dengan menggambar pulau Indonesia pada tanah/pasir dan menandai kota-kota dengan batu, gunungnya dengan gundukan kecil, hutan dengan lumut hijau. Pelajaran menghafal abjad dengan bernyanyi/tembang, pelajaran biologi dan botani (tumbuhan) dengan bermain jalan-jalan ke sawah/kebun. Bahkan pelajaran seni dengan nyanyi/tari dolanan anak hingga kini masih menjadi ciri khas perguruan Tamansiswa. Praktek bermain merangsang tumbuhnya jiwa merdeka si anak, dan dalam bermain harus konsisten dan konsekuen pada aturan main yang disepakati.
Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa kemerdekaan itu tidak tak terbatas. Kemerdekaan dibatasi oleh tertib damainya masyarakat sehingga kemerdekaan seseorang tidak dibenarkan mengganggu kemerdekaan orang lain. Kemerdekaan diri mengandung arti kemerdekaan yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan tidak melanggar kemerdekaan orang/golongan lain.
Seseorang tidak selayaknya “dengan merdeka” meletakkan material batu/pasir di pinggir jalan, karena mengganggu kemerdekaan pemakai jalan yang lewat. Walaupun ada Perda yang mengatur dan memberi sanksi mengenai hal itu, namun banyak masyarakat yang belum faham betul arti kemerdekaan diri yang sejati. Kemerdekaan pers seorang wartawan-pun seharusnya tidak etis bila memberi informasi yang mengganggu azasi orang lain.
(Sumber: tamansiswa.org)

Cuci Otak Kebangsaan Indonesia Mengalami Pemiskinan

Wikipedia menyebutkan bahwa cuci otak adalah sebuah upaya rekayasa pembentukan ulang tata berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu menjadi sebuah tata nilai baru. Praktik ini biasanya merupakan hasil dari tindakan indoktrinasi, dalam psikopolitik diperkenalkan dengan bantuan pembelajaran di kelas atau pertemuan antarindividu yang berkepentingan dengan individu yang akan dicuci otaknya. Nah, saat ini, program cuci otak anak bangsa untuk tetap bangga dan setia terhadap bangsa dan negara Indonesia dalam kondisi apapun mulai luntur. hasilnya, kebanggaan menjadi warga Indonesia mulai memudar akibat fakta negatif tentang Indonesia yang terus menerus menghantam pikiran warganya. Sementara itu, guru di kelas kurang kuat menggunakan metode cuci otak untuk menanamkan jiwa kebangsaan bagi siswanya.


Dalam kondisi seperti itu, muncul pemanfaatan kekosongan cuci otak itu oleh kelompok yang mengatasnamakan NII atau sejenisnya untuk mengambil alih cuci otak dengan paham lain. Pola cuci otaknya adalah menggeser pikiran asal ke pikiran baru dengan doktrin tertentu sampai diperoleh kesetiaan sampai mati. 


Saat ini mulai tampak permukaan hasil cuci otak setelah muncul berita generasi terbaik Indonesia hilang, dan ditemukan dalam keadaan kosong pikiran. Salah satunya menimpa Lian Febriani (26).  Teknik cuci otak ke Lian yakni dengan memberikan minimal 10 fakta dan 1 ide. Seorang target atau sasaran cuci otak akan diberi minimal 10 fakta apa pun di sekelilingnya. Si korban tentu akan membenarkan fakta-fakta yang diberikan orang tersebut. Setelah itu, pencuci otak akan memberikan idenya. Ide ini nantinya tidak akan bisa ditolak oleh korban. Jadi otak manusia itu akan hang jika dicekoki dengan banyak hal. Misalnya saya bilang ini hari Senin, dijawab ya. Terus berlanjut fakta lainnya. Sampai akhirnya saya bilang nanti malam nonton yuk. Orang itu tidak akan menolaknya. Teknik cuci otak ini memang sejak dulu digunakan untuk menyebarkan ideologi.  Prosesnya dengan 3 cara yakni beriman, berhijrah, dan berjihad. Proses beriman yakni saat korban diberikan fakta-fakta tersebut dan membenarkan semua fakta-fakta itu. Kemudian pencuci otak itu akan mengatakan kepada korbannya jika sudah beriman, maka harus berhijrah untuk meninggalkan masa lalu dan menjadi orang baru. Setelah itu baru berinfak untuk berjihad.

Sabtu, 09 April 2011

Anak 9 Tahun Menangi Lomba Robotika

Ichdan Rasyid (9) tahun sangat mengejutkan. Betapa tidak. Saat lomba pada Single Line Tracer Analog Smanisda Cup (LTASC) 2011 yang digelar di SMAN 1 Sidoarjo tanggal 2 April, Rasyid mampu menyingkirkan rivalnya dari SD, SMA dan SMK se-Jatim dalam kompetisi robotika.  Dia meraih juara 1 padahal masih duduk di bangku kelas 3 A di SD Muhammadiyah 4 Surabaya.

Anak yang meskipun mengikuti ekstrakulikuler Robotika di sekolahnya, sebelumnya belum pernah merakit robot. Hanya berlatih intensif seminggu sampai tangan lelah dan jari telunjuk sakit, sang anak mampu merealisasikan gagasannya.
Rasyid sering berlatih saat akan menyiapkan karya yang ia lombakan bersama guru pendampingnya di ekskul Robotika. Orang tua Rasyid sangat mendukung kiprah anaknya sehingga terjadi sinergi antara keduanya.

Pendidikan Seks untuk Pramuka di Inggris

Pramuka di Inggris tidak hanya belajar tentang berkemah, tali temali, kano atau hewan lebah. Kini Pramuka di Inggris juga dibekali pendidikan seks sehat untuk membantu mencegah tingginya penularan penyakitseksual di negeri tersebut.

Asosiasi Pramuka Inggris resmi meluncurkan pejaran seks untuk Pramuka pada 5 April 2011. Program pendidikan seks ini untuk Pramuka usia 14-18 tahun. Program pendidikan seks untuk pramuka ini seperti dilansirSMH, Jumat (8/4/2011) dirancang untuk memberikan pengetahuan pada anak-anak muda tentang bagaimana hubungan seks yang sehat saat dewasa.

Program pendidikan seks bertajuk 'My Body, My Choice' ini meliputi berbagai aktivitas seperti pelajaran tentang kondom yang dikemas dalam bentuk kuis atau pelajaran penyakitseksual menular melalui kartu permainan (game). Ada juga permainan pertukaran cairan dengan menggunakan cangkir plastik dan pewarna makanan, untuk menunjukkan seberapa cepat cairan dan infeksi menyebar. "Kami ingin membantu orang muda untuk sadar, peduli dan percaya diri sehingga terhindar daripenyakit menular seksual," kata Ketua Pramuka Bear Grylls seperti dilansir dari SkyNews. "Kita hanya punya satu tubuh, jadi hormatilah sehingga orang juga akan menghormatimu," lanjutnya.

Asosiasi Pramuka Inggris akan memberikan materi kursus untuk tiap kelompok pramuka yang disesuikan dengan usia. Dengan pendidikan seks ini diharapkan orang muda bisa lebih cerdas dalam menyikapi masalah seks dan penyakitnya. Inggris merupakan negara tertinggi di Eropa yang memiliki kasus infeksi menular seksual dan kehamilan remaja. Namun para kritikus mengingatkan bahwa pemberian pendidikan seks ini bisa membuat pemuka agama marah. (Sumber: Detik.Health.com)

Lokakarya Penerapan Pendidikan Karakter bagi Guru SD Se-Kecamatan Sukomanunggal Surabaya

Lokakarya kali ini sangat menggembirakan peserta meski meeka berada dalam kondisi lelah sehabis perjalanan dari Surabaya ke Batu yang didera macet itu. Dua penyaji materi memang sangat pas dan berkaitan dengan gaya sajian yang menarik, lengkap, dan membelajarkan, siapa lagi kalau bukan Drs. Joko Adi Waluyo, M.T. dan Dr. Suyatno, M.Pd. "Walau sudah ikut materi berkali-kali, tapi kalau kedua orang itu yang sajikan, wuih, rasanya ingin berlama-lama", kata Untung, salah satu guru yang menjadi peserta.

Acara berlangsung cukup singkat yakni Sabtu--Minggu, 2--3 April 2011 di Hotel Pitaloka Palereman Batu dekat Jatim Park Batu Malang. Lokakarya dan outbound ditangani oleh tim Target yang sangat berpengalaman sejak tahun 2000 itu. "Pokoknya, puas deh", ujar salah satu peserta. Acara itu memang diperuntukkan bagi penguatan SDM guru agar tidak statis dalam mengajar.

Jumat, 08 April 2011

Kegagalan Pendidikan di Asia karena Skor-Tes

Artikel singkat berjudul “Asian Test-Score Culture Thwarts Creativity”, yang ditulis oleh William K. Lim dari Universiti Malaysia Sarawak pada edisi 26 Maret 2010, dimuat di salah satu jurnal sains paling bergengsi di dunia, Science. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa meskipun sejak bertahun-tahun lalu Asia didaulat akan menjadi penghela dunia sains berkat sangat besarnya investasi di bidang sains dan teknologi, kenyataannya Asia masih tetap saja tertinggal di banding negeri-negeri barat (Eropa Barat dan Amerika Utara). Menurutnya, akar permasalahannya adalah budaya pendidikan Asia yang berorientasi pada skor-tes, yang alhasil tidak mampu mengasah keterampilan berpikir dan kreativitas pelajar. Padahal kedua kemampuan itulah yang menjadi dasar untuk bisa menjadi ilmuwan yang berhasil.

Di Asia, para pelajar dan sekolah berorientasi mengejar skor-tes setinggi-tingginya. Para pelajar yang memiliki skor-tes lebih tinggi akan lebih baik karir masa depannya karena persyaratan masuk ke berbagai institusi pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik ditentukan oleh skor-tes. Semakin tinggi skornya tentu semakin baik pula peluangnya. Beragam pekerjaan bergengsi juga hanya bisa dimasuki oleh mereka-mereka yang memiliki skor tinggi. Sekolah yang para siswanya meraih skor-tes tinggi akan naik reputasinya, dan dengan demikian menjamin pendanaan lebih banyak. Guru pun ditekan untuk mengajar dengan orientasi agar siswa bisa memperoleh skor-tes yang tinggi. Tidak heran jika kemudian latihan-latihan tes mengambil porsi besar dalam pendidikan di sekolah-sekolah di Asia karena keberhasilan sebuah sekolah semata-mata dinilai dari catatan skor-tes yang diperoleh sekolah itu.

Akibat iklim pendidikan berorientasi skor-tes, para orangtua di Asia lazim memasukkan anak-anaknya ke suatu les pelajaran tambahan di luar sekolah sejak usia dini. Di Singapura, pada tahun 2008, sejumlah 97 dari 100 pelajar mengikuti les tambahan pelajaran di berbagai institusi persiapan tes (baca: Lembaga Bimbingan Belajar). Pada tahun 2009, industri persiapan tes di Korea Selatan bernilai 16,3 Miliar US$ atau setara dengan 146,7 triliun rupiah. Jumlah itu kira-kira senilai 36% dari anggaran pemerintah untuk dunia pendidikan di negeri ginseng.

Akibat waktu sekolah yang panjang dan beban PR yang berat, para pelajar Asia hanya terasah kemampuan intelektualnya dalam hal mengingat fakta-fakta untuk kemudian ditumpahkan kembali saat ujian. Hasil dari budaya pendidikan semacam itu adalah kurangnya keterampilan menelaah, menginvestigasi dan bernalar, yang sangat dibutuhkan dalam penemuan-penemuan ilmiah. Dalam artikelnya, William K. Lim menyatakan bahwa para mahasiswa yang ditemuinya lemah dalam melihat hubungan-hubungan dalam berbagai literatur, membuat kemungkinan-kemungkinan ide-ide, dan menyusun berbagai hipotesis. Padahal, mereka adalah para peraih skor-tes tertinggi. Hal itu membuktikan kalau sistem pendidikan Asia tidak melahirkan talenta saintifik.

Benar bahwa dalam berbagai ujian, para pelajar Asia “selalu” memiliki skor-tes lebih baik dari para pelajar Eropa Barat dan Amerika Utara berkat pendidikannya yang berorientasi skor-tes. Akan tetapi ketika bicara soal kreativitas dan kualitas hasil penelitian, para pelajar Asia jauh tertinggal. Sebagai akibatnya, sangat sedikit ilmuwan berkelas yang dihasilkan Asia. Mayoritas ilmuwan kelas dunia dari negara-negara Asia pun biasanya dididik dalam pendidikan Eropa/Amerika, bukan dalam iklim pendidikan Asia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa para pemenang olimpiade sains dunia (fisika, sains, biologi, dan lainnya) mayoritas berasal dari Asia. Indonesia sendiri telah berkali-kali memiliki para juara. Akan tetapi mereka merupakan hasil penggodokan khusus oleh tim khusus olimpiade sains. Mereka bukan hasil alami iklim pendidikan seperti biasa. Jadi, fenomena itu sama sekali tak mengindikasikan keberhasilan sistem pendidikan di Asia. Faktanya, meskipun mendominasi kejuaraan, Asia tak kunjung melahirkan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Jumlah ilmuwan yang terlahir dari Eropa/Amerika sangat timpang jauhnya dibandingkan dari Asia.

Bukti kegagalan sistem pendidikan Asia dalam menelurkan talenta saintifik berlimpah ruah. Benar bahwa Asia, terutama Asia Timur, digambarkan kuat dalam menyerap pengetahuan yang ada dan dalam mengadaptasi teknologi yang sudah ada (maklum, mereka canggih dalam mengingat). Akan tetapi Asia gagal membuat kontribusi orisinil terhadap ilmu-ilmu dasar. Hingga kini tidak ada temuan-temuan ilmiah berarti dari Asia. Kemajuan besar dalam sains dan teknologi yang digapai negeri-negeri Asia tidak ada yang merupakan karya orisinil Asia: nyaris semuanya merupakan adaptasi teknologi dari negeri-negeri barat. Padahal, negeri-negeri barat sempat cemas dengan besarnya investasi negara-negara Asia terhadap dunia pendidikan yang jumlahnya jauh melebihi investasi mereka. Dikuatirkan mereka bakal terkejar dan lantas tertinggal dari Asia dalam satu atau dua dekade saja. Akan tetapi, ternyata mereka tak perlu risau lagi. Investasi pendidikan besar-besaran negara-negara Asia telah gagal karena kesalahan Negara-negara itu dalam membangun budaya pendidikannya. Kini, Asia tetap tertinggal di belakang.

Indonesia agaknya tidak belajar dari kegagalan investasi pendidikan di negara-negara Asia lain. Pendidikan Indonesia saat ini ikut-ikutan berorientasi pada skor-tes. Konkretnya, skor-tes saat ujian nasional menjadi syarat mutlak kelulusan. Lantas, di mana-mana di berbagai sekolah di seluruh penjuru negeri, orientasi pengajarannya hanya agar para peserta didiknya berhasil melewati ujian nasional. Bulan-bulan menjelang ujian, berbagai mata pelajaran yang tidak diujiankan akan dihapus dari jadwal. Latihan tes ditekankan. Berbagai les diselenggarakan. Maklum, sekolah akan dianggap gagal jika tidak berhasil meluluskan siswa-siswanya dalam ujian nasional. Para politisi pun beramai-ramai memanasi suasana dengan ‘memaksa’ para sekolah di daerahnya untuk bisa meluluskan siswa-siswanya, apapun caranya. Sebab, skor-tes ujian nasional di suatu daerah juga menjadi citra daerah itu. Lantas tak mengherankan jika muncul berbagai macam kecurangan untuk mengatrol nilai para siswa agar bisa lulus ujian.

Pendidikan yang berorientasi skor-tes menjadi berkah tersendiri bagi industri persiapan tes. Industri itu akan menjadi industri pendidikan yang paling menjanjikan. Potensinya luar biasa besar. Dengan jumlah pelajar yang hanya kurang dari 20% dari jumlah pelajar di Indonesia, industri persiapan tes di Korea Selatan telah menuai kapitalisasi senilai 146,7 triliun rupiah. Bayangkan besarnya potensi pasar industri persiapan tes di Indonesia, potensinya bisa diduga ratusan triliun rupiah. Anda tertarik?

Buah yang akan dituai dari budaya pendidikan berorientasi skor-tes sangat jelas, seperti ditunjukkan negara-negara Asia lain yang telah gagal: ketidakmampuan menghasilkan ilmuwan. Maka, selamanya, selama budaya pendidikan itu tak diubah, Indonesia tak akan pernah mampu menjadi pelopor di bidang sains dan teknologi. Indonesia hanya akan menjadi pengekor karya ilmiah negeri-negeri lain, seperti selama ini. Masih mending negara-negara Asia lain, seperti Korea, Taiwan, China, Singapura dan Jepang yang mampu membuat adaptasi teknologi sehingga memakmurkan negerinya. Sedangkan kita, mengadaptasi saja tak mampu, apalagi mencipta.

Agaknya pemerintah Indonesia tetap ‘kekeuh’ mempertahankan kebijakan pendidikan skor-tes itu dengan berbagai alasannya. Tapi, pertimbangkanlah ini: jika negeri-negeri semaju seperti Korea, Jepang, Taiwan, Singapura saja telah dianggap gagal menelurkan para ilmuwan (dan dengan demikian gagal menjadi tuan di bidang sains dan teknologi) gara-gara budaya pendidikannya yang berorientasi skor-tes, masa sih kita harus meniru mereka?

Mengutip William K. Lim: “A radical trasformation of the educational culture must happen before homegrown Asian science can challenge Western technological dominance.”

Benar kata Tuan Lim, kita memerlukan transformasi radikal dalam pendidikan kita, atau kita akan terus menjadi negeri tak dianggap siapa-siapa (sumber: psikologi-online.com)

Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter menjadi idola yang dianggap mampu menguatkan kemerosotan moral generasi di segala bidang. Pendidikan yang mengutamakan perilaku moral itu dipandang sebagai salah satu solusi untuk membuat pendidikan moral menjadi efektif  dengan melakukan pendidikan karakter pada aspek perilaku.

Sudah diyakini bahwa pendidikan karakter dapat membentuk perilaku yang baik, jujur, dan berakhlak mulia. Dengan begitu, pendidikan karakter mampu mengawal kondisi Indonesia dari kondisi memprihatinkan, sering kali terjadi tindak kekerasan, korupsi, manipulasi, kebohongan, dan konflik menjadi kondisi yang membanggakan bagi kemanusiawian Indonesia. Oleh karena itu, institusi pendidikan harus  mewujudkan tujuan pendidikan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 Pasal 24 tentang tujuan pendidikan di Indonesia dan Pasal 3 UU No.20/2003 tentang Sisdiknas.

Pendekatan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah konvensional sangat berbeda dengan sekolah karakter. Sekolah konvensional hanya dengan pendekatan menghafal dan metode `drilling` atau `rote learning. Sekolah dengan basis pendidikan karakter yang harus menggunakan metode manusiawi dan penuh dengan praktik nyata karakter. Oleh karena itu, pihak sekolah dan guru memiliki peranan yang penting agar pendidikan karakter bisa dilakukan di sekolahnya sehingga para peserta didiknya memiliki sifat yang jujur, bertanggung jawab, santun, hormat, dan kasih sayang.

Andragogi: Prinsip Pembelajaran untuk Orang Dewasa


Tidaklah mudah membelajarkan orang dewasa dibandingkan dengan membelajarkan anak-anak. Kalau mengajar di anak-anak, guru akan cepat tahu kemampuan apa yang belum dipunyai anak. Namun, bagi orang dewasa, kemampuan apapun dipunyai meskipun hanya sedikit-sedikit. Oleh karena itu, terdapat beda konsep pembelajaran antara anak-anak dengan orang dewasa. kalau membelajarkan anak-anak lebih sering disebut pedagogi, membelajarkan orang dewasa disebut andragogi.

Kita semua tahu bahwa orang dewasa bukanlah ”lembar kosong” yang dengan mudah dapat ditulisi. Orang dewasa adalah orang-orang yang kaya pengalaman, punya pendirian dan sikap nilai tertentu. Untuk itu, terdapat prinsip membelajarkan orang dewasa.

 Prinsip-prinsip belajar dengan orang dewasa, yaitu:
· Prinsip pertama; tidak menggurui atau mengajari orang dewasa, tetapi ajaklah mereka BELAJAR bersama, karena:
Ø Orang dewasa menganggap dirinya mampu BELAJAR sendiri.
Ø Orang dewasa mampu mengatur dirinya sendiri (mandiri) dan tidak suka diajari apalagi diperintah kecuali jika mereka diberi kesempatan untuk bertanya mengapa? Dan mengambil keputusan sendiri.
Ø Sikap yang terkesan mengguruinya akan cenderung ditolaknya, atau dihindarinya.

· Prinsip Kedua; jangan menyalahkan atau merendahkan pendapat masyarakat (Orang Dewasa), karena:
Ø Harga diri sangat penting bagi orang dewasa. Dia menuntut untuk dihargai, terutama menyangkut diri dan kehidupannya.
Ø Orang dewasa memilki kesadaran akan dirinya dalam menanggapi penilaian orang lain.

· Prinsip Ketiga; Kembangkan proses belajar dari pengalaman masyarakat atau hubungkan antara teori dengan kehidupan sehari-hari masyarakat karena:
Ø Orang dewasa lebih senang mengobrol dan diskusi pengalaman untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan diri mereka dan lingkungan
Ø Orang dewasa senang menceritakan pengalamannya dan senang mendengarkan pengalaman orang lain.

· Prinsip Keempat; Berikan informasi yang memang dibutuhkan masyarakat, karena:
Ø Setiap orang dewasa mengontrol proses belajarnya, karena ia selalu punya tujuan pribadi untuk belajar.
Ø Orang dewasa tidak suka belajar sesuatau yang tidak bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari (tidak suka TEORI yang tidak diaplikasikan)
Ø Orang dewasa cenderung ingin segera menerapkan pengetahuan dan keterampilan baru.

· Prinsip Kelima; pertimbangan keterbatasan kemampuan belajar masyarakat (Orang Dewasa), karena kemampuan untuk menyerap informasi juga semakin kurang berdasar usia dan perubahan fisik.

Senin, 04 April 2011

Anak Laki-Laki Rentan Terkena Autis

Dibandingkan perempuan, laki-laki lebih rentan mengalami autisme atau gangguan interaksi sosial. Sebuah penelitian menemukan kenapa anak laki-laki lebih banyak terkena autis.

Penyebabnya adalah hormon seks, karena laki-laki lebih banyak memproduksi testosteron sementara perempuan lebih banyak memproduksi esterogen.

Kedua hormon itu memiliki efek bertolak belakang terhadap suatu gen pengatur fungsi otak yang disebut retinoic acid-related orphan receptor-alpha atau RORA. Testosteron menghambat kerja RORA, sementara esterogen justru meningkatkan kinerjanya.

Terhambatnya kinerja RORA menyebabkan berbagai masalah koordinasi tubuh, antara lain terganggunya jam biologis atau circardian rythm yang berdampak pada pola tidur. Kerusakan saraf akibat stres dan inflamasi (radang) jaringan otak juga meningkat ketika aktivitas RORA terhambat.

Meski bukan menjadi penyebab langsung, kadar testosteron yang tinggi berhubungan dengan risiko autisme. Sebab, gangguan pola tidur serta kerusakan saraf akibat stres dan inflamasi di otak merupakan beberapa keluhan yang sering dialami para penderita autis.

Selain itu, sebuah penelitian di George Washington University menunjukkan bahwa aktivitas RORA cenderung lebih rendah pada penderita autis dibandingkan pada orang normal. Bukti ini menguatkan hubungan antara testosteron dengan risiko autis.

"Sejak lama testosteron diduga berhubungan dengan autis, namun belum pernah ada pembuktian molekuler tentang hal itu. Penelitian ini makin menegaskan bahwa hormon ini berperan besar pada autis," ungkap sang peneliti, Valerie Hu seperti dikutip dari Newscientist, Senin (21/2/2011).

Penelitian lain yang juga mengaitkan hormon seks dengan autis pernah dilakukan oleh Simon Baron-Cohen dari University of Cambridge. Ketika itu Cohen menyimpulkan risiko autis meningkat jika sejak dalam kandungan janin sudah banyak terpapar testosteron, misalnya karena pemakaian obat-obat penghambat esterogen.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Public Library of Science ONE edisi bulan Februari 2011.

Autis merupakan salah satu jenis gangguan perkembangan anak yang bersifat kompleks. Penyebabnya antara lain gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak, sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi yang baik dengan lingkungan sosialnya. (sumber: Detik health.com)

Mengajar dengan Kartu Konsep: Kenangan untuk Affan Zaini

Betapa asyik dan menyenangkannya suasana kelas saat guru mengajarkan suatu topik dengan teknik kartu konsep. Semua bahan pembelajaran dituliskan di kartu konsep, baik fakta, konsep, prinsip, maupun prosedurnya. Sang guru memegangi kartu konsep itu sebgai acuan perjalanan materi yang disampaikan. Kartu konsep itu seakan menjadi pemandu arah pembelajaran dari awal sampai akhir.

Hasil yang diperoleh adalah (1) pembelajaran berlangsung sangat efektif karena gagasan guru tidak lari dari acuan yang ada, (2) alur pembelajaran terarah dan terukur, (3) materi yang sekiranya telah disampaikan dapat diulang dengan mengambil kembali kartu yang telah disampaiakn sedari awal, (4) siswa dapat merunut materi dengan cara mengurutkan atau memilih kartu konsep yang sekiranya belum dipahami, dan (5) pembelajaran menjadi menyenangkan karena guru sangat terbuka dan apa adanya dengan menunjukkan kartu konsep itu.

Memang, teknik kartu konsep merepotkan persiapan guru sebelum di kelas. Guru harus membuat kartu konsep seukuran KTP, lalu kartu tersebut ditulisi konsep yang hendak disampaikan ke siswa. Kartu yang sudah ditulisi itu, kemudian diurutkan berdasarkan penyajian guru. Betapa susahnya penyiapan bahan mengajar seperti itu. Namun, bagi guru yang berorientasi pada keberhasilan pembelajaran, usaha seperti itu tidak menjadi soal karena justru akan menghasilkan kepuasan.

Itulah kenangan bagi dosen Bahasa Indonesia Unesa, Drs. Affan Zaini, yang pada tahun 1980-an menggunakan teknik kartu konsep dalam setiap memberikan kuliah. Kenangan itu menginspirasi untuk pembaharuan pembelajaran dengan kartu konsep. Pada Minggu, 4 April 2011, Pak Affan, begitu biasa dipanggil, telah mendahului ke alam barzah, tetapi teknik kartu konsep menjadi gaya mengajar sebagai warisan murid-muridnya. Selamat jalan pak Affan Zaini.