Senin, 16 Mei 2011

Pendidikan akan Membuat Orang Hidup Lebih Sehat


Orang yang kurang berpendidikan cenderung menua lebih cepat, menurut sebuah penelitian di Inggris yang mencakup 400 wanita dan pria.
Pada 12 Mei 2011, BBC.co.uk versi Indonesia melaporkan bahwa bukti DNA memperlihatkan sel penuaan lebih sempurna di orang dewasa yang tidak punya kualifikasi pendidikan dibandingkan dengan mereka yang punya gelar sarjana. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal kesehatan Brain, Behaviour and Immunity. Para peneliti berpikir pendidikan akan membuat orang hidup lebih sehat.
Yayasan Jantung Inggris mengatakan penelitian yang dilakukan di London ini memperkuat perlunya usaha untuk mengatasi masalah kesenjangan sosial. Hubungan antara kesehatan dan status ekonomi, sosial muncul dengan jelas lewat hasil penelitian ini. Mereka yang miskin cenderung merokok, kurang berolahraga dan kurang punya akses untuk mendapatkan jaminan kesehatan dibanding mereka yang kaya.
Selain itu, latar belakang pendidikan cenderung menjadi faktor penentu yang bisa mempengaruhi kondisi kesehatan mereka dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan karena latar belakang pendidikan membantu orang mengambil keputusan yang lebih bagus terkait kondisi kesehatan mereka.
Professor Andrew Steptoe dari University College London, yang menggusung penelitian ini mengatakan "Pendidikan adalah pertanda status sosial yang orang dapatkan dalam awal hidupnya, dan penelitian kami menunjukan kondisi status sosial yang rendah mempercepat tumbuhnya sel penuaan." Tim peneliti Professor Stetoe mengambil sampel darah dari lebih 400 orang dewasa berumur antara 53 dan 75 tahun. (sumber: BBC.co.uk/12 Mei 2011)

Minggu, 15 Mei 2011

Gawat, 35% Pelajar Papua Dicengkeram Keganasan HIV/AIDS


Seorang pelajar salah satu sekolah di wilayah Kabupaten Jayapura terlibat perbincangan  "Kaka.. adik ingin beli kondom, supaya kalau hubungan sex bisa terhindar dari penyakit tiga huruf  (HIV-red)", lalu seorang yang bukan Kakak kandungnya menjawab "Silahkan saja, asalkan adik  sadar bahwa belum saatnya hubungan sex dilakukan, karena resiko pasti besar untuk terjangkit  penyakit HIV/AIDS yang belum ditemukan obatnya". demikian sebuah obrolan yang berujung  pada sikap seorang pelajar ini untuk tetap membeli kondom yang akan digunakannya nanti.
Dari  obrolan singkat diatas, terlihat bahwa kemungkinan pelajar tersebut sudah mengetahui  bahaya HIV/AIDS dan ingin mencegahnya memakai kondom, disisi lain mungkin belum  mengetahui informasi yang benar tentang dampak dari penyakit yang berbahaya ini.  Sehingga  perlu ada solusi dan upaya serius dalam menimimalisir hal yang terjadi seperti diatas, yakni suatu  informasi yang benar bagi pelajar, bahkan mahasiswa hingga masyarakat umum, guna  mencegah dan menghindari bahaya penyakit HIV/AIDS.

Penyakit ini memang terus mengalami peningkatan, sebagai total data terakhir dari Komisi  Penanggulangan AIDS (KPA) Papua,  hingga bulan September 2010 terdapat 6.300 lebih kasus  HIV/AIDS di Tanah Papua, walaupun berbagai upaya KPA bersama dinas terkait selalu memberi  informasi dan membantu, sehingga dibutuhkan pentingnya ada kesadaran masyarakat untuk  mengunjungi tempat Voluntary Counseling and Testing (VCT) adalah tes HIV yang dilakukan  secara sukarela. akan tetapi angka ini sewaktu-waktu bisa bertambah dan berkurang.  Bayang-bayang pelajar dalam bahaya HIV/AIDS di tanah Papua, bukan hal yang tidak mungkin,  sebab dari 6.300 lebih kasus yang ada, termasuk didalamnya usia antara 15-49 tahun atau usia  produktif, termasuk pelajar dan mahasiswa.  "Saat dari total data yang ada, khusus pelajar telah mencapai 35 persen, sehingga menjadi upaya untuk terus dilakukan sosialisasi di tingkat sekolah juga," ujar Constant Karma, Ketua KPA Papua, kepada JUBI di Jayapura, Jumat (18/3).
Hal ini sebagaimana juga menjadi perhatian penyebaran penyakit HIV/AIDS  di Kota Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, kini menggerogoti kalangan pelajar.
Menurut data yang dikeluarkan Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat (YPKM) cabang  Serui dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, di November – Desember 2010,  secara keseluruhan jumlah penderita HIV/AIDS di Distrik Yapen Barat sebanyak 30 penderita.  Rata-rata penderitanya adalah remaja berusia sekolah/usia produktif 15 - 20 tahun. “Ini baru data yang didapat dari satu Distrik yang disurvei. Distrik lainnya belum disurvei. Data itu  belum semuanya valid,” kata Sadar Parlindungan Saragih,  salah guru SMK Negeri 1 Kainui yang  juga terlibat dalam pendataan tersebut. Penyebaran penyakit tersebut di wilayah ini memang  memprihatinkan, karena dari pengakuan Parlindungan Saragih kepada JUBI, Selasa (15/3),  terungkap sudah ada sosialisasi yang dilakukan oleh KPA dan YPKM cabang Serui. Namun,  sosialisasi itu hanya berlangsung dua kali setahun. Kalau demikian, kata dia, maka dinas kesehatan setempat harus lebih peduli, karena terkesan  sampai sekarang Dinas Kesehatan malas tahu dengan kondisi yang ada, sehingga bisa  menyelesaikan masalah HIV/AIDS di wilayah ini dan secara umum Papua.

Demikian tidak terlepas dengan kabupaten/kota lainnya di Tanah Papua, kadang mengalami  tantangan dan hambatan yang sama, misalnya pemerintah setempat kurang peka, belum lagi, jika  masyarakatnya malas tahu dengan informasi HIV/AIDS dan tidak ikut mencegahnya. Data lain  yang dikumpulkan JUBI dari lapangan, misalnya di Kabupaten Jayapura, Papua, dimana pada  tahun 2009 jumlah Orang dengan HIV/AIDS (Odha) yang meninggal dunia sebanyak 180 orang,  sedangkan pada 2010 meningkat sekitar 12 orang. Sedangkan, pada 2010 jumlah pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Jayapura cukup tinggi yakni  mencapai 609 orang, yang terdiri dari laki-laki 242 orang, perempuan 367 orang, dengan rincian  IRT 164 kasus, lain-lain 124 kasus, PSK 102 kasus, buruh/petani 61 kasus, PNS 37 kasus,  pelajar/mahasiswa 41 kasus, swasta 57 kasus. Dengan rincian usia 20-29 285 orang, usia 30-39  sebanyak 198 orang, 15-19 sebanyak 44 orang, usia 40-49 sebanyak 55 orang usia 1-4 tahun 12  orang. Jumlah yang terbanyak dari Distrik Sentani 320 kasus, Sentani Timur 126 kasusu, Kaureh  26 kasus, Nimboran 20 kasus, Distrik Sentani Barat 25 kasus.

Sebagian besar pengidap HIV/AIDS di bumi Kenambay Umbay ini tertular melalui hubungan  heteroseksual sebanyak 592 orang, ibu ke anak sebanyak 4 orang, transfuai darah sebanyak 7  orang.  "Masalah ini sangat menguatirkan, sebab tidak ada distrik yang bebas dari penyakit  HIV/AIDS, sehingga akan berupaya memberikan sosialisasi kepada masyarakat hingga tingkat  kampung," ujar Sekertaris Komisi Penanggungalangan AIDS (KPA) Kabupaten Jayapura, Drs.  Purnomo, SE, belum lama ini.

Memang, jika dilihat antar daerah kasusnya berbeda-beda, karena kebanyakan di Papua terjangkit  lewat perilaku hubungan seks yang bebas dan berganti-ganti pasangan, sementara daerah lain  diluar Papua, kebanyakan pelajar atau Odha terjangkit akibat menggunakan jarum suntik narkoba  serta hubungan seks juga. sebagai contoh jumlah pengidap HIV/AIDS di Kota Bandung, berada  di posisi teratas se-Jawa Barat. Hingga April 2009, tercatat ada 1.744 orang. Sebagian besar  berusia produktif dan berstatus sebagai pelajar. Dari 1744 kasus itu, 885 orang diketahui  mengidap HIV dan 859 orang adalah penderita AIDS. Sebanyak 3,2 persen berasal dari kalangan  siswa berusia 15-19 tahun. Penyebab penularan paling banyak, hampir 66 persen, berasal dari  pemakaian jarum suntik pengguna narkoba. Kadangkala resiko terjangkitnya pelajar, karena ada yang berperilaku sebagai wanita pekerja seks, sehingga bisa saja hal ini membawa dampak penyebaran kepada sesama rekan-rekan pelajar lainnya dan harus diwaspadai. Inilah yang disebut kenikmatan membawa sengsara.

Melihat probematika penyakit menular mematikan ini yang belum ditemukan obatnya serta dalam  upaya memberikan pengetahuan yang benar kepada para pelajar di Papua, Dinas Pendidikan,  Pemuda dan Olah Raga Provinsi Papua, dalam tahun 2011 HIV/AIDS akan masuk dalam  kurikulum sekolah di wilayah tersebut. “HIV/AIDS pada 2011 akan masuk dalam kurikulum sekolah  di Papua, untuk menekan laju penyebaram HIV di Papua yang cukup tinggi dibanding provinsi lain  di Indonesia," Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Provinsi Papua, James  Modouw, belum lama ini.

Pihaknya telah mengambil kebijakan bahwa kompetensi HIV/AIDS akan diikutsertakan dalam  proses pembelajaran di sekolah-sekolah baik dari tingkat dasar hingga tingkat atas, sehingga ada  empat daerah yang telah mengimplementasikan kurikulum baru itu di sekolah-sekolah yakni Biak,  Timika, Jayawijaya dan Jayapura. Implementasi tersebut ada tiga strategi yaitu, berupa muatan  lokal, integrasi pada mata pelajaran yang relevan dan pengembangan diri.

Adanya kebijakan kurikulum HIV/AIDS semoga bisa membantu para siswa untuk memahami  bahaya yang ditimbulkan jika melakukan hubungan seks secara bebas, selalin miliki pengetahuan  pencegahan yang benar dan menghindari diri dari cara hidup yang tidak sehat. Program ini  dimasukan dalam muatan lokal sekolah, sebabnya pada bulan Februari 2011 lalu, sedikitnya 34  guru  dari Biak dan Jayapura mengikuti pelatihan trainner of trainner (TOT) Life School Education  tentang pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Biak Numfor, adapun program pelatihan  pencegahan HIV/AIDS bagi guru itu merupakan kegiatan untuk menyiapkan tenaga instruktur.
“Virus HIV/AIDS merupakan penyakit yang sangat berbahaya sehingga melalui pelajaran muatan  lokal yang diajarkan guru di sekolah-sekolah para siswa bisa mendapat informasi mengenai tata  cara pencegahan HIV/AIDS itu,” kata James Modouw.

Semua upaya lewat pendidikan formal di sekolah sangat baik sekali, akan tetapi faktor terpenting  yang ingin diajak dalam upaya mencegah penyakit ini bagi pelajar adalah keluarga memegang  peran paling strategis dalam mencegah dan menanggulangi penyebaran HIV/AIDS, sehingga  perlu untuk ditingkatkan karena mereka adalah guru pertama bagi anak-anaknya yang mengajarkan  etika dan moral agama. Orang tua dari para murid (pelajar) harus peka terhadap masalah yang dihadapi anaknya dan  mampu memberikan solusi terbaik baginya. Selain itu, partisipasi aktif para tokoh masyarakat yang  dianggap sebagai panutan masyarakat sudah seharusnya ikut andil dalam menjalankan  program-program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Tokoh masyarakat ini harus  dibekali berbagai informasi mendalam tentang HIV/AIDS agar tidak memunculkan sikap negatif  terhadap orang dengan HIV/AIDS atau Odha. Disamping itu, memberdayakan lembaga  keagamaan dan adat juga sangat penting untuk mencegah pergaulan bebas bagi para remaja  yang masih mencari jati dirinya.

Tantangan akan menjadi mudah diselesaikan, manakala semua pihak bergandeng tangan  bekerjasama memberikan informasi yang benar dan mencegahnya, paling tidak bagi orang tua  dan pihak sekolah untuk lebih mensosialisasikan hal ini, agar pelajar bisa menghindarinya dan  berperilaku hidup yang sehat, termasuk bagi para pelajar bahkan masyarakat umum untuk memiliki kesadaran dalam mencegah bersama bahaya penyeberannya. Sekecil apapun dilakukan, tetapi yang namanya hidup dalam seks  bebas dan berganti-ganti pasangan, akan sangat besar resiko pintu masuk penyakit ini. Upaya pencegahan dilakukan terutama untuk pelajar yang masih menempuh pendidikan di sekolah yang harus diberi informasi yang tepat agar mereka bisa menghindar dari tertular HIV. Ini merupakan sebuah upaya yang penting untuk mencegah perkembangan jumlah penderita dan hidup sesuai norma-norma sosial dan norma agama dan saling setia dalam takut akan Tuhan.  (sumber:tabloidjubi.com/Eveerth Joumilena/Abubar)

Kemendiknas: Dibandingkan 2010, Kelulusan UN tahun 2011 Meningkat


Seharusnyalah kalau kelulusan tahun 2011 lebih baik dibandingkan tahun lalu. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) membeberkan, secara keseluruhan presentase hasil kelulusan pada satuan pendidikan SMA/MA pada tahun ajaran 2010-1011 mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun ajaran sebelumnya.

Dari seluruh 1.461.941 peserta UN SMA/MA, 1.450.498 atau 99.22 persen siswa lulus, sementara 11.443 atau 0.78 persen siswa lainnya dinyatakan tidak lulus. Pada tahun ajaran sebelumnya (2009-2010), dari 1.522.195 peserta yang mengikuti ujian nasional, yang lulus hanya 1.368.938 atau 89.93 persen, dan 153.257 atau sama dengan 10.07 persen lainnya tidak lulus.
Merujuk pada data di atas, hasil kelulusan nasional satuan pendidikan SMA mengalami kenaikan sekitar lebih dari sembilan persen. Berikut adalah ringkasan perbandingan siswa lulus dan tidak lulus menurut jurusan pada satuan pendidikan SMA/MA tahun ajaran 2010/2011. Jurusan IPA dengan jumlah peserta 627.859 siswa, 625.924 atau 99.69 persen siswa lulus dan siswa yang tidak lulus sebanyak 1.935 atau 0.31 persen.

Untuk jurusan IPS jumlah pesertanya 34.358, yang lulus sebanyak 33.860 atau 98.55 persen dan 498 siswa tidak lulus atau 1.45 persen. Sedangkan untuk jurusan Bahasa, dari 8.782 jumlah peserta, 8.610 atau 98.04 persen siswanya lulus, dan 172 atau 1.96 siswanya tidak lulus. Khusus untuk jurusan Agama dengan jumlah peserta terbanyak, dari 790.942 jumlah peseta, 782.104 atau sama dengan 98.88 persen siswanya lulus dan sebanyak 8.838 atau sama dengan 1.12 persen siswa lainnya dinyatakan tidak lulus. (sumber: kompas.com)

Rabu, 11 Mei 2011

Inilah Kapsul Suplemen untuk Siswa agar Berprestasi

Tahukah guru bahwa siswa memerlukan suplemen dalam belajar di kelas? Siswa yang pandai biasanya karena mendapatkan suplemen yang cukup dari gurunya. Sebaliknya, siswa belum pandai karena tidak mendapatkan suplemen dari gurunya. Guru harus rajin memberikan suplemen bagi siswanya.

Suplemen yang dimaksud di sini bukanlah sejenis vitamin dalam minuman atau obat namun sentuhan guru sebagai suplemen yang memberikan gairah belajar siswa. Suplemen belajar sangat murah karena tidak perlu membeli. Modalnya hanya guru ikhlas atau tidak memberikan suplemen itu.

Berikut suplemen yang harus diberikan kepada siswa oleh guru agar daya vitalitas belajar siswa meningkat.
(1) Suplemen Sapa
Suplemen sapa berbentuk ucapan guru yang menyapa siswa dengan lembut dan nyaman di dengar. Suplemen ini hanya terdiri dua sampai tiga kata dan hanya diucapkan selama 3 detik. Contoh suplemen sapa adalah "pagi, anak-anak", "Sehat semua, anak-anak", Bagaimana kabarmu, hari ini?", dan sebagainya. Suplemen sapa diberikan saat siswa pertama berjumpa dengan gurunya.

(2) Suplemen Senyum
Berilah anak vitamin senyum yang mengembang dari guru. Niscaya, dalam sehari siswa akan bergembira dan tersenyum pula sehingga siswa akan dengan mudah menyerap informasi belajar. Suplemen ini sangat murah karena hanya membutuhkan gerakan 227. Gerakan 227 yang dimaksud adalah 2 cm bibir melebar ke kiri, 2 cm melebar ke kanan, dan senyum selama 7 detik. Senyum guru akan dibalas dengan senyum siswa. Hasilnya, siswa akan mempunyai semangat belajar.

(3) Suplemen Jempol
Suplemen ini hanya cukup dengan gerakan jari jempol yang ditujukan ke siswa. Jempol memberikan sentuhan rasa yang membanggakan bagi siswa. Guru cukup memberikan jempol kepada semua siswa baik yang pandai maupun yang belum pandai.

(4) Suplemen Pujian
Cobalah senantiasa memuji siswa dalam keadaan apapun dengan kata-kata yang menguatkan kejiwaan siswa. Berikut ini kata-kata pujian yang memberikan vitamin menyehatkan jiwa. Contohnya, "Kalian hebat hari ini", "Bagus, kerja kalian", "Luar biasa, hari ini", dan seterusnya.

Selasa, 10 Mei 2011

Setelah Mendapatkan Sertifikat Guru, Ke Mana Saja Guru Itu

Dulu, semasa tahun pertama sertifikasi guru, rasanya ramai sekali dunia diskusi, seminar, dan pelatihan. Bahkan, blog, facebook, email, dan jalur twitter sangat padat. Seolah mereka menumpahkan semangat untuk memajukan pendidikan tanpa ampun. Pokoknya, tiap detik tiap waktu, guru-guru berdesak-desakan untuk memburu informasi pendidikan.

Sekarang, entah ke mana guru-guru itu. Pusat-pusat informasi pendidikan terasa sepi. Jalur internet juga sepi. Seminar untuk memperlancar pemikiran guru juga sepi. Semuanya sepi. Seakan guru diam seribu bahasa tanpa geliat sedikit pun dalam kampung sepi.

Padahal, kenikmatan hidup bertambah setelah mendapatkan tambahan pendapatan. Keluhan kurang gaji sudah tidak seramai dulu. Laptop baru. Sepatu baru. Tas baru. Bahkan kedaraan bermotor juga baru. Pokoknya semuanya baru. Hanya satu yang tidak baru, yakni perubahan.

Jangan-jangan, cara mengajar tidak juga baru. Mengajar ya seperti yang dulu-dulu. Buku tidak juga diperbarui. Diskusi pendidikan tanpa dilirik dan diburu. Semuanya biasa saja seperti waktu yang lama-lama. Lalu, apa yang mau dikatakan?

Senin, 09 Mei 2011

Guru Perlu Terbitkan Buku Sendiri: Beginilah Caranya

Kelas merupakan kumpulan masyarakat yang unik dan khas dengan dinamisasi siswanya. Kadang guru menemukan cara unik pula untuk melayaninya. Cara itu belum tentu terjadi di kelas lain dan sekolah lain. Nah, dalam kondisi unik itu, buku menjadi alternatif guru untuk menuangkan keunikan. Siapa tahu, guru akan mendapatkan penghasilan tambahan.

Di Surabaya, Trianto, guru MAN 1 Surabaya telah menerbitkan lebih dari 5 buku. Begitu pula, di sekolah lain lain banyak guru yang juga menerbitkan buku. Kini giliran Anda, sebagai guru, untuk menerbitkan buku yang berguna bagi guru lain. Female.kompas.com memberikan cara jitu menulis buku. Beginilah langkah untuk membuat buku.
1. Siapkan naskah
Siapkan naskah yang siap terbit. Jika ingin mendapat keuntungan finansial dari penjualan buku, sesuaikan dengan selera pasar. Kecuali jika Anda sudah punya target market sendiri.
2. Siapkan modal
Umumnya, modal yang dibutuhkan sekitar Rp 10-30 juta, tergantung dari jumlah halaman dan eksemplar. Jika Anda tak memiliki cukup modal, cobalah tawarkan kerja sama dengan teman atau lembaga tertentu.
3. Urus ISBN dan barcode
Setiap judul buku perlu identitas yang berlaku secara internasional dengan cara mendapatkan nomor ISBN (International Standard Book Number). Nomor ini bisa didapatkan di Perpustakaan Nasional. Setelah mengisi formulir keanggotaan ISBN, kita akan mendapatkan kartu keanggotaan dan penerbitan buku kita akan tercatat. Setelah itu tinggal buat barcode buku.
4. Pilih percetakan tepat
Usahakan memilih percetakan yang sudah biasa mencetak buku agar kualitas buku terjaga. Jika tidak, bisa jadi Anda justru sedang mempertaruhkan kredibilitas, kepercayaan pembaca.
5. Tentukan harga jual
Jumlahkan seluruh biaya produksi percetakan dibagi dengan jumlah oplah buku, lalu dikalikan lima, hasilnya adalah harga jual buku kita. Jangan menetapkan harga terlalu tinggi, karena akan memengaruhi minat beli konsumen. Cobalah berkonsultasi dengan distributor atau toko buku.
6. Pilih distributor
Temukan distributor yang tepat, dan buatlah perjanjian distribusi. Bagaimana sistem penjualannya, apakah beli putus atau konsinyasi. Berapa keuntungan untuk distributor dan royalti untuk penulis. Jangan lupa, mintalah laporan penjualan buku Anda setiap bulannya.
Kerja sama dengan penerbit
Untuk diterbitkan menjadi sebuah buku oleh sebuah penerbit, Anda butuh trik khusus.
Ide kreatif. Kemungkinan lebih besar diterima bila ide naskah Anda itu kreatif dan tidak pasaran.
Penerbit tepat. Pilih yang sesuai dengan ide tulisan. Jangan kirim cerita romantis ke penerbit khusus, seperti Yayasan Obor yang banyak menerbitkan buku ilmiah. Hati-hati pula terhadap kredibilitas penerbit, karena ada yang nakal, menerbitkan buku tanpa persetujuan penulis.
Buat surat pengantar. Bila sudah menemukan penerbit yang tepat, kirim surat pengantar mengenai tulisan Anda. Buat surat yang menerangkan tema dan isi buku Anda. Mintalah penerbit untuk mengabarkan apakah karya Anda diterima atau ditolak.
Bicarakan royalti. Bila naskah Anda diterima, jangan sungkan untuk membicarakan soal royalti. Biasanya, untuk pemula, penulis mendapat royalti 8 - 10 persen untuk cetakan 3.000 eksemplar pertama.
Promosi sendiri. Manfaatkan jejaring sosial untuk mempromosikan buku Anda. Semakin sering berpromosi, maka semakin dikenal buku Anda. Manfaatkan pula blog atau multiply untuk memperbesar kesempatan dilirik penerbit. Aktif di komunitas juga akan membantu, karena Anda punya jejaring teman banyak yang potensial jadi pembeli buku Anda.
Jangan patah semangat bila naskah Anda ditolak. Tanyakan pada penerbit alasan penolakannya agar Anda bisa memperbaikinya. Atau, kirimkan ke penerbit lain.
Masih ditolak juga? Terbitkan saja di dunia maya. (sumber: felame.kompas.com)

Guru dengan Energi Positif Bakal Menuai Prestasi, Beginilah Cara Meraih Energi Positif

Kegagalan guru di sekolah bisa jadi ditentukan oleh energi negatif yang melingkupi sekolah tersebut. Kepala sekolah yang uring-uringan, halaman sekolah kotor dan tidak beraturan, guru-guru yang penuh dengan permusuhan, dan siswa yang berada dalam kondisi jengah memberikan investasi bagi rendahnya prestasi karena terlalu banyak energi negatif. Suasana kantor guru yang muram dan rekan kerja yang doyan berkeluh kesah bisa menyerap energi positif yang Anda miliki dan bikin mood kerja berantakan.

Energi negatif itu harus diubah menjadi positif agar guru lebih banyak berprestasi. Judit Orloff, penulis buku Emotional Freedom: Liberate Yourself from Negative Emotions and Transforms Your Life mengatakan, cara untuk mengatasi serangan "vampir" yang mengisap energi positif dari Anda bisa dengan:

1.Jauhi Mereka
Kaburlah dari kerumunan guru lain yang suka menggunjing dan berperilaku negatif. rekan guru yang hobi menghasut dan main lempar kesalahan harus dijauhi. Singkirkan diri Anda sejauh-jauhnya dari mereka. Ini cara termudah untuk mengatasi situasi negatif yang menghadang di depan mata. Jika guru terjebak di dalam percakapan bernada negatif, segera tariklah diri keluar dari lingkaran tersebut. Tidak dapat beranjak pergi? Bayangkan saja di dalam pikiran bahwa Anda sedang memutuskan tali hubungan energi antara diri guru dengan orang tersebut.

2. Pasang Arah Lain
Jika perbincangan berkembang ke arah tertentu yang agak mengganggu, carilah peluang untuk memasang arah lain dan membelokkan arah perbincangan.Tidak jadi soal topik apa yang Anda jadikan bahan pembicaraan. Yang penting, tema tersebut bisa membuat semua orang berpaling dan melupakan topik sebelumnya. Misal, sah-sah saja kok, ngobrol tentang anjing peliharaan Anda untuk meredakan gosip tentang perselingkuhan atasan yang belum tentu benar.

3. Pikirkan Hal-Hal Positif
Tak berhasil membelokkan arah pembicaraan? Apa boleh buat, alihkan saja perhatian Anda pada hal-hal lain yang sifatnya positif. Misal, lamaran si dia atau kelahiran keponakan pertama Anda. Fokuskan pada peristiwa bahagia dan buatlah memori itu sebagai bahan bakar untuk membangun suasana hati positif. Menutup mata atau sekadar mengedipkan mata dalam hitungan detik juga mampu membantu menenangkan hati dan menjauhkan pikiran buruk. Masih belum berhasil? Tenangkan diri dengan berkonsentrasi pada arus keluar masuk udara pernapasan Anda.

4. Jangan Merespons
Tahan diri untuk merespons perkataan atau tindakan negatif apabila Anda sedang merasa tidak tenang. Tarik napas panjang untuk menenangkan diri. Sampaikan kalimat Anda dalam nada rendah untuk mengurangi intensitas suasana. Kala menerima kritik dari siapa pun, berfokuslah pada konten pembicaraan dan bukan pada cara penyampaiannya. Belajarlah mengabaikan kata-kata negatif yang tidak memberi makna pada pembicaraan Anda dengan seseorang.

5. Berhenti Menilai
Jika tak bisa berhenti memendam kekesalan pada orang lain yang selalu bersikap negatif, maka sudah saatnya Anda menghentikan aktivitas untuk menarik napas panjang. Jika diteruskan "sejengkal" lagi, Anda bisa menjelma menjadi si penebar aura negatif yang justru Anda benci. Berhentilah berusaha membuat orang lain mengubah pikirannya. Yang lebih penting dilakukan, bagaimana caranya supaya Anda tidak terseret masuk ke dalam pusaran energi negatif tersebut.

6. Temukan Hal Positif Pada Diri Orang Lain
Terjebak dalam sebuah proyek bersama rekan kerja yang hobi mengeluh? Jangan pusing karena hanya akan menambah beban pikiran Anda. Lebih baik, galilah hal-hal positif tentang dia dan fokuskan perhatian Anda pada poin tersebut. Misal, biar suka mengeluh, dia sebenarnya punya solidaritas tinggi terhadap teman. Atau, biar jarang tersenyum, dia sebenarnya punya selera berpakaian yang baik. Mungkin kapan-kapan Anda bisa minta ditemani belanja baju olehnya.

7. Tata Meja Kerja
Kelilingi diri Anda dengan benda-benda yang mampu membuat perasaan Anda lebih baik. Misalnya, foto ketika Anda sedang berlibur berdua kekasih, bantal lembut berbentuk hati, serta screensaver komputer berisi gambar-gambar cute atau kata-kata mutiara yang inspiratif. Boleh juga memasang gambar destinasi liburan yang ingin Anda kunjungi dengan uang tabungan nanti. Pokoknya, letakkan apa saja yang mampu memperbaiki mood Anda kembali saat melihatnya.

8. Cari Orang Beraura Positif
Di dunia ini selalu ada keseimbangan. Jika ada orang yang hobi menebar hawa negatif, pasti ada pula mereka yang memancarkan energi positif. Carilah orang tersebut dan habiskan waktu lebih banyak dengannya. Anda berdua bisa saling membantu dalam menghadapi lingkungan kerja yang tidak kondusif. Jika sudah merasa lebih baik, bangunlah antusiasme dengan banyak-banyak tertawa dan memfokuskan diri pada energi positif yang Anda miliki.

9. Perhatikan Sinyal
Terkadang, energi negatif yang Anda rasakan datang dari lingkungan merupakan pertanda bahwa sudah waktunya Anda "move on" dan mencari tempat yang lain. Jika segala upaya sudah Anda lakukan namun tak menunjukkan hasil yang menggembirakan, tak ada salahnya mempertimbangkan untuk mencari peluang baru di tempat yang lebih sreg di hati Anda. Siapa tahu in memang cara alam untuk menyampaikan sarannya untuk Anda. (sumber: Kompas.com

Pelajar Indonesia Berjaya di Tingkat Asia

Pelajar Indonesia terus menunjukkan konsistensinya mengharumkan nama bangsa di dunia. Pada ajang Olimpiade Fisika Tingkat Asia atau Asian Physics Olympiad di Tel Aviv, Israel, 1-9 Mei 2011, pelajar Indonesia menyumbangkan satu medali emas dan dua honorable mention. Medali emas diraih Evan Laksono (SMAK IPEKA Tomang, Jakarta). Adapun honorable mention dipersembahkan Erwin Handoko Tanin (SMA Sutomo 1 Medan) dan Limiardi Eka (SMAK Penabur Gading Serpong, Tangerang).
Hendra Kwee, pemimpin Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), Minggu (8/5/2011), mengatakan, peserta Asian Physics Olympiad (APhO) tahun ini berasal dari 16 negara. Indonesia termasuk enam negara yang berhasil mendapatkan medali emas bersama China, Taiwan, Israel, Rusia, dan Hongkong.
Awalnya, APhO diprakarsai Profesor Yohanes Surya tahun 2000. Indonesia selalu meraih emas sejak APhO 2005 hingga pelaksanaan tahun ke-12 kali ini. Tim Indonesia di APhO tahun ini dipimpin tiga dosen dari STKIP Surya, yaitu Dr Hendra Kwee, Dr Zainul Abidin dan Dr Herry Kwee, yang merupakan alumnus TOFI.
Alumnus TOFI 2010, Kevin Soedyatmiko dari SMAN 12 Jakarta, juga membantu sebagai salah satu anggota staf pada tim tahun ini. Kelima siswa dan tim pemimpin dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada Selasa (10/5/2011).
Hendra mengatakan, mulai tahun ini keikutsertaan pelajar Indonesia ke APhO tidak mendapatkan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Nasional. Keberangkatan tim didukung Prof Yohanes Surya lewat Surya Institute dan STKIP Surya. Sebelumnya, pelajar Indonesia yang dikirim ke APhO adalah yang dipersiapkan untuk berkompetisi di ajang Olimpiade Fisika Internasional.
"Dengan kebijakan pemerintah yang berubah, kami belum tahu apakah siswa yang berprestasi di APhO akan diikutkan ke tingkat internasional. Kami harapkan, ada kesempatan itu," kata Hendra.

Minggu, 08 Mei 2011

Guru Jenius Cenderung Mencoba Melihat Persoalan Dengan Cara Berbeda

Guru itu sebenarnya orang jenius di samping orang yang melahirkan manusia jenius. Agar guru menjadi jenius tulen, syaratnya harus banyak inspirasi dan usaha yang terus menerus. Ingatlah bahwa menurut Thomas Alva Edison, "Jenius adalah 1% inspirasi dan 99% keringat”. Semua guru itu sebenarnya jenius, hanya saja tidak semua dari kita bagian dari yang sebesar 99%. Jika tunjangan guru meningkat, bayangan orang awam guru akan semakin jenius karena 99% usaha keras akan terwujud.
Agar guru tetap jenius tentu perlu melihat tujuh alternatif berikut.


1) Mengamati
Untuk memecahkan sebuah masalah, pemahaman merupakan aspek penting. Cara termudah adalah dengan membagi masalah itu dan melihat melalui sudut yang berbeda. Gunakan cara atau perspektif yang mungkin tidak pernah kita dengar, atau orang lain lakukan sebelumnya.
2) Membayangkan
Suatu kali, Albert Einstein ditanya dengan pertanyaan ini, “Jika anda hanya punya 1 jam untuk menyelamatkan dunia, apa yang akan Anda lakukan?" Dia menjawab, "Aku akan menggunakan 55 menit untuk berpikir, 5 menit untuk bertindak.”
Einstein selalu menekankan bahwa kita perlu untuk merumuskan persoalannya dalam berbagai cara yang berbeda sebanyak mungkin, termasuk menggunakan diagram. Ia membayangkan solusi, dan percaya bahwa kata-kata dan angka seperti itu tidak memainkan peran penting dalam proses berpikirnya.
3) Produktivitas
Thomas Alva Edison gagal ratusan kali sebelum mencapai kesuksesan. Tahukah Anda bahwa ia memiliki 1.093 paten kekalahan? Dekan Keith Simonton University of California mempelajari 2.036 ilmuwan abadi dan menemukan bahwa yang paling sangat diakui tidak hanya memproduksi produk-produk berguna, tetapi juga banyak yang luar biasa berguna. Masalahnya, mereka menerjang melalui kegagalan untuk sampai pada titik keunggulan.
4) Mix and Match
Darren Rowse dari problogger.net, adalah beberapa blogger pertama yang mendatangkan uang secara online dengan blog. Apakah dia mengalami ketakutan? Tentu saja. Pada saat ketika semua orang blogging menggunakannya untuk mengeluarkan masalah pribadi, dia jsutru datang dengan ide blogging for money.
Grego Mendel, seorang biarawan Austria, menggabungkan matematika dan biologi untuk menciptakan dasar hukum keturunan. Ini hukum universal baru yang tercipta dari inovasi nya, dengan pencampuran dua mata pelajaran yang terkait secara minim.
5) Menghubungkan Sesuatu yang Tidak Berhubungan
Da Vinci mencoba menghubungkan antara suara bel dan batu dengan memukulkan ke air, hingga memungkinkan dia untuk membuat hubungan suara dengan gelombang. Apa yang ia lakukan tentu saja tak terpikirkan oleh orang lain. Ketika orang tak berfikir tentang gelombang suara, Da Vinci terus mencari cara untuk dapat menggambarkan gelombang suara yang tak tampak oleh mata. Akhirnya, gelombang suara tersebut analogikan dengan gelombang yang terbentuk di air.
6) Mencari Persamaan Sesuatu yang Terpisah
Menjelaskan melalui hal-hal yang tidak berkaitan seperti bagaimana Einstein secara sederhana menjelaskan teori-teorinya. Aristoteles menganggap metafora sebagai tanda yang jenius, dan percaya bahwa individu yang memiliki kapasitas untuk menangkap persamaan antara dua hal yang berbeda, kemudian menghubungkannya adalah seseorang diberi karunia khusus.
7) Keberuntungan
Keberuntungan = persiapan + kesempatan
Sebagai contoh, jika ada celah untuk pekerjaan akuntansi, itu kesempatan. Namun, saya lulusan IT dan tidak bisa menjawab iklan tersebut. Aku bisa, jika kesempatan itu untuk IT terkait.
Prinsip pertama ketidaksengajaan kreatif mengatakan kegagalan yang hanya bisa produktif jika kita tidak fokus pada hal sebagai suatu hasil yang tidak produktif. Pertanyaannya bukanlah "Mengapa saya gagal?", tetapi lebih pada "Apa yang telah saya lakukan?". Dari sinilah kita melakukan evaluasi kemudian mencobany lagi. Beberapa dari kita malah mendapatkan hasil di luar yang kita bayangkan sebelumnya.
 (sumber: cukupsatu.com)

Mendiknas, Mohammad Nuh: Lima Mata Pelajaran akan Dikendalikan secara Nasional

Mata pelajaran Agama, Kewarganegaraan, Sejarah, Bahasa Indonesia, dan Matematika tidak akan diserahkan guru setempat untuk mengembangkan SKKD-nya. Mata pelajaran tersebut akan dirancang dari Jakarta setelah didiskusikan oleh pakar di bidangnya.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh bahwa Kementerian Pendidikan Nasional berencana merombak kurikulum beberapa mata pelajaran pada pendidikan dasar dan menengah.
"Belum saya setujui. Sekarang ini kurikulum dikembangkan oleh pihak sekolah, ke depan akan kita tata lagi. Beberapa materi dipegang secara nasional, sementara yang lain diserahkan kepada daerah, provinsi, atau kabupaten kota," kata Nuh, Jumat (6/5/2011) siang di Jakarta.

Nuh mengatakan, beberapa mata pelajaran yang akan dikendalikan secara nasional adalah Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Sejarah, Bahasa Indonesia, dan Matematika.

"Kenapa materi ini kita pegang secara nasional? Karena ini yang menjadi perekat, yang membuat kita punya ikatan secara nasional. Kalau Matematika, itu logika nasionalnya. Jadi, kita tidak boleh membedakan antara Matematika di Jakarta dan di daerah sehingga kelima materi itu harus dibuat dalam konteks universal keindonesiaan," ujar Nuh.

Sementara materi yang terkait dengan muatan lokal, lanjutnya, seperti kesenian dan budaya, sekolah tetap memiliki wewenang penuh menyusun kurikulum tersebut. Masalah-masalah yang terkait dengan seni budaya dan muatan lokal itu diserahkan kepada sekolah atau daerah.

"Ada juga yang digabung dalam tingkat provinsi, seperti Bahasa Inggris, akan disesuaikan antara pusat dan daerah," kata Nuh. Nuh mengungkapkan, jika dahulu ada kurikulum yang diserahkan dan dikembangkan oleh sekolah, idenya akan bagus, bisa memberikan kebebasan dan penguatan di tingkat sekolah. Hanya saja, perlu ada sesuatu yang dicermati secara nasional.

"Yang akan kita rombak pertama kali adalah di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Jika mahasiswa relatif mudah, yang penting kurikulum secara nasional ini kita tata kembali. Ada yang mengacu pada standar nasional maupun standar daerah," ujarnya.(sumber: Kompas.com)