Selasa, 27 Oktober 2015

Menanamlah Kau akan Memanen



Ibarat bertani, jika seseorang menanam tumbuhan produktif di ladang yang subur, kemungkinan besar dia akan memanen tumbuhan itu daripada orang lain yang tidak menanam sebiji pun tumbuhan produktif. Memang, kemungkinan tidak memanen juga ada meskipun sudah menanam karena kesalahan musim atau terkaman gangguan dari alam dan hewan. Namun, yang jelas, menanam itu lebih mungkin mendapatkan hasil dibandingkan yang tidak menanam. 

Pola memberi dan menerima seperti juga menanam dan memanen itulah yang juga diwarnakan kepada para pekerja yang berkinerja. Banyak pekerja tetapi belum tentu berkinerja. Banyak terjadi bahwa pekerja hanya sebagai label namun kenyataannya dia tidak bekerja sehingga tidak tampak kinerjanya. Secara hukum seseorang dikatakan pekerja karena dibuktikan oleh surat penunjukkan yang sah. Namun, dalam kenyataan, seseorang dapat lupa kalau label dirinya bekerja bukan berdiam diri tanpa rasa. 

Semua orang teramat paham jika kata pekerja itu merujuk pada label fungsi. Seseorang dikatakan pekerja karena bekerja. Sama juga dengan seseorang yang disebut petani jika dia bertani. Peternak karena berternak. Penulis karena menulis. Itulah label fungsi yang memunyai bentuk dan hasil yang dapat dicocokkan dengan fungsinya. 

Unesa kini masuk ke babak pemaknaan fungsi yang disesuaikan dengan bentuk dan hasilnya kepada para warganya. Jika berkinerja tinggi, warga Unesa akan mendapatkan penghargaan yang tinggi pula. Begitu pula sebaliknya, jika berkinerja rendah karena tidak ditunjukkan dari bekerja secara nyata, dia akan mendapatkan hasil panen yang tidak seberapa bagus dibandingkan kawan lainnya yang berkinerja tinggi. Itulah yang disebut remunerasi yang sebanding dan seimbang. 

Jadi, remunerasi yang sehat adalah penghargaan yang sebanding dan seimbang. Kata sebanding dan seimbang merujuk pada pengukuran dan penilaian yang akurat. Jika tidak akurat, kesebandingan dan keseimbangan akan luntur tanpa bermakna apa-apa. Untuk itu, pengukuran dan penilaian yang sebanding dan seimbang itu haruslah terlihat nyata dan jelas agar tidak terjadi multitafsir. 

Multitafsir tentu akan mendatangkan bencana baru karena sesama pekerja akan membandingkan dan menyeimbangkan kinerja satu dengan kinerja yang lain dengan persepsi masing-masing. Persepsi yang sangat berbeda itulah akan merusak kinerja seseorang sehingga semangat untuk berproduksi menjadi turun ke tingkat paling rendah. Multitafsir biasanya berasal dari kenyataan yang tidak berbanding lurus dengan peraturan sebagai bentuk perencanaan. 

Tentu, remunerasi di Unesa akan melampaui pusaran persepsi lama yang berujung pada cibiran karena biasanya seseorang lebih nyaman dengan pola yang lama. Jika memang yakin akan memberikan motivasi berkinerja lebih tinggi, remunerasi harus terus dijalankan sambil memperbaiki sistem yang diasakan kurang. Biasalah, semua hal baru akan mendapatkan perlawanan angin karena memang belum dikenali dan masih berkonsolidasi pikiran. Remunerasi Unesa harus jalan terus sesuai dengan harapan yang tersirat jelas. Siapa yang menanam, dia akan memanen.

Tidak ada komentar: