Sabtu, 18 Februari 2012

RSBI Belum Tunjukkan Prestasi Dibandingkan Sekolah Reguler

RSBI belum tentu lebih unggul daripada sekolah reguler. Bisa jadi, justru sekolah reguler dapat berdaya saing di luar negeri karena siswanya tokcer dan gurunya juga tokcer. Jadi, sekolah unggul tidak terletak pada penamaan sekolah, apakah RSBI atau bukan. Keunggulan sekolah terletak pada kekuatan dan kepedulian seluruh warga sekolah untuk menjadi unggul.
Oleh karena itu, menurut kompas.com bahwa alasan pemerintah terus mempertahankan rintisan sekolah bertaraf internasional karena mutu pendidikan Indonesia bakal berdaya saing internasional perlu dipertanyakan. Pasalnya, evaluasi yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan justru menunjukkan bahwa tak selalu sekolah RSBI unggul dari sekolah reguler.

Bahkan, dalam beberapa skor penilaian, termasuk Bahasa Inggris yang seharusnya menjadi keunggulan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), siswa dan guru di sekolah reguler lebih unggul. Ini terlihat di jenjang SMP di mana skor Bahasa Inggris siswa RSBI 7,05, sedangkan siswa reguler 8,18. Guru Bahasa Inggris di SMP juga punya skor yang lebih tinggi, yaitu 6,2, dibandingkan dengan guru RSBI yang 5,1. Ini juga terjadi pada guru Bahasa Inggris di jenjang SMA.
Selisih skor nilai-nilai antara siswa RSBI dan reguler umumnya di bawah 1 dari skor 0-9. Hal ini terjadi karena, dari kajian, guru-guru sekolah reguler justru mempunyai skor yang lebih baik dari guru di RSBI.

Ambil contoh, guru SMA reguler ternyata lebih unggul dalam skor di mata pelajaran Fisika, Biologi, dan Bahasa Inggris. Di Matematika hampir sama. Kemampuan pedagogi guru juga tidak jauh berbeda.Bahkan, di SD, skor pedagogi guru sekolah reguler lebih unggul. Di jenjang SMP juga berbeda kecil, kecuali di SMA yang perbedaannya lebih dari 1 poin.

S Hamid Hasan, ahli evaluasi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jumat (17/2/2012), mengatakan, tidak berarti bahwa kemampuan RSBI lebih baik dari sekolah reguler yang unggul. "Asal sekolah diberi fasilitas yang baik, guru yang kompetensinya bagus, tanpa embel-embel RSBI pun sekolah tetap bisa menunjukkan kualitas. Untuk apa pemerintah menciptakan perbedaan-perbedaan dalam pendidikan lewat RSBI," tutur Hamid.
Retno Lisyarti, guru SMA RSBI di Jakarta, mengatakan, pemerintah tidak mampu membangun kapasistas guru yang dibutuhkan untuk sekolah bermutu. Dana dari masyarakat dan pemerintah yang mengucur ke sekolah RSBI lebih untuk peningkatan sarana, kegiatan, honor guru, dan membayar pengajar asing yang digaji lebih mahal.
Menurut Retno, di sekolah RSBI ada guru asing yang ditetapkan harus dari kawasan Eropa atau Australia. Bayarannya lebih mahal dibandingkan dengan guru Indonesia. Untuk kelas internasional yang bayarannya Rp 31 juta per tahun, kata Retno, siswa mendapat pengajaran ekstra dari beberapa guru asing. Utamanya saat siswa hendak menghadapi ujian internasional Cambridge atau IB.
"Kebijakan RSBI pun menciptakan ketidakadilan bukan hanya kepada masyarakat. Guru dalam negeri saja dipandang lebih rendah daripada guru asing," kata Retno.(Sumber: Kompas.com/edukasi)

Menjadi Guru Super itu Mudah

Sungguh, untuk menjadi guru super itu teramat mudah. Yang susah hanya ketakutan tak berdasar dari seorang guru sebelum melangkah. Banyak guru merasakan bahwa tidak mungkin menjadi guru super karena terlalu berat dan susah. Padahal, guru super itu mudah sekali ditempuh. Semua guru, tidak terkecuali, dapat menjadi guru super.

Guru super adalah guru yang menempatkan posisinya sebagai guru, bukan guru yang sambil dagang, guru yang sambil bertani, guru yang sambil apapun, ketika di sekolah. Dengan begitu, pikiran, sikap, dan perlakukanya terfokus pada tugas mulia seorang guru. Namun, banyak guru yang tidak memposisikan sebagi guru ketika di sekolah.

Guru super selalu merencanakan apa yang akan dilakukannya di kelas dan di hadapan siswanya. Dia selalu berpikir sebelum bertindak. Selalu memahami sebelum melakukan. Bukan perencanaan seolah-olah yang digunakan untuk memuaskan kepala sekolah dan pengawas, melainkan perencanaan diri sendiri di buku sendiri.

Guru super selalu intropeksi diri dalam setiap kesempatan terhadap tindakan yang pernah dilakukan di kelas dan di depan siswa. Introipeksi itu bergulir tiap saat sehingga telah menjadi kebiasaannya. Intropeksi merupakan pintu terbaik untuk melakukan perubahan dan inovasi selanjutnya.

Guru super selalu yakin terhadap kemampuan diri sendiri dalam mengajar dan mendidik. Selain itu, dia akan selalu belajar karena prinsip belajar sepanjang hayat.


Humor: Ujian Susulan

Ada 4 orang mahasiswa yang kebetulan telat ikut ujian semester karena bangun kesiangan.
Mereka lantas menyusun strategi untuk kompak kasih alasan yang sama agar dosen mereka berbaik hati memberi ujian susulan.
Mahasiswa A: pak, maaf kami telat ikut ujian semester
mahasiswa B: iya pak. Kami berempat naik angkot yg sama dan ban angkotnya meletus.
Mahasiswa C: iya kami kasihan sama supirnya. Jadinya kami bantu dia pasang ban baru.
mahasiswa D: oleh karena itu kami mohon kebaikan hati bapak untuk kami mengikuti ujian susulan.
Sang dosen berpikir sejenak dan akhirnya memperbolehkan mereka ikut ujian susulan.

Keesokan hari ujian susulan dilaksanakan, tapi keempat mahasiswa diminta mengerjakan ujian di 4 ruangan yg berbeda. “Ah, mungkin biar tidak menyontek,” pikir para mahasiswa. Ternyata ujiannya cuma ada 2 soal. Dengan ketentuan mereka baru diperbolehkan melihat dan mengerjakan soal kedua setelah selesai mengerjakan soal pertama.

Soal pertama sangat mudah dengan bobot nilai 10. Keempat mahasiswa mengerjakan dengan senyum senyum.
Giliran membaca soal kedua dengan bobot nilai 90. Keringat dingin pun mulai bercucuran.
Di soal kedua tertulis:
“Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus?”

Humor: Guru Balas Dendam

Seorang murid disuruh nyanyi ke depan kelas oleh gurunya.

Murid (nyanyi dengan suara kecil): "Cicak2 di dinding.."
Guru : "Besarkan Sedikit!!"
Murid : "Tokek-tokek di dinding.."
Guru : "Besarkan lagi!.."
Murid : "Buaya-buaya di dinding.."
Guru : "Yang dibesarkan itu suara kamu, bukan binatangnya."
Murid : "Kalau suara yang dibesarkan, saya azan saja. Kan, azan harus bersuara besar"
Guru :  "Iya sudah, kamu azan aja."
Murid (dengan suara yang besar) : "Allahu Akbar-Allahu Akbar..."
Guru : "besarkan lagi!!!
Murid : "Tidak ada lagi Pak yang lebih besar dari Allah, Allah Maha Besar."
Guru (kesal dan marah) menggumam : "Iya sudah Allah Maha Besar, tapi nilai kamu kecil."
Murid : "Besarkan dong Pak."
Guru (berteriak) : NILAI KAMU KECIL!!!!
Murid : "yg dibesarkan itu nilai saya, Pak, bukan suara Bapak!!,
Guru : (goplak, suara buku melayang ke muka si murid, hrrrrggg)....

Anak Belajar Kosakata Sejak Bayi

Pernah melihat seorang bayi mengoceh atau meracau sendiri dengan suara yang susah dipahami orang dewasa? Pasti pernah. Itulah kosakata bayi yang dalam pikirannya berstruktur namun bagi orang dewasa belum berstruktur.  Ocehan bayi yang seolah tanpa arti itu menandakan bahwa pemikiran yang tajam dari bayi tersebut. Meskipun ocehan bayi tidak karu-karuan, dia bisa memahami kosa kata yang diucapkan orang dewasa.

Agar pikiran anak tambah tajam, orang tua perlu terus saja memberikan kosakata agar kemampuan berbahasa anak bagus di kemudian hari. Dalam studi yang dimuat dalam jurnal Proceeding of National Academy of Sciences, psikolog menemukan fakta para bayi bisa memahami kata-kata pada bulan-bulan awal kehidupannya. Temuan ini membantah hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan bayi baru bisa memahami arti kata saat berusia satu tahun.

Sebelumnya, bayi di bawah usia satu tahun dianggap dapat memahami bunyi yang diucapkan ibu, tetapi tidak dapat mengerti bunyi itu memiliki arti. Banyak psikolog percaya pemahaman kata itu baru dicapai bayi saat mereka berulang tahun pertama. “Tetapi sebetulnya, mereka mengerti pada usia lebih muda,” kata psikolog Elika Bergelson dan Daniel Swingley.

Misalnya, mereka menemukan bahwa ketika pengasuh menyebutkan kalimat “Mana apel?”, mata bayi bergerak ke arah obyek apel yang ada di layar komputer. Dalam penelitian itu, sebanyak 33 orang bayi berusia enam sampai sembilan bulan mampu menunjukkan gambar obyek yang tepat meskipun sebelumnya gambar tersebut sudah dikacaukan dengan gambar obyek lain.

Peneliti juga menemukan bahwa para bayi itu lebih berfokus pada gambar yang sudah mereka tahu “namanya” daripada gambar yang belum diberi nama. Ini berarti mereka dapat memahami kata itu berhubungan dengan obyek yang dimaksud.

Penelitian ini adalah demonstrasi pertama pada kategori usia enam sampai sembilan bulan. “Penelitian kami berbeda dari memahami kata-kata umum, tapi kata yang menunjuk pada kategori,” kata Dr. Swingley."Saya pikir studi ini menyajikan pesan yang bagus untuk orang tua. Anda dapat berbicara dengan bayi Anda dan mereka akan memahami sedikit dari apa yang Anda katakan.” (Sumber: Tempo.co)

Siswa Asia Lebih Hebat daripada Siswa di Negara Barat

Pendidikan di Indonesia tampaknya akan lebih termotivasi untuk terus tumbuh dan berkembang dengan gaya pendidikan khas Indonesia. Meskipun data penelitian diperoleh dari China dan Korea, Indonesia termasuk populasi yang hampir sama. Berdasarkan laporan BBC, siswa di Asia lebih hebat daripada siswa negara Barat. Dikatakan bahwa siswa sekolah di kawasan Asia berada dalam posisi lebih maju dibanding dengan rekan mereka di negara-negara Barat.

Itulah simpulan penelitian yang dilakukan oleh Institut Grattan di Australia yang  memperlihatkan bahwa siswa yang belajar matematika di Shanghai, Cina, rata-rata lebih maju dua atau tiga tahun dibanding siswa di Amerika Serikat atau Eropa.  Sementara siswa di Korea Selatan lebih maju satu tahun dalam kemampuan membaca.

"Pada saat kekuatan ekonomi bergeser dari Barat ke Timur, demikian juga dengan pencapaian tinggi dalam pendidikan," kata Ben Jensen, Direktur Program Pendidikan Sekolah Institut Grattan dalam pernyatan persnya.

"Pusat dari pencapaian tinggi pendidikan sekarang ada di Asia Timur dan para pendidik di Australia bisa dan harus belajar dari keberhasilan itu," tambahnya.

Dalam laporannya, Institut Grattan menyebutkan empat sistem pendidikan di Asia yang merupakan terbaik di dunia, yaitu Hong Kong, Korea Selatan, Shanghai, dan Singapura.

Selama ini ada istilah Tiger Mothers atau Ibu Harimau yang digunakan untuk merujuk kaum ibu Asia yang menegakkan disiplin belajar yang amat keras kepada anak-anaknya.

Banyak pihak yang berpendapat hal tersebut yang mendorong keberhasilan para siswa Asia di dunia pendidikan.  Namun berdasarkan penelitiannya, Institut Grattan berpendapat Ibu Harimau bukan menjadi faktor utama dari pencapaian tersebut.

"Keberhasilan bukan karena budaya, bukan produk Konfusianisme juga bukan pelajaran menghafal atau Ibu Harimau," tegas Ben Jensen.  Yang menjadi faktor adalah ketegasan, sistem belajar praktis, mentoring, dan para guru.

Penelitian juga membantah anggaran yang lebih besar dan jumlah murid yang sedikit dalam satu kelas akan menjamin pencapaian para siswa.  Sekolah di Shanghai, misalnya, memiliki kelas dengan jumlah 40 siswa namun para guru memiliki lebih banyak waktu untuk merencanakan pelajaran.

Hasil penelitian tersebut tentunya akan lebih memotivasi sekolah di Indonesia untuk taat asas pada pola pendidikan yang berbasis ke_indonesiaan. Jangan memandang bahwa model pembelajaran dari Barat segalanya. (sumber: BBCIndonesia.com)

Selasa, 14 Februari 2012

Sertifikasi Guru 2012: Bergayalah Seperti Siswa Siapkan Ujian Nasional

Inilah masa yang paling menegangkan bagi guru yang akan diikutkan PLPG 2012 apabila lolos Uji Kompetensi Awal. Meskipun, guru teramat paham kalau ujian itu sangat mudah dan enteng karena materi yang diujikan pasti dikembangkan dari kisi-kisi, materi tiap hari dikenali dan dipelajari, dan tiap kali materi selalu diucapkan dan disampaikan. Tapi, karena mendengar satu kata UJIAN guru tampaknya gentar. Padahal, saat menasihati siswanya yang akan Unas, guru selalu mengatakan "Jangan gentar!".

Inilah obat agar tidak gentar. Pertama, kenali dan dalami kisi-kisi UKA. Kedua, cermati pola soal yang kira-kira akan muncul dengan mencoba membuat sendiri bentuk soal yang bersumber dari kisi-kisi. Ketiga, belajarlah karena semakin sering belajar guru akan semakin menepis kegentaran. Keempat, anggap UKA sebagai stuasi Unas yang ditandai oleh dua pengawas, 20 peserta tiap kelas, 100 soal, dan pasti pakai lembar jawab komputer. Kelima, percaya diri akan kemampuan sendiri.

Sebaik-baik guru yang ikut UKA adalah guru yang yakin akan kemampuan sendiri dengan mengupas dan memperdalam materi secara terfokus. Sebaliknya, sejelek-jelek guru adalah mereka yang ragu sehingga mudah diakali oleh pihak lain yang akan menangguk keuntungan di atas kesusahan orang lain. Selamat ber-UKA. Garduguru berdoa agar Anda sukses UKA.

Minggu, 12 Februari 2012

Ketentuan Jurnal Ilmiah untuk S1, S2, dan S3 Ditolak Aptisi

Detik News melaporkan bahwa Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) menolak ketentuan jurnal ilmiah atau publikasi karya ilmiah sebagai syarat ketentuan lulusan program sarjana, pascasarjana dan doktoral. Sebaiknya mahasiswa di perguruan tinggi didorong untuk lebih berpikir dan bersikap inovatif.

Hal itu dikatakan Aptisi dalam siaran pers yang ditandatangani Ketua Prof Dr Eddy Suandi Hamid dan Sekjen Suyatno yang diterima detikcom, Sabtu (11/2/2012).

"Itu bukan sebuah solusi dan Surat Edaran Dirjen Dikti tergesa-gesa," kata Eddy.

Menurut Eddy, Aptisi telah menggelar Rapat Pengurus Pusat Pleno /RPPP di Padang, tanggal 10-11 Februari 2012). Salah satunya adalah membahas dan menyikapi surat edaran dirjen dikti tersebu.

Dia mengatakan saat ini jumlah karya ilmiah yang terbit dalam suatu jurnal masih terbatas. Hal itu tidak imbang jumlah mahasiswa seluruh Indonesia. Oleh karena itu mahasiswa yang menempuh di perguruan tinggi lebih baik didorong untuk bersikap inovatif.

"Aptisi lebih mendorong mahasiswa pascasarjana dan doktoral membuat karya ilmiah di jurnal-jurnal nasional maupun internasional," katanya.

Sabtu, 11 Februari 2012

Sertifikasi Guru 2012: Uji Kompetensi Awal Dilaksanakan Seperti Ujian Nasional

Uji Kompetensi Awal (UKA) akan menentukan lulus atau tidak lulusnya guru, terpilih dalam kuota sertifikasi guru 2012. Ini seperti UN siswa saja.

"Guru juga mesti siap diuji. Tidak boleh ada contek-mencotek. Pelaksanaannya mesti diawasi betul," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, dalam Rapat Koordinasi Pelaksanaan UKA, yang digelar Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Jumat (10/2/2012).

Syawal Gultom, Ketua Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, mengatakan, ada sejumlah titik rawan yang mesti diwaspadai dalam pelaksanaan UKA pada 25 Februari nanti. Titik rawan yang dimaksud adalah penulisan soal, percetakan di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), distribusi naskah soal ke kabupaten/kota, serta pengiriman lembar jawaban dari kota/kabupaten ke Kementerien Pendidikan dan Kebudayaan.

Para guru mengerjakan 100 soal pilihan berganda. Mereka dipusatkan di sekolah-sekolah di tingkat kota/kabupaten. Pengiriman soal UKA juga mendapat pengawalan polisi, layaknya soal UN. Pengawasan ketat juga dilakukan dengan melibatkan perguruan tinggi atau lembaga pendidik tenaga kependidikan (LPTK).

Guna menyiapkan guru menghadapi UKA, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menyiapkan kisi-kisi soal, seperti juga pada pelaksanaan UN. Hal ini untuk memberikan gambaran pada guru kemungkina soal-soal yang diujikan yang dibuat LPTK dan Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK). Ada standar kelulusan minimal yang mesti diraih guru. Jika lulus, guru masuk dalam kuota sertifikasi guru tahun 2012. Dari 300.000 guru yang diundang, setidaknya bisa dijaring 250.000 guru untuk memenuhi kuota sertifikasi guru.

Siswa India: Gara-Gara Dimarahi, Siswa Tusuk Gurunya

Ini di India. Siswa sudah tidak menghargai gurunya. Hal itu seperti yang dilaporkan Detik News, com seperti berikut.

Seorang pelajar SMP di India tega menikam gurunya hingga tewas di ruang kelas gara-gara kesal kepada sang guru yang memarahinya. Peristiwa mengerikan itu terjadi di SMP St Mary's Anglo Indian di Parrys, Chennai pada Kamis, 9 Februari sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Saat itu, murid tersebut berulang kali menusuk guru sainsnya, Uma Maheswari (42) di bagian leher dan wajah.

Saat kejadian, sang bu guru, Maheswari, sedang berada di dalam kelas lain ketika pelaku tiba-tiba muncul dengan membawa pisau.

"Awalnya dia ditikam di bagian leher," kata seorang saksi mata seperti diberitakan media India, Times of India, Jumat (10/2/2012).

"Dan kemudian dia menikamnya lagi di bagian pipi dan leher. Dia pun tewas di tempat," imbuh saksi mata tersebut.

Melihat pemandangan mengerikan itu, para siswa di kelas itu pun menjerit-jerit. Pelaku sempat mengancam murid-murid tersebut sebelum kemudian berlari keluar kelas. Pelaku kemudian ditangkap para guru dan siswa. Anak seorang buruh harian itu pun diserahkan ke polisi.

"Anak itu datang dengan pisau yang dibungkus kertas," kata seorang polisi yang menyelidiki kasus ini. "Dia bilang dia marah karena guru itu memarahinya. Kami belum tahu apakah ada alasan lain," tutur polisi tersebut. Menurut teman-teman sekolah pelaku, dia bukan anak agresif, tetapi cukup menyendiri. "Dia tidak pernah berbaur dengan yang lain," ujar seorang siswa.