Sabtu, 04 Juli 2009

Guru Kursus Dapat Kaya Raya

Liputan6.com melaporkan, untuk ukuran seorang guru, Woo Hyeong-cheol bisa disebut kaya. Bayangkan saja ia mampu mengumpulkan penghasilan hingga 4 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar 40 miliar rupiah dalam setahun.

Woo yang merupakan warga negara Korea Selatan ini, memang bukan guru pada lembaga resmi di Korea. Ia hanyalah seorang guru kursus, tapi bukan guru kursus biasa. Melainkan guru kursus yang dapat membuat siswa mampu mengerjakan soal yang demikian rumit dengan cepat. Di luar Korsel, metode ini disebut cram school. Sarana yang digunakannya juga tidak biasa. Untuk meraih banyak pelanggan ia menggunakan internet. Di Korsel, hampir 90 persen rumah tangga telah tersambung ke internet.

"Guru sekolah biasanya terlalu banyak memberikan palajaran moral. Namun, di sini kita fokus memberikan cara kepada siswa bagaimana mampu menyelesaikan soal yang demikian rumit dalam waktu yang singkat. Inilah yang membuat kita demikian populer," ujar Woo, membagi rahasia kesuksesannya.

Tidak hanya kecepatan solusi yang ditawarkan Woo. Ia juga kerap menyisipkan humor bahkan ancaman hukuman bagi siswanya yang tidak taat.

Di Korsel bisnis ini memang membuat orang ngiler. Menurut data yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik Korsel, tahun kemarin saja sebanyak tiga dari empat siswa mengambil kursus tambahan di luar jam sekolah. Jumlah total dana yang dikeluarkan seluruh orang tua siswa untuk mendaftarkan anaknya di cram school atau sejenisnya tak tanggung-tanggung, mencapai 16 miliar dolar AS atau sekitar 160 triliun rupiah. Wow.

Meski demikian, maraknya cram school di Korsel bukan tanpa kritik. Umumnya cram school dianggap hanya memberikan jalan pintas bagi mereka yang hendak lulus melewati ujian, namun meremehkan proses analisis. Anda bisa bayangkan bagaimana jika pada seorang siswa yang belajar Bahasa Inggris diterapkan metode seperti ini. Mereka akan jago menghadapi soal ujian. Tapi begitu diminta berbicara, mereka akan seperti orang bisu. Itu artinya sistem ini hanya membuat siswa menjadi macan kertas. Waduh.(Reuters/LUC)

Accelerated Learning

Accelerated Learning (A.L.) adalah cara belajar cepat dan alamiah yang merupakan gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur. Dave Meier, penulis buku The Accelerated Learning Handbook, yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000, mengajak kita untuk memperbarui pendekatan terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini.

Accelerated Learning memperbarui metode-metode belajar konvensional, yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri, cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi, standardisasi, kontrol luar, satu-ukuran-untuk-semua, pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman), fragmentasi, dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga dikenal sebagai teknik membosankan). Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan.

Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen, pada prestasi individu, pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah), kontrol birokrasi terpusat, pelatih sebagai pelaksana program, bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif, dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator, pada kerja sama dan prestasi kelompok, kesalingterkaitan, belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh, dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kaya-pilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar.

Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi, metode, dan aplikasi A.L. di antaranya: (1)Ilmu kognitif modern, terutama penelitian mengenai otak dan belajar, telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi, seluruh tubuh, semua indra, dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). Kemudian, (2)Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan; (3)Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin, secara otomatis patuh pada proses yang mandiri, linear, langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear, nonmekanistis, kreatif, dan “hidup”; (4)Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut, kolaboratif, dan bersifat mengasuh pada aktivitas belajar; (5)Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis.

Prinsip-prinsip Accelerated Learning,(1) Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar, rasional, memakai “otak kiri”, dan verbal), tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi, indra, dan sarafnya; (2)Belajar adalah Berkreasi, Bukan Mengonsumsi. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar, melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru, jaringan saraf baru, dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh; (3)Kerja Sama Membantu Proses Belajar. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri; (4)Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear, melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar, mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor, indra, jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. Bagaimanapun juga, otak bukanlah prosesor berurutan, melainkan prosesor paralel, dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus; (5)Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). Belajar paling baik adalah dalam konteks. Hal-hal yang dipelari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Kita belajar berenang dengan berenang, cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya, cara bernyanyi dengan bernyanyi, cara menual dengan menjual, dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrak-asalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total, mendapatkan umpan balik, merenung, dan menerjunkan diri kembali; (6)Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Perasaan negatif menghalangi belajar. Perasaan positif mempercepatnya. Belajar yang penuh tekanan, menyakitkan, dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan, santai, dan menarik hati; (7)Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat.

Jumat, 03 Juli 2009

Tips untuk Guru: Cara Dampingi Siswa Berwisata

Musim liburan ini, banyak guru yang ditugasi untuk dampingi siswa berwisata, studi banding, perpisahan di luar kota, dan acara lainnya. Kalau memang sudah tugas, guru tidak boleh menolaknya. Meskipun, berwisata bersama siswa seringkali bikin pusing. Guru harus mendampingi dengan ceriah dan ikhlas. Sepanjang perjalanan, guru dituntut selalu siaga dan sabar. Asal guru tahu tips mendampingi siswa dapat tercipta kenangan dan pengalaman menyenangkan yang tidak terlupakan. Berikut tips guru dalam mendampingi siswa-siswanya.

Sebelum Berangkat
Biarkan siswa mengepak sendiri barang bawaan mereka. Putuskan pakaian seperti apa yang akan dibawa (terutama yang longgar dan nyaman), tetapi biarkan mereka memilih pakaian favorit mereka sendiri. Dalam tas jinjing, sarankan siswa agar memasukan juga beberapa manisan dan permen karet, handuk kecil, tisu, buku-buku, kertas, tas plastik bersegel. Bnetuklah kelompok kecil. Hafalkan ketua kelompok tersebut untuk memudahkan kontrol. sarankan agar siswa selalu berkelompok dalam berjalan-jalan meskipun ke toilet sekalipun. Ajari siswa mengenali dengan cepat tanda-tanda yang bermanfaat untuk pedoman berkumpul.

Buatlah perjalanan dengan bus jadi momen yang menyenangkan. Berhentilah secara rutin di tempat peristirahatan. Libatkan siswa dalam proses liburan tersebut. Simpanlah segala sesuatu yang berkaitan dengan liburan seperti brosur dan potongan tiket dalam sebuah tempat khusus seperti dalam sebuah buku tebal. Buatlah rencana terlebih dahulu dengan perusahaan bus agar yakin mereka menyiapkan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Di Lokasi Liburan
Miliki jadwal harian dengan sejumlah kelonggaran atau waktu bebas untuk setiap siswa. Berilah teman atau kerabat nomor telepon dan alamat hotel tempat rombongan menginap, informasi tentang transportasi, dan nomor kontak untuk kondisi darurat. Jika mungkin, setiap kelompok siswa dilengkapi telepon seluler atau walkie-talkie agar bisa tetap berkomunikasi setiap waktu. Punya rencana darurat atau tempat pertemuan jika ada siswa yang tiba-tiba terpisah juga merupakan ide yang baik.

Masalah dapat muncul dan kecelakanan bisa saja terjadi tetapi tidak ada salahnya mengetahui berbagai tips demi kelancaran liburan. Hal yang tak kalah penting adalah ciptakan suasana humor yang menyenangkan selama perjalanan demi memberi siswa liburan yang mengesankan dan tidak terlupakan. Jangan sampai Anda larut dalam kekuatiran tentang aneka hal tak terduga yang mungkin muncul, lalu tidak sempat menikmati liburan itu sendiri. (Sumber: Kompas.com)



77

Tertawa Guru Pangkal Awet Muda

Oleh Suyatno

Pernahkah seorang guru tertawa ketika di kelas? Tentunya, guru pernah tertawa meskipun sangat jarang dibandingkan dengan marah di kelas. Ternyata, guru yang sering btertawa dan mengajak siswa tertawa dapat lebih awet mudah dibandingkan dengan guru yang setiap hari marah-marah. Di samping itu, tertawa dapat menyehatkan badan.

Lalu, bagaimana agar guru dapat tertawa? Untuk memancing tawa, guru dapat bernyanyi dengan lucu-lucunya, yang diplesetkan berkaitan dengan topik pembelajaran. Guru harus tertawa agar lebih segar, lebih optimistik, dan lebih sehat.

Guru yang gemar tertawa pasti tidak akan pernah marah-marah kepada siswanya. Selain itu, guru yang gemar tertawa dengan joke-jokenya akan selalu berada dalam kondisi penuh semangat keceriaan, segar, dan sehat. Penelitian Asosiasi Psikiatri Indonesia menyatakan, 94 persen populasi Indonesia mengalami depresi atau gangguan lain sejenis. Depresi dan stress dapat bermanifestasi dalam bentuk gangguan fisik. Segala penyakit fisik 100 persen disebabkan oleh pikiran kita. Tertawa adalah salah satu cara memberdayakan diri, yang orang banyak tidak tahu manfaatnya. Padahal, dengan tertawa hidup kita menjadi lebih sehat, bahagia, dan tenteram. Kesehatan adalah bonus dari kedamaian yang diperoleh oleh jiwa dan mental. Handrawan Nadesul mengutip ahli jantung Amerika, William Fry, mengatakan, tertawa identik dengan berareobik. Tertawa semenit saja sudah memberi relaksasi tubuh sebanyak 40 menit. Seratus kali ketawa setara dengan 10 menit jogging.

Kamis, 02 Juli 2009

Teknik Mengajar Sempoa untuk Pembelajaran Kimia

Prihatin terhadap nilai kimia para siswanya yang di bawah standar akibat kurang aktif belejar, Tin Mulyawati merancang metode baru belajar kimia berupa 'Pengisian Konfigurasi Elektron Menggunakan Biji Sempoa'. Hasilnya, 99 persen siswa lebih aktif belajar.

Awalnya, Tin Mulyawati, SPd merasakan bahwa besar kemungkinan para siswa tersebut menganggap kimia adalah pelajaran yang sulit dan membosankan. Tin menambahkan, kebetulan materi pelajaran kimia di semester satu kelas X yang diasuhnya itu banyak berupa teori dan abstrak. Materi tentang struktur atom, misalnya.

Alhasil, konsep pembelajarannya terkesan monoton. "Siswa sulit membayangkan bagaimana itu atom dan hal itu menyebabkan siswa tidak dapat menyerap pelajaran secara maksimal," kata guru pelajaran kimia di SMA Negeri 25, Bandung, ini.

Mulailah, Tin membuat suatu bagan 'Konfigurasi Elektron Menggunakan Biji Sempoa', yaitu sebuah alat peraga berupa diagram mnemonik Moeller yang menggunakan biji sempoa.

Pada diagram itu, Tin menganalogikan biji-biji sempoa sebagai elektron. Konfigurasi biji sempoa atau elektron tersebut ditentukan oleh jumlah elektron itu sendiri, yang bergerak mengelilingi inti pada lintasan sesuai tingkat energinya.

"Hasilnya, pada saat pelajaran berlangsung 99 persen siswa aktif berinteraksi baik dengan guru atau dengan sesama siswa lainnya," ujar Tin. "Padahal sebelumnya, dari 8 kelas rata-rata hanya 17 persen siswa yang aktif mengikuti pelajaran kimia ini," tandas Tin.

Di mata para siswa, metode tersebut pun diakui sangat membawa perubahan. Ganjar, siswa Kelas X C SMA Negeri 25, Bandung, misalnya, mengaku bahwa konsep belajar praktik tersebut ternyata lebih mudah dimengerti daripada membaca atau menghafalnya dalam bentuk teori. "Apalagi alat peraga ini bisa dibawa ke mana-mana," kata Ganjar.

Pendapat senada dilontarkan oleh Lira Mayora, siswi Kelas X-A di sekolah yang sama. "Kita tidak merasa bosan dan malas, karena cara ini terus membuat kita selalu aktif dan komunikatif," kata Lira.



Penghargaan CSF 2007


Lahir di Bandung, 26 November 1968, Tin Mulyawati, SPd merupakan anak ke-10 dari 11 bersaudara. Meskipun mengakui Matematika adalah pelajaran yang paling disukainya, Tin justru memilih jurusan kimia saat dirinya mengenyam pendidikan tinggi di Diploma III Kimia ITB, Bandung. Tin memperoleh jurusan tersebut melalui jalur PMDK III dan lulus pada 1990.

Lulusan SMA Negeri 14 Bandung ini lalu melanjutkan studinya di Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan IPA Kimia, Universitas Terbuka. Hanya empat tahun. yaitu pada 1994, Tin lulus dan meraih gelar sarjananya.

Berpredikat sebagai pegawai negeri sipil (PNS), Tin mengajar di SMA Negeri 25 Bandung. Saat ini, selain di SMAN 25 Bandung, ibu berputra dua ini juga mengajar kimia di SMA Taruna Bakti sebagai guru lab kimia, tutor kimia di lembaga bimbingan belajar SSC Bandung, serta staf pengajar kimia di SMA unggulan Alfa Centauri Bandung.

Kompas.com melaporkan, demi menunjang profesinya sebagai guru, Tin banyak mengikuti berbagai pelatihan, mulai Sanggar Pemantapan Kerja Guru (SPKG), Pemantapan Kerja Guru (PKG), Musyawarah Kerja Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia, kaizen kimia, serta seminar-seminar, lokakarya ataupun workshop berkaitan dengan peningkatan profesionalismenya.

Sampai akhirnya, pada 2007 Tin mengajukan proposal hasil rancangannya berjudul "Pengisian Konfigurasi Elektron Menggunakan Biji Sempoa" ke Yayasan Hope Indonesia. Pengajuan tersebut adalah untuk mengikuti pemilihan aktivitas terbaik para guru melalui program 'Citi Success Program (CSF) 2007'. Hasilnya, Tin terpilih sebagai guru dengan aktivitas terbaik dari CSF 2007.

"Selain memudahkan siswa memahami cara pengisian konfigurasi elektron, alat peraga ini terbukti mampu meningkatkan interaksi antarsiswa dengan guru sehingga tercipta pembelajaran yang aktif dan menyenangkan," kata Tin. "Bagi sekolah, program ini semoga bisa bermanfaat sebagai inventarisasi baru alat-alat peraga IPA yang berguna bagi siswa-siswi lain tentunya," tambahnya.

Kondisi Anak Sangat Kasihan

Sosiolog dan Guru Besar FISIP Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Paulus Wirutomo mengatakan, kondisi anak-anak Indonesia hingga kini masih memprihatinkan karena banyak orangtua kurang menghargai hak-hak anak. "Dalam hal kesejahteraan saja, banyak orang tua belum tahu bagaimana makanan yang baik untuk anak, apalagi pendidikan dan lainnya," katanya di Jakarta, Ahad (21/6).

Menurut dia, faktor dominan yang menyebabkan kondisi anak hingga kini memprihatinkan adalah kemiskinan. Faktor tersebut, mengakibatkan orangtua tidak mengetahui harus bagaimana bersikap terhadap anak. Bahkan, terkadang banyak orang tua yang mengkaryakan atau mengeksploitasi anaknya sendiri untuk kepentingan bisnis atau bekerja menghidupi keluarga.

Dampak dari semua itu, kekerasan terhadap anak kerap terjadi, khususnya di daerah pinggiran kota.
Sebetulnya, lanjut dia, dari segi hukum di Indonesia sudah baik karena perangkat hukum dan kebijakan pemerintah terhadap perlindungan sudah ditetapkan.

Selain itu, kata dia, dari segi kelembagaan saat ini sudah ada komisi nasional (komnas) untuk anak dan di Departemen Sosial (Depsos) juga ada direktorat yang mengenai perlindungan anak. "Sebetulnya perhatian itu sudah cukup baik, sudah lumayan. Tapi memang keadaan anak masih banyak yang masih memprihatinkan," katanya.

Kurangnya orangtua menghargai hak-hak anak, sehingga masih sering dijumpai seperti ada anak di bawah umur yang dipaksa menjadi tanaga kerja anak, belum lagi banyak anak yang tidak sempat mendapatkan pendidikan di sekolah daar, putus sekolah dan lainnya. "Masalah pendidikan anak semakin berkembang, misalnya anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik di sekolah karena sekolah tidak memenuhi standar," katanya.

Untuk itu, kata dia, yang diperlukan pemerintah saat ini adalah pemetaan, jika yang membuat kondisi anak memprihatinkan adalah masalah kemiskinan, maka langka yang harus ditempu adalah mengatasi persoalan kemiskinan itu. "Jika itu dilakukan, maka secara otomatis anak mendapatkan perbaikan dalam nasibnya. Selain itu, hak-hak anak juga harus diperhatikan," katanya.ant

Siswa dan Perkembangan Informasi

Kompas.com melaporkan bahwa perkembangan teknologi menyebabkan terjadinya banjir informasi yang bisa jadi malah membingungkan. Sekolah perlu memberikan ketrampilan untuk mendapatkan informasi yang tepat serta penggunaan informasi secara tepat.

Demikian mengemuka dalam Workshop Penerapan Literasi Informasi di Sekolah yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Salman Al Farisi Bandung, Kamis (2/7). Workshop diikuti 90 guru dari sekolah-sekolah di Bandung. S ulfan Zayd, Wakil Ketua Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI) yang memandu workshop mengatakan, dalam menghadapi banjir informasi, siswa tidak bisa dikungkung. "Adalah lebih baik untuk mengajari mereka mencari dan menyeleksi informasi," kata Sulfan.

Sulfan mencontohkan, ketika seorang siswa mencari informasi di internet, maka ia akan mendapatkan banyak sekali informasi. Dalam tahap ini, siswa perlu memiliki kemampuan untuk memilih informasi yang benar dan tepat. Sebelum mencari informasi, siswa juga harus paham permasalahan sehingga bisa mencari informasi dengan cepat.

Sulfan menambahkan, ketrampilan ini tidak hanya berguna dalam proses belajar siswa. Selanjutnya, kemampuan mencari informasi merupakan salah satu ketrampilan hidup yang akan berguna bagi masa depan siswa, ujar Sulfan.

Ia menambahkan, di sekolah, perpustakaan diharapkan bisa menjadi sumber informasi bagi siswa. Sayangnya, fakta menunjukkan, banyak sekolah belum mengoptimalkan peran perpustakaannya. Banyak perpustakaan dengan koleksi dan sumber daya manusia yang seadanya, kata Sulfan.

Bahkan, dalam perpustakaan sekolah yang sudah bagus sekalipun, belum semua pemanfaatannya optimal. Masalahnya adalah tidak adanya pelibatan guru kelas (atau bidang studi) dalam penggunaan perpustakaan. Padahal, ketika guru dilibatkan, siswa akan aktif mencari informasi di perpustakaan. Ini justru meringankan tugas guru, kata Sulfan.

Panitia workshop, Entin Siti Rukhayah mengatakan, berdasarkan pengalamannya menjadi pustakawan, ia sering mendapati siswa kebingungan mengungkapkan jenis buku yang mereka butuhkan. Misalnya mereka bilang membutuhkan buku tentang gempa, padahal buku tentang gempa itu banyak. Ini artinya ada kelemahan dalam pemahaman masalah, kata Entin. Ia menambahkan, baik guru maupun siswa akan diuntungkan ketika perpustakaan diintegrasikan dalam rencana program pembelajaran (RPP).

Oprah: Beginilah Cara agar Anak Gemar Membaca

Sepuluh cara membuat anak senang membaca menurut Oprah:

1.Buatlah daftar buku-buku yang dapat Anda baca bersama dengan anak, dan lihatlah seberapa banyak mereka membaca. Apakah itu dua halaman ataupun 200 halaman, catatlah kemajuannya.

2.Pastikan bahwa anak-anak dapat menjangkau buku-buku yang ada di rumah dengan mudah. Jika buku cerita "Dr Seuss" lebih dekat daripada Digital Video Recorder (DVR), maka anak-anak akan lebih mungkin menggapainya daripada nonton video.

3.Jadilah contoh dengan membaca sendiri. Anak-anak pasti akan segera mengikuti.

4.Bukan hanya buku yang dapat dibaca. Seperti halnya Anda suka membaca majalah, ajarkan hal yang sama pada anak-anak untuk membaca apa pun yang mereka suka seperti komik, bahkan buku petunjuk game pun bisa membuat mereka suka membaca.

5.Radio bukan satu-satunya yang dapat anda dengarkan. Mintalah pada anak-anak untuk membaca keras-keras, sehingga Anda bisa mendengarkan. Jadi Anda dapat mengetahui kemajuan yang mereka capai dan mengetahui kesulitan yang mungkin mereka hadapi.

6.Untuk acara-acara khusus, berikan hadiah buku untuk anak anda dengan bungkus yang menarik.

7.Anak-anak belajar membaca pada kecepatan yang berbeda. Berikan mereka waktu untuk membaca, dan tidak perlu memberi target per halaman.

8.Tinggalkan buku disamping tempat tidur anak-anak. Jika anda menganjurkan mereka agar membaca beberapa menit setiap malam sebelum tidur, maka mereka akan menjadi rajin membaca buku tanpa kenal waktu. Akhirnya Anda juga akan diminta membacakan buku dengan suara keras pada mereka. Setelah semuanya itu, apa yang lebih baik selain cerita sebelum tidur?

9.Saat liburan sekolah, tetap anjurkan anak-anak untuk membaca secara teratur. Hal ini akan membuat mereka lebih pandai saat kembali ke sekolah. Daripada melihat anak-anak bertengkar, lebih baik bersantai sambil membaca.

10.Semua anak-anak senang berpetualangan. Buatlah petualangan kecil saat pergi ke perpustakaan atau ke toko buku. Hal ini akan sangat menyenangkan mereka sehingga membuat mereka terus ingin pergi ke sana.(oprah.com/LUC/liputan6.com)

Sekolah Negeri di Surabaya Hanya untuk Anak Pandai

Oleh Surabaya

Akibat kurangnya daya tampung SMP, SMA/SMK Negeri di Surabaya, pendaftaran siswa baru menggunakan sistem NEM tertinggi berdasarkan kuota yang diterima masuk sekolah. Siswa ber-NUN rendah jangan harap dapat menikmati sekolah negeri. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa sekolah negeri di Surabaya hanya untuk ber-NUN tinggi saja.

PSBSBY 2009 untuk Siapa?

Oleh Suyatno

PSBSBY Online 2009 yang digelar Dinas Pendidikan Kota Surabaya merupakan sebuah situs atau website untuk meningkatkan pelayanan Penerimaan Peserta Didik Baru SMP/SMA/SMK Negeri Surabaya pada tahun pelajaran 2009/2010. PSB itu tentunya digagas untuk mempermudah pendaftar, memperketat kolusi, dan informasi praktis bagi masyarakat. Namun, kenyataannya, banyak masyarakat awam yang tidak melek huruf masih sangat gagu untuk budaya dunia maya. Mereka kurang yakin dengan hasil yang diharapkan. Untuk itu, sosialisasi secara gencar sambil menerapkan sistem on-line di berbagai sudut kota perlu dilakukan. Sebenarnya, PSBSBY 2009 untuk siapa? Jawaban awamnya, ya untuk semua masyarakat Surabaya. Namun, jawaban nyatanya, PSBSBY untuk mereka yang mampu memainkan internet yang tidak bisa jangan harap puas.