Kamis, 02 Juli 2009

Sekolah Negeri di Surabaya Hanya untuk Anak Pandai

Oleh Surabaya

Akibat kurangnya daya tampung SMP, SMA/SMK Negeri di Surabaya, pendaftaran siswa baru menggunakan sistem NEM tertinggi berdasarkan kuota yang diterima masuk sekolah. Siswa ber-NUN rendah jangan harap dapat menikmati sekolah negeri. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa sekolah negeri di Surabaya hanya untuk ber-NUN tinggi saja.

PSBSBY 2009 untuk Siapa?

Oleh Suyatno

PSBSBY Online 2009 yang digelar Dinas Pendidikan Kota Surabaya merupakan sebuah situs atau website untuk meningkatkan pelayanan Penerimaan Peserta Didik Baru SMP/SMA/SMK Negeri Surabaya pada tahun pelajaran 2009/2010. PSB itu tentunya digagas untuk mempermudah pendaftar, memperketat kolusi, dan informasi praktis bagi masyarakat. Namun, kenyataannya, banyak masyarakat awam yang tidak melek huruf masih sangat gagu untuk budaya dunia maya. Mereka kurang yakin dengan hasil yang diharapkan. Untuk itu, sosialisasi secara gencar sambil menerapkan sistem on-line di berbagai sudut kota perlu dilakukan. Sebenarnya, PSBSBY 2009 untuk siapa? Jawaban awamnya, ya untuk semua masyarakat Surabaya. Namun, jawaban nyatanya, PSBSBY untuk mereka yang mampu memainkan internet yang tidak bisa jangan harap puas.

Guru di Mata Mbok Siti (54)

Pagi itu, aku duduk santai di teras depan rumah Mbok Siti sambil menikmati kopi panas. Terlihat berduyun-duyun para penduduk berangkat ke sawah seperti saat kami sekolah dahulu yang bersama-sama jalan ke sekolah. Mereka sangat riuh dengan gaya kelakarnya sendiri. Tiba-tiba, Mbok Siti turut melihat para petani yang memanggul cangkul dan menenteng sabit.

"Itulah kebiasaan di sini secara turun menurun, anakku", katanya lembut. Tanpa disuruh, karena sebuah kewajiban, mereka dengan gembira ke sawah. Begitu juga, guru hendaknya dengan senang hati berangkat ke sekolah tanpa berpikir sebagai sebuah kewajiban saja melainkan sebagai sebuah kenikmatan untuk memberikan sentuhan akademis ke siswanya. "Dengan senag hati, guru harus melangkahkan kaki ke kelas kehidupan yang diasuhnya", jelasnya.

Sehari di Kampus Pendidikan Singapura

Oleh Suyatno

Dalam lawatan ke Singapura (27 Juni s.d. 1 Juli 2009) untuk kepentingan pendidikan, saya sempatkan mengikuti seminar tentang sertifikasi guru di Singapura. Seminar berlangsung di ruang kuliah 6, lantai 1, sebelah belakang gedung administrasi NIE (National Institute Education) Singapura.

Guru di Singapura harus berbasis teknologi informasi dalam pembelajarannya. Selain itu, guru harus senantiasa berhubungan dengan kampusnya untuk membangun kebersamaan dan mengurai perkembangan keilmuan. Hubungan guru dengan kampusnya sangat sinergis. Setiap temuan guru di sekolah selalu dilaporkan ke kampusnya untuk dikaji lebih mendalam. Nah, ini kisah isi pembinaan guru dalam bingkai seritifikasi.

Lalu, bagaimana dengan suasana kampusnya? Kampus sebagai ruang belajar dan berkreasi mahasiswa sangat diperhatikan perannya. Penataan ruang, taman, kebersihan, disiplin diri, dan kelengkapan sumber belajar lumayan unggul. Lalu, cerita lainnya apa? Berikutnyalah akan saya ceritakan Ya....

Internet sebagai Sarana Pembelajaran

Oleh Suyatno

Internet dengan segala pernik-perniknya telah menjadi bagian hidup generasi sekarang. Di mana-mana, banyak orang menumpahkan gagasan-gagasannya melalui internet tersebut. Tentu, pembelajaran di kelas tidak pernah lepas dari pengaruh internet itu. Guru haruslah membuka mata untuk senantiasa menggunakan internet sebagai salah satu sarana pembelajarannya karena manfaat Internet sebagai salah satu media terbesar di dunia bisa digunakan sebagai pendoronga kemajuan pendidikan.

Kita teramat paham bahwa teknologi internet hadir sebagai media yang multifungsi. Komunikasi melalui internet dapat dilakukan secara interpesonal (misalnya e-mail dan chatting) atau secara massal, yang dikenal one to many communication (misalnya mailing list). Internet juga mampu hadir secara real time audio visual seperti pada metode konvensional dengan aplikasi teleconference.

Berdasarkan hal tersebut, internet sebagai media pendidikan mampu menghadapkan karakteristik yang khas, yaitu
a. sebagai media interpersonal dan massa;
b. bersifat interaktif,
c. memungkinkan komunikasi secara sinkron maupun asinkron.

Karakteristik itu memungkinkan pelajar melakukan komunikasi dengan sumber ilmu secara lebih luas bila dibandingkan dengan hanya menggunakan media konvensional.
Teknologi internet menunjang pelajar yang mengalami keterbatasan ruang dan waktu untuk tetap dapat menikmati pendidikan. Metode talk dan chalk, ”nyantri”, ”usrah” dapat dimodifikasi dalam bentuk komunikasi melalui e-mail, mailing list, dan chatting. Mailing list dapat dianalogikan dengan ”usrah”, yakni pakar akan berdiskusi bersama anggota mailing list. Metode ini mampu menghilangkan jarak antara pakar dengan pelajar. Suasana yang hangat dan nonformal pada mailing list ternyata menjadi cara pembelajaran yang efektif seperti pada metode ”usrah”.

Berikut adalah beberapa manfaat penggunaan teknologi informasi :
•arus informasi tetap mengalir setiap waktu tanpa ada batasan waktu dan tempat;
•kemudahan mendapatkan sumber belajar yang lengkap,
•aktifitas pelajar meningkat,
•daya tampung meningkat,
•adanya standardisasi pembelajaran,
•meningkatkan learning outcomes baik kuantitas/kualitas.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa internet bukanlah pengganti sistem pendidikan. Kehadiran internet lebih bersifat suplementer dan pelengkap. Metode konvensional tetap diperlukan, hanya saja dapat dimodifikasi ke bentuk lain. Metode talk dan chalk dimodifikasi menjadi online conference. Metoda ”nyantri” dan ”usrah” mengalami modifikasi menjadi diskusi melalui mailing list.

Sebelumnya perlu dijelaskan istilah CAI dan CMI yang digunakan dalam kegiatan belajar dengan komputer. CAI; yaitu penggunaan komputer secara langsung dengan siswa untuk menyampaikan isi pelajaran, memberikan latihan dan mengetes kemajuan belajar siswa. CAI dapat sebagai tutor yang menggantikan guru di dalam kelas. CAI juga bermacam-macam bentuknya bergantung kecakapan pendesain dan pengembang pembelajarannya, bisa berbentuk permainan (games), mengajarkan konsep-konsep abstrak yang kemudian dikonkretkan dalam bentuk visual dan audio yang dianimasikan. CMI; digunakan sebagai pembantu pengajar menjalankan fungsi administratif yang meningkat, seperti rekapitulasi data prestasi siswa, database buku/e-library, kegiatan administratif sekolah seperti pencatatan pembayaran, kuitansi dll.Pada masa sekarang CMI dan CAI bersamaan fungsinya dan kegiatannya seperti pada e-Learning. Urusan administrasi dan kegiatan belajar mengajar sudah masuk dalam satu sistem.

Dalam kegiatan pembelajaran, internet mempunyai tujuan sebagai berikut. Pertama, tujuan kognitif, internet dapat mengajarkan konsep-konsep aturan, prinsip, langkah-langkah, proses, dan kalkulasi yang kompleks. Internet juga dapat menjelaskan konsep tersebut dengan dengan sederhana dengan penggabungan visual dan audio yang dianimasikan. Sehingga cocok untuk kegiatan pembelajaran mandiri. Kedua, tujuan psikomotor, bentuk pembelajaran yang dikemas dalam bentuk games dan simulasi sangat bagus digunakan untuk menciptakan kondisi dunia kerja. Beberapa contoh program antara lain; simulasi pendaratan pesawat, simulasi perang dalam medan yang paling berat dan sebagainya. Ketiga, tujuan afektif, bila program didesain secara tepat dengan memberikan potongan clip suara atau video yang isinya menggugah perasaan, pembelajaran sikap/afektif pun dapat dilakukan mengunakan media komputer.

Dalam internet, semua informasi berkembang secara dinamis. Pembelajar dapat melacak apa saja sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tentu, guru perlu lebih dahulu menjelajah dunia maya dengan kuat, mendalam, dan luas sehingga mampu memberikan motivasi kepada murid-muridnya.

Minggu, 14 Juni 2009

Multikecerdasan Siswa yang Disia-siakan Sekolah

Oleh Suyatno

Semua guru teramat paham kalau siswa mempunyai multikecerdasan. Bahkan, mereka mengikuti dengan seksama berbagai diskusi dan bahasan tentang multikecerdasan. Namun, penerapan di sekolah tetap saja dengan pola monokecerdasan seperti pola sekolah zaman dahulu. Lalu, perubahannya di mana?

Sekali lagi, guru-guru teramat paham bahwa manusia adalah makhluk yang paling cerdas, dan Tuhan, melengkapi manusia dengan komponen kecerdasan yang paling kompleks. Sejumlah temuan para ahli mengarah pada fakta bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan paling unggul dan akan menjadi unggul asalkan bisa menggunakan keunggulannya. Kemampuan menggunakan keunggulan ini dikatakan oleh William W Hewitt, pengarang buku The Mind Power, sebagai faktor yang membedakan antara orang jenius dan orang yang tidak jenius di bidangnya.

Sayangnya, menurut Leonardo Da Vinci, kebanyakan manusia me-nganggur-kan kecerdasan itu. Punya mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan, punya perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, punya telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan dan seterusnya. Guru dan sekolah termasuk orang yang menganggurkan kemampuannya untuk mengelola multikecerdasan siswa.

Saat ini, yang dipakai masih monokecerdasan yang digagas oleh Binnet dengan konsep IQ-nya. Kebijakan dinas pendidikan juga mengacu pada konsep lama. Meskipun, petinggi pendidikan itu teramat paham tentang multikecerdasan itu. lalu, kapan dimulai penerapannya? Era setelah Binnet ada Thorndike sebagai salah satu ahli yang membagi kecerdasan manusia menjadi tiga, yaitu kecerdasan Abstrak -- Kemampuan memahami simbol matematis atau bahasa, Kecerdasan Konkret -- kemampuan memahami objek nyata dan Kecerdasan Sosial – kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia yang dikatakan menjadi akar istilah Kecerdasan Emosional (Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University:1994)

Pakar lain seperti Charles Handy juga punya daftar kecerdasan yang lebih banyak, yaitu: Kecerdasan Logika (menalar dan menghitung), Kecerdasan Praktik (kemampuan mempraktikkan ide), Kecerdasan Verbal (bahasa komunikasi), Kecerdasan Musik, Kecerdasan Intrapersonal (berhubungan ke dalam diri), Kecerdasan Interpersonal (berhubungan ke luar diri dengan orang lain) dan Kecerdasan Spasial (Inside Organizaion: 1990)

Bahkan pakar Psikologi semacam Howard Gardner & Associates konon memiliki daftar 25 nama kecerdasan manusia termasuk misalnya saja Kecerdasan Visual/Spasial, Kecerdasan Natural (kemampuan untuk menyelaraksan diri dengan alam), atau Kecerdasan Linguistik (kemampuan membaca, menulis, berkata-kata), Kecerdasan Logika (menalar atau menghitung), Kecerdasan Kinestik/Fisik (kemampuan mengolah fisik seperti penari, atlet, dll), Kecerdasan sosial yang dibagi menjadi Intrapersonal dan Interpersonal (Dr. Steve Hallam, Creative and leadership, Colloquium in Business, Fall: 2002).

Kecerdasan Intelektual, Emosional & Spiritual
Sudah bertahun-tahun dunia akademik, dunia militer (sistem rekrutmen dan promosi personel militer) dan dunia kerja, menggunakan IQ sebagai standar mengukur kecerdasan seseorang. Tetapi namanya juga temuan manusia, istilah teknis yang berasal dari hasil kerja Alfred Binet ini (1857 – 1911) lama kelamaan mendapat sorotan dari para ahli dan mereka mencatat sedikitnya ada dua kelemahan (bukan kesalahan) yang menuntut untuk diperbaruhi, yaitu:
a. Pemahaman absolut terhadap skor IQ
Steve Hallam berpandangan, pendapat yang menyatakan kecerdasan manusia itu sudah seperti angka mati dan tidak bisa diubah, adalah tidak tepat. Penemuan modern menunjuk pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya, 58% merupakan hasil dari proses belajar.
b. Cakupan kecerdasan manusia : kecerdasan nalar, matematika dan logika
Steve Hallam sekali lagi mengatakan bahwa pandangan tersebut tidaklah tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik. Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju.

Seputar Kecerdasan Emosional (EQ)
Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama tehnis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat

Seputar Kecerdasan Spiritual
Danah Zohar, penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’ ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001).

Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.

Penerapan IQ-EQ-SQ Dalam Kehidupan
IQ, EQ, dan SQ bisa digunakan dalam mengambil keputusan tentang hidup kita. Seperti yang kita alami setiap hari, keputusan yang kita buat, berasal dari proses :
1. merumuskan keputusan,
2. menjalankan keputusan atau eksekusi,
3. menyikapi hasil pelaksanaan keputusan.
Rumusan keputusan itu seyogyanya didasarkan pada fakta yang kita temukan di lapangan realita (apa yang terjadi) – bukan berdasarkan pada kebiasaan atau preferensi pribadi suka – tidak suka. Kita bisa menggunakan IQ yang menonjolkan kemampuan logika berpikir untuk menemukan fakta obyektif, akurat, dan untuk memprediksi resiko, melihat konsekuensi dari setiap pilihan keputusan yang ada.

Rencana keputusan yang hendak kita ambil – hasil dari penyaringan logika, juga tidak bisa begitu saja diterapkan, semata-mata demi kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri. Bagaimana pun, kita hidup bersama dan dalam proses interaksi yang konstan dengan orang lain. Oleh sebab itu, salah satu kemampuan EQ, yaitu kemampuan memahami (empati) kebutuhan dan perasaan orang lain menjadi faktor penting dalam menimbang dan memutuskan. Banyak fakta dan dinamika dalam hidup ini, yang harus dipertimbangkan, sehingga kita tidak bisa menggunakan rumusan logika – matematis untung rugi.

Kita pun sering menjumpai kenyataan, bahwa faktor human touch, turut mempengaruhi penerimaan atau penolakan seseorang terhadap kita (perlakuan kita, ide-ide atau bahkan bantuan yang kita tawarkan pada mereka). Salah satu contoh kongkrit, di Indonesia, budaya “kekeluargaan” sangat kental mendominasi dan mempengaruhi perjanjian bisnis, atau bahkan penyelesaian konflik.

Kenyataannya, hal di atas hanya sebatas dibaca guru namun tidak pernah menjadi bagian dari sistem pendidikan. Bukannya guru tidak mau menerapkan tetapi aturan pendidikan tidak juga beranjak dari pola monokecerdasan. Meskipun, perlu diakui bahwa IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri kita, sehingga tak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan. Seperti kata Thomas Jefferson atau Anthony Robbins, meskipun keputusan yang dibuat harus berdasarkan pengetahuan dan keyakinan sekuat batu karang, tetapi dalam pelaksanaannya, perlu dijalankan se-fleksibel orang berenang.

Sabtu, 13 Juni 2009

Agar Siswa Kreatif, Beginilah Tips Praktisnya

Oleh Suyatno

Semua guru menhendaki agar siswanya kreatif namun tidak semua guru mau menerapkan secara langsung di kelas. Kadang, guru berkomentar kalau siswanya tidak kreatif. Padahal, siswa tersebut dikondisikan untuk kreatif saja tidak. Inginnya, siswa kreatif dengan sendirinya, seperti hujan datang dari langit. Tentu, siswa tidak akan pernah dapat kreatif. Kreativitas tidak muncul begitu saja.

Bila guru menginginkan siswa menjadi kreatif, peran aktif guru sangat dibutuhkan. Melalui berbagai cara sederhana, siswa pun dapat tumbuh menjadi orang yang kreatif sesuai harapan. Ketahuilah bahwa Kreativitas siswa dimulai sejak usia 2 tahun, karena pada usia tersebut kemampuan kognitif mereka sudah lebih berkembang dan alur berpikirnya sudah mulai jelas, sehingga berbagai kegiatan kreatif sudah mulai bisa dilakukan bersama mereka, apalagi di kelas.

Kreativitas itu sendiri berbentuk kreativitas dalam berbagai bidang, mulai dari bidang seni hingga kreatifitas dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu dapat dirangsang melalui berbagai kegiatan bermain. Dari situ, bukan tidak mungkin bakat siswa terlihat sehingga guru bisa membantunya mengembangkan bakat tersebut. Untuk itu, berikut ini Tips yang perlu diketahui guru dalam rangka mendidik siswa menjadi kreatif:

1. Ciptakan Suasana Yang Bebas dan Menyenangkan. Kreativitas akan muncul jika siswa melakukan kegiatannya tanpa ada tekanan dari guru, misalnya banyaknya aturan-aturan yang harus diikut, atau guru yang terlalu banyak berkomentar. Dengan demikian siswa akan bebas untuk mencoba melakukan berbagai hal yang ia inginkan

2. Biasakan Memberi Pertanyaan Yang Membutuhkan Lebih Dari Satu Jawaban. Misalnya, saat mengajarkan siswa berhitung lebih baik pertanyaan: “Enam itu sama dengan angka berapa ditambah angka berapa?” daripada “Tiga tambah tiga sama dengan berapa?”.

3. Tanggapi Pertanyaan Siswa Dengan Serius. Tanggapilah semua pertanyaan yang diajukan siswa, tentunya dengan bahasa yang mudah ia pahami. Bila perlu carilah jawabannya dari berbagai sumber.

4. Berikan Penekanan Pada Proses Bukan Hasil. Hasil tidak terlalu penting. Jadi jangan mengharuskan siswa membuat sesuatu yang luar biasa atau bagus. Gunakan standar untuk siswa seusianya, bukan standar guru.

5. Jangan Terlalu Banyak Membantu. Ini adalah karya siswa, bukan guru. Jadi biarkan ia melakukannya sendiri dengan hasil yang tidak sama dengan persepsi guru.

Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Kedua di Vietnam

Garduguru: Tampaknya sudah waktunya bahasa Indonesia menjadi pilihan berbahasa di dunia. Buktinya, vietnam telah menentukan bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua yangs ejajar dengan bahsa Inggris, Perancis, dan Mandarin di negeri itu. Di beberapa negara, malah banyak yang membuka jurusan bahasa Indonesia di perguruan tinggi setempat. Kompas.com (12 Juni 2009) melaporkan bahwa pemerintah Daerah Ho Chi Minh City, Vietnam, mengumumkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua secara resmi pada bulan Desember 2007, kata seorang diplomat Indonesia.

"Bahasa Indonesia sejajar dengan Bahasa Inggris, Prancis dan Jepang sebagai bahasa kedua yang diprioritaskan," kata Konsul Jenderal RI di Ho Chi Minh City untuk periode 2007-2008, Irdamis Ahmad di Jakarta pada Jumat.

Guna mengembangkan dan memperlancar studi Bahasa Indonesia, pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia di kota itu membantu berbagai sarana yang diperlukan beberapa universitas, kata Irdamis.

Sarana yang dibantu antara lain peralatan komputer, alat peraga, bantuan dosen dan bantuan keuangan bagi setiap kegiatan yang berkaitan dengan upaya promosi Bahasa Indonesia di wilayah kerja universitas masing-masing.

Perguruan tinggi itu juga mengadakan lomba pidato dalam Bahasa Indonesia, lomba esei tentang Indonesia dan pameran kebudayaan. Universitas Hong Bang, Universitas Nasional HCMC dan Universitas Sosial dan Humaniora membuka studi Bahasa Indonesia.

"Jumlah mahasiswa yang terdaftar sampai Nopember 2008 sebanyak 63 orang dan menurut universitas-universitas itu, minat untuk mempelajari Bahasa Indonesia cenderung meningkat," kata Irdamis.

Ia berpendapat sebagian pemuda Vietnam melihat adanya keperluan untuk mempelajari Bahasa Indonesia, mengingat kemungkinan meningkatnya hubungan bilateral kedua negara yang berpenduduk terbesar di ASEAN di masa depan.

Rabu, 03 Juni 2009

Dampak Telivisi bagi Pendidikan Anak

Oleh Suyatno

Jangan tv yang diharamkan bahkan dibuang pesawatnya melainkan gunakan strategi untuk menyiasati televisi. Ubahlah dampak negatif tv menjadi sebuah energi yang positif dan melejitkan kepandaian seseorang karena kehidupan modern tidak dapat lepas dari perkembangan teknologi, terutama televisi.

Semua benda ciptaan manusia bahkan alam selalu berdampak baik positif maupun negatif. Kemudian, singkirkan dampak negatif dan raihlah dampak positif. Berbagai cara untuk meraih dampak positif tersebut. Dampak kesehatan, kebiasaan menonton TV dalam waktu yang lama berdampak buruk pada kesehatan mata, terlebih pada anak-anak. Televisi memancarkan sinar biru yang berbahaya bagi anak. Sinar biru menyebabkan degenerasi (kerusakan) retina. Ada dua hal yang mempengaruhi jumlah sinar biru yang diterima anak, yaitu lamanya menonton TV dalam satu hari dan jarak saat menonton TV.

Hasil penelitian mahasiswa Kedokteran UI yang terdiri atas Pratiwi Rapih Astuti, Wahyu Budi Santosa, Allan Taufiq, dan Dwi Notosusanto, mengungkapkan bahwa semakin lama waktu menonton TV, skor fungsi retina semakin rendah. Mata anak sangat rentan akibat sinar biru, karena lensa mata mereka relatif jernih sehingga tidak dapat meredam sinar biru dengan maksimal. Penelitian itu menyimpulkan bahwa lama waktu menonton TV sehari yang disarankan adalah 60 menit untuk anak berumur 6-9 tahun, dan 90 menit untuk anak berumur 9-13 tahun. Adapun soal jarak layar televisi dan mata si anak, penelitian menganjurkan jarak menonton TV lebih dari empat meter. Hal itu baik untuk mencegak kerusakan retina mata.

Dampak sosial yang muncul adalah anak yang sering menonton tv sendiri tanpa kawan akan memupuk jiwa egoistisnya dan melemahkan jiwa empatinya. Untuk itu, anak harus didampingi oleh kawannya atau orang tua sambil mengarahkan berdasarkan isi siaran tv.

Oleh karena anak berkembang dari tahap imitasi, kekuatan menirunya akan lebih tinggi tanpa dipikir lebih dahulu. Cara menyiasatinya adalah dengan memberikan penjelasan makna yang mendidik kepada anak.

Guru di Mata Mbok Siti (53)

Aku tidak henti-hentinya mengamati induk ayam bersama sepuluh anak-anaknya di pelataram rumah MBok Siti. Ketika itu, Mbok Siti ke belakang setelah lama berbicara tentang cinta seorang guru. Kembali ke ayam-ayam yang riuh rendah bersuara sambil mengerubungi kaki induknya. Sesekali induk ayam bergeser, anak-anak ayam itu juga bergeser. Aku coba untuk menganggu dengan menjulurkan tangan ke arah kerumunan ayam. Tiba-tiba, induk ayam berlari ke arahku sambil ingin mematuk sekenanya. Aku sedikit mundur dengan kaget.

"Itulah induk ayam, anakku. Induk itu sangat bertanggung jawab atas keselamatan anak-anaknya", kata Mbok Siti sambil membawa dua cangkir kopi seperti yang kuduga. 'Lihatlah dengan seksama ayam itu", ajak Mbok Siti. Induk ayam tidak pernah menyuapi langsung ke anak-anaknya. Induk itu hanya memberikan jalan dengan menggarukkan kaki agar makanan dapat muncul dan diketahui oleh anaknya. Lalu, anak ayam makan dengan paruhnya sendiri. Anak-anak ayam itu seperti berkeliaran sebebas-bebasnya dan berani menjauh dari induknya untuk mencari makanan sendiri seperti yang diajarkan induknya. Namun, jika induknya bergeser ke tempat lain, anak ayam yang kelihatan liar itu akan mengikutinya. "Itulah kekuatan hubungan dan tanggung jawab induk ayam terhadap anak-anaknya", kata Mbok sambil melirikku.

Guru hebat tentunya adalah guru seperti induk ayam itu. "Guru harus menunjukkan jalan kepada muridnya untuk menemukan belajarnya", ucap Mbok. Bebaskan murid berkreasi sesuai dengan keinginannya ketika mendalami ilmunya. Namun, smurid itu juga harus berada pada pantauan guru dengan tanggung jawab.