Selasa, 30 September 2008

Mengenali Bahaya Guru Pikun Gaya Alzheimer

Pernahkah anda melihat guru lupa saat di kelas? Biasanya, guru lupa itu bertanya, "anak-anak, pelajaran kita sampai di mana?; Anak-anak hari ini kita ulangan, padahal minggu lalu sudah ulangan; "apa benar kita di ruang ini?"; dan seterusnya. Bisa jadi, guru tersebut memang benar-benar lupa karena terkenan pikun Alzheimer.

KEPIKUNAN atau demensia mungkin adalah hal yang dapat dimaklumi bagi para orang lanjut usia. Tetapi bila kepikunan sudah dalam kategori 'sangat parah' dan mempengaruhi kepribadian, tingkah laku dan aktivitas, tentu patut diwaspadai karena bisa jadi apa dialami adalah Demensia Alzheimer.

Alzheimer adalah jenis kepikunan yang 'mengerikan' karena dapat melumpuhkan pikiran dan kecerdasan seseorang. Keadaan ini ditunjukkan dengan kemunduran fungsi intelektual dan emosional secara progresif dan perlahan sehingga mengganggu kegiatan sosial sehari-hari, termasuk kegiatan mengajar di kelas.

Menurut dr. Samino, SpS (K), Ketua Umum Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAzI), alzheimer timbul akibat terjadinya proses degenerasi sel-sel neuron otak di area temporo-parietal dan frontalis. "Demensia Alzheimer adalah penyakit pembunuh otak karena mematikan fungsi sel-sel otak," ujarnya dalam edukasi tentang Alzheimer beberapa waktu lalu.

Mereka yang rentan terserang kepikunan alzheimer ini adalah para lansia di atas 60 tahun, tetapi orang dewasa muda juga tak tertutup kemungkinab bila memiliki faktor risiko keturunan. Bahkan menurut Samino, penderita demensia alzheimer berusia 40 tahun pernah ditemukan di Indonesia.

Deteksi dini adalah hal penting dalam mengatasi Alzheimer, tetapi faktanya seringkali sulit dilakukan karena gejala kemunduran kerap dianggap sebagai suatu hal yang lumrah. Pasien biasanya hanya menunjukkan gejala biasa seperti lupa, tetapi kemudian berkembang progresif menjadi parah dan memperburuk fungsi kognitif dan fungsi mental lainnya. Untuk guru, dampaknya, tentu akan merugikan murid dalam belajar.

Kejanggalan awal biasanya dirasakan oleh penderita sendiri, mereka sulit mengingat nama atau lupa meletakkan suatu barang. Mereka juga sering kali menutup-nutupi hal itu dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka.

Kejanggalan biasanya akan dirasakan oleh orang-orang di sekitar mereka yang mulai khawatir akan penurunan daya ingat. Mereka awalnya belum mencurigai adanya problem besar di balik kepikunan yang dialami pasien, tetapi kemudian tersadar bahwa kondisinya sudah parah.

Nah, agar kepikunan Alzhemier dapat dicegah sejak dini, berikut beberapa tanda atau gejala yang patut diwaspadai kemungkinan hadirnya penyakit pembunuh otak :

- Kemunduran memori/daya ingat.
- Sulit melaksanakan kegiatan / pekerjaan sederhana
- Kesulitan bicara dan berbahasa.
- Disorientasi WTO (Waktu – Tempat – Orang)
- Sulit dalam berhitung
- Salah meletakan benda
- Penampilan buruk karena lupa cara berpakaian atau berhias
- Perubahan emosi dan perilaku.
- Gangguan berfikir abstrak. Kemampuan imajinasi penderita terganggu.
- Hilang minat dan inisiatif. Cenderung menjadi pendiam, tak mau bergaul, menyendiri.
- Tidak bisa membedakan berbagai jenis bau-bauan (tanpa penyebab lain misalnya flu, trauma otak, tumor otak).

Mudah-mudahan, Anda bukan guru yang pikun asalkan bersahabat dengan siswa, berpikir positif, berolahraga, dan berjiwa muda.

Diramu dari www.kompas.com

Guru di Mata Mbok Siti (24)

Tiba-tiba, seusai aku shalat Ied, doa baru saja aku lantangkan dalam hati, wajah Mbok Siti muncul kuat di depan mata dengan senyum khasnya. Aku terhenyak. Kupejamkan mata untuk mengisi hati. "Mbok, terimalah maaf tulusku", kata hatiku dibarengi air mata leleh pelan-pelan. Lalu, aku usap perlahan dengan napas yang kutahan. Aku bergegas meloncat dari masjid dan menderu ke satu tujuan. Rumah Mbok Siti.

Sepeda baru saja kuletakkan di latar teduh di bawah pohon mangga, tiba-tiba, Mbok Siti mendatangi dengan sangat cepat dan tanganku diraih. "Mohon maaf lahir batin, ya anakku", ucapnya tegas. Aku kaget. Ya... Kaget. Semestinya, akulah yang minta maaf dahulu. Hatiku menangis. Mengapa, aku yang mudah kalah cepat meminta maaf.

"Jangan menangis dan bersedih anakku hanya karena Mbok minta maaf lebih dahulu", ujarnya lirih. Meminta maaf merupakan kewajiban bagi siapa saja, termasuk Mbok Siti. Bukan berarti yang tua harus memaafkan tetapi juga harus dimaafkan. "Begitu pula, guru yang baik harus berani meminta maaf kepada murid-muridnya", katanya sambil mengajakku masuk ke dalam rumah. Maaf itu memang mudah diucapkan tetapi susah untuk dituluskan. Nah, guru yang berada dalam tingkat ketulusan kepada murid-muridnyalah yang memberikan kedamaian bagi dorongan prestasi muridnya. "Silakan, jajan ini dinikmati", kata Mbok Siti. Aku lihat, banyak tamu lain yang juga menikmati jajan sambil tersenyum melihatku. Aku pun menyalami semua tamu meski belum pernah aku kenal.

Hanya ada satu ucap, maaf dari segala maaf, bukan untuk apa-apa tetapi agar tidak ada apa-apa, selain kita insan yang sama

Minggu, 28 September 2008

Guru di Mata Mbok Siti (23)

Kicau burung prenjak itu sungguh-sungguh menggairahkan semangat pagi itu. Dari dahan ke dahan, berloncatan sambil berkicau khas, burung kecil itu. Aduh, tangan rasanya mau memegang burung itu. Mbok Siti tersenyum melihat wajahku yang mengikuti gerak burung prenjak dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, dan dari samping menelusup ke ranting terdalam.

"Itu burung bersahabat, anakku", ujar Mbok Siti sambil menyilakan aku duduk di beranda sebelah kanan rumah tepas kebanggaan. Dari burung kecil itu, kami terbiasa untuk membacanya bahwa sebentar lagi akan ada tamu, entah tamu dari mana. Dialah sebuah petunjuk. Petunjuk yang pasti, jauh sebelum dunia ini dihiasi telepon untuk mengabarkan sesuatu. "Jadilah petunjuk sesuatu sehingga dapat dibanggakan", ujarnya.

Guru juga seekor burung prenjak yang tidak pernah berhenti memberikan petunjuk dengan suara khasnya yang membedakan burung lain. Dalam memberikan petunjuk, guru tidak perlu jengah, lunglai, dan malas meski petunjuk itu tidak seberapa digunakan oleh murid-muridnya. Lama-kelamaan, murid akan paham bahwa petunjuk yang dikicaukan guru memberikan manfaat pasti bagi murid. Berilah murid suara khas guru yang dapat membekas di sanubari murid.

Jumat, 26 September 2008

Mengajar dengan Metode Laskar Pelangi


Oleh Suyatno

Mendidik dan mengajar dengan hati. Itulah kata kunci dalam menggunakan metode Laskar Pelangi melalui pembelajaran apa saja. Peran guru hanya sebagai fasilitator dan motivator yang menjaga emosi dan hati siswanya. Bahan ajar dielaborasikan secara nyata dengan pengalaman langsung dengan alam. Media pembelajaran berkutat pada yang ada, di sini, sekarang, dan dikenal anak. Proses pembelajaran menjadi sesuatu yang utama dibandingkan masukan (in-put) siswanya. Prosedur pembelajarannya bebas dari mana saja memulainya, yang penting, pembelajaran dimuali dari kondisi siswa.

Metode Laskar Pelangi merupakan metode yang diadaptasi langsung dari novel dan film Laskar Pelangi. Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini dalam film (visualnya) dibintangi oleh pemain cilik berbakat anak-anak asli Belitong, di antaranya : Yogi (Kucai), Levina (Aling), Febri (Borek), dan Hendry (A Kiong). Pemain-pemain lainnya, pemain watak bintang Indonesia saat ini, yakni Cut Mini, Mathias Muchus, Oneng Dyah Pitaloka, Alex Komang, Roby Tumewu, Selamet Rahardjo, dan lainnya. Film itu diproduseri Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza.

Film berdurasi total 125 menit ini memang memberikan inspirasi bahwa mengajar itu menyenangkan bagi guru dan menyenangkan bagi siswa yang belajar. Bahkan, tanpa guru pun, siswa-siswa belajar sendiri di kelas karena motivasi kuat yang telah tertanam. Kelas tidak menjadi satu-satunya tempat pembelajaran. Dalam film ini, karakter-karakter unik dalam novel betul-betul dihidupkan sehingga menjadi buku teks bagi guru-guru.

Kisah Laskar Pelangi dimulai dari pemuda tuna grahita yang menyelamatkan SD Muhammadiyah Gantong karena menggenapi sepuluh murid; Lintang, anak jenius yang terlahir dari alam; Mahar yang berhasil mengharumkan nama sekolah lewat tarian buah gatal-nya; serta sang tokoh sentral Bu Muslimin yang diperankan amat baik oleh aktris Cut Mini. Emosi penonton pun akan dibawa layaknya menaiki roller coster. Merasakan kegembiraan, keluguan, termasuk kesedihan yang amat tragis ketika mengetahui seorang brilian macam Lintang harus berhenti sekolah akibat bola nasib keterbatasan ekonomi.




Tidak sedikit penonton, khususnya guru, menitikkan air mata usai menyaksikan film ini. Jangan sampai ada Lintang-Lintang berikutnya. Sayang sekali jenius seperti itu, permata nusantara, tetapi gagal mengejar cita-cita karena tidak bisa sekolah. Adegan Lintang mengucapkan perpisahan dengan Ikal (sang pemain utama) dan kawan-kawannya di SDN Muhamamdiyah Gantong menjadi momen yang sangat dramatis.

Pendidikan bukan sekedar kognisi. Tetapi, menyangkut pula jiwa dan nurani. Semua pengelola pendidikan terutama yang di birokrasi hendaknya mulai membuka diri untuk mengelola pendidikan dengan metode Laskar Pelangi. Ternyata, kognisi saja yang diagung-agungkan selama ini hanya mampu membangun peradaban di permukaan saja. Peradaban di dalam hati ternyata terbingkai oleh nafsu korupsi, mutilasi, perang desa, intrik, dan skandal harta. Peradaban dalam hati perlu diisi dengan baik oleh pengelola pendidikan secara maksimal. Mendidik anak itu harus sepenuh hati. Bisa di mana pun dan kapan pun. Laskar Pelangi bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi para guru dan siswa. Prestasi adalah hal biasa. Namun, jika prestasi itu lahir di tengah-tengah keterbatasan, ini hal yang luar biasa.

Guru di Mata Mbok Siti (22)

"Lihatlah anakku, pohon-pohon itu berdiri kuat hanya untuk memberi", kata Mbok tiba-tiba saat berjalan membawa rerambanan pakan kambing. Aku yang di sebelahnya, menimpali pelan, "Iya, Mbok", sambil bernapas panjang karena jalan agak jauh. Anehnya, meski menurutku perjalanan lumayan jauh, napas Mbok Siti tampak tidak berubah, tenang, dan melangkah konstan.

"Pohon itu lebih banyak memberi daripada menerima", tambahnya. Karena banyak memberi, burung-burung, ulat, tawon, kelelawar, kupu-kupu, belalang, dan sebagainya dapat menikmatinya dengan baik sehingga berlangsung siklus hidup ini. "Pohon itu tidak pernah berharap menerima meski telah memberi sebanyak-banyaknya," kata Mbok pelan.

"Kalau saja guru mampu menangkap tugas mulia pohon-pohon itu, pasti banyak kegiatan memberi yang dilakukan guru", ujar Mbok sesampai di kandang kambing. Guru yang terhormat haruslah banyak memberi daripada menerima. Dengan memberi, ragam siswa dari latar belakang berbeda akan mampu menikmati aktivitas memberi guru. Dengan memberi, tanpa meminta, perhatian tulus akan datang dengan sendiri kepada diri guru. "Berarti, kita sedang memberi juga kepada kambing ini makanan lezat baginya, Mbok?", tanyaku. Mbok tersenyum segar.

Kamis, 25 September 2008

Kiat Minta Maaf Guru kepada Siswa

Oleh Suyatno

Guru bukanlah dewa atau malaikat yang selalu benar semua tindakan dan ucapannya. Guru juga manusia, yang tidak pernah lepas dari salah dan khilaf termasuk salah ucap ke siswanya. Kadang yang diucapkan guru menyinggung perasaan salah satu siswanya meskipun menurut siswa lain tidak menyinggung perasaan. Kadang, guru merasakan bahwa ucapannya sudah tepat untuk dikonsumsi siswa tetapi malah memunculkan persepsi negatif. Bahkan, ada guru yang terang-terangan berkata jorok di depan siswa dan siswa langsung menghunjam kata-kata itu dengan cara mendiamkan dan menjauhinya.

Tidak jarang, guru membuat hubungan dengan siswanya terganggu. Inilah cara meminta maaf pada siswa tanpa membuat guru harus kehilangan wibawa di depannya.

1. Mengaku bersalah
Sadari bahwa guru telah membuat kesalahan, dan akui itu di hadapan siswa. Inilah salah satu faktor penting dalam meminta maaf. Guru yang demikian itu pastilah diacungi jempol siswanya. Tidak jarang ini sulit dilakukan, karena guru merasa gengsi. Lupakan gengsi, kalau memang tidak ingin masalah terus berlarut.

2. Tulus
Ketika meminta maaf, guru harus tulus. Siswa akan gampang mengetahui ketika guru berbohong tentang hal ini. Siswa merupakan orang yang cepat menangkap perubahan mimik gurunya. Jadi, tuluslah dengan mimik yang juga tulus tanpa dibuat-buat.

3. Tenang
Meminta maaf dalam keadaan emosi dan marah akan percuma. Kalau guru belum bisa bersikap tenang, katakan pada siswa bahwa guru butuh waktu untuk sendiri, sebelum melanjutkan pembicaraan dengannya. Kemudian, pikirkan apa yang terjadi dan apa penyebabnya agar pikiran jadi tenang.

4. Tepat sasaran
Katakan permintaan maaf guru secara langsung dan dalam kalimat yang tidak berbelit-belit. Sedapat-dapatnya, minta maaf tidak dititipkan kepada siapapun. Ingat, yang dimintakan maaf adalah sikap guru yang baru saja terjadi, bukan orang lain. Misalnya, mintalah maaf atas kemarahan dan ucapan guru yang kasar, bukan atas kepribadian guru yang emosional.

5. Jangan menyalahkan
Jangan balik menyalahkan siswa hanya untuk membenarkan sikap guru. Misalnya, dengan mengatakan bahwa seandainya ia tidak malas, guru tidak akan marah terus padanya. Ini sama saja guru tidak meminta maaf, melainkan justru menyalahkannya.

6. Meminta maaf
Mengatakan bahwa guru bersalah dan bertanya apakah siswa mau memaafkannya akan mempermudah guru mengungkapkan penyesalan, sekaligus membuat siswa belajar memahami cara memperbaiki hubungan.

7. Evaluasi
Bersama siswa, lihat kembali bagaimana guru bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik, dan sepakati cara yang akan dilakukan bila masalah yang sama terjadi lagi nanti.

8. Lupakan
Bagaimanapun juga, guru hanya seorang manusia, yang tentu tidak sempurna dan bisa berbuat salah. Namun, jangan terus berkutat pada rasa bersalah itu. Setelah meminta maaf, lupakan masalah tersebut dan berusahalah untuk tidak mengulanginya lagi, sama seperti ketika guru memintanya tidak mengulang kesalahan.

9. Jangan berlebihan
Berlebihan dan selalu meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, justru akan membuat guru kehilangan wibawa. Mintalah maaf karena memang bersalah, bukan karena guru berusaha menerapkan disiplin atau hukuman yang terbilang wajar, atas kesalahannya.

Hasil dari meminta maaf dengan kesembilan syarat itu akan melapangkan hati guru dan memaksimalkan kinerja. Untuk itu, guru jangan pelit dengan maaf. Perbesarlah hubungan manusiawi terhadap siswa-siswanya karena mereka juga manusia meskipun saat ini masih dipersepsikan serba kurang, kurang besar, kurang pandai, kurang sopan, dan sebagainya. memang siswa berada dalam posisi kurang untuk menuju ke posisi mantap. Itulah proses pembelajaran yang diasuh guru sejati.

Guru di Mata Mbok Siti (21)

"Nak, minumlah kelapa muda itu", ajak Mbok Siti sambil menunjuk ke depan tempat dudukku. Rupanya, hari itu Mbok Siti telah menyiapkan kelapa muda untuk suguhan kami. "Iya, MBok", sambil aku angkat kelapa muda segar yang sudah dibuka porosnya sehingga mudah diseruput.

"Segar sekali kelapa muda ini, Mbok", komentarku basa-basi. "Setiap kelapa muda pasti segar karena berada di tengah pertumbuhan menjadi tua", kata MBok Siti. Kesegaran itu dapat diraih setelah kita membuka sabut kelapa dan mengupas batok kayunya. Usaha mengupas itu memerlukan waktu, usaha, dan tenaga yang terjalin dalam sebuah proses. Karena mengupasnya penuh rencana, inti kelapa muda itu dapat diraih.

Begitu pula seorang guru, untuk mendapatkan hasil yang menyegarkan bagi kita, perlu upaya dalam memproses siswanya melalui usaha, waktu, dan tenaga pula. "Kadang, banyak guru yang tidak ada waktu dalam memproses siswa", kata Mbok. Hasilnya, siswa tidak menunjukkan perubahan. Begitu pula, ada guru yang mempunyai waktu tetapi tidak bertenaga, hasilnya sama saja mengecewakan kita. Lalu, ada guru punya waktu dan tenaga tetapi tidak punya usaha, hasilnya juga tidak maksimal. "Jadi, guru juga harus mempunyai waktu, usaha, dan tenaga dalam berproses", kata Mbok pelan sambil mengangkat kelapa muda untuk diminumnya.

Ijazah Instan Berangkat dari Budaya Instan

Oleh Suyatno

Tampaknya, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, sudah tidak mempan masuk di sanubari bangsa kita. Bangsa ini sudah masuk pada peradaban serba cepat dalam semua lini. Orang sekarang sudah tidak mau susah-susah masak karena semua sudah tersedia di toko tinggal makan, orang sudah tidak usah bersusah-susah menabung untuk membeli sepeda motor karena sudah tersedia di diler tinggal ambil. Orang sekarang tidak usah susah-susah sekolah karena tinggal beli ijazah, selesai semua urusan. Mengapa terjadi seperti itu?

Seolah-olah semua orang terhenyak ketika Jawa Pos menurunkan jurnalistik investigasinya tentang Cara Gampang Medapatkan Ijazah Tanpa Kuliah. Mereka menghujat semaunya seperti yang tergambar dalam kolom komentar pembaca tentang ijazah instan itu. Padahal, ijazah instan sudah tidak barang baru dan selalu di depan mata kita. Kita terbiasa melanggar dan melompati tatanan yang dibuat sendiri, khususnya, dunia pendidikan. Seolah-olah, pendidikan seperti barang dagangan di toko-toko. Padahal, pendidikan adalah proses yang bermuara pada pembentukan kemampuan yang berkarakter.

Budaya instan ada dalam denyut nadi kita bersama yang bermuara pada pengkerdilan budaya keindonesiaan. Andai saja, semua orang Indonesia, konsisten sesuai dengan jalur masing-masing dan berada dalam budaya proses, kasus ijazah instan tidak akan terjadi. Tapi, dalam darah daging kita telah muncul gelembung racun instan, komsumtif, jalan pintas, dan gengsi berlebihan.

Jika kelangsungan bangsa Indonesia direkayasa untuk bergerak selamanya, racun itu harus segera dimusnahkan dengan membangun budaya baru, yakni budaya proses, budaya kerja, budaya prestasi, dan budaya konsisten. Para tokoh masyarakat kompak akan rekayasa menggeser racun budaya Indonesia dengan denyut budaya potensial. Namun, para tokoh masyarakat pun turut dijangkiti racun budaya tersebut sehingga terjadi kesusahan harus berangkat dari mana.

Mulailah dari guru yang betul-betul mempunyai hati untuk membangun generasi Indonesia sejati. Guru tersebut perlu membentuk komunitas guru sehati yang meyakinkan diri bahwa racun budaya itu secara perlahan tapi pasti akan membunuh kelangsungan bangsa ini. Jika racun itu berkembang pesat, dapat dipastikan bahwa generasi kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk sebuah produk, yang ada menunggu buatan bangsa lain. Bisa jadi, sambel pecel nanti tidak ada yang dapat membuat karena terbiasa membeli. Yang membuat bangsa lain yang berperadapan budaya proses. Begitu pula, barang-barang lainnya, bangsa kita bisanya hanya membeli, padahal daya beli kita menurun drastis. Ujung-ujungnya, bangsa ini kembali menjadi bangsa budak untuk mendapatkan uang untuk membeli produk tertentu. Kisah itu harus dipahami oleh guru.

Guru perlu menyatukan genggaman tangan untuk membangun budaya proses apapun hasilnya. Mereka harus bahu membahu membangun formulasi budaya proses. Wajah Indonesia harus benar-benar Indonesia.

Jumat, 19 September 2008

Guru di Mata Mbok Siti (20)

Entah mengapa, aku selalu rindu dengan Mbok Siti di atas rindu sinar matahari dengan buminya. Kali ini, aku datang dengan membawa buah anggur segar yang aku beli di pasar pagi untuk kuberikan dengan ikhlas kepada Mbok Siti. Denagn perasaan, maju mundur karena mungkin Mbok Siti tidak berkenan menerimanya, aku bawa anggur segar dengan tas kresek hitam.

"Siang Mbok", sapaku dengan lembut. "Pagi juga anakku, kamu membawa apa?", tanya Mbok Siti sambil melipat-lipat kebaya yang telah dicucinya. "Ini, sekadar oleh-oleh, Mbok", jawabku sambil menyorongkan tas kresek di depan Mbok. "Mengapa harus merepotkan begini", jawab Mbok sambil tetap melipat kebayanya. Pertemuan selama ini sangat menyenangkan karena berada dalam ketulusan.

"Namun, kalau sudah diikat dengan sebuah oleh-oleh, entah itu namanya, pertemuan akan menjadi berat sebelah. Memberi itu boleh tetapi kadang memberikan segumpal perhatian yang sedikit lebih dibandingkan dengan perhatian kepada orang lain yang tidak membawa oleh-oleh. "Anakku, mendidik itu juga harus berada dalam keseimbangan perhatian", tukasnya. Andai ada satu siswa yang membawa oleh-oleh buat gurunya, kemudian yang lainnya tidak, itu artinya, telah terjadi pilih kasih dari sanubari sang guru kepada siswa yang membawa oleh-oleh. Ketulusan jangan diukur dengan pilih kasih. Pilih kasih guru harus untuk semua siswa bukan untuk siswa tertentu. "Nah, karena anggur ini sudah dibawa ke sini, ayo dibuka bareng-bareng dan ayo dimakan bareng", ujarnya. Hatiku menjadi lega, setelah membuka bareng-bareng. Anggur itu kami habiskan bareng-bareng sambil ngobrol dengan setumpuk obrolan.