Menurut berita Bintang Papua, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) direncanakan membuka Raimuna
Pramuka Juni 2012 di Buper Waena, Kota Jayapura, yang direncanakan
dihadiri 10.000 anggota Pramuka dari seluruh Indonesia. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Papua
James Modouw di Kantor Gubernur Provinsi Papua, menyebutkan bahwa
kepercayaan yang diberikan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah
Provinsi Papua menjadi tuan rumah perhelatan akbar perkemahan nasional
Raimuna Pramuka tahun 2012 perlu dipersiapkan secara maksimal.
Karena
itu, tandasnya, Pemerintah dan Jajaran Kwartir Cabang Pramuka
Kabupaten/Kota Se- Papua diharapkan menyiapkan diri menyambut agenda
nasional Raimuna Pramuka di Tanah Papua.
Dia mengatakan, untuk menghadapi Raimuna Pramuka di Tanah Papua tahun
2012, Pemerintah sejak tahun 2010 lalu telah menyiapkan sarana fisik
Bumi Perkemahan Pramuka di Buper Waena, terutama menyangkut fasilitas
air minum, listrik serta Mandi Cuci Kakus (MCK).
Dia juga
mengatakan, pihaknya menghimbau kepada semua Bupati dan Walikota Se
Papua untuk bersama-sama dengan Pemerintah Provinsi dan Kwarcab
menyiapkan diri dan mendukung agenda nasional Raimuna Pramuka
tersebut. Katanya, Pemerintah Provinsi Papua merencanakan membangun
landasan Helikopter di Buper Waena.
‘’ Sarana infrastruktur di bumi
perkemahan Pramuka di Buper Waena, terutama menyangkut fasilitas mandi
cuci kakus (MCK), lapangan parkir, lapangan futsal, stadion dan lainnya
sudah mulai dikerjakan,’’ katanya.
Ia mengatakan, pembangunan
fasilitas di Buper Waena, diharapkan dalam waktu tiga bulan kedepan
sudah selesai, karena event nasional Pramuka di tanah Papua tahun 2012
akan dimulai bulan Juni 2012 mendatang.
Lebih lanjut James Modouw
mengatakan, hari ini (Jumat-red) tim yang diketuai Pak Amos Asmuruf
akan melakukan pertemuan dengan Gubernur Papua, terkait dengan
pembentukan Panitia.
Lanjutnya, Pemerintah Provinsi Papua lebih
banyak menyiapkan lahan dan lokasinya saja, karena, Panitia di pusat
juga akan menyiapkan fasilitas lainnya. Oleh karena itu, khusus untuk
kawasan Buper, bangunan yang sudah ada, kita tinggal pembenahan saja.
Karena tahun 2010 lalu juga sebagian besar sudah dilakukan renovasi.
Tandasnya.
Selasa, 10 Januari 2012
Raimuna Nasional 2012: Jangan Lupa Mampir ke Danau Sentani
Jika tidak ke Danau Sentani, rasanya rugi kalau sudah ke Papua. Danau indah ini sangat dekat dengan Bandara. Bahkan, jika peserta Raimuna Nasional 2012 via pesawat, perjalanan ke Buper Waena pasti akan melewati pinggir Danau Sentani bagian utara. Betapa indah dengan jalan mulus berkelok sedang.
Danau ini memiliki
pemandangan yang indah di atas kilauan air dengan rumah penduduk yang khas. Keheningan air akan membuat peserta Raimuna Nasional merasa damai dan nyaman. Dengan merangkul Pegunungan Cyclops di sebelah utara
dan tumbuhan subur sebagai latar belakang yang indah dan melindungi 24
desa yang betengger sekitar danau menjadikan danau ini sangat indah dan
unik. Orang-orang di sini ramah dan kreatif, hasil kerajinan tangan
mereka merupakan yang terbaik di tanah Papua.
Jika ada waktu luang, pergilah dengan sengaja untuk menikmati danau dengan menaiki perahu . Peserta Rainas 2012 bisa menyewa perahu bermotor di salah satu
desa. Kalian akan merasakan hembusan angin membelai kulit dan rambut ketika
melaju di danau, mengabadikan rumah-rumah panggung dan berkenalan dengan
penduduk setempat hanya bisa didapatkan dan diarasakan di danau ini.
Danau Sentani dan sekitarnya dahulu
merupakan tempat pelatihan untuk pendaratan pesawat amfibi. Landasan ini
dibangun oleh Jepang yang kemudian diambil alih oleh Angkatan Darat AS
pada tahun 1944. Legenda perang Amerika, Jenderal McArthur dikatakan
pernah tinggal di danau dan di 22 pulau di dalamnya.
Hidup sebagai nelayan dan lokasinya yang
dekat dengan ibu kota provinsi, adalah alasan mengapa sebagian besar
penduduk sekitar danau terbuka pada pengunjung. Rumah panggung dengan
kolam dan jaring adalah pemandangan umum di danau. Danau ini merupakan
rumah bagi setidaknya 33 jenis ikan, yang hampir separuh dari mereka
adalah asli danau ini. ikan gergaji (Pristis Microdon) merupakan
ikan asli danau ini, namun kini diperkirakan sudah punah. Ikan ini
merupakan salah satu ornamen adat pada kerajinan kayu Sentani.
Apalagi, saat Rainas 2012, rencananya juga akan digelar Festival Danau Sentani. Tentu, akan ada unjuk kreasi budaya yang menakjubkan bagi warga Indonesia dan dunia.
Raimuna Nasional 2012 di Papua, Ajang Pendidikan Remaja yang Sebenarnya
Raimuna Nasional 2012 di Papua tentu akan memberikan wahana pendidikan bagi remaja yang sebenarnya. Remaja tidak hanya diberi cerita tetapi dapat secara langsung menerapkan kemampuannya di lokasi yang menantang.
Inilah kesempatan paling berharga dan berkesan bagi
penegak dan pandega se-Indonesia untuk berpetualang di bumi Papua
melalui kegiatan akbar Raimuna Nasional
2012. Betapa tidak. Lokasi
perkemahan di Kota Jayapura, tepatnya di Kelurahan Waena, Kecamatan Heram, selatan kota,
antara Jayapura dan Abepura. Lokasi bukit yang dekat dengan pantai Yos
Sudarso dengan panorama indah antara laut, bukit, hutan, dan kota. Waena
dekat dengan bandara Sentani dan dekat pula dari pelabuhan dengan
angkutan mikrolet yang sangat mudah ditemui dan murah.
Jika penegak dan pandega menginginkan petualang di Kampung
Sentani, perjalanan yang ditempuh cukup 30 menit dengan mikrolet arah
Bandara Sentani. Dari mikrolet terlihat Danau Sentani yang menawan,
alami, dan menyegarkan mata. Kalau pun akan ke pantai, peserta dapat
naik mikrolet ke arah Pasar Hamadi yang dipenuhi dengan kios souvenir
Papua yang murah meriah, yakni koteka, patung Asmad, lukisan kulit kayu,
panah bambu, keong terompet, pakaian tari Papua, dan sebagainya. Harga
sangat murah asalkan harus pandai menawar. Para pedagang souvenir
rata-rata orang Bugis.
Kalau sore,
penegak dan pandega dapat berjalan-jalan ke kota dengan mikrolet
kira-kira 30 menit dari lokasi Raimuna, jika tidak macet untuk melihat
pasar Mama-Mama di jalan Percetakan> pasar tersebut dipenuhi oleh
penjual ibu-ibu Papua dengan sistem tradisional. Mereka teramat ramah
dan mudah diajak berbicara dengan bahasa Indonesia.
Kembali ke Waena, penegak pandega jangan takut akan lokasi
perkemahan kaena berada di Bukit Waena yang beriklim sedang dan
dikelilingi oleh bangunan sekolah dan kantor lainnya. Jadi, bukan
berkemah di tengah hutan belantara seperti yang dibayangkan kawan-kawan
lain. Masalah keamanan jangan khawatir. Warga Papua sangat bersaudara
dengan sesama. Mereka suka dengan kawan baru. Jika berita gencar
terdapat penembakan, itu hanya masalah politik di lokasi lain yang jauh
dari Jayapura.
Apalagi, Raimuna Nasional
2012 rencananya diselenggarakan
Jayapura, Provinsi Papua, akan
dikombinasi dengan pesta budaya masyarakat dan Pemerintah Kabupaten
Jayapura yakni Festival Danau Sentani (FDS) pada 19-23 Juni. Tentu,
kegiatan itu akan lebih mengautkan pengalaman bagi yang turut serta.
Ketua
Harian Kwartir Pramuka Cabang Papua Amos Asmuruf mengatakan,
penggabungan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan
sejarah, budaya, dan adat istiadat masyarakat Papua kepada seluruh
peserta raimuna. "Kami berusaha agar pelaksanaan Raimuna Nasional yang
diselenggarakan di sini (Papua) bersamaan FDS," katanya.
Kebetulan pula, akhir Desember 2011, pengelola Blog ini sempat mengunjungi Waena ketika bertugas meneliti Karakter Bangsa di Jayapura. Jadi, dapat dipastikan Raimuna akan memberikan kesan menantang bagi penegak dan pandega.Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Provinsi Papua mengatakan jajaran Kwartir Cabang Pramuka kabupaten se Papua diharapkan menyiapkan diri menyambut agenda nasional Raimuna nasional di tanah Papua.Sebagai tuan rumah Raimuna nasional daerah tersebut akan dikunjungi sekitar 10.000 anggota Pramuka dari seluruh Indonesia.
Untuk menghadapi event nasional Pramuka di tanah Papua tahun 2012
pihak Kwarda Papua sedang menyiapkan sarana fisik bumi perkemahan
Pramuka
di Buper Waena, terutama menyangkut fasilitas mandi cuci kakus (MCK).
Posisi Gerakan Pramuka di Sekolah
Gerakan Pramuka, yang dalam satuan terkecil disebut gugus depan, bukan milik sekolah melainkan hanya bertempat di sekolah. Sekolah hanyalah tempat pangkalan gugus depan dalam menjalankan programnya. Jadi, tidak ada istilah nama pramuka SMA X, gugus depan SMPN X, atau Gerakan Pramuka SD X. Yang ada hanyalah gugus depan yang berpangkalan di SMA X. mengapa begitu?
Awalnya, gugus depan berada di masyarakat. Namun, karena gerakan pramuka dianggap penting bagi tumbuh dan kembang anak secara sempurna, pihak sekolah juga menginginkan siswanya aktif di gugus depan dalam melatih diri lewat kepramukaan. Agar tidak jauh-jauh berlatih, pihak sekolah menginginkan agar gugus depan dapat berdiri di sekolah (bukan bagian sekolah) dengan nomor gugus depan berdasarkan registrasi kwarcab setempat. Biar semakin mantap pola tempat yang sama namun pengelolaan pendidikan berbeda karakter, depdikbud menandatangani kerjasama dengan kwarnas tentang gugus depan yang berpangkalan di sekolah.
Namun, apa yang terjadi? Banyak sekolah malah mengabaikan posisi gugus depan di sekolah dengan memasukkan gerakan pramuka di bawah OSIS. Betapa salahnya perbuatan tersebut. Gerakan Pramuka bukan bagian dari OSIS dan bukan bagian dari sekolah. Gerakan Pramuka hanya bertempat di sekolah. Jadi, gugus depan yang berpangkalan di sekolah bisa saja dikelola orang yang tidak terikat dengan sekolah. Oleh karena faslitas sekolah di bawah tanggung jawab kepala sekolah, mabigus sekaligus ya dijabat kepala sekolah. Bukan berarti, gugus depan milik sekolah.
Awalnya, gugus depan berada di masyarakat. Namun, karena gerakan pramuka dianggap penting bagi tumbuh dan kembang anak secara sempurna, pihak sekolah juga menginginkan siswanya aktif di gugus depan dalam melatih diri lewat kepramukaan. Agar tidak jauh-jauh berlatih, pihak sekolah menginginkan agar gugus depan dapat berdiri di sekolah (bukan bagian sekolah) dengan nomor gugus depan berdasarkan registrasi kwarcab setempat. Biar semakin mantap pola tempat yang sama namun pengelolaan pendidikan berbeda karakter, depdikbud menandatangani kerjasama dengan kwarnas tentang gugus depan yang berpangkalan di sekolah.
Namun, apa yang terjadi? Banyak sekolah malah mengabaikan posisi gugus depan di sekolah dengan memasukkan gerakan pramuka di bawah OSIS. Betapa salahnya perbuatan tersebut. Gerakan Pramuka bukan bagian dari OSIS dan bukan bagian dari sekolah. Gerakan Pramuka hanya bertempat di sekolah. Jadi, gugus depan yang berpangkalan di sekolah bisa saja dikelola orang yang tidak terikat dengan sekolah. Oleh karena faslitas sekolah di bawah tanggung jawab kepala sekolah, mabigus sekaligus ya dijabat kepala sekolah. Bukan berarti, gugus depan milik sekolah.
Metode Bercerita untuk Pembelajaran di TK
Rasanya, semua orang sangat yakin kalau bercerita disukai oleh anak-anak usia TK. Bahkan, siswa TK dapat larut dan hanyut dalam cerita karena kepandaian guru dalam menyampaikannya. Oleh karena itu, guru TK sangat perlu menggunakan cerita sebagai metode penyampaian inti pembelajaran. Syaratnya, guru TK harus kreatif dalam menciptakan cerita atau mengolah cerita yang sesuai dengan alam pikir siswa.
Metode bercerita merupakan salah satu strategi pembelajaran
yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak TK dengan membawakan
cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang dibawakan guru harus
menarik, dan mengundang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan
pendidikan bagi anak TK.
Penggunaan
bercerita sebagai salah satu strategi pembelajaran di Taman Kanak-kanak
haruslah memperhatikan hal-hal (1) isi
cerita sesuai dengan dunia kehidupan anak, (2) kegiatan
bercerita memberikan perasaan gembira, lucu, dan
mendidik, (3) kegiatan
bercerita memberikan pengalaman bagi anak, (4) beberapa
macam teknik bercerita dapat dipergunakan (membaca langsung dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku gambar,
menggunakan papan flannel, menggunakan boneka, bermain peran dalam suatu
cerita, atau bercerita dengan menggunakan jari-jari tangan), (5) bercerita
dilakukan dalam kelompok kecil untuk memudahkan guru
mengontrol kegiatan yang berlangsung sehingga akan berjalan lebih
efektif. Selain itu tempat duduk pun harus diatur sedemikian rupa,
misalnya berbentuk lingkaran sehingga akan terjalin komunikasi yang
lebih efektif.
Jumat, 06 Januari 2012
Percontohan Penerapan Pendidikan Karakter di 500 Sekolah se-Indonesia
Contoh penerapan pendidikan karakter dikembangkan di 500 sekolah di 33 provinsi. Praktik-praktik
pendidikan karakter yang sudah dijalankan itu, diharapkan dapat memberi
insiprasi sekolah lain untuk melaksanakan dan mengembangkan pendidikan
karakter yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah atau daerah
masing-masing.
Pendidikan karakter di sekolah mengambil dari kearifan lokal, selain nilai-nilai kebajikan yang umum. "Kita ingin penerapnnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah yang dapat diukur. Misalnya, kebersihan masih jadi problem banyak sekolah. Bisa dimulai dari situ, lalu dikembangkan pada karakter lain yang mudah diukur dan diterapkan," kata Erry Utomo, Kepala Bidang Kurikulum dan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional, dalam seminar bertajuk Pendidikan Harmoni Sebagai Pendidikan Karakter Yang Kontekstual di Jakarta.
Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta, HAR Tilaar, mengkritisi pendidikan karakter yang tidak memiliki konsep yang jelas. Pendidikan karakter di Indonesia mestinya berdasarkan kebudayaan Indonesia yang multikultural. "Pendidikan karakter Indonesia semestinya dengan mengembangkan nilai-nilai yang kita sepakati bersama yang memepersatukan Indonesia. Ini akan menjadi karakter yang khas Indonesia dibanding dari negara lain, sebagai negara yang hidup dalam budaya multikultural," kata Tilaar.
Menurut Tilaar, nilai-nilai karakter Indoensia yang hendak dibangun itu ada di dalam nilai-nilai Pancasila, yang sebenarnya digali dari kebudayaan-kebudayaan daerah. Yang dibutuhkan sekarang ini, bagaimana pendidikan nasional kita dapat menerapkan pendidikan yang mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkarakter," kata Tilaar.
Sementara itu, Tjahjono Soerjodibroto, Direktur Nasional World Vision Indonesia, mengatakan perlu dikembangkan pendidikan kontekstual yang sesuai dengan isu dan kebutuhan pengembangan wilayah setempat.
Pendidikan kontekstual merupakan pendidikan yang memberdayakan dan membangun kesadaran kritis. Pendidikan itu yang bertumpu pada kearifan dan potensi lokal, guna menyiapkan anak untuk dapat hidup utuh sepenuhnya dan memiliki karakter yang baik.
Pendidikan karakter yang kontekstual, antara lain dikembangkan World Vision Indonesia - Wahana Visi Indonesia melalui pendidikan harmoni. Di sini diajarkan nilai-nilai harmoni dengan diri sendiri, sesama, dan alam untuk dapat hidup dalam masyarakat multikultural.
Pendidikan harmoni ini sebagai salah satu model pendidikan karakter yang kontekstual yang dikembangkan di banyak sekolah di Sulawesi Tengah.
"Dengan menggali kembali warisan budaya dan kearifan lokal yang sejatinya telah mencontohkan kehidupan yang rukun dan damai, maka nilai-nilai harmoni kembali digali dari budaya setempat," kata Tjahjono. (sumber: Kompas.com)
Pendidikan karakter di sekolah mengambil dari kearifan lokal, selain nilai-nilai kebajikan yang umum. "Kita ingin penerapnnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah yang dapat diukur. Misalnya, kebersihan masih jadi problem banyak sekolah. Bisa dimulai dari situ, lalu dikembangkan pada karakter lain yang mudah diukur dan diterapkan," kata Erry Utomo, Kepala Bidang Kurikulum dan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional, dalam seminar bertajuk Pendidikan Harmoni Sebagai Pendidikan Karakter Yang Kontekstual di Jakarta.
Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta, HAR Tilaar, mengkritisi pendidikan karakter yang tidak memiliki konsep yang jelas. Pendidikan karakter di Indonesia mestinya berdasarkan kebudayaan Indonesia yang multikultural. "Pendidikan karakter Indonesia semestinya dengan mengembangkan nilai-nilai yang kita sepakati bersama yang memepersatukan Indonesia. Ini akan menjadi karakter yang khas Indonesia dibanding dari negara lain, sebagai negara yang hidup dalam budaya multikultural," kata Tilaar.
Menurut Tilaar, nilai-nilai karakter Indoensia yang hendak dibangun itu ada di dalam nilai-nilai Pancasila, yang sebenarnya digali dari kebudayaan-kebudayaan daerah. Yang dibutuhkan sekarang ini, bagaimana pendidikan nasional kita dapat menerapkan pendidikan yang mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkarakter," kata Tilaar.
Sementara itu, Tjahjono Soerjodibroto, Direktur Nasional World Vision Indonesia, mengatakan perlu dikembangkan pendidikan kontekstual yang sesuai dengan isu dan kebutuhan pengembangan wilayah setempat.
Pendidikan kontekstual merupakan pendidikan yang memberdayakan dan membangun kesadaran kritis. Pendidikan itu yang bertumpu pada kearifan dan potensi lokal, guna menyiapkan anak untuk dapat hidup utuh sepenuhnya dan memiliki karakter yang baik.
Pendidikan karakter yang kontekstual, antara lain dikembangkan World Vision Indonesia - Wahana Visi Indonesia melalui pendidikan harmoni. Di sini diajarkan nilai-nilai harmoni dengan diri sendiri, sesama, dan alam untuk dapat hidup dalam masyarakat multikultural.
Pendidikan harmoni ini sebagai salah satu model pendidikan karakter yang kontekstual yang dikembangkan di banyak sekolah di Sulawesi Tengah.
"Dengan menggali kembali warisan budaya dan kearifan lokal yang sejatinya telah mencontohkan kehidupan yang rukun dan damai, maka nilai-nilai harmoni kembali digali dari budaya setempat," kata Tjahjono. (sumber: Kompas.com)
SD 12 Bendungan Hilir Jakarta Resmi Menjadi Sekolah Berbasis Karakter
SD 12 Bendungan Hilir (Benhil)
diresmikan menjadi sekolah kepemimpinan berbasis karakter pertama di
Indonesia. Selasa (1/11/2011), di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Kepala SD 12 Benhil, Muryati mengatakan, peresmian sekolah yang
dipimpinnya menjadi sekolah kepemimpinan berbasis karakter berangkat
dari kesadaran sejumlah pihak akan pentingnya karakter kepemimpinan
dalam diri anak sejak dini. Ia mengatakan, untuk membangun karakter
seluruh siswa ia menggulirkan program The Leader in Me di
sekolahnya tersebut. The Leader in Me merupakan suatu
program dari FranklinCovey Education Solution untuk membangun karakter
anak didik sejak dini melalui pengembangan karakter kepemimpinan dengan
menggunakan pendekatan sekolah secara menyeluruh melalui pembentukan
budaya sekolah.
"Ini sesuai dengan semangat pendidikan karakter kebangsaan yang dicanangkan oleh pemerintah," kata Muryati.
Ia menambahkan, dengan mengadopsi program The Leader in Me di sekolahnya, maka dalam kegiatan sehari-hari para anak didik akan diajak untuk menerapkan 7 habits (tujuh kebiasaan), yaitu, jadilah proaktif, mulai dengan tujuan akhir, dahulukan yang utama, berpikir menang-menang, mengerti baru dimengerti, sinergi, dan mengembangkan diri. The Leader in Me diberikan kepada seluruh siswa melalui transfer pengetahuan dari para pendidik, baik melalui materi ajar kurikulum, melalui teladan seluruh komponen sekolah, hingga praktik-praktik kepemimpinan di dalam dan luar kelas.
Muryati nenjelaskan, budaya kepemimpinan akan diselaraskan dengan sistem dan tradisi, lingkungan fisik, dan kurikulum sekolah. Program The Leader in Me ini diterapkan melalui pendekatan yang melibatkan seluruh komponen sekolah.
"Tugas kita memunculkan potensi dari diri anak, tentu akan dikombinasikan dengan kegiatan pada pelajaran yang diintegerasikan dengan kurikulum nasional," ujarnya.
Program The Leader in Me telah diterapkan di 668 sekolah di dunia. Di Indonesia, SDSN 12 Benhil merupakan sekolah negeri pertama yang menerapkan program sekolah kepemimpinan berbasis karakter.
Dipilihnya SDSN 12 Benhil untuk menerapkan program tersebut diharapkan akan menjadi sekolah percontohan pembentukan karakter yang terintegrasi di kalangan sekolah negeri lainnya. Dalam waktu enam bulan ke depan, transformasi SDSN 12 Benhil dalam mengaplikasikan pembentukan karakter di lingkungan sekolah sudah mulai terlihat.(Sumber: Kompas.com)
"Ini sesuai dengan semangat pendidikan karakter kebangsaan yang dicanangkan oleh pemerintah," kata Muryati.
Ia menambahkan, dengan mengadopsi program The Leader in Me di sekolahnya, maka dalam kegiatan sehari-hari para anak didik akan diajak untuk menerapkan 7 habits (tujuh kebiasaan), yaitu, jadilah proaktif, mulai dengan tujuan akhir, dahulukan yang utama, berpikir menang-menang, mengerti baru dimengerti, sinergi, dan mengembangkan diri. The Leader in Me diberikan kepada seluruh siswa melalui transfer pengetahuan dari para pendidik, baik melalui materi ajar kurikulum, melalui teladan seluruh komponen sekolah, hingga praktik-praktik kepemimpinan di dalam dan luar kelas.
Muryati nenjelaskan, budaya kepemimpinan akan diselaraskan dengan sistem dan tradisi, lingkungan fisik, dan kurikulum sekolah. Program The Leader in Me ini diterapkan melalui pendekatan yang melibatkan seluruh komponen sekolah.
"Tugas kita memunculkan potensi dari diri anak, tentu akan dikombinasikan dengan kegiatan pada pelajaran yang diintegerasikan dengan kurikulum nasional," ujarnya.
Program The Leader in Me telah diterapkan di 668 sekolah di dunia. Di Indonesia, SDSN 12 Benhil merupakan sekolah negeri pertama yang menerapkan program sekolah kepemimpinan berbasis karakter.
Dipilihnya SDSN 12 Benhil untuk menerapkan program tersebut diharapkan akan menjadi sekolah percontohan pembentukan karakter yang terintegrasi di kalangan sekolah negeri lainnya. Dalam waktu enam bulan ke depan, transformasi SDSN 12 Benhil dalam mengaplikasikan pembentukan karakter di lingkungan sekolah sudah mulai terlihat.(Sumber: Kompas.com)
Rabu, 04 Januari 2012
Siswa Gemuk Lebih Cenderung Dijauhi Kawannya
Tempo.co melaporkan bahwa siswa atau remaja gemuk cenderung dijauhi kawan-kawannya. Untuk itu, guru perlu membantu siswa gemuk tersebut untuk senantiasa bersosialisasi dengan kaan-kawannya. Penelitian terbaru di amerika yang mengungkapkan bahwa anak-anak yang
mempunyai kekurangan cenderung lebih susah diterima oleh teman-temannya.
Sebuah temuan terbaru menunjukkan bahwa anak-anak lebih cenderung untuk tidak menyukai teman-teman mereka yang bertubuh gemuk atau mempunyai “sifat-sifat lain yang tidak diinginkan” jika mereka yakin bahwa hal tersebut adalah kesalahan anak itu sendiri.
Riset yang melibatkan 137 pelajar kelas tiga hingga kelas tujuh meneliti mengenai respons dari para pelajar tersebut tentang anak lelaki yang dijadikan subyek penelitian yakni mereka yang miskin, atlet yang buruk, sangat kelebihan berat badan, sangat agresif, sangat pemalu, atau mempunyai gejala kekurangan perhatian atau hiperaktif.
Peneliti dari Kansas State University mengungkapkan bahwa anak lelaki subjek penelitian adalah benar ada. Anak-anak lelaki itu ditanya juga apakah mereka mencoba untuk melakukan upaya guna memperbaiki “kekurangan” mereka dan apakah usaha mereka berhasil. Jawaban anak-anak lelaki itu dengan respons dari para pelajar kemudian dibandingkan.
Hasil studi menunjukkan bahwa semakin para pelajar itu percaya bahwa “kekurangan” yang dimiliki anak-anak lelaki itu adalah akibat kesalahan anak lelaki itu sendiri, semakin mereka ingin menggoda atau membuat malu anak-anak lelaki tersebut. Hanya sedikit yang mengatakan akan membantu jika diperlukan.
Anak-anak lelaki yang kelebihan berat badan dan agresif adalah yang paling tidak disukai karena para pelajar percaya hal itu terjadi akibat kesalahan anak-anak lelaki itu sendiri. Dikatakan bahwa anak-anak lelaki itu tidak punya keinginan untuk mengubahnya.
Para peneliti juga menemukan bahwa ketimbang anak lelaki, anak-anak perempuan cenderung lebih bersahabat dengan mereka yang memiliki “kekurangan”, kecuali mereka yang kelebihan berat badan dan agresif.
“Jika para pelajar berpikir bahwa anak-anak sudah berusaha untuk mengubahnya, hal itu akan mempengaruhi secara positif bagaimana mengantisipasi interaksi sesama teman,” kata peneliti Mark Barnett, seorang profesor psikologi yang terlibat dalam riset tersebut. Hasil temuan ini akan dipublikasikan segera di the Journal of Genetic Psychology.
“Para pelajar itu benar-benar menyukai mereka yang berhasil mengatasi masalah mereka, tetapi mereka juga menyukai anak-anak yang menunjukkan usaha untuk berubah,’’ sambung Profesor Barnett. (Sumber: Tempo.co/4 Desember 2012)
Sebuah temuan terbaru menunjukkan bahwa anak-anak lebih cenderung untuk tidak menyukai teman-teman mereka yang bertubuh gemuk atau mempunyai “sifat-sifat lain yang tidak diinginkan” jika mereka yakin bahwa hal tersebut adalah kesalahan anak itu sendiri.
Riset yang melibatkan 137 pelajar kelas tiga hingga kelas tujuh meneliti mengenai respons dari para pelajar tersebut tentang anak lelaki yang dijadikan subyek penelitian yakni mereka yang miskin, atlet yang buruk, sangat kelebihan berat badan, sangat agresif, sangat pemalu, atau mempunyai gejala kekurangan perhatian atau hiperaktif.
Peneliti dari Kansas State University mengungkapkan bahwa anak lelaki subjek penelitian adalah benar ada. Anak-anak lelaki itu ditanya juga apakah mereka mencoba untuk melakukan upaya guna memperbaiki “kekurangan” mereka dan apakah usaha mereka berhasil. Jawaban anak-anak lelaki itu dengan respons dari para pelajar kemudian dibandingkan.
Hasil studi menunjukkan bahwa semakin para pelajar itu percaya bahwa “kekurangan” yang dimiliki anak-anak lelaki itu adalah akibat kesalahan anak lelaki itu sendiri, semakin mereka ingin menggoda atau membuat malu anak-anak lelaki tersebut. Hanya sedikit yang mengatakan akan membantu jika diperlukan.
Anak-anak lelaki yang kelebihan berat badan dan agresif adalah yang paling tidak disukai karena para pelajar percaya hal itu terjadi akibat kesalahan anak-anak lelaki itu sendiri. Dikatakan bahwa anak-anak lelaki itu tidak punya keinginan untuk mengubahnya.
Para peneliti juga menemukan bahwa ketimbang anak lelaki, anak-anak perempuan cenderung lebih bersahabat dengan mereka yang memiliki “kekurangan”, kecuali mereka yang kelebihan berat badan dan agresif.
“Jika para pelajar berpikir bahwa anak-anak sudah berusaha untuk mengubahnya, hal itu akan mempengaruhi secara positif bagaimana mengantisipasi interaksi sesama teman,” kata peneliti Mark Barnett, seorang profesor psikologi yang terlibat dalam riset tersebut. Hasil temuan ini akan dipublikasikan segera di the Journal of Genetic Psychology.
“Para pelajar itu benar-benar menyukai mereka yang berhasil mengatasi masalah mereka, tetapi mereka juga menyukai anak-anak yang menunjukkan usaha untuk berubah,’’ sambung Profesor Barnett. (Sumber: Tempo.co/4 Desember 2012)
Remaja Hebat Ditentukan Jadwal Rutin
Tempo.co melaporkan bahwa tumbuh dewasa tanpa kegiatan rutin harian, seperti pergi tidur pada jam
tertentu dan makan pada waktunya, bisa membahayakan kesejahteraan
anak-anak muda. Ini merupakan hasil temuan terbaru sebuah lembaga
sosial untuk anak muda, The Prince's Trust, terhadap lebih dari
dua ribu orang berusia antara 16 hingga 25 tahun di Inggris.
Lembaga tersebut menemukan bahwa satu dari 10 orang percaya bahwa hari-hari mereka tidak memiliki struktur dan arah saat beranjak dewasa. Angka perbandingan ini meningkat menjadi satu di antara empat orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah.
Lebih dari satu di antara empat orang yang ditanyakan oleh The Prince’s Trust mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendapatkan waktu yang ditetapkan khusus untuk pergi tidur saat mereka dalam masa pertumbuhan. Lembaga ini telah membantu 50 ribu anak-anak yang kurang beruntung di seluruh Inggris Raya sepanjang 2011. Studi ini juga menemukan bahwa anak-anak muda dengan pendidikan lebih rendah bahkan dua kali lebih cenderung untuk tumbuh besar tanpa waktu makan yang teratur.
Chief Executive dari The Prince’s Trust, Martina Milburn, seperti dikutip Press Association, mengatakan, “Ketiadaan struktur dan rutinitas pada kehidupan anak-anak bisa membawa dampak yang merusak. Tanpa dukungan yang benar, ketiadaan arah remaja bisa menjadikannya sebagai orang dewasa yang tak punya kualitas, tidak percaya diri, kualifikasi kurang, dan tidak punya pekerjaan.”
Laporan ini juga menemukan bahwa hampir sepertiga orang muda merasakan depresi sementara satu dari lima orang mengatakan bahwa mereka merasa “ditolak”. Ditambahkan, satu dari lima orang lainnya juga percaya bahwa mereka tidak menerima dukungan yang mereka butuhkan saat di sekolah.
Lembaga tersebut menemukan bahwa satu dari 10 orang percaya bahwa hari-hari mereka tidak memiliki struktur dan arah saat beranjak dewasa. Angka perbandingan ini meningkat menjadi satu di antara empat orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah.
Lebih dari satu di antara empat orang yang ditanyakan oleh The Prince’s Trust mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendapatkan waktu yang ditetapkan khusus untuk pergi tidur saat mereka dalam masa pertumbuhan. Lembaga ini telah membantu 50 ribu anak-anak yang kurang beruntung di seluruh Inggris Raya sepanjang 2011. Studi ini juga menemukan bahwa anak-anak muda dengan pendidikan lebih rendah bahkan dua kali lebih cenderung untuk tumbuh besar tanpa waktu makan yang teratur.
Chief Executive dari The Prince’s Trust, Martina Milburn, seperti dikutip Press Association, mengatakan, “Ketiadaan struktur dan rutinitas pada kehidupan anak-anak bisa membawa dampak yang merusak. Tanpa dukungan yang benar, ketiadaan arah remaja bisa menjadikannya sebagai orang dewasa yang tak punya kualitas, tidak percaya diri, kualifikasi kurang, dan tidak punya pekerjaan.”
Laporan ini juga menemukan bahwa hampir sepertiga orang muda merasakan depresi sementara satu dari lima orang mengatakan bahwa mereka merasa “ditolak”. Ditambahkan, satu dari lima orang lainnya juga percaya bahwa mereka tidak menerima dukungan yang mereka butuhkan saat di sekolah.
Senin, 02 Januari 2012
Jatim Siap jadi Contoh Wajib Belajar 12 Tahun
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Harun mengatakan, pihaknya siap
menjadi percontohan percepatan program wajib belajar 12 tahun yang
dirintis Kementerian Pendidikan Nasional. Program wajib belajar ini akan
dimulai pada tahun 2012 dan mengharuskan setiap anak usia sekolah wajib
menamatkan SMA/SMK/MA. Menurut Harun, setidaknya, program ini sudah
berjalan di Surabaya.
“Sudah kita siapkan sarana prasarana dan infrastrukturnya,” ungkap Harun.
Kesiapan yang dimaksud adalah penyediaan gedung sekolah yang terangkau. Mengingat, masalah yang krusial adalah menyangkut keterjangkauan geografis. Sebab, tidak di semua wilayah dengan mudah ditemukan SMA.
“Utamanya di daerah pedesaan. Untuk menjangkau SMA perlu transportasi. Kadang jaraknya lumayan jauh, ini yang sedang kita antisipasi,” lanjut Harun.
Dinas Pendidikan Jawa Timur juga meminta dukungan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) melalui penganggaran oleh kota dan kabupaten untuk wajib belajar 12 tahun. Namun, Dinas Pendidikan juga sudah menyiapkan anggaran secara khusus.
Pada tahun 2011 ini, Surabaya telah lebih dulu mengawali program wajib belajar 12 tahun. Anggaran sebesar Rp 1,5 triliun telah dikucurkan Dinas Pendidikan. Salah satunya, untuk Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (Bopda) demi menggratiskan setiap siswa SMA/SMK negeri dan swasta hingga RSBI.(Sumber: Kompas.com)
“Sudah kita siapkan sarana prasarana dan infrastrukturnya,” ungkap Harun.
Kesiapan yang dimaksud adalah penyediaan gedung sekolah yang terangkau. Mengingat, masalah yang krusial adalah menyangkut keterjangkauan geografis. Sebab, tidak di semua wilayah dengan mudah ditemukan SMA.
“Utamanya di daerah pedesaan. Untuk menjangkau SMA perlu transportasi. Kadang jaraknya lumayan jauh, ini yang sedang kita antisipasi,” lanjut Harun.
Dinas Pendidikan Jawa Timur juga meminta dukungan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) melalui penganggaran oleh kota dan kabupaten untuk wajib belajar 12 tahun. Namun, Dinas Pendidikan juga sudah menyiapkan anggaran secara khusus.
Pada tahun 2011 ini, Surabaya telah lebih dulu mengawali program wajib belajar 12 tahun. Anggaran sebesar Rp 1,5 triliun telah dikucurkan Dinas Pendidikan. Salah satunya, untuk Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (Bopda) demi menggratiskan setiap siswa SMA/SMK negeri dan swasta hingga RSBI.(Sumber: Kompas.com)
Langganan:
Postingan (Atom)