Rabu, 11 Maret 2009

Guru di Mata Mbok Siti (45)

"Mengapa Mbok, mata, pendengaran, tangan, dan daya tanggap Mbok masih prima?", tanyaku di sela-sela menata jajaran karung di teras agar tidak kehujanan. 'Oh, pancaindra ini", jawab Mbok Siti yang mengenakan kain jarit motif hitam namun kusam itu. Pancaindra ini hanyalah alat semata. "Karena alat yang mampu menjadikan sarana pikiran terwujud, pancaindra perlu dirawat, anakku", jawabnya tegas. Sifat pancaindra mengalami perubahan dari yang kuat hingga menjadi lemah dan bahkan hancur lebur sehingga pancaindra tidak dapat digunakan sebagai pedoman hidup.Namun, dalam penggunaannya, pancaindra harus dituntun oleh budi yang benar. Budi, pikiran, angan-angan, dan kesadaran merupakan tunggal wujud dengan akal. "Jadi,pancaindra saja tidak cukup untuk mengetahui kebenaran.

Begitu pula, guru tidaklah cukup jika mengandalkan kemampuan pancaindra semata dalam mengajar. Pancaindra guru harus dibungkus dengan ketulusan, kesejatian, kebenaran, dan kekuatan mendidik. "Pancaindra tidak bisa menilai, memilah dan memilih suatu objek namun hanyalah mengirimkan pesan tanpa memberi tahu benar-salahnya, dan tanpa menyeleksi manfaat dan mudaratnya", ujar Mbok. Diri gurulah yang memandu pancaindra dan memberikan penilaian terhadap fenomena yang ditangkapnya. Guru perlu menggunakan pikiran yang tulus untuk dapat memilah dan memilih, menimbang yang baik dan yang buruk, mengetahui apa yang salah dan apa yang benar, dan dapat membedakan antara fakta dan realita dan ekspresi lain-lainnya. Keterpaduan fungsi pancaindra dengan niat keguruan seorang guru akan membungkus inti pembelajaran sehingga membentuk siswa menjadi manusia yang manusiawi.

Tidak ada komentar: