Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan Mohammad Nuh menyatakan bahwa kegiatan kepramukaan akan
menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah, terutama pada jenjang sekolah
dasar dan sekolah menengah pertama.
Kegiatan ini juga didorong
wajib pada jenjang pendidikan menengah, sedangkan pada jenjang
pendidikan tinggi sebagai kegiatan pilihan, kata Mohammad Nuh usai
menandatangani kesepahaman bersama dengan Ketua Dewan Masjid Indonesia
(DMI) Jusuf Kalla tentang Penyelenggaraan Program PAUD di Masjid-Masjid
Seluruh Indonesia di Kemdikbud, Jakarta, Selasa.
Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan terus menggodok penyempurnaan kurikulum. Pada
satu hingga dua minggu ke depan direncanakan akan dilakukan uji publik,
kata Mendikbud.
"Pramuka ingin kita dorong, ingin kita wajibkan sebagai ekstra kurikuler yang wajib, bukan mata pelajaran," katanya.
Mendikbud menjelaskan, kegiatan kepramukaan memiliki nilai-nilai
kepemimpinan, kebersamaan, sosial, dan kemandirian. Untuk itu,
revitalisasi dari sisi organisasi di setiap sekolah akan lebih
dimatangkan.
Selain itu, kata Mendikbud, tidak boleh melupakan pembinaan guru
pramuka. Oleh karena itu, guru pramuka harus dilakukan penataran
besar-besaran, katanya.
Mendikbud mengatakan, komposisi kurikuler dan ekstrakurikuler
bukan sesuatu yang saling bertentangan, tetapi saling melengkapi. Para
guru yang mengajar kegiatan ekstrakurikuler juga mendapatkan kredit
nilai.
"Syarat mendapatkan tunjangan profesi 24 jam bisa dipenuhi
sebagian dari mengampu atau membina di ekstrakurikuler," katanya.
Mendikbud mengatakan, pendanaan kegiatan kepramukaan salah satunya
dapat memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
"Dana fungsi pendidikan di Kementerian Pemuda dan Olah Raga juga dapat dimanfaatkan," katanya.
Dengan wajibnya ekstrakurikuler kepramukaan, Mendikbud
mengingatkan, agar tidak terjebak pada formalitas saja. "Tidak boleh
sebatas pada simbol-simbol kepramukaan, tetapi substansi kepramukaan
itu," katanya.
(Sumber: Antaranews/Z003/R010)
Kamis, 13 Desember 2012
Hanya 10 Persen Guru PAUD Penuhi Kualifikasi
Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) dipandang
memiliki peran penting dalam pembentukan sumber daya manusia ke depan.
Namun kesiapan tenaga pendidik di lembaga PAUD masih sangat minim dan
hanya sedikit saja yang memenuhi kualifikasi.
Kasubdit P2TK PAUDNI, Direktorat Pembinaan PAUD, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Masyur, mengungkapkan dari data yang dimiliki P2TK saat ini, khusus untuk guru TK/PAUD berjumlah sekitar 252 ribu. Dari jumlah itu baru sekitar 60 ribu yang terdaftar.
“Dan dari data yang ada juga bisa dihutung baru sekitar 10 persen yang benar-benar memenuhi kualifikasi,” kata Mansyur di Jakarta, Rabu (12/12).
Karena itu, Kemdikbud melalui Direktorat Pembinaan PAUD mulai bulan ini juga akan menerapkan sejumlah strategi untuk membantu ketersediaan guru PAUDNI, terutama di daerah. Salah satunya menjalin kerjasama dengan istri gubernur dan walikota se-Indonesia.
“Kita memanfaatkan penobatan Bunda PAUD, dan akan mengundang semua istri gubernur dan walikota untuk mendukung dan membantu memfasilitasi program ini di daerah,” jelasnya.
Dalam perubahan kurikulum baru 2013, pemerintah belum menyentuh pola pembinaan terhadap anak-anak usia dini. Namun menurut Mantan Wakil Menteri Pendidikan, Fasli Jalal, kurikulum untuk PAUDNI tidak perlu ketat, tapi prosesnya yang harus diperhatikan. Karena esensi pendidikan PAUD adalah bermain.
Sehingga, lanjut dia, pola pendidikan di PAUD harus menyenangkan bagi anak untuk mengembangkan baik kapasitas intelektual, kemampuan tumbuh dan berkembangnya bidang emosional, spiritual, juga otot halus, otot kasar dan juga kemampuan bersosialisasi.
“Nah sebetulnya kurikulumnya di situ sebenarnya, tinggal lagi strategi mengajarnya guru dan menggunakan berbagai media pembelajaran. Karena itu, kalau gurunya dilatih dengan baik sebetulnya kurikulumnya adalah anaknya itu sendiri, dan itu bisa difasilitasi dengan baik oleh guru,” tutur Fasli Jalal.
Ditambahkannya, peran terberat pemerintah dan lembaga-lemnbaga PAUD saat ini adalah melatih guru-guru PAUD dan memastikan guru yang menyentuh anak-anak memiliki kemampuan minimal, sehingga dimanapun dia melakukan, apapun bentuk satuan pendidikannya, guru tersebut harus menguasai prinsip-prinsip dasarnya.(Sumber: JPNN/fat)
Kasubdit P2TK PAUDNI, Direktorat Pembinaan PAUD, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Masyur, mengungkapkan dari data yang dimiliki P2TK saat ini, khusus untuk guru TK/PAUD berjumlah sekitar 252 ribu. Dari jumlah itu baru sekitar 60 ribu yang terdaftar.
“Dan dari data yang ada juga bisa dihutung baru sekitar 10 persen yang benar-benar memenuhi kualifikasi,” kata Mansyur di Jakarta, Rabu (12/12).
Karena itu, Kemdikbud melalui Direktorat Pembinaan PAUD mulai bulan ini juga akan menerapkan sejumlah strategi untuk membantu ketersediaan guru PAUDNI, terutama di daerah. Salah satunya menjalin kerjasama dengan istri gubernur dan walikota se-Indonesia.
“Kita memanfaatkan penobatan Bunda PAUD, dan akan mengundang semua istri gubernur dan walikota untuk mendukung dan membantu memfasilitasi program ini di daerah,” jelasnya.
Dalam perubahan kurikulum baru 2013, pemerintah belum menyentuh pola pembinaan terhadap anak-anak usia dini. Namun menurut Mantan Wakil Menteri Pendidikan, Fasli Jalal, kurikulum untuk PAUDNI tidak perlu ketat, tapi prosesnya yang harus diperhatikan. Karena esensi pendidikan PAUD adalah bermain.
Sehingga, lanjut dia, pola pendidikan di PAUD harus menyenangkan bagi anak untuk mengembangkan baik kapasitas intelektual, kemampuan tumbuh dan berkembangnya bidang emosional, spiritual, juga otot halus, otot kasar dan juga kemampuan bersosialisasi.
“Nah sebetulnya kurikulumnya di situ sebenarnya, tinggal lagi strategi mengajarnya guru dan menggunakan berbagai media pembelajaran. Karena itu, kalau gurunya dilatih dengan baik sebetulnya kurikulumnya adalah anaknya itu sendiri, dan itu bisa difasilitasi dengan baik oleh guru,” tutur Fasli Jalal.
Ditambahkannya, peran terberat pemerintah dan lembaga-lemnbaga PAUD saat ini adalah melatih guru-guru PAUD dan memastikan guru yang menyentuh anak-anak memiliki kemampuan minimal, sehingga dimanapun dia melakukan, apapun bentuk satuan pendidikannya, guru tersebut harus menguasai prinsip-prinsip dasarnya.(Sumber: JPNN/fat)
Kamis, 18 Oktober 2012
Kurikulum Baru Sudah Waktunya Diberlakukan
Kurikulum baru memang sudah waktunya diberlakukan untuk mengganti kurikulum 2006. Berdasarkan kajian ahli kurikulum, untuk memenuhi prinsip kebaruan dan penyesuaian dengan perkembangan zaman, selayaknya kurikulum setiap 10 tahun sekali ditinjau. Peninjauan itu semata-mata untuk membangun kualitas pendidikan Indonesia yang sejalan dengan kemajuan zaman. Untuk itu, sangatlkah tepat jika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh akan mengubah kurikulum pendidikan.
Meski menuai banyak pro dan kontra mengenai perombakan kurikulum, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tetap akan melaksanakannya pada tahun ajaran 2013-2014. Hingga saat ini, pembahasan seputar penataan kurikulum masih terus dilakukan.
Kurikulum yang ada selama ini teramat padat jika dibandingkan dengan kesempatan siswa untuk berekspresi dalam proses perkembangan dirinya. Jika waktu lebih longgar, anak akan mengisi waktu longgar itu dengan kegiatan yang bermanfaat yang pada ujung-ujungnya dapat meningkatkan jati diri siswa. Siswa akan ada waktu untuk anak membangun diri karakternya.
Tidak hanya itu, siswa Sekolah Dasar (SD) tidak akan dibebani dengan mata pelajaran bermuatan ilmu pengetahuan. Anak-anak ini akan lebih diasah untuk pembentukan sikap dan ilmu dasar seperti membaca, menulis dan berhitung. Yang teramat penting bagi siswa SD adalah kesempatan untuk baca, tulis, hitung lebih banyak waktunya. Dengan banyak membaca, siswa SD akan mampu menjangkau ilmu pengetahuan ikutan. Pelajaran ilmu pengetahuan dapat dimasukkan ke buku-buku yang dicetak dengan menarik, praktis, dan sesuai dengan perkembangan anak.
Garduguru setuju jika di SD akan ada enam mata pelajaran yang akan diberikan pada siswa kelas I-III SD ini adalah Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, serta Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Mata pelajaran seperti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tidak akan dihapus begitu saja, tetapi akan diintegrasikan dengan mata pelajaran lain. Baru, di kelas 4 dan 6, ilmu pengetahuan alam dan sosial dimasukkan dengan kemasan yang sederhana, mudah dipahami, dan membelajarkan.
Kurikulum baru bukan menuruti pemeo, ganti menteri ganti kurikulum. Kurikulum baru diperlukan agar pendidikan di Indonesia benar-benar terbarukan. Tentu, perlu dipikirkan cara praktis untuk menjalankan kurikulum tersebut agar guru tidak terjebak pada mekanistis semata. Jangan sampai, guru hanya terbebani dengan cara membuat silabus dan RPP saja.
Meski menuai banyak pro dan kontra mengenai perombakan kurikulum, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tetap akan melaksanakannya pada tahun ajaran 2013-2014. Hingga saat ini, pembahasan seputar penataan kurikulum masih terus dilakukan.
Kurikulum yang ada selama ini teramat padat jika dibandingkan dengan kesempatan siswa untuk berekspresi dalam proses perkembangan dirinya. Jika waktu lebih longgar, anak akan mengisi waktu longgar itu dengan kegiatan yang bermanfaat yang pada ujung-ujungnya dapat meningkatkan jati diri siswa. Siswa akan ada waktu untuk anak membangun diri karakternya.
Tidak hanya itu, siswa Sekolah Dasar (SD) tidak akan dibebani dengan mata pelajaran bermuatan ilmu pengetahuan. Anak-anak ini akan lebih diasah untuk pembentukan sikap dan ilmu dasar seperti membaca, menulis dan berhitung. Yang teramat penting bagi siswa SD adalah kesempatan untuk baca, tulis, hitung lebih banyak waktunya. Dengan banyak membaca, siswa SD akan mampu menjangkau ilmu pengetahuan ikutan. Pelajaran ilmu pengetahuan dapat dimasukkan ke buku-buku yang dicetak dengan menarik, praktis, dan sesuai dengan perkembangan anak.
Garduguru setuju jika di SD akan ada enam mata pelajaran yang akan diberikan pada siswa kelas I-III SD ini adalah Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, serta Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Mata pelajaran seperti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tidak akan dihapus begitu saja, tetapi akan diintegrasikan dengan mata pelajaran lain. Baru, di kelas 4 dan 6, ilmu pengetahuan alam dan sosial dimasukkan dengan kemasan yang sederhana, mudah dipahami, dan membelajarkan.
Kurikulum baru bukan menuruti pemeo, ganti menteri ganti kurikulum. Kurikulum baru diperlukan agar pendidikan di Indonesia benar-benar terbarukan. Tentu, perlu dipikirkan cara praktis untuk menjalankan kurikulum tersebut agar guru tidak terjebak pada mekanistis semata. Jangan sampai, guru hanya terbebani dengan cara membuat silabus dan RPP saja.
Selasa, 07 Agustus 2012
Enam Faktor Anak Menindas Kawannya (Bullying)
Perilaku bullying atau suka menindas orang lain, tanpa disadari kerap kali dialami anak-anak atau remaja. Sayangnya, para pelaku bullying
ini acapkali bukanlah anak atau remaja yang biasa dinilai punya
perilaku nakal dalam kesehariannya terutama di rumah. Tak heran jika
banyak orangtua yang kaget karena anak mereka terlibat bullying sementara di rumah mereka menunjukkan perilaku yang baik.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Douglas Gentile dan Brad Bushman dalam Psychology of Popular Media Culture, disebutkan bahwa anak-anak yang terlihat baik juga memiliki risiko untuk menjadi seorang pengganggu dan memiliki beberapa perilaku yang agresif.
Penelitian ini dilakukan dengan memantau perkembangan dari 430 anak usia 7-11 tahun di kelas 3-5 dari lima sekolah di Minnesota. Dalam studi ini, anak-anak dan guru disurvei dua kali per enam bulan. Agresifitas fisik ini diukur dengan laporan perkembangan diri, laporan teman sebaya, dan juga laporan guru tentang kekerasan yang dilakukan anak. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan beragam faktor yang bisa mengubah pribadi anak menjadi negatif .
Dalam laporan diri, anak-anak dinilai melalui tayangan televisi yang mereka sukai, video game, dan film. Penelitian dilakukan dengan seberapa sering mereka menonton dan bermain video game yang berhubungan dengan kekerasan. Mereka berpendapat bahwa televisi dan video game memegang peranan penting bagi anak untuk mem-bully teman-temannya, karena dianggap seperti permainan.
Berdasarkan penelitian ini, Gentile dan Bushman mengungkapkan, ada enam faktor yang bisa menyebabkan anak menjadi seorang pengganggu atau melakukan bullying pada temannya. "Ketika semua faktor risiko ini dialami anak, maka risiko agresi dan perilaku bullying akan tinggi. 1-2 faktor risiko bukan masalah besar bagi anak, namun tetap butuh bantuan orang tua untuk mengatasinya," ungkap Gentile.
1. Kecenderungan permusuhan
Dalam hubungan keluarga maupun pertemanan, permusuhan seringkali tak bisa dihindari. Merasa dimusuhi akan membuat anak merasa dendam dan ingin membalasnya.
2. Kurang perhatian
Rendahnya keterlibatan dan perhatian orang tua pada anak juga bisa menyebabkan anak suka mencari perhatian dan pujian dari orang lain. Salah satunya pujian pada kekuatan dan popularitas mereka di luar rumah.
3. Gender sebagai laki-laki
Seringkali orang menilai bahwa menjadi seorang laki-laki harus kuat dan tak kalah saat berkelahi. Hal ini secara tak langsung menjadi image kuat yan menempel pada anak laki-laki bahwa mereka harus mendapatkan pengakuan bahwa mereka lebih kuat dibanding teman laki-laki lainnya. Akhirnya perilaku ini membuat mereka lebih cenderung agresif secara fisik.
4. Riwayat korban kekerasan
Biasanya, anak yang pernah mengalami kekerasan khususnya dari orang tua lebih cenderung 'balas dendam' pada temannya di luar rumah.
5. Riwayat berkelahi
Kadang berkelahi untuk membuktikan kekuatan bisa menjadikan seseorang ketagihan untuk tetap melakukannya. Bisa jadi karena mereka senang karena memperoleh pujian oleh banyak orang.
6. Ekspos kekerasan dari media
Televisi, video game, dan film banyak menyuguhkan adegan kekerasan, atau perang. Meski seharusnya, orang tua melakukan pendampingan saat menonton atau bermain video game untuk anak di bawah umur, nyatanya banyak yang belum melakukan ini. Ekspos media terhadap adegan kekerasan ini sering menginspirasi anak untuk mencobanya dalam dunia nyata. "Sebaiknya dampingi dan beri pengertian pada anak saat menonton film beradegan kekerasan atau bermain video game perkelahian. Karena pengaruh media inilah yang 80 persen bisa membuat perilaku anak menjadi negatif dan terinspirasi untuk melakukannya," sarannya. (sumber: KOmpas.com)
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Douglas Gentile dan Brad Bushman dalam Psychology of Popular Media Culture, disebutkan bahwa anak-anak yang terlihat baik juga memiliki risiko untuk menjadi seorang pengganggu dan memiliki beberapa perilaku yang agresif.
Penelitian ini dilakukan dengan memantau perkembangan dari 430 anak usia 7-11 tahun di kelas 3-5 dari lima sekolah di Minnesota. Dalam studi ini, anak-anak dan guru disurvei dua kali per enam bulan. Agresifitas fisik ini diukur dengan laporan perkembangan diri, laporan teman sebaya, dan juga laporan guru tentang kekerasan yang dilakukan anak. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan beragam faktor yang bisa mengubah pribadi anak menjadi negatif .
Dalam laporan diri, anak-anak dinilai melalui tayangan televisi yang mereka sukai, video game, dan film. Penelitian dilakukan dengan seberapa sering mereka menonton dan bermain video game yang berhubungan dengan kekerasan. Mereka berpendapat bahwa televisi dan video game memegang peranan penting bagi anak untuk mem-bully teman-temannya, karena dianggap seperti permainan.
Berdasarkan penelitian ini, Gentile dan Bushman mengungkapkan, ada enam faktor yang bisa menyebabkan anak menjadi seorang pengganggu atau melakukan bullying pada temannya. "Ketika semua faktor risiko ini dialami anak, maka risiko agresi dan perilaku bullying akan tinggi. 1-2 faktor risiko bukan masalah besar bagi anak, namun tetap butuh bantuan orang tua untuk mengatasinya," ungkap Gentile.
1. Kecenderungan permusuhan
Dalam hubungan keluarga maupun pertemanan, permusuhan seringkali tak bisa dihindari. Merasa dimusuhi akan membuat anak merasa dendam dan ingin membalasnya.
2. Kurang perhatian
Rendahnya keterlibatan dan perhatian orang tua pada anak juga bisa menyebabkan anak suka mencari perhatian dan pujian dari orang lain. Salah satunya pujian pada kekuatan dan popularitas mereka di luar rumah.
3. Gender sebagai laki-laki
Seringkali orang menilai bahwa menjadi seorang laki-laki harus kuat dan tak kalah saat berkelahi. Hal ini secara tak langsung menjadi image kuat yan menempel pada anak laki-laki bahwa mereka harus mendapatkan pengakuan bahwa mereka lebih kuat dibanding teman laki-laki lainnya. Akhirnya perilaku ini membuat mereka lebih cenderung agresif secara fisik.
4. Riwayat korban kekerasan
Biasanya, anak yang pernah mengalami kekerasan khususnya dari orang tua lebih cenderung 'balas dendam' pada temannya di luar rumah.
5. Riwayat berkelahi
Kadang berkelahi untuk membuktikan kekuatan bisa menjadikan seseorang ketagihan untuk tetap melakukannya. Bisa jadi karena mereka senang karena memperoleh pujian oleh banyak orang.
6. Ekspos kekerasan dari media
Televisi, video game, dan film banyak menyuguhkan adegan kekerasan, atau perang. Meski seharusnya, orang tua melakukan pendampingan saat menonton atau bermain video game untuk anak di bawah umur, nyatanya banyak yang belum melakukan ini. Ekspos media terhadap adegan kekerasan ini sering menginspirasi anak untuk mencobanya dalam dunia nyata. "Sebaiknya dampingi dan beri pengertian pada anak saat menonton film beradegan kekerasan atau bermain video game perkelahian. Karena pengaruh media inilah yang 80 persen bisa membuat perilaku anak menjadi negatif dan terinspirasi untuk melakukannya," sarannya. (sumber: KOmpas.com)
Mendikbud: Calon Guru akan Diasramakan dan Diberi Ikatan Dinas
Mahasiswa calon guru akan diasramakan dan ikatan dinas selama empat
tahun. Untuk tahun ini, dicobakan hanya setahun untuk mahasiswa calon
guru di tingkat akhir. Demikian ungkap Mendikbud Mohammad Nuh di
Jogjakarta (6/8). "Perbaikan kualitas guru tidak hanya
cukup dengan meningkatkan kualitas guru yang sudah mengajar saja. Tetapi
meningkatkan kemampuan dan profesionalitas sejak mahasiswa itu
juga tidak kalah penting," ucap dia.
Di antara formulasi untuk menggenjot kualitas guru sejak dini adalah, Kemendikbud akan mengasramakan para mahasiswa calon guru. Tidak tanggung-tanggung, mahasiswa calon guru tadi diasramakan selama empat tahun. Untuk tahun ini, Kemendikbud akan mulai proyek pemanasan dengan mengasramakan mahasiswa calon guru untuk yang sudah tingkat akhir.
Selain menjalankan sistem asrama bagi mahasiswa calon guru, Nuh juga menuturkan Kemendikbud sedang menyusun skema untuk menjalankan ikatan dinas. Dengan demikian, mahasiswa calon guru yang diasramakan tadi sudah meneken kontrak ikatan dinas sebagai seorang guru. Sistem ikatan dinas ini berlaku seperti di Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) yang dikelola Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) milik Badan Pusat Statistik (BPS), dan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) milik Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Nuh menegaskan tidak bisa semua mahasiswa FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) bisa masuk diasramakan. Kuota memang dibatasi di antaranya karena disesuaikan dengan anggaran pemerintah dan kebutuhan guru di lapangan. Dengan pertimbangan tadi, pemerintah lantas akan memberlakukan seleksi ketat bagi mahasiswa calon guru yang ingin masuk program asrama dan ikatan dinas tadi. Selain itu, calon mahasiswa yang berminta juga harus menandatangani semacam kontrak ikatan dinas yang bunyinya bersedia ditempatkan di manapun. (JPNN/syt)
Di antara formulasi untuk menggenjot kualitas guru sejak dini adalah, Kemendikbud akan mengasramakan para mahasiswa calon guru. Tidak tanggung-tanggung, mahasiswa calon guru tadi diasramakan selama empat tahun. Untuk tahun ini, Kemendikbud akan mulai proyek pemanasan dengan mengasramakan mahasiswa calon guru untuk yang sudah tingkat akhir.
Selain menjalankan sistem asrama bagi mahasiswa calon guru, Nuh juga menuturkan Kemendikbud sedang menyusun skema untuk menjalankan ikatan dinas. Dengan demikian, mahasiswa calon guru yang diasramakan tadi sudah meneken kontrak ikatan dinas sebagai seorang guru. Sistem ikatan dinas ini berlaku seperti di Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) yang dikelola Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) milik Badan Pusat Statistik (BPS), dan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) milik Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Nuh menegaskan tidak bisa semua mahasiswa FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) bisa masuk diasramakan. Kuota memang dibatasi di antaranya karena disesuaikan dengan anggaran pemerintah dan kebutuhan guru di lapangan. Dengan pertimbangan tadi, pemerintah lantas akan memberlakukan seleksi ketat bagi mahasiswa calon guru yang ingin masuk program asrama dan ikatan dinas tadi. Selain itu, calon mahasiswa yang berminta juga harus menandatangani semacam kontrak ikatan dinas yang bunyinya bersedia ditempatkan di manapun. (JPNN/syt)
Senin, 06 Agustus 2012
Mendikbud: Sudah Waktunya Belajar Fair
Melihat hasil sementara uji komptensi guru (UKG) yang jeblok,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) langsung merancang
agenda pembinaan. Guru-guru peserta yang mendapatkan nilai UKG jelek,
wajib mengikuti pembinaan khusus tahun depan.
Di sela safari Ramadan di Yogyakarta, Minggu (5/8) Mendikbud Mohammad Nuh mengakui jika rata-rata hasil sementara UKG yang hanya 44,5 adalah hasil cukup jelek. Nuh mengatakan para guru peserta UKG tidak perlu meratapi berlebihan hasil UKG tersebut.
"Dengan hasil tadi, mari kita belajar untuk mengakui hal yang sesungguhnya. Kita sudah waktunya belajar fair," ucap Nuh.
Dia mengatakan hasil rata-rata UKG yang hanya 44,5 itu harus digenjot. Dia menuturkan guru yang memperoleh nilai jelek wajib mengikuti pelatihan khusus tahun depan. Sedangkan guru yang sudah mendapatkan nilai bagus, dilepas untuk kembali mengajar.
Mantan Menkominfo itu mengatakan, jika sampai saat ini nilai ambang batas kewajaran atau standar guru harus ikut pelatihan khusus masih dalam kajian. Kemungkinan besar guru-guru yang nilainya kurang dari 50 atau 60 akan diikutkan dalam pelatihan khusus tahun depan.
Materi-materi dalam pelatihan khusus ini nantinya akan disesuaikan dengan hasil UKG masing-masing guru. Rata-rata Nuh mengatakan jika para guru kesulitan menghadapi materi soal kependidikan atau pedagogik.
Nuh mengatakan guru yang sangat jago atau menguasai mata pelajaran yang diampu saja tidak cukup. Tetapi guru itu wajib menguasai juga soal teori-teori kependidikan dan prakteknya.
Upaya Kemendikbud dalam meningkatkan kualitas dan kinerja guru tidak berhenti pada pelatihan khusus tersebut. Setelah guru-guru bernilai jelek tadi menjalani pelatihan khusus, akan dikembalikan lagi ke sekolah masing-masing untuk mengajar.
Selanjutnya guru-guru yang memperoleh nilai UKG bagus maupun jelek wajib menjalani penilaian kinerja secara berjangka. "Penilaian kinerja ini diantaranya menyangkut urusan kedisiplinan," tutur Nuh.
Dia menuturkan, penilaian kinerja ini nantinya akan mengetahui hingga detail kinerja guru dalam mengajar. Mulai dari urusan absensi mengajar, keterlambatan datang ke sekolah, dan urusan teknis lainnya.
"Ibarat dokter, profesi guru juga harus dipantau secara berkala. Tidak bisa dilepas begitu saja," katanya.
Terkait urusan keberlanjutan UKG, Nuh mengatakan UKG tahap pertama terus dijalankan hingga 12 Agustus mendatang. "Walaupun ada yang macet di beberapa tempat, jalan terus," katanya.
Untuk itu, Nuh meminta para guru yang akan menghadapi UKG untuk menyiapkan diri dengan matang. Sehingga tidak kesulitan dalam mengerjakan soal ujian. (Sumber: wan/JPNN)
Di sela safari Ramadan di Yogyakarta, Minggu (5/8) Mendikbud Mohammad Nuh mengakui jika rata-rata hasil sementara UKG yang hanya 44,5 adalah hasil cukup jelek. Nuh mengatakan para guru peserta UKG tidak perlu meratapi berlebihan hasil UKG tersebut.
"Dengan hasil tadi, mari kita belajar untuk mengakui hal yang sesungguhnya. Kita sudah waktunya belajar fair," ucap Nuh.
Dia mengatakan hasil rata-rata UKG yang hanya 44,5 itu harus digenjot. Dia menuturkan guru yang memperoleh nilai jelek wajib mengikuti pelatihan khusus tahun depan. Sedangkan guru yang sudah mendapatkan nilai bagus, dilepas untuk kembali mengajar.
Mantan Menkominfo itu mengatakan, jika sampai saat ini nilai ambang batas kewajaran atau standar guru harus ikut pelatihan khusus masih dalam kajian. Kemungkinan besar guru-guru yang nilainya kurang dari 50 atau 60 akan diikutkan dalam pelatihan khusus tahun depan.
Materi-materi dalam pelatihan khusus ini nantinya akan disesuaikan dengan hasil UKG masing-masing guru. Rata-rata Nuh mengatakan jika para guru kesulitan menghadapi materi soal kependidikan atau pedagogik.
Nuh mengatakan guru yang sangat jago atau menguasai mata pelajaran yang diampu saja tidak cukup. Tetapi guru itu wajib menguasai juga soal teori-teori kependidikan dan prakteknya.
Upaya Kemendikbud dalam meningkatkan kualitas dan kinerja guru tidak berhenti pada pelatihan khusus tersebut. Setelah guru-guru bernilai jelek tadi menjalani pelatihan khusus, akan dikembalikan lagi ke sekolah masing-masing untuk mengajar.
Selanjutnya guru-guru yang memperoleh nilai UKG bagus maupun jelek wajib menjalani penilaian kinerja secara berjangka. "Penilaian kinerja ini diantaranya menyangkut urusan kedisiplinan," tutur Nuh.
Dia menuturkan, penilaian kinerja ini nantinya akan mengetahui hingga detail kinerja guru dalam mengajar. Mulai dari urusan absensi mengajar, keterlambatan datang ke sekolah, dan urusan teknis lainnya.
"Ibarat dokter, profesi guru juga harus dipantau secara berkala. Tidak bisa dilepas begitu saja," katanya.
Terkait urusan keberlanjutan UKG, Nuh mengatakan UKG tahap pertama terus dijalankan hingga 12 Agustus mendatang. "Walaupun ada yang macet di beberapa tempat, jalan terus," katanya.
Untuk itu, Nuh meminta para guru yang akan menghadapi UKG untuk menyiapkan diri dengan matang. Sehingga tidak kesulitan dalam mengerjakan soal ujian. (Sumber: wan/JPNN)
Skor Guru Melalui UKG Jeblok
Skor guru dalam UKG jeblok. Mereka hanya mampu berada di rata-rata 40--50. Pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) gelombang pertama yang dimulai 31
Juli lalu tetap dilanjutkan. Dari total 4.158 tempat uji kompetensi
(TUK), sebanyak 2.344 TUK aktif dan 937 TUK akan mulai diaktifkan
tanggal 8 Agustus mendatang, sedangkan 877 nonaktif.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad (Mendikbud) Mohammad Nuh menyampaikan, sampai dengan hari ketiga (1/8) pelaksanaan UKG telah diikuti 373.415 peserta. Dari jumalah tersebut sebanyak 243.619 peserta yang datanya sudah diolah.
“Memang ada yang ngadat, tetapi prinsipnya jalan. TUK yang tidak jalan distop, sedangkan yang normal tetap berjalan,” terangnya saat memberikan keterangan pers di Kemdikbud, Jakarta, Jumat (3/8) sore.
Nuh menyampaikan, guru-guru yang direncanakan mengikuti UKG di TUK yang dinonaktifkan tidak perlu datang. Mereka dijadwalkan ulang untuk mengikuti UKG pada gelombang kedua bulan Oktober mendatang.
Berdasarkan data yang telah masuk di Kemdikbud, rata-rata nilai UKG adalah 44,55. Untuk nilai tertinggi mencapai 91,12 dan terendah 0. “Peta ini kalau kita lihat dengan UKA (uji kompetensi awal) tidak jauh beda, yakni 4,2. Nilai UKG sementara yang paling tinggi diraih DI Yogyakarta (DIY) yang mencapai 51.03,” jelas Nuh.
Nuh merinci, untuk guru kelas sekolah dasar rata-ratanya 40.87, sedangkan untuk Penjaskes 42.59. Sementara mata pelajaran Bahasa Indonesia guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) rata-ratanya paling rendah dibanding mata pelajaran lain seperti IPA, IPS, dan matematika.
“Ada sesuatu yang harus kita rombak dalam kemampuan bahasa Indonesia para guru kita,” katanya.
Untuk sekolah menengah atas, mata pelajaran kimia paling rendah 37.9, sedangkan paling tinggi fisika 58,7.
Mendikbud menambahkan, penggunaan bandwith di server pusat hanya 2,34 persen, dan hambatan terjadi bukan bandwith di server, tetapi lebih banyak di terminal user. “Solusinya pendampingan pelaksanaan,” ucapnya. (Sumber: Cha/jpnn)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad (Mendikbud) Mohammad Nuh menyampaikan, sampai dengan hari ketiga (1/8) pelaksanaan UKG telah diikuti 373.415 peserta. Dari jumalah tersebut sebanyak 243.619 peserta yang datanya sudah diolah.
“Memang ada yang ngadat, tetapi prinsipnya jalan. TUK yang tidak jalan distop, sedangkan yang normal tetap berjalan,” terangnya saat memberikan keterangan pers di Kemdikbud, Jakarta, Jumat (3/8) sore.
Nuh menyampaikan, guru-guru yang direncanakan mengikuti UKG di TUK yang dinonaktifkan tidak perlu datang. Mereka dijadwalkan ulang untuk mengikuti UKG pada gelombang kedua bulan Oktober mendatang.
Berdasarkan data yang telah masuk di Kemdikbud, rata-rata nilai UKG adalah 44,55. Untuk nilai tertinggi mencapai 91,12 dan terendah 0. “Peta ini kalau kita lihat dengan UKA (uji kompetensi awal) tidak jauh beda, yakni 4,2. Nilai UKG sementara yang paling tinggi diraih DI Yogyakarta (DIY) yang mencapai 51.03,” jelas Nuh.
Nuh merinci, untuk guru kelas sekolah dasar rata-ratanya 40.87, sedangkan untuk Penjaskes 42.59. Sementara mata pelajaran Bahasa Indonesia guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) rata-ratanya paling rendah dibanding mata pelajaran lain seperti IPA, IPS, dan matematika.
“Ada sesuatu yang harus kita rombak dalam kemampuan bahasa Indonesia para guru kita,” katanya.
Untuk sekolah menengah atas, mata pelajaran kimia paling rendah 37.9, sedangkan paling tinggi fisika 58,7.
Mendikbud menambahkan, penggunaan bandwith di server pusat hanya 2,34 persen, dan hambatan terjadi bukan bandwith di server, tetapi lebih banyak di terminal user. “Solusinya pendampingan pelaksanaan,” ucapnya. (Sumber: Cha/jpnn)
Buta Huruf dari Perantauan
Sekitar 59.000 anak-anak tenaga kerja Indonesia di Malaysia yang masuk
dalam usia sekolah belum terlayani pendidikan sehingga terancam buta
huruf. Hingga saat ini, penanganan pendidikan anak-anak TKI di Malaysia
yang berusia 4-16 tahun dari Pemerintah Indonesia belum optimal.
”Anak-anak tenaga kerja Indonesia (TKI) itu umumnya di ladang sawit. Dari data yang kami himpun, baru sekitar 14.000 anak-anak TKI di tingkat SD dan SMP yang bisa dilayani pemerintah,” kata Ahmad Rizali, Direktur Program Pendidikan Pertamina Foundation di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut Ahmad, Pertamina Foundation bekerja sama dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) hendak membantu penanganan pendidikan anak-anak TKI di Malaysia. Selain menyalurkan buku-buku pelajaran dan alat bantu belajar jarak jauh, kerja sama ini juga meliputi pengiriman guru ke Malaysia.
Mengutip data Konsulat Jenderal RI di Kota Kinabalu, Ahmad menyebutkan, anak-anak TKI buta huruf di Sabah, Malaysia, yang sudah tertangani 14.032 orang. Mereka terdiri dari 423 anak SD di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) dan 4.548 anak di 42 di community learning center (CLC), 74 anak di SMP SIKK dan 1.201 anak di 35 CLC SMP terbuka, serta 7.796 anak di Pusat Pembelajaran LSM Humana Borneo Child Aid (kerja sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2006).
Masih ada sekitar 40.000 anak yang belum terurus dan buta huruf di Sabah. Belum ditambah yang di Sarawak dan Semenanjung, jumlahnya diperkirakan 59.000 anak.
Sekretaris Jenderal IGI Mohammad Ihsan mengatakan, anak-anak TKI di Malaysia terkendala mengakses pendidikan formal karena ada kebijakan Pemerintah Malaysia yang melarang anak-anak warga negara asing bersekolah di sekolah milik Pemerintah Malaysia. (Sumber: ELN/kompas.com)
”Anak-anak tenaga kerja Indonesia (TKI) itu umumnya di ladang sawit. Dari data yang kami himpun, baru sekitar 14.000 anak-anak TKI di tingkat SD dan SMP yang bisa dilayani pemerintah,” kata Ahmad Rizali, Direktur Program Pendidikan Pertamina Foundation di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut Ahmad, Pertamina Foundation bekerja sama dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) hendak membantu penanganan pendidikan anak-anak TKI di Malaysia. Selain menyalurkan buku-buku pelajaran dan alat bantu belajar jarak jauh, kerja sama ini juga meliputi pengiriman guru ke Malaysia.
Mengutip data Konsulat Jenderal RI di Kota Kinabalu, Ahmad menyebutkan, anak-anak TKI buta huruf di Sabah, Malaysia, yang sudah tertangani 14.032 orang. Mereka terdiri dari 423 anak SD di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) dan 4.548 anak di 42 di community learning center (CLC), 74 anak di SMP SIKK dan 1.201 anak di 35 CLC SMP terbuka, serta 7.796 anak di Pusat Pembelajaran LSM Humana Borneo Child Aid (kerja sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2006).
Masih ada sekitar 40.000 anak yang belum terurus dan buta huruf di Sabah. Belum ditambah yang di Sarawak dan Semenanjung, jumlahnya diperkirakan 59.000 anak.
Sekretaris Jenderal IGI Mohammad Ihsan mengatakan, anak-anak TKI di Malaysia terkendala mengakses pendidikan formal karena ada kebijakan Pemerintah Malaysia yang melarang anak-anak warga negara asing bersekolah di sekolah milik Pemerintah Malaysia. (Sumber: ELN/kompas.com)
Sabtu, 04 Agustus 2012
UGM Terbaik di Webometrik Juli 2012
Universitas Gadjah Mada kembali menjadi perguruan tinggi terbaik di
Indonesia versi Webometrics. Menurut pengumuman yang dirilis pada akhir
Juli 2012, UGM berada di peringkat kesembilan dalam daftar 100 besar
perguruan tinggi (PT) terbaik di Asia Tenggara dan peringkat ke-379
dunia.
Menanggapi hasil peringkat UGM yang dirilis Webometrics, Kepala Humas UGM Wijayanti, SIP, MSc, mengatakan, peringkat yang dicapai UGM tersebut sebagai salah satu parameter untuk mengukur capaian dari upaya yang telah dilakukan UGM selama ini. "Artinya, penyebaran ilmu pengetahuan dan informasi menggunakan laman (website) UGM semakin membudaya," kata Wijayanti kepada wartawan, Kamis (2/8/2012). Dengan bandwith sebesar 250 mbps yang disediakan oleh PPTIK UGM, tambahnya, civitas akademika mempunyai keleluasaan untuk mengunggah karya-karyanya agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Dalam daftar 100 besar PT terbaik Asia tenggara, setidaknya ada 32 PT dari Indonesia yang masuk daftar Webometrics. Selain UGM, di antaranya UI yang masuk peringkat ke-15, diikuti ITB (18), ITS (19), Universitas Pendidikan Indonesia (22), Universitas Gunadarma (24), IPB (25), Universitas Brawijaya (29), Universitas Sebelas Maret (30), dan Universitas Diponegoro (32).
Kriteria penilaian yang digunakan oleh Webometrics kali ini berbeda dari sebelumnya. Bila selama ini Webometrics menggunakan kriteria size, visibility, rich text, dan scholary, tetapi kali ini Webometrics menggunakan presence, impact, openness, dan excellent sebagai kriteria penilaian.
Presence adalah volume konten global yang terindeks oleh commercial search engine terbesar (Google). Impact adalah kualitas konten yang dievaluasi dari tautan eksternal dari pihak ketiga dengan data visibility-nya menggunakan dua mesin pencari, Majestic SEO dan Ahrefs. Openness adalah jumlah rich file (pdf, doc, docs, dan ppt) yang terindeks di google scholar, sedangkan excellence memperhitungkan karya akademik yang dipublikasikan di jurnal internasional yang tergolong high-impact dengan sumber datanya diambil dari Scimago.(sumber: kompas.com)
Menanggapi hasil peringkat UGM yang dirilis Webometrics, Kepala Humas UGM Wijayanti, SIP, MSc, mengatakan, peringkat yang dicapai UGM tersebut sebagai salah satu parameter untuk mengukur capaian dari upaya yang telah dilakukan UGM selama ini. "Artinya, penyebaran ilmu pengetahuan dan informasi menggunakan laman (website) UGM semakin membudaya," kata Wijayanti kepada wartawan, Kamis (2/8/2012). Dengan bandwith sebesar 250 mbps yang disediakan oleh PPTIK UGM, tambahnya, civitas akademika mempunyai keleluasaan untuk mengunggah karya-karyanya agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Dalam daftar 100 besar PT terbaik Asia tenggara, setidaknya ada 32 PT dari Indonesia yang masuk daftar Webometrics. Selain UGM, di antaranya UI yang masuk peringkat ke-15, diikuti ITB (18), ITS (19), Universitas Pendidikan Indonesia (22), Universitas Gunadarma (24), IPB (25), Universitas Brawijaya (29), Universitas Sebelas Maret (30), dan Universitas Diponegoro (32).
Kriteria penilaian yang digunakan oleh Webometrics kali ini berbeda dari sebelumnya. Bila selama ini Webometrics menggunakan kriteria size, visibility, rich text, dan scholary, tetapi kali ini Webometrics menggunakan presence, impact, openness, dan excellent sebagai kriteria penilaian.
Presence adalah volume konten global yang terindeks oleh commercial search engine terbesar (Google). Impact adalah kualitas konten yang dievaluasi dari tautan eksternal dari pihak ketiga dengan data visibility-nya menggunakan dua mesin pencari, Majestic SEO dan Ahrefs. Openness adalah jumlah rich file (pdf, doc, docs, dan ppt) yang terindeks di google scholar, sedangkan excellence memperhitungkan karya akademik yang dipublikasikan di jurnal internasional yang tergolong high-impact dengan sumber datanya diambil dari Scimago.(sumber: kompas.com)
Kamis, 02 Agustus 2012
Media Pembelajaran Kreatif untuk Bahasa Indonesia
Berkat bimbingan Suyatno, pengasuh www.garduguru.blogspot.com ini, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia JBSI Unesa lahirkan lebih dari 200 media pembelajaran lewat workshop kelas.



Salah satu kelemahan guru adalah mengajar tanpa media, sehingga ceramah
menjadi satu-satunya metode mengajar yang dikuasai oleh guru. Saya tidak
ingin mahasiswa keguruan ketika menjadi guru, mereka menjadi guru yang
yang miskin media dan apa adanya, terang Pak Yatno di sela-sela
pertemuan akhir mata kuliah media pembelajaran di Jurusan Bahasa dan
Sastra Indonesia Unesa.
Sejak pukul 07.00 WIB mahasiswa kelas A mulai berdatangan di Joglo Fakultas Bahasa dan Seni FBS Unesa. Mereka datang hampir bersamaan dengan membawa kotak media masing-masing. Ada yang memanggul kotak medianya, ada yang mengangkat satu kotak dua orang, dan ada pula yang mengangkut kotak medianya dengan sepeda motor.
Pagi itu suasana joglo FBS ramai dengan stand-stand mahasiswa JBSI yang siap menggelar media pembelajaran karya mereka. Setelah sebelumnya mereka menyulap joglo menjadi tempat workshop, mereka mengorganisir sendiri persiapan workshop pagi itu. Setelah PK (pemimpin kelas) A,B, dan C angkatan 2010 dibrifing oleh Pak Yatno seminggu sebelumnya.
Perkuliahan media pembelajaran di JBSI memang yang paling unik dan asyik, kuliah tidak selalu di kelas, dan hebatnya satu mahasiswa mampu menghasilkan minimal 20 media pembelajaran Bahasa Indonesia. Kuliah workshop kali ini untuk unjuk hasil karya mahasiswa setelah pada pertemuan sebelumnya Pak Yatno telah mengenalkan ragam media pembelajaran kepada mahasiswanya, mulai media elektronik sampai media kreatif.
Pada workshop ini, mahasiswa menampilkan ragam media kreatif yang telah dibuat. Pak Yatno, dengan teliti mendatangi satu per satu stand media mahasiswanya. Terjadi tanya jawab intensif antara Pak Yatno dan mahasiswanya tentang media yang dibuat, sehingga masing-masing mahasiswa mengerti betul letak kekurangan dan kelebihan media yang dibuat. Dengan demikian, para mahasiswa dapat mengevaluasi dan memperbaiki kualitas media buatannya.
Di luar dugaan, dari tiga kelas yang dibimbing Pak Yatno tercipta lebih dari 200 media kreatif Bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan sisi kreativitas mahasiswa meningkat pesat dari belum mengenal media pembelajaran sampai bisa membuat sendiri media kreatifnya. Hadir pula saat itu mahasiswa angkatan 2008, Mila panggilannya. Saat saya tanya tentang dampak perkuliahan media pembelajaran yang diterapkan Pak Yatno kepada mahasiswanya, ia menyampaikan “ Saya beruntung mengikuti kuliah media pembelajaran dengan Pak Yatno, ketika PPL semester lalu saya tidak bingung ketika masuk kelas karena saya telah siap dengan media yang saya buat ketika menempuh mata kuliah media pembelajaran, karena ada teman saya jurusan lain yang sampai menangis karena tidak mampu menghadapi siswanya”.
Di akhir workshop, Pak Yatno merefleksikan kepada mahasiswanya bahwa membuat media pembelajaran tidak boleh berhenti sampai di sini, tetapi harus selalu dikembangkan sampai para mahasiswa menjadi guru. (sumber: www.wapikweb.org)
Sejak pukul 07.00 WIB mahasiswa kelas A mulai berdatangan di Joglo Fakultas Bahasa dan Seni FBS Unesa. Mereka datang hampir bersamaan dengan membawa kotak media masing-masing. Ada yang memanggul kotak medianya, ada yang mengangkat satu kotak dua orang, dan ada pula yang mengangkut kotak medianya dengan sepeda motor.
Pagi itu suasana joglo FBS ramai dengan stand-stand mahasiswa JBSI yang siap menggelar media pembelajaran karya mereka. Setelah sebelumnya mereka menyulap joglo menjadi tempat workshop, mereka mengorganisir sendiri persiapan workshop pagi itu. Setelah PK (pemimpin kelas) A,B, dan C angkatan 2010 dibrifing oleh Pak Yatno seminggu sebelumnya.
Perkuliahan media pembelajaran di JBSI memang yang paling unik dan asyik, kuliah tidak selalu di kelas, dan hebatnya satu mahasiswa mampu menghasilkan minimal 20 media pembelajaran Bahasa Indonesia. Kuliah workshop kali ini untuk unjuk hasil karya mahasiswa setelah pada pertemuan sebelumnya Pak Yatno telah mengenalkan ragam media pembelajaran kepada mahasiswanya, mulai media elektronik sampai media kreatif.
Pada workshop ini, mahasiswa menampilkan ragam media kreatif yang telah dibuat. Pak Yatno, dengan teliti mendatangi satu per satu stand media mahasiswanya. Terjadi tanya jawab intensif antara Pak Yatno dan mahasiswanya tentang media yang dibuat, sehingga masing-masing mahasiswa mengerti betul letak kekurangan dan kelebihan media yang dibuat. Dengan demikian, para mahasiswa dapat mengevaluasi dan memperbaiki kualitas media buatannya.
Di luar dugaan, dari tiga kelas yang dibimbing Pak Yatno tercipta lebih dari 200 media kreatif Bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan sisi kreativitas mahasiswa meningkat pesat dari belum mengenal media pembelajaran sampai bisa membuat sendiri media kreatifnya. Hadir pula saat itu mahasiswa angkatan 2008, Mila panggilannya. Saat saya tanya tentang dampak perkuliahan media pembelajaran yang diterapkan Pak Yatno kepada mahasiswanya, ia menyampaikan “ Saya beruntung mengikuti kuliah media pembelajaran dengan Pak Yatno, ketika PPL semester lalu saya tidak bingung ketika masuk kelas karena saya telah siap dengan media yang saya buat ketika menempuh mata kuliah media pembelajaran, karena ada teman saya jurusan lain yang sampai menangis karena tidak mampu menghadapi siswanya”.
Di akhir workshop, Pak Yatno merefleksikan kepada mahasiswanya bahwa membuat media pembelajaran tidak boleh berhenti sampai di sini, tetapi harus selalu dikembangkan sampai para mahasiswa menjadi guru. (sumber: www.wapikweb.org)
Langganan:
Postingan (Atom)