Selasa, 05 Januari 2016

Unesa: Sudah Waktunya Naik Kelas



Oleh Suyatno

/1/
Ketika di hadapan peserta Musyawarah Nasional (Munas) Gerakan Pramuka di Kupang, NTT, awal Desember 2013, mendikbud, Prof. Dr. Muhammad Nuh, melontarkan bahwa lembaga yang bagus harus sampai ke tingkat transformer. Mantan rektor ITS itu mengatakan bahwa ada empat peran untuk predikat keberhasilan sebuah lembaga. Keempat peran itu adalah (1) pendukung (supporter), (2) penggerak atau pengarah (driver), (3) pemungkin (enabler), (4) pemicu transformasi (transformer). Pernyataan keempat peran itu, oleh Pak Nuh, begitu biasa dipanggil, diulangi lagi pada kesempatan menyambut dalam acara Konvensi Kampus X dan Temu Tahunan XVI yang diselenggarakan FRI Januari 2014 di Surakarta. Betapa pentingnya pernyataan itu sampai diulang kedua kali oleh Pak Nuh.
            Menurut M Nuh, peran sebagai penopang adalah peran paling bawah dalam hierarki. Peran di atasnya adalah penggerak, yang menggerakkan sekaligus mengarahkan. Sebagai pemungkin, sebuah lembaga bertugas mendobrak ketidakmungkinan melalui kreativitas dan inovasi. Kemudian, peran paling atas adalah sebagai pemicu transformasi, yaitu lembaga harus memulai perubahan transformatif. Dia menilai, dari keempat peran tersebut, peran terpenting bagi perguruan tinggi adalah sebagai pemicu transformasi. Untuk menjalankan peran tersebut, lanjutnya, penting bagi perguruan tinggi bergerak sesuai perkembangan zaman.
Di Surakarta saat itu, Pak Nuh menyebutkan bahwa perguruan tinggi harus bergerak dinamis. “Pengajarannya harus berubah, jangan itu-itu saja. Risetnya harus berkembang, jangan itu-itu saja," paparnya.
Betapa bahagianya, jika Unesa naik kelas. Dari kata “naik kelas”, terbersit perubahan dari belum menjadi sudah, dari tidak ada menjadi ada, dari lemah menjadi kuat, dari tanpa citra menjadi penuh citra, dan dari kecil menjadi besar. Kondisi seperti itu tentu mampu membahagiaan warga Unesa, masyarakat yang terkait, dunia luar, dan alam raya seisinya. Kondisi tersebut juga memunculkan tataran dan tantangan baru sehingga mendinamisasikan Unesa untuk terus melejit ke kelas di atasnya.
            Saat ini, label naik kelas dapat disematkan untuk Unesa jika melihat prestasi yang telah diraih kurun empat tahun ke belakang. Label tersebut ditandai dari dua sisi, yakni sisi infrastruktur dan suprastruktur. Di tataran infrastruktur, Unesa berada pada kelas lebih tinggi dari kelas dasar kekumuhan. Lihat saja, di sana sini terlihat pembangunan dari gedung kuliah, kantor, jalan, selasar, taman, waduk, hutan kota, ruang kerja, ranu, kantin, bank, pusat kemahasiswaan, dan logo. Perubahan itu berdampak pada kenyamanan mahasiswa dalam berkuliah, keberterimaan masyarakat terhadap kampus yang mereka kunjungi, kelegaan dosen dalam menikmati ruang bekerja, dan siswa yang merindukan berkuliah di Unesa. Ujungnya, kampus mampu menelurkan segudang prestasi kinerja warganya.
            Perubahan kelas seperti tergambar di atas bukan tidak memerlukan kepemimpinan dan manajemen tersendiri. Tidaklah mungkin, dana untuk mengembangkan infrastruktur itu hanya sebatas dana dari mahasiswa. Tentu, dana itu bersumber dari mana-mana. Tidak mungkin pula, secara tiba-tiba, muncul bangunan. Kepemimpinan yang baik yang ditunjang manajemen yang jitu tampaknya turut mempengaruhi keberhasilan infrastruktur itu.
Di tataran suprastruktur, Unesa masih berada di kelas yang sama, yakni sebagai pendukung dan penggerak saja. Dikatakan masih di kelas yang sama karena jauh sebelum empat tahun lalu, Unesa juga berada pada kelas pendukung dan penggerak. Unesa masih sebatas pendukung program Jakarta, seperti pelaksana PPG, PLPG, Penelitian dan Pengabdian, Hibah Doktor, SM3T, KKT, KKN, dan sebagainya. Program tersebut dirancang dan dikemas dari Jakarta (baca kemendikbud) untuk dilaksanakan serentak di berbagai perguruan tinggi asal proposal dapat memenuhi syarat pemesannya. Sebagai penggerak, Unesa mampu menjalin kerja sama dengan pihak lain seperti sekolah model (Unesa—Kabupaten Kutai Timur), penyebaran informasi pembelajaran yang baik (Unesa—Bank Dunia), pusat konfusius (Unesa—Pemerintah Cina), Pendampingan guru (Unesa—Provinsi Jatim; Jombang; Surabaya; Sidoarjo; Gresik; Bontang Kaltim), Program CE (Continuing Education) (Unesa—Surabaya), dan sebagainya.
Suprastruktur yang mampu menembus tingkat pemungkin masih dapat dihitung dengan jari. Program yang bertaraf pemungkin tersebut adalah laman Unesa yang mampu menembus ranking 2 dunia setelah Universitas di California; Robot dan mobil irit yang masuk ke jajaran nasional dan internasional; Bank sampah yang diakui Surabaya; Pemenang festival teater di Mesir; Pendidikan inklusi yang mendapatkan penghargaan menteri; Jumlah pendaftar ke Unesa yang melejit jumlahnya; Penerbitan berbagai judul buku pendidikan yang dibagi-bagikan ke setiap tamu yang berkunjung; Majalah Unesa yang terbit tiap bulan; Laman Wapik yang berisi pembelajaran yang Baik; dan beberapa lainnya.
Namun, meskipun kemajuan suprastruktur masih sporadis seperti di atas, tentu, jika terus digarap dengan serius, Unesa akan mampu masuk ke kelas transformasi. Kemampuan itu didukung oleh keberhasilan yang melewati kelas yang dimiliki perguruan tinggi lain. Dari segi posisi, Unesa menang satu kelas. Untuk itu, sekali lagi, manajemen kuat diperlukan untuk terus menggarap momentum keberhasilan tersebut.


/2/
Selama ini, Unesa merupakan lembaga yang rajin, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya dalam melaksanakan tugas dari Jakarta, seperti yang telah disebut di bagian /1/ di atas. Karena banyak luncuran program seperti itu, seakan tidak ada program Unesa yang mampu menasional dan berada pada peran pemungkin dan transformatif. Seolah-olah, semua amunisi dan energi habis terkuras untuk kesuksesan perjalanan program pesanan tersebut.
Posisi di tingkat peran pertama memang baik karena menyukseskan program nasional. Hanya saja, jika Unesa asyik-asyikan di tingkat pertama itu, lalu lupa dengan tingkat peran di atasnya, Unesa akan tertinggal jauh dari perguruan tinggi lainnya. Unesa akan senantiasa setia di kelasnya semata. Lihat saja, ITB mulai masuk ke tingkat transformatif dengan program membuka prodi di Malaysia. UGM menggandeng puluhan perguruan tinggi di luar negeri. Unesa, dengan jumlah tenaga akademis yang banyak dan berkualitas di bidangnya itu, tentu tidak hanya pada kelas pemungkin saja tetapi harus berani masuk ke tingkat transformasi.
            FT sudah mengibarkan bendera ISO, sebagai simbol pengelolaan birokrasi akademis yang standar. Namun, pengibaran bendera itu tidak dengan cepat diikuti oleh fakultas lain. Seolah-olah, bendera ISO bukan menjadi kebutuhan mendesak. Petanda yang ditunjukkan FT tidak menjangkiti inisiatif dan imajinasi fakultas lain dengan serta-merta. Bisa jadi, fakultas lain menunggu kebijakan wajib dari pusat (baca rektor). Padahal, masyarakat transformasi ditandai oleh inisiatif dan imajinasi yang kreatif.
Begitu pula, pola administrasi on-line yang digunakan BAAKPSI Unesa yang menguntungkan mahasiswa itu hanya sebatas di tingkat pusat. Fakultas atau jurusan tidak mampu menerapkan pola on-line itu ke dalam skala mini. Jika setiap tindakan mahasiswa di jurusan tercatat secara on-linu, tentu, dengan mudahnya, dosen atau orang tua mahasiswa dapat melihat perkembangan kualitas sang mahasiswa. Contohnya, di semester tertentu, orang tua dengan akses tertentu, dapat mengetahui bila anaknya mengikuti seminar di Jakarta, berkemah di gunung, kursus jurnalistik, lomba musik, dan seterusnya. Yang baru diketahui hanya nilai, sks yang ditempuh, dan dosen pembimbingnya. Andai data kualitas mahasiswa dapat terjangkau, Unesa akan lebih banyak dikenal dengan prestasi mahasiswanya. Bukankah dari 25.000-an jumlah mahasiswa Unesa, pasti banyak yang berprestasi akademik maupun nonakademik. Oleh karena itu, program dunia maya di samping terpusat juga perlu yang bersifat segmental fakultas atau jurusan.
Keunggulan suprastruktur di kelas pemungkin sangat baik jika terus dijaga, dimanajemeni lebih kuat, dan dikawal ketat sehingga pada akhirnya mampu menembus kelas transformasi. Unesa perlu segera membentuk penanggung jawab khusus untuk intensif mengelola laman Unesa dengan target ranking pertama mengalahkan Universitas di California; Robot dan mobil irit harus menyabet juara internasional; Model bank sampah menyebar ke Indonesia dan dunia; Teater disegani di tingkat dunia; pendidikan inklusi harus mendapatkan penghargaan dunia; Jumlah pendaftar ke Unesa menjadi tertinggi di Indonesia; Penerbitan buku diakui mutu dan sebarannya di tingkat dunia; Majalah Unesa yang terbit tiap bulan dikembangkan menjadi majalah dunia; Laman Wapik dikembangkan ke berbagai bahasa; dan seterusnya.
Penjagaan kelas pemungkin tersebut harus ketat sehingga dapat dipastikan masuk ke kelas transformasi. Dana diperbesar untuk menyokongnya. Sarana disediakan untuk menggelar aktivitas berlatihnya. Pakar didatangkan untuk terus memupuk kualitasnya. Uji coba dan pencarian lawan latih senantiasa diadakan untuk perbaikannya. Kemudian, uji kelayakan kelas terus dilakukan setiap waktu.
Sementara kelas pemungkin dijaga, di sisi lain, Unesa harus memperkuat fundamental suprastruktur lainnya. Beberapa lini yang perlu diperkuat adalah pertama, jurnal ilmiah; Selama empat tahun ini, tidak ada jurnal ilmiah yang berakreditasi nasional apalagi internasional. Terlihat pengelolaannya bergaya lama (pembentukan redaksi, penentuan naskah, dan terbit, tanpa bantuan super maksimal). Andai saja, Unesa berani menyingsingkan lengan dengan cara memberi dana lebih, umpamanya setiap penerbitan didanai 50 juta, tentu, redaksi tidak lagi berpusing dua kali. Tiap penerbitan diberi tenaga khusus untuk administrasi dan pengolahan desain untuk setiap jurnal. Ruang jurnal disatukan dalam kondisi layak kerja. Lalu, pengelola jurnal ditarget untuk berkreditasi A. Tentu, kelas Unesa dalam hal jurnal akan meningkat.  Pengelola terlihat kelelahan dari sector pendanaan dan ruang.
Kedua, kekokohan sumber belajar yang dirintis berupa buku kuliah hasil pencarian dosen, yang pendanaan di tanggung Unesa, tidak berjalan. Program tersebut sangat bagus namun tenggelam di tengah jalan. Lagi-lagi, modusnya karena tidak dikelola dengan baik di tingkat aplikasi. Andai saja, program itu dijalankan dengan sepenuh hati, tentu, lain soal hasilnya. Misalnya, tiap dosen senantiasa memburu buku baru di tingkat internasional. Buku itu diterjemahkan oleh dosen. Ongkos penerjemahan ditinggikan. Hasil terjemahan disebarluaskan ke nusantara. Dosen itu menjadi terkenal, Unesa turut terkenal, dan dana yang diberikan akan segera kembali jika dikelola penerbitan sendiri. Dosen itu kemudian membentuk klub kajian untuk menyeminarkan isi buku, mendesiminasikan dampak isi buku, dan membuat buku yang senada. Tiap tahun, tiap semester, dosen harus dituntut untuk menerjemahkan buku yang khas sesuai dengan mata kuliahnya. Dosen tersebut didampingi dosen seniornya. Tentu, hal itu, akan turut menaikkan kelas.
Ketiga, kaderisasi guru besar hanya berjalan apa adanya. Pengurusan berlarut-larut akibat ketidakpastian acuan sangat terjadi. Pembinaan khusus dengan pengawalan yang rutin dan pasti tidak terjadi. Selama ini, sang calon guru besar terseok-seok melangkahkan kaki dalam kurun waktu yang panjang dan melelahkan. Bisa jadi, sang calon akan frustasi dan tidak mau menginjakkan kaki di jenjang guru besar karena betapa susah dan pahitnya jalan yang ditempuh. Andai saja, setiap dosen yang bergelar doktor dan berjabatan lektor kepala dikawal ketat dengan pendampingan penuh kesetiaan dan kemitraan, tentu banyak guru besar baru yang bermunculan.
Keempat, inisiatif program transformasi murni dari Unesa untuk dunia belum muncul. Andai saja, Unesa dengan serius merumuskan formula pendidikan atau keilmuan yang mampu dengan jitu mendongkrak kualitas guru, tentu, Unesa akan naik kelas dan dikenal dunia luas. Cobalah, formula pendidikan yang mampu menarik minat para gubernur, bupati, atau pemilik modal untuk menjajal formula itu. Tunjukkan kalau formula itu sangat cepat menaikkan mutu pendidikan. Hal itu sangat mungkin karena Unesa mempunyai pakar handal, gedung bagus, dan nama yang berharga jual.
Kelima, penerbitan yang berkaliber nasional masih jauh panggang dari api. Penerbitan Unesa masih dikenal di kelas-kelas Unesa sendiri dengan judul-judul yang spesifik dan khas mata kuliah yang diampuh dosen. Buku yang menjangkau masyarakat luas baik dari sisi fenomena dan makna isinya masih beredar di area sempit dan untuk kepentingan kepangkatan semata. Ada buku-buku berbobot dari dosen tetapi tidak diterbitkan penerbit Unesa, melainkan diterbitkan di luar yang harga dan kualitasnya bermutu. Ada mimpi yang menjangkau. Mimpi itu adalah penerbitan Unesa mampu menyaingi kelas di atasnya. Tiap orang yang ingin membaca ilmu tertentu, pasti berpikirnya adalah penerbit Unesa. Di toko buku manapun, terpampang buku terbitan Unesa. Lalu, suatu ketika, buku-buku Unesa diterjemahkan oleh negara lain karena mutunya. Unesa menjadi naik kelas ke transformasi penerbitan dan mendapatkan hasil yang melimpah.
Keenam, penelitian dan pengabdian masyarakat masih sebatas pesanan pusat dan berjudul ringan. Bisa saja, suatu ketika, penelitian yang dilakukan Unesa mampu menghebohkan dunia, misalnya dosen Unesa menemukan bahan bakar mobil berbasis angin, obat HIV-AIDS dari daun ubi, obat kanker dari senam X, atau temuan unik lainnya. Keunggulan itu tentu suatu saat akan dinanti dunia. Bahkan, ada lembaga lain yang senantiasa menggunakan sumber daya dari Unesa. Bisa jadi, hal itu terjadi meski hanya mimpi.
Ketujuh, jebolan Unesa masih dianaktirikan dari jebolan perguruan tinggi lain, kecuali yang berbasis pendidikan. Lihat saja, lulusan ilmu murni dari Unesa sangat sulit menembus pekerjaan di bidangnya karena kalah dari perguruan tinggi sejenis lainnya. Selama ini, perlakuan dan sentuhan hati kepada mahasiswa berbasis pendidikan lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa yang berbasis ilmu murni. Diakui atau tidak, hampir setiap hari yang dipikirkan dosen Unesa senantiasa masalah pendidikan keguruan dibandingakn masalah ilmu murni. Andai saja, ada niat, perlakuan, dan program utuh dan kuat untuk memaksimalkan perkuliahan untuk prodi murni, pasti suatu saat perlakuan masyarakat akan bergeser. Dengan menu tertentu, mahasiswa ilmu murni menjadi serba brilian, cekatan, dan bernyali kerja professional, tentu, pihak lain akan melirik jebolan Unesa.
Kedelapan, jejaring internasional Unesa masih dikenal oleh segelintir perguruan tinggi di negara lain. Meskipun saat ini Unesa sudah menjalin kerja sama dengan Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, South Korea (seminar), Pusan National University, Korea (olahraga), Burapha University dan  Princes of Songkla University Thailand; Curtin Universty, Australia; Utrecht University, Belanda (pascasarjana); Universitas Wuhan dan Universitas Hanban, Cina (prodi Mandarin), dan lainnya. Namun, kerja sama itu harus terus ditingkatkan sampai suatu saat setiap jurusan mempunyai prodi kembar di universitas luar negeri. India dengan kekuatan perkuliahan teknologi dan filmnya sangat mungkin akan melirik Unesa untuk bekerja sama. Afrika yang dipenuhi oleh negara yang unggul di pertambangan suatu hari akan bekerja sama dengan Unesa. Jepang, Hongkong, Taiwan, dan Korea yang terkenal dengan inovasi praktisnya akan melirik Unesa. Universitas di Eropa dengan keilmuan dasarnya akan memakai Unesa sebagai kawan berbaginya. Itu semua keniscayaan.
Itulah sekilas kekokohan yang mungkin terjadi untuk masuk ke sisi suprastruktur Unesa. Hal di atas sangat mungkin dilakukan asalkan ada kemauan kuat dari Unesa. Tidak ada, di dunia ini, yang tidak bisa. Unesa pasti suatu saat bisa melakukan kiprah untuk berada di kelas transformasi.

/3/
Memang sudah menjadi sifat manusia untuk meminta lebih dari sesuatu yang sudah diterima saat ini. Unesa yang sudah mampu menunjukkan capaian kelasnya tentu masih saja ada yang menginginkan lebih berkelas lagi. Itu semua wajar. Bahkan, keinginan itu haruslah dijadikan pelecut untuk terus berkreasi dan berdinamika. Bukankah, keberhasilan yang bersifat kanon selalu berawal dari berpikir skeptis seperti itu.
Diakui atau tidak, Unesa telah melejitkan keberhasilan infrastruktur di segala lini. Bahkan, tahun-tahun mendatang pekerjaan rumah untuk keberlangsungan infrastruktur masih bergulir. Lihat saja, IDB yang menyetujui beberapa infrastruktur baru masih belum dimulai pembangunannya. Projek IDB itu tahun depan baru dapat diwujudkan pembangunannya. Belum lagi, infrastruktur di tingkat jurusan yang terus saja berbenah.
Infrastruktur itu merupakan fondasi untuk berbenah menjadi lebih baik. Kalau bukan sekarang memperbaiki infrastruktur, kapan lagi? Inilah waktu yang tepat untuk membangun daya dukung dasar agar suprastruktur dapat semakin menemukan jalan keberhasilannya.
Suprastruktur yang ada juga sudah dapat menunjukkan Unesa sebenarnya mempunyai kemampuan tinggi. Kemampuan itu tidak kalah dengan perguruan tinggi lain. Capaian suprastrtur tersebut tentunya dapat menjadi motivator bagi keberhasilan suprastruktur yang lainnya.
Secara internal, Unesa semakin kondusif dalam mengawal keberhasilan lembaga pencetak diploma, sarjana, master, dan doktor itu. Kawalan itu sudah dapat dilihat berjalan sesuai dengan relnya. Geliat mulai terlihat. Budaya akademis mulai tumbuh meski masih berdaun satu. Capaian seperti tersebutlah yang harus terus dipelihara dengan kesadaran dan keterlibatan tinggi.
Dari sisi eksternal, Unesa semakin dikenal oleh masyarakat di Indonesia dan dunia. Lihat saja, pada pendaftar SNMPTN tahun 2013, calon dari Sumatera Utara ada 500-an, Jawa Tengah ada 1.000-an, Maluku ada 150-an, begitu pula daerah lainnya. Jika ke desa di Jatim, tanyalah kepada penduduk tentang Unesa, mereka akan menjawab kenal Unesa. Betapa Unesa dikenal oleh masyarakat terdekat dan terjauhnya. Itu semua terjadi karena nama Unesa sering disebut oleh orang, media, dan lainnya.
Unesa sering disebut akibat torehan prestasi seperti penghargaan Anugerah Pendidikan Inklusif 2012, pelobi agar Asian games 2019 diselenggarakan di Indonesia, hutan kota, SSC, atlet olahraga, wapikweb, tamu aktor film, sastrawan,  kedatangan menteri dan pejabat lainnya, prestasi seni, campursari Baradha, dan sebagainya. Jika prestasi seperti it uterus dilejitkan melalui pencitraan media, tentu Unesa akan semakin melekat di alam pikiran masyarakat. Semua itu menjadi sangat mungkin.
Jalan sudah ditempuh, anak tangga sudah dilewati, dan laut sudah dilayari. Tibalah, pelaju berikutnya untuk menempuh jalan, anak tangga, dan kapal agar Unesa sampai ke tujuan. Dalam setiap perjalanan, suka dan duka pastilah bergiliran bermunculan. Itu hal biasa. Suka dan duka adalah bagian dari senandung rindu sang anak petani di tengah sawah. Yang terpenting, Unesa harus berada di atas segala kepentingan pribadi dan golongan. Unesa harus di puncak tiang tertinggi untuk membawa warta kebangunan Indonesia raya.

Kamis, 31 Desember 2015

Diperlukan Jurnalis Indonesia yang Berkebangsaan

Jurnalistik kebangsaan Indonesia yang mampu memperkuat persepsi masyarakat Indonesia dalam mencintai bangsanya seakan mulai memudar terkikis oleh jurnalistik penistaan terhadap simbol negaranya. Saat ini, teramat sering, jurnalis menyuguhkan warna tulisan yang bersifat menghujat dan menistakan simbol negara daripada jurnalistik cerdas yang membangun bangsanya. Jika jurnalistik macam begini diteruskan tentu akan sangat mengikis rasa cinta terhadap bangsa dan negara sendiri.

Presiden menjadi bulan-bulanan berita miring yang belum tentu akurasinya dipertanggungjawabkan oleh penulis. Merah putih, Pancasila, dan simbol lain teramat mudah menjadi bahan gunjingan yang negatif. Seolah-olah, jurnalis tidak memunyai topik yang lebih cerdas daripada itu. Santapan empuk jurnalis Indonesia adalah kesimpangsiuran berita yang bisa jadi hanya hoax semata. Jurnalis yang cerdas dan berbudaya susah dijumpai melalui tulisannya.

Jauh sebelum merdeka, Indonesia diwarnai oleh jurnalis yang cerdas dan berbudaya dalam memberitakan fakta. Mereka bersatu-padu membela Indonesia agar lepas dari penjajah dengan gaya jurnalistik masing-masing. Tulisan mereka sangat kuat. Tulisan mereka sangat menyentuh alam bawah sadar insan Indonesia. Lalu, tulisan jurnalis kemerdekaan mampu mengantarkan kemerdekaan Indonesia. Jurnalis tersebut sebut saja Tjokroaminoto, Abdul Muis, Adam Malik, dan seterusnya.

Berkaca dari jurnalis kemerdekaan itu, seharusnya jurnalis masa kini bervisi pada Indonesia beradab dan berbudaya dalam kejayaan global. Semua tulisan diarahkan pada satu tujuan, yakni Indonesia menjadi negara yang makmur. Jurnalis modern yang masih berjuang demi bangsa Indonesia pascamerdeka. Lalu, siapa yang melakukan tugas jurnalis seperti itu?

Para jurnalis saat ini adalah pejuang bagi Indonesia menuju dunia global. Indonesia harus menjadi bangsa yang mampu menyejahterakan rakyatnya dalam percaturan dunia. Oleh karena itu, jurnalistik saat ini jangan hanya berkutat pada masalah pragmatis semata. Inti tulisan jangan hanya seputar instrumental dan kulit semata. Inti tulisan harus mengarah pada penggugahan alam bawah sadar rakyat Indonesia dalam menuju kesejahteraan Indonesia.

Topik jurnalistik yang hanya hujat-menghujat, politis, jegal-menjegal, dan membunuh karakter seseorang haruslah dikesampingkan. Yang menjadi aurs utama adalah jurnalistik yang berkebangsaan dengan satu tujuan kesejahteraan rakyat Indonesia. Arahkan alam bawah sadar manusia Indonesia ke pentingnya membangun bangsa Indonesia yang bersatu-padu dalam berperan serta membangun Indonesia. Tentu, diperlukan pelopor jurnalistik yang membumi dan berbasis budaya yang mencerdaskan bangsa Indonesia.

Topik jurnalistik yang merdeka dari aspek politis mudah diwarnakan manakala para jurnalis terbuka kesadarannya. Jurnalis yang hebat tentu bukan karena kehebohan tulisannya melainkan karena inspirasi yang kuat yang mampu dimunculkannya. Indonesia bukan negara yang mampu berjalan sendiri tanpa didukung oleh jurnalis yang nasionalis. Indonesia memerlukan jurnalis yang berdarah Indonesia dan berjiwa pahlawan bagi bangsanya. Bukan berarti, jurnalis tidak boleh mengkritisi. Bukan pula, jurnalis tidak boleh menginformasikan yang negatif. Semuanya diperbolehkan asalkan selalu bermuara pada kebaikan Indonesia kelak.

Jurnalis itu guru. Jurnalis itu pelita yang sanggup memberikan petunjuk jalan bagi warga Indonesia yang kegelapan. Oleh karena jurnalis itu guru, dia harus mampu memberikan petunjuk kebahagiaan bagi warga Indonesia. Dengan begitu, kelak Indonesia sejahtera lahir batin karena ditopang oleh jurnalis yang cerdas dan patriotik. 


Mimpi Indonesia, Mimpi Kita Semua

Indonesia harus bermimpi untuk membingkai laku yang akan dijalankan ke depan. Meskipun, rintangan, halangan, dan hambatan menutupi langkah dalam bermimpi. Mimpi itu perlu karena membawa alur kehidupan melintasi rintangan, halangan, dan hambatan itu. Indonesia tentu layak untuk bermimpi. Mimpi itu telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo di Tanah Surga, Papua. Kemudian mimpi, yang ditulis tangan itu dimasukkan ke kapsul waktu, yang kelak 70 tahun kemudian akan dilihat kembali tulisan itu untuk dicocokkan. Salut untuk Presiden Indonesia yang berani bermimpi.

Selama ini, kita seakan berada pada kondisi yang tidak sempat bermimpi akibat desakan kesibukkan dari waktu ke waktu. Padahal, ketika kecil, seseorang dipenuhi daya imajinasi yang mampu membumbui mimpi mereka masing-masing. Mimpi demi mimpi disulamkan ke dalam tindaka seorang anak kecil. Namun, mimpi itu seakan hilang akibat ulah pragmatis seseorang itu dengan ribuan alasan, yakni sibuk, tidak sempat, susah, dan sebagainya sehingga mimpi yang dahulu dicanangkan itu terselip entah ke mana seakan terlupakan. Mimpi ada tetapi entah ke mana.

Jokowi, Presiden Indonesia, di penghujung 2015, menuliskan mimpi bagi bangsanya, bangsa Indonesia. Mimpi tersebut mengingatkan kepada semua warga bangsa bahwa Indonesia adalah negara besar yang memunyai hak untuk bermimpi besar. Indonesia itu bukan negara kerdil dan kecil. Bukan pula, Indonesia itu negara miskin dan terlunta. Bukan itu Indonesia. Indonesia adalah negara dengan penduduk yang besar. Sumber Daya Alam melimpah dan bervariasi. Penduduknya sangat plural. Kaya laut dan garis pantai menjadi identitas Indonesia. Penduduknya sangat layak menjadi cerdas karena asupan yang penuh gizi di sekelilingnya. Untuk itu, sangat layak jika Indonesia bermimpi sebagai negara besar di dunia ini. Selamat Presiden Indonesia yang telah bermimpi mewakili anak bangsa yang lain.

Keberhasilan sesuatu biasanya bermula dari mimpi yang diformulasikan dengan baik sehingga menjadi aurora tindakan dalam perjalanan menempuh waktu. Memang, yang namanya mimpi kadang tidak sesuai dengan kondisi saat ini karena belum terjadi dan belum tergambar dalam pikiran seseorang. Oleh karena itu, sangat wajar jika seseorang menganggap mimpi sebagai ilusi semata. Banyak pula yang mengatakan bahwa mimpi itu tidak masuk akal. Ukuran menilai mimpi bukan dengan fakta sekarang karena pasti tidak akan pernah cocok. Ukuran mimpi itu adalah usaha dan upaya yang terus-menerus sehingga mewujudkan mimpi ke dalam suasana yang realistis.

Obama kecil, ketika masih siswa SD kelas V di Jakarta, menulis cita-cita seperti yang diminta gurunya. Tulisan cita-cita itu oleh Obama diberi judul "Cita-Citaku Menjadi Presiden." Ketika itu, orang lain akan tertawa dan mengejek setelah tahu tulisan Obama karena tidak mungkin jika dikaitkan dengan kondisi saat itu. Tidak disangka, tiga puluh tahun kemudian, Barack Obama, menjadi Presiden USA. Tentu, Obama juga lupa dengan tulisan saat siswa SD saat itu. Namun, alam mendorong dan mengawal tulisan itu sampai yang menulis mewujudkannya.

Lihat pula, Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam, saat masih SMA selalu memakai baju kebesaran gubernur dengan warna putih-putih. Baju itu dipajang di lemari kaca dan tiap hari dilihatnya. Teman lain mencibir kelakuan Nur Alam itu. "Kau gila Nur Alam, mana mungkin kau bisa jadi gubernur karena bukan pegawai negeri," ujar kawannya. Nur Alam cuek saja. Seolah baju putih-putih itu adalah mimpinya meskipun menurut logika saat itu tidak mungkin. Tidak disangka, 15 tahun berikutnya, Nur Alam menjadi Gubernur Sulawesi Tenggara. Lagi-lagi, alam menangkap kehendak itu dan mendorong si pemakai baju putih-putih untuk menjadi gubernur yang sebenarnya. Allah maha tahu kepada manusia yang memunyai keinginan yang mendalam.

Berkas:Gubernur Sultra Nur Alam.png
Gubernur Nur Alam

 Lalu, teramat penting mimpi Presiden Joko Widodo untuk dikawal oleh semua anak bangsa agar ketika 2085 dapat terwujud dengan baik. Mimpi Jokowi itu sangat wajar ketika saat ini Indonesia mempunyai kelebihan yang masih tersembunyi. Pernik negatif yang ada selama ini merupakan warna proses perkembangan Indonesia untuk menjadi lebih baik.

Berikut 7 poin tulisan tangan Jokowi:
1. Sumber daya manusia Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia
2. Masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, dan menjunjung nilai-nilai etika
3. Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia
4. Masyarakat dan aparatur pemerintah yang bebas dari perilaku korupsi
5. Terbangunnya infrastruktur yang merata di seluruh Indonesia
6. Indonesia menjadi negara yang mandiri dan paling berpengaruh di asia pasifik
7. Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia

Ini Tulisan Tangan Jokowi yang Ditaruh di Kapsul Waktu: Impian Indonesia 2015-2085
 (sumber www.detik.com)

Sudah waktunya bangsa Indonesia berani bermimpi untuk masa depannya. Presiden Jokowi telah mewakili keberanian itu. Salut Pak Presiden! 

Selasa, 22 Desember 2015

Guru Hebat dan Perencanaan Pembelajaran



Perencanaan yang baik dapat diibaratkan sebagai kesuksesan yang mendekati. Begitu pula, keberhasilan pembelajaran dapat dimaknai dari kehebatan perencanaan yang dibuat oleh guru. Sebaliknya, pembelajaran yang acakadut biasanya didahului oleh perencanaan pembelajaran yang buruk. Lalu, bagaimanakah perencanaan pembelajaran yang bagus itu?

Perencanaan yang bagus ditandai oleh kelengkapan unsur, sistematis, kemenarikan isi, kesesuaian dengan tujuan, dan aplikatif. Kelengkapan unsur ditandai oleh keterpenuhan unsur tujuan, siswa, materi, strategi, media, dan evaluasi. Sistematis ditandai oleh keterhubungan unsur yang satu dengan yang lainnya sehingga membentuk keterpaduan. Kemenarikan isi lebih ditentukan oleh penggunaan jalinan isi yang dikemas dengan menarik dan menantang bagi daya belajar siswa. Kesesuain tujuan diwarnai oleh hubungan yang jelas dengan tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran yang telah digariskan dalam kjurikulum yang berlaku. Aplikatif bermakna bahwa yang direncanakan itu dapat diterapkan dengan baik tanpam kendala.

Ketika perencanaan dianggap penting bagi sebuah kesuksesan, pemahaman dan kemampuan memproduksi perencanaan yang baik sangat dipentingkan. Pemahaman dan kemampuan itu tentu saja tidak datang dari langit begitu saja. Pemahaman dan kemampaun merencanakan selalu bermula dari proses yang panjang dalam berpraktik. Oleh karena itu, guru yang hebat hendaknya senantiasa selalu berlatih membuat perencanaan. 

Perencanaan pembelajaran yang ada selama ini terlihat statis, tidak sistematis, tidak aplikatif, dan membingungkan arah karena dibuat secara parsial. Banyak perencanaan yang bersumber dari penggandaan dari perencanaan yang sudah ada alias copypaste. Guru yang terjebak pada tradisi copypaste selalu bermental jalan pintas, apa adanya, dan tidak mau susah-susah. Padahal, sebenarnya, guru tersebut memunyai kemampuan lebih namun mereka tidak yakin akan kemampuan sendiri. Guru seperti itulah yang dapat dikatakan sebagai perusak sistem pendidikan di Indonesia.

Sebaliknya, ada juga guru yang senantiasa mampu menunjukkan perencanaan yang baik. Kemudian, dalam pembelajaran, guru tersebut menunjukkan keberhasilan mengajar yang baik pula. Mereka yakin bahwa perencanaan mampu menentukan keberhasilan penerapan di kelas. Mereka juga yakin bahwa perencanaan dapat mengisi kekosongan berpikir ketika mengajar di kelas. Perencanaan yang dibuat dapat dipahami secara tersistem dan mudah diterapkan.

Ada empat modal untuk menjadi guru yang hebat terkait dengan perencanaan pembelajaran. Modal itu adalah fokus, lokus, modus, dan habitus. Fokus bermakna bahwa pembelajaran harus terpusat pada tujuan yang diharapkan secara rnci dan detail. Lokus artinya konteks pembelajaran menjadi perhatian penting dalam menyusun perencanaan, seperti kapan, di mana, siapa, apa, dan mengapa pembelajaran dilakukan. Modus adalah strategi dan metode yang dipakai dalam membuat perencanaan yang baik. Habitus adalah pembiasaan yang tiada henti dalam membuat perencanaan sampai mampu dengan otomatis dalam membuat perencanaan. 

Di era sekarang, tuntutan guru berkualitas sangat diharapkan. Guru yang setengah-setengah berkualitas atau tidak berkualitas sekaligus menjadi sampah yang perlu dipinggirkan. Kemudian, guru berkualitas dipantau dan dibantu dengan baik dalam memproduksi perencanaan. Indonesia memerlukan guru yang liahi dalam membuat perencanaan sehingga tetap sasaran.

Lalu, bagaimana kondisi perencanaan yang dibuat guru saat ini? Mengapa guru selalu dianggap memunyai kekurangan dalam membuat perencanaan? Bagaimana strategi yang hebat dalam membangun guru yang inspiratif? Pertanyaan itulah yang selama ini perlu dijawab dalam rangka menguatkan perencanaan yang dibuat oleh guru.

Jumat, 18 Desember 2015

Mendikbud Anies: Kurikulum 2013 Tetap Dilaksanakan Bertahap

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyesalkan manipulasi pemberitaan melalui media daring dan media sosial terkait penerapan kembali kurikulum tahun 2006 pada tahun 2016. Sementara berita tidak benar itu berasal dari tautan berita lama ( 2014) yang diunggah kembali. Ditemui usai menghadiri rapat kerja bersama dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI bertajuk Rancangan Anggaran 2016, Senin malam (14/12/2015), Mendikbud mengungkapkan, pemberitaan itu adalah manipulasi informasi, yang dapat menimbulkan kebingungan.
“Ini tindakan sangat tidak terpuji, manipulasi informasi, sedang dipertimbangkan untuk menempuh tindakan hukum,” ujarnya, di Jakarta, Senin malam (14/12/2015).

Sebagai informasi, ada beberapa situs dan akun media sosial Facebook yang gencar menghembuskan isu mengenai penerapan Kurikulum 2006 dengan  judul “Pemberitaan Semua Sekolah Wajib Kembali ke Kurikulum 2006, Mulai Semester Genap Tahun 2015". Pemberitaan tidak benar itu telah pernah diunggah pada awal Desember 2014, kemudian diunggah kembali pertengahan Desember 2015 sehingga mengesankan sebagai berita Baru mengenai kebijakan baru Kemendikbud.

Mendikbud mengungkapkan akan mempertimbangkan langkah hukum atas lansiran media daring yang berisi penerapan kurikulum tahun 2006 tersebut. “Kami mempertimbangkan langkah hukum karena diposting di website, pengunjung website jadi tinggi, rating iklan meningkat. Itu menjangkau yang salah, karena berita tidak benar”,  tegas Menteri Anies

Mendikbud menegaskan untuk tidak mengembalikan kurikulum kepada kurikulum tahun 2006. “Tidak pernah ada rencana (kurikulum) kembali ke tahun 2006, mengenai penerapan dua kurikulum itu adalah peralihan kurikulum ada periode transisi. Sehingga, ada sekolah yang secara bertahap menerapkan, ada yang belum”, jelas Mendikbud Anies.

Perkembangan penerapan kurikulum 2013, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 menjelaskan satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan Kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015 kembali melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 mulai semester kedua tahun pelajaran 2014/2015 sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk melaksanakan Kurikulum 2013. 

Batas waktu penggunaan kurikulum tahun 2006 adalah paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Sedangkan, satuan   pendidikan   dasar   dan   pendidikan   menengah   yang   telah melaksanakan Kurikulum 2013 selama 3 (tiga) semester tetap menggunakan Kurikulum 2013. Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang belum melaksanakan Kurikulum 2013 mendapatkan pelatihan dan pendampingan bagi kepala satuan pendidikan, pendidik, tenaga kependidikan, dan pengawas satuan pendidikan. Pelatihan dan pendampingan sebagaimana dimaksud adalah bertujuan meningkatkan penyiapan pelaksanaan Kurikulum 2013. (Sumber:  Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendibud, 15/12/2015)

Rabu, 28 Oktober 2015

Cara Mudah Kerjakan Soal UKG 2015

Jangan gentar dengan Uji Kompetensi Guru (UKG) yang disajikan oleh pemerintah. UKG itu semata-mata untuk kebaikan pendidikan di Indonesia. Asal Anda membaca permendikbud yang mengatur pendidikan, misalnya permendikbud 103 dan 104 tahun 2014 tentang pembelajaran dan penilaian lalu ditambah dengan pengalaman Anda mengajar, tentu soal paedagogis dapat terjawab. Lebih jauh, guru harus membaca aturan lainnya untuk memperkaya. Memang salah satu ugas guru adalah membaca, bukan? 

Kemudian, guru tentu memunyai keahlian sesuai dengan bidangnya. Kuatkan keilmuan guru untuk menjawab soal berkait dengan bidang studi. Lalu, apanya yang susah? Soal tentu tidak dibuat untuk menyakitkan guru. Soal dibuat sesuai dengan standar seorang guru.
Jadi, jangan takut dengan UKG. Uji Kompetensi Awal (UKA) bagi guru adalah untuk mengukur kompetensi dasar tentang bidang studi (subject matter) dan pedagogik dalam domain content. Kompetensi dasar bidang studi yang diujikan sesuai dengan bidang studi sertifikasi (bagi guru yang sudah bersertifikat pendidik) dan sesuai dengan kualifikasi akademik guru (bagi guru yang belum bersertifikat pendidik). Kompetensi pedagogik yang diujikan adalah integrasi konsep pedagogik ke dalam proses pembelajaran bidang studi tersebut dalam kelas.
Bagaimanakah rincian soalnya? Pengembangan instrumen UKA terdiri atas kisi-kisi dan butir soal. Soal UKA dikembangkan oleh Tim Ahli dengan bentuk soal obyektif tes jenis pilihan ganda dengan 4 opsi pilihan jawaban. Komposisi instrumen tes adalah 30% kompetensi pedagogik dan 70% kompetensi profesional dengan waktu pengerjaan soal ujian adalah 120 menit dan jumlah soal maksimal 100 butir soal. Kecuali guru Tuna Netra waktu yang diberikan 180 menit.
Peserta UKA hanya mendapatkan soal ujian sesuai dengan mata pelajaran yang telah ditentukan seperti tersebut di atas. Informasi mata uji peserta UKA masing-masing peserta dan kisi-kisi dapat dilihat pada laman http://sergur.kemdiknas.go.id atau pada beberapa links alternatif dari beberapa materi pelajaran di bawah ini :
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Administrasi Perkantoran
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Bahasa Indonesia
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Bahasa Inggris
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Biologi
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Broadcasting
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Fisika
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 IPA
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 IPS
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Kecantikan
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Kimia
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Matematika
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Pariwisata
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 PAUD
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Penjaskes
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 PKn
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Sejarah
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Sekolah Dasar / SD
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Seni Budaya
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Seni Patung
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 SLB
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Sosiologi
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Tata Boga
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 Tata Busana
- Download Kisi-kisi UKA / UKG Tahun 2015 TIK

Selamat mempersiapkan diri. Garduguru turut berdoa agar guru-guru senantiasa sukses segalanya. UKG jangan menjadi beban tetapi harus menjadi pemicu semangat untuk berkarya demi Indonesia yang lebih berjaya. Lakukan persiapan, baca segala informasi terkait dengan isi soal, latihan soal, dan berangkat dengan hati senang akan menguatkan keberhasilan Anda.

Cita-Cita Anak Bergantung pada Informasi yang Didapatnya

Benarkah cita-cita seorang anak murni datang dari seorang anak secara serta merta? Rasanya tidak serta merta tetapi berawal dari informasi keteladanan yang diperolehnya, baik dari mendengarkan, melihat, membaca, maupun berdisikusi dengan orang lain. Untuk itu, semakin anak mendapatkan informasi yang lengkap tentang keberhasilan seseorang dalam hidupnya, semakin anak akan bercita-cita dengan bagusnya. Sebaliknya, semakin anak tidak mendapatkan informasi apa-apa, semakin dia tidak mempunyai cita-cita yang jelas dan bagus.

Ada kisah nyata. Di siang hari, di Konjen RI Los Angeles, Oktober 2015, Kepala Konjen Bapak Umar Hadi menanyai cita-cita pramuka (anak-anak) yang datang ke Konjen itu. Hasilnya tidak ada satu pun yang menjawab tentang cita-cita sebagai diplomat. Bapak Umar Hadi menggeleng-gelengkan kepala sambil berucap, "Mengapa tidak ada yang bercita-cita sebagai diplomat?"

Lalu, Bapak Umar Hadi menjelaskan tugas seorang diplomat dengan menariknya. Setelah menjelaskan tugas seorang diplomat itu, Umar Hadi kembali menanyakan, "Ada nggak yang bercita-cita diplomat?" Langsung ada dua anak yang mengacungkan tangan kalau ia bercita-cita sebagai diplomat. Umar Hadi masih terus bercerita lagi tentang tugas juru damai atau sang diplomat. Kemudian, dia menanya lagi tentang cita-cita anak-anak terkait dengan diplomat. Yang mengangkat tangan lebih banyak lagi.

Nah, terlihat bahwa cita-cita anak-anak bergantung pada informasi yang diperolehnya. Semakin anak banyak menerima informasi tentang dunia pekerjaan ang bagus-bagus tentu semakin anak memunyai pilihan yang menarik. Untuk itu, berilah anak-anak ragam informasi pekerjaan.

Guru di kelas jangan sampai memberikan informasi ketokohan dengan cara terbatas. Berceritalah tentang aneka macam pekerjaan yang menyenangkan. Berilah keunikan yang muncul dari sebuah pekerjaan. Niscaya, pekerjaan anak kelak akan lebih beragam dan inovatif. Buku-buku tentang keteladanan berikan dengan baik.

Selasa, 27 Oktober 2015

Sang Profesor: Pedang di Kanan, Keris di Kiri



Oleh Suyatno

Chairil Anwar, dalam puisi Diponegoro, menggunakan pilihan kata pedang di kanan, keris di kiri untuk menggambarkan kesiapsediaan seseorang dalam menghadapi tantangan dengan senjata yang lengkap di semua lini. Menurut sastrawan dari Tanah Deli itu, semangat berjuang yang hebat harus meledak-ledak bagaikan bara menjadi api. Selayaknya, semangat seseorang dalam menghadapi situasi seberat apapun harus tangguh dengan jiwa berani. Masyarakat Jawa, jauh sebelum Chairil Anwar di tahun 1945-an, juga sudah mengenal semangat tinggi dengan pepatah rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Penyanyi dangdut Meggie Z. melantunkan lagu percuma saja berlayar kalau kau takut gelombang, percuma saja bercinta kalau kau takut sengsara untuk menggambarkan keharusan seseorang untuk berani menghadapi tantangan. Orang Surabaya lebih mengenal kalah cacak, menang cacak untuk menguatkan keberanian dirinya.

Pedang di kanan, keris di kiri terasa layak jika disematkan ke sosok guru besar saat ini. Sosok yang berada di jabatan tertinggi dari komunitas dosen itu telah mempunyai senjata lengkap, selengkap kapal dengan lautnya. Senjata lengkapnya adalah predikat guru yang besar di pundaknya. Berkah pengiringnya adalah tunjangan yang berlebih daripada tunjangan pengajar mahasiswa di bawahnya. Situasi untuknya adalah peluang yang besar untuk melakukan penelitian sebidangnya. Lalu, mitosnya adalah penemu sesuatu yang berguna bagi masyarakatnya.

Sejarah tentu mewarnai dinamika sang guru besar. Dari waktu ke waktu, dari segala negara dan bangsa, sosok profesor diberikan arti yang mengunci predikatnya. Temuan demi temuan banyak yang berasal dari tangan ketekunannya. Teori demi teori mengalir deras dari sentuhan pikirannya. Konsep demi konsep terbingkai dari pandangannya. Pembaharuan memang selayaknya bersumber dari aliran deras gagasannya. Sebut saja, Prof. Charles Darwin dikenal karena teori evolusi. Prof. Enstein mengibarkan teori relativitas. Prof. Rene Wellek mengembang dengan teori intrinsik dan ekstrinsik sastra. Begitu pula, guru besar lainnya memberikan arti dalam dunia kehidupan akademik dan nonakademik.

Ibarat patah tumbuh hilang berganti, gerbong guru besar selanjutnya tentulah tidak akan pernah menapikkan arti sesungguhnya dari mitos yang telah berkembang di masyarakat. Gerbong itu adalah sosok guru besar baru atau muda yang seharusnya mempunyai rasa rindu dengan warna guru besar pendahulunya. Tangan akan ditutupkan ke muka jika tidak melakukan apap-apa padahal guru besar terdahulu memberikan apa-apa. Mereka rindu akan pertumbuhan kualitas hidup akibat kiprahnya. Mereka akan resah jika tidak memberikan sebungkus guna di gerbang penampakan orang lain. Lalu, mereka akan dimurkai oleh mitos sendiri jika tidak memberikan temuan apapun namanya. 

Air yang sibuk menandakan tidak dalam. Air yang tenang memberikan kedalaman. Jika kesibukan rutinitas bertubi-tubi dengan irama mekanik, tentu, kesibukan itu menandakan permukaan. Badan lelah, pikiran kusut, tulang nyeri, dan kaki kaku mengental dalam diri yang bertugas mekanikal yang rutin tanpa berada di kedalaman. Kesibukan lalu menjerat kiprah sang inovator dan kreator kehidupan. Janganlah sampai, sosok guru besar terlalu asyik dengan mekanikal yang menutup kelambu kesejatian fungsi dan manfaat penyandang yang dimilikinya. Ketenangan yang beriringan dengan konsentrasi keilmuan dalam gagasannya harus dimunculkan dengan kesengajaan agar didapat kedalaman. Ujung-ujungnya, kedalaman itu akan memberikan jalan bagi sebuah kapal besar yang akan melintasinya. 

Unesa adalah sebuah kapal besar yang memerlukan penanda-penanda besar pula. Penanda besar itu diharapkan sanggup menarik kepedulian khalayak untuk memanfaatkan Unesa. Penanda besar itu tentu akan dapat diberikan oleh orang yang berjiwa besar. Dia mempunyai pemikiran besar. Tatapan hidupnya untuk sebuah kebesaran lembaga. Dialah sang guru besar. 

Setakat ini, keberhasilan besar dari sebuah kiprah sosok guru besar sangat dinanti-nanti. Karena waktu memang menyatakan sudah saatnya, momentum kiprah memang juga seharusnya dikibarkan. Karena jalan sudah diperhalus, sudah saatnya mobil melintas sesuai fungsinya. Karena kolam sudah dibangunkan, sudah saatnya ikan memberikan gerakan menariknya. Itulah saat yang tepat untuk memberikan rasa mantap. Memang, guru besar sudah berada di saatnya memberikan manfaat yang sebenar-benarnya manfaat. **