Senin, 22 Maret 2010

Belajarlah agar Otak Tidak Berkerut

Selama ini ada ungkapan terlalu banyak belajar bisa bikin otak panas. Tapi makin banyak belajar justru bisa membuat otak manusia tetap sehat bukan keriting. Otak yang terus berpikir mencegah efek penuaan pada memori dan pikiran.

Peneliti neurobiologis dari UC Irvine menunjukkan bukti visual pertama yang menunjukkan bahwa kegiatan belajar bisa membantu menjaga kesehatan otak bukannya membuat otak keriting. Penelitian ini menggunakan teknik visualisasi model belajar dalam menyusun memori.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Lulu Chen dan Christine Gall menemukan bahwa bentuk-bentuk pembelajaran sehari-hari dapat membantu neuron reseptor menjaga sel-sel otak agar tetap berfungsi secara optimal.

Reseptor ini diaktifkan oleh protein yang disebut dengan brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein ini memfasilitasi pertumbuhan dan perbedaan koneksi atau sinapsis yang bertanggung jawab terhadap komunikasi antar neuron. Sedangkan protein BDNF berfungsi sebagai kunci dalam hal pembentukan ingatan.

"Hasil penemuan ini menunjukkan hubungan antara pembelajaran dengan pertumbuhan otak, sehingga kita dapat memperkuat hubungan tersebut yang memungkinkan terciptanya pengobatan untuk masa depan," ujar Lulu Chen, peneliti lulusan anatomi dan neurobiologi, seperti dikutip dari ScienceDaily, Kamis (4/3/2010).

Peneliti juga menemukan bahwa proses ini berkaitan dengan proses pembelajaran yang berhubungan dengan ritme otak yang disebut dengan ritme theta, irama ini penting dalam hal pengkodean memori baru.

Ritme theta terjadi di daerah hippocampus yang melibatkan banyak neuron yang dapat menembak secara serentak dengan tingkatan 3-8 kali per detik, serta menjadi mekanisme seluler yang mendasari proses pembelajaran dan memori.

"Hubungan ini memiliki implikasi untuk menjaga kesehatan otak agar tetap baik. Terdapat bukti bahwa ritme theta akan melemah saat usia seseorang bertambah sehingga menyebabkan gangguan memori. Karena itu aktivitasnya harus dirangsang agar tidak melemah dan lajunya tetap konstan, sehingga membatasi penurunan memori," ujar Christine Gall, seorang profesor anatomi dan neurobiologi.

Dengan seringnya seseorang mempelajari sesuatu, maka akan membuat pertumbuhan otak tetap sehat. Selain itu rangsangan mental akan membantu mencegah kepikunan.(Sumber: Detik.com/ver/ir)

Belajar Lewat DVD Kadang Memperburuk Hasil Belajar

Orangtua sering membelikan anaknya DVD untuk membantunya belajar mengenal huruf atau angka. Namun laporan yang muncul justru menunjukkan tidak adanya tanda-tanda peningkatan kemampuan belajar pada anak lewat cara itu.

Anak-anak usia 12-24 bulan yang belajar melalui video pendidikan, secara keseluruhan tidak menunjukkan bukti adanya peningkatan pembelajarannya dalam hal bahasa atau kata-kata. Hasil ini dilaporkan dalam Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine.

Anak di bawah 2 tahun setiap harinya bisa menghabiskan waktu sekitar 2 jam berada di depan televisi. Rata-rata anak ini menonton program yang dirancang untuk kelompok usia 6 bulan. Produsen mengklaim bahwa media ini bisa mengarahkan anak-anak untuk belajar mengenai kosa kata, tapi hal ini belum terbukti.

Rebekah A. Richert, Ph.D dan rekannya dari University of California, Riverside menganalisa kemampuan kosakata dari 96 anak usia 12-24 bulan.

Anak-anak itu diuji mengenai pengukuran kosakata serta perkembangannya secara umum dan pengasuhnya juga ditanya mengenai perkembangan anak-anaknya sebelum dan sesudah menonton video pendidikan. Setengah dari anak-anak ini diberi DVD pendidikan untuk ditonton di rumah.

Setelah dilakukan tes selama 6 minggu, peneliti tidak menemukan bukti adanya peningkatan pembelajaran pada anak yang diberikan video pendidikan. Tapi didapatkan data bahwa anak yang menonton video pada usia terlalu dini justru memiliki skor lebih rendah dalam hal pengetahuan kosakata.

Diduga keterlambatan perkembangan bahasa anak yang menonton DVD karena hanya terjadi komunikasi satu arah saja yaitu anak hanya mendengar dan melihat.

Sedangkan yang dibutuhkan oleh anak dalam tahap perkembangannya adalah komunikasi dua arah yang bisa mendorong anak untuk berlatih mengucapkan kosa kata tersebut.

Jika menonton video saja, sangat kecil bayi ikut terlibat mengucapkan dan mengingat kosa kata sehingga tidak mungkin bisa meningkatkan perkembangan bahasanya. Tetap saja diperlukan pengasuh yang membantu anak mempelajari kata-kata tersebut.

"Kami menyimpulkan bahwa orangtua, praktisi dan pembuat program juga mempertimbangkan berbagai faktor kognitif yang berkaitan dengan perkembangan anak, sehingga proses pembelajaran bisa sesuai dengan yang diharapkan," ujar penulis, seperti dikutip dari ScienceDaily, Jumat (5/3/2010).

Anak-anak usia tersebut masih butuh mengembangkan kemampuan untuk dapat membedakan banyak hal dan pemahamannya terhadap simbol-simbol tertentu. Karena itu peran orangtua dan pengasuh tetap diperlukan untuk perkembangan anak, serta jangan membiarkan anak belajar sendiri hanya melalui video pendidikan saja.

Penelitian ini sebenarnya tidak jauh beda dengan penelitian yang dilakukan oleh Jean Gross yang menemukan bahwa sebesar tiga persen dari bayi yang memiliki masalah kesulitan bicara disebabkan karena terlau banyak menonton televisi.

(ver/ir)

Sisi Lemah Laptop dibawa ke Kelas

Tidak bisa dipungkiri bahwa laptop menunjang proses pembelajaran mahasiswa. Namun, setelah diketahui bahwa piranti tersebut ternyata dinilai mengganggu, sejumlah institusi pendidikan di Amerika Serikat mulai memblokir masuknya komputer jinjing itu ke dalam kelas.

Adanya koneksi wireless telah mengalihkan konsentrasi siswa pada YouTube, hasil pertandingan olahraga, hingga game online di layar laptop mereka. Salah seorang profesor yang mengetahui soal ini dan akhirnya memblokir masuknya laptop di kelasnya ialah David Cole yang mengajar ratusan mahasiswa hukum di Georgetown, Washington.

Alih-alih mengijinkan mahasiswanya membawa laptop, Cole malah menganjurkan mereka untuk membawa catatan saja. George Washington University adalah salah satu dari sederet universitas yang melakukan hal ini selain American University, College of William and Mary, dan lainnya.

Bahkan salah satu profesor dari Universitas Colorado, Diane E. Sieber, mengungkap bahwa nilai yang didapat 17 orang siswanya yang kecanduan laptop di kelas begitu buruk.

Dikutip detikINET dari Washington Post, Kamis (11/3/2010), di akhir semester, nilai akhir siswa-siswa tersebut ternyata diketahui hampir sama dengan mahasiswa yang tidak masuk kelas sama sekali.

Meski banyak yang tidak menyetujui masuknya laptop ke dalam kelas, namun masih banyak juga profesor yang mengijinkan penggunaan piranti itu saat kelas berlangsung. Mereka yang pro beralasan, perhatian kelas adalah tanggung jawab dari dosen dan bukannya 'menyalahkan' laptop. (sumber: Detik.com/sha / ash)

Rabu, 24 Februari 2010

Anak Jalanan dan Eksklusi Sosial

Oleh John Haba, Peneliti PMB-LIPI
(Sumber : Suara Pembaruan, 26 Januari 2010)

Anak jalanan (anjal), sudah lama menyita perhatian penentu kebijakan di Departemen Sosial dan pemerintahan daerah di kota-kota besar. Diasumsikan, jumlah anjal di 12 kota besar di Indonesia sebanyak 100.000 jiwa tahun 2009, dan jumlah terbesar diperkirakan berada di Ibukota. Anjal selalu terkait dengan kriteria yang dikenakan kepada mereka oleh pemerintah, yaitu anak yang berusia 5-18 tahun, yang menghabiskan sebagai besar waktunya di jalan, untuk mencari nafkah, atau berkeliaran di jalan raya atau tempat-tempat umum. Waktu yang dihabiskan sekitar 4 jam per hari, pola pengalokasian waktu serupa terus dilakukan hingga mereka menemukan sumber nafkah lain, atau lingkungan sosial yang dapat menampung mereka.

Eksistensi anjal terpaut dengan perlakuan dan kondisi dalam keluarga, kemiskinan, perceraian orangtua, minimnya perhatian dari lingkungan sosial, dan tendensi memprioritaskan uang dari pada bersekolah atau melakukan kegiatan lain. Terdapat empat tipe anjal yaitu: anjal yang masih tinggal dengan orangtua, anjal yang memiliki orangtua tetapi tidak tinggal dengan mereka, anjal yang tidak memiliki orangtua, tetapi tinggal dengan keluarga tertentu, dan anjal yang tidak memiliki orangtua dan tidak tinggal dengan keluarga. Pekerjaan utama anjal adalah pengamen, ojek payung, pengelap mobil, pembawa belanja di toko atau pasar dan peminta-minta.

Fenomena anjal ini serta-merta membangun pertanyaan, siapakah sejatinya yang mesti bertanggung jawab atas mereka? Undang-Undang Dasar 1945 hasil amendemen, Pasal 34 Ayat 1 menyebutkan bahwa "Fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara". Diktum konstitusi ini jelas memberikan kewenangan pada negara untuk mengurus dan bukannya untuk menangkapi anjal. Atensi utama pada pemeliharaan, penanganan dan pemberdayaan, tampaknya belum dipahami secara merata di semua instansi pemerintah tentang mandat konsitusi untuk memperhatikan kelompok marginal; seperti fakir miskin dan anak telantar. Landasan konstitusional dengan indikator terukur tersurat dalam Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 34 Ayat 2 bahwa "Negara mengembangkan suatu jaringan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan".

Eksklusi Sosial

Prioritas konstitusional agar negara berperan aktif dalam membanguan manusia agar lebih bermartabat, menjadi antitesis dengan kondisi objektif mutu hidup manusia Indonesia saat ini, dan secara khusus masa depan dan perlakuan terhadap anjal. Martabat (integrity) manusia Indonesia menjadi buram karena balutan kemiskinan, dan mutu hidup mayoritas manusia Indonesia yang masih di bawah standar minimum. Di Indonesia, jaringan sosial sangat minim dikembangkan lintas institusi negara, institusi keagamaan, institusi etnis, dan institusi golongan. Penangan fakir miskin dan anjal masih menjadi dominasi lembaga pemerintah (Kementerian Sosial); dan institusi lainnya didaulat untuk ikut berpartisipasi, sebab ketiadaan dana, daya dan sumberdaya manusia yang memadai. Sekat-sekat kelembagaan dalam menangani kelompok marjinal, seperti anjal tampaknya belum berubah sejak rezim Orde Baru, di mana hegemoni dan dominasi negara begitu menonjol.

Keberadaan anjal dan fakir miskin tidak terlepas dari peranan dan kebijakan negara, yang belum tuntas dan komprehensif ditangani. Keberpihakan negara terhadap para pemilik modal, penguasa dan makelar tanah dan makelar kasus, tanpa berpihak pada anjal dan kelompok marjinal, berdampak pada semakin banyaknya warga negara Indonesia yang hidup tanpa martabat. Integritas tidak selalu harus dipertautkan dengan kepemilikan material, tetapi martabat mempunyai kaitan dengan hak-hak dasar manusia untuk diperlakukan dan ditangani secara manusiawi. Kebijakan yang berpihak kepada kelompok penguasa dan para kapitalis merupakan sumber bencana sosial, yang tidak kalah dahsyatnya dari bencana alam. Proses peminggiran masyarakat secara sistematik jelas tampak pada keberpihakan pemerintah pada para elit dan pemilik modal, dan menomorduakan Anjal dan fakir miskin. Proses yang direncanakan atau tidak direncanakan masuk ke ranah eksklusi sosial dengan dampak masif dan sulit diatasi, sebagaimana tantangan anjal bagi pemerintah saat ini.

Ambiguitas pendekatan terhadap anjal masih terasa parsial dan mengedepankan ego sektoral setiap institusi, yang belum sanggup disinergikan menjadi satu kekuatan nasional, untuk memerangi akar kemiskinan dan eksklusi sosial yang semakin parah. Program inklusi sosial untuk membawa balik anjal ke lingkungan hidup yang memadai sangat minim, dan penanganan saat ini terkesan kosmetik, dan tidak membedah akar permasalaham eksklusi sosial, termasuk anjal. Fungsi "Rumah Singgah" sebagai wadah berkumpul anjal hanyalah program sejenak dan tidak akan mereduksi akumulasi anjal, apabila kebijakan yang "pro poor", program inklusif bagi anjal dan fakir miskin tidak tersinergikan secara nasional, maka program penanganan Anjal akan terkesan populis. Nyatanya, keberadaan Anjal dan fakir miskin di Indonesia adalah juga buah dari pembangunan nasional yang parsial, temporer, dan sektoral semata.

Tips Kecil untuk mengencerkan Otak Siswa

Para ilmuwan dari University of California, Berkeley, AS, pernah meneliti otak tikus. Mereka menemukan, otak tikus tumbuh sebesar 4 persen saat mereka dipaksa menjalankan tugas mental setiap hari, misalnya mencari jalan keluar dari lorong yang berliku, memanjat tangga, dan bersosialisasi dengan tikus lain.

Nah, otak tikus saja bisa dilatih untuk tumbuh, apalagi otak manusia. Makin dilatih, otak kita pasti kian tajam. Kehilangan daya ingat dalam jumlah tertentu pada usia berapa pun adalah wajar, sama seperti terjadinya perubahan pada organ tubuh lain. Yang penting, jangan malas untuk rajin melatih otak kita agar daya ingat tetap kuat sepanjang masa.

Ini caranya:
1. Latih kemampuan mengamati. Perhatikan lingkungan sekitar. Rekam dalam pikiran apa yang Anda lihat, mulai dari yang paling sederhana dan diteruskan dengan observasi yang lebih rumit.

2. Asah indra. Bisa dilatih dengan membedakan rasa makanan yang disukai dan yang tidak. Menyadari bau dan aroma di sekitar atau bunyi-bunyian yang ada di jalan atau mungkin rasa panas atau dingin udara di sekitar Anda.

3. Hafalkan nama teman-teman dan pasangkan nomor teleponnya. Ada berapa yang bisa diingat? Latih supaya bisa mengingat lebih banyak.

4. Pelajari sesuatu yang baru. Banyak membaca dan berkenalan dengan hal-hal lain yang mungkin bukan bidang Anda, bisa bahasa asing, pengetahuan tentang komputer, dan lain-lain.

5. Gunakan tangan supaya mengikuti petunjuk otak. Misalnya bermain gitar, mengetik tanpa melihat tuts, mengerjakan prakarya dari kayu, atau berlatih menulis halus.

6. Tekuni hobi. Gunakan kesempatan untuk mengembangkan hobi Anda.

7. Pelajari dan hafalkan tanggal-tanggal penting, menyangkut anggota keluarga, teman, atau perayaan tertentu.

8. Hafalkan sesuatu yang Anda sukai. Bisa jadi itu puisi, lagu, kalimat dari sebuah buku atau kata-kata seseorang. Sebisa mungkin juga usahakan agar kalimat yang digunakan adalah bahasa asing.

9. Latihan menghafal urutan angka berderet panjang, misalnya 32145687390282930498. Ini adalah bentuk latihan memperbaiki daya ingat jangka pendek. Lakukan dengan mengelompokkan atau memecah bilangan itu menjadi beberapa bagian, misalnya 3214568 kemudian 7390282 dan terakhir 930498.

10. Ingat perjalanan pribadi. Apa yang sedang Anda kerjakan satu jam lalu, minggu lalu pada hari Rabu pukul 10.00, misalnya. Dengan siapa, di mana, dan seterusnya.

11. Ingat dan teliti ulang pengeluaran harian. Apa yang Anda beli kemarin? Berapa uang yang ada dalam dompet Anda sekarang? Kapan Anda terakhir mengambil uang tunai, dan seterusnya.

Latihan-latihan ini akan memungkinkan sel otak tetap aktif dan jaringan penghubung antarsel otak semakin rapat. Kegiatan mental yang menantang meningkatkan jumlah sirkuit aktif atau sinapsis dalam otak. Semakin banyak sirkuit, semakin banyak asosiasi, makin besar pula kemampuan mengingat. @ (sumber: Kompas. com/abd)

Sabtu, 13 Februari 2010

PAUD: Bermainlah Jangan Memberikan Pelajaran

Munculnya beragam sarana belajar prasekolah membuat orangtua seakan berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sana. Sayangnya tidak semua tempat tersebut memberi pengajaran sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Dikhawatirkan, hal ini bisa mengganggu perkembangan anak itu sendiri.

Usia 0-5 tahun dianggap sebagai masa kritis bagi anak. Masa tersebut sering diistilahkan sebagai golden years atau tahun emas bagi anak. Ini berarti bila pada usia tersebut diajarkan suatu nilai atau perilaku, ajaran tersebut akan lebih mudah diterima dan diserap oleh sang anak.

Tak heran kalau banyak orangtua kemudian mulai menyekolahkan anaknya sedari dini. Ketatnya persaingan untuk bisa masuk sekolah unggulan membuat orangtua merasa perlu mempersiapkan pendidikan yang lebih bagi anaknya.

Hal ini tidak sepenuhnya salah. “Hanya, prinsip mengikuti perkembangan anak tetap harus dipegang. Dengan begitu, orangtua tahu materi apa yang perlu diajarkan sesuai dengan usianya,” ujar Dra. Ike R. Sugianto, Psi., psikolog anak dari Klinik Anakku Jakarta.

Proses belajar bagi anak usia prasekolah, 0-6 tahun bukan dikategorikan sebagai belajar sesungguhnya yang meliputi membaca, menghitung, dan menulis. Bagi anak seusia tersebut, metode pengajaran harus dalam kerangka bermain.

Meski begitu, merangsang dan memperkenalkan pengetahuan dan keterampilan baru tetap bisa dilakukan. Anak bisa diperkenalkan pada olahraga hingga seni.

Lewat Permainan
Menstimulasi anak dengan pengetahuan sedari dini pun sebaiknya dilakukan tanpa paksaan. Cara mengajar yang benar, seperti lewat beragam permainan dan disesuaikan dengan kemampuan serta perkembangannya, akan membuat anak suka dan malah haus belajar.

Namun, kerap tidak disadari bahwa proses belajar yang tidak mengikuti perkembangan akan berdampak tidak baik bagi anak. Sebaliknya, bila pada masa itu anak mendapat stimulasi yang baik, perkembangannya pun akan menjadi baik. Stimulasi di usia dini dibutuhkan guna merangsang seluruh aspek yang ada pada anak. Maksudnya supaya talenta yang ada pada anak bisa dioptimalkan.

Salah satu bentuk rangsangan tersebut adalah lewat permainan. Menurut Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSi., psikolog anak dari Lembaga Psikologi Terapan UI, bermain merupakan dunia kerja anak usia 0-6 tahun yang tergolong dalam early childhood atau anak usia dini.

Bermain termasuk rangsangan utama dalam perkembangan anak. Dengan bermain, secara tidak langsung anak belajar sesuatu. Bermain sambil belajar ini sesungguhnya bisa dilakukan sendiri oleh orangtua di rumah. Namun, karena keterbatasan pengetahuan dan waktu, orangtua lantas mengalihkannya ke sebuah lembaga.

“Jadi, kalau ditanya apakah sekolah itu bagus bagi anak usia dini atau tidak, saya akan bilang bagus. Tentu saja selama metodenya benar,” ujar Ike.

Maksudnya, cara-cara yang diajarkan untuk anak berusia tiga tahun harus berbeda dengan yang berumur 5 tahun. Tidak boleh disamaratakan. Sebab, bila pendekatan yang diberikan sudah salah, anak tidak dapat berkembang dengan baik.

Harus Berjenjang
Pola stimulasi yang dilakukan terhadap anak juga harus dibedakan berdasarkan usia. Misalnya saja untuk belajar menulis. Sebelum menulis, anak harus dipersiapkan terlebih dahulu.

Caranya adalah dengan memberi rangsangan bagi anak usia 0-3 tahun agar koordinasi tangan menjadi lebih bagus. Hal ini bisa dilakukan dengan misalnya mengajak bermain lilin, memindahkan kancing, atau menyendok pasir.

Kemudian pada usia 3-4 tahun, anak mulai belajar memegang pensil. Anak usia ini juga bisa diajarkan untuk menyambung dua titik. “Tidak bisa misalnya anak berusia dua atau tiga tahun tiba-tiba sudah dipaksa untuk menulis. Bila hal ini terjadi, anak bisa stres dan akhirnya takut menulis,” kata Ike.

Itu sebabnya, Ike mengingatkan pentingnya stimulasi seluruh aspek yang ada pada anak secara berjenjang. Untuk bisa membaca dan menulis dibutuhkan banyak komponen, seperti koordinasi motorik halus dan kemampuan persepsi visual.

Obsesi orangtua yang menginginkan anaknya pintar membaca, menulis, dan berhitung juga mengambil porsi kesalahan dalam pendidikan prasekolah. Menilik alasannya, orangtua berharap agar anaknya sudah siap saat harus masuk sekolah dasar. Apalagi, saat ini banyak sekolah dasar yang melakukan tes masuk.

Tentu saja hal ini tidak tepat. Menurut Cara Djalil, Kepala Sekolah Kisdports Pondok Indah, Jakarta, biarlah proses belajar yang menyangkut membaca, menulis, dan berhitung dilakukan saat anak masuk sekolah dasar.

Belum Ada Kurikulum
Inti dari pendidikan prasekolah memang bermain dan bukan belajar. Dalam permainan itu tentu bisa saja disisipkan pembelajaran. Contohnya, saat anak bermain pasar-pasaran, tanpa disadari mereka mempelajari proses jual beli. Tidak hanya itu, mereka juga belajar mengenal sayur, buah, atau barang-barang yang ada di pasar, selain tentunya belajar berkomunikasi.

Sayangnya, sejauh ini menurut Ike, belum ada kurikulum nasional untuk masa prasekolah. Kondisi tersebut pula yang membuat kurikulum di setiap sekolah usia dini berbeda-beda. Tak sedikit dijumpai adanya tambahan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Mandarin bagi anak-anak prasekolah. Padahal, pemberian bahasa kedua bagi anak usia 0-7 tahun tidak sepenuhnya tepat.

“Saya tetap berpatokan bahwa bahasa ibu harus dikuasai terlebih dahulu. Setelah itu baru bisa mempelajari bahasa lain. Dan hal ini berlaku bagi anak yang tidak mempunyai gangguan verbal atau bahasa,” papar Ike. Dikhawatirkan ada anak-anak yang memiliki gangguan komunikasi, sehingga tidak bisa merangkai kata-kata dengan baik.

Banyak hal yang bisa didapat dari pendidikan prasekolah. Selain belajar bersosialisasi, anak juga belajar mengikuti instruksi secara massal serta melatih disiplin. Keadaan tersebut umumnya kadang tidak didapat dari pendidikan di rumah. Menurut lulusan Fakultas Psikologi UI ini, “Ya, kalau bisa dituntun secara detail dan disiplinnya pun diajarkan dengan baik di rumah, sebenarnya tidak ada masalah lagi.” @ Diana Yunita Sari

Calistung (Membaca, Menulis, dan Berhitung) Jangan Diajarkan di TK

Pengenalan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak diperkenankan untuk diajarkan secara langsung sebagai pembelajaran kepada para anak didik di taman kanak-kanak.

Calistung harus dalam kerangka pengembangan seluruh aspek tumbuh kembang anak, dilakukan sambil bermain, dan disesuaikan dengan tugas perkembangan anak. Selain itu, juga tidak dibenarkan siswa TK dites dan diuji terlebih dulu untuk melanjutkan ke tingkat sekolah dasar.

Demikian ditegaskan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Suyanto kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (12/2/2010), terkait adanya pembelajaran calistung di TK dan tes uji anak didik TK sebelum masuk SD, terutama di sekolah-sekolah swasta.

"Tidak boleh ada calistung di TK kecuali diajarkan hanya pada tataran pedagogis saja, dan tidak benar kalau ada sekolah yang memberikan tes. Itu bukan praktik yang baik," ujar Suyanto.

Suyanto menuturkan, seperti tertuang dalam Surat Edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/wali kota di seluruh Indonesia, TK seharusnya hanya menciptakan lingkungan yang kaya dengan beragam bentuk keaksaraan yang akan lebih memacu kesiapan anak didiknya untuk memulai kegiatan calistung di tingkat lanjutan, yaitu sekolah dasar.

Dia menambahkan, pendekatan bermain sebagai metode pembelajaran di TK hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia dan kemampuan anak didik, yaitu secara berangsur-angsur dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih dominan) menjadi belajar seraya bermain (unsur belajar mulai dominan).

"Jadi, semacam tingkat persiapan sehingga anak didik tidak merasa canggung untuk menghadapi pendekatan pembelajaran pada jenjang pendidikan selanjutnya di SD," ujarnya.

Super Teacher Digagas Mahasiswa

Sekali menjadi guru, jadilah guru yang sebenar-benarnya guru. Jangan setengah-setengah atau hanya seolah-olah menjadi guru. Itulah yang dikehendaki mahasiswa FBS Unesa Surabaya sehingga muncul acara seminar nasional "Menjadi Guru kreatif, inovatif, dan inisiatif".

Seminar yang dilaksanakan Minggu, 13 Februari di Gedung Sawunggaling Kampus Unesa di Lidah Wetan menghadirkan pakar pendidikan Dr. Suyatno, M.Pd.; pakar budaya, Prof. Dr. Budi Darma, M.A.; dan pakar enterpreneur pendidikan Guntur dari UKM di Surabaya. Peserta yang 700 orang itu terpukau dan merasa yakin menjadi guru yang benar-benar guru.

Pada kesempatan itu pula, hadir rektor Unesa yang memberikan sambutan dan sekaligus membuka seminar. "Pendidikan harus berada di jalur pembentukan karakter bangsa dan budi pekerti yang akhlakul karimah", kata Prof. Dr. Haris Supratno, rektor Unesa.

Jumat, 05 Februari 2010

IPDN Reformasi Pola Pendidikannya

Reformasi di internal IPDN terjadi setelah mencuatnya kabar tewasnya praja IPDN, Cliff Muntu, pada 2007 silam. Peristiwa ini menyentakkan publik, termasuk presiden ketika itu. Melalui rapat kabinet, kemudian diputuskan beberapa kebijakan mendasar, diantaranya merubah kurikulum IPDN dan menghentikan penerimaan praja baru selama setahun.

Kini Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) terus berbenah diri. Perbaikan kurikulum pengajaran disempurnakan untuk menghilangkan praktik kekerasan yang selama ini telah dianggap sarat dengan IPDN. Jadi, kini sudah ada kurikulum pengajarannya sendiri, begitu juga pengasuhan dan pelatihannya.

Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi, di Sumedang, Kamis (4/2/2010) menuturkan, kurikulum pengajaran di IPDN kini telah dirombak total dari tiga tahun sebelumnya. Hubungan antara aspek akademik serta pengasuhan yang dulunya saling mengintervensi, kini menjadi saling mengisi.

"Jadi, kini sudah ada kurikulum pengajarannya sendiri, begitu juga pengasuhan dan pelatihannya. Pola hubungannya konsentrat, saling mengisi satu sama lainnya. Dahulu kan hanya bersinggungan. Makanya sering terjadi bentrokan satu sama lain, saatnya kuliah malah bentrok dengan pengasuhan, dan lain sebagainya," paparnya.

Dengan pola kurikulum yang baru ini, aspek pengajaran, pengasuhan dan pelatihan ditempatkan sama-sama pentingnya. Dahulu, sebelum sistem kurikulum IPDN dirombak total, yang lebih mendominasi adalah pengasuhan. Aspek yang satu ini menguasai lebih separuh waktu praja di lingkungan kampus.

"Sekarang, pengasuhnya pun dari unsur profesional. Ada standar kompetensinya," ujarnya. Standar kompetensi yang sama juga diterapkan di unsur staf dosen dan pelatih. Dulu, mereka yang bekerja sebagai pengasuh pada umumnya adalah alumni jebolan IPDN yang tidak dibekali kompetensi khusus.

Menurut Nyoman, IPDN masih sangat dibutuhkan sebagai lembaga pendidikan kepamongprajaan yang menghasilkan para lulusan yang akan menjadi kader aparatur di dalam negeri, khususnya dalam konteks otonomi daerah.

"Di tingkat I, mereka (praja) dituntut mahir di dalam urusan pemerintahan tingkat desa. Tingkat II di Kecamatan. Tingkat III, paham tentang aspek pemerintahan dan manajemen. Lalu, di tingkat IV, yang terakhir, mahir di dalam urusan pemerintahan provinsi dan nasional serta menjadi problem solver (pemecah masalah) di dalam kaitannya dengan otda," papar Nyoman menjelaskan standar tingkatan kompetensi yang ingin dicapai dari tiap praja. (Sumber: Kompas.com)

Cara Terapkan Pembelajaran Budi Pekerti

Banyak cara menerapkan ilmu budi pekerti di sekolah. Hanya saja, cara-cara itu harus dengan pendekatan-pendekatan yang bisa membuat anak didik selalu berinteraksi dengan baik di sekolah, baik itu dengan guru maupun teman-temannya. Anak diajarkan secara langsung tentang pentingnya mental berkompetisi yang harus menjunjung tinggi kreatifitas dan sportifitas.

Demikian dikatakan oleh sosiolog Fisip Universitas Indonesia Paulus Wirutomo kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (5/2/2010). Olahraga misalnya, kata Paulus, punya dampak pendidikan budi pekerti yang baik, sehingga lucu dan aneh jika ada sekolah yang tidak bisa memfasilitasi anak didiknya berolahraga.

"Olahraga akan mengembangkan sportifitas si anak. Dengan memainkan sepakbola atau bola basket misalnya, anak akan diajarkan secara langsung betapa pentingnya berkompetisi yang menjunjung tinggi kreatifitas dan sportifitas," ujarnya.

Pendidikan lingkungan yang diberikan secara langsung juga sangat tepat dijadikan sebagai media ajar ilmu budi pekerti. Sebutlah misalnya, kata dia, pendidikan lingkungan yang dimasukkan dalam mata pelajaran biologi dan ilmu sosial.

"Ketika si guru berbicara soal menyayangi tanaman atau hewan, di situlah nilai-nilai moral bisa dimasukkan. Ketika bicara soal air, guru bisa berbicara soal menjaga lingkungan sungai, di mana ikan-ikan di sungai akan mati jika sungai dicemari sampah atau zat kimia," kata Paulus.

Selain olahraga dan lingkungan, kesenian juga menjadi bagian yang tak bisa disepelekan oleh guru dan sekolah. Berkesenian, menikmati kesenian, serta memelihara kesenian itu sendiri akan menjadi tahapan anak didik dalam menyelami ilmu budi pekerti.

"Seni itu akan menjadi penyeimbang mereka dari bidang akademik. Emosinya akan terjaga oleh seni, daya imajinasi dan kreatifitasnya juga akan muncul karena terbiasa memainkan produk-produk seni, dan keinginannya menjaga seni dari kepunahan pun dengan sendirinya akan muncul," ujar Paulus.

Untuk itu, Paulus menambahkan, menerapkan ilmu budi pekerti tidak cukup dengan menyiapkan hanya fasilitas fisik saja, melainkan juga kreatifitas para tenaga pendidiknya. "Dan kurikulum di sekolah pun harus memfasilitasinya dengan baik, apalagi karena ilmu budi pekerti ini perlu diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran," tambahnya.(Sumber: Kompas.com)