Selasa, 16 September 2008

Mudah-Mudahan Banyak yang Mendoakan Kita

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . " kata si pengusaha ini dengan yakinnya. Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit".


Dengan lembut si Malaikat berkata, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".

Tampa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka".

Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu"


Kembali terlihat,si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, " Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan
seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri."

Setelah itu, istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat". Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya.. Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang!

Dengan setengah bergumam dia bertanya,"Apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, " Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah". Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam. Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! Kau tidak jadi meninggal,karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00".

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. "Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. "

"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalauseorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu. "

Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain. Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.... Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain... Sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.

Terima kasih

Karena pahlawan sejati, bukan dilihat dari kekuatan phisiknya,tapi dari kekuatan hatinya. Katakan ini dengan pelan, "Ya ALLAH, hamba mencintai-MU dan membutuhkan-MU, datang dan terangilah hati kami sekarang...!!!".
Sumber: Jefry, Jakarta

Guru di Mata Mbok Siti (19)

Tiba-tiba saja, Mbok Siti berhenti sejenak dalam ngobrolnya, lalu, mengambil napas dan berkata, "pisang ini ada berkat pohonnya". Lihatlah pohon pisang, dia tidak akan pernah mati sebelum berbuah. Demi mengutamakan keberhasilan sebuah buah, pohon pisang rela memunculkan daun lalu pelepah dan bakal pisangnya meskipun bekas dibabat parang orang.

Perjuangan guru jangan sampai berhenti hanya masalah sepele saja. "Guru harus berjuang sampai siswanya mendapatkan hasil dari belajarnya", kata Mbok Siti. Jika sekarang banyak guru yang terlalu mudah meninggalkan siswanya, itu berarti guru yang bukan guru. Lihat pula, pohon durian itu, dia rela digantungi calon buah yang berat demi kematangan durian sehingga dapat dinikmati orang. "kaupun, harus mampu bertahan kuat untuk sampai pada titik siswa berpengetahuan dan berkepribadian", ujarnya sambil memandangiku sangat lama.

Senin, 15 September 2008

Gara-Gara Guru Diejek, 60 Siswa Dipukuli

Oleh Suyatno

Guru bukan dewa. Dia manusia biasa yang juga dapat diejek, diolok-olok, dibenci atau dia dapat dipuja, disanjung, dan diidolakan. Jika ada siswa mengejek atau mengolok-olok kepada guru, guru haruslah intropeksi dulu sebelum berbuat untuk mengatasi ejekan itu. Lihatlah hukum SR (Stimulus-Respon) yang dikemukakan oleh kaum behavioristis, dikatakannya bahwa perilaku akan memberikan sebab dan menyatakan akibat.

Siswa mengejek karena tingkah laku guru tidak manusiawi kepada siswanya. Bahkan, bisa jadi guru itu sangat otoriter dalam mengajar. Tidak mungkin semua siswa mengejek seperti itu kalau tidak ada pikiran yang sama. Memang, sebaiknya, guru jangan sampai diejek siswa. Oleh karena itu, guru perlu mengubah gaya mengajar yang dirasakan membosankan.

Cobalah simak berita soal guru yang memukuli siswa dengan bambu gara-gara diejek berikut ini.

Kompas.com, Senin, 15 September 2008 | 07:48 WIB
MAUMERE - Gabriela Meting, guru matematika pada SMP Negeri 1 Waigete, Kabupaten Sikka, Selasa (9/9/2008) lalu, memukuli 60-an siswa kelas I dan II sekolah itu, dengan belahan bambu. Sejumlah murid mengalami luka memar akibat pukulan ibu guru itu. Ibu guru jengkel karena para siswa itu mengolok-olok dia SGM (sinting, gila, mengong).

Meting yang ditemui di sekolahnya, Sabtu (13/9/2008), mengatakan, dia memukuli para siswanya itu karena jengkel. "Anak-anak itu olok saya. Mereka teriak saya SGM, sinting, gila mengong. Jadi saya jengkel," katanya.

Adriani Ekawati, siswi kelas II sekolah itu menuturkan, saat istirahat pertama, Gabriela Meting melarang siswa membeli mangga muda yang dijual tanta Beti si sekolah itu. Saat masuk kelas kembali, Meting masuk ke ruang kelas II dan memukuli semua siswa dalam kelas itu dengan belahan bambu. Dari kelas itu, Meting menuju ruang kelas I dan memukuli semua siswa di dalam kelas itu.

"Tangan saya yang baru sembuh dari bekas patah, sekarang bengkak lagi akibat dipukul ibu guru. Saya dipukul dua kali," kata Ekawati sambil memperlihatkan siku tangan kanannya yang terlihat bengkak.

Natasia Noak, siswi kelas II, mengaku dipukul dua kali oleh Meting. Siswi ini mengaku muntah setelah dipukuli ibu guru.

Siswa kelas I, Maria Kartini dan Kriston Marion, juga mengaku dipukul oleh ibu guru Meting. "Ibu masuk ke ruang kelas satu, lalu pukul kami semua di dalam kelas. Saya dan Kriston dipukul dua kali sedangkan teman kami yang lain dipukul satu kali," ujar Kartini.

Para siswa tersebut mengatakan sudah melaporkan tindakan ibu guru itu kepada kepala sekolah dan orangtua mereka. "Kami tidak mau ibu mengajar lagi di sekolah kami. Ganti saja dengan guru lain karena ibu Gabriela jahat," kata Ekawati dibenarkan teman lainnya.

Beberapa orangtua siswa yang ditemui di sekolah itu, Sabtu (13/9) lalu, juga mengatakan tidak mau lagi ibu guru Meting mengajar di SMP Negeri 1 Waigete. Orangtua siswa itu adalah Simon Susar, Seda Fransiskus dan Theresia Tore. "Dia guru baru di sekolah ini, tapi berani pukul anak-anak kami sampai babak belur. Kami akan lapor polisi," kata Simon Susar.

"Kalau Ibu Gabriela tetap dipertahankan di sekolah ini, mau jadi apa anak-anak kami, sekolah ini tidak akan berkembang," kata Seda.

Selang beberapa hari setelah ibu guru Meting melarang anak-anak sekolah membeli mangga muda dan memukuli para siswa itu, ibu guru Meting didatangi tuan tanah setempat, Bernadus Bapan. Menurut Meting, saat itu Bapan marah-marah dan meremas tangannya sampai dia terkencing di celana. Meting lantas mengadukan masalah itu ke polisi, kantor bupati dan Dinas Dikbud Sikka.

Bernadus Bapan yang dikonfirmasi membantah meremas tangan Meting sampai dia terkencing di celana. Bapan mengatakan dia kecewa dengan sikap Meting yang melarang warga setempat berjualan di sekitar kompleks SMP Negeri 1 Waigete. Bernadus Bapan juga mengaku kecewa karena Meting memukuli anak- anak sekolah.

"Saya hibahkan tanah untuk dibangun sekolah karena satu alasan, agar anak-anak kami bisa mendapat pendidikan yang baik dan bisa memajukan desa kami. Tapi saya tidak mau anak-anak saya dididik guru dengan cara kekerasan, main pukul," tegas Bapan.

Dia mengatakan datang menemui ibu guru Meting di sekolah pada hari Kamis (11/9/2008). "Dia yang meminta tangan saya dan menyalami saya lalu mengayunkan tangannya. Saya tidak meremas tangannya. Kalau saya remas, pasti dia menjerit. Dia tidak berteriak, tidak kesakitan, tapi air kencingnya keluar. Apa itu saya dibilang melecehkan dia?" kata Bapan.

Bapan juga mengaku sudah menemui suami Meting dan menyarankan untuk memeriksakan Meting ke dokter. "Jangan sampai ibu guru itu ada kelainan jiwa," katanya.
Dia meminta Kadis Dikbud Sikka memindahkan ibu guru Meting ke sekolah lain.

Kepala SMP Negeri 1 Waigete, Moa Markus yang ditemui, mengatakan tidak bisa bekerja sama dengan ibu guru Meting. "Banyak kebijakan yang dia buat tanpa sepengetahuan saya sebagai kepala sekolah. Saya dan guru di sini tidak bisa bekerjasama dengan dia. Saya juga akan minta kadis menariknya dari sekolah ini," kata Markus. (vel)

Tiruan Siswa tentang Guru di Sela-Sela Waktu Kosong

Oleh Suyatno

Pernahkah Anda, ketika menjadi siswa, waktu itu, menirukan guru sendiri di hadapan teman-teman? Jawabnya, pasti Anda pernah menirukannya. Saya pun, pernah waktu itu, menirukan gerakan guru yang dirasakan sangat asyik ditirukan, termasuk omongannya. Kalau teman lain tertawa setelah memperhatikan tiruan itu, hati rasanya puas, lepas dari mengejek atau menyakiti guru. Bagi saya, yang penting sudah menirukan dan mendatangkan reaksi tertawa dari teman-teman lain, merupakan sesuatu yang menyedapkan. Tampaknya, siswa sekarang juga berbuat seperti itu.

Tiba-tiba, ada siswa dari deretan belakang menirukan suara guru yang belum masuk, "Pagi anak-anakku", dengan suara disamakan dengan suara guru yang akan masuk kelas. Kemudian, semua anak terdiam dan duduk manis. Setelah dilihat yang bersuara adalah teman dari belakang, para siswa kembali riuh. Ada juga, di kantin, kerumunan siswa menirukan gerak dan suara guru yang dipandang sangat jahat, mereka lalu tertawa terbahak-bahak setelah melihat tiruan. Ketika ada guru yang lewat, mereka berhenti sekejap kemudian akan ramai lagi. Begitulah deretan tiruan siswa terhadap guru-gurunya.

Mengapa mereka menirukan? Mereka menirukan karena suara dan gerakan guru sangat khas bagi mereka. Suara dan gerakan itu berulang-ulang, rutin, dan menjemukan siswa sehingga siswa memberikan pelampiasan penolakan melalui peniruan. Namun, guru tidak pernah tahu akan tingkah siswa tentang dirinya karena guru tersebut merasa sudah paling baik dan bagus dalam mengajar. Berikutnya, siswa menirukan hanya untuk unjuk diri di hadapan kawan-kawannya agar diberi respon.

Agar tiruan siswa tidak menjadi-jadi, guru perlu mengantisipasinya dengan cara (1) intropeksi diri, sudahkah saya mengajar dengan baik dan disukai oleh siswa?, (2) bersahabat dengan siswa di kala jam kosong sehingga siswa sangat enggan menirukannya, (3) cobalah selalu bergaya mengajar yang variatif sehingga siswa kesulitan untuk menirukan yang jelek-jelek dari diri kita, (4) cobalah pasang mata-mata dengan mengajak satu siswa untuk memberikan informasi tentang diri kita, (5) sampaikanlah ke siswa bahwa menirukan guru itu tidak baik agar siswa sedikit mengerti, dan (6) cobalah tepat waktu dalam segala aktivitas layanan kepada siswa.

Jumat, 12 September 2008

Guru di Mata Mbok Siti (18)

Tidak ada kepul asap di dapur reyot itu. Padahal, biasanya, pagi seperti ini, ada asap yang menggantang air untuk secangkir kopi. Mbok Siti terlihat membersihkan rumput di pelataran sempit itu.

"Sedang apa Mbok?", sapaku.
"Pagi juga anakku. Kok Tumben pagi-pagi ke sini?", tanya Mbok yang berkeringat sambil menyeka bulir air di wajah kerut itu.
"Puasa juga rupanya, Mbok", isengku pada Mbok Siti.
"Iya, anakku. Puasa itu milikku. Puasa itu milik semua juga", jawabnya ringan. Puasa merupakan lahan intropeksi segala putaran pengalaman seseorang dari yang lalu sampai sekarang. Puasa merupakan daya intip batin untuk ke depan. "Guru juga tidak terkecuali, harus senantiasa berpuasa", ujarnya. Jika guru kuat berpuasa, dia akan dapat jernih melihat rekam peristiwa keguruan yang dijalaninya bersama siswa. Dia juga akan mampu memunculkan butir murni antisipasi keguruan untuk siswanya ke depan. Hidup adalah puasa. Hidup guru adalah puasa yang terus menerus agar tercapai daya konsentrasi membuka diri.

Kamis, 11 September 2008

Super Toy, Blue Energy, dan Temuan Apa Lagi?

Kasus super toy yang mencuat setelah gagal panen di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, memberikan indikasi bahwa ujicoba yang dilakukan tidak terkontrol dengan baik meskipun pada tanaman padi super toy sebelumnya mendatangkan hasil panen berlimpah. Sebelumnya, Blue energy mengguncang semua pakar sebagai wujud kepedulian terhadap sesuatu yang baru. Ternyata, lagi-lagi gagal temua air ajaib yang dapat dipakai sebagai sumber energi mesin itu. Lalu, temuan apalagi yang akan mengguncang masyarakat seperti itu?

Fakta di atas memberikan gambaran bahwa Indonesia sangat menginginkan temuan-temuan baru yang dapat menyejajarkan dengan negara lain yang menunjukkan temuan baru. Bawah sadar pikiran orang Indonesia sudah ditumpuki dengan pernyataan "kapan ada temuan dari bangsaku". Oleh karena tumpukan keinginan untuk temuan baru di bawah sadar, ketika ada temuan baru, langsung disambar dan dipublikasikan secara prematur meskipun belum dinyatakan siap pakai.

Tampaknya, ada urutan ilmiah yang terpotong atau dihilangkan implementasinya, yakni ujicoba berkali-kali sampai dinyatakan siap pakai. Terpotongnya implementasi itu bisa jadi dipengaruhi oleh keinginan segera mempublikasikan ke masyarakat. Pengaruh berikutnya adalah kekuatan untuk temuan baru gampang sirna setelah berpikir uang yang mampu diraup dari dampak temuan.

Ketika temuan dipublikasikan, banyak pihak ikut bermain untuk mengambil untung. Penggagas menjadi tidak dapat berkonsentrasi lagi dengan proses pewujudan temuan. Untuk itu, para penggagas, apapun yang digagas, perlu dilindungi dan dikarantina jangan sampai terlalu disentuh oleh pihak lain.

Selasa, 09 September 2008

Guru di Mata Mbok Siti (17)

Tiba-tiba, aku terngiang-ngiang dengan pernyataan Mbok Siti yang menyatakan bahwa semua orang pasti menjadi tua tetapi tidak semua orang akan menjadi dewasa. Waktu itu, di beranda depan, kami duduk santai di atas tumpukan batu bata bersama dengan Mbok Siti. "Mbok, mengapa banyak orang merisaukan akan hari tuanya?", kataku. Mbok Siti sangat lama menjawabnya.

"Hari tua janganlah dirisaukan karena semua orang akan menghadapi hari tuanya", jawab Mbok Siti. Semua orang akan menjadi tua. "Namun, tidak semua orang dapat menjadi dewasa", tegas Mbok Siti. Banyak orang tua yang tidak dewasa. Sebaliknya, banyak anak-anak muda yang justru telah dewasa. "Nah, guru hebat haruslah dewasa sehingga mampu membawa murid-muridnya dengan baik pula", tukas Mbok sambil mengingsutkan badan mengubah posisi duduk. Guru muda atau tua tidak menjadi masalah, yang terpenting, mereka dewasa.

Senin, 08 September 2008

Mengukur Mutu Pendidikan Harus dari Mana?

Dari mana sebenarnya untuk mengukur mutu pendidikan? Jawabnya, dari mana saja. Kalau untuk kepentingan politis, mutu diukur dari pembuat kebijakannya. kalau dari sisi ekonomisnya, mutu pendidikan diukur dari seberapa besar dana diserap untuk keberlangsungan pendidikan. Kalau dari sisi perkembangan generasi, mutu pendidikan diukur dari prestasi siswa. kalau dari sisi sosial, mutu pendidikan diukur dari seberapa dikenal oleh masyarakat sekitarnya. Nah, dari mana saja pendidikan dapat diukur mutunya.

Secara umum, keberhasilan pendidikan diukur dari indeks perolehan nilai prestasi belajar siswa selama di bangku sekolah dan keterkaitannya dengan studi lanjutnya. Dari indeks tersebut, dapat dilihat keberhasilan guru dalam menguatkan indeks prestasi siswa. Sarana pembelajaran dapat dilihat kebertunjangannya. Begitulah seterusnya. Namun, benarkah indeks itu dapat mengukur secara objektif mutu pendidikan kita? Bemum tentu juga karena sekarang sedang musim pendongkrakan nilai ujian agar memberikan daya gengsi dan tidak dimarahi pejabat yang lebih tinggi.

Kalau memang susah juga mengukur dari indeks prestasi, kita dapat melakukan pola nilai dari masyarakat sekitar dan masyarakat umum dengan melibatkan ratusan responden. Kalau rata-rata 90% masyarakat menyatakan bahwa sekolah tersebut telah memberikan manfaat bagi keinginan peserta, berarti sukses juga sekolah itu. Tetapi, kalau jumlah masyarakat di rekayasa untuk memberikan pilihan yang benar agar mendapatkan presentase yang tinggi, ya sama saja mutu tidak dapat diukur.

Kalau begitu, biarkan anak sendiri yang harus mengukur mutu pendidikan di sekolah itu. kalau untuk keseluruhan, maksudnya beberapa sekolah, ya perlu dilakukan tes untuk semua sekolah. He.He. Tambah nglantur.

Sabtu, 06 September 2008

Guru di Mata Mbok Siti (16)

Pagi itu, udara teramat sejuk karena embun membasah segar di tiap daun rerumputan. Aku berseri-seri ketika mendatangi Mbok Siti yang juga tampak berseri-seri setelah menyelesaikan tugas paginya. "Pagi anakku", sapa Mbok Siti mendahului pertemuan kali ini. "Pagi juga Mbok", jawabku sumringah (tersenyum gembira). "Mbok, selama aku bertemu denganmu, Mbok Siti kok tidak pernah marah padaku? padahal, aku sangat kurang ajar karena datang tidak mengenal waktu", tanyaku ragu-ragu.

"Mengapa harus marah, anakku", jawabnya. Meskipun, salah satu sifat yang melekat pada setiap manusia adalah marah. Kita tidak perlu menggunakan sifat itu. Guru yang baik juga tidak perlu menggunakan marah untuk menutupi ketidakmampuannya. Sifat marah adalah luapan kekecewaan, kekesalan dan kebencian yang kemudian ditumpahkan dengan perasaan, ekspresi wajah, gerak tubuh, kata-kata dan tindakan. Terjadinya sifat marah dapat diakibatkan sakit hati, kekesalan dan rasa kecewa. Contohnya seseorang yang dihina oleh orang lain, maka bisa muncul sifat marah pada orang yang dihina tersebut.

"Anakku, setiap manusia diperbolehkan marah, selama kemarahan itu wajar dan terkendali", tegas Mbok Siti lirih. Bukan kemarahan yang berlebihan, tanpa kendali dan tidak proporsional. Betapa banyak manusia tidak mampu mengendalikan marah. Contohnya seorang guru yang memerintahkan siswanya untuk belajar, tapi karena siswa itu tidak mau mengikuti perintah guru tersebut, sang guru memarahi siswanya sambil merobek buku pelajaran Sang siswa. Guru baik harus dapat berada di luar marah sehingga dapat mengendalikan marah dengan cantik.

Mengajar dengan Cerita

Oleh Suyatno

Mengajar dengan cerita? Ah, ya pastilah dapat dilakukan guru. Bukankah tiap hari guru selalu dengan cerita? Bukan itu maksudnya. Yang dilakukan guru tiap hari itu namanya ceramah yang ditandai dengan suara yang datar, instruksional, formal, dan tidak ada kisahnya. Kondisi yang demikian itu ditandai juga oleh sikap siswa yang diam karena takut, jenuh, mencatat, dan bosan yang tidak terobati sampai jam pelajaran berakhir. Cobalah, guru mulai berani melepaskan tradisi ceramah ke tradisi yang menyegarkan dalam pembelajaran. Salah satunya adalah gaya mengajar dengan cerita.

Era Plato, 200 tahun sebelum masehi, pembelajaran bagi generasi muda banyak dikemas dengan cara cerita. Parsia, negeri dongeng, dahulu juga menerapkan pola cerita untuk mengajar generasi mudanya. AlQuran, dalam menyampaikan pesannya, juga dikemas dengan cerita. Lihat pula, ibu-ibu dapat tahan berjam-jam untuk ngrumpi dengan cerita satu ke cerita yang lainnya. Cerita merupakan salah satu cara penyampaian yang dikenal banyak orang.

Mengajar dengan cerita merupakan salah satu gaya mengajar yang menyenangkan bagi siswa karena memberikan keasyikan untuk didengarkan. Suatu hari, Pak Tukimin, bercerita tentang segi tiga sama kaki yang dibumbui tokoh, ada alur cerita, ada latar cerita, dan dikemas dengan suara yang bervariasi. Diceritakannya, seorang nenek akan membagi sawahnya ke anak-anaknya dengan cara segi tiga sama kaki agar seimbang pembagiannya. Siswa asyik mendengarkan sambil memecahkan kasus nenek itu dengan rumus yang dibuatnya. Begitu pula, mata pelajaran lain dapat dikemas dengan cerita. Pembelajaran metamorfosis juga dapat dikemas dalam cerita dengan tokoh, tema, alur, dan latar yang disukai anak.

Berikut ini cara untuk mengajar dengan cerita agar isi cerita dapat dipahami dengan baik oleh anak. Pertama, pilihlah topik pembelajaran yang akan dikemas dengan cerita. Kedua, tentukan kerangka ceritanya, yakni tema, alur, tokoh, dan latarnya. Ketiga, tetap berpegang pada inti pelajarannya sehingga tidak menyimpang ke sisi cerita lainnya. Keempat, karena pembelajaran cerita mengutamakan suara, cobalah suara guru dibuat beraneka warna, diayun, ditinggikan, direndahkan, dan dibaritonkan jika diperlukan untuk penekanan topik tertentu. Kelima, pandanglah ke siswa saat bercerita dengan mimik yang memikat. Keenam, bila perlu, gunakan media berupa boneka, gambar, grafik, atau apa saja untuk menguatkan cerita. Cobalah.