Rabu, 16 Juli 2008

Bambang DH, Sang Walikota, dalam Kubangan PSB yang Penuh Lumpur

Oleh Suyatno

Saya tertawa lebar ketika membaca berita bahwa Bambang DH, walikota Surabaya, mengatakan PSB on-line hanya kesalahan teknis. "Sistem PSB sudah benar hanya teknisnya salah", ujarnya bernada menutupi kesalahan PSB on-line tahun ini (Jawapos, 15 Juli 2008). Padahal, teknis salah disebabkan sistem yang salah. Bukankah sistem merupakan rancangan di atas kertas yang memerlukan aplikasi konkret di lapangan. Jika aplikasinya salah, sistem yang diciptakan perlu dipertanyakan karena tidak dapat dijalankan.

Dari tahun ke tahun, PSB On-line di Surabaya kacau-balau di saat menjelang hari terakhir pendaftaran. Kejadian itu menandakan bahwa sistem yang diciptakan tidak realistis dan tidak rasional dalam menghadapi data masuk secara bersama-sama, serentak, dan dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, Bambang DH perlu mereviu sistem penerimaan on-line secara total. Jangan sampai, Bambang DH hanya terjebak oleh berpikir bahwa sistem benar teknis salah. Bisa jadi, sistem salah teknis juga salah.

Dapat pula, kita menduga bahwa PSB on-line Surabaya penuh dengan intrik para orangtua yang akan main mata sehingga PSB on-line sengaja dikacaukan agar tidak terlihat kasat mata sekongkol oknum diknas dengan orangtua. Sekongkol itu berkutat pada uang pelicin, nepotisme, dan raja kecil yang harus dilayani.

daripada tiap tahun selalu rusak PSB-nya, Surabaya perlu mengambil kebijaksanaan baru berupa PSB melalui sekolah masing-masing. Biarkan sekolah belajar bertanggung jawab dengan melakukan seleksi sendiri. Berilah kepercayaan kepada sekolah untuk berbuat demi kemajuan sekolahnya. yang penting, para pengawas bekerja dengan ketat untuk mengawasi sekolah dalam PSB.

Bambang DH harus berpikir jernih sehingga tidak serta merta mengatakan bahwa sistem benar teknis salah setelah mendapatkan laporan bawahannya. Cobalah PSB on-line Surabaya dicek dengan mata kepala sendiri lalu analisislah. Setelah itu, pasti akan diketahui bahwa ternyata sistem salah dan teknis salah. Begitu khan Pak?

Senin, 14 Juli 2008

Guru di Hari Pertama Siswa Masuk Sekolah

Oleh Suyatno

Minggu ini adalah minggu pertama anak-anak bersekolah (kalau mengacu kalender Jawa Timur). Siswa baru masuk tentunya masih berkelana mencari kawan baru, persepsi baru, dan guru baru yang diharapkan melekat kuat dengan baik hati bagi anak-anak. Bagi anak-anak yang lama (belum waktunya mutasi sekolah baru)sikap penyesuaian tidak diperlukan meskipun mereka sangat dimungkinkan ganti kelas dan ganti teman sekelas. Kondisi itu sangat diketahi dan dipahami oleh guru dalam bersikap.

Apa yang seharusnya dilakukan guru di hari pertama siswa masuk sekolah? Guru yang arogan dan sok kuasa dapat dipastikan akan pasang badan dan siap mengumbar celoteh kemarahan untuk memunculkan kesan kalau dia berkuasa. Guru seperti itu selalu ditakuti siswa karena guru itu memang berperilaku menakut-takuti. Guru arogan bersifat semena-mena. Anak-anak dianggap sebagai objek yang siap disuruh-suruh, diomeli, dan dibentak-bentak. MOS (Masa Orientasi Siswa) dianggapnya sebagai Masa Omelin Siswa.

Lain lagi, guru yang santun. Dia akan menyelami posisi kejiwaan anak saat baru pertama masuk sekolah. Senyum diumbarnya untuk memasuki kejiwaan siswa. Kalimat bijak keluar dari mulutnya untuk memberikan gambaran kedamaian dan keasyikan bersekolah bagi siswa. Siswa dianggapnya sebagai mitra yang akan berjalan bersama-sama menyelami dunia pengetahuan.

Jumat, 11 Juli 2008

Multimedia Tingkatkan Hasil Belajar

Bagaimanapun, multimedia terbukti dapat meningkatkan hasil belajar bagi peserta didik. Hal itu membuktikan bahwa sumber belajar yang diperoleh peserta didik tidak saja melalui telinga alias ceramah tetapi melalui indera lainnya. Hal tersebut dibuktikan oleh pemenang Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) Ke-7 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), Sugeng Priyanto dari Universitas Brawijaya, Malang.

Seperti yang telah dilaporkan Kompas.com, Rabu, 9 Juli 2008, di halaman Sains, Sugeng Priyanto membuktikan bahwa multimedia memberikan hasil belajar yang lebih dibandingan dengan monomedia. "Setelah pengujian statistik dan dilakukan perbandingan rerata hasil belajar, kelompok yang menggunakan aplikasi multimedia setelah perkuliahan mendapat rerata skor 7,37, sedangkan yang tidak mendapat 6,94," kata Sugeng dari Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Unbraw. Hasil penelitian Sugeng itu memperoleh penghargaan berupa uang Rp 12 juta dan polis asuransi dari hasil penelitiannya yang dinilai juri sebagai yang terbaik.

Ia menjadi pemenang pertama bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) PPRI yang diselenggarakan LIPI dengan judul penelitian "Aplikasi Multimedia sebagai Media Pembelajaran Interaktif pada Mata Kuliah 'Foundation of Nursing IV' Menggunakan 'Model Expository Teaching' terhadap Hasil Belajar Mahasiswa".

Jadi, dengan menggunakan multimedia dalam pengajaran, urainya, akan mampu mengondisikan suasana belajar yang bisa memaksimalkan proses penerimaan suatu informasi dengan lebih baik.

"Pada kelompok multimedia dibuatkan tampilan presentasi interaktif tentang 'Wound Care' berupa tampilan teks dan animasi tiga dimensi (3D) manusia secara singkat yang dilanjutkan dengan penjelasan anatomi kulit, stadium luka, dan video tentang tindakan keperawatan luka di RS," kata Sugeng kelahiran Jember 21 April 1986 itu.

Sugeng menggunakan sampel seluruh mahasiswa semester IV tahun ajaran 2007/2008 yang mengikuti perkuliahan Foundation of Nursing IV di Jurusan Keperawatan Unbraw yang kemudian ia kelompokkan menjadi dua, yakni kelompok yang menggunakan aplikasi multimedia dan yang tidak.

Sementara itu, model belajar "Expository Teaching", menurutnya adalah model pembelajaran yang baik, di mana dalam model ini dikenal tiga tahap. Pertama, mengarahkan pelajar pada materi yang akan dipelajari dan membantu mengingat kembali informasi yang terkait.

Tahap kedua, materi baru itu disampaikan dengan memberi ceramah, diskusi film, atau memberi tugas kepada pelajar. Tahap ketiga, dengan menggabungkan informasi baru ke dalam susunan pelajaran yang sudah direncanakan dan memberi kesempatan pelajar melontarkan pertanyaan untuk memperluas pengetahuan terkait.

Pengawas Pendidikan Kepulauan Riau Digembleng Pembelajaran Inovatif

Oleh Suyatno

Tanpa bicara yang penting bekerja, tanpa menunggu kuharus mampu. Itulah pernyataan yang dinyanyikan bersama oleh pengawas pendidikan Provinsi Kepulauan Riau saat mengikuti pelatihan pembelajaran inovatif. Suara lantang itu seolah menghunjam sanubari masing-masing untuk segera berubah dalam menjalani tugas kepengawasan.

Inovasi pendidikan dapat berawal dari kerja seorang pengawasnya yang mampu memainkan motivasi bagi guru mitra masing-masing. Salah satu bekal untuk itu adalah penguasaan metode pembelajaran yang inovatif. Ada 186 metode inovatif tetapi hanya 4 yang baru dikuasai oleh guru, yakni ceramah, diskusi, tanya jawab, dan penugasan. Dari ke-4 metode itu, hanya 1 yang dominan dijalankan, yakni ceramah.

Para pengawas Kepulauan Riau sangat antusias mengikuti pelatihan yang dilaksanakan empat hari itu. Garduguru kebagian memberikan materi inovasi pembelajaran selama 6 jam, dari pukul 07.30 s.d. 12.15. Peserta tampak mengikuti dengan hati. Mereka terbawa emosi yang dimainkan garduguru. Kinestetis, audio, dan visual peserta tergabung dalam mendalami metode inovatif yang disajikan dengan model partisipatori.

Oleh-Oleh Raimuna Nasional 2008

Oleh Suyatno

"Oleh-oleh saya kaonak", kata Usman, peserta dari Surabaya ketika ditanya garduguru. Ya Kaonak. Kaonak merupakan bentuk salaman dari peserta Papua dengan cara mengaitkan jari tangan yang dilipat di sela-sela jari kawan bersua lalu ditarik sampai bunyi "tok". Itulah wujud persahabatan kawan sebangsa dengan ragam unik masing-masing. Ada makna mendalam saat mereka berkaonak, yakni keselarasan rasa dan kesamaan senyum yang menyeruak menjadi sebuah keakraban. Andai semua generasi muda bersua dengan keakraban tentunya Indonesia akan tegak berlandaskan kebersamaan yang akrab.

Dari kaonak tersebut, terbersit bahwa tujuan Raimuna Nasional 2008 tercapai dari sisi brotherhood-nya. Indonesia akan bergerak maju dari sebuah persahabatan yang akrab. Bentuk salam lainnya yang bersifat khas daerah masing-masing juga menyembur dari Cibubur. Salam itu berupa kode tangan, yel, suara, dan warna kebanggaan masing-=masing yang melekat di kaos, topi, dan jaket mereka. Garduguru sangat takjub memperhatikan dunia keakraban alamiah dari kaum muda Indonesia.

Oleh-oleh berikutnya, Raimuna Nasional 2008 dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi oleh kader muda yang masih berusia 16 s.d. 25 tahun. Di usia yang masih muda itu, mereka mengaplikasikan manajemen dan kepemimpinan secara nyata. Benturan masalah, cercaan, makian, dan kesalahpahaman tentunya terjadi secara nyata yang mampu mereka hadapi. Itulah sebuah simulasi besar yang mampu memberikan percepatan belajar bagi anak-anak muda. Kelak, mereka akan menghadapi dunia manajemen yang lebih besar di dunia kerja dengan apik pula. Itulah sebuah harapan dan sekaligus impian.

Kampung tenda yang dibangun sangat rapi dan bersih dengan model tenda beraneka ragam. Sesekali terdengar nyanyian pramuka dan lagu anak muda dari dalam tenda. Suara cekikikan, humor, dan kalimat perintah juga muncul dalam relung tenda yang dibangun peserta. Gegap-gempita itu menandakan bahwa ada segumpal asa yang membumbung dari bingkai tenda mereka. Dengan melihat kondisi itu, garduguru rasanya ingin muda kembali. Tata kemah dengan strategi manajemen tapak kemah tampak telah mereka kuasai dari daerahnya. Kebersihan terlihat jelas di kanan dan kiri tenda. Aduh, inilah gambaran generasi yang berlatih mandiri di bawah payung dasadarma pramuka.

Hanya saja, peserta Raimuna Nasional 2008 telah dikepung dagangan dari segala penjuru. Uang mereka terhipnotis untuk ditumpahkan ke barang konsumtif. Bisnis merasuki alam pikiran peserta sebagai konsumen. Andai dagangan agak dijauhkan dan diganti dengan pajangan keberhasilan seorang kaum muda, hasilnya tentu akan juga melecut prestasi mereka. Buku-buku, majalah, koran, dan cetakan lainnya yang berisi tentang kepramukaan tidak lengkap. Hanya satu kios yang menyediakan buku pramuka, yakni kios dari Jawa Barat.

Tapi, inilah sebuah gelar anak muda yang patut diapresiasi. Inilah sebuah titik awal dari sebuah perjalanan anak bangsa. Bravo Pramuka!

Selasa, 08 Juli 2008

RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) untuk Siapa?

Oleh Suyatno

Rencana pembelajaran merupakan kata wajib bagi seorang guru sebelum masuk kelas dengan harapan dapat memberikan nilai tambah pendidikan. Oleh karena itu, sangatlah wajar para guru saat ini sibuk dengan RPP dari waktu ke waktu. Kesibukan itu ditandai oleh guru yang membuat sendiri RPP untuk mengajar, guru yang pinjam RPP teman, Guru yang mengunduh RPP dari internet, dan guru yang memfotokopi RPP yang sudah ada. Itulah kesibukan seorang guru karena memang diwajibkan sekolah untuk mengumpulkan RPP.

Hanya saja, benarkah RPP yang diperoleh atau dibuat itu benar-benar dipakai guru untuk mengajar? Tampaknya, tidak ada data kuat untuk itu. RPP dibuat hanya untuk ditandatangankan ke kepala sekolah sebagai syarat administrasi seorang guru. Ketika mengajar, guru kembali ke gaya klasik tanpa persiapan sama sekali. RPP hanyalah RPP, yang penting masuk kelas, bercuap-cuap, lirik buku paket, dan habislah waktu mengajar.

Padahal, RPP dibuat untuk diterapkan di kelas saat guru mengajar. Saat mengajar, guru melihat RPP miliknya sambil memberikan catatan di RPP jika terjadi hal-hal yang dirasakan penting untuk dicatat. catatan tersebut pada kemudian hari digunakan untuk perbaikan RPP berikutnya. Dengan begitu, RPP selalu terbarui berdasarkan konteks mengajar dan belajar di kelas.

Jika pencatatan itu dilakukan dengan rutin dan seksama, guru tentunya tidak akan pernah kesulitan dalam membuat PTK, makalah pembelajaran, dan buku penunjang. Catatan mengajar sangat penting artinya bagi keberlangsungan prestasi dan kinerja guru.

Untuk itu, para kepala sekolah perlu menolak RPP jika rencana itu tidak diterapkan di sekolah dengan benar. Janagan sampai, justru kepala sekolah melakukan kompromi dengan pola seolah-olah RPP digunakan. Dari kelaslah, kemajuan pendidikan akan tampak berkembang.

Sabtu, 05 Juli 2008

Derap Kaki Pramuka Melangkah ke Tapak Sang Guru

Oleh Suyatno

Cibubur masih pagi, pepohonan berdiam diri menikmati sang pagi, tetapi derap kaki anak muda yang terlibat dalam Kemah Nasional bernama Raimuna Nasional 2008 melangkah ke sentra kegiatan hari itu. Garduguru sengaja datang ke lokasi pagi-pagi untuk turut menyapa kaum muda yang sedang berguru dengan alam. Tiap sentra kegiatan riuh oleh semangat dan kegembiraan peserta. mereka bernyanyi semangat sambil menunggu koordinasi pantia kegiatan.

Kaos lapangan beraneka warna menyelimuti punggung anak muda itu. Kaos warna-warni itu menandakan dinamika diri yang ingin mereka tunjukkan di arena akbar pramuka lima tahun sekali. Selang tiga puluh menit, sentra berkumpulnya anak muda itu kosong dan lengang. Mereka beranjak ke tempat kegiatan masing-masing. Ada yang jalan kaki sambil berderap baris santai dan ada yang menaiki bus yang menjelajah Kota Jakarta dan Gunung Puncak Cibodas.

Di tempat lain, di lapangan selatan tempat upacara tampak tenda santai yang mulai diisi oleh pramuka tua yang dahulu pernah ikut Raimuna dan sejenisnya. Mereka tampak akrab dan bersaudara. Memang, ciri pramuka pertama adalah persaudaraan. Garduguru menghampiri tenda itu sambil mengucap salam kawan lama. Ternyata, yang duduk di bawah tenda itu, kawan-kawan aktivis garduguru saat di pramuka.

Pembicaraan diawali dari segelas air mineral yang diteguk masing-masing. Tambah lama tambah panas pembicaraan itu. Topik utama adalah kelangsungan Gerakan Pramuka sebagai wadah yang menggembleng anak muda.

Alam adalah guru sesungguhnya yang memberikan gagasan untuk perubahan. hanya saja, mampukah alam dieksplorasi buku keilmuannya. Raimuna ini, mampukah menjadi guru yang ilmunya akan dibawa pulang oleh peserta se-Indonesia.

Saat posting ini dibuat, tanggal berada di angka 5 Juli 2008 pukul 11.00 siang dan garduguru masih berada di tengah diskusi. Lanjutannya, menyusul ya.

Jumat, 04 Juli 2008

Kemah Nasional Raimuna 2008 Tempat Berguru Kaum Muda

Oleh Suyatno

Gaung Raimuna Nasional 2008 tidak sehebat Jambore Nasional meskipun keduanya sama-sama perkemahan akbar untuk para pramuka. Kalau Jambore diperuntukkan bagi pramuka penggalang (usia 11--15 tahun), Raimuna merupakan perkemahan untuk pramuka penegak dan pandega (usia 16 s.d. 25 tahun). Keduanya merupakan ajang berguru para kaum muda untuk mengeksplorasi diri menjadi generasi multifungsi.

Raimuna Nasional kali ini diadakan 27 juni s.d. 7 Juli 2008, di Cibubur Jakarta yang diikuti oleh pramuka penegak dan pandega se-Indonesia. Tiap kabupaten dan kota mengirimkan 10 putera dan 10 puteri. Mereka berkiprah menggembleng diri, mencari sahabat baru, menjelajah, mengobservasi, dan memberikan masukan ke dalam memori sebuah pengalaman yang berarti bagi dirinya.

Pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman berkemah dengan setting belajar alamiah jauh dari segala keperluan modern merupakan lahan menempa diri. Bukalah hati dan pikiran dan padukan dengan keselarasan alam merupakan kunci menguak ilmu yang berada dalam buku alam yang sesungguhnya. Nah, siapa yang mampu menyerap ilmu dari segala yang terkembang di alam perkemahan, dialah yang mampu menimba ilmu yang luar biasa.

Cibubur adalah lingkungan perkotaan dan sekaligus lingkungan pedesaan serta pegunungan. Konteks alam seperti itu sangat baik dijadikan guru bagi aak-anak muda. Hanya saja, kemasan yang menarik sangat diperlukan di lokasi itu.

Garduguru juga turut mengamati proses keberlangsungan belajar-mengajar dengan alam di Cibubur. Waktu dan ruang disempatkan untuk menghinggapi ajang kiprah anak-anak muda. Oleh-olehnya, tunggu saja ya sepulang dari Raimuna Nasional.

Selasa, 01 Juli 2008

Inilah Bulan Ngaji bagi Guru

Oleh Suyatno

Yap! Saat inilah masa terbaik guru untuk ngaji agar mempermudah kinerja yang dibungkus oleh asal-asalan. Apa itu ngaji? Banyak guru yang pura-pura tidak tahu arti ngaji. padahal, hampir semua guru mengalaminya kecuali guru sejati.

Ngaji singkatan dari ngarang biji alias mengarang skor buat siswanya. Skor diperoleh dari kesewenangan guru tanpa didasari prestasi autentik siswanya. Bahkan, ada siswa yang sudah meninggal pun mendapatkan skor. Siswa yang mutasi ke sekolah lain pun pasti mendapatkan skor. Skor ditentukan atas feeling guru.

Siswa yang pandai kadang mendapatkan nilai rendah. Sebaliknya, siswa bodoh mendapatkan nilai tinggi. Kondisi itu sangat wajar menurut guru tersebut karena guru memberikan nilai asal-=asalan. Yang penting ada angka di rapor siswa. Aduh, betapa siswa diajak ke dunia imajinasi guru dan tidak dapat mengetahui kemampuannya yang asli.

Anehnya, sekolah mengetahui akal-akalan guru seperti itu namun tidak jua menegur bahkan menghukumnya. Bahkan, perbuatan itu menjadi rahasia umum. Guru seperti itu adalah guru yang hidup enggan mati tak mau.

Up! Tunggu dulu, tidak semua guru seperti itu. banyak guru yang melakukan penilaian autentik dan skor diperoleh dari kondisi siswa secara nyata. Guru autentik inilah yang seharusnya menjadi guru yang diberi penghargaan khusus. Bagaimana dengan Anda?

Harapan Guru Unggul Masih Ada

Oleh Suyatno

Rasanya, badan ini seperti digebuki dengan kayu jati saat sepuluh hari tidak memposting di garduguru ini. Ada gagasan yang menumpuk-numpuk di otak dengan segala kegelisahannya. Namun, akhirnya, waktu memberikan kesempatan untuk menulis di blog ini. Nah, karena ada kesempatan, jadilah posting kerinduan ini yang ditulis dari sanubari harapan guru unggul.

Selama sepuluh hari, ya, sepuluh hari, garduguru melalangbuana menemui kerinduan guru dalam meningkatkan nyali mengajar. Ada senyum menjuntai di wajah guru saat bertemu dengan garduguru. Ada harapan yang terendam kuat dalam gurat otot yang mulai merakyat. Ada sorot mata kegelisahan untuk menggapai harapan secepatnya demi siswanya.

Benarlah bahwa guru itu masih mempunyai harapan untuk menyajikan yang terbaik buat anak bangsanya. Mereka turut ikhlas mengikuti pelatihan dengan seksama. Konsep demi konsep dilahapnya untuk dicerna menjadi sebuah kesempatan berkarya. Berduyun-duyunlah, guru mendatangi sajian garduguru.

Guru unggul itu bukan sebuah ilusi dan utopia semata namun guru unggul telah menjadi sebuah realitas yang sempurna. Semua guru, tidak terkecuali dapat menjadi guru unggul berdasarkan warna pedagogisnya. Semua guru mempunyai potensi besar yang jika diledakkan akan menjadi ujud gemilang di prestasi anak-anaknya.